RIWAYAT SARUNG

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Semua cerita dimulai dengan “alkisah” atau dengan “pada zaman dahulu kala”. Tapi kapan itu zaman dahulu kala? Saat kamu masih kecil, waktu kamu masih merangkak? Kamu tidak ingat begitu juga ayah dan ibumu dulu juga kecil. Kakek dan nenekmu juga. Kakek dan nenek juga memiliki kakek dan nenek. Mereka juga mengatakan “pada zaman dahulu kala”, selalu ada ungkapan yang sama lagi.

Maka kisah ini dimulai dengan kalimat, pada zaman dahulu kala. Seorang jenius tidak dikenal menemukan benda yang sangat berharga : sarung. Bentuknya, seratus sentimeter persegi kain, bermacam corak, dua tepinya ditautkan memanjang. Orang Inggris menyebutnya sarong dan tentu meniru kata melayu, meskipun mereka enggan menggunakannya.

Orang Inggris menganggapnya busana yang tidak praktis. Tak mengapa, ukuran “praktis” Inggris memang lain dari kita. Bagi kita, sarung justru sebuah teknologi tepat buat segala manfaat. Kita bisa mengenakannya buat shalat ke masjid atau perlehatan, buat ke kakus, buat selimut penahan dingin, melindungi dari panas terik, bisa menjadi topeng. Dalam keadaan tidak sebagai busana, sarung bisa menjadi pembungkus baju atau buku, misalnya ketika kita pindah rumah.

Mungkin seorang jenius agaknya yang menemukan benda semacam itu. Atau mungkin, melalui proses yang panjang.

Tapi sesuatu telah terjadi pada sarung. Barangkali karena juga pengalaman suatu kebudayaan selalu memiliki kaitan sosial yang berubah. Sarung, yang sebenarnya bisa elegan dan sekaligus casual seperti desain Calvin Klein, kini surut menjadi benda yang sangat privat, hanya untuk kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang. Satu-satunya kesempatan ketika sarung muncul ke ranah publik, ialah ketika pergi ke masjid, di hari Jumat dan hari raya. Selebihnya, ia hanya ornamen yang merepotkan.

Maka, tak mengherankan bila sarung pun bisa jadi lambang sesuatu yang pribumi yang menyusut, sesuatu “rakyat” tapi terdesak, sesuatu yang cocok dengan lingkungan tapi terancam oleh arus modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga menjadi lambang kebersahajaan yang mandiri dalam menghadapi kementerengan palsu berkaki plastik.

Agak aneh juga memang riwayat sarung. Ada masanya ketika ia menjadi identitas sebuah lapisan dicemooh. Pada awal orde baru, ada slogan yang memperingatkan agar waspada terhadap “kaum sarungan”. Tak spesifik siapa, tapi dengan segera ungkapan itu menjadi jelas.

Waktu itu, ketegangan terasa, namun jarang diucapkan, antara kaum ningrat dan priyayi yang abangan, dengan kaum pinggiran yang santri di satu pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itu untuk waktu lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah “udik”.

Waktu tentu mengubah sengketa. Mungkin hal-hal “udik” kini ditimbang kembali dan oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan dihargai. Namun, (selaku pembaca yang tekun), saya tak pernah lupa kisah si Doel di hari lebaran dalam buku Aman Dt Modjoindo, anak betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi. Tapi engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Doel kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Roman ini dikarang pada zaman penjajahan Belanda. Kita tahu dimana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai oleh Departeman O.K&W itu (dipaksa) berpihak. Terlihat jelas Pemerintah Kolonial Belanda “membenci” sarung.

Di dunia ketiga yang sebagian besar adalah bangsa terjajah, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk memodernisasi bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala banyak orang. Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia, sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan. Ia pun suatu titik konflik.

Kita bisa melihatnya, justru karena sifatnya yang serbaguna, sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan juga masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa menjadi snob yang mencemoohnya sebagai barang yang disakralkan. Tapi kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi, sekedar agar tak disamakan dengan para orang kaya yang glamor.

Karena itu kita mencintai sarung, perkakas yang selalu ada di rumah penguasa, atau rakyat jelata.

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KAKI GAJAH BAGIAN DUA

Sambungan dari KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Seperti umumnya nostalgia, yang dulu banal pun jadi bagus, yang bersahaja jadi seperti seakan dalam, dan yang terancam punah seakan-akan jadi azimat. Kita tak peduli lagi bila yang dianggap pernah ada. Jangan-jangan hanyalah fantasi.

X

Kabong, suatu hari di bulan November 2004

Sebulan sebelum laut mengambil mereka, baru selesai STAN dan sedang magang di KPP Pratama Banda Aceh. Abu dipaksa mama pulang ke Kabong, bukanlah hal yang menyenangkan. Liburan singkat di Banda Aceh harus diisi pulang kampung yang harus melalui tiga gunung legendaris, Kulu, Parau dan Geuruete sangat berat (waktu itu). Abu sebenarnya tak mau, tapi mama memaksa, “Tolonglah Abu, mama takut kau tak akan melihat lagi Nek Nyang beliau sudah sangat tua.”

Saat itu masih terjadi konflik bersenjata antara GAM dan RI, kami harus melapor kedatangan ke semua pihak yang bertikai baik Polisi, TNI dan GAM (Betapa tidak menyenangkannya). Segala saudara menyambut, mereka berbaris. Kabong, tidak banyak perubahan di sana. Tapi manusia telah berubah anak-anak telah dewasa sedang yang tua semakin tua. Dan bangunan rumah kayu  pun makin rapuh.

Nek Nyang hampir mencapai usia 100, beliau telah buta. Ia merasa sedih, karena merasa menjadi beban. Ia tak bisa lagi ke sawah, Nek Juz disamping banyak diam. Mereka para perempuan kemudian bertangis-tangis, ada keharuan disana. Sebelum kami pulang Nek Nyang berpesan, ia merasa usianya tak akan lama lagi. Mengingat Aceh masih dalam keadaan perang, ia meminta kami tidak usah repot-repot pulang menguburkan jenazah beliau karena masih keadaan tak menentu, cukup saudara-saudara disana menemani. Nek Juz mengamini, mereka pasrah sekali. Mama hanya diam, Abu tahu mama bertekad akan pulang meskipun disana kelak terjadi perang nuklir sekalipun.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pegunungan. Matahari masih bersinar di langit, bayang-bayang panjang yang menjulur sampai Kabong, puing-puing kelabu yang jatuh ke dalam kegelapan. Ketika kami meninggalkan Kabong menggunakan L-300, hari itu.

Ternyata beliau benar, tsunami datang, dari seratusan saudara yang kami temui di November, wajah-wajah yang tersenyum melampai ketika kami pulang ke Banda Aceh itu, hanya belasan yang selamat. Kami tak pernah menemukan jasad mereka, dan akhirnya keinginan Nek Nyang terpenuhi, biarlah saudara-saudara disana yang menemani.

X

Suatu malam, November 2016

Kita tinggalkan sejenak Abu and wonderland, kembali ke realita. Dalam percakapan melalui telepon dengan istri di Batam. Jadi ceritanya begini, Dek Hayati dan tetangga sekomplek mendapat pembagian empat pil untuk mencegah penyakit kaki gajah dari seorang tetangga di rumah Batam yang berkerja di Puskesmas sana, dan jika Dek Hayati telat membalas BBM karena mual-mual (katanya efek samping pil tersebut) di minta Abu harap maklum.

Abu terkejut, di tahun 2016 ternyata penyakit itu belum punah, meski Abu di atas tahun 2000-an tidak pernah melihat lagi ada penyakit tersebut. Setelah menutup telepon, Abu berselancar sejenak tentang penyakit tersebut.

Penyakit kaki gajah adalah suatu golongan penyakit yang menular, yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk, dan setelah digigit nyamuk, parasit ketika sampai pada jaringan system limpa maka akan berkembanglah menjadi penyakit tersebut. Dan penyakit ini sifatnya menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap, berupa pembesaran pada kaki, lengan dan alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi penyakit kaki gajah bukanlah penyakit mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan sangat memalukan dapat menganggu aktifitas sehari-hari penyakit tersebut. (lebih lengkap di http://penyakitkakigajah.com/)

Kita tidak pernah tahu bagaimana masa kini menautkan diri dengan masa lalu, sebagaimana Dek Hayati bisa terkait dengan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya itu. Nek Nyang, Nek Juz dan sebagian besar keluarga mama di pesisir Barat telah tiada, diambil oleh pelukan cinta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam bentuk tsunami. Pohon-pohon besar ribuan tahun, sawah-sawah menguning itu tidak ada lagi. Kenangan dan cintalah yang menautkannya kembali dengan masa kini.

Abu teringat, Banda Aceh telah berubah menjadi besar. Telah diberbagai landmark baru, sesuatu yang baru terkadang harus dibangun atas yang lama. Perluasan Masjid Raya tentu memakan korban pohon-pohon kurma tempat Abu waktu SMP berteduh sepulang les di phibeta. Perluasan jalan di dekat Stadion Harapan Bangsa memakan korban pohon-pohon asam yang membutuhkan waktu ratusan tahun tumbuh. Tugu simpang lima baru tentu harus didirikan diatas yang lama, dimana Milanisti merayakan scudeto terakhir 2011. Atau pembagunan fly over di Simpang Surabaya wajib dengan jalan menghancurkan kedai-kedai kayu tempat Abu dan (alm) ayah pernah berkunjung.

Abu rindu suasana-suasana lalu, yang mungkin tak akan pernah terulang lagi. Ketika pulang kantor seraya bermotor Abu jadi berpikir, jangan-jangan dua puluh tahun ke depan ketika Banda Aceh semakin “membesar” Abu malah rindu suasana hari ini. Sejarah adalah jurus kaki gajah yang akan menimpa siapa saja, tak terelak, dan yang dapat kita lakukan mungkin hanya pasrah. Seraya menikmati hari ini, pada burung-burung berkicau di pagi hari, pada embun yang selalu hadir. Dengan syukur dan tafakur.

Tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi

Sebagai individu yang menghuni dunia ini, Abu bertanya dalam hati. Apakah masa depan akan lebih baik? Perusakan alam berlangsung terus, kemiskinan masih di alami dan intoleransi masih sering berjalan. Perang dan kebencian masih berlanjut. Namun dengan penyebaran informasi yang baik, hati nurani kita semua sering tersentuh. Setiap kali ada perang, gempa bumi, tsunami, banjir atau kekeringan yang menimpa banyak korban di tempat yang jaraknya sangat jauh. Ribuan orang menyisihkan uang, sarana, dan tenaga untuk memberikan bantuan. Kita gunakan itu sebagai bukti bahwa kita berhak mengharapkan masa depan yang lebih baik.

(SELESAI)

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

A MAN OF FUTURE

You are a man of future

You are a man of future

Life like an incarnation in its struggle with uncomprehending, prosaic ordinaries, the eternal conflict between the ideal and the real.

You have a soul of your own, and the privilege of freewill, whoever you be, as well the proudest he hat struts in a gaudy outside : You are a king by your own fireside, as much as any monarch in his throne. You have liberty of property, which set you above favour or affection, and may therefore freely like or dislike his history, according to your humour.

You are a man of future

House of Wisdom, 6 January 2017

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PERMUFAKATAN PARA BURUNG

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada. Di waktu itu berhembuslah angin “kekayaan”, dan merendahlah langit ke bumi. Demi kelihatanlah padang sahara tandus, padang itu tiada sanggup menerima kedatangan “langit merah”, bagaimana sanggup menerima burung bumi?

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada.

Pada suatu hari berkumpullah burung-burung di rimba memperkatakan nasib dan keadaannya. Mereka merasa kecewa melihat kekecewaan dalam masyarakat burung, tiada pemimpin dan penganjur. Padahal tidak ada suatu umat di bawah kolong langit yang teratur masyarakatnya, kalau tidak mempunyai raja. Lalu bercakaplah pelatuk.

Pelatuk : “Aku mengalami pertukaran hari dan masa, dan aku mengenal kebiasaan manusia. Aku telah berusaha sekuat tenaga mencari hakikat kebenaran. Aku pernah berteman dengan Nabi Sulaiman. Tempat yang rendah telah kuturuni, yang tinggi telah kudaki, yang hampir telah kudatangi, yang jauh telah kujelang. Dalam perjalanan sejauh itu, aku telah tahu bahwasanya kita ini pada hakikatnya mencari raja, tetapi tidak ada upaya datang sendiri menjelang baginda. Kalau sekiranya kita berkerjasama tolong menolong, sangguplah kita sampai ke mahligai baginda itu. Nama raja kita adalah Simurag. Dan tempat baginda bersemayam ialah di balik bukit yang bernama Qaf. Tempat itu dekat dengan dia, tetapi jauh dari dia. Dia terlingkung dalam pagar larangan kebesarannya, tidak sanggup mulut menerangkan sifatnya dan disekelilingnya adalah 1000 dinding.

Pada mulanya maharaja burung Simurag itu adalah terbang malam hari di dalam gelap gulita lautan Cina. Maka jatuhlah sehelai bulu sayapnya. Tatkala sehelai bulu itu jatuh ke bumi, tercengang gegap gempitalah isi alam melihat keindahan warna bulu itu. Tidakkah saudara-saudara mendengar suatu hadist, “Tuntutlah olehmu ilmu, walau ke benua Cina sekalipun?” Kalau tidaklah menjelma sehelai bulu itu ke alam ini, tidaklah kita semua burung akan ada di dunia ini.

Mendengar kabar yang diterangkan pelatuk itu, semua burungpun timbul rindu hendak datang menghadap Maharaja Simurag. Ingin semuanya pergi mendapatkan baginda. Demi setelah dibicarakan panjang lebar, bahwasanya perjalanan menuju mahligai baginda itu sangat sulit dan banyak rintangan, banyak pulalah diantara burung-burung itu yang merasa lemah dan tak sanggup pergi.

Berkata Kenari: “Saya adalah Imamul Asikin, imamnya seluruh orang yang rindu dendam. Segala hati ingin mendengar nyanyianku. Maka bagaimanakah saya akan sanggup berpisah dengan kembang-kembang mekarku?”

Berkata Kakaktua: “Ambillah I’tibar pada nasibku. Seluruh insan terpedaya oleh bulu Simurag itu, lalu badanku mereka kurung. Maka penuhlah hidupku dengan kerinduan dan rawan sakit hati. Padahal terbang dibawah kipasan sayap Simurag itu sajapun aku tak sanggup”.

Berkata Merak : “Dahulu kala aku hidup bersama Adam dalam syurga, tetapi akhirnya akupun sama terusir dari sana, keinginanku ialah hendak pulang keasal tempat diamku itu. Sebab itu tidaklah ada keinginanku hendak mengembara mencari Maharaja Simurag”.

Berkata Itik : “Saya telah biasa hidup dalam kesucian, dan bisa berenang di air. Yang lain tidaklah kurindui lagi. Aku tak sanggup keluar dari dalam air, dan tidak biasa hidup ditempat kering”.

Berkata Rajawali : “Saya sudah biasa hidup di gunung, disanalah aku berdiam. Bagaimana aku kan sanggup meninggalkan tempatku?”

Berkata Gelatik : “Saya hanya seekor burung kecil dan lemah. Bagaimana akan sanggup burung sekecil aku mengembara sejauh itu?”

Berkata Elang : “Saudara-saudara tahu bagaimana kedudukanku disisi raja-raja. Maka tidaklah aku sanggup meninggalkan tempat semulia itu”.

Mendengar semua percakapan itu berkata pulalah Pelatuk : “Saya tidak akan lalai menyampaikan nasehatku kepada saudara semua. Maksudku adalah suci. Apatah sebabnya saudaraku semuanya mencari dalih dari kebiasaan hidup? Dan saudara tinggalkan cita-cita yang suci dan murni karena diikat kesenangan? Azam yang kuat dan hati yang teguh dan sabar, akan memudahkan segala kesulitan dan mendekatkan segala yang jauh”.

Maka bertanyalah seekor diantara burung-burung itu : “Dengan cara bagaimana dan jalan apa supaya kita sampai ketempat yang jauh dan sulit itu? Dengan alat perkakas apakah akan sampai kesana, menghadap Maharaja yang Maha Besar itu?”

Maka banyaklah pertanyaan.

Pelatuk : “Apakah artinya banyak pertanyaan ini? Apakah artinya kelemahan semangat ini? Mengapa maju mundur melangkah mengatasi kesulitan? Bersiap-lengkaplah dengan alat perbekalan, yaitu himmah yang tinggi, azzam yang kuat dan tabah hati. Adapun perhubungan di antara segala burung dengan Maharaja Simurag sudahlah jelas dan nyata laksana matahari dibelakang awan, telah jatuh ke bumi beribu cahaya dari celah awan itu. Kamulah semuanya, wahai saudaraku cahaya dari Simurag itu. Kamulah! Sebab kerinduan itu apabila benar-benar timbul dari hati yang tulus, akan mudahlah bagi yang asyik melalui jalan itu bagaimanapu sulitnya, segala pagar akan dilompatinya karena ingin bertemu dengan kekasihnya”.

Setelah mengemukakan beberapa perbandingan akal dan missal, sehingga timbul kembali kerinduan burung-burung itu hendak berjumpa dengan Simurag. Maka putuslah mufakat bahwa mereka semuanya akan jadi juga melanjutkan pengembaraan mencari Simurag. Satu kafilah mesti disusun, dan kepala kafilah mesti dipilih. Maka jatuhlah pilihan kepada pelatuk. Diatas kepalanya diletakkan mahkota alamat kebesaran, dan majulah ia kemuka. Merekapun terbang menuju tujuan.

Lama penerbangan jauh itu. Belum juga nampak ranah yang dituju. Maka bertanyalah seekor burung : “Mengapa perjalanan ini kian lama kian sepi, lenggang dan menakutkan, wahai pemimpin kami?”

Pelatuk si Raja burung menjawab : “Memang banyak tidak berani melalui jalan ini karena takut. Padahal ada keindahan dalam malam yang sunyi? Padahal begini indah? Ketahuilah Maharaja tidak memberi izin semua orang buat lalu di jalan ini. Kebesaran kita kadang-kadang membuat jauh orang yang mengharap karunia dari pintu kita”.

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada. Di waktu itu berhembuslah angin “kekayaan”, dan merendahlah langit ke bumi. Demi kelihatanlah padang sahara tandus, padang itu tiada sanggup menerima kedatangan “langit merah”, bagaimana sanggup menerima burung bumi?

Maka berkatalah seekor burung : “Hai Pelatuk Raja kami! Engkau telah membawa kami terbang tinggi, dan memang engkau telah biasa terbang jauh. Tetapi banyaklah sekarang yang merasa khawatir di hati kami. Berhentilah kita sebentar dan naiklah ke mimbar. Berikan kami fatwa untuk menghilangkan beberapa keraguan yang telah timbul di hati kami selama perjalanan sulit ini”.

Permintaan itu dikabulkan oleh pelatuk, mereka berhenti seketika. Tetapi sebelum dia memberikan nasehatnya, Kenari telah lebih dahulu naik ke mimbar, dia berjanji dengan merdu suaranya itu hilanglah segala kepayahan dan keraguan tadi. Seluruh burungpun bernyanyi pulalah mengikuti Kenari. Lantaran itu perjalananpun diteruskan kembali.

Di tengah perjalanan bertanyalah seekor burung : “Tuan Pelatuk imam kami! Saya heran mengapalah tuan lebih utama daripada kami. Mengapa martabat kita berbeda-beda?”

Pelatuk menjawab : “Keutamaanku ini adalah anugerah dari Maharaja sendiri. Inilah kekuasaan besar anugerah baginda, yang baginda berikan karena limpah kurnia pandangan baginda semata-mata. Kelebihan ini tidaklah dicapai karena semata-mata taat. Iblis dahulunya seseorang yang taat. Sungguhpun demikian perkara bukanlah saya memandang perkara taat suatu soal kecil. Tetapi janganlah itu juga dipandang penting, dan jangan meminta upah. Kerjakan segala perintah dengan patuh, dan jangan mengharapkan apa-apa. Harapan kepada apa-apa itulah yang menjatuhkan harga kepatuhan. Itulah sebabnya maka Sulaiman menjatuhkan pandangnya atas diriku”.

Banyaklah soal yang didatangkan mereka. Dan semua soal dijawab oleh Pelatuk dengan seksama. Soal yang kesembilan belas begini bunyinya : “Apakah hadiah yang layak kita sembahkan kepada Maharaja yang akan kita jelang itu?”

Pelatuk menjawab : “Jangan membawa apa-apa, karena disana tidaklah kekurangan apa-apa. Tidak ada yang lebih utama hanyalah dua perkara, rindu dan taat”.

“Berapa farsachkah lama perjalanan ini? Apakah yang akan kita temui di jalan?”

Pelatuk menjawab : “Dihadapan kita terbentang tujuh lurah, tetapi lebar seluruh lurah tidaklah kita ketahui. Sebab belum ada yang kembali dari sana, yang mengabarkan berapa luasnya. Tujuh lurah itu ialah : Keinginan (thalab), kerinduan (‘Isjg), ma’rifat, kepuasan (istiqhna’), tauhid, kagum (heran), fakir dan fana.”

Setiap lurah itu diterangkan oleh pelatuk sifatnya dengan segala macam isinya. Sampai diketika menerangkan sifat lurah yang ketujuh dia berkata : “Wahai saudaraku semuanya! Inilah lurah yang dasyat, bisu mulut karena tidak dapat menerangkan. Tuli telinga dan habislah daya. Ribuan bayangan hilang belaka oleh karena cahaya matahari. Bilamana ombak lautan telah bergelora, bagaimana lagi akan tinggal suatu garis di kulit air? Tetapi barangsiapa yang telah hilang dirinya dalam lurah ini, sampailah dia kedalam ketentraman yang abadi”.

Lalu dikemukannya pula suatu amsal :

“Pada suatu malam berkumpullah rama-rama dalam gelap, dan semuanya ingin mendapatkan cahata lilin. Maka dipilihlah beberapa supaya terbang menuju lilin terlebih dahulu, supaya melihat dan mengetahui sifatnya. Seekor rama-rama terbang ke mahligai tempat lilin memancar. Setelah kelihatan olehnya, diapun mengabarkan kepada teman-temannya. Maka berkatalah seekor rama-rama berpengalaman : “Kalau begitu engkau belumlah kenal kepada lilin”, lalu disuruhnya pula seekor lagi. Dia pun pergi. Didekatinya lilin itu, dan didekatinya lagi, sampai terasa olehnya panas api. Dia pun pulang mengabarkan penglihatannya dan perasaannya. Rama-rama yang banyak pengalaman itupun berkata : “Yang engkau ceritakan tidaklah lebih dari apa yang diceritakan temanmu tadi”. Maka terbanglah seekor lagi, terbang menari dalam kegembiraan dan kerinduan. Dia pergi ke lilin itu, dilihatnya dan didekatinya, lalu dihempaskannya dirinya kepada lilin dan hangus terbakar seluruh badannya. Dalam keadaan terbakar itulah dia pulang kepada teman yang mengutusnya. Maka berkatalah rama-rama tua tadi : “Engkaulah yang tahu apa artinya lilin. Karena tidaklah kita akan mengenal sesuatu yang kita cintai melainkan dengan memfanakan diri kepadanya”.

Mendengar kisah pelatuk itu, seluruh burung merasa takut. Semuanya merasa tidaklah akan sampai perjalanan sejauh itu. Maka adalah yang mati ditengah perjalanan itu, dengan putus ada. Yang tinggal meneruskan juga perjalanannya, dan bertemu mara bahaya, dan banyak yang gugur dan mati. Mati kehausan di puncak bukit, atau mati karena tidak tahan cahaya terik matahari, dan setengahnya mati karena terlalu payah. Setengahnya lagi tercengang-cengang melihat keganjilan yang dilalui, lalu terhenti dan tidak sanggup meneruskan perjalanan lagi. Setelah bertemu olehnya apa yang merintang hatinya, maka timbullah malasnya melanjutkan jalan. Yang lain ditimpali pula oleh kalangan lain.

Beribu banyaknya anggota pemberangkatan itu, sebagian besar telah binasa. Hanya tigapuluh ekor yang dapat melanjutkan perjalanan, tigapuluh ekor dalam bahasa Persia ialah Simurag. Akhirnya dari beribu hanya 30 ekor yang sampai! Sesudah menempuh berbagai gelora dan kesulitan, hampir binasa karena sulitnya.

Apakah yang mereka dapati setelah sampai pada yang dituju? Mereka dapatilah perkara yang tidak dapat diceritakan dengan mulut, heran dan termangu akal melihatnya. Memancarlah kilat kebesaran, terbakar ratusan alam dalam sekejap mata. Beribu-ribu matahari dan bintang dalam keadaan bingung setengah : “Wahai payahnya perjalanan kita. Disinilah kita melihat ratusan falak hanya laksana tanah pasir kecil belaka. Apakah artinya udjud kita dan apa artinya adam kita dihadapan Hadhrat ini”.

Dengan penuh perasaan kagum, mengeluh dan kepayahan mereka menunggu! Tiba-tiba keluarlah Hadjib, pengawal istana kebesaran itu lalu menegur : “Hai orang-orang yang tengah kebingungan! Dari mana datang kamu? Apa maksud datang kemari? Siapa namamu? Apa yang kamu dengar tentang tempat ini, sehingga kamu tertarik datang kemari? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwasanya sejemput kecil bulu dan tulang berupa kamu ini sanggup terbang sejauh ini?”

Burung-burung : “Kami datang kemari karena hendak menjunjung tinggi Simurag, raja kami. Lamalah sudah perjalanan kami ini. Dahulu kami beribu banyaknya, tetapi yang sampai kemari hanya 30 burung. Kami datang dari tempat yang sangat jauh, mengharap diberi izin menghadap Hadhrat Maharaja Simurag. Kami datang supaya Maharaja ridha kepada kami dan sudi memandang kami”.

Hadjib : “Hai orang-orang yang bingung! Apakah keadaanmu? Apakah artinya udjudmu dan apakah artinya ‘adammu dihadapan Hadhrat Maharaja yang mutlak dan yang baqa? Ribuan ‘Alam ini tidaklah setimbangan sehelai rambut dihadapan pintu ini. Pulang sajalah kembali, pulanglah hai kalian yang sengsara!”

Burung-burung : “Kehinaan yang kami peroleh dimuka pintu ini, adalah kemulian bagi kami. Kami akan tinggal disini selamanya, sampai kami hangus terbakar, laksana rama-rama dihadapan api. Kami tidak akan putus asa dari rahmat Maharaja”.

Mendengar pertengkaran diantara burung-burung dengan Hadjib itu, tiba-tiba keluarlah Hadjibur Rahmat dari dalam. Disuruh mereka berdiri. Lalu dibukalah kelambu hijab penutup itu, satu demi satu, yang beratus banyaknya. Maka memancarlah sinar, dan terbentanglah sifat tadjalli, dan dipersilahkan burung-burung itu duduk di dekat Hadhrat Rububijah. Setiap burung diberi sepucuk surat. Disanalah mereka terbaca segala amal perbuatan yang telah mereka dikerjakan. Maka pingsanlah semuanya karena malu, karena wajah itu tiada tertentang. Maka terhapuslah segala yang tertulis itu dan lupa semuanya. Maka terhapuslah segala yang tertulis itu dan lupa semuanya. Sehingga burung-burung itu tidak ingat apa-apa lagi. Itulah Fana!

Maka memancar sinar matahari kehampiran. Terbakarlah segala nyawa. Demi kelihatan oleh mereka Simurag yang mereka rindui dan jelang itu.

Heran dan ajaib! Setiap mereka melihat Simurag itu, kelihatan oleh mereka tigapuluh ekor burung, dan apabila mereka melihat tigapuluh ekor burung, kelihatanlah Simurag. Dan bila mereka melihat diri mereka sendiri dan melihat Simurag itu, kelihatanlah keduanya satu adanya. Mereka heran dan tercengang, lalu mereka bertanya apakah rahasianya jadi begini. Maka datanglah jawaban : “Hadrat ini adalah cermin, siapa yang datang kemari, tidaklah akan melihat selain dirinya sendiri. Tuan datang tigapuluh (Simurag), tentu yang tuan lihat ialah Simurag (tigapuluh). Yah, betapa penglihatan bisa melihat kami? Bagaimana mata rangit dapat mengukur bintang Suraija? Perkara ini bukanlah sebagaimana yang kamu lihat dan kamu ketahui. Bukanlah sebagaimana yang kamu katakan atau kamu dengar. Tetapi kamu telah keluar dari dalam dirimu sendiri. Sekarang tahulah kamu bahwasanya tempat kamu yang sebenarnya ialah disini”.

Maka hilang lenyaplah mereka semuanya. Hilanglah sinaran segala cahaya, kembali ke dalam matahari.

Demi setelah berlalu ratus ribuan tahun, yaitu gurun-gurun yang tidak diikat perhitungan zaman dan tempat, kembalilah burung-burung itu kepada dirinya. Demi setelah mereka kembali kepada dirinya dari selain dirinya, maka kembalilah mereka kedalam baqa sesudah fana.

Terinspirasi oleh Percakapan Margasatwa (Manthik uth-thair) karya Fariduddin al-‘Aththaar

Referensi : Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad karya Hamka, cetakan pertama tahun 1952, penerbit Pustaka Islam Jakarta.

Posted in Cerita, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

BUAH AMARAH

Lukisan Buah Amarah (dijual)

Lukisan Buah Amarah (dijual)

Buah Amarah

sejenak memandang langit biru
buah kata tak terucap
hamparan bumi bergulung-gulung
terpasung kuat semesta ruang

terik matahari membakar amarah
bawa seribu kutuk di hati
di sela-sela angin bawa kisah duka
serakkan ranting-ranting patah merapuh

28-08-2001

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SUPAYA AKU, KAMU DAN KITA (LEBIH) SALEH

“Ihdinas siradtal mustaqim”

“Ihdinas siradtal mustaqim”

Nyanyian alam sendu menghentak qalbu

Kala insan lelap dalam buaian

Mendengar jerit bumi terkubur debu

Rangkaian makna bertemakan duka

 

Adakah yang tersisa dilangkah kita

Beberapa lama mengapungkan keangkuhan

Puing-puing terkubur di depan mata

Masihkah kita berbicara tentang kebencian?

 

Tiada satupun tempat aman sentausa

Bebas dari segala kesukaran di dunia

Maka, “Ihdinas siradtal mustaqim”

Supaya aku, kamu dan kita menjadi (lebih) saleh

 

Hendaklah kita meresapkan sejumlah tamsil

Dan sesekali mengingat getarnya

Oh, betapa bahasa sangat ahli

Menyembunyikan kebenaran

 

Bait Al Hikmah, 8 Rabbiul Awwal 1438 Hijriah bertepatan dengan 8 Desember 2016

Simpati dan duka mendalam kepada saudara-saudaraku, kamu dan kita yang terkena bencana di Pidie Jaya, dan Samalanga (Biruen).

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

EL HADID MENCARI MAKNA

Lanjutan kisah El Hadid of Equal River

Barangsiapa yang ingin berjaya, tentu harus berani memulainya. Setiap diri tentu perlu mengatasi segala masalah-masalah sendiri dahulu.

Barangsiapa yang ingin berjaya, tentu harus berani memulainya. Setiap diri tentu perlu mengatasi segala masalah-masalah sendiri dahulu.

El Hadid dalam episode “Mencari Makna”

Setelah mengendarai Azraq  sekitar delapan mil, El Hadid melihat sekelompok orang sedang berdiri di tepi jalan. Mereka enam orang sedang mengelilingi sesuatu. Ia yakin bahwa ada suatu peristiwa akan segera dialaminya. Ia mulai meniru sikap para Ksatria dari buku-buku yang pernah ia baca dalam menghadapi musuh-musuhnya. Azraq diberhentikan, siwah dipegang erat-erat. Ia mengira mereka adalah sebangsa pengelana.

“Hendaknya setiap orang memberikan pengakuan bahwa di seluruh jagad raya ini tidak ada yang lebih cantik dari puteri Zahrat al Amira yang maha cantik.” Tepat ketika mereka berpapasan.

Orang-orang tersebut berhenti, mendengar seruan tersebut. Mereka menatap El Hadid, di pandang dari segi penampilan dan ucapannya, mereka berpendapat bahwa si pembicara telah kehilangan akal sehat.

“Tuan Ksatria, kami belum pernah mendengar atau melihat puteri yang baru saja anda sebutkan tadi.” Kata salah seorang diantara mereka. Sedang yang masih sibuk memandangi sesosok binatang tutul-tutul gepeng, baru terlindas oleh mobil, mungkin belum lama.

“Andaikata ia kutunjukkan kepada kalian, pasti kalian akan mengakui. Tetapi meski begitu, kalian semua harus mempercayainya, seyakin-yakinnya. Jika tidak kalian semua harus bertempur denganku.”

Lalu ia memandangi bangkai tersebut, “ternyata kalian adalah pembunuh bayaran, kalian telah membunuh seekor harimau yang harusnya dilindungi. Ayo kalian semua bisa maju satu persatu, sebagaimana lazimnya aturan pertempuran ksatria. Aku siap menghadapi kalian semua.”

Tapi orang-orang tersebut tidak ada maksud untuk berkelahi.

“Tuan Ksatria,” kata salah seorang diantara mereka dengan harapan menenangkan El Hadid. “Hewan ini bukanlah harimau, melainkan macan pohon. Kami menyaksikan sekitar sepuluh menit lalu, ia dilindas sebuah mobil Fortuner. Sedangkan, tunjukkanlah kepada kami foto gadis tersebut. Aku yakin bahwa kami sudah sama-sama sependapat dengan anda, meskipun misalnya toh mata gadis itu buta sebelah, kami tetap akan mengatakan seperti apa yang anda inginkan, sekedar untuk melegakan hati anda.”

Tapi El Hadid memang tak punya foto Almira. “Bangsat, tak ada cacat pada mata gadis itu!” Sang Ksatria naik pitam. “Ia benar-benar sempurna dalam segala hal! Kau akan menerima hukuman karena telah menghina seorang puteri yang benar-benar cantik.”

Ia mengacungkan siwah kea rah pembicara. Seraya maju menusuk, agaknya tak ada suatu apapun yang dapat menghindarkan orang tersebut dari malapetaka yang bakal menimpanya. Tetapi di luar dugaan, selagi maju El Hadid menginjak kulit pisang, ia terguling jatuh tak dapat bangun, karena menahan sakit.

“Jangan lari, kalian pengecut!” Sambil berjuang keras berdiri. Salah seorang diantara mereka yang terhitung gampang marah maju dan menendang rusuk El Hadid. Ia mengambil sebatang kayu kuda-kuda, mematahkan menjadi beberapa potong. Ia memukuli kepala El Hadid keras-keras.

Teman-teman yang lain meneriaki orang tersebut agar berhenti, “sudahlah biarkan orang gila itu!” Tetapi agaknya dia sudah begitu kalap, sehingga tak mau berhenti. Setelah batang satu patah, ia mengambil batang lain dan dipukulkan ke kepala El Hadid sampai hancur. El Hadid sendiri ditakdirkan memiliki kepala batu, tak henti-hentinya mencaci maki rombongan orang tersebut. Ia menyebut mereka pengecut. Semakin dipukul, ia bahkan semakin penasaran mengancam mereka.

Akhirnya orang tersebut merasa lelah, ditinggalkannya sang ksatria. Ketika sadar ia sendirian, El Hadid berusaha untuk bangkit. Tetapi bagaimana ia bisa bangkit setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi begitu. Ia memandangi harimau yang tergiling, dia terlalu sombong untuk menangisi dirinya, ia menangis untuk sebuah kematian hewan yang langka tersebut. Bajiangan tengik yang membunuh satwa ini harus mendapatkan balasan setimpal. Segila-gilanya El Hadid, ia merupakan pencinta alam.

Dalam kesedihan dan kedongkolannya itu, ternyata ia masih sempat merasa bahagia, karena memang pengalaman macam itu sudah layak dialami setiap ksatria. Namun ia beranggapan, bahwa semua itu akibat tergelincir kulit pisang semata. Orang besar tak jatuh karena batu besar, namun karena kerikil. Ia merasa diri, orang besar.

El Hadid berbaring di tanah sambil melayangkan pikirannya ke buku-buku kisah ksatria. Ia mengucapkan keras-keras syair dari cerita yang ia ingat. Pada saat itu lewat seorang laki-laki yang berasal dari desa setempat. Melihat seseorang terbaring di tanah, lelaki itu mendekatinya dan bertanya, siapakah yang mengerang-erang begitu? El Hadid tidak menjawab, ia tetap berceloteh bagian-bagian cerita dari buku.

Orang dari desa itu tercengang mendengarnya, ia mengusap muka El Hadid yang berdebu. Ia terperanyak demi melihat wajah sang ksatria.

“Hamid!” pekiknya. “Bagaimana anda bisa jadi begini?” Orang tersebut adalah Ali Thaleb, dahulu sewaktu muda ia dan El Hadid pernah belajar pembukuan di Universitas Grand Syech. Hamid Drop Out, ia lebih tertarik pada sastra. Sedang Ali menyelesaikan dengan Cum Laude.

El Hadid tetap tidak menyahut, ia masih berceloteh tentang ksatria-ksatria zaman lampau. Pelan-pelan Ali mengangkat El Hadid dari tanah lalu mendudukkannya diatas mobilnya. Ia menelpon, tak lama kemudian datang dua orang dengan satu motor, yang kemudian membawa Azraq ke desa mereka.

Ia merasa sangat cemas terhadap keadaan El Hadid yang terutama terus menerus meracau. Sang Ksatria sedang tertimpa kemalangan, ia menderita babak belur akibat pukulan sehingga sulit untuk duduk, ia merintih-rintih dengan suara berat.

Mereka tiba di desa Nga Bay menjelang maghrib. Ali memarkir mobil di meunasah*), kemudian shalat Maghrib, cuaca cukup gelap sehingga tidak ada yang melihat El Hadid masih mengigau di mobil. Selesai shalat penduduk Nga Bay sudah menunggu Ali yang notabene tokoh masyarakat untuk membicarakan hal ihwal penting. Lalu mereka menuju warung kopi kampung, selesai Isya Ali berencana memulangkan El Hadid.

Ditepi pantai itu, El Hadid kemudian melebur dalam hiruk pikuk kehidupan dan tersauk-sauk mencari jati dirinya yang bergelimang aneka suka duka. Mungkinkah ia menemukan secercah nurani yang tak bimbang gemerlap menyinari?

(Bersambung)

meunasah*) = langgar/surau

PETUALANGAN EL HADID

1-WAHAM

Posted in Cerita | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment