MELANCHOLIC RHAPSODY

Udara panas ini mengingatkan akan Baghdad, kelembaban udara dan aroma parfum nir-alkohol yang semerbak di jumat siang. Ya Baghdad dengan debu yang mencapai langit. Andai Abu pernah kesana. Jumat sudah selesai dan jamaah kembali pada kegiatannya, mengejar apa yang harus dikejar.

Sudahkah Abu mengatakan panasnya hari ini? Karena sangat panas. Menunggu sangat membosankan, apalagi di cuaca terik. Akhirnya beliau keluar juga, berbaju tipis hasil pencucian ribuan kali, peci hitam yang sudah kecoklatan, dan tongkat dari rotan bengkok. Tengku Salek Pungo keluar dari masjid.

“Abu!” Ia tersenyum. “Hampir setahun kita tidak bertemu!” Dengan antusias menjulurkan tangan kepada Abu. Abu membalas dengan tawa, “Setahun itu tidak terlalu lama tengku.” Kemudian kami tertawa dengan irama yang sama, ya sebenarnya hampir setahun itu sudah lama.

“Tengku, apakah benar Abu adalah orang yang serius?” Tanya Abu. “Saya tahu, Abu bertemu saya kalau ada maunya.” Sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Seseorang yang Abu anggap penting mengatakan itu kepada Abu. Apakah Abu orang yang membosankan tengku?” Tanya Abu lagi.

“Duduklah dulu Abu, kita baru saja selesai Jumat.” TSP berbalik dan duduk lantai masjid dan menyuruh Abu duduk disampingnya. “Kamu Abu. Analitis, tekun, filosofis dan puitis, menyukai keindahan, idealis, bertindak sesuai dorongan hati, perasa, suka mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain, seperti sekarang.” TSP Tertawa sebentar kemudian melanjutkan, “pengkritik, pendendam, tidak ramah dan teoritis. Dan dalam hal ini abu bukan orang serius tapi sangat serius.”

Abu mencoba tertawa tapi garing, “sebegitu membosankan Abu?”

“Menjadi serius tidak buruk Abu. Setidaknya Abu memiliki sedikit garis kharismatik. Saya malah rindu dengan Abu setelah sekian lama tidak bertemu. Kemana saja selama ini?”

Abu tersenyum, melirik jam. Sudah setengah dua. “Adakalanya kita harus santai Abu, apalagi dengan orang yang kamu anggap penting. Tidak semua orang nyaman dengan penjelasan yang terlalu detil. Setiap orang punya irama tersendiri.” Tambah TSP.

“Terima kasih tengku atas penjelasannya sekarang saya harus kembali.” Abu membersihkan celana dan bangkit. Dan menyalami TSP.

“Kamu ini pergi dan datang tak bisa dicegah ya. Kemana lagi? Kembali ke kantor?”

“Jam tidur siang tengku.” Jawab Abu.

TSP tertawa terbahak hingga gusinya kelihatan. “Masih suka tidur siang sampai sekarang? Saya harap di lain waktu kita bisa bertemu lagi.”

“Abu juga berharap seperti itu.”

Meski ada yang mengatakan kehidupan ini seperti cermin, namun tidak sepenuhnya begitu adanya. Kadangkala kita membutuhkan mata orang lain untuk melihat hal yang tidak terlihat didiri kita. Meski seumur hidup menjalani. Karena kehidupan ini memiliki gema, dan sudut pandang setiap orang berbeda.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to MELANCHOLIC RHAPSODY

  1. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s