ADDIO LHOKSEUMAWE

Hidup adalah cerita tentang datang dan pergi, seperti halnya seorang bayi yang pertama dilahirkan dimuka bumi, kelak apabila takdir menuntunnya dia akan melewati fase kanak-kanak, remaja, tua dan akhirnya meninggalkan dunia. Apa yang dibawa itulah yang akan dipertanggung jawabkan nanti, di hari akhir.

Hampir tujuh tahun, bukanlah periode yang pendek bagi Abu untuk bertugas di kota ini. Ya, Abu datang sebagai pemuda yang baru menginjak dua puluh satu tahun. Dan sekarang sudah hampir dua puluh delapan tahun. Ada banyak kesan dan pengalaman sudah terlewati disini, suka maupun duka.

Sebagai orang yang telah terhitung lama bertugas di kota ini, Abu telah banyak menghadiri perpisahan dengan orang-orang. Semua dengan cepat datang silih berganti hingga tiba saat kepada Abu untuk pergi. Dan menghadiri perpisahan untuk diri sendiri. Kepindahan Abu ke tempat yang baru adalah sebuah fitrah manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergerak.

Lhokseumawe, sungguh Abu sudah merasa merupakan bagian dari kota ini. Disini Abu menemukan cinta, sahabat, dan segalanya. Sehingga sangat berat untuk meninggalkan kota ini. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan hanya dapat diungkapkan dari hati ke hati.

Hari ini adalah hari terakhir Abu bekerja di kantor ini. Sebuah Surat Keputusan menempatkan Abu kembali ke kampung halaman, Banda Aceh sekitar 260 km. Tak jauh memang, namun Abu teringat bahwa kota ini selalu meninggalkan kerinduan yang mendalam bahkan ketika Abu belum meninggalkannya.

Kota ini telah mempertemukan Abu dengan orang-orang terbaik, yang mungkin tidak akan pernah Abu kenal atau bahkan temui jikalau tetap berada dikampung halaman. Sebuah hal yang membuka cakrawala berpikir dan meningkatkan kualitas diri.

Di kota ini Abu belajar menulis sepatah dua patah kata, menuntut ilmu, bertemu sahabat-sahabat dan akhirnya menemukan cinta. Di kota ini jua Abu merasa tumbuh sebagai seorang laki-laki dewasa, melewati fase remaja. Tentunya Abu bukanlah seorang tanpa cela, untuk itu dengan penuh kerendahan hati Abu memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Ke depan ditempat yang baru, tentunya tantangan akan semakin berat. Setiap perubahan belum tentu akan membawa perbaikan, namun perlu diingat pula bahwa tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan. Apapun yang terjadi ke depannya Abu selalu merasa bahwa diri ini adalah bagian daripada kota ini.

Saat berpisah harus menyapa // Aku tak ingin meneteskan air mata // Aku tak ingin kau berduka // Karena hati kita tetap bersama // Salam hangat // Kita akan bertemu kembali dalam waktu yang lain dengan suasana keakraban yang sama //

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s