MAUT

Waktu itu tahun 1999, angka 1999 adalah misteri dimana bilangan akan menuju ke angka 2000. Milenium baru. Sekarang memang biasa namun ditahun itu percayalah sangat luar biasa. Apalagi bagi seorang anak SMP. Abu baru menerima rapor catur wulan dua kelas tiga saat itu. Seorang anak menyapa kelas sebelah, “Wandes mana?” tanyanya, Abu memicingkan mata. Sepanjang sekolah baru kali itu kami berbicara. Putra nama anak itu, Abu mengenalnya, meski kami bukanlah anak popular tapi kami saling mengenal. Pengalaman ini sebenarnya biasa saja, tanpa kesan. Ketika ia menanyakan tetangga Abu yang kebetulan sekelas dengannya, yang sebenarnya Abu tahu bahwa si Wandes ini bolos hari itu. Menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa ketika sorenya selesai bermain bola dilapangan kampung Jempet, Saipul seorang teman Abu memberitakan bahwa Putra meninggal. Hanyut ketika memandikan kambing disungai. Waktu itulah Abu mengenal wajah maut. Sesuatu hal yang membuat Abu sangat ketakutan dan menangis di Langgar selesai shalat Maghrib. Dan teman-teman Abu yang lain hanya mengkerubuti tak mengerti.

Sebelum itu maut adalah hal yang riang, setiap ada tahlilan di kampung Abu bebas berlari-lari. Bermain dengan anak-anak lain, karena hari itu segala pantangan dicabut. Semenjak kejadian ditahun 1999 itu setiap mendengar kata maut, Abu mengaktifkan otak pada suatu hal yang mengerikan. Empat April Dua Ribu Empat, disebuah kamar kos-kosan di Medan. Abu sedang makan mie tiauw, ketika Ibu Abu mengabarkan melalui telepon bahwa di Banda Aceh, ayah meninggal dunia. Trauma. Sampai dengan hari ini, Abu tak pernah menyentuh Mie tiauw lagi. Benci. Dan Empat April adalah hari dimana Abu merasa gelisah, mengingat bahwa ditanggal yang sama ditahun Seribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Dua, Kakek Abu dijemput maut.

Maut, tetap bukanlah hal yang biasa. Meski dibilangan 26 Desember 2004 tsunami datang sebagai duta. Dengan mata takjub sekaligus tak tahu apa yang terjadi Abu melihat sendiri betapa kehidupan ini sangat rapuh. Maut adalah sebuah alat, agar manusia waspada akan kehidupan. Agar manusia berbuat baik sepanjang hidupnya. Agama mengajarkan kepada kita, bahwa maut adalah sebuah pintu untuk menuju ke fase selanjutnya. Maut adalah juga sebuah kecemasan, karena tidak pernah ada manusia yang kembali setelah dijemput olehnya. Tidak ada manusia yang pernah bercerita bagaimana pengalamannya disana. Alhasil maut adalah sebuah misteri yang tak pernah diuji oleh dalil-dalil ilmiah. Alhasil maut menggentarkan seluruh manusia, siapapun dia.

Maut bisa begitu akrab, sehingga Abu bertanya kepada ibu. “Mengapa sekarang dikeluarga kita lebih banyak mendengar kabar kematian dibanding kehidupan(kelahiran). Ibu Abu menjawab, “segala sesuatu memiliki masanya. Kelak dikeluarga ini akan banyak kabar kelahiran jua.” Sederhana, namun Abu selalu kagum dengan jawaban ibu. Dengan sungguh-sungguh ibu bercerita, bahwa ayah tak gentar akan maut. Bahkan beliau tersenyum menyambut kedatangannya. Mengingat itu semua ada kebanggaan. Namun dibalik itu semua, tersirat perasaan malu. Apakah diri ini memiliki keberanian yang sama menghadapi kematian jika saatnya tlah tiba.

Maut, hari ini ketika Abu mendapat kabar seorang kerabat dijemput maut. Abu berangan-angan. Tidak bisakah kita sebagai manusia membayangkannya dengan wajah yang ramah? Sosok berbaju putih bersih dan senyum. Dengan tangannya ia merangkul kita yang terpaku dalam gelap, lalu membawa kita dalam cahaya. Maut, entahlah.

XXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to MAUT

  1. Uchan says:

    Astaga, sakratul maut nabi yang paling ringan aja ibarat kambing yang dikulitin kulitnya. Astagfirullah

    Seringkali kita menghindari membahas maut ini…

  2. Erikson says:

    vann.. assalamualaikum, apa kabar????? lama kita ga kontak2 yahh hehehhee… gimana di Lhox sibuk?kemaren aku ke Banda nikahan kawan aku, cm aku tau Lhox dan Banda jauhnya minta ampun jadi g bisa aku hubungi kau🙂

    tentang Maut.. iya, Maut memamng tidak bisa menceritakan seperti apa rasa dan rupanya, hanya bisa diingat bahwa orang2 terdekat kita pernah dijemputnya, dan kita hanya bisa mengingat wajah mereka, lalu mendoakan..

    Berikutnya hanya ALLAH.SWT yang tau..

    Salam Sobat!!
    Erikson🙂

    • tengkuputeh says:

      Waalaikum salam Erikson… Iya sudah lama… Bagaimana rasanya disekolahkan lagi Erikson, nyaman banget ya… Skrg biasalah, sdg mengurusi SIPMOD yang lemot😀

      Salam juga sobat…

      • Erikson says:

        Rasanya?heheheh lega van.. soalnya g kepikiran lagi urusan kantor hehhe.. ok lah.. kau cari aja aku di Fb nama aku Erikson Bin Asli Aziz, add aja sob.. trims.. good luck juga buat kau Milvan Murthada..

  3. iiN says:

    wah.. nice info..🙂

  4. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s