LUGHAT

Pendengaran adalah ayah adalah dari segala ilmu linguistik, begitulah pendapat Ibnu Khaldun berabad yang lalu yang membandingkan kecenderungan berbahasa bangsa Arab di Andalusia (Spanyol, Portugal dan Andorra sekarang) berbeda dengan bangsa Arab di Timur (Wilayah kekhalifahan Abbassiyah yang berpusat di Baghdad saat itu). Artinya seseorang memiliki kecenderungan untuk mengucapkan logat yang sering ia dengar tanpa disadari.

 

 

 

Bahasa Arab yang menjadi bahasa pengantar wilayah dimulai dari semanjung Iberia hingga sungai Indus memiliki kecenderungan memiliki logat yang khas tergantung dari cakupan Geografis yang dijangkaunya.

 

 

 

Dalam ruang lingkup kekinian, begitu pula bahasa Indonesia yang memiliki cakupan dari Sabang sampai Marauke (yang jaraknya kurang lebih sama antara London ke Moskow yang mencakup lebih dari 50 negara Eropah) memiliki keberagaman logat yang khas dan berbeda satu daerah dengan wilayahnya.

 

 

 

            Semua itu menambah keberagaman negara yang memiliki potensi satu benua ini. Terkadang menambah keasyikan tersendiri dalam seni mendengar karena setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam bertutur kata.

 

 

 

            “Bahasa menunjukkan budaya” artinya bahasa menunjukkan sebuah kebudayaan, mengajarkan cara berpikir, menghargai kesopanan. Kerana kemempuan berbahasa didapatkan dari interaksi sosial yang kita jalani dimulai dari kita dilahirkan.

 

 

 

Oleh karena itu wahai teman, dimanapun engkau berasal, apapun logatmu, marilah kita perkaya bahasa Indonesia. Karena bahasa kita ini adalah bahasa yang besar.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Pengembangan diri. Bookmark the permalink.

5 Responses to LUGHAT

  1. wah, ajakan yang simpatik, mas tengku. keragaman logat dan aksen yang khas dari berbagai daerah justru menjadi kekayaan khazanah budaya bangsa yang tak ternilai harganya. ada nilai2 kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

  2. bangpay says:

    Saya tetap dengan bahasa jawa alus dialek banyumasan, yg berbeda dg dialek jogja atau solo, dialek banyumasan tidak terlalu takut2 dan tidak memiliki tingkatan yg terlalu rumit. Disitulah letak keunggulannnya dimana semua manusia dianggap sama…

  3. tengkuputeh says:

    Jawab…
    Bang Sawaly ==> Think globally, dress locally, begitu kan bang?
    Bangpay ==> Keegaliteran bahasa, ide yang menarik bang..

  4. Kang Nur says:

    Saya juga sebagai orang Jawa selalu merasakan dan menganggap bahwa orang2 Sumatra (sejak Lampung hingga Aceh) lebih baik dalam berbahasa Indonesia, atau lebih dekat memang kesejarahannya dgn asal bahasa Melayu.
    Seringkali saya merasa sedikit bersalah juga bila memakai banyak idiom Jawa. Apakah dgn begitu saya masih menggunakan bahasa Indonesia dgn baik dan benar?
    Tapi ‘kan bahasa Indonesia memang dimungkinkan untuk menyerap berbagai bahasa daerah yang ada di Nusantara ‘kan ya?🙂

  5. tengkuputeh says:

    @Kangnur
    Adalah takdir kami yang berasal dari Sumatera memamah biak bahasa Indonesia terlebih dahulu karena ia adalah pengembangan dari bahasa Melayu. Namun bahasa Indonesia merupakan milik seluruh bangsa Indonesia bukan hanya rumpun Melayu, kembangkanlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s