LEGENDA KAKI DEWA

Otak adalah satu perangkat yang dianugerahkah tuhan kepada manusia memiliki kemampuan khusus yaitu ingatan, kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Berhubung dalam minggu-minggu ini UNIMAL memasuki fase-fase Ujian Tengah semester, Abu banyak menghabiskan malam dengan membaca kembali catatan-catatan. Bertepatan dengan itu, tugas menyiapkan proposal skripsi membuat Abu harus tidur larut menelaah beberapa artikel dan jurnal ilmiah. Masih ada tiga semester lagi, tapi untuk persiapan dosen sudah mengintruksikan Abu untuk membuatnya. Tak apalah, lebih cepat lebih baik. Itulah tantangan kuliah sambil bekerja, sedikitpun tak ingin mengeluh, namun masalahnya ada pada mata Abu. Lingkaran hitam menebal muncul disana, banyak yang protes. Mengerikan katanya, dikritik terus-terusan Abu jengah. Saran seorang teman untuk menaruh timun disana, untuk mengurangi kadar hitam tersebut sebelum tidur, pukul lima sore sepulang kantor Jumat sore Shogun 125 meluncur ke pasar Lhokseumawe.

Pasar sayur dan buah buka pagi, jika sore sudah sepi yang tinggal adalah sisa. Tak apalah daripada tak ada. Masuk kedalam los-los pasar mencari buah timun. Disebuah los tiba-tiba ingatan Abu tersengat, sepertinya kenal dengan penjual ini. Kami pernah berjumpa di masa lalu, tapi kapan? Lalu siapa? Abu melihat ada buah timun disana, tak lagi segar. Abu bertanya dengan percakapan standar dipasar, ketika ia berdiri menimbang buah Abu memperhatikan dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki, sekejap Abu mengetahui siapa dia.

“Kaki Dewa?” Tunjuk Abu. Dia terdiam berpikir dan melahap wajah Abu dengan penasaran kemudian sumrigah dan bertanya, “Kamu? Saya sudah lupa siapa.” Ia menyerah, tak mengingat lagi. Tapi Abu tak akan pernah lupa, dia adalah Sang Legendaris Kaki Dewa. Pemain sepak bola tarkam termasyur dari Kampung Lamkawe yang pernah mengalahkan tim kami tiga kali. Menjelang akhir Sembilan puluhan, Banda Aceh dan Aceh Besar adalah surga permainan bola sepak antar kampung (tarkam) bagi anak-anak tanggung, Abu merasa bangga menjadi bagian dari itu.

Bersama dengan bang Regar, Abu mendirikan sebuah klub amatir bernama Menara United untuk mewakili kampung kami. Meski selalu bersemangat bermain bola namun Abu tak pernah berbakat dibidang ini, sampai hari ini tak kunjung mahir. Predikat sebagai salah satu The Founding father klub membuat Abu sulit untuk dicadangkan, seburuk apapun Abu. Tercatat tiga kali tim Desa Lamkawe menjegal langkah kami, Abu sangat berkeinginan menjajal kemampuan Kaki Dewa namun pendiri klub yang satunya lagi yaitu Bang Regar didukung mayoritas anggota tim selalu menahan Abu untuk melawan timnya Kaki Dewa, alasan mereka jika Abu bermain kesimbangan tim akan rusak. Bahasa halus dari, “kamu hanyalah pengganggu!” Saat itu Abu hanya diam, rasa takut para sejawat pada Kaki Dewa membuat mereka berkata seperti itu. Membuat Abu sampai hari ini membenci rasa takut dan sangat perasa dengan kata “menganggu”, padahal biasanya kalau Abu bermain Menara United hampir selalu menang. Apalagi yang lebih menyakitkan daripada melihat teman-teman seperjuangan kalah bertarung tanpa kehadiran kita.

Sebenarnya kemampuan Kaki Dewa tidaklah tergolong luar biasa dibandingkan dengan pemain professional namun tendangan kaki kirinya maut. Yang menjadikan hal tersebut lebih istimewa adalah karena kaki kirinya hanya hanya memiliki dua jari sejak dilahirkan. Hal yang membuat ia tak pernah menggunakan sepatu disisi kiri, hal yang sama juga yang membuat Abu memberikan julukan padanya Kaki Dewa. Dasar Abu, suka memberi julukan pada orang lain. Dan lucunya gelar tersebut melekat terus padanya. Sedari dulu Abu tak tahu siapa nama aslinya, kelak dikemudian hari Abu selalu mencantumkan nama lengkap seseorang di phone book HP bahkan nama adik sendiri didasari karena kekecewaan Abu tak mengetahui nama sang Rival.

“Nomor sepuluh Menara United, Turnamen Kampung Lamkawe Juli 1998 masih ingat?” Abu mengingatkan pertemuan tim kami terakhir, babak semifinal bertepatan dengan Piala Dunia 1998 juga libur kenaikan kelas tiga bagi Abu yang bersekolah di SMP 1 Banda Aceh. “Si kulit merah, Abu! Kamu banyak berubah.” Tunjuknya. Abu terkesima begitu cepat ia mengingat. Itulah hidup, kadang-kadang reputasi seseorang lebih termasyur dikalangan musuh, lebih spesial karena tak sekalipun Abu bertarung dengannya di lapangan. Mungkin karena Abu seorang pengatur strategi yang membuat tim dengan materi pas-pasan seperti Menara United membuat kejutan diberbagai ajang tarkam. “Masih ingat Kaki Dewa?” Abu tertawa senang.

“Saya tidak akan lupa.” Dia menggeleng. “Dengan satu-satunya orang yang berani mengancam kami tepat dikampung sendiri.” Iya, Abu ingat ketika tim kami kalah untuk ketiga kalinya di desa mereka melalui adu penalti. Abu berlari dari bangku cadangan dan berteriak, “Kaki Dewa, hari ini kami kalah! Tapi ingatlah suatu hari kami akan membalas rasa sakit akibat kekalahan ini tiga kali lipat!” Tunjuk Abu ketika itu. Membuat seluruh penonton terdiam, bahkan suporter mereka tak ada yang berani mencemooh dan membisu, suatu hal yang menjadi alasan pula para anggota Menara United pulang bersepeda sejauh lima kilometer dengan kepala tegak, dengan tekad suatu hari akan membalas kekalahan ini. Namun ancaman Abu tak pernah menjadi kenyataan, berikut aroma konflik menjalar di Aceh menghentikan segala tarkam. Sejak turnamen itu kami tak pernah bertemu lagi, hingga hari ini.

“Jadi marah?” Abu menggoda, dan ia menggeleng lagi. Itulah indahnya sepakbola hingga ia menjadi olah raga yang paling digemari di dunia. Nilai sportivitas di dalamnya, bercampur semangat kompetisi membuat Abu mengenang masa-masa remaja itu, sungguh menyenangkan. “Apa pula kejadian yang membawa kita dua putra Aceh Besar bertemu kembali di Negeri Pase?” Tanya Abu. “Saya menikah dengan orang sini, anak saya tiga sekarang.” Ada kebanggaan dalam nada suaranya. Abu mampir dan mendengarkan ia bercerita, tentang perjalanan hidupnya, tentang ketidakmauannya menyerah terhadap cacat di kakinya. Orang ini benar-benar menginspirasi, suatu hal yang membuat Abu datang lagi ke kampung Lamkawe menonton partai final. Lamkawe Vs Lampeunerut FC yang lebih metropolis, dan ketika hasilnya mereka kalah Abu turut bersedih. Meskipun ia seorang rival, meski rasa sakit akibat kekalahan itu belum hilang. Tak sekalipun Abu tak jujur pada diri sendiri bahwa menggangumi semangat sang legenda Kaki Dewa.

Menjelang Maghrib, Kaki Dewa berkemas dan Abu pun pamit. “Kaki Dewa jika kamu masih bernyali, setiap hari senin dan kamis sore kapanpun kamu punya waktu. Datanglah ke lapangan tenis KPP Pratama Lhokseumawe, Insya Allah Abu selalu ada untuk bermain Futsal. Kita lihat bagaimana penampilanmu sekarang!” Tantang Abu. Sekali dan terakhir kali Kaki Dewa menggeleng, ia telah merdeka dari masa lalu. Masa ketika ia menjadi legenda sepakbola yang tak tercatat sejarah. Hari ini ia hidup untuk masa depan, untuk menghidupi anak dan istrinya. The Best Man From The Great Aceh, Lelaki terbaik dari Aceh Besar itu membuat mengingatkan bahwa dalam hidup ada momen yang berlangsung singkat namun selamanya otak menahan memori itu. Kesan yang tak hilang, kenangan. Menstarter motor Shogun 125, Abu pulang. Aih, lagi-lagi Abu lupa bertanya siapa nama aslinya. Tapi biarlah, selamanya Abu akan mengingatnya sebagai “Sang Legenda Kaki Dewa”.

“Sesuatu yang dialami seseorang pada masa remaja akan tersirat dalam karakternya kelak, dalam berbagai bentuk, rupa dan warna.”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to LEGENDA KAKI DEWA

  1. Aulia says:

    selamat ujian anak-anak unimal…moga sukses selalu ya…

    ceritanya bagus

  2. suryaden says:

    wuah… keren sekali mas, semoga menjadi sehat semuanya…

  3. liza says:

    walah, kirain kaki dewa itu seperti apa. ternyata itu tuh.. met ujian ya Abu, semoga sukses

  4. Saingan sama Maradona dong…Tangan Tuhan dengan Kaki Dewa…..

  5. karangsati says:

    kayak dunia persilatan aja julukannya hehe

  6. husmu says:

    succes selalu buat tgk…. abu.. salam kenal dile beuh🙂

  7. bocahcilik says:

    aku mencatat ada beberapa komentator tetap di blog abu. aku, karang, dan seorang yang sepertinya wanita.
    ckckckck.
    -kompor mode ON-
    siapakah dia?

  8. tengkuputeh says:

    Jawab…

    Aulia ==> Terima kasih, brother…

    Mas Surya ==> Iya, semoga bermanfaat juga🙂

    Liza ==> Sukses selalu juga buat Liza…

    Mas Esha ==> Sama dgn Maradona, sama2 jadul, hehehehe…

    Karangsati ==> Waktu itu TV belum booming, jd yang dibaca adl cersil. Terutama Wiro Sableng🙂

    Husmu ==> Salam kenal juga…

    Bocahcilik ==> Hahahahaha, usaha yang bagus Mas Ucup… Tapi bagian ini tetap rahasia… Hahahahahaha….

  9. zizaw says:

    kaki dewa…

    kalo adik kelas sma ada yg dijuluki kaki seribu pas maen bola

  10. tengkuputeh says:

    Iya, masa2 Sekolah adl masa2 menyenangkan…
    Untuk bermain sepak bola…
    dan permainan lainnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s