GURUKU KEKANAKAN

Siapa bilang hubungan guru dan murid tidah diwarnai hubungan cemburu dan rindu? Tanyakan pada Jalaluddin Rumi yang remuk merindu gurunya Syamsul Tarbiz yang tiba-tiba menghilang.

Siapa bilang hubungan guru dan murid begitu sederhana setelah melihat begitu pelik dan berlika-likunya kisah Mahaguru Dorna dan Arjuna. Dari seorang murid kesayangan hingga menjadi lawan di medan Kurusetra dalam Bhatarayudha.

Maka jangan salahkan Abu yang menyimpan sang guru, Tengku Salek Pungo walau banyak pihak yang ingin bertemu dengannya. Biarlah ia milik Abu seorang yang tidak akan terbongkar identitasnya sampai kapan pun.

Begitupun kalau Abu menyebut nama Mr.Popo sebagai referensi, mata beliau selalu memicing dan menunjukkan ekspresi kurang senang. Mungkin cemburu atau sebuah rasa kurang senang yang tidak dapat disembunyikan. Semua itu adalah hal yang tak diterima oleh nalar dan logika.

Apalagi ditambah cerita hari minggu kemarin.

“Tok..Tok…Tok,” pintu kontrakan Abu diketok dengan keras, siapa lagi siang-siang selepas Dhuhur tanpa sopan santun. Tidak tahukah ia bahwa siang minggu ini merupakan waktu yang mewah bagi Abu untuk istrirahat sambil membaca bahan final kuliah nanti sore, dengan perasaan kesal Abu membuka pintu.

“Salam lekom,” rupanya Billy The Kids nafasnya tersenggal-sengal.

“Kom Salam apa apa?” Tanya Abu masih kesal. Billy The Kids langsung menarik tangan Abu.

“Tengku Salek ingin bertemu segera!” Katanya, apa gerangan ini? kemarin beliau terlihat kurang sehat. Apakah beliau sekarat atau ingin meninggalkan wasiat? Jantung Abu berdegup kencang, segera menggunci pintu rumah dan dengan bersarung ikut dengan Billy The Kids menuju rumah TSP.

Sesampainya dirumah beliau, tanpa ba-bi-bu Abu langsung masuk dan menuju ke kamar beliau. Terlihat guru Abu tersebut sedang tergolek lemah di ranjang.

“Ada apa mi?” Tanya Abu kepada istri beliau.

“ini beliau tidak mau makan jika tidak ada kamu bu,” jawab Ummi malu-malu akan kelakuan suaminya.

Apa kata dunia? Orang tua seperti TSP bisa berlaku seperti kanak-kanak. Demi melihat kedatangan Abu mata beliau bersinar, Ummi mengambil inisiatif menyuapi beliau. Setelah beberapakali suapan beliau melihat lagi kepada Abu dan berkata, “Suapin Abu!”

Langsung Ummi menyerahkan piring dan sendok, dan terpaksa harus menurutinya jua. Sebenarnya Abu sangat kesal! Waktu belajar Abu yang hanya sekejap tersita untuk adegan tak penting seperti ini. Sekali lagi, Apa kata dunia? Tapi demi beliau terpaksa Abu mengundurkan hitung-hitungan logika. Tak lama kemudian Ummi dan Billy The Kids berangsur meninggalkan Abu dengan TSP. Sebagai murid Abu harus merendah dan menghamba sebagai syarat kemudahan menyerap ilmu.

“Kamu kesal Abu?” Tanyanya.

“Sedikit!” Jawab Abu memencongkan mulut.

“Hahaha,” beliau tertawa.

“kamu itu seperti pohon, sebesar apapun tak pernah berubah,” seperti biasa beliau menggunakan perumpamaan, Abu hanya diam dan terus menyuapi.

“Memiliki kasih sayang yang besar namun tak mampu menunjukkan, dan terlihat angkuh dari luar,” tambahnya, bahkan disaat kurang sehat seperti ini masih bisa meng-kick.

“Kalau sedang makan jangan bicara Tengku!” Bantah Abu.

“Hahaha,” lagi-lagi beliau tertawa.

“Kalau dipikir-pikir kita ini tidak sedarah, namun kenapa bisa seakrab ini ya?” Tanyanya lagi. Oke deh Abu menyerah, tak mampu lagi rasanya menunjukkan ekspresi kesal di depan beliau dan akhirnya tersenyum.

“Bagaimana kalau kita menjadi saudara?” Tanyanya.

“Tengku punya cucu perempuan baru lulus dari……..” Sebelum beliau menyelesaikan kalimatnya langsung Abu potong.

“Nasinya sudah habis Tengku, sekarang istrirahat dulu kapan-kapan nanti kita bicara lagi,” Abu meletakkan piring dimeja dan beranjak pergi.

“Asar nanti kamu disini ya!”

“Di kampus Tengku.”

“Maghrib?”

“Sepertinya Abu masih di kampus.”

“Kalau Isya?”

“Di rumah, soalnya pasti kecapekan.”

“Lalu kapan bicaranya?”

“Kapan-kapan saja Tengku,” jawab Abu taktis.

“Keburu saya meninggal nanti,” katanya.

“Tengku ini suka bercanda,” sambil tersenyum Abu pun bergegas.

“Abu!” Panggil TSP. Dan Abupun berbalik.

“Selamat berjuang!” Tangannya mengepal, dan Abu pun hanya bisa tersenyum.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s