BAB POSEIDON : SEBENTUK HARTA

            Angin laut berhembus pelan menyapa raga seorang anak manusia yang mengais pasir, kerasnya hidup seolah tak berarti diketenangan jiwa. Anak itu tersenyum melihat kepiting berlari riang menyambut hidup yang singkat.

            “Nenek moyangku bangsa pelaut,” suara seraknya menghiasi fajar yang baru hadir ketika setengah umat manusia masih terlelap di peraduan.

            Ia adalah Poseidon yang mencintai laut dan dilimpahi kasih sayang olehnya untuk dapat terus hidup melawan deras hidup yang semakin keras dan bergelombang.

            Ketika zaman semakin dikuasai materi ia menikmati mengumpulkan kerang-kerang yang dianggap sebagai hiasan dari peradaban kuno dan dinafikan oleh perubahan perputaran dunia.

            Mencungkil-cungkil pasir pantai yang mulus mencari jenis kerang adalah kenikmatan tersendiri baginya, betapapun hancur garis pantai oleh ulah manusia akan diratakan kembali oleh arus gelombang yang akan selalu datang. Saksi betapa tuhan Maha pemurah terhadap ulah makhluk yang dinamakan manusia.

            Sebuah benda keras tersembunyi dibalik kerasnya cangkang, sebuah jam Tag Heuer mereknya. Tanpa tali lagi namun masih berdetak, sebuah keajaiban bagi seorang anak manusia yang telah terbiasa dengan barang-barang murah. Walau mungkin seorang turis dari Jerman tidak akan menganggap jam tersebut berharga lagi tapi ini didunia ketiga dimana barang-barang ajaib tak akan terbeli oleh seorang anak nelayan.

            Didekap harta karun yang ditemukan olehnya, sejak itu jam tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perahu bercadik milik Tauke kampung ini yang ia kayuh. Ketika mangarungi Samudera Hindia yang ganas jam tersebut menjadi pemberitahu waktu shalat sebagai kewajiban makhluk kepada Allah S.W.T.

            Sejak saat itu anak tersebut menjadi lebih menyegerakan waktu shalat bahkan ketika melaut, jadwal shalat ia catat sedetil mungkin dalam otak sederhananya. Mungkin Ka’bah terlalu sukar untuk untuk ditentukan arahnya ditengah lautan namun paling tidak untuk menentukan waktunya sekarang ia tak hanya mengandalkan sinar matahari.

            Hari-hari menjadi lebih cerah sejak saat itu baginya, masa depan entah mengapa terasa sangat mengairahkan baginya. Melaut sebagai mata pencaharian untuk hidup sekarang diimbangi dengan ketepatan waktu mejalankan ibadah kepada sang pencipta.

            “Mana jam kita?”

            “Coba lihat jammu yang legendaris?”

            “Wow, benar-benar keren!”

            “Ini adalah keajaiban dunia!”

            Tiba-tiba anak nelayan yang sederhana tersebut menjadi populer diantara teman-temannya. Ia yang biasanya pendiam dengan penuh semangat menceritakakan proses penemuan benda ajaib tersebut. Semangatnya sebanding sama seperti ketika Christoper Columbus menceritakan penemuan dunia baru yang kelak diberi nama Amerika.

            Keajaiban jam tersebut yang tak dimakan karat walau diterjang air laut yang asin, teksturnya yang keras melindungi detak-detaknya yang terus berputar diantara waktu yang terus melenggang.

            Bahkan tauke perahu, menawar jam tersebut seratus ribu rupiah. Jumlah yang luar biasa bagi anak tersebut, namun matanya berkata harta ini tak akan kujual berapapun harganya. Kagumilah namun Ia adalah bagian hidupku, ia adalah milikku seorang. Sang Tauke menghormati kecintaan anak tersebut sebagaimana ia menyanjung kejujurannya.

            Terkadang jam tersebut ia tinggalkan diperahu nelayan yang biasa menemaninya melaut, ia akan selalu tetap disitu dan tiada yang berniat mengambilnya. Kampung ini adalah bukan sarang pencuri dan sepanjang sejarah hal itu tak pernah ada. Kehormatan kampung ini masih sama seperti berpuluh, beratus, berabad tahun yang lalu dan belum terkotori penjajahan ekonomi dan belum tersentuh penyakit post-modern yang bernama Kleptomania.

            Ketika sang perahu mulai keropos oleh perkembangan terkini, sang tauke mulai megap-megap. Perawatan mulai membebani dan sudah saatnya mengurangi biaya operasional iapun berniat menjualnya. Laut terkadang “tidak ramah” bahkan terhadap anak kesayangannya. Efisiensi adalah prinsip ekonomi dan penjualan adalah jalan keluar bagi masa-masa sulit seperti ini.

            Sang Tauke lupa bahwa perahu tersebut adalah sarang bagi jam anak nelayan tersebut, ia menjualnya tanpa melihat ada yang tertinggal disana. Bukan kesengajaan karena tak ada niat sedikitpun untuk menyakiti pegawai terpercayanya. Dan bersama perahu, jam itu terbawa oleh Tauke kampung lain.

            Anak nelayan itu bersedih. Sang tauke merasa bersalah, Ia berjanji akan menebus jam tersebut  kepada Tauke kampung lain. Mereka adalah teman sejak lama dan ia yakin Tauke kampung lain akan mengembalikan jam tersebut kepada anak nelayan itu.

            Namun anak nelayan tersebut terlalu mulia, ia menolak untuk dimintakan kembali hartanya. Ia menjaga kehormatan tuannya, barang yang sudah terjual pantang diminta kembali. Namun ia berduka untuk hartanya paling berharga lebih dari pekerjaan yang juga hilang bersamanya. Hukum kapitalis dan sosialis tidak berlaku dikampung ini, yang ada adalah nilai kuno yang belum luntur.

            Jangan salahkan ia bersedih, kini ia bersembahyang tanpa jam tersebut. Suara Azan kini dipastikan dengan posisi matahari, tanpa penunjuk waktu yang terpercaya. Hidupnya terasa sangat mendung, sesuatu yang ia cintai bukan lagi miliknya. Berita menyebar keseluruh kampung dan semua orang bersimpati padanya, namun belum ada yang berani menghibur hati anak nelayan karena takut membuka kenangan terhadap harta yang dicintainya.

            Ketika ia sedang merenung memandangi lautan luas, temannya anak gembala kampung itu menghibur. Anak gembala yang tidak nyaman dengan uap yang menyapa dari laut datang untuk seorang yang mencintai samudera. Mungkin anak gembala tersebut adalah Zeus datang menghibur hati Poseidon “putera samudera” yang membiru.

            “Segala cinta akan pergi ibnu Ali,” katanya.

            “Kecuali cinta kepada sang pencipta ia akan abadi sampai kehidupan yang akan datang,” betapa filosofi bijak dapat keluar dari bibir seorang bocah sederhana.

            Teringat akan harta berharga miliknya anak nelayan tersebut kembali meneteskan air mata, tak lama kemudian ia terisak, “Aku tahu teorinya Ahmad, namun mengapa hatiku terasa berat melepaskannya,” ia mengosok-gosokan hidungnya yang mulai beringus.

            “Lepaskan semua bebanmu sahabat,” Anak gembala iba memandang air mata anak nelayan yang dengan tegar membelah lautan.

            “Sebagai laki-laki aku malu menangis!” Erang anak yang dipanggil Ibnu Ali.

            “Kita laki-laki adalah manusia juga tak mengapa menangis,” Hibur Ahmad.

            “Aku juga malu terikat dengan sebuah benda,” sang Poseidon masih seunggukan. Sebuah hadist dari Nabi Besar Muhammad S.A.W, “Malu adalah sebagian dari iman.”

            “Hukum kehilangan tidak membedakan antara lelaki dan perempuan, dan ia tidak membedakan antara beriman dan kafir. Semua makhluk akan merasakan sakit yang sama.” Anak gembala melihat horison ketika berberbicara.

            “Dunia ini adalah fana kita harus sadari itu!” Seolah anak gembala juga berkata untuk dirinya sendiri.

            “Paling tidak kamu pernah diberi kepercayaan oleh Allah S.W.T untuk memiliki benda tersebut walau hanya sekejap, ia memberi arti dalam hidup yang singkat ini,” Sang Zeus segan memandang mata sahabatnya dan tetap memandangi lautan.

            Mendapat penghiburan dari seorang sahabat membuat air muka anak nelayan tersebut berangsur berubah. Ia menyeka ingus dan air matanya dengan lengan bajunya, kekuatan persahabatan lebih kuat daripada hukum kepemilikan suatu hal yang sudah dilupakan oleh banyak dari kita.

            “Paling tidak kita masih memiliki kampung yang nyaman,” Anak nelayan itu tersenyum untuk pertama kali dalam minggu ini. Matahari mulai tenggelam, azan Maghrib pun memanggil segenap anak manusia untuk menghadap sang Khalik tempat segala cinta akan sambut dengan tangan terbuka.   

           

XXXXX

 

Waktu akan menghilang dalam sekejap mata dan sesuatu yang bisa menghentikannya bukanlah benda kenangan yang disimpan dalam bentuk harta melainkan kenangan yang ada didalam hati.

CERPEN INI DITOLAK KOMPAS 4 APRIL 2008

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita. Bookmark the permalink.

2 Responses to BAB POSEIDON : SEBENTUK HARTA

  1. Marsus says:

    mantab…terus berkarya sob.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s