GENERASI YANG HILANG

Apa jadinya sebuah bangsa apabila generasi terdahulu lebih baik dibanding generasi sekarang? Maka masa lalu akan penuh sanjung puji dan masa kini yang dijalani akan penuh kegeraman paling baik, atau caci maki bagi kekesalan yang melebihi batas. Namun generasi yang paling buruk nasibnya adalah sebuah generasi yang tidak memiliki sosok yang diteladani.

Kematian akan memutus sejarah seorang manusia. Mencapai limit akhir. Dan sejarah menulis apa yang “patut” dituliskan. Memahami sejarah bagai memegang sebuah tafsir. Dimana ia tidak menempatkan seorang pemenang menjadi legenda tanpa cela dan merendahkan pihak yang kalah secara semena-mena tidak pada tempatnya.

Adalah seorang Rosihan Anwar, seorang anak manusia yang mengakui kekurangannya bercerita. Tentang suatu masa dimana ia pernah hidup dan menjadi saat-saat paling genting dalam sejarah negeri ini, Revolusi Indonesia. Sejarah negeri yang selalu kita cintai namun sering kali mengecewakan kita. Ya kita mungkin pernah memaki dan kecewa, namun itu bukan karena tak cinta. Karena lawan cinta itu bukan benci, lawan cinta yang sesungguhnya adalah ketidakpedulian. Apa jadinya negeri ini bila generasinya tak peduli dengan negerinya, bangsanya dan tumpah darahnya.

Rosihan Anwar bercerita dengan gayanya, sinis tapi hati-hati. Dalam bahasanya ia menceritakan bahwa negeri ini diperjuangkan oleh para manusia-manusia idealis untuk kemudian diserahkan secara ironis kepada para opurtunis.

Dia bertemu semuanya. Hatta, Syahrir, Sudirman, Tan Malaka, Natsir, Aidit sampai Suharto. Semuanya Presiden Republik Indonesia dan Wakilnya, dari pertama hingga yang terakhir. Namun jelas di mata yang tua renta itu ada raut kecewa, kecewa yang amat sangat yang harus ia bawa ke peristirahatannya yang terakhir.

Jelas ia kecewa, karena ia melihat lahirnya sebuah generasi baru. Generasi yang tak peduli pada negerinya. Salah siapa? Tidak bisa ia mengacungkan telunjuk pada siapa-siapa. Ia bersedih karena tokoh-tokoh yang patut ditiru telah dibungkam oleh sejarah, dan tokoh penuh nista telah diagungkan oleh sejarah. Generasi ini tidak bersalah, di otak mereka sudah ditanamkan sebuah pemahaman yang salah. Tahun demi tahun berlalu dan ia pun menerima pembungkaman itu dengan pasrah. Ia melawan, melawan dengan lemah namun ia juga semakin menua.

Dan ketika ia pergi beberapa hari yang lalu, tersentak kita tersadar bahwa seorang legenda telah pergi. Ia tetap legenda dengan segala kekurangannya, tak sedikitpun mengurangi nilai dirinya bahkan memperkuat kematangan dirinya.

Selamat jalan Rosihan Anwar, sudah saatnya dirimu berkumpul dengan tokoh-tokoh kemerdekaan yang memiliki dedikasi tulus. Bersama Hatta, Syahrir, Natsir, Syarifuddin Prawiranegera, Sudirman. Mereka, generasi yang hilang dalam sejarah Indonesia. Tabik kami untukmu. Sampaikan salam kami untuk mereka.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s