KEKUASAAN PLUIT

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, wasit dilengkapi dengan sebuah instrumen bernama Peluit. Peluit adalah sebuah alat berukuran kecil terbuat dari berbagai bahan seperti kayu atau plastik yang mengeluarkan suara nyaring ketika ditiup. Peluit umumnya berbentuk lonjong dengan lubang kecil di bagian atas untuk perputaran udara.

Menjadi wasit berarti menjadi hakim dalam sebuah pertandingan, ia adalah pejabat yang memimpin, memutuskan hukuman bagi para pihak. Seringkali wasit menjadi pihak yang paling dipersalahkan oleh keputusan-keputusannya yang dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan satu pihak.

Sebagai seseorang yang pernah bermain sepak bola dalam pertandingan antar kampung. Abu adalah termasuk pemain yang bengal, dalam arti kata kerap melawan wasit. Wasit adalah pihak pertama yang Abu salahkan jika tim kami kalah dalam pertandingan, segala kesalahan serta caci maki sumpah serapah ditujukan hanya pada wasit. Satu hal yang jamak dalam kehidupan dunia olah raga kita. Abu pun termasuk didalamnya, menjadi salah satu bagian integral dari masyarakat kita. Sama hingga suatu hari mata Abu terbuka lebar.

Adalah turnamen Futsal yang diadakan oleh teman-teman sekantor. Pada suatu ketika, tidak ada yang ingin menjadi wasit karena akan menjadi pihak yang menerima teror dari penonton dan pemain-pemain dilapangan. Dasar Abu, bangsa mau. Sifat optimis Abu bergejolak dan mengajukan diri sebagai wasit. Hanya bermodal keberanian Abu mencoba.

Ternyata menjadi wasit yang adil itu sulit, meskipun berusaha untuk adil. Pasti ada yang terlewatkan. Sekejap saja hilang kosentrasi maka bisa berakibat fatal terhadap pertandingan. Apalagi jika pertandingan tersebut memiliki tensi emosi tingkat tinggi. Sebagai wasit, sikap fokus dan tegas harus mati-matian dipertahankan ditengah atmosfer keras. Untungkah, wasih dibekali sebuah instrumen kekuasaan bernama peluit yang menjadi pertanda kekuasaannya dilapangan. Dasar Abu, mendapat mainan baru malah keasikan meniup peluit yang malah diprotes oleh para pemain.

Abu baru pertama kalinya menjadi wasit, selalu ada kenikmatan tersendiri terhadap apapun yang kita lakukan pertama kali, itu pasti. Alangkah baiknya jika mengambil hikmah dari segala pengalaman yang kita alami. Ternyata sangat mudah untuk menilai seseorang jika kita dipinggir lapangan, sangat mudah menduga seseorang buruk dari kaca mata kita. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak pernah mengkomunikasikan hal itu dengan santun. Dengan emosi dan berbalas emosi, atau yang paling buruk adalah dengan cara bergunjing, membicarakan dibelakang.

Setiap pengalaman menambah ilmu kita, maka Abu sangat senang menjadi wasit. Namun untuk pertandingan berikutnya Abu harus memberikan kesempatan kepada orang lain, bukan karena takut melainkan ternyata Abu telah memaksakan fisik untuk mencapai batasnya, dan sudah saatnya untuk istirahat.

” The optimist sees opportunity in every danger, the pessimist sees danger in every opportunity.”

Milvan Murtadha, 12 Nopember 2009…

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to KEKUASAAN PLUIT

  1. wawan salatiga says:

    salute for Abu

  2. masicang says:

    huehuheuhe……….. berat ya ternyata mas. kompetisi futsal sekanwil kemarin saya juga ditunjuk jadi wasit…. dan goal terbesar saya adalah ketika tidak marah waktu pemain memaki keputusan saya.

    padahal ketika menjadi pemain saya yg memaki wasit.. hehe.. berat.

  3. Erikson says:

    pertama2 saya iri neh ma kawan2 yang pandai maen futsal, saya suka tapi kurang PD soalnya dr dl kurang suka bola, olahrasa saya renang, manjat2, atau jogging. tp sama dalam konteks kejadian wak abu ini, menyalahkan pendaki yang tidak mampu mencapai puncak lebih mudah ketimbang menjalani sendiri tersengal2 nafas dan kaki yang lemah.. dan saat itu baru sadar ahh memnag sulit TAPI MUNGKIN😀

  4. wah, ternyata si abu pernah juga jadi pemegang pluit, hehe … semoga abu bisa menjalankan tugasnya di lapangan, tidak hanya semata2 menjalankan tugas karena tugas semata, tetapi juga rasa keadilan buat pemain yang perlu diperjuangkan.

  5. tengkuputeh says:

    Wawan => Tq bro…

    MasIcanx => Ternyata lbh enak menjd pemain ya mas. Ternyata menjadi wasit itu tidak mudah ya😀

    Erikson => Hehehehe. Setiap olahraga punya tantangannya masing2, tp Abu juga tidak jago2 kali bermain futsal, hanya bermodal semangat…

    Mas Sawaly => Keadilan itu hrs slalu ditegakkan ya kan mas…

  6. haluuuuuuuuu..
    salam kenals^^

    kok postingan per paragradnya bisa di-enter ya?
    punyaku kok nggak bisa?
    mohon petunjuk dari senior wordpress, hehehe_

  7. tengkuputeh says:

    Caranya adalah tulis dulu dokumen diword trus buat spasi dua. Insya Allah bisa…

  8. liza says:

    wah abu bengal juga ya:) kok istirahat? sudah lelahkah abu?

  9. tengkuputeh says:

    Hehehehe, Abu hanya sedikit nakal Liza…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s