MAKNA PUISI YANG HILANG

Puisi adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya sebagai tambahan, atau selain sisi semantiknya. Puisi tidak sebagai jenis literature tapi perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreatifitas. Puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang akan membawa orang lain ke dalam hatinya. Puisi juga terkadang disebut syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang bermakna perasaan.

BUAH AMARAH

Puisi hanya bertumpu akan kata tanpa alat bantu, disinilah kesulitan seorang penulis atau pembawa puisi untuk menyampaikan perasaan yang terdalam kepada penikmat. Berbeda dengan syair yang diringi oleh musik dan berkompilasi dalam bentuk lagu, menjadikan lagu sangat dinamis. Puisi cenderung statis tapi kita tak akan bisa melupakan bahwa dalam sejarah Indonesia terdapat seorang Chairil Anwar yang mampu mengharubirukan kita akan perasaannya ditahun 1945. Jejak rekam sang maestro tak lekang oleh waktu.

12 Tahun Lalu

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al-Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Setiap kebudayaan memiliki tradisi akan puisi, baik itu merupakan tradisi oral maupun tulisan. Dahulu kala semakin berkualitas sebuah kebudayaan semakin baik syair-syair yang dihasilkan. Begitu pula sejarah awal negeri ini memiliki Chairil Anwar, Hamka, H.B Jassin, Sitor Situmorang, Taufik Ismail hingga W.S Rendra. Bahkan seorang Soe Hok Gie berpuisi dieranya.

Berbicara dalam konteks kekinian, dapat dikatakan kita sangat kekurangan empu sastra yang menghasilkan puisi yang berkualitas tinggi. Apakah penyebabnya? Hidup adalah hukum sebab akibat, jika kita melihat dari awal pokok kejadian bisa jadi sistem yang ada menyebabkan seorang brilian muncul kepermukaan. Namun bisa jadi pula masyarakat kita tak mengapresiasi lagi dengan layak sebuah puisi. Di era modern mainset orang telah terkontaminasi dengan materialisme yang membuat jiwa semakin kering, seni menjadi hambar dan sebuah puisi menjadi kering.

Disiplin ilmu pasti telah membuai kita, tak salah memang. Namun apa indahnya Matematika bila sebuah puisi tak melengkapinya. Di zaman semua orang bisa berbicara sebebas-bebasnya bahkan seorang Iwan Fals menolak menciptakan kritik sosial melalui sebuah lagu, seperti dahulu. Terlalu banyak kritikan bising hanya akan membuat sebuah mahakarya menjadi suara sumbang. Kuat kemungkinan bahwa krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini dikarenakan kita atau sebagian besar dari kita kehilangan makna akan puisi. Siapa tahu?

Setiap zaman memiliki fenomena, setiap masa memiliki permasalahannya sendiri. Namun ada yang selalu sama layaknya asmara. Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.

Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang dari Bukittinggi tersebut mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat. Namun apalah artinya semua itu apabila kita tak mampu mengejawantahkan dalam sebuah kisah yang penuh perasaan dalam sebuah syair.

Dalam sebuah puisi terdapat kearifan hidup, filosofi tentang ketabahan dan memahami rasa sakit maupun gembira sekaligus. Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang astronom ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastrawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.” Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat. Jangan sampai kita kehilangan maknanya.

XXXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to MAKNA PUISI YANG HILANG

  1. Pingback: ANNUAL REPORT 2012 | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s