TIDAK SEDANG MENCARI CINTA

Malam merayap pelan, pukul Sembilan lewat. Aku benci udara malam, dingin menusuk sumsum. Tidak enak jika harus menolak sampai empat kali. Sebulan ini tak pernah kami bertemu, selalu aku berhasil mencari cara untuk menghindar hingga tiba saat  aku muak berlari. Aku datang dengan perasaan enggan, di rumah lebih baik. Ada buku, ada televisi dan terpenting hanya ada aku sendiri disana. Malam minggu adalah saat orang bergentayangan, dan aku lebih suka menyepi dalam gua sufiku. Seperti biasa aku terlambat, Dara sudah disana ia tersenyum  menjulurkan tangan.  Aku memalingkan wajah ke atas meja, juice mangga tanpa es kesukaanku. Tapi menyebalkan jika, orang lain yang memesankan seolah-olah mengetahui apa yang kuinginkan.  Dara mengangkat tas jinjing dari samping bangkunya mengkode bahwa ia ingin aku duduk disampingnya, reflekku malah  mengambil tempat tepat didepan berhadapan. Tak banyak bicara, kuseruput juice mangga dengan memainkan pipetnya. Menghembuskan angin ke udara. Sebuah kebiasaan yang menurutnya sangat ia benci dariku, memancing konflik. Aku tak peduli. Sementara diam menguasai kami, hingga.

 

 “Katakan apa yang salah sehingga dapat aku berubah? Mengapa sebegitu sulit bertemu denganmu?” Wajah yang selalu dihiasi senyuman itu kini menatap dengan penuh emosi, bukan tapi sejenis rasa kalut bercampur takut dibumbui kemarahan tertahan.  Wajah itu sekarang berkeringat, air menyusur deras dari pori-pori membuat ia mengeluarkan tisu dari tas jinjing untuk menghapusnya. Ah, seharusnya sejak pertama bertemu seharusnya aku harus sudah mengatakan tidak suka dengan riasan yang ia pakai. Terlalu, mengingatkan pada sosok wanita iblis. Dan itu sangat menakutkanku.

 

“Kamu hanya diam, seolah tidak ada apa-apa! Apa yang salah sehingga kamu selalu terlambat membalas sms.  Apa salahku sehingga kamu hampir selalu baru mau menjawab telpon di panggilan ketiga!” Emosi Dara meledak, kata-katanya kacau tidak terstruktur. Ia mulai menitikkan air mata. Siapa yang mengatakan air mata adalah kelemahan bagi mereka, justru air mata adalah kekuatan terbesar yang mereka miliki untuk meluluhkan baja terkuat sekalipun. Membuatku kehilangan kata-kata, dan berucap pelan. “Maaf.”

 

“Hanya maaf! Padahal aku sudah mentolerir segala mimpimu. Berdamai dengan keinginan untuk selalu didekatmu. Tapi kamu tak pernah mau mencoba mengerti.” Masalahnya apa? Aku tidak mengerti keinginan Dara. Apa maksudnya menodongku dengan serangan bertubi-tubi. Aku tidak suka didikte. Tidak ada  yang boleh dengan seenaknya mengatur diriku termasuk dirinya. Terintimidasi tidak ingin  berkata-kata, sudahlah terserah kau sajalah.

 

“Tidak bisakah kamu sedikit perhatian? Menanyakan kabarku sesekali. Tidak pernah peduli seolah aku ini bukan siapa-siapa. Kamu tidak pernah bercerita tentang dirimu. Sikapmu itu membuat seolah ada jarak antara kita.” Ia kesal berat, menghentak-hentakkan kaki kemudian air matanya tumpah, hidungnya memerah akibat air menyebabkan suara seperti sengau ketika Dara menarik nafas panjang. Aku harus mengatakan apa? Saat ini aku merasa tidak nyaman membagi diriku. Diriku adalah milikku sendiri, seutuhnya merdeka. Independen.

 

Masih diam, aku hanya memandangi wajahnya, bagai meniti wajah sang rembulan. Menembus darah dan tulang yang dianugerahkan tuhan kepada makhluk ini. Bagaimana ia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa pikir panjang setelah sekian lama menahan sebuah beban yang coba ia ekspresikan melalui cara yang lebih santun. Tidakkah ia berpikir sedikit saja, bahwa aku tak berkemauan untuk mendapatkan cintanya. Saat ini merupakan momen yang paling kubenci, mendapati diri sebagai sosok antagonis dalam lagu-lagu Betharia Sonata yang kerap diputar dalam perjalanan bus antar kota. Mengerikan.

 

“Terlalu! Setidaknya bantah kata-kataku!  Jangan hanya diam dan tersenyum seolah mengejekku dengan pikiranmu. Kamu terlalu pasif. Kamu tak pernah menyentuhku, bahkan tak mau duduk disebelahku.” Semilir angin berhembus pelan diwajahku, tempat ini terlalu terbuka. Sebuah tempat makan beratap udara dengan pengunjung  ramai. Kata-kata Dara yang meledak sedari tadi membuat  kami menjadi pusat perhatian persis seperti arena tinju Las Vegas, kalau dia saja yang perempuan tidak peduli mengapa aku seorang laki-laki harus meributkan hal ini. Ah, masa bodoh dengan orang lain.

 

“Sudahlah, tak ada gunanya berbicara denganmu. Seperti berbicara dengan patung, tak berbalas!” Ia menarik tasnya dari atas meja, menyenggol gelas dan PRANG! Sebelum masuk ke dalam mobil ia menoleh,untuk kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tak mengerti. Ya sudah, biarlah.  Sekalian gelas yang pecah itu menjadi urusanku. Perut ini sakit ketika berjalan gontai menuju keparkiran, semburat ketidaknyamanan memberkas ditubuh ini. Mengenakan helm tentara Vietnam aku pergi dengan motorku, pulang. Malam masih  pagi.

 

Besok, hari yang cerah. Minggu pagi, benar-benar libur. Tanpa beban  sungguh menyegarkan menikmati matahari pagi. Tit..Tit..Tit.. Sebuah sms masuk, ah dari Dara mau apa lagi dia. “Aslam… Lg paen ja bg? Dara mohon maaf y smlm, udh mkn? Dara sdg mkn nie… Oy gmn kbrny sht2 kn bg?” Kumatikan hp, saat ini kubutuhkan adalah liburan, lebih baik ke pantai mandi menyegarkan jiwa. Saat ini aku tidak sedang mencari cinta maka biarlah ia berlalu.

 

“Untuk cinta yang tak kunjung menampakkan wajahnyA”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to TIDAK SEDANG MENCARI CINTA

  1. suryaden says:

    aduh romantis sekali…
    jadi pengin muda saya.

  2. omiyan says:

    janganlah abu mencari cinta lain tapi biarkan cinta lin menghinggapi di kalbu hihihihihhi

    maklum dah tak tua (kayak suryaden) wakakakak

  3. karangsati says:

    keinginan dan cinta kadang suka bermain petak umpet ya, abu… hehe

    nice story

  4. tidak sedang mencari cinta? wew…. memang kadang2 cina ndak perlu dicari, mas tengku, hehehe … cinta akan menemukan muaranya pada tempat2 yang tepat utk berlabuh. semoga si abu bisa menjadi tempat yang nyaman utk berlabuhnya cinta meski tidak sedang mencari-carinya.

  5. Baka Kelana says:

    Ciyee…ciyeee…Abu lagi berduaan ya ama cintanya

    kan cintanya udach disamping…gak usah dicari ntar juga datang lagi

  6. Baka Kelana says:

    Semakin lama gak bertemu ….pasti semakin rindu salah satu…emang Abu tahan gak nyari ciinta…kalau cinta yang datang gimana..?

  7. Aulia says:

    antara cinta dan ketenangan…

    akan kupilih dua-duanya, saat masa itu ada aku tak sanggup untuk lepas dari keduanya karena ku tahu aku adalah manusia yang ingin mencari akan sebuah ketenangan dalam jiwa untuk cinta yang indah dengan hambaNya🙂

  8. masicang says:

    weleh… mencampakkan wanita yangs edang butuh perhatian nih… weleh.. weleh.. adakah yang ngga beres dengan sobatku satu ini?

  9. genthokelir says:

    wwaduh waduh kok jadi melankolis dan romantis hahaha ada apa berkecamuk dalam benak sampean hahaha\salam

  10. ihan says:

    kadang-kadang, sebagian diantara kita suka menyepelekan hal-hal yang tidak sederhana,, dan sukan merumitkan hal-hal yang sepele….

  11. tengkuputeh says:

    Jawab

    @Suryaden ==> Bung Suryaden kan masih muda😀

    @Omiyan ==> Kok ngaku2 tua om, kan msh muda😀

    @Bang Baka ==> Hihihihi, biarlah ia berjalan apa adanya bang…

  12. tengkuputeh says:

    Jawab lagi…

    @Cut Bang Baka ==> Biarlah ia datang pada waktunya, bukan sekarang…

    @Aulia ==> Menjalani keduanya ya, bagus dan berani…

    @Mas Icang ==> Hihihihihi, iya tidak beres skrg…

    @Mas Tok ==> Romantis dan melankolis mas tok, ndak tahulah, tiba2… Kacau…

    @Ihan ==> Yoi, afirmatif…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s