ANGIN DINGIN MENEPATI JANJI

Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

Sebuah sajak yang terlupakan, dahulu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kata-kata ini bagai mantra dimulut Abu. Yah, terkadang kita lupa dan itu manusiawi. Sajak ini bukanlah orisinal, Abu mengutipnya dari serial TV Pangeran Menjangan. Entah mengapa, Abu terpesona dengan liriknya yang kata teman-teman Abu norak. Kisah Pangeran Menjangan sendiri menceritakan tentang seseorang naïf yang dinaungi keberuntungan-keberuntungan alami yang membuatnya menjadi legenda di negeri China pada zaman dinasti Ching.

Waktu itu Abu masih baru masuk kuliah di tahun 2002. Mungkin, rasa optimis seorang mahasiswa yang bukan apa-apa membuat Abu melafalkan berulang-ulang sajak ini dibangku kuliah. Waktu membuat Abu melupakan sajak ini. Namun di malam ini seorang sahabat teman kuliah mengirimkan Abu sms dengan isi sajak ini, dan ini sangat menggugah.

Sebagai sahabat kami sudah tidak berjumpa sekitar sembilan tahun, di tahun 2003 Abu mengambil pilihan tidak melanjutkan kuliah di Akuntansi Unsyiah. Tahun 2004 terjadilah Tsunami dan di tahun 2006 sang sahabat juga meninggalkan bangku perkuliahan. Atas dasar pertimbangan yang nurani ia memutuskan untuk masuk ke Dayah (Pesantren).

Dan Abu bertualang kemana-mana hingga di tahun 2011 kembali ke kampung halaman. Sahabat Abu juga tidak pernah meninggalkan dayah selama masuk dan menimba ilmu disana. Beberapa malam yang lalu kami mengadakan reuni kecil-kecilan. Baik yang lulus maupun yang tidak lulus dari perkuliahan. Tentunya tidak semua yang ikut hanya beberapa dan itupun hanya yang laki-laki saja. Sahabat Abu yang selama masuk Dayah tersebut yang belum pernah tidur dirumah seharipun kecuali sekali sejak tahun 2006 datang. Dan kami mengobrol sampai menjelang pagi.

Kami semua sudah berubah, namun dialah yang paling berubah dengan tampilan khas pesantrennya. Sekarang dia sudah menjadi seorang Tengku, atau guru. Kami bercerita tentang banyak hal dari cerita masa kuliah hingga masalah agama (terutama bab bersuci). Dan diantara pembicaraan serius tersebut sempat-sempatnya beliau berbisik kepada Abu, “Abu, saya masih mengingat puisi kamu dulu, Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

Terus terang Abu terkejut, seorang sahabat yang telah memilih zuhud terhadap dunia masih mengingat sajak kekanak-kanakan itu. Abu tertawa sedikit malu akan bagaimana tingkah laku dulu. Tapi bagaimanapun nostalgia adalah hal yang indah. Ada yang mengatakan, nostalgia menyenangkan karena masa lalu adalah sesuatu yang aman. Ia bisa kita atur bagaimana ia tampil di dunia kita saat ini.

Dan ketika beliau yang pada malam itu juga meng-sms Abu dengan siraman rohani, namun tidak Abu membalas.  Malam ini ia mengirimkan sms berisi sajak lama Abu tersebut. Abu sekali lagi terkejut dan merenung, betapa bila Abu mengingat bahwa sajak tersebut. Dulunya Abu bacakan keras-keras di ruang kelas demi mengikis rasa kekurang percayaan diri demi menghadapi terjangan zaman yang semakin keras. Dan Abu terharu.

Terharu bahwa Abu sebenarnya sudah melupakan sajak tersebut, terharu juga bahwa teman-teman Abu yang lain juga tidak mengingat akan sajak tersebut lagi. Terharu bahwa selama sembilan tahun beliau masih mengingat lafal sajak tersebut dengan benar. Mungkin itu adalah sebuah hal lucu, namun sangat berarti.

Mungkin, jiwa Abu tak semurni dulu lagi. Penuh dengan polusi sehingga terkadang cemas dan gelisah pada hal-hal yang dulunya malah Abu anggap sepele. Dan mungkin bisa dikatakan bahwa Abu yang dahulu lebih baik daripada yang sekarang. Sobat, terima kasih sudah mengingatkan. Semoga Abu dikemudian hari menjadi orang yang lebih baik, tidak hanya ilmu namun juga jiwa. Betapa sebuah sajak sangat berarti, sajak yang berbunyi, “Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to ANGIN DINGIN MENEPATI JANJI

  1. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: ANNUAL REPORT 2012 | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s