ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN

Entah bau apa ini, sejenis apak menyengat. Suasana Pasar Pagi membawa keharuman tindih menindih antara pesing ikan, anyir darah serta bau alami sayuran dan buah. Lapak pedagang campur baur dengan lalu lalang pembeli, kepalaku berputar-putar bertambah pusing dengan sengatan matahari yang lansung menerpa ubun-ubun.

            Aduh mengapa aku bisa berada disini? Ini karena Sekolah Tercinta tempatku bersekolah meliburkan diri selama bulan puasa ditambah hari raya Idul Fitri. Masalahnya liburan ini bersamaan dengan panen kacang dikebun kami.

            “Saleh, lebih baik mengisi liburan kali ini kamu menjual hasil panen kita di pasar! Sementara Bapak menyiapkan lahan kebun untuk ditanami cabe.” Aku tidak pernah tahu secara ilmu pertanian benar atau tidaknya, keluarga kami yang sejatinya adalah petani kebun punya tradisi menyelingi menanam cabe dengan kacang panjang, supaya tanah lebih subur. Karena tanaman cabe merusak tanah sedang kacang panjang menggemburkannya begitu tradisi berkata. Perintah ibu bagiku bagaikan sebuah dekrit, walaupun dengan setengah hati mau tak mau aku dengan takzim menurut.

            Maka terdamparlah aku disini, di sebuah lapak pasar pagi. Bukan tempat yang wow karena hanya menjadikan koran sebagai alas dan goni kering sebagai tempat kacang panjang yang telah diikat oleh ibuku di rumah selepas Shubuh. Lapakku berada dipintu masuk pasar pagi lebih layak disebut tempat dadakan, berbeda dengan los permanen yang ada didalam lagi setelah melewati jalan batu yang agak becek di depan.

Maka itulah kegiatanku selama beberapa hari ini menjual sayur di pasar, sungguh memalukan seorang calon intelektual harus duduk diapit tukang jahit sepatu dan pedagang tomat disaat matahari mulai meninggi disertai sinar yang mulai menyengat di saat bulan puasa dimana serasa seluruh badan mengharapkan keteduhan.

Mataku selalu siaga. Siapa tahu ada teman sekolah yang kebetulan mengantar ibunya berbelanja, aku tak mau harga diri jatuh karena dianggap sebagai penjual sayur walaupun hanya paruh waktu. Apalagi kalau hal ini sampai ke telinga idaman hatiku Khumaira, aku tidak mampu membayangkan jika hal itu terjadi gengsiku bisa hancur berkeping-keping. Untunglah dalam beberapa hari ini belum ada bahaya berarti. Dua hari lalu, Sri Rezeki pergi bersama ibunya berbelanja dan terlihat oleh ekor mataku. Maka dengan segera aku menunduk dan pura-pura membetulkan letak dagangan, untunglah ia tidak melihatku namun cukup membuat jantungku berdetak kencang. Sampai akhirnya mereka pulang baru aku bisa menarik nafas lega. Mudah-mudahan di hari selanjutnya hal seperti itu tidak terulang lagi.

Ramah ke pembeli, mata siaga terhadap kemungkinan sejawat dan terakhir yang paling mengesalkanku adalah tukang jahit sepatu disebelah kiriku. Selama beberapa hari ini aku harus mengurut dada, mencoba sabar dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana tidak emosi? Dari hari pertama dengan wajah tanpa ekspresi ia mencolak-colek diriku, Aku masih bersabar. Tapi barusan dengan kurang ajar ia memegang pahaku, geli dan jijik rasanya. Sebelum tangan biadab tersebut mengarah lebih dalam dengan segera kutepis.

Selama ini aku mencoba berbaik sangka bahwa keisengannya hanyalah kegemasan. Namun yang tadi benar-benar keterlaluan dan tak termaafkan. Seketika aku berdiri, saat ini aku memandangnya dengan amarah menggunung. Biarpun sekarang bulan Ramadhan dimana setiap muslim dituntut menahan hawa nafsu termasuk emosi. Aku tidak peduli! Harga diriku sebagai seorang laki-laki yang beroentasi Heteroseksual terlecehkan dan untuk membelanya aku siap untuk mati.

“Hey binatang jaga kelakuanmu!” Aku menunjuknya dengan tangan kiri yang secara adat menunjukkan pelecehan. Dengan seketika pandangan semua orang terarah ke kami. Dasar munafik dengan tenangnya ia berkata, “tenang saudara-saudara. Adik ini masih muda emosinya belum stabil.” Licik, si binatang ini mengalihkan kesalahan kepadaku. Laki-laki kurus dengan tangan berotot itu tersenyum culas padaku. Aku tidak tahan lagi, persetan kulayangkan tinjuku ke muka busuk itu.

“Heit.” Dengan sigap ia menghindar. Tapi aku belum menyerah, kuterjang selangkangnya dengan kaki kanan. “Ough!” Jeritnya, sebelum sempat memberi uppercut ke dagunya badanku ditarik oleh pedagang tomat biasa duduk disebelah kananku. Dan dengan segera dipisahkan oleh orang-orang.

“Istigfar nak,” kata si penjual tomat. Namun api di dadaku belum padam, aku mengerang untuk melepaskan diri. Laki-laki laknat itu memang kesakitan tapi pembalasanku masih kurang. Dia pikir dirinya berhadapan dengan siapa.

“Saudara-saudara, lihat sendiri anak muda ini yang mencari masalah. Bukan aku maka jangan salahkan jika di kemudian hari terjadi sesuatu pada dirinya.” Rupanya ini tujuannya tidak melawan, untuk memperoleh justifikasi tindakannya dikemudian hari. Celaka, kali ini aku berhadapan dengan seorang profesional yang tahu memprovokasi masa. Mendengar kata-kata si binatang, kerumunan tersebut seolah-olah terhipnotis terdiam.

“Plok..Plok..Plok..” Terdengar suara tepukan dibalik kerumunan orang. Mereka menoleh dan secara spontan seolah memberi jalan kepada asal suara untuk maju bagaikan menyambut seorang Maharaja. Dibalik banyak orang keluarlah seorang anak muda dengan menarik dua ekor kambing. “Siapa yang berani mengganggu Saleh akan berhadapan dengan anak-anak kampung Bawah.” Suaranya memecah kesunyian.

Ahmad! Aku tersedak. Dia memang berasal dari kampung Bawah, sebuah kampung yang diapit gunung dan lautan Hindia. Bukan sejenis kampung preman seperti yang kalian kira. Melainkan kampung pejuang, pada masa penjajahan Belanda kampung tersebut berkali-kali dibakar karena dianggap sarang kaum muslimin, sebutan Belanda untuk para gerilyawan. Entah bagaimana caranya mereka selalu kembali dan membangun kembali kampung bawah meskipun diatas puing-puing. Mereka tidak pernah menyerah meski kampung lainnya telah lama meletakkan senjata dalam perang melawan kumpeni. Keharuman nama mereka selalu membekas disetiap sanubari kami bahkan hingga hati ini. Nama Kampung Bawah di daerah kami bahkan diidentikkan dengan keberanian dan kehormatan.

Terang si binatang mengkeret, “maaf bang, saya tidak tahu bahwa ia anak Kampung Bawah.” Ia menyangka diriku juga sama dengan Ahmad, warga Kampung Bawah. Serta merta ia menjulurkan tangan mencoba menyalami si anak gembala, namun Ahmad lebih memilih mengelus bulu kambingnya dan membuang muka.

“Salman aku tahu siapa kamu, dimana rumahmu jadi jangan coba berbuat macam-macam.” Dengan elegan ia menggoyang-goyangkan telunjuknya. Rupanya si binatang bernama Salman, sudah sifatnya yang hipokrit sehingga ia menunduk seolah ingin menunjukkan penyesalan yang dalam, eh ia malah membantah. “Tapi dia yang mencari masalah,” dengan suara pelan ia mencoba mengalihkan kesalahan kembali kepadaku.

“Jangan berkilah Salman. Aku tahu siapa kamu, kalau melanggar konsekuensinya cuma satu yaitu mati!” Belum pernah aku melihat roman muka Ahmad sesanggar ini. Seketika si binatang itu menguncup bentuk badannya. Dengan Flamboyan Ahmad mengibaskan tangannya, si binatang pun mengerti. Segera ia berbalik dan membereskan perkakas jahit sepatunya untuk kemudian pergi tergesa-gesa. Dan kerumunan orang pun bubar.

Akhirnya aku tersenyum, “Terima Kasih Ahmad.”

Seolah tidak mendengar Ahmad malah menunjuk kambingnya. “Ini Wimpy dan ini Bemby. Kemarin mereka sudah dibeli oleh Pak Haji Nurdin dan hari ini aku mengantar mereka ke tempat penyembelihan.” Hanya perempuan yang memberi nama peliharaan mereka, lelaki tidak itu pendapatku. Jenis laki-laki macam apa si Ahmad ini. “Nanti kita bertemu lagi.” Ia pun berjalan menuju los dalam pasar meninggalkan diriku.

Aku pun kembali duduk, lega rasanya mulai hari ini si binatang tidak ada lagi sebelah kiriku. Setidak aku sudah mulai merasa sedikit nyaman disini. Setelah dipikir-pikir menjadi pedagang meskipun kecil-kecilan, ternyata membawa banyak hikmah. Aku menjadi mengerti akan sifat-sifat manusia. Pernah seorang ibu turun dari mobil dan menanyakan daganganku. “Ini berapa seikatnya dik.” Katanya manis. “Lima ratus bu,” jawabku lugas. “Dua ratus lima puluh boleh.” Tawarnya, kupandangi wajah sang ibu yang menor dengan make-up yang tebal tersebut. Alisnya dicukur serta dilukis dengan celak bergerak-gerak menggoda. Sungguh kejam ia menawar seikat kacang panjang menjadi setengah harga, dan memang mungkin aku tak pernah ditakdirkan sebagai pedagang besar sehingga lemah dan mengikuti keinginan ibu yang naik sedan Accord tersebut.

Pernah juga, seorang ibu penjual timun lapak depanku. Seorang pembeli di hari sebelumnya kembali, dan memaki-maki ibu tersebut yang mengatakan timun yang ia beli kemarin berkualitas jelek serta meminta kembali uangnya. Padahal sehari sebelumnya aku melihat sendiri dengan mata kepala, sang pembeli memilih timun yang paling bagus dan menawar dengan harga yang amat rendah, gaya yang congkak bahkan sempat membuat darahku mendidih ketika itu. Tak dapat kujelaskan dengan kata-kata betapa pedihnya wajah ibu penjual timun tersebut ketika mengembalikan uang si pembeli. Di hari itu pula ia berniat membeli kacang panjang yang kujual, “berapa harganya dik?”. Keriput diwajahnya menisyaratkan beban berat sehingga suara lembutnya menjadi sangat memiriskan ditelingaku. “Lima ratus bu,” jawabku. Silahkan tawar hingga seratus rupiah karena akan Saleh berikan buat ibu, itulah suara hatiku. Namun ia hanya berkata, “ibu beli dua ya nak.” Ia menyerahkan uang seribuan lusuh hasil penjualan timun, sekeras apapun aku tidak tega. Maka kulebihkan seikat kacang panjang untuk ibu tersebut, namun ia menolak. “Kita ini sama-sama orang susah nak, jangan saling memberatkan.” Mataku berkaca-kaca, sebutlah aku ini cengeng akan kuterima dengan ikhlas, fragmen seperti ini adalah hal yang langka dikeadaan sekarang. Dan aku luluh.

Diam-diam ternyata tanpa sadar aku mulai menyukai profesi ini. Apalagi setelah si binatang angkat kaki. Aku pun senyum-senyum sendiri.

“Hey.” sebuah suara menyentak dan menyadarkan lamunanku. Ahmad sudah berdiri dihadapanku, aku baru ingat dia teman sekelasku. Bagaimana kalau dia mengatakan kepada teman-teman kalau aku tak lebih dari penjual sayur. Kacau dunia skenarioku untuk mendapatkan hati Khumaira bisa hancur berantakan.

“Wimpy dan Bemby sudah ke surga.” Wajah Ahmad tanpa ekspresi dingin. Tanpa disuruh ia duduk disampingku bau kambing melekat ditubuhnya membuat hidungku tak nyaman sebenarnya. Namun pertolongan tadi terlalu berarti untuk dibalas sebuah pengusiran.

“Ahmad. Tolong kejadian tadi jangan diceritakan pada siapapun.” Kataku setengah berbisik. “Tidak akan.” Ia menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Dan juga jangan bilang pada teman-teman kalau selama liburan aku berjualan disini.” Itulah tujuanku yang utama, menjaga nama baik. Ia memandang wajahku, “mereka sudah tahu kok.” Ia mengangkat bahu. Waduh mengapa mereka bisa tahu, jangan-jangan selama pergi mengantar kambingnya ia bertemu dengan teman yang lain dan keceplosan bicara. Bodoh! Mengapa dari tadi aku tidak bilang hal ini padanya.

“Sri yang bilang. Dua hari lalu ia melihat kamu tapi ia tak berani menyapa karena ada Salman.” Seolah dapat membaca pikiranku ia langsung menjawab. “Ia juga yang mengatakan padaku kamu dalam bahaya, Salman itu memiliki reputasi buruk dan semua orang tahu itu.” Ia menarik nafas. “Rencananya hari ini aku akan mengingatkan kamu, eh tahunya sudah kejadian. Makanya tadi aku sedikit mengancam si Salman.” Jadi semua orang sudah mengetahui kelakuan si binatang kecuali aku dan kerumunan orang di pasar yang sama sekali tidak membelaku.

“Hancur sudah reputasiku terutama di depan Khumaira.” Mulutku kelepasan. “Karena ditaksir Salman? Hahaha itu tidak mengurangi kelaki-lakianmu Saleh.” Ia menepuk punggungku, namun kutepis. Kejadian tadi menimbulkan trauma sehingga aku tidak pernah lagi mau disentuh oleh laki-laki manapun bahkan walaupun ia teman sekelasku sendiri.

“Bukan itu Ahmad, tapi aku takut Khumaira memandang rendah diriku yang hanya seorang penjual sayur.” Aku sudah keceplosan bicara tadi, kepalang basah mengaku saja. Ahmad diam, otaknya memerlukan waktu untuk mencerna kata-kataku.

“Tidak seperti itu Saleh. Aku berteman dengan Khumaira dari kecil, malah ia akan salut dengan apa yang kamu lakukan sekarang.” Aku tertunduk malu sehingga tidak dapat melihat ekspresi wajah Ahmad.

“Tidak semua orang memiliki kerendahan hati untuk bekerja sepertimu sekarang, apalagi tindakanmu tadi terhadap Salman menunjukkan bahwa kamu adalah seorang lelaki sejati.” Ia membesarkan hatiku. “Benar itu Ahmad?” Wajahku kembali cerah.

“Benar, percayalah padaku.” Ia tersenyum, sejak saat itu Ahmad aku daulat sebagai sahabat. Masuk dalam inner circle dalam lingkungan hatiku.

“Nak, kacang panjangnya berapa seikat?” Spontan seorang Bapak berpeci haji berada dihadapan kami. Aku masih gamang dengan pembicaraan tadi sehingga belum siap mendapat pertanyaan tiba-tiba. Ahmad yang bereaksi, “Lima ratus, bapak mau berapa ikat?” Aku terkejut dengan tangkas ia menyodorkan kacang panjang dan mulutnya terus berbicara. Matahari pun semakin meninggi, lapak dadakan di Pasar Pagi menjadi saksi percakapan kami berlangsung akrab, baru tahun ini kami sekelas. Kemarin masih teman biasa, namun sekarang seakan telah saling mengenal lebih dari seribu tahun.

CERPEN INI DITOLAK KOMPAS 26 JULI 2008

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita. Bookmark the permalink.

2 Responses to ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN

  1. dikeva says:

    hi bang abu, ni dee
    lagi jalan2 ke wordpress temen2
    mungkin ad lagi temen di ciblog yg bikin wordpress?

  2. tengkuputeh says:

    oh dee, iya makasih atas kunjungannya. Ngomong2 blog Dikeva yg di wordpress masih kosong ya? Belum tahu juga siapa lagi yg aktif di wordpess nanti kalau saya tahu akan dikabari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s