PROPOSAL KAWIN

Apalagi yang kurang? Tampang, umur, kemapanan, materil, sprirituil semuanya kurang. Tapi kalau indikatornya kecukupan seberapapun kita berusaha tidak akan cukup, kerena sesuai dengan prinsip Ekonomi bahwa keinginan itu tidak terbatas. Ya kalau kita tidak mencoba, bagaimana kita tahu kemampuan kita.

            Ketika Milvan mengajukan proposal tersebut ibunya Milvan kelihatan terkejut, padahal sudah setiap tahun dalam tiga tahun belakangan ini beliau menolak aplikasi Milvan.

            “Kamu itu masih anak-anak, kok minta kawin?” Seloroh beliau.

            “Anak-anak apaan, lha sekarang sudah 24” Tidak biasa-biasanya Milvan menuakan diri.

            “Kamu ini terlalu manja, terkadang kekanak-kanakan jadi belum layak” Aduh rahasia perusahaan Milvan jangan diobral dong bu.

            “Itu semua bisa berubah bu, seiring jalannya waktu” Milvan tidak mau kalah.

            “Emangnya kamu tahu menikah itu untuk apa?” Gawat! Ibu Milvan menanyakan esensi menikah itu apa.

            “Ya sama dengan orang lainlah, gitu aja kok repot” Gampang saja Milvan menjawab.

            “Itu namanya ikut tren dan bukannya hasil pemikiran kamu” Vonis beliau.

            “Kalau seandaimya pendapat orang lain itu lebih baik mengapa tidak?” Balik Milvan.

            “kamu itu dibilang orang tua kok ngeyel nak?” Bisa dibilang ini adalah jurus umum orang tua untuk menolak keinginan anaknya.

            “Apa pernah Milvan membantah? Dulu sepulang sekolah Milvan mengurus kambing terus pas liburannya jualan sayur dipasar? Pokoknya segala yang pernah Ibu minta Milvan turuti kan dari dulu, jadi Milvan ini tidak pernah ngeyel bu.” Milvan sedikit mengungkit jasa masa lalu, hehehe.

            “Kamu itu kalau dibilangin selalu seperti ini, persis seperti almarhum bapakmu.” Waduh ibu Milvan menggunakan jurus mautnya, namun tiba-tiba suara beliau melunak.

            “Jadi kamu itu di Lhokseumawe sudah punya calon?”

            Sontak wajah Milvan memerah.

            “Ya belum” Jawab Milvan malu-malu.

            “Lha ini, pacaran saja seumur hidup tidak pernah sekarang malah berani minta kawin” Ibu Milvan tersenyum penuh kemenangan, padahal beliau yang melarang Milvan untuk pacaran.

            “Ya itukan karena…….” Suara Milvan terputus.

            “Pokoknya Ibu belum mengikhlaskan kamu untuk menikah” Skak mat sudah.

            Tahun ini proposal Milvan diveto oleh Dewan Keamanan Persekutuan Keluarga Milvan, tapi tak apalah tahun ini boleh gagal tapi tahun depan akan Milvan coba lagi, Genbato Milvan.

            Ketika mengantarkan Milvan berangkat menuju Lhokseumawe diterminal bus Banda Aceh, beliau berbisik.

            “Awas kamu Milvan kalau ibu mendengar kamu macam-macam disana ya! Baik-baik disana, ibu akan menyiapkan calon buat kamu.” Ancam beliau.

            Emangnya ini zamannya Datuk Maringgih apa? Kok pake perjodohan segala? Tapi sudahlah untuk sementara Milvan tidak mau membahas lebih lanjut, dan bus pun segera berangkat.   

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

2 Responses to PROPOSAL KAWIN

  1. raudah abu hanifah says:

    sabar aja yah!usaha lg!yg jls kamu harus hindari nikah diam2 krn skrg sdg ngetren akibat org tua tdk mengizini anak2 mrka utk sgera menikah.kamu ambil aja hikmah’a!

  2. tengkuputeh says:

    hehehe, oce dech….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s