MAJNUN

Jalanan Kufah menyerupai Baghdad, tapi tak akan pernah menyamai keriuhannya. Ya Baghdad yang kucintai. Dengan pemandian-pemandian terelok diseluruh dunia, kedai-kedai kopi terbaik yang menyediakan perasan air Mawar. Hanya Bahgdad yang terbaik diseluruh dunia. Melebihi wilayah kekuasaan Amirul Mukminin. Cordova mencoba menyaingi, meski melalui sisa-sisa kekuatannya rezim Umayyah(1) mencoba sekuat tenaga. Bahkan Kaisar Rum, awak Byzantin boleh iri dengan kemegahan dunia yang dimiliki Baghdad. Pusat dunia.

Tapi aku disini, terpasung di Kufah. Seorang putra kota Baghdad dibuang. Semua dikarenakan kekalahan Al-Amin dalam perang saudara melawan Al-Makmun. Ya, kedua putra yang mulia Harun Al-Rasyid dari ibu yang berbeda berperang memperebutkan kursi kekhalifahan. Jabatan sebagai pelindung segenap kaum muslimin diseluruh dunia. Tanggung jawab besar didunia dan akhirat. Namun menumpahkan darah sesama saudara untuk meraihnya.

Aku tak menyesali darahku, Arab. Tak akan pernah. Meski karenanya aku harus dibuang ke kota ini. Al-Makmun beribu Persia mengalahkan Al-Amin beribu Arab. Dan sang pemenang segala hal yang berbau pecundang. Dan berakhirlah karirku dipemerintahan disini, di pasar Kufah memegang jabatan yang paling dibenci seluruh kekhalifahan. Sebagai penarik cukai pasar.

Lima tahun yang lalu, “Murtadha! Engkau memiliki nama yang lazim dikalangan Persia. Tak kusangka engkau berdarah Arab. Seharusnya engkau berbohong dan mengaku Persia bukan Arab. Kau yang ku perkirakan akan menjadi Ja’far Al-Barmaki(2) selanjutnya akan dibuang oleh orang-orang kekhalifahan.” Kepala Madrasah Darul Hikmah(3) menatapku nanar.

“Guru.” Kataku pelan. Kucium tangannya pertanda takzim seorang murid. “Guru tak pernah mengajarkan kebohongan. Guru, aku tak sampai hati mengingkari darahku, apabila itu terjadi aku merasa akan mengecewakan guru dua kali lipat.” Itulah dialog terakhir sebelum surat penunjukkan ke Kufah dikeluarkan.

Sungguh aku tak membenci khalifah, aku tak berani menanggung azab dunia dan akhirat untuk menantang penjaga keharmonisan dunia. Tapi aku benci kota ini, benci akan kebanggaan mereka pada dinasti sasanid(4), benci tutur kata mereka dalam bahasa Persia yang halus dan licik. Kebencian yang sama pada kaum Syiah yang merobek baju dan memukuli badan sendiri ketika hari Asyura tiba. Namun aku menemukan cinta disini, kecintaanku pada kitab-kitab menggerus rasa terbuang dari kampung halaman. Tabikku pada Al-Muwatta.

Dan sudah empat tahun lamanya aku menekuni ini semua dengan harapan kelak berguna apabila diriku kembali. Dan sungguh empat tahun itu berjalan dengan sesuai rencana, bahkan masih berjalan sesuai rencana ketika bertemu dengannya hampir setahun yang lalu. Hanum namanya, berasal dari bahasa ibuku Arab yang berarti lembut. Putri kelahiran kota Kufah dan tak pernah jauh daripadanya. Dan Kufah, sedikit demi sedikit aku mulai menyukai kota ini. Kota yang menghasilkan sebuah kerajinan topi yang unik, dan diberi nama Kufiah sebagai penghormatan bagi kota yang menghasilkannya. Tidak terlalu buruk.

Semua berjalan mulus hingga akhir-akhir ini kebijaksanaanku menguap, padanya hanya padanya. Saat ini bahkan aku tak peduli lagi dengan paham Mu’takzilah(5) yang dijadikan dasar Negara dan membawa kekhalifahan berciri Yunani dan meninggalkan ciri khas padang pasir, terlalu kota dan logika tanpa rasa. Telah tiba disuatu masa ketika apa yang aku baca dan alami tiada berguna. Kami bangsa Arab mengartikan kegilaan dengan majnun, sebegitupula dengan kecintaan. Dan itu mengerikan sekaligus menggairahkan.

Ini adalah cerita yang tidak jelas, setidakjelas hatiku ketika menuliskannya. Dan ini adalah cerita yang belum selesai, dan aku tak mau menyelesaikannya di cerita ini. Satu hal yang pasti, aku meyakini ini sebagai cobaan sebagaimana ketika aku dibuang oleh Al-Makmun dan mampu mengatasinya. Dan untuk hal ini, satu-satunya pengecualian dimana aku akan mempercayai hatiku, untuk menghadapi apapun yang terjadi dikemudian hari kelak.

Hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya.

(1) Daulah Umayyah = Didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang mengakihiri masa demokratis Khulafaur Rasyidin. Daulah ini berpusat di Damaskus. Digulingkan oleh keturunan Abbas yang mendirikan Daulah Abbasiyah yang memindahkan ibu kota ke Baghdad. Namun Abdurrahman Al-Grifari satu-satunya penerus yang selamat melarikan diri ke Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang) dan mendirikan keemiran Ummayyah dengan Cordova sebagai ibu kota.

(2) Ja’far Al-Barmaki = Wazir/Perdana Menteri tangan kanan Khalifah Harun Al-Rasyid. Terkenal karena kebijaksanaan dan kedermawanannya. Kelak mati disalib karena dianggap merongrong kewibaan kekhalifahan Abbasiyah.

(3) Darul Hikmah = Rumah Hikmah, perpustakaan sekaligus madrasah terbesar pada era kekahlifahan Abbasiyah. Hancur dibakar ketika penyerbuan Mongol diabad ke-13. Abu sisa pembakarannya membuat sungai Efrat dan Tigris yang membelah kota Baghdad menjadi hitam.

(4) Dinasti Sasanid = Penguasa Persia terakhir sebelum ditaklukkan oleh kaum Muslimin dibawah pimpinan Saad bin Abi Waqqash, paman Nabi dari pihak ibu. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

(5) Mu’takzilah = Paham keagamaan yang sudah punah. Berkembang di Baghdad pada abad pertengahan dan dijadikan dasar Negara oleh Al-Mak’mun. Perbedaan yang paling mendasar adalah dimana kaum ini menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk. Sedang Ahlussunnah wal Jamaah mengganggap Al-Qur’an sebagai Kalam Allah S.W.T. Abu Hanifah atau yang kelak lebih dikenal dunia sebagai Imam Hanafi dijebloskan ke penjara pada umur 70 tahun dimana beliau menghabiskan umurnya, karena menolak mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk.

XXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to MAJNUN

  1. k'sti says:

    gila dan cinta, barangkali hanya beda nama serta komposisi hahaha….

  2. sebuah risalah sejarah yang disajikan dalam bentuk narasi yang tertata apik, mas tengku. gimana kabarnya? semoga selalu sehat, sukses, dan sejahtera selalu, amiiin.

  3. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s