BERMAIN DENGAN WAKTU

“Hal-hal yang membuatmu menangis di usia 7 tahun menjadi terlihat sepele saat kamu berusia 27 tahun. Tunggulah selama 20 tahun untuk mengevaluasi masalahmu sekarang kemudian tertawalah.”

 

Aliran kehidupan seperti sungai. Detak waktu telah membuat sadar bahwa diri tak lagi merupakan kanak-kanak. Hari ini kumengingat diri sebagai seorang bocah berumur tujuh tahun. Seperti pertama kali melihat matahari tenggelam, sudah banyak yang terlewati.

 

Dan hari ini ku mendapati tak akan ada yang mengerti, dan tak ada yang peduli dan tak akan pulang kembali. Bersama impian dan keyakinan tak akan menyerah. Mengingat sumpah setia bersama teman-teman yang telah pergi.

 

Berpikir bagaimana kehidupanku kembali setelah menjalani jalan ini tanpa berpikir lari dari takdir hingga pertolongan tiba. Mimpi dan cita belum terlaksana semuanya. Betapa sulit melaksanakan impian seorang bocah dunia dewasa, betapa kesempurnaan ide terbentur dengan realita.

 

Dan kumerasa sudah saatnya ku kembali, tanpa harus menahan satu malam lagi. Jika engkau mendapati mataku terpejam maka semua sudah tak ada. Aku pulang, dan jika pun semua cita-cita lama tak tercapai. Maka, aku bisa bergembira dalam kepulangan ini. Pulang sebagai manusia merdeka.

 

XXXXXXXX

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to BERMAIN DENGAN WAKTU

  1. DM says:

    Sepertinya halnya mimpi, begitu berkilauan di masa kanak dan remaja. Namun hidup menuntut kita untuk terus dewasa.

    Ada yang tetap berani membawa mimpi masa kecilnya terus menerus, ada yang terjebak pada titik yang acapkali disebut: realistis.

    Nemun demikianlah hidup.

  2. k'sti says:

    … aku ingin merdeka
    dr sgala ida ….(c.a)

  3. ario saja says:

    Merdeka… haiyah kan blom agustusan!!

  4. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s