RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM

Lampisang Aceh Besar, Januari 1873

Kelemahan adalah kekuatan, begitupun sebaliknya kekuatan menjelma menjadi kelemahan. Aku menyeret langkahku enggan pelan menuju rumah Aceh itu. Pihak yang mengundang, pemilik rumah. Tuanku Nanta Setia, putra Datuk Makdum Sati. Keturunan wali negeri Minangkabau ketika masih dalam perlindungan Kesultanan Aceh. Adalah cerita lama sebelum Plakat Panjang terjadi. Keturunan Front liner yang berdarah campur dan masih kerabat dekat kesultanan.

Entah mengapa, aku kehilangan semangat untuk menghadiri. Mungkin aku sudah tua,dan dihinggap penyakit orang tua yang benama kemalasan. Nyamuk Januari sangat mengesalkan berdengung ditelingaku sedari tadi. Aku tiba juga akhirnya. Terlambat, pertemuan sudah dimulai. Belasan kuda memamah biak terlantar disekeliling rumah.

“Tuan terlambat rupanya?” Dibawah rumah gelap terdengar suara. Aku mendekat dan melihat seorang duduk diatas alu penumbuk padi yang lazim ada dibawah kolong rumah panggung. “Sudah dimulai rupanya?” Tanyaku seraya basa-basi mengulurkan tangan.

“Sang Durjana.” Tunjuknyanya. Udara panas malam hari pertanda tak baik. Namun mataku segera membiasakan diri dengan kegelapan. Seorang anak muda, kira-kira berumur sembilan belas tahun. Namun suaranya keras, bariton. Berwajah tirus dan hitam. Memiliki alias yang tebal dan mata yang tajam, entah kenapa aku merasa bertemu dengan orang licik.

Usiaku lebih tua, sehingga berkata. “Sebut saja Abu.”

“Umar.” Katanya datar. “Kamu terlambat juga?” tanyaku. Mata elang itu menatapku dengan remeh. “Aku tak akan terlambat jika diundang paman Nanta. Meski jauh-jauh datang. Diatas ada sainganku Imuem Muda Raja Teunom, negeriku masih bertikai dengan Teunom. Tak elok aku yang datang lebih akhir darinya bertemu dia hari ini.”

“Siapa saja diatas?”

“Selain paman dan si Raja Teunom, ada Pang Hasyim, ada Tuanku Keumala, ada Cut Banta, dan beberapa orang utusan Ampon chik Peusangan. Mereka semua diundang paman untuk membicarakan perang.” Matanya menyala-nyala ketika membicarakan perang seperti orang Neger mempersiapkan pesta.

Aku diundang ke acara seperti ini, semua adalah orang-orang penting. Terlebih Cut Banta yang bergelar Panglima Polim, Panglima Sagoe XXVI. Rasa enggan menebal dipunggungku, aku sudah lelah bertempur. Ingin hidup tenang, yah lagi pula aku bukanlah orang sepenting itu untuk dilibatkan dalam hal taktik menghadapi Kaphe Belanda.

“Belanda melobi Inggris, kita pula hendak meminta bantuan Rum. Perang besar tak mungkin terhindarkan lagi.” Aku hanya diam mengutuki pengetahuanku. Haruskah kukatakan pada anak muda ini bahwa Rum sekarang bukanlah yang dulu, ia sekarang bernama Turki dengan segala penyakitnya, sehingga mustahil membantu Aceh menghadapi Negara Eropa, apalagi jika Britania turut serta. Turki sekarang penakut, kalkun julukan mereka.

“Kenapa harus ada perang?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

Umar menatapku tak percaya, seolah melihat makhluk asing yang tak pernah dilihat sebelumnya. “Kenapa Abu? Sudah menjadi penakut? Setelah menikah Durjana menjadi pecundang.” Kemudian ia tertawa keras. Aku menatap anak muda ini kesal, orang seperti inilah yang menyebabkan tanah ini bersimbah darah. Haus darah dan penuh semangat, orang seperti ini berkemungkinan menjadi pahlawan besar sekaligus pengkhianat terculas.

Sudahkah, aku pulang saja. “Sampaikan salamku pada pamanmu anak muda, ketika perang terjadi aku akan ikut serta. Namun saat ini aku ingin menghabiskan hari-hari tersisa dirumah dengan damai. Urusan taktik terserah kalian kaum bangsawan, aku hanyalah jelata.”

“Sang Durjana, kemasyuran namamu hanya sampai disini.” Umar mengejek kekerdilan hatiku. “Dan ingatlah, suatu hari ini dinegeri ini namaku akan berkibar melebihi namamu.” Ia mengeluarkan tembakau linting dari sakunya, membakarnya kemudian menghirup dalam-dalam untuk melepaskan dalam betuk gelang asap. Bau ganja merebak. Gila!

“Maka anak muda, sebutkan dengan jelas namamu dan jika suatu hari aku mendengar namamu niscaya aku tak akan terkejut karenanya.” Tantangku.

“Ingatlah baik-baik sang Durjana, Ahmad, atau Abu. Namaku adalah Umar. Umar anak Meulaboh!”

 

Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit ditentukan oleh orang besar

XXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

BAGIAN SATU.

BAGIAN DUA.

BAGIAN TIGA.

BAGIAN EMPAT.

BAGIAN LIMA.

BAGIAN ENAM.

BAGIAN TUJUH.

BAGIAN DELAPAN.

BAGIAN SEMBILAN.

BAGIAN SEPULUH.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM

  1. Aulia says:

    telah bagian ke enam saja ini, kalau sudah banyak sudah bisa jadi buku nih🙂

  2. Kelemahan adalah kekuatan, begitupun sebaliknya kekuatan menjelma menjadi kelemahan.

    wah, quote yang bagus sbg pembuka kisah, mas tengku. ungkapan semacam inilah yang belakangan ini kurang diapresiasi.

  3. anie says:

    “Kekuatan tanpa kasih sayang adalah KEZALIMAN. Kasih sayang tanpa kekuatan adalah KELEMAHAN”

    waduh dibolak balik rumit jg yaaa,,,???

  4. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: RISALAH SANG DURJANA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  8. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  9. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  10. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  11. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  12. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEPULUH | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s