BERAKHIR DISINI

Seharusnya ini berakhir disini. Diangka tiga lima. Tiga ditambah lima sama dengan delapan. Angka kesukaanku menandakan paradoks seperti hidupku yang penuh pertentangan. Delapan angka yang sukar dan janggal, merupakan kelipatan empat. Berkaitan dengan kesedihan namun juga berarti keberhasilan.

Bayangkan tiga puluh lima kali, diusiaku dua puluh lima, seperempat abad. Apa yang salah? Sekuat diri ini memperlihatkan sisi dingin ternyata aku tak mampu menyembunyikan pada diriku perasaan kuat dan mendalam ini, perasaan bersalah jika harus menolak lagi untuk ke tiga puluh lima.

Padahal tak ada yang istimewa disini, bahkan keras kepala, individualis dan tak pernah mau peduli. Entah bagaimana selalu saja pemikiranku selalu disalahartikan. Padahal sudah kukatakan bahwa hanya bertindak berdasarkan keyakinan bukan atas dorongan naluri, sehingga tak pernah ku cerdik maupun bijak. Hanya mencoba bertindak layak dalam bergaul, tindakanku berdasarkan normatif tak lebih.

Ketiga puluh lima, haruskah aku menerimanya. Sedang diriku tak memiliki gairah padanya. Sedang diriku tidak terpengaruh padanya. Sedang keinginanku yang dengan gigih kupertahankan belum tercapai. Harus kuakui bahwa perasaanku pernah hangat, namun itu hanya jika keyakinan bersamaku.

Aku pun pernah merasakan sakit menahan gelora didalam jiwa, dan bekasnya masih tersimpan di dada. Meski memperlihatkan keteduhan pegunungan diwajahku, meski wajahku seolah sehangat matahari pagi. Jasadku saat ini menanggung kemarahan amat sangat. Biarlah tubuhku hangus dan terbakar sendiri, ku tak ingin engkau menjadi pengalihan dendam nantinya. Tidak dirimu dan tidak siapapun. Karena ku meyakini hidupku untuk melindungi bukan untuk menyakiti. Dan aku tak akan keluar dari gua sufiku sampai mampu mengendalikan diriku lagi.

Maka aku tak akan tega berkata keras lagi padamu yang ketiga puluh lima, sekejam pada tiga puluh empat sebelumnya yang terluka oleh kata-kataku, setajam belati beracun. Yang pernah dengan dingin berkata, “Berani sekali anda jatuh cinta padaku!” Mohon biarkanku sendiri, mencari keteduhan dalam perenunganku, dipersembunyianku yang sejati yang bernama hening.

Ya, aku sudah berubah. Berusaha menyingkirkan keangkuhan iblis dihatiku. Namun maafkan aku yang tak dapat menempatkan dirimu pada puncak dahaga rinduku. Engkau tak mengenalku terlalu, engkau belum mengetahui kelemahanku. Sosok sempurna tanpa cela yang kau puja itu tak ada. Mungkin ada, tapi ia bukanlah diriku. Pasti ada lelaki lebih baik disana yang akan menyambut cintamu dengan tangan terbuka.

Tiga puluh lima, kuharap bilangan angka berakhir disini. Tak ingin ada yang ke tiga puluh enam lagi. Saatnya ku merevitalisasi diri, mengenakan jubah sufi ini dengan lebih erat lagi. Dan tetap melindungi ragaku agar tak tersentuh lebih rapat lagi. Lebih tertutup dan tanpa celah. Sakit rasanya harus mengatakan tidak berulang kali, meskiku berusaha untuk terlihat tak terpengaruh namun itu menyisakan lubang dihati, tidak hanya padamu tapi padaku jua.

Bukan, bukannya aku membenci dirimu. Kebencian tak pernah kupelajari. Jika ada yang kubenci hanyalah kebohongan. Dimana setiap kebohongan kecil akan semakin membesar diikuti kebohongan lainnya. Akhirnya menjadi bola salju. Kebohongan juga mengakibatkan hilangnya sesuatu paling berharga didunia, kepercayaan. Terkutuklah para pembohong! Aku tidak bisa membohongi kamu dan diriku sendiri. Maafkan hidupku yang kaku, terbagi hanya antara dua pilihan. Ya atau tidak.

Aku akan jujur padamu, karena hanya itulah yang kupunyai. Bahwaku pernah merindukan rumah, dan kecewa mendapati diriku belum saatnya untuk pulang. Aku bersedih mendapati harapan itu hancur. Maka aku juga tak akan berpura-pura bisa memahami perasaanmu. Saat ini biarkanku mengembara dan bahagia dalam pencarian ilmu, itulah hasratku kini. Mohon ikhlaskan.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to BERAKHIR DISINI

  1. bocahcilik says:

    tak ada pilihan tunggu?
    hanya ya dan tidak?

  2. srya says:

    ada apa?

  3. KangBoed says:

    SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG SAHABAT

  4. mas tengku, dinamika hidup akan selalu naik-turun. tantangan juga akan datang silih berganti. semoga mas tengku bisa menikmati tantangan dan dinamika hidup itu.

  5. anie says:

    “Berani sekali anda jatuh cinta padaku!”
    Allah yang memberikan perasaan itu….
    jika perempuan itu adalah sy
    km salah menyebutkan angka…
    seharusnya 33 bukan 35…hehehe
    sy ikhlas utk kecintaanmu pada Yang Maha Esa…

  6. tengkuputeh says:

    berakhir disini, tanpa balasan jawaban lagi…

  7. FaYChou says:

    Dik,
    Sebaik2 perhiasan adalah wanita shalehah.
    So.. what are u waiting for?
    Bukankah menggapai ilmu bersama ‘yg halal’ lbh barakah?
    Bukankah meneladani rasulullah lbh utama drpd meneladani manusia lainnya?

  8. Pingback: TERIMA KASIH PADA SASTRA | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s