LORD HADID OF EQUAL RIVER, WAHAM

Lord Hadid of Equal River

Lord Hadid of Equal River

Zaman romantik telah lama berakhir, zaman para pertapa berkhalwat menepiskan gahar dunia. Dimasa-masa dunia sungguh membuat gentar dan memilih menghindar. Dan cerita tentang Tuan yang menghindar, bertapa, mengalahkan naga, menyelamatkan anak manusia. Ia menghilang, meninggalkan jejak. Tapi akhirnya sejarah tak menceritakan (secara penuh) apakah kealimannya menang.

Di sebuah desa yang terletak di distrik Equal River, hidup seorang lelaki bernama Hamid. Usianya empat puluh tahun, pendek, berisi dan berwajah bundar. Hamid berkehidupan dengan menanam cabai. Ia banyak memiliki waktu terbuang pada setiap tahunnya, sebab tidak setiap saat cabai dapat ditanami, setelah panen ladang harus diselingi tanaman lain sebelum unsur hara tanah kembali, biasanya kacang atau pepaya. Selain itu ia juga melewatkan waktu luangnya dengan membaca buku-buku tentang ksatria serta kisah-kisah petualangan. Kegemarannya membaca buku-buku semakin menjadi-jadi, sehingga ia lupa mengurusi ladang cabainya, sehingga tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Bahkan ia semakin jarang bergaul, dan tak muncul-muncul di warung kopi kampung.

Menjelang malam hari ia menghabiskan untuk membaca mulai senja hari hingga fajar menyingsing. Sedang siang harinya ia membaca sejak pagi sampai senja. Sehingga akibat dari kebanyakan membaca dan kekurangan tidur itu, akhirnya ia kehilangan akal sehatnya. Dalam benaknya penuh sesak dengan khayalan-khayalan tentang peperangan, perkelahian, guna-guna dan tantangan. Ia merasa yakin, bahwa cerita-cerita yang telah dibacanya itu sunguh-sungguh nyata seperti yang terdapat dalam buku-buku dongeng atau sejarah.

Kini dalam dirinya muncul sebuah gagasan konyol. Ia berniat menjadi ksatria kelana, dan akan mengarungi dunia. Di matanya, sepeda motor berumur 15 tahun itu terlihat layaknya sebuah kuda perkasa. Setelah banyak membaca, ia merasa yakin dapat bergumul dengan berbagai macam bentuk petualangan. Dengan jalan menolong orang-orang yang berada dalam kesukaran, dan dengan menghadapi setiap bahaya yang mengancamnya, ia akan memperoleh kemasyuran dan kehormatan.

Ia begitu terbuai oleh angan-angannya, sehingga ia ingin cepat-cepat membuat persiapan untuk mewujudkannya. Pertama-tama ia mengambil jas milik kakek buyutnya. Pakaian itu terbuat dari beludru dibersihkan. Pakaian tersebut telah usang bertahun-tahun tidak digunakan. Maka ia berusaha keras untuk membersihkan serta menjahitkan kancing-kancing yang telah copot.

Perlengkapannya belum sempurna, kopiah meukutup* yang menjadi pelindung telah rusak. Maka dipotongnya sekeping karton tebal, lalu dipasangnya kebagian yang telah rusak. Sekarang semua telahnya lengkap ia menguji apakah buatannya telah cukup kuat untuk pertempuran, maka disabetnya bagian tersebut dengan siwah** panjang yang pernah dia beli di tukang loak. Dan sekali lagi, pekerjaannya malah menjadi hancur! Ia sangat kecewa karenanya. Lalu ia membuat lagi. Tapi kali ini ia tak mau mengujinya lagi, sebab takut nanti akan hancur pula.

Sekarang perhatiannya teralih pada kudanya. Sepeda motor itu sebenarnya sangat menyedihkan, stikernya sudah banyak yang copot, lampu depan bahkan sudah sangat buram. Meski demikian Hamid menganggapnya sebagai kuda yang setaraf dengan Bucephalus, kuda milik Alexander yang agung. Oleh karena itu harus mempunyai nama yang istimewa.

Tiga hari tiga malam ia memikirkan nama kudanya. Telah dikumpulkannya nama sebanyak-banyaknya, dari bahasa Melayu, Arab, Inggris, Latin bahkan Klingon, tetapi belum ada yang cocok. Akhirnya ia memilih nama Azraq sebuah nama yang menurutnya sangat tepat bagi seekor kuda yang terbaik di dunia.

Kemudian ia bermaksud pula merubah namanya sendiri, ia menghabiskan waktu tujuh hari tujuh malam untuk berpikir, dan akhirnya nama yang dipilih adalah Lord Hadid (Bahasa Arab = Besi). Ksatria-ksatria yang masyur biasanya membubuhkan nama daerah asalnya di belakang namanya sendiri. Ia pun tak mau ketinggalan pula! Jadi namanya lengkapnya kini menjadi Lord Hadid of Equal River.

Jasnya telah bersih dan tutup kepalanya pun telah selesai diperbaiki. Nama khusus kudanya serta namanya sendiri telah ia dapatkan. Namun kini masih ada satu hal lagi yang ia perlukan, yakni seorang kekasih yang menjadi pujaannya. Seorang ksatria tanpa kekasih, ibarat pohon tanpa daun atau buah, atau sama seperti tubuh tanpa nyawa.

“Jika aku bertemu dengan raksasa, maka seperti halnya para ksatria lain, pertama-tama aku akan menaklukkannya,” kata Lord Hadid sendirian.

“Lalu ia harus tunduk kepadaku. Ia lalu akan kusuruh pergi menghadap kekasihku, ia harus mengucapkan, Lord Hadid of Equal River, seorang ksatria ternama, telah berhasil menaklukkan saya dalam suatu pertempuran. Beliau memerintahkan saya untuk datang kemari. Tuan Puteri kini berhak memerintahkan saya apa saja!”

Rangkaian kata-kata yang baru saja diucapkannya itu sangat menyenangkan hatinya. Oleh sebab itu, bagaimana pun juga ia kini harus memikirkan siapa kiranya yang dapat ia jadikan kekasih! Ia ingat akan seorang gadis petani bernama Hayati. Ia pernah melihatnya di La Punie, sebuah desa yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Ia sendiri belum pernah berbicara dengan gadis itu, tetapi meskipun demikian ia bermaksud menjadikannya kekasih. Tentunya gadis itu harus mempunyai nama pula, dan nama yang dipilihnya Zahrat al Amira. Baginya nama itu kedengarannya sangat merdu, dan tak kalah istimewa dengan nama kudanya

Segera setelah persiapannya selesai, Lord Hadid bermaksud untuk berangkat selekas mungkin. Pada suatu pagi, sebelum fajar menyingsing, ia telah mengenakan baju jasnya, kopiah dan menyandang siwah. Puas bercermin, ia menunggang Azraq meninggalkan rumah.

Lord Hadid berpikir, mungkin setiap ksatria, maupun setiap pengembara memiliki cela. Sebuah kekurangan dimana hikayat tak mampu bercerita. Bahwa pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dituturkan, menjalani jalan neraka sampai berulang kali, sendirian. Mungkin  apa yang disebut sebagai perjuangan itu, tak lebih dari sebuah kewahaman, tapi (memang) jalan ksatria (sering) adalah kesunyian.

Sesaat ia merasa puas, demi melihat betapa mudahnya meninggalkan rumah tanpa diketahui oleh orang lain. Ia menuju Barat.

X

*Kopiah meukutup = Topi Teuku Umar

**Siwah = Senjata tradisional Aceh yang mirip rencong

Posted in Cerita | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SENANG BAGI MEREKA YANG BERPUNYA

kawasan-kumuh

senang bagi yang punya

sakit bagi yang papa

layaknya minyak dan air

amat berselisih tentang rasa

 

senang bagi yang punya

sakit bagi yang papa

seperti hamba dan tuan

berselisih dalam warna

 

senang bagi yang punya

sakit bagi yang papa

seperti hamba dan tuan

berbeda bahasa

 

sungguh susah bagi yang papa

sungguh gelisah bagi yang bertahta

barulah merasa

 

Bait al-Hikmah, 30 Safar 1438 H bertepatan 30 November 2016

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PENANDA SIKAP

SERIKAT ISLAM  oleh Gerungan S.S.J. RATULANGIE diterbitkan di BAARN HOLLANDIA –DRUKKERIJ  1913 

Diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Dra. Konda Tilaar Editor: Dr. M. Sugandi-Ratulangi (2009)

X

“Kita berdiri pada titik-balik sejarah Kolonial. Jaman kini memprihatinkan.”

Dalam pidatonya yang diadakan pada audiensi 1 September y.b.l.(editor: 1912) sebagai jawaban Tuan Jacobs, penyambung-lidah kelompok ke-12 dan para ‘praticulieren’, Gubernur Jendral Idenburg mulai dengan kata-kata: “Kekuatan-kekuatan terlelap bangun, keinginan-keinginan tersembunyi menjadi nyata. Dimana-mana ada penyadaran diri, dan akibatnya orang mempertanyakan buah-buah budaya Barat kita.”

Memang, orang hanya perlu membaca koran-koran Hindia, untuk mengakui dasar kata-kata ini : perserikatan-perserikatan muncul, benturan-benturan terjadi antara berbagai bangsa atau antara bagian-bagian masyarakat Hindia yang terpisah oleh hukum, dan akibatnya yang tak terelakkan, muncullah konflik-konflik antara rakyat dan penguasa.

Syarikat Islam

Syarikat Islam

Yang berada paling depan dalam “bangunnya kekuatan-kekuatan yang terlelap” itu pastilah organisasi Serikat Islam, baik oleh jumlah penganut yang diperolehnya, maupun oleh cakupan tujuan luas yang dikejarnya: yaitu perbaikan keadaan ekonomi masyarakat pribumi dan peningkatan hidup beragamanya. Namun orang terutama patut berhati-hati dalam menilai fakta-fakta berita yang membanjiri kita dari Hindia. Sulit mencatat dengan tepat kejadian-kejadian yang merugikan atau yang menguntungkan S.I., karena pers Eropa di Hindia tak mungkin tidak memihak sama sekali. Kepentingan pertamanya sedikit banyak adalah menentang aliran-aliran politik di dunia pribumi Hindia-Belanda; lewat sensor peraturan percetakan pers Hindia yang ketat, kebanyakan di antara mereka ini terbawa bersikap kurang lunak terhadap serikat-serikat politik di sana. Bukankah hal ini suatu kenyataan dalam perlawanan Partai Hindia; orang tak berhenti sebelum lembaga yang dianggap membahayakan Negara dan kekuatan Eropa itu dibinasakan. Seluruh pers Eropa mempersatukan diri demikian eratnya, sekalipun dalam keadaan lebih tenang mereka sering bertengkar, untuk mematikan Expres yang baru saja terbit di Bandung.

Hal ini tidak mengherankan kita, karena “pers agung” yang dikuasai orang Eropa (kecuali Bataviaasch Nieuwsblad), merasa kehilangan dasarnya karena propaganda I.P. melalui Expres. Sekalipun begitu, juga bagi pers Eropa, kebenaran tidak selalu dapat diingkari atau ditutupi dan fakta-faktanya memang terlalu jelas. Itu sebabnya kami sangat terkesan oleh pertentangan semu dari berita-berita yang dikandung koran-koran Hindia tentang gerakan-gerakan disana. Sekiranya kita mendalami hakekat masalahnya, dapatlah kita mengembalikan semuanya kepada satu sebab, yang saya sebut saja: jiwa baru, yang telah merasuki masyarakat Hindia, sebagai lawan dari makna yang begitu gemar digunakan jurnalistik Hindia sebagai sanggahan: jiwa DOUWES DEKKER. Sebab, bahwa di Hindia kita berurusan dengan jiwa rakyat, terbukti dan kejadian-kejadian dan juga kini disadari Pemerintah, sebagaimana ternyata dari kutipan kata-kata Gubernur Jenderal itu.
Lagipula, terlalu naif untuk mengira bahwa seorang saja mampu memasukkan ide-ide yang baru sama sekali, apabila massa itu sendiri tidak sudah memiliki suatu predisposisi untuk menerimanya.

Bila orang ingin menyanggah saya, bahwa ‘kekuatan kata-kata’ itu faktor besar, dan memperlihatkan kepadaku contoh-contoh dari sejarah purba dimana satu orang dapat menguasai kumpulan rakyat, dapatlah saya katakan bahwa tiada cara yang lebih sederhana daripada mengirim seorang orator ke Hindia untuk meyakinkan rakyat akan hal yang berlawanan dengan apa yang mereka pikirkan kini disana, – sebagaimana dapat kita simpulkan dari fakta-faktanya – untuk mencegah badai. Sengaja saya berhenti sejenak pada pembicaraan Indische Partij sebelumnya. Karena saya sendiri yakin bahwa serikat ini dan Serikat Islam dua organisasi yang tak mungkin terpisahkan satu dari yang lain. Antara kedua organisasi ini terdapat hubungan sebab-akibat yang jelas terlihat jika dipandang lebih dalam. Keduanya itu hasil dari keadaan-keadaan yang sama; bahwa yang satu mengusung ‘islam” dalam benderanya hanyalah bukti, bahwa yang lain berpijak pada dasar-dasar yang lebih liberal. Namun satu di antara kedua organisasi ini adalah hasil dari yang lain kalau saja pemikiran ini tidak terlalu gila dan terlampau gegabah, saya akan memprotesnya.

Apa saja alasan-alasannya, yang membuat ide-ide baru itu muncul di segala lapisan masyarakat, sulit digambarkan secara singkat. Lagipula. apabila kita harus melacak semua faktor yang langsung dan tidak langsung telah mengarahkan jalannya keadaan, kita harus kembali ke jaman sejarah lampau, bahkan lebih jauh lagi sekiranya kita mengikuti rangkaian kejadian dan sebab-musababnya.

Cukuplah yang berikut ini. Ketika hubungannya terbina, ketika penduduk pribumi diposisikan secara kurang menguntungkan terhadap orang asing, ketika itu orang sudah dapat meramalkan bahwa suatu saat cepat atau lambat, pada lanjutan perkembangan jiwa kaum pribumi, kerusuhan-kerusuhan sekarang ini akan menjadi kenyataan. Masyarakat pribumi kini tak dapat lagi bergerak dalam kerangka undang-undang yang usang; ia mengejar ruang gerak lebih luas, dan dalam keadaan berlanjut yang sangat lazim seperti ini tak bisa tidak ia akan berbenturan dengan lembaga-lembaga usang, dan kelompok-kelompok penduduk yang menikmati keuntungan lebih banyak, bila hubungan-hubungan seperti itu dipertahankan. Dan hal ini dapat kita lihat dalam halaman-halaman berikut ini: bahwa partai anti revolusioner di Hindia harus dicari di antara orang Eropa asli dan kaum bangsawan pribumi.

Marilah sekarang kita ikuti kejadian-kejadian yang pertama-tama mengungkapkan “keinginan-keinginan terselu-bung” itu, agar dengan memandang cetusan-cetusannya itu, kita dapat memperoleh gambaran tentang hakekatnya. Pertama kali orang menjadi agak sadar tentang hal ini ketika tujuh delapan tahun lalu oleh mahasiswa STOVIA (Sekolah Kedokteran di Weltevreden) ide-ide baru dilontarkan ke dunia, yang menemukan perwujudannya dalam “Boedi Oetomo” yang bagaikan sengatan listrik menyambar lapisan-lapisan atas masyarakat. Setelah dipandang penuh kecurigaan, gerakan ini melalui ketekunan para pendirinya segera memenangkan kepercayaan golongan Priyai dan Pemerintah. Bagaimana pun orang kemudian dalam perumusan tujuannya mengedepankan perbaikan ekonomi dan pendidikan, untuk menutup-nutupi hakekat Boedi Oetomo yang sebenarnya, kenyataannya tak teringkari: gerakan ini muncul dari kesadaran diri orang Jawa dan merupakan endapannya. Kehidupan Hindia telah memasuki era baru, dan sudah berlalu bahwa ia menyerah kepada keadaan berdasarkan pikiran: dura lex, sed lex, bahwa rasa nasionalisme sudah berbicara, bahkan nasionalisme yang ketat, dapat kita simpulkan dari fakta bahwa hanyalah orang Jawa yang dapat memasuki organisasi ini sebagai anggota. Maka serikat itu dengan tepatnya menamakan diri “Jong Javanen Bond”. Harapan-harapan tinggi, yang dimiliki terhadap Boedi Oetomo, sedikit banyak meleset, ketika pejabat-pejabat tinggi pemerintah pribumi menduduki jabatan dalam Pemerintah pusat. Orang lalu mengkhawatirkan suatu tekanan dari atas, yaitu pengaruh Pemerintah, yang bekerja agresif terhadap kehidupan berserikat. Kekhawatiran tsb, ternyata bukannya tak ada dasarnya: di bawah pimpinan pengurus yang mundur tahun ini, organisasi ini hanya menjadi suatu bayangan lemah dari ide para pendirinya. Karena, di samping atau sebelum menjadi pengurus oraganisasi nasionalis ini mereka itu abdi Gubernemen. Dan bahwa antara Gubernemen dan B.Oe. tak selalu ada kedamaian merupakan suatu akibat tak terelakkan dari keadaannya. Orang dapat saja berdalih sebanyak-banyaknya, suatu organisasi seperti B.Oe. dalam keputusannya harus terarah menentang jiwa pemerintah yang ada. Karena akhirnya syarat-syarat berdirinya yang pertama, justeru adalah kekosongan dalam kehidupan bersama, yang tidak dapat atau tidak mau diisi Pemerintah. Apabila hubungan sosial sesuai dengan kehendak rakyat Hindia, organisasi seperti itu tak punya dasar, bahkan tidak pernah dilahirkan. Kedudukan hukum yang tak sama antara orang Eropa dan orang pribumi, yang sering tak menguntungkan yang disebut terakhir, merupakan batu sandungan pertama bagi banyak kaum pribumi yang sudah sadar akan pembedaan itu. Pada titik ini B.Oe. saja sudah berlawanan dengan Pemerintah, sekurang-kurangnya di masa itu. Masalah ini mungkin di masa depan tidak lagi memberi alasan untuk saling berbenturan, karena apabila kita menganggap ucapan dalam Pidato mahkota Hindia sebagai suatu janji, akan terjadi suatu awal dalam persamaan masalah hukum. Namun sekalipun hal ini dibereskan sepenuhnya, masih saja ada kasus-kasus yang menempatkan kepentingan Pemerintah jauh berseberangan dengan perjuangan B.Oe.

Namun, kekosongan ini mungkin juga terjadi oleh kekurangan intern, oleh kekurangan yang lekat pada masyarakat pribumi sendiri yang sebenarnya dapat saja ditiadakan. Hal ini dapat saya akui sepenuhnya, dan saya tahu juga bahwa B.Oe. sampai sekarang hanya bekerja ke arah itu, namun hal ini sama sekali tidak meniadakan kemungkinan tentang apa yang saya sebut di atas ini. Orang juga menunjuk kepada kemungkinan, agar melalui penggabungan tsb., orang dapat melawan masuknya semakin jauh ke pedalaman; orang Cina, yang menguasai perdagangan kecil dan industri kecil, dan dengan ketrampilan melebihi ketrampilan pekerja Jawa, hampir menggeser mereka dari pasar kerja, sehingga dengan demikian dapat menguasai perjuangan di bidang sosial ekonomi.

Namun, bagaimanakah semestinya sikap seorang pegawai pemerintah dalam hal ini? Bukankah ia berada antara dua titik api, apabila ia mau mendengar suara hatinya?
Masalah nasional menuntut agar ia menjauhi kaum Cina sekuat tenaganya, namun sebagai abdi negara seharusnya ia bersikap netral, karena sebagai warga masyarakat yang tertib dan jujur mereka mencari nafkahnya.

Bahwa pukulan politik akhirnya harus dijatuhkan, disadari oleh sejumlah orang. Saya ingat ump. bahwa dalam masa pendiriannya, orang penuh kekhawatiran rnenyelidiki kalau-kalau organisasinya berpolitik atau tidak. Orang begitu khawatir terhadap apa saja yang berbau politik, karena organisasi-organisasi politik itu dilarang.

Lama orang timbang-menimbang, ketika seorang muda Jawa naik panggung, lalu mengambil keputusan dengan kata-kata: “B.Oe. akan menjadi serikat sosial, tapi demi tercapainya tujuan, jika perlu akan menggunakan cara-cara politik.” Dengan demikian tercapailah perdamaian: jadi bukan oraganisasi politik!

Sampai sekarang memang, B.Oe. senantiasa bekerja di bidang sosial dengan mendirikan toko-toko koperasi, sekolah-sekolah, dst. Tapi kalau begitu, apakah aksi yang dilancarkan B.Oe. dapat dikembalikan kepada perjuangan kelas yang biasa? Pasti bukanlah demikian, karena B.Oe. bukan organisasi dari suatu kelas kaum pribumi, melainkan mencakup keseluruhan kehidupan pribumi. Lagipula, dapatkah digambarkan dengan tajam pemisahannya: mana batas antara perjuangan kelas dan propaganda politik?

Terutama di Hindia dengan hubungan-hubungan yang aneh, dimana rendah dirinya orang pribumi dijunjung sebagai dalil tak terbantahkan, setiap langkah maju bagi kontingen pribumi, berarti mundurnya wibawa moral bangsa kulit putih; dan setiap perbaikan sosial orang pribumi, membuka perspektif dari konsekuensi politis.

Meskipun anggota-anggota B.Oe. semata-mata harus dicari di antara kaum terpelajar, program kerjanya seperti yang sudah kita lihat, menyebar ke seluruh rakyat; terutama diusahakan perlindungan terhadap mereka yang lemah morilnya dengan meningkatkan taraf moral rakyat. Namun dimana satu golongan rakyat itu memperkuat diri, di situ bagian-bagian lainnya harus dipersulit dalam pekerjaannya, sekalipun hanya dengan persaingan. Dan karena orang perorangan berkonsentrasi ke dalam satu badan, yang kriteria keanggotaannya adalah kebangsaan dan bukan kelas, dengan sendirinya aksi B.Oe. dibatasi dan dapatlah kita lihat dengan jelas, pertentangan antar suku. Demi rasa kemanusiaan, pemerintah harus menghadapinya dengan netral, mengapa begitu sulit keanggotaan pimpinan dari serikat yang nasionalis ini, dapat digabungkan dengan suatu jabatan dalam pemerintahan luar negeri. Dalam Bataviaasch Nieuwsblad, hal ini juga disadari DOUWES DEKKER, ketika itu redaktur surat kabar tsb., dan saya menemukan bagian kalimat berikut ini: “Kesalahan pertama yang dibuat perserikatan yang muda itu adalah memilih regent Karanganyar menjadi ketua.”

Penulis bukan menolaknya karena regent itu tidak siap untuk tugas tsb., sebaliknya pegawai Pemerintah tsb terkenal karena sifat-sifatnya yang baik sekali, dan berasal dari rakyat (ia sebelumnya guru), andaikan saja ia tidak memiliki prasangka-prasangka bangsawan kuno dan lebih memahami kebutuhan rakyat. Tetapi dalam prinsipnya penulis menentang masuknya pegawai tinggi pemerintah ke dalam B.Oe. Dalam hal ini ia tidak salah; karena betapa kemudian pegawai-pegawai Pemerintah yang lebih tinggi, meminta sampai memalukan pendapat residen yang bersangkutan dulu, sebelum mereka berurusan dengan B.Oe.; bagaimana kemudian ternyata “Regenten vereeniging” mengembangkan diri sebagai kelompok reaksioner dalam masyarakat pribumi.

Dan ini kembali dapat dijelaskan dengan baik; karena apabila ide baru ini diterima dimana-mana, tamatlah hak-hak istimewa kaum bangsawan; hilanglah rasa hormat yang hampir kekanak-kanakan, – yang dimiliki rakyat terhadap pemimpin-pemimpinnya, yang membuat mereka ini hidup cukup nyaman, – untuk diganti dengan rasa sederajat. Tidak mengherankan bahwa kaum bangsawan penuh keprihatinan memandang majunya proletariaat, perlahan tapi pasti.

Perjuangan ini sama dengan yang diperlihatkan Eropa pada bangkitnya burgerij dalam abad pertengahan, bedanya rakyat di Hindia sering masih mendapat dukungan Pemerintah. Karena itu gerakan yang sedang mereorganisir diri di Jawa sedikit-banyak mendapat perlawanan dari anggota-anggota bangsawan, termasuk kaum berada.

Sesudah B.Oe., banyak perserikatan lokal didirikan, namun kebanyakan lebur ke dalam organisasi besar atau menjadi cabang-cabangnya.

Bersama semua tanda-tanda perluasan kekuatan rakyat pribumi, tak bisa tidak, orang Indo-Eropa, si “Indo” terancam akan terjepit. Di satu pihak orang Eropa asli, di pihak lain orang pribumi, kedua kekuasaan itu dapat menjepitnya apabila ia sendiri tidak bertindak ekspansif pada waktunya, dan memasang kuda-kuda.

Sebagai pengimbang B.Oe, oleh kaum muda Indo-eropa didirikan “Bond van Jong Indo’s”. Sayang, di bawah pimpinan yang sangat buruk. serikat itu dipimpin orang-orang muda yang berdarah panas, yang dalam dokumen-dokumen propaganda lebih banyak mengumbar kata-kata bualan daripada memperlihatkan pemahaman dan sikap taktis. Temperamen blasteran mempermainkan serikat itu sehingga cepat mati akibat kelebihan vitalitas. Setelah diumumkan dengan hebohnya, 5 tahun lamanya orang tidak mendengar apa-apa lagi, sampai belum lama lalu muncul kembali, dalam bentuk Indische Partij yang dimurnikan dan dibersihkan. Azas-azas dari Bond van Jong Indo’s dan dari Indische Partij berbeda; yang pertama tidak mengijinkan keanggotaan orang pribumi, yang disebut terakhir, mengijinkannya. Namun apa saja bukti akhirnya? Tidak lain dari penyesuaian diri yang terakhir ini terhadap situasi. atau lebih tepat dikatakan, mereka belajar dari praktek Indo-Bond.

Azas penggabungan para Indo dilepaskan, dengan tepat, maka terwujudlah gagasan agung: tak ada pembedaan dalam hal kebangsaan, tiada pembedaan antara kulit putih, cokelat dan kuning. Apa pun yang dapat orang bebankan kepada lndische Partij, di atas segala tuduhan, tak terbantahkan oleh keluhuran hakekatnya, adalah prinsipnya yang patut diterima demi peri kemanusiaan: yaitu kesatuan di Hindia.

Dalam rapat-rapat B.Oe. dan organisasi-organisasi kecil lainnya, gagasan tentang kebersamaan itu disebarkan di tengah rakyat Hindia, hal mana juga didorong pers pribumi. Yang ini (pers pribumi di Jawa) harus kita bagi dua: yang pentama dipimpin orang Jawa dan berorientasi Jawa; sedangkan yang kedua di bawah pimpinan orang Minahasa atau Ambon (seperti Khabar Perniagaan dan Warna Warta) dan digerakkan dengan modal Cina. Dengan sendirinya, jenis koran terakhir ini tidak terlalu rajin ikutserta dalam membangun suku Jawa namun menyerahkan hal ini kepada yang pertama.

Suku Jawa dibangunkan; mereka didorong menjadi lebih ekonomis; penganiayaan orang pribumi oleh orang Eropa (yang sering terjadi oleh opzichter Eropa di perkebunan atau dalam karya-karya pemerintah) dikecam keras. Orang tidak segan-segan bersusah-.payah dan menempuh segala upaya. untuk membangun perasaan dalam diri orang pribumi bahwa ia lebih dari sekedar ‘kuda beban”. Yang turut-serta memajukan penyadaran diri ini adalah fakta bahwa sejumlah dokter pribumi di Eropa meraih gelar kedokteran Belanda, dan sehubungan dengan ini dapat dibaca dalam koran-koran pribumi, artikel-artikel dengan tendensi: lihatlah, kita juga bisa, bukan’. Siapa mis. tidak mengenal narna MAS ASMAOEN? Sangatlah menarik contoh berikut ini; Seorang wartawan lndo duduk dalam sebuah bendi ketika sang kusir mengejutkannya dengan kata-kata: “Toean, apakah Mas Asmaoen sudah doktor?” sang Indo tidak tahu siapa yang dimaksud.

Sebelumnya, seorang muda pribumi tidak berani bergerak di kalangan rekan-rekan Eropanya, takut akan perlakuan yang tidak begitu baik. Betapa beberapa tahun lalu kata Inlander diucapkan dengan penghinaan tak terbatas.. Dari masa itu masih tersisa ungkapan: “Sungguh inlands”.untuk segala hal yang buruk. Berbohong itu inlands, mencuri itu inlands, semua sifat jahat itu inlands, semua sifat baik itu Eropa, sekurang-kurangnya di Hindia. Betapa asing pun bunyinya untuk telinga Eropa, hal ini memang benar. Dan atas azas inilah, dipandang-entengnya orang pribumi secara a priori itu, didasarkan ketentuan yang pada lembaga-lembaga Pemerintah disebut “cabang-cabang dinas”, – kaum pribumi mempunyai suatu traktemen yang kira-kira setengah dari yang dipunyai rekan Eropa sepekerjaannya dengan syarat-syarat yang sama. Yang saya maksudkan disini terutama Perkereta-apian Negara, namun ada lebih banyak lagi, yang menjalankan sistem memalukan tentang ‘rate of wages’ yang ganda itu. Dapat dimengerti bahwa hal seperti itu mengakibatkan komplikasi yang paling gila; jika ump. seorang pribumi mendapat bawahan orang eropa yang lebih muda yang traktemennya dua kali sebanyak traktemen dirinya. Atas dasar apa dapat dibenarkan bahwa seorang dokter pribumi dalam dinas Gubernemen untuk perjalanannya mendapat ganti-rugi f. 2,- sehari. sedangkan seorang klerk atau kondektur, kalau orang Eropa atau disamakan dengan orang Eropa, f.5,-?!.

Betapa rendahnya pendapatan para guru pribumi dibandingkan dengan klerk Eropa dsb., yang pada umumnya lebih rendah tingkat perkembangan moril dan intelektualnya. Keadaan semacam ini pasti tidak memupuk rasa puas di kalangan masyarakat pribumi yang intelektual pada umumnya. Orang jangan terkecoh oleh pikiran bahwa orang pribumi menyerah dalam hal ini dengan ketakwaan yang menjadi sifatnya, dan jangan lupa, bahwa orang pribumi intelektual ini dengan senangnya didengar oleh rakyat, oleh massa, yang merekam kata-kata mereka bagaikan ramalan-ramalan. Orang mesti mengamati kehidupan di desa dan kampung untuk dapat menyadari daya cakup para guru pribumi dan kaum terdidik Iainnya yang terpancar dari mereka terhadap rakyat. Ketika tinggal selama beberapa minggu di salah satu stasiun kecil di Perkereta-apian Priangan, saya melihat setiap malam bahwa ada heberapa orang pria dari desa mendatangi kepala stasiun untuk bercakap-cakap. Namun percakapannya terutama terdiri dari berbicaranya sang kepala stasiun tanpa hentinya dan yang lain hanya berkata “semoehoen” belaka. Dan pria ini masih berdiri di luar hubungan desa; ia bukan guru dan bukan kepala atau ‘adjie’. Betapa mudahnya ketidak-puasan ini beralih kepada rakyat. Dan kejadian-kejadian yang baru saja, membuktikan bahwa hal itu terjadi.

Orang dapat merasakan pada umumnya di dunia pribumi bahwa pertandingan dimulai dengan suatu rintangan disebabkan posisi kurang menguntungkan terhadap orang kulit putih. Kesadaran ini meresapi segala lapisan masyarakat dan mempersiapkan rakyat untuk kerjasama nasional Jawa.

Pada saat yang tepat diperdengarkanlah jeritan di Solo, panggilan untuk berhimpun dibawah bendera Serikat Dagang Islam. Penyebab langsung dilahirkannya serikat itu sudah diketahui: orang mau menjalin suatu ikatan melawan perdagangan kecil Cina. Kata Islam menarik dunia Islam, pada saat yang tepat ketika tersebar kerusuhan dan ketidak-puasan.

Namun kini terjadi suatu keanehan, suatu pertanyaan yang harus dijawab. Kebetulankah bahwa awal politik pengkristenan berlangsung pada saat yang sama dengan bersatunya unsur Islam, ataukah yang terakhir ini suatu akibat dari yang pertama? Dalam pendirian dan dalam propaganda tidak mungkin dapat kita temukan apa yang merujuk kepada agitasi melawan politik dari rejim sebelumnya, namun arus kuat para anggota untuk perserikatan ini pastilah juga suatu reaksi islam terhadap gencarnya kristianisasi, yang mengancam juga daerah-daerah Islam, namun yang kini ditiadakan, demikian harapan kita. Bagaimana pengkristenan semacam itu mencapai justru hal sebaliknya dari yang dituju, terbukti dari kata-kata seorang Jawa yang berdiam di Nederland berikut ini: “Kami berterimakasih kepada IDENBURG atas pemerintahan kristennya, karena dia telah membangunkan kami dan membuat kami merasa bahwa kami, orang Islam, bersatu.” Suatu permainan kata yang sama sekali tidak kosong, di Hindia dikenakan pada S.I. Nama ‘S.I.’ mestinya diartikan: “Salahnya Idenburg”.

Di salah satu tempat di Jawa, dengan lingkungan islam, didirikan sekolah kristen yang oleh Pemerintah disubsidi, d.k.l. ditunjang dengan pembayaran pajak juga oleh kaum islam. Ketika di tempat yang sama dimintakan subsidi untuk sekolah Islam, permohonan itu ditolak. Mestikah orang Jawa dengan ini tidak merasa, bahwa agamanya dianak-tirikan? Tiada yang lebih berbahaya daripada menimang diri sendiri hingga tertidur dengan kata-kata Dr. FOKKER, Indolog Amsterdam: “Dimana-mana Islam menderita bangkroet” jadi di Hindia juga demikian. Tidak, Islam di Hindia tidak akan menderita bangkrut, Islam yang tanpa kekerasan tapi dengan perkembangan berangsur-angsur menapaki jalannya menuju lebih dari 30.000.000 penganutnya. (prof. SNOUCK HURORONJE, Nederland en de Islam). Dan hasil apa telah diberi karya zending sejak satu abad? Dalam 1814 oleh zendeling BRUECKNER dari Nederlandse Zendingsgenootschap disebarkan Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa rendah dan bahasa Melayu sebanyak beberapa ribu, suatu bukti bahwa ketika itu Zending sudah bekerja keras. Dan hasilnya, bahwa jumlah orang pribumi kristen dalam tahun 1902 terdiri dari 19000 orang, termasuk tentara Ambon dan Manado (v. DEVENTER, Overzicht van den economischen toestand van de Inl. bevolking op Java en Madoera). yaitu satu banding 500 orang Islam. Bukankah ini bukti suatu kekalahan dari zending? Dan bila kita mengikuti tanda-tanda jaman, maka urusan zending bahkan di Minahasa, bentengnya zending, tidak seberapa baik posisinya.

Orang Jawa itu, hakekatnya Budhis, animis? Mungkin saja, namun hal itu tidak mereka ketahui. Mereka yakin, bahwa mereka Muslim sejati. Mereka samasekali tidak menyadari bahwa seluruh kehidupan rohaninya lebih condong ke kerohanian Budhis daripada ke kerohanian Islam. Hal ini terbukti dari prakteknya: ziarah ke Mekah yang setiap tahun terlaksana oleh jutaan orang, sesungguhnya tidak akan terjadi kalau bukan sentimen keagamaan membuat mereka demikian. Dan, kemana pun suatu pengelompokan terjadi dengan warna Islam, kesanalah mereka bergerak.
Itu sebabnya saya berkata, bahwa memperlakukan kekristenan lebih baik dari Islam merupakan suatu langkah kelewat berani pada papan percaturan politik. Dengan cara demikian. orang Islam akhirnya ditantang. yang akibatnya tidak menguntungkan.

Jumlah anggota di Solo dalam waktu singkat menanjak sedemikian rupa, sehingga Pemerintah demi kelancarannya rnenganggap penting untuk membubarkan serikat itu. Namun, dengan demikian jiwa rakyat tidak musnah dan di Surabaya muncul di bawah nama yang diubah; kata “dagang” dihilangkan dan serikat baru itu bernama Serikat Islam. Sekali menerima dorongan, gerakan itu berkembang, dan seperti dikatakan suatu koran Hindia: “Bagaikan monster berkepala banyak muncullah S.I. dimana-mana.”

Memang, bagaikan jamur muncullah cabang-cabang, kendati usaha-usaha Pemerintah untuk membinasakan akar-akarnya. Di Parungkuda, sebuah halte pada jalur kereta-api di Priangan, kereta-api kereta-api tak mampu memuat orang-orang yang mau ke Bogor untuk mendaftarkan diri di tempat yang ada cabang S.I.-nya. Bulan Juli y.l. jumlah anggotanya sudah melampaui 500.000 tersebar di seluruh Jawa, dan masih terus bertambah. Gerakan itu juga telah berpindah ke Sumatra; bagaimana pun di Palembang sudah berdiri sebuah cabang S.I. Apakah akan berkembang terus menyusuri pantai Timur Sumatra sampai ke Aceh yang penuh pergolakan, akan ditentukan masa depan. Hal ini bukan tidak mungkin: di antara pengontrak-pengontrak Deli mudah sekali terdapat seorang penganut S.I. yang mau membuat propaganda untuk serikatnya.

Atas pertanyaan, apa hubungan antara Boedi Oetomo dan Serikat Islam, harus saya jawab kembali: hubungan sebab-akibat. Namun bukan hanya dalam sebab-sebabnya, namun juga dalam akibat-akibatnya, dalam arah kerjanya ditemukan titik-titik persamaan antara kedua serikat ini; keduanya berjuang ke arah perbaikan sosial bagi orang pribumi pada umumnya, namun kalau B.Oe. mencakup sebagai anggotanya kelas-kelas terdidik (priayi, guru, pedagang), S.I. meliputi keseluruhan masyarakat pribumi. Jadi kita dapat memandang B.Oe. sebagai perintis. pembuka jalan bagi SI. dan sangatlah mungkin, saya hampir mau katakan: pastilah bahwa kedua serikat itu dalam waktu dekat akan saling lebur menjadi satu Bond Jawa-nasional (atau Hindia-nasional). B.Oe. otaknya, SI. daya rakyatnya, merupakan kombinasi yang sempurna. Bahwa hal ini juga disadari pemimpin-pemimpin gerakan Jawa, telah dibuktikan TJIPTO MANGOENKOESOEMO, yang dalam salah satu artikel-artikelnya memperjuangkan a.l.: (saya mengutip di luar kepala): :“Daripada memperlakukan organisasi rakyat yang muda itu (SI.) penuh kecurigaan, patutlah kita mencermati perkembangannya agar pada waktunya dapat membanting stir, apabila terancam penyelewengan.”

Lapisan-lapisan terdidik rupanya telah mendengarkan kata-kata ini, dan tidak hanya telah mengikuti S.I. dalam perkembangannya, tetapi ikutserta secara aktif, dan memasukinya sebagai anggota serikat. Bahkan bangsawan tertinggi pun memasuki serikat itu, dan kami temukan dalam S.I. suatu pertemuan yang menguntungkan dari bangsawan dan rakyat, sungguh suatu unicum dalam masyarakat Jawa dengan tradisinya yang bertahan berabad-abad lamanya hingga terbentuk hukum-hukum yang tak tergoyahkan. Putera mahkota Solo adalah pelindung serikat dan rupanya telah mendorong kaum bangsawan untuk mengenakan S.I. Apakah kerjasama kaum bangsawan pribumi dengan S.I. merupakan langkah tergesa-gesa, dan orang menyadari telah membuat tindakan berani dan telah menghancurkan diri sendiri apabila ternyata serikat ini memang akan sukses? Rupa-rupanya demikian. dan hanya dilihat dari sisi ini, dapat diterangkan bahwa Soesoehoenan dari Solo mengeluarkan suatu larangan bagi bawahannya untuk menjadi anggota S.I., padahal sebelumnya serikat sudah mengharapkan perkenanan tahta Solo.

Bagaimana pun juga, hal ini hanya membuktikan pendirian saya, bahwa setiap aliran baru dalam masyarakat Jawa akan menemukan perlawanan dari kaum bangsawan negeri itu, terutama sejauh gerakan ini memiliki karakter demagogis. yang menyebabkan hak-hak yang dinikmati kaum bangsawan berabad-abad lamanya harus dibinasakan. Kaum bangsawan akan senantiasa menjadi partai reaksioner apabila suatu waktu perang politik dan kelas pecah di Hindia, sekalipun ada juga partai-partai yang berhaluan lain; suatu pantulan sejati dari perjuangan di Eropa.

Sudah berkali-kali diajukan pertanyaan apakah S.I. suatu organisasi agama, dan oleh kebanyakan ini diingkari. Dalam salah satu pembicaraan malam harinya, Mr. DOUWES DEKKER yang sebenarnya tahu tentang keadaan Hindia, menyinggung masalah ini dalam arti tsb. Namun seperti kebanyakan orang, ia telah menempatkan dirinya sepihak, dengan menguji serikat ini dengan suatu esai umum tanpa memperhatikan keadaannya, Kita hanya perlu meninjau situasinya selayang pandang untuk meyakini hal yang sebaliknya.

Rakyat Hindia-Belanda dapat kita bagi seperlunya ke dalam dua kelompok : Kaum muslimin sejumlah kira-kira 30.000.000 dan yang bukan Muslim (orang Kristen, orang kafir, orang Budhis, dsb.) kira-kira 7.000.000. S.I. bermaksud membawa kelompok pertama ke dalam satu badan; namun ungkapan kebersamaan semacam ini di kalangan rakyat islam, mau tak mau menumbuhkan perlawanan di kelompok-kelompok lain.

Ini sering kita lihat di Hindia; panggilan Jong-Java ke B.Oe. oleh orang lndo Eropa dijawab dengan pendirian Bond van Jong Indos yang sayangnya mati muda. Dari pihak rakyat Cina, kita lihat reaksi dalam serikat-serikat Cina. (saya tahu juga bahwa yang terakhir ini merupakan pantulan dari evolusi Cina sendiri), namun ini tidak meniadakan sebab-sebab di Hindia sendiri yang telah mendorongnya dan bahwa orang baru sesudah B.Oe. membuat propaganda yang kuat untuknya.

Juga suku-suku lain dan rakyat asli, tidak berdiam diri dan tergoncang oleh B.Oe, bersatu. orang Ambon, Minahasa, Melayu. Sepuluh tahun terakhir, di Hindia bergolaklah nafsu berserikat. Akhirnya kita menyaksikan bahwa pada waktu bersamaan bangkit Serikat Islam, lndische Partij (oleh inisiatif Hindia dan Indo) dan orang Minahasa yang berdiam di Batavia.

B.Oe. menetapkan sebagai syarat kepada anggotanya, kebangsaan Jawa; S.I. lebih jauh lagi menetapkan batas-batasnya lebih luas dan menuntut anggotanya harus Muslim. Dan sejauh S.I. berjuang untuk rakyat Muslim, sejauh itu ia segera berbenturan dengan yang bukan Muslim, yang kepentingannya kadang-kadang langsung bertolak-belakang dengan kepentingan yang disebut sebelumnya; maka situasi yang kita peroleh: Islam lawan bukan-Islam.

Lagipula, faktanya sudah mengandung antitesenya bahwa anggotanya hanyalah orang muslim belaka. “Orang tidak mengadakan propaganda,” katanya. “Karena itu S.I. bukan perserikatan agama”. Memang sulit diadakan propaganda untuk Islam di tanah Islam; lalu apakah propaganda suatu conditio sine qua non untuk serikat agama? Bukankah masih ada cara-cara lain untuk mengungkapkan ciri keagamaan?

Hal ini dapat kita lihat dengan jelas: dimana serikat itu beragitasi keluar, oleh situasi luar biasa dan suasana kini di kalangan kaum pribumi, aksinya terarah melawan orang non-Islam.

Bagaimana suasananya dapat kita simpulkan dan berbagai benturan antara orang Eropa dan Cina di satu pihak dan kaum S.I. di pihak lain. Lagipula, S.I. menganjurkan anggotanya untuk berpegang pada Kur’an.

Apabila S.I. berjuang secara sosial, mengapa tidak dikotbahkan boikot melawan benalu tengkulak-tengkulak Arab dan kaum kolportir. Rukankah putranya HADRAMAUTH sudah pasti penghisap darah besar bagi kehidupan hersarna pribumi, dan belum lagi disebut hakekat haji. Mengapa S.I. tidak berjuang mematahkan pengaruh para haji ini? Pasti bukanlah demi kepentingan orang pribumi, individu-individu ini berkeliaran di desa-desa dan memiliki kehidupan yang enak bertumpu pada kepercayaan polos orang-orang desa itu? Tetapi memang sulit, karena kedua kategori ini Muslim juga dan perlu dilindungi oleh bendera S.I.

Bagaimana pun juga, hanya keadaan, – dari pihak-pihak yang bersangkutan yang satu Muslim dan yang lain tidak, – membuat kita tidak menolak kemungkinan bahwa dalam hal ini kita tetap berurusan dengan organisasi keagamaan.

Sekali lagi yang berikut ini: untuk memasuki organisasi. para calon harus mengangkat sumpah setia kepada Kur’an dan anggaran dasar organisasinya.

Sumpah ini tentu saja harus diangkat sesuai tuntutan dunia Muslim: di tangan seorang imam (rohaniwan).

Jadi sudah sulit sekali di Hindia memisahkan kerja sosial dan politik, dan kedua ini saling melebur satu ke dalam yang lain, sehingga tri-sila ini disempurnakan oleh fakta bahwa Kur’an tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik.

Apabila orang Muslim ingin berpegang erat pada peraturan-peraturan Kur’an, maka setiap penganut agama lain adalah musuhnya. bahkan ia tak boleh mengakui raja yang bukan Muslim.

Dengan menerima nama Islam, para pendiri pasti harus bertanggung-jawab atas konsekuensi-konsekuensinya yang mengalir dari hal ini. Namun orang tidak boleh mengabaikan satu faktor besar: kesadaran diri masyarakat pribumi, dan dapat kita lihat juga dalam S.I. suatu gerakan nasional yang kuat; ini ungkapan suatu bangsa yang, setelah mencapai fase tertentu, ingin didengar apabila ada yang perlu diputuskan tentang dirinya.

Bukanlah tendensi nasional melalui agama kita temukan dalam S.I, melainkan rasa kebangsaan dengan agama. Inilah sebabnya saya berpendapat bahwa Serikat Islam dalam perkembangannya harus bersifat baik politik maupun agama: sekalipun para pemimpinnya memberi penjelasan yang lain, bagian terbesar para anggotanya memandang serikatnya bukan saja sebagai yang memperjuangkan kepentingan-kepentingan sosial, melainkan juga (dan terutama) sebagai yang bertendensi agama.

Saya tak berkata, bahwa S.I. itu salah satu cabang dari Gerakan Pan Muslim. bahkan mengejar tujuannya. Namun kemungkinannya bukan tidak ada, bahwa organisasi ini sesudah waktu tertentu akan mengejar cita-cita yang lebih jauh dari yang kini dimilikinya, dan akan memperoleh warna internasional. Karena. bahwa orang Muslim dan Hindia-Belanda memang terbuka untuk Pan Islamisme, sekali ia berkenalan dengan gerakan besar ini, dan bahwa ia telah ditaklukkan bagi kerajaan Muslim yang akbar ini, kalau para promotor memalingkan pandangan mereka ke Hindia, – sudah ternyata dari suatu perkara hukum di Medan, dimana seorang Turki diadili, yang dengan alasan-alasan menyesatkan menarik uang dari kaum pribumi dengan menceriterakan bahwa Sultan Turki mengutusnya untuk mengabari kaum Muslim di Hindia-Belanda, agar dia membebaskan mereka dari beban Belanda, bila setiap orang membayarnya f.40,-. Banyak orang dengan cara itu tertipu, dan telah menyetor uangnya; dan deretan korban akan semakin panjang apabila Pemerintah tidak menemukan penipuan itu.

Adakah uang itu mengalir ke saku orang Turki itu, sekiranya orang tidak memilih di atas kekuasaan Belanda, kekuasaan sultan Turki? Hal ini telah terjadi pada orang Melayu, namun pada orang Jawa ini pun mungkin terjadi.

Selanjutnya saya tahu, dari raja-raja kerajaan Muslim kecil di Sulawesi Utara yang kebetulan pernah saya kenal, bahwa beberapa di antara mereka pernah berpikir (apakah sekarang masih demikian, saya tak tahu) untuk mengirim putera-putera mereka untuk pendidikan ke Turki, ke Istambul, karena pendidikan di hoofdenschool di Tondano menurut mereka tidak cukup dan karena pengaruh kristen terlalu mereka rasakan.

Menyangkut orang Jawa:, orang sebaiknya jangan merasa aman soal ini karena berpikir, bahwa ia sebenarnya bukan Muslim secara rohani, karena sekali lagi, orang Jawa tidak menyadari hal ini; a sendiri yakin bahwa ia Muslim sejati. Dan sekiranya ada yang meragukannya, para haji yang berkepentingan bahwa umatnya itu Muslim sejati, akan menjamin bahwa kekhawatiran ini tidak menjalar. Di kalangan keturunan orang buangan Jawa di Tondano, saya mengamati, bagaimana mereka menentang kepala-kepala distrik (kristen), begitu patuhnya mereka terhadap seorang Said yang juga dikucilkan, yang baru datang.

Bila kita lebih jauh meneliti tindakan-tindakan S.I. maka kita melihat bahwa mereka pun di jantung masyarakat pribumi, berjuang melawan kekurangan-kekurangan rakyat.

Perjuangan ini tidaklah baru, karena beberapa tahun lalu oleh murid-murid Landbouw en Veeartsenschool di Bogor didirikan suatu perserikatan bertujuan memerangi kejahatan-kejahatan rakyat. Serikatnya menyandang nama 7 M yang adalah huruf-huruf pertama kata-kata maling, madat, main, minurn, modon, mangan. Namun sesudah pendiriannya serikat ini sedikit sekali kabarnya. Selain sumpah waktu masuk, para anggota harus berikrar memerangi berbagai kejahatan dalam diri sendiri maupun dalam diri orang lain.

Bahwa S.I. kuat memegang ikrar ini, dan bahwa ia terpandang oleh anggotanya, dapat disimpulkan dari kejadian-kejadiannya. Menurut koran-koran Hindia, kabarnya di daerah-daerah yang sudah dimasuki S.I., pencurian dan perampokan berkurang dari sebelumnya. Dan dengan bantuan S.I. Pemerintah berhasil memberi penerangan tentang berbagai kejahatan yang dilakukan, hal mana tidak mungkin sebelumnya. Karena itu begitu berbahaya untuk begitu saja menerima semua kejahatan-kejahatan yang oleh koran-koran Hindia dikenakan kepada S.I., karena sebagaimana seorang di antara mereka harus mengakui: sebenarnya hubungan dengan kerusuhan-kerusuhan tidak dapat dibuktikan samasekali bahwa S.I. yang melakukannya. Apa yang kita ketahui pasti, selalu bagus bunyinya. Tanpa segera mengingkari ungkapan ini harus juga kita akui bahwa, dimana S.I. langsung terlibat dalam pemberontakan, hal ini sering terpancing oleh kecurigaan yang dimiliki dan ditunjukkan Pemerintah dan penduduk Eropa terhadap SI. Dimana Pemerintah nenyambutnya secara terbuka, kita lihat dia senantiasa bersedia bekerja-sama dengan baik. Ketika pemerintah memintanya, cabang S.I. di Batavia, telah menyerahkan brosur-brosur, yang oleh komite Bandung dikirim kepadanya untuk disebarkan. Betapa mudah cabangnya berpura-pura mengatakan bahwa brosur-brosur tsb. sudah tersebar.

Di Bandung, tempat S.I. tidak menemukan perlawanan dari pihak Pemerintah, Ia beragitasi dengan sukses terhadap kehidupan concubinaat wanita-wanita pribumi dengan orang Eropah.

Bahwa dogma-dogma agama harus digunakan (kabarnya Kur’an melarang untuk hidup seperti itu dengan orang Kristen), dapat dimengerti. Bukankah harus ditemukan caranya untuk menyadarkan orang pribumi akan situasi yang tidak diinginkan seperti ini: tujuan menghalalkan cara.

Karena concubinaat di Hindia, – yang sering terjadi di kalangan orang Eropa yang tidak menikah – yang hampir menjadi suatu kebiasaan umum, telah kehilangan sengatnya. Betapa sedikitnya orang muda Eropa dan Indo-Eropa terutama di pedalaman, memiliki keteguhan moral yang mampu menolak kebiasaan bejad seperti ini. Untuk memperlihatkan kepada wanita pribumi kedudukannya yang miring sebagai concubine, orang terpaksa harus mengacu kepada ajaran agama, karena keberatan-keberatan etis oleh keadaan telah kehilangan segala daya meyakinkan.

Selanjutnya ini suatu bukti tambahan bahwa S.I. bukanlah tidak memiliki ciri-ciri agama, terutama bila kita melihat bahwa mis. di Priangan, menurut Pemimpin Redaksi Javabode kunjungan ke mesjid-mesjid sangat meningkat sesudah didirikannya S.I.

Apa yang paling utama terkesan di S.I. adalah solidaritas anggotanya; orang cenderung membandingkanya dengan suatu camora Italia, sekiranya ia tidak bekerja terbuka dan mengejar suatu tujuan luhur dan indah yang tak terbantahkan. Solidaritas semacam ini mungkin diperlihatkan kepada orang Eropa dengan cara tidak terlalu menyenangkan, namun tetap suatu bukti yang menggembirakan dari bangkitnya kemampuan bela-diri orang pribumi menentang kekuasaan rohani Cina dan Eropa, dan sekaligus suatu jaminan, agar orang Eropah mengurangi agresifitas dalam pembasmian fisik kaum pribumi. Sangatlah menentang rasa keadilan. dan bila orang adalah pribumi, sengsara dan terhina, untuk melihat bagaimana mis. opzichter Eropa dalam kesalahan sekecil apa pun menghukum seorang pekerja pribumi dengan ‘rammeling’ sambil mengetahui bahwa dia tak akan membela diri 1), dan tak seorang pun akan mengetahuinya. Jika keadaan memuncak, bila orang akhirnya telah melukai orang pribumi dalam perasaannya yang terdalam, dan dia akhirnya mengambil pisau, maka dalam koran-koran disebut bahwa politik etislah yang menanggung segala kesalahan, dan lembaga penyelamat: arbeids inspectie yang masih belum cukup keras tindakannya, diserang.

Seringkali berita-berita dari Hindia sampai kepada kami tentang asisten-asisten yang diserang kuli-kuli di perkebunan-perkebunan. Namun secara mutlak dapat dipastikan bahwa selalu dalam berita itu muncul kalimat ini: “tuan H baru 2 minggu (atau dua bulan, sebulan, dsb.) di sini”. Jadi suatu pemberitahuan bahwa yang diserang itu bagaimana pun baru saja di Hindia. Bukankah segera muncul pertanyaan, dan bukankah pertanyaan itu wajar: “:Tidakkah mungkin, bahwa bukan nafsu membunuhnya orang Jawa, melainkan kasarnya orang kulit putih yang tidak mengenal adat setempat, penyebab pembunuhan itu?”

Mengapa opzichter Indo jarang berkonflik dengan pekerja-pekerjanya; ia pun tahu bahkan lebih tahu menguasai rakyatnya, dan juga keras? Tidakkah kejadian-kejadian di Hindia suatu petunjuk, untuk tidak lagi memandang Deli dsb. sebagai tempat pembuangan bagi tenaga-tenaga Belanda yang berlebihan atau tak terpakai? Di Hindia cukup banyak orang muda Indo-Eropa atau pribumi yang dapat mengerjakan tugas seorang asisten perkebunan jauh lebih baik dari orang muda Belanda; mereka mengenal rakyat pribumi dan tahan terhadap iklim Hindia. Maka orang tidak perlu lagi di Deli menantikan penuh kecemasan datangnya SI. Namun sayang, warna kulit dan kelahiran mereka biasanya suatu halangan tak teratasi untuk jabatan-jabatan tsb.

Pertanyaan apakah Serikat Islam suatu ungkapan kehendak rakyat dan memenuhi suatu kebutuhan yang dirasakan, sudah terjawab lewat fakta-faktanya. Di seluruh Jawa anggota-anggota telah melapor untuk S.I., baik orang Madura dan Sunda, yang hampir tidak ada persamaannya dalam sifat-sifat rakyatnya, dan yang rasa kepentingan bersamanya sampai sekarang masih terpendam bahkan di bidang agama.

Namun kebersamaan ini dibangunkan pertama-tama oleh propaganda S.I. dan kedua oleh politik kristen yang terlalu kuat dari Pemerintah di tahun-tahun terakhir. Sebagai bukti untuk yang terakhir ini saya ingatkan, bagaimana sesudah “Zondagsrustcirculatie” di Hindia timbul suatu kemarahan baru yang tertekan di kalangan pegawai negeri Muslim, terutama di Perkereta-apian: “Mengapa” tanya mereka, “hari istirahat kami tidak dihormati, dan kami dipaksa merayakan hari Minggu bersama orang kristen.” Bahkan dalam koran melayu “Chabar Perniagaan” yang dimodali Cina: ketika itu, orang merujuk kepada sebuah artikel dan Peraturan Pemerintah yang menurutnya kepercayaan setiap orang harus dihormati Pemerintah.

Tindakan kristen melampaui batas apa saja dapat terjadi di Hindia, terbukti dari kejadian-kejadian berikut: “Seorang residen yang baru diangkat mengadakan perjalanan kelilingnya yang pertama di daerah kristen; secara kebetulan ia harus merayakan hari Minggu di tempat yang juga didiami orang Muslim, yang bahkan memiliki pemimpin rakyatnya (burgervader) sendiri. Sang residen pagi itu ingin ke gereja, kejadian besar itu diumumkan kepada para kepala-kepala daerah. Para kepala distrik lalu mengirim surat resmi kepada kepala-kepala desa agar masuk gereja berpakaian seragam. Kepala muslim kita pun berseragam lengkap, duduk mendengarkan penolong pendeta Minggu pagi itu.”

Potret bersama rapat Sarekat Islam di Kaliwungu. Hadir para anggota dari Kaliwungu, Peterongan, dan Mlaten, serta anggota Asosiasi Staf Kereta Api dan Trem (VSTP) Semarang.

Potret bersama rapat Sarekat Islam di Kaliwungu. Hadir para anggota dari Kaliwungu, Peterongan, dan Mlaten, serta anggota Asosiasi Staf Kereta Api dan Trem (VSTP) Semarang.

Bersamaan dengan rasa kebersamaan islam-jawa itu, masuk pula faham-faham antifeodal ke dalam rakyat Jawa. Tidak bisa tidak; saat bangkitanya proletariat. ide-ide baru ini harus memasuki rakyat: jiwa ini terungkap dalam S.I. sebagai kekuatan rakyat yang mendesak ke atas, yang jalannya masih dapat diubah pemimpin-pemimpinnya dalam hal-hal kecil, namun mengubahnya secara menyeluruh mereka tidak mampu.

Jika kita mengikuti laporan-laporan tentang penghitungan rakyat oleh S.I. di Kali-Wungu, kita semakin yakin, bahwa S.I. mengarah kepada demagogi. Sebagai pembicara terhormat muncullah tuan TJOKROAMINOTO, Redaktur koran S.I.: Oetoesan Hindia. yang ternyata seorang pembicara rakyat yang ulung, dan yang dalam pidatonya menyatakan dengan jelas warna demokratisnya S.I.

Dalam replik dan duplik antara dirinya dan seorang jaksa dari salah satu tempat di daerah itu, yang terakhir ini membela mati-matian lembaga-lembaga seusia berabad-abad melawan serangan-serangan yang semakin memenangkan demokrasi. yang menemukan wakil yang tiada tandingannya dalam tuan TJOKROAMINOTO. Bahwa para pemimpinnya sangat menyadari kekuatan yang mendukung mereka, dapat kita lihat dari kata-kata benikut dalam pidato tsb,: “Harapan kita bahwa otonitas yang sah membuat kita mengerti apabila terjadi kesalahan, sebab kita dengan senang hati akan menyesuaikan diri”.

Lewat surat terbuka dalam Oetoesan Hindia, redaksi berpaling kepada Pemerintah sambil mengungkapkan ketidak-puasannya tentang cara kerjanya pegawai Eropa (a.l. seorang asisten residen), dengan mengungkapkan harapan agar pemerintah memperingatkan pegawai-pegawai itu atas tidak pantasnya cara kerja mereka.

Betapa berwibawa gaya surat itu, nadanya begitu tegas sehingga kita dapat memandang dokumen itu sebagai koreksi terhadap kebijakan pemerintah. Sejauh ini untuk pertama kali, serikat pribumi berpaling dengan bertanya langsung kepada pejabat Pemerintah tertinggi,

Apa pula yang dapat dikatakan tentang seorang pemimpin cabang S.I. yang menolak seorang kontrolir B.B. untuk menyerahkan dua anggota S.I. yang sesudah membunuh, lari menyembunyikan diri ke rumahnya, sebelum mengadakan pembelaan dengan komite sentral.

Sekali lagi, bukanlah maksud para pemimpin, bahwa S.I. melawan Pemerintah sekalipun dalam suatu tindakan yang cukup beralasan, namun yang disebut di atas ini rnenggambarkan makna, hakekat, yang dikenakan orang pniburni kepada serikatnya. terutama kepada pemimpinnya. Sidang yang dipilih rakyat pribumi dan yang lahir darinya yang sebagai pelindung berhadapan dengan gubernemen Belanda. ini salah satu contoh dari banyak lainnya.

Dan peraturan-peraturan pemerintah dalam bulan-bulan terakhir, amat sangat bersifat sedemikian, sehingga mengesankan bagi orang pribumi bahwa S.I. sepantasnyalah melawan pemerintah; mereka hanya memperlemah posisinya terhadap rakyat. Ketentuan-ketentuan seperti di Besuki mis, bahwa apabila empat anggota S.I. terlihat bersarna-sama mereka segera dapat ditangkap, tak dapat tidak membuat orang tertawa belaka.

Mengapa ketakutan itu, kecurigaan dari orang Eropa? Di Besuki perkebunan tebu telah memiliki senjata-senjata. Itukah suatu pengakuan, suatu pengakuan terpaksa bahwa apabila memang kemarahan rakyat meletus, para kepala perkebunanlah jatuh sebagai korban-korban pertama? Sekali lagi adakah ini suatu pengakuan terpaksa, dan kebenaran fakta-fakta yang ditulis dalam “Het Boek Van Siman, den Javaan”?

Nah, ubahlah keadaan kerja wong tani, maka tak akan ada lagi alasan bagi pemilik-pemilik pabrik gula dan petani tabak untuk membentengi diri dalam rumah-rumahnya. Namun bukan cuma swasta, pemerintah pun – yang (lihat pidato mahkota Gubernur Jenderal) tahu bahwa S.I. menguasai seluruh keadaan, – memperlihatkan kecurigaan dan kekhawatiran terhadap S.I. yang bekerja tak menguntungkan prestisenya. Ketika putera mahkota Solo naik kapal di Tanjung Priok untuk berlayar ke Eropa, wakil-wakil S.I. ingin menyapanya sebagai pelindung serikat, Namun dihalangi polisi. Mengapa rakyat harus dilarang menjalankan penghormatan spontan ini? Mengapa perbuatan picik terhadap suatu kenyataan sederhana, sehingga tindakan ini membawa kepada salah tafsir?

Dan masa meyakini pendapat ini meskipun salah, karena tuan TJOKROAMINOTO menganggap perlu mengatakan dalam pidato yang sudah sering disebut-sebut: “Sumpah yang kami minta sebagai syarat, hanyalah suatu janji kesetiaan terhadap statuta; tak ada yang dituntut menentang pemerintah. Ada yang mengatakan bahwa S.I. mempunyai rahasia. Ah, ada saja rahasia-rahasia di luar organisasi. Kalau pimpinan merasa kekurangan tenaga untuk mempertahankan statuta, SI. akan minta bantuan pemerintah.” Apabila gambaran yang salah itu belum masuk, mengapa ahli pidato ini menekankan kesepakatan yang harus ada antara S.I. dan pemerintah? Jiwa serikat rupanya telah menyimpang jauh dari maksud para pendiri sehingga mereka rnenganggap perlu menguraikan pendirian mereka dalam suatu pernyataan hukum: mereka menjelaskan keyakinannya:

a. Bahwa sejarah kelahiran Serikat Islam tidak ada hubungannya dengan apa yang berkali-kali dikemukakan dalam koran-koran Hindia. seakan-akan dari pihak pemerintah diadakan tekanan pada berpindahnya orang Muslim ke agama Kristen;

b. bahwa mereka dalam lingkungannya tidak menemukan bahwa usaha-usaha yang dimaksud itu (jika ada) telah menyebabkan rasa tidak senang di kalangan pribumi

c. bahwa kaum pribumi tidak dihalang-halangi dalam pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama Muslimnya, dan secara hakiki juga tidak mau dihalangi, tetapi bahwa dapat dipastikan S.I. tidak didirikan sebagai pertahanan terhadap agama kristen atau terhadap agama-agama lain apa pun;

d. bahwa masalahnya lain samasekali, terutama untuk memperoleh hubungan-hubungan ekonomi yang lebih baik oleh kerjasama, sehingga orang Jawa, Madura, Sunda dan Melayu, masing-masing sesuai kemampuannya bekerjasama demi kemajuan yang dalam tahun-tahun lampau di Hindia tak dapat diingkari, juga untuk menarik keuntungan daripadanya.

e. bahwa bangsa-bangsa di Timur di tahun-tahun terakhir dimana-mana telah maju, sehingga juga sebagian besar kaum pribumi di Jawa terbangun dan memahami bahwa hanya dengan kerja-sama (semua terikat oleh satu ikatan) dapat diharapkan hasil-hasil kemajuan;

f. bahwa serikat mengenakan nama Islam karena para pendiri mengerti, bahwa ini paling berkesan dan dengan dernikian mencapai ‘ikatan yang diperlukan” sementara selain kepentingan materiil kaum pribumi (Muslim R.), serikat bertujuan meningkatkan kehidupan beragama di kalangan pribumi Muslim tanpa perlu bersikap bermusuhan.

Namun marilah kita tinjau lebih dekat pernyataan ini.
Dalam a dijelaskan bahwa sejarah kelahiran dsb. dsb. Betul, sebagaimana saya sudah kemukakan lebih dulu: bukan pendiriannya melainkan dibanjirinya serikat, harus dipandang sebagai reaksi atas semangat kepemerintahan.

Dalam b. orang berhati-hati dan menjelaskan bahwa mereka di lingkungannya tidak menemukan rasa tidak senang terhadap tekanan (jika memang ada) untuk membuat kaum pribumi beralih ke agama kristen. Bagaimana keadaan di luar lingkungan mereka, tidak disebut-sebut, Namun bila memang diadakan tekanan dalam hal itu. pastilah terdapat rasa tidak senang, hal mana memang sangat mudah difahami.

Dalam c. pernyataan yang pasti bahwa orang pribumi dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya tidak mau dihalangi, namun segera sesudahnya kepastian bahwa S.I. bukan pertahanan terhadap agama kristen.

Dalam d. juga upaya menenangkan dan pernyataan puas kepada pemerintah dengan mengemukakan kemakmuran rakyat dan diperkuat dalam e. yang juga menyatakan bahwa karena kemakmuran inilah, timbul kebangkitannya.

Dalam f. suatu penjelasan tentang motif-motif mengapa kata Islam diambil, dan pengingkaran bahwa tujuan-tujuan keagamaan menjadi dasarnya; namun hal ini segera dibantah oleh pemberitahuan pada akhirnya: bahwa tujuan yang dikejarnya adalah peningkatan hidup keagamaan orang Muslim tanpa fanatisme terhadap yang beragama lain.

Namun dengan demikian pertanyaan tidak terjawab: apabila tujuan utama serikatnya adalah perbaikan hubungan-hubungan sosial, kepentingan materiil kaum pribumi, mengapa dibuat antitese dalam pernyataan iman, sehingga bagian besar dari penduduk asli diasingkan?

Bagaimana menafsirkan pernyataan ini? Dengan mengujinya pada kejadian-kejadian, saya beranggapan bahwa para penanda-tangan mempunyai berbagai motif.
Pertama, karena khawatir bahwa kendali penguasa atas kekuatan-kekuatan terpendam yang dibangunkannya, perlahan-lahan akan terlepas, mereka berkehendak dengan pernyataan otentik jelas-jelas membatasi tanggung-jawabnya, dan jelas tidak rnau dimintai pertanggung-jawabannya atas kejadian-kejadian yang tidak langsung mengalir dari tujuan-tujuan tertulisnya.

Kedua: Pemerintah kini ingin mereka ampuni atas tuduhan bahwa SI. oleh anutan politik pemerintah yang menyebabkan turunnya nilai rohani organisasi dengan berubahnya arah politik hal ini harus dicegah: di atas segalanya, di bawah kekuasaan klerikal kristen atau liberal, S.I. harus dapat mempertahankan dirinya sebagai perwujudan kehendak rakyat terlepas dari semangat kepemerintahan.

Ketiga: memperlihatkan kepada kita S.I. dalam bentuknya yang paling murni, yaitu yang diterangi pencerahan cita-cita para pendiri. Namun, fakta-fakta jelas tampak bagi kita, dan realitas kita lihat menyimpang dari cita-citanya.

H.O.S Tjokroaminoto (Duduk Tengah) bersama Pengurus Sjarekat Islam

H.O.S Tjokroaminoto (Duduk Tengah) bersama Pengurus Sjarekat Islam

Akhirnya apa gunanya bagi kita maksud-maksud sejumlah pribadi, apabila massa lain pendapatnya? Dan, sebagaimana TJOKROAMINOTO sendiri akui dalam pidatonya bahwa para pemimpin tidak akan mampu mengarahkan serikat ke tujuan lain apabila dikehendakinya sendiri, demi pandangan yang benar, kita jangan terlalu memandang serius penjelasan sejumlah pemimpin. sekurang-kurangnya jangan memakai pernyataan ini sebagai suatu penilaian obyektif dan dengan demikian memandang lebih rendah gerakannya.

Karena dari pengakuan itu sendiri, dan pengakuan tentang ketidak-mampuan diri sendiri untuk menghalangi atau mernbalikkan kehendak rakyat, dapat ditarik kesimpulan, bahwa jiwa serikat tidak dapat dinilai menurut ide-ide sejumlah pemimpin, Namun menurut pengungkapan-pengungkapannya.

Masalah lain adalah pertanyaan: sejauh mana para pemimpin itu bersalah, bahwa mereka kini tidak lagi menguasai keseluruhan gerakan yang mereka awali itu, sehingga kadang-kadang para anggota telah kehilangan pandangan atas statuta, dan berbenturan dengan pemerintah.

Bila kita mengikuti kejadian-kejadiannya. kadang-kadang rupanya para pemimpin tidak bersalah; bahwa mereka sekurang-kurangnya baik dalam pidato maupun dalam tulisan mendesak para anggotanya agar menjaga ketenangan dan ketertihan dalam negeri, Namun sering tindakan gegabah para pegawai Pemerintah atau berpegangnya terlalu keras pada kebiasaan lama orang Eropa atau Cina, memancing perlawanan dari atau benturan dengan S.I.

Kita juga tidak boleh lupa, bahwa pers Hindia berdaya-upaya untuk menyoroti SI. secara negatif. Bagaimana mis. tentang pembunuhan massal yang dalam bulan Agustus dilancarkan anggota S.I. di Batavia? Orang menjadi khawatir, dan Javabode dengan agitasi berlebihan, menulis tgl. 19 Agustus: “Semangat kaum pribumi, dipanasi kegilaan agama, ingin mengungkapkan diri dalam menjalankan pembunuhan massal terhadap orang Eropa. Bedebah-bedebah yang berspekulasi atas fanatisme sesamanya, bersembunyi di balik S.I. itu ingin mengadakan pembunuhan-pembunuhan demi hasil jarahan. Para saudara harus didahulukan karena S.I. dan agama Kristen dan sesudah membicarakan ketentuan-ketentuan Pemerintah, disertai pernyataan bahwa sejumlah pasukan akan siap-siaga lengkap dengan senjata, menyusul pernyataan untuk menenangkan penduduk Batavia: “Jadi tidak ada alasan sedikit pun untuk khawatir, (sic.R). Orang jangan takut untuk kejadian yang akan datang. Bayangan-bayangan yang sudah terlontar sudah memancing ketetapan-ketetapan yang sangat ketat.”

Setelah begitu dihebohkan, sekurang-kurangnya dapat dinantikan adanya bentrokan-bentrokan antara militer dan S.I.

Namun, tak terjadi apa-apa, bahkan tak ditulis apa-apa lagi tentang hal itu. Seluruh ancaman ternyata khayalan belaka; orang berusaha mengumpulkan bahan untuk incrimineren S.I.  Tgl. 29 Maret y.l. oleh Pimpinan Pusat S.I. dalam suatu audiensi, diserahkan kepada Gubernur Jenderal statuta untuk rnemperoleh hak pendirian, yang ditolak Gubernur Jenderal. yang berpendapat bahwa sebelum diberi hak berdirinya. para pemimpin harus menunjukkan sungguh-sungguh mampu menguasai gerakannya.

Mungkin saja pendirian tentang hal ini yang diambil pemerintah dapat dibenarkan berdasarkan hukum-hukum yang ada, tetapi dari sudut-pandang taktik tidak demikian.
Berdasarkan kenyataan bahwa organisasi ini suatu ungkapan dan jiwa rakyat, mestinya mereka sambut secara terbuka. Tidaklah dapat diingkari, bahwa penolakan ini menimbulkan kekecewaan di antara para anggota, dan dilihat sebagai sikap bermusuhan terhadap setiap emansipasi rakyat pribumi.

Semoga pada permohonan berikut Pemerintah berubah pendapat, sebab pemberian hak berdiri akan membawa dua akibat langsung: 1.kewibawaan moril para pemimpin diperkuat, yang memampukan mereka lebih kuat menuntut diturutinya statuta; 2. pemerintah tidak menunjukkan sikap bermusuhan dan juga tidak takut terhadap kebangkitan rakyat pribumi.

Jalan tengah untuk memberi hak berdiri kepada organisasi-organisasi lokal dan tidak kepada satu organisasi besar menurut saya akan memperlemah posisi pemerintah.
Seperti halnya setiap gerakan di negara-negara lain akan muncul pribadi-pribadi yang menginginkan lebih cepat jalannya keadaan. Orang-orang yang jiwanya mendahului masanya, namun tetap harus hadir untuk melempangkan jalan bagi massa, yang mengikutinya. Di antara pribadi-pribadi semacam itu saya masukkan orang-orang Jawa yang sudah banyak diperbincangkan seperti TJIPTO MANGOENKOESOEMO, dan R.M. SOEWARDI SOERJANINGRAT. Yang terakhir ini adalah Ketua S.I. di Bandung. Orang-orang terpandang dengan sikap kritis, memberontak terhadap pandangan-pandangan keliru dan hubungan-hubungan yang salah di negerinya.

Maka ketika pesta-pesta kemerdekaan Belanda dirayakan dengan begitu menyinggung perasaan orang pribumi, terbentuklah di Bandung suatu komite terdiri dari orang-orang pribumi yang menyebarkan brosur geincrimmeerde: “Jika saya orang Belanda….” Dapatlah dimengerti dan dimaafkan terhadap seorang anak bangsa yang tidak memiliki kemerdekaannya. Tulisan ini mestinya tidak boleh menjadi alasan bagi ditawannya kedua orang tsb. yang memiliki keberanian untuk berjuang demi cita-citanya. Lagipula dalam keseluruhan dokumen itu tak ada bekas ‘rassenhaat”. Justitie di Hindia yang mau memerangi ‘rassenhaatwekkende’ tulisan telah alpa dalam memusatkan perhatiannya terhadap artikel dalam Preangerbode: “Jika saya orang pribumi” Bodoh dan lebih menghina lagi dari lawannya, tulisan itu mencerminkan cara yang tak dapat dipercaya bagaimana orang Eropa rata-rata yang oleh pengaruh panasnya matahari tropis bertindak terhadap rakyat pribumi.

Terpaku pada kewibawaan Barat di masa ini, baginya segala yang sifatnya Hindia, rendah dan ia lupa (bahkan tidak tahu samasekali) bahwa Timur juga memiliki budaya yang sangat dihargai orang-orang Barat terhormat dan termasyur.

Dalam pamflet: “Bila saya pribumi” satu penghinaan ditumpukkan atas yang Iainnya dan berakhir dengan: “Apabila saya orang pribumi … saya ingin menjadi orang Belanda.”
Perlakuan merendahkan yang sudah dikenakan pada orang pribumi, terlalu dikenal untuk dibicarakan lebih lanjut. Namun apabila seorang pribumi bereaksi mengamuk, ía disebut: “orang Jawa yang tidak matang, setengah masak” atau “anak tropen tanpa keseimbangan dalam pikiran dan perasaan”, sebagaimana dirumuskan redaksi Soerabaiasche Handelsblad.

Bagi saya lebih dapat dimengerti bahwa pengejaran itu dilembagakan karena jiwa lndische Partij berhembus dalam brosurnya. Kalau demikian, ini satu bukti lagi bahwa sekalipun resmi sudah dibubarkan., I.P. masih tetap ada. sekurang-kurangnya ikatan jiwa yang mengikat anggota-anggota partai sehingga pada suatu hari bangkit dalam bentuk yang lain.

Betapa kelirunya akibat hukuman itu, dapat kita baca dalam Expres. TJIPTO MANGOENKOESOEMO menulis: “Ada rangsangan untuk menantang penguasa (Pemerintah) yang mengerahkan tenaganya sedemikian rupa untuk mengecilkan kami. Semakin kuat aksinya, seimbang pula kekuatan kita.”

Naif tak bertanggungjawablah para penguasa di Nederland untuk memandang TJIPTO dan SOEWARDI terpisah sama sekali dari massa rakyat Jawa, sebagai dua “true eyes” yang pikiran-pikirannya terlalu jauh terpisah dari orang Jawa biasa, untuk diperhitungkan. Hal ini juga dilihat sejumlah koran Hindia; Locomotief a.l. berkata: “Setiap permainan pemberontakan hanya akan bermuara pada sejumlah salvo. Atau bila menghendaki hasil paling baik, pada munculnya penguasa yang lain..” Kemungkinan ketiga tidak dibicarakannya: Bagaimana pun juga orang mengakui bahwa ide-ide TJIPTO dan SUWARDI, tersebar luas di berbagai kalangan. yang dapat menjadi alasan bagi suatu “permainan pemberontakan.”

Bukan, kita jangan melihat dalam kedua orang Jawa ini orang-orang sesat secara rohani di tengah hutan-rimba ide-ide Barat yang dimasuki berbagai orang Hindia yang bangkit, bukan, mereka adalah bentara-bentara yang diutus mendahului arak-arakan panjang yang akan datang. Apa tujuan akhirnya; kemana arah arak-arakan itu? Menurut saya ini tidak bisa diragukan lagi. Mungkin tidak disadari, perjuangan S.I. akhirnya akan dibimbing menurut arahan yang dikehendaki TJIPTO dan SUWARDI, betapa menghancurkan pun pandangan pers dan masyarakat.

Dalam koran Locomotief kita membaca: “Sungguh amat sangat disayangkan karena ini sangat merugikan penduduk pribumi. ini ikut merugikan suatu serikat yang murni dan berguna.”

Bahwa kedua idealis, sebab memang demikianlah mereka, lebih merugikan daripada menguntungkan diri mereka sendiri, sudah pasti. tetapi bahwa mereka telah merugikan kepentingan S.I. tidaklah jelas. Justeru oleh selingan yang kurang menyenangkan ini dalam kehidupan politik, mereka telah memberi pelajaran kepada pemimpin-pemimpin S.I. untuk berhati-hati. Bagaimana para pemimpin menanggapi isyarat ini baru kita tahu kemudian.

Namun bahwa evolusi S.I. kini sudah dibatasi, kenyataannya didiamkan. Saat-saat yang sulit akan dihadapi wakil-wakil penguasa Belanda di Hindia.: politik kolonial telah memasuki tahap yang baru. Di samping pandangan dan keinginannya, Pemerintah kini juga harus mempertimbangkan pandangan rakyat Hindia, yang diwakili pimpinan S.I. Pada pandangan pertama kesannya situasi tidak sehat berupa “adanya negara dalam negara”, pada tinjauan selanjutnya sebenarnya ini langkah besar maju menuju “Parlemen Hindia”, jadi sangat rasional.

Pada akhir usahanya, saya tak dapat tidak memberi sekedar pandangan atas aliran-aliran pada urnumnya yang muncul di Hindia.

Kini bukan pertanyaan lagi apakah Hindia matang untuk pemerintahan sendiri, soalnya hanya apakah Hindia berhak atas pemerintahan sendiri. Dan jawabannya tak bisa tidak ya; juga politisi Belanda yang punya wibawa beranggapan, bahwa satu-satunya kewajiban yang dipikul Belanda adalah: mendidik Hindia untuk berdiri sendiri sebagai bangsa. Jadi sekiranya hak otonomi bagi Hindia suatu fakta yang tak terbantahkan maka haruslah diperjuangkan setiap upaya yang mendorong hal tsb.

Dan begitu “disayangkan” bahwa pemerintah bersikap sangat tidak bersahabat terhadap lndische Partij; ketika ungkapan partai itu penuh gejolak, mestinya diredakan; karena dengan pembubaran I.P. telah diadakan pemilihan di kalangan pribumi dan Indo terhadap pemerintah. Terutama yang terakhir ini, merasa dilupakan oleh tanah air. Siapa yang meragukannya, carilah saja suatu karya ilmiah tentang “Masalah Indo.”

Bila professor SNOUCK HURGRONJE dalam serangkaian ceramah membahas masalah Islam, pantaslah orang memberi lebih banyak perhatian terhadap soal yang sama pentingnya: masalah Indo. Praktek telah membuktikan bahwa hal ini patut diperhatikan, bahwa sang Indo tak mesti disisihkan bagaikan jumlah yang boleh diabaikan dalam politik kolonial, dan bahwa dalam perlakuan keliru unsur Indo masih lebih berbahaya dari yang pribumi, karena sang Indo tidak memiliki kesabaran dan ketakwaan seperti yang dimiliki orang Jawa.

Dalam suatu artikel Gids berkatalah tuan VAN DEVENTER merujuk kepada masalah Islam: “Hendaknya Belanda diperingati dan bangun, sebelum terlambat”. Kata-kata ini ingin juga saya terapkan pada masalah Indo.

Bermimpi tentang suasana berpikir di Hindia kini, amat sangat optimis. Telah muncul semangat ketidak-puasan orang tidak puas dengan ketertiban yang ada, tidak puas dengan tanah air dan :kerusuhan serta permainan revolusi merupakan pendahuluan dari hal-hal yang akan datang, kecuali tangan besi membanting stir dan mengarahkan kapal politik kolonial ke pelabuhan yang aman.

Karena, sekalipun tuan NOTOSOEROTO menulis dalam salah satu tulisannya bahwa nada dasar dan perasaan kaum pribumi di Nederland itu: ‘bersimpati terhadap Belanda dan orang Belanda”, apa artinya jumlah kecil itu ketimbang jutaan di Hindia sana.

Selama situasi disana tidak diperbaiki, bukan saja untuk sejumlah kaum intelektual namun bagi semua orang yang terlahir dalam perjuangan hidup dan menggulati prasangka dan posisi hukum yang tak menguntungkan, selama itu tetap ada ketidakpuasan.

Bukanlah di Belanda harus terlaksana perbaikan terhadap penyakitnya, bukan saja upaya melancarkan aliran orang Hindia ke Belanda yang akan membelokkan bahaya (sebelum tercapai jumlah secukupnya disini, mungkin sudah terlambat), namun di Hindia sendiri orang harus mulai dengan perubahan mendasar yang menuntut kepatutan.

Disana, bahan bakar harus dijauhi dari apinya; orang harus membasmi hal-hal yang bisa menjadi penyebab arak-arakan yang diumumkan dua bentara agar dapat lewat bagaikan mimpi buruk yang menakutkan bagi rakyat Hindia dan Belanda.

Bahwa kelak akan tiba waktunya bahwa Hindia berdiri sendiri sebagai bangsa, sudah pasti. Sejarah tak dapat membuktikan adanya satu bangsa pun yang dikuasai secara abadi. Semoga perpisahan yang tak terelakkan itu bersahabat sifatnya, agar sesudahnya tetap berlangsung jalinan unsur-unsur budaya yang nyaman antara Hindia dan Belanda yang berabad-abad lamanya pernah dipersatukan oleh sejarah.

AMSTERDAM, November 1913.

XX

Sam bersama kawan di Nederland

Sam bersama kawan di Nederland

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di TondanoSulawesi Utara5 November1890 – meninggal di Jakarta30 Juni 1949 pada umur 58 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi UtaraIndonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (Sekolah Raja:setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, Jakarta pada tahun 1908. Pada tahun 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919.

Sam Ratulangi juga merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama. Ia meninggal di Jakarta dalam kedudukan sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano. Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Manado yaitu Bandara Sam Ratulangi dan Universitas Negeri di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi.

XXX

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PARA PENYEBAR KEBOHONGAN

Tulisan ini didedikasikan teruntuk para penyebar kebohongan (yang menyadari atau tidak), serta mereka yang terganggu karenanya, atau bagi mereka yang tak peduli sekalipun.

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

Seorang anak gembala mengembalakan dombanya di dekat hutan, awalnya ia merasa murung karena harus sendirian menunggui domba-domba, jauh dari perkampungan. Dia merasa terhibur  dengan memikirkan berbagai macam rencana. Akan terlihat lucu, apabila dia berpura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang-orang desa datang untuk membantunya.

Ia pun berlari ke arah desa dan berteriak sekeras-kerasnya, “Serigala, serigala! Tolong, ada serigala.” Terik anak gembala tersebut. Seperti yang diduga orang-orang desa meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari kearah gembala tersebut untuk membantunya.

Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang desa itu. Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, “Serigala, serigala!” Kembali orang-orang desa datang menolongnya, tetapi mereka hanya menemukan anak gembala yang terbahak-bahak kembali.

Sampai suatu hari, gerombolan serigala benar-benar datang dan menyambar domba-domba. Dalam ketakutannya, ia berlari ke arah desa dan berteriak, “Serigala! Serigala!” Tetapi walaupun orang-orang desa mendengarnya berteriak, mereka tidak datang membantunya. “Dia tidak akan bisa menipu kita lagi,” kata orang-orang desa itu.

Ketika para serigala itu akhirnya menerkam dan memakan domba-domba, lalu mereka kembali ke dalam hutan, sedang si anak gembala hanya dapat duduk dan menangis dengan penuh sesal. Ini adalah dongeng Jerman, tentang dampak buruk berbohong. Tampaknya, di Jerman dimana negera memiliki ingatan kolektif yang kuat, kisah seperti ini dapat dijadikan pelajaran.

Lain pula di negeri ini, masa orde baru. Ada sebuah cara melembagakan bohong, seorang tahanan mati disiksa, dan aparat akan mengumumkan, si tahanan tewas jatuh tergelincir sabun. Seorang lain yang terbunuh dalam sel disiksa interogator, dan maklumat resmi disiarkan akan mengatakan si mati karena sesal yang besar selama di penjara, telah loncat lewat jendela dari tingkat atas dan terjerembab di pelataran.

Orang yang membaca koran tahu bahwa pengumuman itu tak dapat dipercaya, juga para petugas itu sendiri. Tapi, mereka juga tahu tak seorang pun akan menentang kebohongan itu. Orang yang menentang tak punya tempat menyatakan pendapat. Para pembangkang berada dalam bui atau gelisah di negeri asing.

Vrouw van Teukoe Panglima Polim te Sigli

Vrouw van Teukoe Panglima Polim te Sigli (1903)

Ketika zaman sensor berlalu, kita menghadapi kecanggihan teknologi. Berita dengan mudah menyebar dan diterima masyarakat. Namun kemudahan akses ini kerap disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan berita hoax atau palsu demi kepentingan pribadi atau tujuan tertentu. Sementara itu, mereka yang menyokong dan menikmati kebohongan itu terus makan, bersetubuh, bekerja, main bola, piknik, tanpa peduli benar.

Beberapa waktu lalu beredar foto yang menyatakan Cut Nyak Dien sebenarnya berjilbab, namun foto yang digunakan adalah foto istri Panglima Polim yang diambil oleh Belanda beliau menyerah kepada Belanda ditahun 1903.

Kenyataan yang sebenarnya, Belanda tidak memiliki foto Cut Nyak Dien ketika muda, satu-satunya foto yang sempat di dokumentasikan adalah ketika beliau tua, buta dan kalah. Saat beliau menangis dikhianati, diringkus oleh Belanda. Bisa jadi Cut Nyak Dien aslinya adalah mirip pakaiannya dengan istri Panglima Polem, namun menggunakan foto orang lain sebagai propaganda adalah penipuan sejarah. Apapun itu, segala jenis penipuan meski ditujukan dengan tujuan baik adalah SALAH.

Foto setelah penangkapan Cut Nyak Dien (1904)

Foto setelah penangkapan Cut Nyak Dien (1904)

Ironisnya, berbondong-bondonglah orang menjadi corong kebohongan, para penyebar kebohongan ini, sayangnya adalah mereka yang berpendidikan (Guru, dosen, sahabat dll). Tanpa pikir panjang, langsung berbagi. Ada banyak kasus lain, mereka membagikan dengan bangga. Oleh yang mengetahui, mereka ditertawakan, direndahkan. Namun mereka tak peduli, merasa ada di jalan kebenaran. Dapat kita simpulkan mereka yang membagikan file yang salah tersebut adalah, JAHAT (mengetahui kebenaran), atau TOLOL (ditipu).

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

Kini dusta dan manipulasi dilakukan tanpa peduli itu. Faktor yang baru dalam komunikasi politik yang sarat dusta kini adalah kecepatan. Teknologi, dengan Internet, membuat informasi dan disinformasi bertabrakan dengan langsung, dalam jumlah yang nyaris tak terhitung, menjangkau pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Bagaimana untuk membantah? Bagaimana memverifikasi?

Pernah zaman ini mengharap Internet akan membawa pencerahan. Informasi makin sulit dimonopoli. Ketertutupan akan bocor. Dialog akan berlangsung seru. Yang salah diperhitungkan ialah bahwa media sosial yang hiruk-pikuk kini akhirnya hanya mempertemukan opini-opini yang saling mendukung. Yang salah diperkirakan ialah bahwa dalam banjir bandang informasi kini orang mudah bingung dan dengan cemas cenderung berpegang pada yang sudah siap: dogma, purbasangka yang menetap, dan takhayul modern, yaitu “teori” tentang adanya komplotan di balik semua kejadian.

Tak ada lagi Hakim dan Juri yang memutuskan dengan berwibawa mana yang benar dan yang tidak, mana yang fakta dan mana yang fantasi. Media, komunitas ilmu, peradilan: semua ikut kehilangan otoritas, semua layak diduga terlibat dalam orkestrasi dusta yang luas kini.

Berbeda dengan politik di zaman yang terdahulu. Dulu kebohongan juga disebar dan dikomunikasikan, namun dengan argumen yang mengacu pada kebenaran, meskipun kebenaran yang lemah dan hanya lamat-lamat. Dulu diam-diam masih ada pengharapan bahwa dusta yang diucapkan itu, melalui waktu dan adu pendapat, akhirnya akan bisa diterima siapa saja. Ketika para propagandis Nazi berpedoman bahwa “kebohongan yang terus-menerus diulang akan jadi kebenaran”, orang-orang Hitler itu sebenarnya masih mempedulikan kebenaran, meskipun dengan sikap kurang ajar dan sinis.

Dan agama? Yang tak disadari kini: agama telah mengalami sekularisasi, ketika Tuhan jadi alat antagonisme politik, bukan lagi yang Mahasuci yang tak dapat dijangkau nalar dan kepentingan sepihak. Maka yang dapat kita lakukan hanyalah, bersedih tak lebih.

Seorang manusia (baik) tak dapat menghalalkan tindakannya menyeleweng dengan alasan lawan-lawannya juga berlebih-lebihan. Merupakan tugasnya untuk memasang ukuran moral, untuk membangun jembatan kearah lawan-lawannya.

Posted in Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Menulis kenangan berupa memoir punya kelemahan, dimana ingatan telah dipengaruhi sejarah dan kronologi yang terjadi sesudahnya. Dimana perasaan, pengetahuan dan penalaran  anak berumur 6 tahun tentu berbeda ketika ia berumur 32 tahun, namun sekali-kali ada perlunya ketika akhirnya harus bercerita tentang masa silam yang tak lagi tertengok, sebagai nostalgia sekaligus pengingat mereka yang tiada lagi.

Kabong, liburan sekolah, 1991

“Nek!” Panggil Abu, sambil mengejar Nek Juz yang berjalan cepat. Ia menoleh, adalah adik terakhir nenek Abu masih remaja, dari ayah yang berbeda. Ia memiliki tenaga yang kuat, layaknya laki-laki, Nek Juz ahli memanjat batang kelapa, tenaga kuda kata mama Abu.

“Abu kamu lihat pohon itu?” Ia berhenti sambil menunjuk. “Sepuluh orang kampung pernah mencoba melingkarinya sambil memeluk, tapi tak sampai. Mungkin pohon itu sudah tumbuh sejak zaman Belanda.” Ia tertawa dalam perjalanan kami menuju sawah.

Kalau Abu mengingat betapa besar lingkar pohon tersebut, jangankan Belanda. Mungkin pohon tersebut sudah ada bahkan sebelum Kesultanan Aceh berdiri di abad ke-13 lalu.

Kabong, sekitar 9 kilometer dari Calang. Tahun itu merupakan lanskap yang tak akan berulang, foto-foto keadaan serupa mungkin hanya ditemukan disitus Belanda www.kitlv.nl/ tentang keadaan Aceh pada masa-masa colonial, Hindia nan moelek, ketika itu Republik Indonesia sudah merdeka 45 tahun, tapi baru setahun pesisir Barat Aceh dibebaskan oleh gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan dari rakit.

Amboy, telah berdiri jembatan disetiap sungai sepanjang jalan dari Banda Aceh ke Meulaboh, perjalanan yang sebelum tahun 1990 menghabiskan waktu seminggu, dipangkas menjadi hanya setengah hari. Terima kasih Pak Ibrahim Hasan!

Pesisir Barat mungkin tertinggal (ketika itu), tapi gembira. Di bayang-bayang pepohonan yang lindap, beberapa kilometer dari jalan hitam (aspal) ada kesejukan datang bersama terpaan angin berhembus. Pagi itu, berguguran di atas jalan kecil butiran embun berupa titik-titik hitam. Sementara itu, dahan-dahan pohon seakan gemetar oleh suara gaung suara yang mengigilkan jantung Abu, dengus suara yang terdengar begitu menakutkan itu keluar dari sekawanan kerbau hitam, berpasasan dengan kami. Abu, 6 tahun anak kota Banda Aceh yang sedang berlibur di kampung itu, ketakutan bersembunyi di belakang Nek Juz.

“Nek, mengapa kerbau sangat besar?” Abu belum pernah melihat makhluk sebesar itu. Sekumpulan monster ganas dengan tanduk-tanduk setajam tombak.

“Entahlah Abu, mungkin mereka sepupu Dinosaurus. Kamu bahkan belum bertemu gajah Abu, mereka lebih besar, kuat dan perkasa!” Nek Juz tertawa, ditatapnya Abu dengan mata sinar gembira.

“Benarkah nek?” Bayangan Abu tentang gajah, adalah Bona si belalai panjang, sahabat Rong-Rong yang rutin Abu baca di majalah Bobo.

“Kalau ada manusia yang jahat, niscaya gajah akan menginjaknya, kaki mereka sangat besar.” Nek Juz tertawa lepas. Tahun 1991 merupakan penghujung abad ke-20, Nek Juz lebih dekat ke masa lalu, masa-masa abad ke-19. Masa-masa kuno dan penuh aura mistis, yang mungkin sulit ditemukan lagi di abad ke-21 ini, sekarang bentuknya seperti patung es yang telah mencair. Tak terbayang (lagi), namun berbekas.

Kami berjalan terus, dibalik hutan gelap itu bertebaran hamparan kuning padi menyelimuti bumi, menyerupai sebuah tumpukan selimut yang tampak bergelombang dan menari-nari bersama angin. Di jambo (pondok kecil) telah menanti Nek Nyang, ibu dari Nek Juz dan nenek Abu, nenek kuadrad (pangkat 2). Ia melambai, seraya tangan masih memegang tali yang menghubungkan dengan orang-orangan sawah, jika di tarik kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang digantungkan pada orang-orangan sawah akan berbunyi mengusir burung-burung pipit yang mencoba memakan padi.

Di belakang persawahan jauh memandang terlihat gunung-gunung hijau tinggi perkasa. Serombongan orang berbaju gamis putih berjalan cepat di pematang sawah. Menuju arah pegunungan, dunia macam apa yang ada disana. Fantasi Abu tak menjawab.

“Untuk apa mereka kesana nek nyang?”

“Menuntut ilmu pada nenek.” Kata Nek Nyang, dan Abu bingung.

“Abu, yang dimaksud Nek Nyang, nenek itu harimau.” Sambung Nek Juz.

Abu terdiam, sebelum pulang kampung, guru mengaji Abu pertama, ayah yang tidak ikut sudah mengingatkan. “Abu nanti di kampung mama, mereka mempercayai mistik, dalam hal ini kamu harus menampik.”

Ayah kelahiran Anuek Galong (Aceh Besar), anak dari seorang ulama PUSA. Keluarga ayah lebih ketat dalam hal-hal yang dianggap musyrik. Sebaliknya mama kelahiran Krueng Sabee (Aceh Barat, sekarang Aceh Jaya), merupakan keluarga muslim yang lebih dekat dengan tradisi-tradisi lama. Ketika dua orang berbeda pendapat bertemu dan disatukan oleh Allah S.W.T, Abu berpikir inilah misteri kekuatan cinta yang sumbernya dari IA yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tapi  (hampir) semua orang- orang miskin yang bekerja membanting tulang cenderung  sangat percaya pada tahayul. Dalam hal ideologi Abu lebih (berusaha) dekat ke ayah, namun Abu kecil ketika menatap pegunungan itu sering berkhayal, dunia macam apa yang ada di balik pegunungan.

Mungkinkah ada pertapa sakti, manusia setengah harimau seperti yang diceritakan. Di balik kungkungan awan, berlapis-lapis gunung terjal, di sambung lagi dengan gunung terjal lainnya. Di bawahnya, seorang maha guru sakti seperti Arya Kamandanu, tinggal di dunia damai, bersama lembah hijau bersama rumah kayunya. Sebagai manusia mix culture, Abu tak berkuasa penuh menampik.

Ingat, Abu masih 6 tahun. Hal yang rumit ini hanya sesaat menjadi perhatian. Abu kemudian berlari-lari di pematang sawah, mengejar lebah, kupu-kupu,(terutama) belalang serta apapun yang ada disitu, ketika Nek Nyang meminta Abu mengusir burung-burung pipit di sawah. Abu berteriak keras, “burung pergi, jangan makan padi kami, padi tetangga kami, kami perlu padi!” Burung-burung tak peduli, tetap makan mendengar teriakan.

“Boleh juga makan burung, tapi jangan banyak-banyak ya.” Abu menyerah sekaligus tertawa, Nek Nyang dan Nek Juz tertawa, tetangga-tetangga di jambo (pondok) lain juga tertawa. Kami bergembira. Hari ini, dua puluh lima tahun kemudian, mengingat hari itu, mata Abu berkaca-kaca.

Ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya agenda besar.

Hari sudah siang, Abu dipanggil makan. Abu balik sebentar minta disuap lalu berlari, kemudian balik mengambil sesuap untuk lari lagi. Ibarat mesin, jangan ragukan baterai yang dimiliki anak-anak, mereka sanggup berlari sepanjang hari. Tiba-tiba dari jambo (pondok) lain dalam sirkuit pematang sawah, Abu dipanggil. Ternyata disana Nek Nyang dan seorang temannya, nenek-nenek juga.

“Abu makan jangan sambil berdiri, apalagi berlari,”

“Kenapa?”

Nek Nyang menatap temannya. “Kalau Abu makan sambil berdiri nanti kaki Abu akan besar, seperti kaki gajah, seperti nenek ini.”

Teman Nek Nyang menyingkap sarung dan mengeluarkan sebelah kakinya, sebesar paha. Abu masih tidak percaya dan bertanya, “betul nek?”

Nenek itu mengangguk. Abu diam, ia menatap Abu. Mata beliau tak akan pernah Abu melupakan. Pandangan yang penuh harga diri namun terluka, pandangan dari mereka yang dikalahkan di dunia, seperti tatapan gajah sebelum dieksekusi pemburu, berkali-kali. Abu selalu terenyuh pada mereka-mereka yang kalah dan disingkirkan, langsung duduk dan memegang kaki nenek itu,

Ia terkejut, atas ketidakjijikan Abu. “Ini namanya penyakit kaki gajah, ini karena nenek waktu muda suka makan sambil berdiri.” Abu sebenarnya tidak percaya karena merasa yakin pernah membaca tentang penyakit ini, ini karena kurang makan garam, namanya gondok.

Kelak di kemudian hari Abu baru tahu bahwa penyakit itu memang bernama kaki gajah. Dengan penyebab berbeda dari yang Nek Nyang ceritakan, tentu itu agar Abu tak makan sambil berlari. Tentang gondok, saat itu Abu berumur 6 tahun, sudah bisa membaca saja sudah hebat. Tentunya harus di maklumi jika (saat itu) Abu salah mengingat apa yang dibaca saudara-saudara se-Nusantara.

“Berarti nenek hebat, kalau ada yang ganggu nenek injak saja dengan jurus kaki gajah!” Kehidupan tanpa humor sangat melelahkan. Sebagaimana keceriaan itu palsu tanpa lelucon, tapi humor terbagus di keadaan mana pun akan datang dari bawah. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah

Ia tersenyum dan membelai kepala Abu, seraya membaca mantra, doa Arab dan kata-kata berbahasa Aceh bercampurbaur dengan kata-kata kuno yang tidak Abu pahami.

Abu ingat ayah, “tampik!” Bukannya tidak menghormati ayah yang mengajarkan agama. Tapi tak tega, akhirnya Abu membiarkan saja. Perjalanan hidup kemudian membuat Abu mempelajari tauhid, science, sastra, sejarah dan apapun (meskipun sedikit-sedikit). Tampaknya, dari hari itu Abu belajar bahwa yang paling penting bukan keunggulan diri, manusia memperumit dirinya jika ia merasa memonopoli kebenaran, apa yang Abu teorikan belum tentu menjadi jawaban terakhir, apa yang menjadi tahayul tidak serta-merta Abu salahkan sebagai keterbelakangan. Abu menolak merasa menjadi orang yang paling benar, sebagai produk kebudayaan mungkin Abu lemah, mudah dipengaruhi oleh apapun. Satu-satunya keberanian Abu hanyalah rasa ingin tahu.

Di zaman modern mungkin ini naif, gagap menghadapi perubahan zaman, seperti para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi. Tapi apakah hidup harus selalu tentang kemenangan ekonomi?

Biarlah para dewasa mengejar apa yang ingin mereka kejar. Abu lebih ingin mencintai keasyikan ilmu pengetahuan, ilmu yang dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub, menyatakan betapa ia, bak seorang anak, terkesima melihat belalang. Belalang adalah “keajaiban di tiap petak sawah.” Siapa yang tak mengenalnya maka “telah” melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar.

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

(Bersambung)

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

TOLERANSI

Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

17 Agustus 1945. Hari sudah sore, Muhammad Hatta mendapat telepon dari Nishijama, pembantu Admiral Maeda, yang menanyakan apakah ia (Hatta) mau bertemu seorang opsir. Hatta mempersilakan, opsir tersebut memberitahu bahwa wakil Protestan dan Katolik, berkeberatan terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, yang berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Mereka mengakui bahwa kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya yang beragama Islam, tetapi tercantum kalimat tersebut dalam dasar yang menjadi pokok UUD berarti mengadakan diskriminasi terhadap golongan minoritas, dan jika itu ditetapkan, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Hatta menjelaskan, bahwa itu bukan diskriminasi. Sewaktu menetapkan Pembukaan UUD itu, Mr. Maramis (wakil Kristen) ikut dalam panitia Sembilan, tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni 1945 ikut menandatangani. Waktu itu Mr. A.A Maramis Cuma memikirkan, bahwa kalimat itu hanya untuk rakyat Islam dan tidak mengikat agama lain. Karena opsir tersebut berkeras. Hatta terbayang, apakah Indonesia merdeka yang baru saja dibentuk akan pecah kembali? Maka ia berjanji, besok hari dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan akan mengemukakan masalah yang penting tersebut.

Hatta, mengangap ini merupakan masalah serius. Esok paginya tanggal 18 Agustus 1945, sebelum siding bermula. Ia mengajak wakil-wakil Islam dalam PPKI. Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Mr. Teuku Muhammad Hasan mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya bangsa Indonesia tidak pecah. Dalam Memoir Mohammad Hatta yang diterbitkan PT. Tintamas Indonesia tahun 1979 (Halaman  458-461) Hatta tidak merinci detil percakapan mereka, namun mereka sepakat menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan mengantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan yang disetujui kelima orang tadi, yang disebut Hatta sebagai “Toleransi pemimpin-pemimpin Islam” disetujui secara bulat oleh sidang lengkap PPKI. Sesudah itu dilanjutkan dengan pembahasan UUD seluruhnya dengan mengadakan sedikit perubahan di sana-sini yang tidak prinsipil.  Yang prinsipil hanyalah perubahan dalam Pembukaan yang tersebut tadi, yang diterima dengan suara bulat.

Dan sejarah Republik Indonesia pun berlanjut.

Sumber Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

Toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah n (noun) pada point 1 sifat atau sikap toleran : dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh -2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan ; -3 Penyimpangan yang masih diperbolehkan.

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

PUISI

di puncak-puncak berhembus suasana damai

di puncak-puncak berhembus suasana damai

di bawah langit yang luas dan penuh bintang

akankah makam membiarkan aku berbaring

sebagaimana hidup sebagaimana kematian

akankan aku berbaring dengan kenang-kenangan

 

aku kadang-kadang membayangkan tidak akan merah

sebagaimana para syuhada yang dimakamkan berdarah-darah

hanya bunga air, yang ada di semua taman

ditaburkan pelan, indah lalu layu

 

yang gagal, kemudian menemukan kenangan manis

yang pernah tersandung, berjalan berhati-hati

yang tahu dimana harus menangis tanpa diketahui

yang mencoba tidak salah melangkah

 

meski jasad tertidur, jiwa terjaga

ikhtiar belajar dari pola-pola kesalahan lampau

kebenaran tak pernah menjadi anugerah tanpa

kesedihan dan kesalahan jiwa

 

sungguh aneh aku melihat aku

menjadikan malam ini menjadi sendu

lebih ganjil lagi aku merasa hidup ini

memiliki hutang untuk dibayarkan

 

layaknya samudera di pasir pantai

mengisi air dengan telapak tangan, seribu kali

dan kemudian air semua tumpah

pasir pantai kering, lautan terisi

 

ada banyak hal indah di langit

dan bumi van

melebihi mimpi-mimpimu, dan

atau filsafatmu

 

di puncak-puncak berhembus suasana damai

 

Bait Al-Hikmah,

8 Safar 1438 Hijriah bertepatan 8 November 2016

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment