RINDU YANG MALU-MALU

“Bila engkau rindu dengan sebenar-benarnya rindu. Tataplah bintang di angkasa kelak engkau kan mengerti. Ada sebentuk keindahan yang hanya mampu dipandang tanpa kemampuan jemari menjangkaunya”

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan. Sebagai makhluk fana sepatutnya manusia juga harus menyadari bahwa kehilangan adalah persiapan dari kehilangan yang lebih besar. Tokh di dunia ini tak ada yang abadi, semua kelak pergi.

Hujan mengguyur kota Lhokseumawe jumat sore, baru saja reda. Abu baru saja ingin memulai membuat tugas Study Kelayakan Bisnis untuk kuliah besok pagi. Pintu diketuk, siapa lagi? Begitu Abu membuka pintu betapa terkejut bahwa yang datang adalah The Legendary Tengku Salek Pungo.

“Seperti rumah perampok!” Belum-belum sudah melancarkan kritik pada Abu yang tak siap pada kunjungan ini. “Kita boleh menjadi orang lajang, tapi rapilah sedikit!” Tengku Salek Pungo menunjuk tata ruang minimalis desain Abu, plus guling dan bantal yang asal-asalan tergolek di depan TV. Terus dengan kejam menertawakan Laptop Acer yang Abu pasang keyboard. “Abu, harus saya akui seleramu buruk!”

Setelah Abu menyapu bagian yang akan diduduki, akhirnya TSP duduk. “Ilmu itu dicari bukan mencari.” Sebuah petuah Abu Hanifah ketika kepada Khalifah Harun Al-Rasyid ketika meminta dirinya datang mengajar ke istana Abbasiyah untuk anaknya Al-Amin dan Al-Makmun. Mengisyaratkan bahwa seorang muridlah yang harus mendatangi guru bukan sebaliknya. Sekaligus menyindir Abu yang sudah lama tak berkunjung ke tempat beliau. Biasanya kami akan berdebat panjang, namun Abu sedang tidak berselera. “Entah mengapa Tengku, beberapa bulan ini Abu kehilangan antusias.”

TSP menatap Abu lama, kemudian bertanya. “Sudah berapa lama kita tak bertemu?” Abu menghitung, sejak pindah kontrakan. “Setidaknya empat bulan.” Aroma sinis hilang dari wajah beliau, sambil menonton Mulan 2 di Globaltv kami pun berbicara, tentang banyak hal. Tentang kehidupan, ilmu dan hal-hal pribadi antara seorang guru dan murid.

“Hal seperti rindu tidak seharusnya disimpan didalam hati, hal sama yang membuat saya datang kemari.” Closing statement dari TSP. Menanggapinya Abu hanya tersenyum, walaupun TSP adalah guru Abu, beliau tidak mengetahui konsep Abu untuk membunuh rindu. Yaitu jangan memikirkannya, biarkan ia berlalu ke ruang hampa.

“Sekarang saya pulang.” TSP bangkit.

“Abu antar Tengku?”

“Tidak usah.”

Abu mengantar TSP sampai ke pintu. Pelan dan pasti TSP berjalan, kemudian berbalik. “Abu tidakkah bisa kamu memaksa mengantar saya pulang? Apakah kamu selalu seperti ini? Hanya sekali menawarkan, payah kamu!” Sambil tertawa menyengir. Abu ikutan tertawa, dengan sigap mengeluarkan Shogun 125 dari kandangnya. Dalam perjalanan pulang, TSP nyelutuk. “Kamu memang harus selalu dipaksa ya?” Abu hanya diam.

Lhokseumawe. Sudah empat tahun tiga bulan. Tidak mungkin selamanya, cepat atau lambat Abu akan meninggalkan kota ini. Kelak jika waktunya tiba, TSP sang guru yang bagi Abu tidak hanya menjadi pemberi ilmu namun lebih dari itu. Beliau telah mentransfer nilai-nilai kehidupan dalam pengembangan karakter. Ada banyak kenangan disini, Abu akan sangat merindukannya.

“Ditempat ini, tiada pula cintaku tersisa. Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana pun jiwaku mengembara”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to RINDU YANG MALU-MALU

  1. suryaden says:

    wahaha… dimanapun akan datang pencerahan apabila kita waspada…😀

  2. Abu ini seneng dipaksa-paksa rupanya..nawarin nganter aja cuma sekali….btw konsep membunuh rindunya jangan kebablasan….gimana ntar kalo rindunya benar-benar hilang…

  3. tengkuputeh says:

    Mas Esha, ia telah hilang berlalu ke ruang hampa. Jika ada yang mampu menutupinya hanyalah logika seorang anak manusia😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s