INDONESIA SURGA DUNIA

Menjelang akhir tahun 1998 kampung Abu dikunjungi  oleh Jamaah Tabligh yang berasal dari Afganistan. Mareka dalam rangka khuruj bermukim dimushalla kampung Abu selama seminggu.

Uniknya dalam rangka memakmurkan mushalla kebiasaan mereka selepas Ashar mengajak masyarakat untuk datang shalat Maghrib berjamaah dengan mendatangi rumah penduduk satu persatu. Dan Abu sebagai salah satu pemuda yang didatangi oleh mereka.

Terus terang Abu tidak terlalu memahami ajakan mereka dalam bahasa Arab/Urdu dicampur bahasa Inggris tersebut. Untunglah salah seorang penerjemah mereka yang berasal dari Pattani (bagian kesultanan Melayu yang dicaplok oleh Thailand semasa pemerintahan Rama V) menjelaskan dengan bahasa Melayu sehinga Abu dapat menangkap maksud mereka.

Selepas shalat Maghrib merekapun bertausiyah seperti biasa. Kemudian kamipun sebagaimana pemuda kampung manapun didunia yang didatangi orang asing pastinya mendatangi mereka paling tidak karena penasaran, kebanyakan dari mereka tidak banyak berbicara karena langsung membuka Al-Quran saku dan segera membacanya. Kecuali satu orang, ia seingat Abu sangat mirip dengan Zidane yang baru membawa Prancis menjuarai Piala Dunia ketika itu.

Dengan didampingi seorang penerjemah, Pak Zidane ini bercerita bahwa ia dulunya adalah anggota milisi Thaliban. Pernah bertempur melawan pasukan Uni Sovyet dan terlibat perang saudara dengan aliansi Utara setelah pasukan Rusia meninggalkan Afganistan ditahun 1992, ketika milisi Thaliban berhasil merebut Kabul tahun 1996  ia pun berkelana kenegara-negara muslim untuk memperkuat ukhuwah.

Pak Zidane bercerita ia dan tema-temannya telah melalui Pakistan, India, Bangladesh, Burma, Thailand, Malaysia dan sekarang Indonesia dengan berjalan kaki dari masjid ke masjid.

Ketakjuban Pak Zidane ketika menginjakkan kaki ke Asia Tenggara terutama Indonesia adalah ketika melihat alamnya, dan tak putus ucapan Subhanallah apabila ia melihat pohon-pohon hijau dan alam yang begitu subur, jauh berbeda dengan kampungnya di Afganistan yang tandus dan kering.

Abu masih teringat kata-kata beliau saat itu, “Seandainya Allah SWT menciptakan surga dibumi maka negeri inilah surga itu”. Sebegitu kaya, indah dan suburnya negeri ini hingga Pak Zidane berkata seperti itu.

Hari ini seiring jalannya waktu, memori Abu kembali ke masa lalu mengingat kata-kata Pak Zidane yang jujur Abu sudah lupa nama asli beliau. Siapa yang membantah bahwa negeri kita sangat subur, sangat kaya akan sumber daya alam baik itu yang terbatas maupun yang tidak terbatas.

Apa sih yang tidak bisa dihasilkan oleh negara yang dilabeli “Surga dunia” oleh Pak Zidane. Bahkan batu dan kayu bisa menjadi tanaman, namun yang terjadi hari ini negara kita terpaksa harus mengimpor beras dan kedelai.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita makan nasi dan tempe/tahu hanya sekarang? Tidak tentunya, karena nasi, tempe/tahu adalah makanan bangsa kita sejak lama. Namun mengapa hari ini kita harus mengimpor beras dan kedelai dari negara lain?

Memang penduduk Indonesia bertambah seiring berjalannya waktu, namun tekhnologi pertanian juga bertambah maju sehingga mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan pasar.

Jawabannya adalah kebijakan impor para cukong, dinegara asalnya beras dan kedelai itu dibeli dengan harga mahal oleh pemerintah mereka untuk kemudian dijual dengan harga murah kepada para cukong untuk diimpor ke Indonesia.

Kebijakan tersebut memang terlihat menguntungkan secara ekonomi, tapi jangka panjang mematikan potensi ekonomi petani Indonesia. Dan ketika petani Indonesia sekarat mereka menaikkan harga, hari ini dengan alasan harga minyak dunia namun besok hari dengan alasan yang lain. Akibatnya industri dan konsumen yang terbiasa dengan harga murah menekan pemerintah untuk mengkaji kebijakan proteksi yang sejatinya untuk melindungi petani kita.

Akhirnya negara kita ini terjebak dalam lingkaran setan, aduhai negeriku yang elok terjebak politik ekonomi makro tingkat tinggi. Pemerintah dalam hal ini serba salah dalam mengeluarkan kebijakan akibat politik negara asing dan cukong-cukong yang tidak mempunyai harga diri (maaf Abu bukan bermaksud menjelekkan etnis tertentu).

Indonesia pada dasarnya bagi Abu bagaimanapun tetap merupakan surga dunia, namun mengapa kenyataan hari ini tidak demikian? Anda sendirilah yang berhak menilainya, namun ini semua jelas bukan dikarenakan oleh alam kita.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s