HIKMAH DARI NEGERI DI AWAN

Tidak semua pengetahuan yang kita miliki menolong disaat dibutuhkan, di saat itulah diperlukan kearifan untuk mengambil hikmah dari setiap ketidaktahuan guna memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik. Dan dalam memungut nikmat itu diperlukan kerendahan hati, bukankah sebuah gelas yang belum terisi penuh lebih mudah untuk diisi tanpa harus tumpah, untuk itulah kita selaku manusia harus berusaha memperbesar wadah jiwa kita.

Sabtu pagi, Abu dijemput Andri. Teman lama satu Madrasah hampir dua dekade kebelakang di Banda Aceh untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Garis takdir tak dapat diduga menyebabkan kami bertemu lagi sekarang di kota ini sebagai pencari rezeki di kota ini. Garis takdir yang begitu panjang, dan lebih panjang dari perjalanan satu setengah jam perjalanan dari Kota Lhokseumawe menuju ke Ibu Kota Kecamatan Sawang, bahkan lebih panjang walaupun jika ditambah setengah jam perjalanan lagi menuju Dusun Lhok Drien dimana kelompok kami yaitu kelompok 25 melaksanakan salah satu kegiatan Tri Dharma Pendidikan. Sebelum berangkat Abu berdoa, “Ya Allah semoga perjalanan ini memberi hikmah.”

Memasang pagar dan mengecet meunasah (langgar-Bahasa Indonesia), membuat palmfet lorong dusun adalah kegiatan hari ini. Adegan lucu terjadi ketika Abu kebingungan mengikat kawat dengan mengunakan tank, sangat canggung. “Kebiasaan memegang mouse ya Abu.” Sentil Andri terhadap gaya Abu yang terlalu priyayi.

Menjelang siang, sekolah SD di dekat Meunasah pun bubar. Tak lama kemudian grup kami pun dikelilingi oleh anak-anak SD yang penasaran dengan kegiatan yang kami lakukan. Kebetulan saat itu hanya Abu yang sedang duduk beristirahat. Lalu beberapa anak datang ketempat Abu yang kebetulan berada di tempat teduh.

Anak-anak kampung selalu berani, dan anak-anak SD Negeri di awan yang terletak diatas pegunungan ini diwarisi semangat yang sama. Salah satu anak SD itu maju dan berbicara dengan Abu dengan bahasa yang seolah tidak pernah Abu dengar. Dia terus mengulangi kata-kata itu. Abu memasang telinga dengan seksama.

“What is?” Dalam bahasa Inggris bercampur logat Aceh yang kental sambil menunjuk Abu. “What is your name?” Abu mencoba menerka sekaligus bertanya.

“Muna.” Jawabnya sambil menunjuk Abu. “My Name is Milvan.” Jawab Abu sekenanya. Kemudian dalam bahasa Aceh anak tersebut bertanya, “Abang bisa berbahasa Inggris?”

“Bisalah.” Jawab Abu. “Kalau bisa sapu apa bahasa Inggrisnya?” Tanya anak itu masih dalam bahasa daerah. Otak Abu memerlukan loading untuk mengartikan pertanyaan tersebut dari Aceh ke Indonesia kemudian ke Inggris. Abu berpikir dan akhirnya menyadari bahwa sapu tidak ada dalam memory vocabulary Abu. Kacau! Bagaimana bisa, Abu yang kerap setiap malam berdiskusi dengan Jojo teman serumah yang berkuliah di keguruan bahasa Inggris tentang English tidak tahu tentang arti sapu.

“Abang tidak ingat.” Abu menyerah. Teman-teman Muna mendekat, tersenyum karena Abu tak terlalu angker. Mereka memperkenalkan diri sebagai Muklis, Syahkubat, Amin dan beberapa lagi. Masih penasaran balik Abu bertanya apa arti sapu. “Broom.” Kata mereka serempak. Kemudian mereka bertanya tentang rol, papan tulis dan kapur. Kalau bagian ini Abu ingat. Mereka jelas menikmati proses ini dan tambah senang ketika Abu menyodorkan kue kepada mereka.

Sore, kami pun kembali ke ibukota kecamatan. Setelah shalat Asar Abu dan Andri kembali pulang ke Lhokseumawe. Kejadian bersama anak SD tadi benar-benar berkesan pada Abu. Selepas Maghrib Abu berdiskusi dengan Jojo dan bercerita tentang kejadian di Sawang tadi. Bukan Abu namanya jika tidak menanyakan pendapat para ahli dan kali ini Abu meminta analisa dari seorang calon pengajar bahasa Inggris.

“Kecenderungan orang Indonesia menguasai perbendaharaan kata bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja, dan cenderung kurang menguasai atau menyepelekan kata benda dan bahkan kata sifat. Kenapa? Karena kita sebagai orang Indonesia dalam speaking English cenderung lebih banyak menggunakan kata kerja dalam Convertation.” Begitu ulas Jojo.

“Broom.” Abu akan mengingat kata ini. Sebagaimana Abu mengingat bahwa disebuah negeri di awan. Oleh anak-anak SD yang bahkan bersekolah tidak menggunakan sepatu. Sebuah kosa kata merasuk kedalam otak Abu, mudah-mudahan tak akan lekang. Mengajarkan hikmah yang memiliki makna mencintai kebijaksanaan dan kebenaran yang bisa datang dari siapapun. Hormat dan tabik kepada dunia pendidikan Indonesia.

XXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Asal Usil, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s