HANYA TIGA LIMA

“Kali ini anda mendapat 35!” Dosen Mata Kuliah Makro menyerahkan hasil ujian mid-test kepada Abu. Aduh! Abu menepuk jidat sendiri, memang sebelumnya sudah memprediksi hasil ujian akan buruk tapi tak pernah terbayang akan sehancur ini.

            Selalu ada konsekuensi yang harus kita tempuh apabila mengejar sesuatu. Hidup pada dasarnya adalah kumpulan banyak pilihan dan kini Abu harus menelan pil pahit dari keputusan yang telah Abu buat.

            Mengikuti diklat OC selama tiga minggu, selesai hari Jumat tanggal 2 Mei, naik pesawat Lion Air dari Jakarta menuju ibu kota provinsi Sumatera Utara pukul 13.45 hari sabtunya, tiba di Medan pukul lima sore dan melanjutkan perjalanan menuju Lhokseumawe dengan bus selama hampir delapan jam.

            Ketika tiba di Kota Lhokseumawe minggu pukul dua dini hari rasanya badan Abu remuk, namun apapun ceritanya tetap memaksakan masuk kuliah di Unimal pagi harinya. Siapa sangka ketika Abu masuk langsung ujian mid-test!

            Ibarat maju ke medan tanpa senjata, habislah Abu. Ketinggalan materi selama empat pertemuan dan persiapan nol persen membuat perjuangan Abu berbuah hasil 35 dalam range 0 sampai 100.

            Nilai terburuk selama Abu berkuliah di Unimal sepanjang masa! Bukan hanya Mata Kuliah Makro tapi hampir disemua Mata Kuliah Abu harus mengikuti ujian susulan dikarenakan meninggalkan bangku kuliah selama tiga minggu.

            Di sebuah Universitas negeri, mana mereka mau tahu kepergian Abu dalam rangka dinas. Demi nama baik Unimal tertutup sudah pintu dispensasi kepada Abu.

            “Itu adalah konsekuensi yang harus diterima,” dalam hal ini tak ada niat bagi diri Abu untuk mengeluh. Namun semester ini mau tak mau harus melepas julukan mister perfecto yang pernah melekat didiri Abu karena di awal debut berkuliah di Unimal berada dititik zenith dengan IP 4.

            Rasional saja, bagaimanapun usaha Abu di final nanti tidak akan mampu merebut IP 4 lagi, Maaf nilai 35 terlalu sulit untuk didongkrak menjadi A, meskipun di final nanti mendapat nilai 100 sekalipun.

            “Apabila kita mengejar sesuatu, maka disuatu sisi harus ada hal lain yang harus dikorbankan.” Begitu hibur Tengku Salek Pungo sore harinya. Abu hanya tersenyum, ya kalau dipikir-pikir sehancur apapun nilai di Unimal paling tidak Abu masih memiliki beliau di sisi Abu, mendapat banyak teman baru sewaktu mengikuti diklat dan memperoleh sekitar dua puluh buku baru guna melengkapi perpustakaan pribadi yang Abu borong di kwitang.

            Tidak semua orang mampu meraih segalanya. Hanya Dinasti Ummayyah saja yang pernah mencatat sejarah bertempur disepuluh front dan memenangkan kesemuanya, setelah itu tidak ada yang bisa bahkan Turki Ustmani dimasa kejayaannya saja tidak. “Mengapai sesuatu dan kehilangan sesuatu,” itulah hidup.

            Walau memalukan Abu mengakui dengan jujur, “Hari ini saya memperoleh tiga lima.”

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s