PETUALANGAN CHAN (2) : KEKACAUAN DI INDIA, MENUJU BIRMA

Kuhirup dalam-dalam sup hangat, akhirnya aku bisa menemukan makanan lain selain kari. Kedai milik Po Lin Shi. Lumayan, cita rasanya sudah disesuaikan dengan selera setempat tapi sudahlah, setidaknya bisa mengobati kerinduan terhadap kampung halaman di Tibet sana. Aku sudah terlalu jauh ke Selatan, aku kehilangan arah menuju Indocina dan akhirnya berputar-putar di India. Begitu mereka menyebut tempat ini.

Orang-orang keling suka bernyanyi, suara mereka sangat berisik. Berkumpul bersama minum tuak dikedai. Sangat tidak bercita rasa dan sangat mengganggu bagiku. Walau mereka tak bisa kungfu, dan hanya mengandalkan otot saja sebaiknya aku diam saja. Bagaimana ini bukan negeriku, bahkan aku juga sendiri. Sabar Chan, tahan dirimu.

“Namaku Amoy, boleh kita berkenalan?” Nama dan wajah tak sesuai, bagaimana bisa gadis keling bernama Amoy, jelas hanya untuk menarik perhatianku. Mataku menatap orang didepanku, pelacur keling dengan logat benggali ini memuakkan. Tatapan mataku mencoba mengusir, tapi dia berkeras. Mencoba untuk duduk dibangku depanku.

“Maaf nona Amoy, saya sedang ingin sendiri.” Usirku halus. “Masa tidak boleh berkenalan saja tuan.” Hatiku berkata, kenapa tidak kau kenalan dengan kaummu saja disana, disana dan disana. Orang Keling ya layaknya dengan orang keling. “Tidak! Aku tidak ingin berkenalan denganmu!” Suaraku mengeras dan mengalihkan pandangan sekitar pada kami berdua. Sadar menjadi pusat perhatian, Amoy palsu itu berbalik pergi setelah menghentakkan kaki dengan keras. Pergi kau ke neraka batinku.

Aku menyeruput teh panas dengan pelan, teh ini terlalu banyak gula. “Tuan perkenalkan saya Neelam. Kakek saya sakit, apakah tuan tahu tentang obat-obatan Tiongkok?” Datang lagi satu dengan gaya yang lebih elegan, namun ketika berbicara ia mengoyang-goyangkan dadanya. Sama murahannya dengan tadi. “Maaf nona saya bukan tabib.” Jawabku sekenanya.

“oh begitu ya, tuan dari Tiongkok ya?” Ia langsung duduk dikursiku disamping. Kali ini sangat kurang ajar. Aku bangun dan berjalan menuju pelayan membayar. “Dimana tuan menginap malam ini?” Ia mengikuti aku, sangat menjengkelkan. Kenapa sekarang banyak sekali perempuan murahan. “Jangan ikuti aku pelacur!” Emosiku meledak. Matanya menatapku dendam, peduli setan. Aku keluar.

Ternyata ada lagi yang mengikutiku dari belakang. “Mata sipit, kamu terlalu sombong!” Kali ini suara laki-laki. Aku bergegas, tak baik bergaduh didalam warung. Didepan aku menunggu, delapan orang keling berbadan kekar rupanya. Emosiku sedang tidak stabil, ingin rasanya menghajar beberapa orang. Ini mungkin bisa melampiaskan kekesalanku.

Aroma tuak disekeliling mereka, mabuk. Tabiat orang keling yang paling umum adalah mabuk, kadang mereka aku lihat tidur dijalan karena teler. Jangan pernah membuat marah orang mabuk adalah pepatah umum disini, tapi aku bukan berasal dari sini. Mereka memaki-maki, dan aku tak peduli. Jari telunjukku menantang mereka. Mereka mencabut pisau, yah sudah mengeroyok pakai pisau lagi betapa pengecutnya mereka. Layak diganjar kematian.

Cakar Peremuk Tulang. Orang pertama maju sambil berteriak menyebut nama Dewa mereka. Tanpa kuda-kuda dan sembrono dengan cepat kucengkram lehernya. Mati kau! Ia menggelepar-gelepar. Seharusnya yang lain takut, tapi dasar pemabuk. Satu persatu mereka mengantar nyawa. Pertama kalinya aku membunuh, tiba-tiba kurasakan kepuasan amat sangat. Menghilangkan nyawa musuh itu ternyata nikmat. Kupandangi maha karyaku, delapan pemabuk mati. Hindustan, aku menyingkirkan sedikit masalah kalian, aku tersenyum dan tertawa terbahak. Mampus kalian, siapa suruh menantang Chan. Chan yang tak ingin diganggu. Orang-orang yang menonton terdiam dan takut, seperti baru melihat setan. Aku menantang kerumunan, tapi semua diam dan menunduk.

Aku pergi dengan tenang, dua blok ke depan aku merasa ada yang mengikuti. Siapa lagi? Aku pura-pura tidak tahu. Disebuah sudut kutunggu. “Siapa kamu?” Kucengkram leher orang itu. “Ampun tuan, saya Vikar suruhan Tuan Po Lin Shi. Beliau ingin bertemu tuan.” Pemilik kedai, ada apa? Bisa jadi jebakan. Tapi aku sedang tidak memiliki rasa takut.

Vikar mengantar aku menuju sebuah gudang, aku masuk dengan tenang. Disana ada dua orang menunggu. “Perkenalkan tuan nama saya Po Lin Shi, tuan?” Seorang laki-laki tua bungkuk berkaca mata bulat memperkenalkan diri. “Nama saya Chan.”

“Tuan Chan perkenalkan ini Tuan Aungsan Rewin.” Tuan Po memperkenalkan pada tamu disebelahnya. Orang ini berpakaian rapi dengan cincin giok hijau, jelas dia adalah kaum berada. Dia bukan orang Tiongkok, karena kulitnya lebih gelap namun tidak sehitam orang keling. Aku berjabat tangan dengannya.

“Tuan saya lihat mahir silat?” Tanyanya basa-basi. “Akh, hanya sedikit.”Jawabku.

“Langsung ke pokok pembicaraan.” Tuan Po memotong. “Tuan Aungsan berencana mengirimkan paket, barang yang sangat berharga ke tempat yang sangat jauh, beliau menggunakan jasa biro pengantaran barang Po Lin Shi. Tuan Aungsan khawatir dengan keamanan dan membutuhkan seorang pendekar untuk menjaganya.” Ternyata Tuan Po ini juga memiliki jasa biro pengantaran barang.

Aku tidak tertarik, Indocina adalah tujuanku saat ini. Namun aku penasaran dan bertanya, “kemana?”

“Birma, sebuah negeri di Timur. Medannya sangat berat, namun kami bersedia membayar mahal untuk jasa dari tuan Chan.” Tuan Po mengeluarkan sampoanya.

Hidungku kembang-kempis. Keberuntunganku sedang bersinar. Namun jangan terlalu mudah memperlihatkan antusias, tahan sedikit Chan. “Birma? Saya tak pernah mendengar negeri itu. Pastinya sangat jauh.”

“Tuan Chan akan mengawal bersama anggota biro lainnya, tugas tuan Chan hanyalah menghalau bandit-bandit yang menyerang dalam perjalanan.” Aungsan ini sepertinya sangat butuh paketnya dikirim segera dan aman, pasti barang berharga. Jujur aku tak peduli, aku menemukan penunjuk jalan.

“Baiklah, tentunya dengan bayaran yang pantas.” Jawabku.

“Mari kita bersulang.” Tuan Po tertawa bahagia dan wajah Aungsan terlihat lega. “Besok pagi, tuan Chan berangkat.” Begitu aku menyatakan setuju Po tua ini langsung memerintahku. Pura-pura terkejut, aku tersenyum. Lebih cepat menuju Birma, lebih baik pak tua. Dalam hati aku tertawa.

XXXXXXXXXXXXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to PETUALANGAN CHAN (2) : KEKACAUAN DI INDIA, MENUJU BIRMA

  1. suasana tragis berbau fasis dan kekerasan agaknya sudah mulai terasa nih, mas abu. setting daerah tiongkok memang sangat insipiratif utk membuat jalinan peristiwa yang seru dan menegangkan. salam kreatif!

  2. Erikson says:

    Baca ini aku seperti baca komik bergambar2 jaman2 dulu, yang biasa aku beli seharga 1500/seri. deskripsinya hidup dan jelas. Tapi kalo boleh tau, ini sebetulnya cerita tahun berapa Van dan dimana setingnya?O ya, aku da add fb kau. Btw, kalo ke Jakarta kasih kabar aja, mn tw bs mampir kita..

    • tengkuputeh says:

      Iya Erikson sudah milvan approve. Iya terinspirasi komik tiger wong. settingnya abad ke-18. Biar lebih seru. Mudah2an dalam waktu dekat ada pemanggilan diklat atau apa ke Jakarta…

  3. bagus juga ceritanya,…

  4. bocahcilik says:

    imajinasimu mantap Bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s