WAJAH PASARAN

Percayakah teman-teman semua bahwa didunia ini kita memiliki tujuh orang kembaran? Boleh percaya atau tidak benar tidaknya mitos ini. Setidaknya ini adalah semacam legenda yang beredar luas di masyarakat. Entah karena memiliki wajah pasaran terlalu sering orang salah kira dengan Abu dan menyangka sebagai orang lain. Terlalu sering malah. Berikut beberapa kejadian terakhir.

 

 

Pernah disuatu malam ketika Abu makan di warung sendirian sebagaimana anak kos yang merantau lainnya. Ketika hendak membayar, tiba-tiba seorang anak memeluk dari belakang. “Ayah.” Katanya. Abu bingung ada apa ini? Menikah juga belum kok bisa tiba-tiba memiliki seorang anak. Namun anak yang berusia sekitar lima tahunan itu memeluk dengan sangat kuat dan Abu tidak tega juga dan mendiamkan saja. Plus ekspresi bego tentunya. Beberapa saat kemudian datanglah seorang perempuan, dengan merasa malu ia meminta maaf atas kesalahpahaman ini. Ia meminta maaf kepada Abu dan menyuruh anak tersebut melepaskan pelukannya. Sekedar basa-basi Abu bertanya. Dan dari cerita kakak itu terkuak bahwa suaminya telah berangkat ke Malaysia sebagai TKI lebih dari lima tahun lalu sejak anak tersebut dalam kandungan. Selama ini si anak hanya mengenali wajah sang ayah dari foto yang katanya memiliki rupa mirip-mirip Abu. Dibesarkan tanpa sosok ayah, benar-benar hidup yang sulit wajar sang anak merasa rindu remuk. Terhenyuh Abu pun mengusap-usap kepala anak tersebut. Kemudian tersenyum padanya, ia malu dengan kepolosan kanak-kanak. Mengakhiri pertemuan sang ibu berkata, sebenarnya ia juga sangat merindukan suaminya dan diam-diam berharap bahwa yang tadi itu (maksudnya Abu) adalah benar suaminya yang diam-diam pulang untuk memberi kejutan bagi mereka berdua. Abu hanya diam ketika ibu beranak itu berbalik pergi, kehabisan kata-kata.

 

 

Pernah juga seorang nenek ketika Abu sedang mengurus STNK Shogun 125 di Polres Lhokseumawe. Melihat sebentar lalu datang kearah Abu kemudian menghujani ciuman bertubi-tubi dan menangis. Ada apa lagi ini? Dari sang cucu yang kebetulan hendak mengurus Surat Berkelakuan Baik yang menjadi syarat lamaran masuk PNS baru Abu mengetahui bahwa wajah ini benar-benar mirip dengan putra bungsu dari nenek tersebut yang hilang ketika tragedi tsunami terjadi di tahun 2004. Atas dasar simpati sesama manusia yang merasakan kehilangan sama pada hari itu. Abu mendiamkan saja ketika nenek tersebut mengengam erat tangan Abu. Untunglah Lhokseumawe sangat jauh dari Banda Aceh kampung halaman Abu, kalau ada teman atau saudara yang melihat kontan pasti Abu akan menjadi bahan ejekan se-kecamatan pastinya. Ketika Abu selesai mengurus STNK dan hendak pulang nenek tersebut masih mengengam erat tangan Abu dan sungkan melepaskan sampai cucunya sedikit memaksa. Abu pergi tanpa menoleh ke belakang. Mata Abu sembab, hukum kehilangan berlaku untuk siapa saja. Bahkan pada hari yang sama dengan hilangnya cucu nenek tersebut Abu juga kehilangan banyak saudara, sahabat, guru dan termasuk nenek buyut Abu yang usianya hampir mencapai seratus tahun.

 

 

Kejadian yang paling baru, kemarin ketika kalkulator Kenko Abu kemasukan air dikarenakan hujan yang terus menguyur kota Lhokseumawe akhir-akhir ini dan bahkan sudah menyebabkan banjir dibanyak titik. Andesty Arloji tujuan Abu untuk menservis Kalkulator tersebut. Bagaimanapun ia adalah instrumen penting bagi Abu dalam menjalani perkuliahan di Unimal. Seorang ibu yang sedang melihat jam tangan terpajang tiba-tiba terpana melihat Abu lalu menangis. Abu tidak terlalu memperhatikan, dan ketika hendak membayar baru Abu sadar di dompet uangnya kurang. Sedikit malu Abu permisi kepada abang penjaga toko untuk mengambil uang sebentar ke ATM. Setelah itu Abu kembali, ibu tersebut dijemput oleh suaminya dengan menggunakan mobil Hardtop. Ibu itu melihat ke Abu, mata kami beradu kemudian isak tangisnya pecah lagi. Ia naik ke mobil dengan lesu dan Abu hanya bengong. “Abang tahu kenapa ibu itu menangis?” Tanya penjaga toko. Abu hanya mengangkat bahu, membaca perasaan orang bukan keahlian Abu.

 

 

“Wajah Abang mirip dengan anak ibu itu yang meninggal dua bulan yang lalu. Anaknya meninggal akibat Malaria di Riau sana ketika sedang berkuliah disana.” Kata penjaga toko itu. Ia tersenyum kepada Abu.

 

 

Hebat juga penjual toko ini pikir Abu, menceritakan kabar duka sambil tersenyum. “Dari mana kamu tahu, memang kenal dengan ibu itu?” Tanya Abu.

 

 

“Tadi ibu itu bercerita waktu abang sedang ke ATM.” Katanya lagi sambil tersenyum again. Abu tidak membalas lagi dan segera membayar tagihan biaya service kalkulator, bagaimanapun Abu harus bergegas ke kampus karena jam kuliah sebentar lagi dimulai. Namun sayangnya ketika Abu sampai setelah menerobos banjir bersama shogun 125 ternyata hari ini kampus meliburkan diri. Karena Unimal kebanjiran dan Abu adalah satu-satunya mahasiswa yang hadir.

 

 

Pulang ke rumah Abu bersalin baju, cuaca dingin menyebabkan mengantuk. Sekilas Abu melihat ke cermin 30×60 cm yang tergantung di dinding, wajah ini. Garis-garisnya, mata, hidung, mulut, dagu, kuping, mata bahkan dua buah tonjolan merah gigitan semut semalam. Ternyata pasaran! Hukum Narcisme Complex runtuh! Abu tersenyum. Tapi setidak-tidaknya selama ini orang-orang yang memiliki wajah yang mirip dengan Abu adalah orang-orang baik yang meninggalkan kesan kepada orang lain. Adalah tidak lucu kalau Abu harus dikejar-kejar polisi karena orang yang mirip dengan Abu adalah perampok. Sekejap kemudian Abu pun terlelap. Menjalani hobi yang sudah dua puluh empat tahun Abu lakoni, tidur.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

9 Responses to WAJAH PASARAN

  1. senny says:

    nggak apa2lah pasaran jg… yg penting siy komersil ajah…

  2. tengkuputeh says:

    Wajah komersil. Bisa dijual dunx…

  3. wah, entah mitos atau bukan, yang pasti memang ada kok, mas tengku wajah2 yang mirip, hehehe … tapi termasuk wajah pasaran apa tidak, itu sangat tergantung bagaimana menyikapinya *halah*

  4. bangpay says:

    Hmm.. Kalo kemana2 sering diajak salaman sampe dicium tangannya sembari dipanggil dg julukan “Gus”, “ustadz” atau “kyai” itu kenapa ya??

  5. tengkuputeh says:

    Jawab
    @ Bang Sawali ==> Asal jangan mirip penjahat aja bang…
    @ Bangpay ==> Itu karena naik motor honda Kharisma kali bang, halah jawaban ngawur…

  6. Kang Nur says:

    bbrp hari yg lalu saya ngantar Ibu ke rumah sakit juga ada orang yg sok kenal, padahal saya sama sekali tidak mengenalnya..
    saya tidak sempat berbincang lama dgn-nya, tapi saya benar2 bingung, belum sempat saling bertanya. jadinya saya menanggapinya sekedar agar ia tak mendapat malu.🙂
    Tapi pengalaman Abang Tengkuputeh, sampai tiga kali, dlm jangka waktu tak terlalu lama, ini langka.
    Kesemuanya kok juga sendu, melankolis.😦🙂

  7. tengkuputeh says:

    @Kangnur  Mungkin karena saya memiliki perasaan yang melankolis. Atau wajah saya mengingatkan orang2 akan kesedihan. Atau karena daerah kami baru tertimpa bencana yang masih melekat erat dikepala. Ada banyak kemungkinan tapi saya tak tahu mengapa.

  8. oioi says:

    emang abu tuh yang mana???
    mf ya agak tulalit..

  9. tengkuputeh says:

    Jawab
    @oio ==> Abu itu sebutan untuk diri sendiri, supaya agak sopan githu loch….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s