SALAM RINDU SELALU

Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.

Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.

Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.

Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.

Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.

Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.

Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.

“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to SALAM RINDU SELALU

  1. masicang says:

    selamat jalan? memang diterima sekolah dimana mas? adindanya? jauh ya?

  2. srya says:

    wah selamat ya.. jauh nya di magelang..

  3. bocah cilik says:

    biar nanti, kalau mengunjingi adindanya ke Magelang, bisa mampir ke rumahku mas abu.

  4. tengkuputeh says:

    Ai ==> Jauh dimata dekat dihati…
    Mas Ucup ==> Yayaya, pasti asik tentunya mampir kesana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s