GADIS MAGHRIBI

Wajahnya mengingatkan kita akan gadis dari negeri Maghribi, hidung mancung bengkok khas semitik dibalut dengan kulit coklat khas terpaan matahari di tepi Samudera Atlantik. Bibirnya yang dihiasi senyuman dibalut dengan hijab hitam seperti dari negeri Persia, begitulah pendapat Abu ketika disodori foto cucu perempuan TSP.

Usianya baru sembilan belas tahun tepaut lima tahun dari Abu yang sudah mulai menua ini, baru menyelesaikan pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan.

“Bagaimana Abu, mau?” Tanya TSP.

Siapa yang bisa menolak jika ditawarkan calon istri seperti ini? Belum lagi bimbingan langsung dari TSP sudah pasti akhlaknya top. Namun bukan Abu kalau tidak punya pertimbangan, DKK (Dewan Keamanan Keluarga) Abu memiliki sejarah panjang dan keras dalam bidang perjodohan. Hak Veto mereka bisa dengan mudah melunturkan kepercayaan diri gadis yang sedang rahum ini.

Terang Abu tidak berani menentang secara frontal DKK yang katanya sudah menetapkan jodoh yang sama sekali Abu tidak pernah bertemu atau tahu siapa dia, menolak harapan TSP juga segan. Abu hanya diam dan membisu.

“Nanti saya atur proses ta’arufnya,” vonis beliau tanpa memperhatikan wajah Abu yang mengkerut tanpa nyali dan lagi-lagi diam tanpa bahasa.

“Nanti kamu saya kabari lagi,” tutup beliau.

Pulang kerumah, Abu memandangi cermin. Rambut sudah mulai panjang, kumis tipis tumbuh tidak merata dan jenggot tipis tumbuh tak beraturan. Jelek, wueks lidah Abu pun terjulur.

Bagai mendapat ide brilyan Abu pun tersenyum, bagaimana kalau rambut ini terus dibiarkan memanjang, bagaimana jika kumis ini tak usah dicukur, bagaimana jika jenggot ini tak terapikan. Dan nanti Abu akan menggunakan yang baju yang paling kusam, celana paling jelek. Pasti gadis Maghribi tersebut akan menolak dijodohkan dengan Abu.

Yess! Ide yang bagus, jika tiba nanti harinya nanti mudah-mudahan…..

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s