WHAT A BEUTIFUL DAY

Petisi Raja Hati,

Betapa angkuh lelaki ini, ia berkepala batu menolak segala cinta. Jangankan cinta yang ia benci, cinta yang ia cintaipun dilindas olehnya. Jika ada orang gila yang membenci cinta, dialah orangnya.

Tak terhitung begitu banyak air mata tumpah untuk lelaki ini, ia yang memandang kebenaran hanya dari sudut pandangnya tanpa mau merasakan empati orang lain.

Entah dari mana karakter batu itu bisa menurun pada dirinya, meninggalkan aib bagi setiap guru yang pernah mendidiknya, dengan licik ia memanfaatkan itu sebagai kehebatan untuk semua disekitarnya.

Tak kusangka, dibalik senyum manis tersimpan watak srigala. Tak kuduga, wajah sejernih telaga memiliki kekejaman melebihi Westerling sang penjagal. Physokopat ini terlihat tanpa dosa. Jangan tertipu oleh kata-katanya semanis gula, apalagi senyumnya.

Bajingan keparat itu, aku berbicara tentang lelaki yang sedang menulis. Kupandangi wajahnya dari webcam dilaptop ini. Sialnya aku terperangkap dalam tubuh ini. Sekuat apapun kuberteriak tentang kebebasan ia hanya tersenyum tiada bergeming.

Setiap malam ia kuganggu, kuajak ia berdebat selalu. Tidurnya tak akan pernah nyenyak, sehingga kantung matanya berubah hitam. Biar saja ia dituduh menggunakan narkoba. Bencinya aku, keesokkan hari ketika terjaga ia tersenyum didepan cermin mengejekku.

Aku benci dia, lebih menjijikkan lagi karena aku adalah bagian tubuhnya. Aku yang tertanam didada saja muak dengan kelakuannya. Ia menyengsarakan aku lebih dari yang patut dilakukan. Aku adalah Raja Hati yang merana ditindas sesuatu yang ia namakan Perdana Menteri Otak.

Ia yang terlalu berhati-hati, bagai melangkah dijalan penuh duri. Tak lebih dari seorang berkepribadian ganda dan menyingkirkanku. Saranku jauhi dia, benci dia, buat ia merasa sendiri. Terkucil mungkin akan melunturkan ego orang ini hingga ia mengemis.

Aku tidak akan menyerah untuk menyakiti. Supaya ia berubah, supaya ia tahu. Agar ia menderita dengan prinsipnya yang tenang bagai gunung mengakar dibumi. Mudah-mudahan ini berhasil, setelah banyak cara berhasil ia gagalkan.

 

Pledoi Perdana Menteri Otak,

Telah kuamati kehidupan hingga akhirnya menarik kesimpulan, sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja tersimpan keburukkan didalamnya (entah hati atau otak) begitupun sebaliknya. Maka janganlah menganggap bahwa selamanya madu adalah manis dan akan menjadi obat, bisa saja ia pahit atau menjadi racun yang membunuh.

 

Anak itu,

Malam senin pukul 23.59 WIB, hujan gerimis diluar, mata mengantuk namun keduanya (Hati dan Otak) terus berdebat. Otomatis aku terjaga, bosan setiap malam berjibaku, lebih baik kutulis saja. Supaya keduanya puas. Huh, padahal besok harus ke kantor pagi-pagi sekali, sebagai admin harus menghidupkan server sebelum pegawai lain datang, idealnya🙂. Waduh! Baru teringat pakaian juga belum terambil dari loundry!😦 Terpaksa besok ke kantor pakai celana hari Jumat lagi!😦 Untung baju masih ada cadangan.🙂 Nasib ya nasib. Setidaknya besok sore dikantor bisa internetan.

What a beautiful day. Lhokseumawe, 3 Agustus 2008.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s