THE DIPLOMAT

Akibat masalah yang pelik dengan sang kekasih beserta keluarganya, seorang teman meminta Abu sebagai pihak mediasi mengatasi masalahnya, istilah kerennya sebagai pihak juru runding sebagai wakil dari pihak teman Abu ini yaitu Samba untuk berdiplomasi. Sebenarnya Abu tidak ingin ikut campur dalam permasalahan ini, karena Abu sangat menyadari bahwa samba sendiri tidak berada pada posisi yang sepenuhnya benar. Namun sebagai seorang sahabat siapa yang bisa menolak ketika ia berkata, “Di negeri tempat saya tidak berkaum, kepada siapa lagi saya meminta bantuan?”

“Apalagi disamping saya apalagi ada seseorang Amr bin Ash.” sambungnya memuji, begitulah sulitnya Abu memiliki seorang sahabat bermental Muawiyah bin Abu Sufyan. Amr bin Ash adalah juru runding pihak Muawiyah bin Abu Sufyan menghadapi Abu Musa Al-Asyari dari pihak Khalifah yaitu Ali bin Abi Thalib, yang dengan kelicinan diplomasinya berhasil memperdaya pihak yang benar yaitu Abu Musa sebagai wakil Ali. Padahal  pada perang Shiffin pihak Muawiyah jelas-jelas terdesak tapi bisa membalikkan keadaan melalui perundingan.

            Menjadi juru runding antara dua keluarga adalah hampir sama juga dengan menjalani diplomasi antara dua negara, dimana Abu harus mewakili sekelompok orang. Otomatis harus mempersiapkan diri, maka segera Abu mencari referensi di Perpustakaan Aceh Utara untuk mempelajari detail-detail perjanjian dan perundingan yang tercatat, ini semua bukan berarti Abu “membesarkan masalah” namun lebih kepada mempersiapkan diri. Apalagi kami mengetahui bahwa juru runding dari pihak yang bersebrangan dengan teman Abu tersebut lebih matang dari segi usia dan memiliki pengalaman jauh lebih banyak. Temannya Abu tidak berani vis-a-vis menghadapi orang tersebut seperti perilaku Muawiyah yang tidak berani menghadapi Ali dalam pertarungan satu lawan satu. Ia sangat mengharapkan keunggulan Abu berbahasa (sebuah pujian berbisa tentunya) sehingga dapat menemukan solusi terbaik baginya, alasan Abu mau membantunya selain juga karena ia merupakan salah sahabat yang terdekat juga sebagai pembelajaran bagi Abu terhadap problema baru. Kedua hal ini yang membuat Abu berani menafikan nasehat Tengku Salek Pungo untuk tidak terlibat sama sekali, karena menurut beliau secara ekstrem mengatakan bahwa teman Abu tersebut berada diposisi yang salah.

            Sebagai bahan percontohan Abu mencari buku-buku sejarah perundingan/diplomasi era kemerdekaan Indonesia. Dimana tercatat ada 4 perundingan antara pihak RI dengan Belanda yaitu Linggarjati, Renville, Roem-Royen dan Konfrensi Meja Bundar. Diantara 4 perundingan tersebut Abu melihat ada dua perjanjian yang menguntungkan RI yaitu Roem-Royen dan Konfrensi Meja Bundar (KMB).

            Tidak usah Abu jelaskan detail perundingan dimana akan membuat teman-teman bosan dengan isinya. Setelah membaca Abu menarik kesimpulan menang-kalah sebuah diplomasi tergantung kekuatan karakter perundingnya. Muhammad Roem yang berasal dari partai Masyumi mampu “menjinakkan” Van Royen dalam perjanjian Roem-Royen. Namun wakil Indonesia yang paling berhasil adalah ketua Delegasi Indonesia pada KMB yaitu Muhammad Hatta.  Dalam memoar  MR.Hamid Algadri salah seorang anggota delegasi KMB menceritakan “Salah satu kunci keberhasilan delegasi Indonesia adalah keteguhan iman ketua delegasi yaitu Muhammad Hatta yang menolak segala “service” kerajaan Belanda dan segala kemudahan fasilitas lainnya.  Kami sebagai anggota delegasi lainnya merasa malu dan akhirnya menolak juga”. Kekuatan karakter beliau semakin terlihat ketika wakil kerajaan Belanda berkata, “dengan ini kerajaan Belanda memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.” Namun langsung dipotong oleh beliau, “Kemerdekaan adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri dan bukan pemberian bangsa lain.” Sebuah statement yang membuat wakil kerajaan Belanda terdiam.

Kembali kepada perundingan antara  Samba dan pihak yang bersengketa dengannya tersebut, yang seperti Abu katakan sebelumnya bukan berada dipihak yang sepenuhnya benar. Abu jadi teringat perkataan Amr bin Ash di ujung usianya bahwa ia tidak yakin bisa masuk surga setelah diplomasinya membuat pihak Ali yang benar berada diposisi kalah. Beliau yang notabene seorang sahabat saja bisa dicekam ketakutan seperti itu apalah lagi seorang Abu yang berjarak 14 Abad dari Rasulullah. “Bukan kekalahan yang menakutkan tapi sebuah kemenangan tanpa keadilan yang membuat Abu gundah.” Namun demi sebuah perdamaian, mau tidak mau Abu harus terjun kedalamnya. Dan Abu ingin memulainya dengan Bismillahirahmanirrahim.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s