TIADA RUSUH TIADA PESTA

Dunia sekarang tidak dipisahkan lagi oleh sekat dan batas, dimana media seolah telah membangun jejaring laba-laba yang menghubungkan segalanya. Peristiwa yang terjadi di Tunisia ataupun Mesir dengan segera hadir dirumah kita melalui televisi.

 

Peristiwa seolah terjadi disebelah rumah kita, padahal jaraknya ribuan kilometer nun jauh disana. Malam ini Abu dan Tengku Salek Pungo (TSP) terpekur diam melihat kotak ajaib itu. Dalam dua hari ini berita krisis Mesir pelan-pelan menghilang tergantikan oleh krisis domestik, ya kejadian Ahmadiyah.

 

Ulasan berita terus berjalan, para pengamat beranalis, Presiden pun tampil.  Semua orang terlihat sangat pintar atau paling tidak merasa paling pintar. Kritik sana kritik sini. Polisi salah, Presiden salah, MUI salah, Ahmadiyah salah. Masing-masing pihak menelaah kebenaran dari sisi mereka, rusuh dan media bergembira. Lucu, seperti kerusuhan dalam pesta.

 

Sedari tadi Abu dan TSP hanya diam, melihat dan melihat. Sama-sama menunjukkan wajah ingin tahu namun menahan diri untuk berkomentar. Menunggu, salah bicara akan di skak mat! Masalah agama adalah masalah sensitif bagi siapapun jua, masalah kemanusiaan juga berbahaya. Jadi filosofinya adalah carpe diem. Diam itu emas.

 

Sesaat setelah ulangan gambar Presiden berlalu diselingi komersial break. TSP tak tahan dalam adu diam, “Abu! Seandainya kamu menjadi Presiden. Apa yang kamu lakukan dalam menghadapi krisis ini?”

 

“Saya tidak berniat jadi Presiden tengku?”

 

Udara malam panas, Tapi roman wajah TSP lebih panas ketika berkata, “Siapa yang menyuruh kamu jadi Presiden Abu! Hanya apa yang kamu lakukan apabila menjadi Presiden?”

 

“Ini tidak adil Tengku!” Protes Abu.

 

TSP menyimak jawaban Abu selanjutnya.

 

“Oleh karena saya tidak ingin menjadi Presiden, maka tidak selayaknya Tengku menyuruh saya mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kewajiban saya. Presiden di Jakarta, sedang saya di sini. Saya melihat masalah ini tidak ada hubungannya dengan saya.” Protes Abu.

 

TSP terkekeh, sampai Abu menyerang balik. “Kalau Tengku sendiri bagaimana?”

 

TSP tersenyum percaya diri, “Saya bersyukur, di lingkungan kita tidak ada kerusuhan seperti di sana.”

 

Abu tidak puas. “Bukan itu pertanyaannya Tengku! Bagaimana seandainya jika Tengku menjadi Presiden. Apa yang Tengku lakukan?”

 

Kening TSP berkerut, ia berpikir keras.

 

“Sepertinya saya….” Suara TSP Terputus. “Terlalu tua untuk jadi Presiden.” Menyambung seperti Kereta api yang sudah tua dan rusak lagi.

 

“Tengku lucu sekali malam ini. Seumur hidup baru kali ini Tengku lucu seperti ini. Sulley saja kalah.” Abu tertawa terbahak.

 

“Rusuh kamu Abu!”

 

Abu tertawa penuh kemenangan.

 

“Lebay kamu!”

 

Dan Abu semakin ngakak.

 

XXXXXXXXXXXX

 

 

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Asal Usil, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to TIADA RUSUH TIADA PESTA

  1. Kang Nur says:

    ini tulisan bagus banget.. sungguh🙂

  2. masichang says:

    jadi seandainya presiden mau jadi abu? apa yang akan TSP lakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s