HOKI

Barang siapa yang meragukan adanya keajaiban, boleh belajar dari Portugal.

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Tidak pernah menang di babak penyisihan grup, Portugal diuntungkan dengan penambahan peserta di Euro 2016 sehingga lolos ke babak perdelapan final. Jalan Portugal menuju final bagai tertatih, hebatnya setiap kali mereka hendak terjatuh mereka selalu dapat bangkit.

Menjelang Final Euro 2016, Perancis lebih diunggulkan untuk menjadi juara terutama setelah menyingkirkan Juara Piala Dunia 2014, Jerman secara meyakinkan di babak semifinal. Terlebih mereka berlaga di negera sendiri, di bawah tatapan langsung rakyat Perancis. Di atas kertas Portugal lebih lemah, tapi sepakbola itu ditentukan di lapangan hijau.

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Skuad Portugal sendiri tak semewah tahun 2004, dimana mereka menjadi tuan rumah dan masuk final. Luis Figo, Rui Costa, Deco dkk sudah pensiun.

Lisbon, 4 Juli 2004. Tuan rumah Portugal secara mengejutkan kalah (lagi) dari Yunani. Cristiano Ronaldo yang saat itu berumur 19 tahun tampil selama 90 menit penuh, di akhir pertandingan ia menangis, lebih dari sekedar terisak-isak. Waktu itu generasi emas Portugal gagal.

Paris, 10 Juli 2016. Ronaldo kembali ke final, ia telah menjadi laki-laki dewasa, dengan ban kapten. Ia adalah protagonis Portugal, bukan lagi sekedar pemain muda berbakat. Stade de France, menit 25. Ronaldo termangu, tatapan matanya kosong. Syahdu, orang ini tahu dirinya takkan bisa melanjutkan pertandingan. Ketika ia ditandu keluar, sepertinya nasib Portugal sudah habis.

Memento, Final Piala 1998  vs Brazil (Luiz Nazario “Ronaldo” De Lima tergeletak dihajar Fabian Barthez dan Laurent Blanc) dan Final Piala Eropa 2000 vs Italia (hidung Fransesco Toldo berdarah diterjang David Trezeguet) seolah bakal terulang. Jalan Perancis menjadi juara seolah sudah terbuka lebar. Tapi, rencana boleh menjadi konstanta, namun dalam realisasi ada faktor hoki. Dan itu tak terduga.

Gempuran demi gempuran terus dilancarkan Perancis, Pelatih Fernano Santos sampai terkulai di bangku cadangan. Waktu terus berjalan, 45 menit pertama Portugal masih bisa bertahan, 45 menit kedua Portugal masih bernyawa. 15 menit pertama, Portugal mulai melakukan serangan-serangan sporadis, dan menit ke 109 pemain penganti Eder membobol gawang Perancis yang dikawal Hugo Lloris melalui tendangan dari luar kotak penalti. Sampai Mark Clattenburg meniup pluit berakhirnya pertandingan tidak ada gol yang tercipta. Sahlah, Portugal menjadi juara Eropa 2016.

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Jika anda menyaksikan Euro 2016 sedari awal, pasti tahu betapa tebalnya hoki Portugal.

Kembali ke tahun 2004. Hari itu minggu pagi, 26 Desember. Martunis (7 tahun) berencana bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan sepakbola kampung. Ia bahkan sudah memakai kostum tim nasional Portugal bajakan (Nomor 10 Rui Costa) yang dibeli di pasar kota Banda Aceh. Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Ia bersama ibu, kakak laki-laki Nurul A’la (12 tahun), dan adiknya Annisa (2 tahun) berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pick up tetangganya.

Saat digulung tsunami, pick up pun tenggelam. Martunis, ibu dan dua saudaranya tenggelam. Ibu, kakak dan adiknya pun hilang terseret arus tsunami, berpisah selamanya. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung. Kemudian ia berpindah ke Kasur yang melintas, yang naas tenggelam. Lalu ia memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Ia terseret kembali arus ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Syiah Kuala. Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia ke awak televisi Inggris yang kebetulan sedang meliput di wilayah itu. Dalam sekejap wajah Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal, beredar di stasiun televisi Eropa.

Martunis dan Ronaldo

Martunis dan Ronaldo

Ia menarik simpati bintang top sepakbola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes,  Cristiano Ronaldo. Akhirnya Federasi Sepakbola Portugal mengundang secara resmi Martunis ke negaranya. Cristiano Ronaldo sendiri secara khusus datang ke Aceh, ia mengajak Martunis menyaksikan langsung laga pra-kualifikasi Piala Dunia 2006 Portugal vs Slowakia (2-0) 4 Juni 2005 di Estadio da Luz, Lisbon.

Tak berhenti sampai di situ, Cristiano Ronaldo pun menjadikan Martunis sebagai anak angkat. Kini Martunis bocah telah menjelma sebagi remaja, ia berada di akademi Sporting Lisbon, klub yang sempat dibela Ronaldo. Ketika Final Euro 2016 berlangsung, Martunis sendiri telah berada di Banda Aceh, dalam rangka liburan. Bertepatan dengan suasana Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah.

Ada kekuatan dalam memberi. Semakin banyak memberi maka semakin berlimpah rezeki yang dibalaskan Allah S.W.T. Kita bisa melihat pelukan Cristiano Ronaldo ke Martunis sebegitu tulus, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki. Cristiano Ronaldo memiliki kecenderungan simpati kepada mereka yang “teraniaya”, seperti yang ia tunjukkan kepada Martunis, kepada Palestina. Itu semua menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang lembut. Hati mereka yang pernah diabaikan, direnggut dan dikalahkan oleh dunia.

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Kembali ke final Euro 2016. Kisah malam itu, layaknya perjuangan Martunis untuk selamat dari tsunami. Bahwa hidup dan harapan layak dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ketika ditinggal Ronaldo, jagoan nomor 1 mereka, justru Portugal bermain sebagai sebuah kesatuan. Pragmatis dan tidak menghibur. Tertekan sepanjang pertandingan, bahkan harus menunggu hingga menit ke-80 untuk dapat melakukan shoot on target ke gawang Perancis. Ajaibnya, efektif berhasil menghadirkan trofi Internasional pertama bagi Portugal.

Hoki Portugal malam itu, mungkin karena doa Martunis.

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MEMBAKAR BUKU MEMBUNUH INTELEKTUAL

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Hari itu, 10 Februari 1258. Hulagu Khan cucu Jenghis Khan, pimpinan sayap militer Kekaisaran Mongol, Ilkhanate dibantu oleh Kerajaan Georgia, dan Kepangeranan Antioch (Crusaders) merangsek masuk dalam ke kota Baghdad. Pasukan Kekhalifahan Abbasiyah yang hanya dibantu oleh Dinasti Ayubbiah telah hancur total. Kota itu sendiri dijarah dan dibakar, mayoritas penduduknya, termasuk keluarga Khalifah al-Musta’sim, dibantai habis. Bau busuk yang dari mayat-mayat yang tidak dikubur dan bergeletakkan di jalanan.

Perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, termasuk Bait al-Hikmah, tak luput dari serangan pasukan ilkhanate, yang menghancurkan perpustakaan, membakar dan membuang buku-bukunya yang berharga ke sungai Tigris. Sungai yang melintasi kota Baghdad itu berwarna merah darah bercampur hitam.

Invasi Mongol membuat pusat-pusat kebudayaan Islam Timur hampir disapu bersih. Yang tersisa adalah gurun-gurun telanjang atau puing-puing berantakan bekas istana kenegaraan dan perpustakaan. Masjid-masjid yang termasyur sebagai pusat ibadah dan pengetahuan, dijadikan kandang kuda oleh pasukan Mongol.

Ibn al-Atsir, yang menyaksikan, merasa ngeri dan berharap seandainya ibunya tak pernah melahirkannya untuk menyaksikan horor Mongol. Akibat dari penghancuran ini, Baghdad menjadi reruntuhan, penduduknya tersisa sedikit selama beberapa abad, seluruh buku-buku hasil intelektual berabad-abad lamanya, tak bersisa. Dan peristiwa ini oleh banyak peneliti disebut sebagai akhir zaman keemasan Islam.

Sejarah, adalah sekumpulan tulisan. Dalam hal ini saya meskipun berlinang air mata mengenang penghancuran Baghdad, saya mencoba tidak mendendam pada Mongol dan sekutunya. Akan tetapi sebagaimana buku-buku yang telah menjadi abu. Sebuah bangsa telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Oleh karena itu, sebagaimana saya meyakini tidak ada satu orang manusia layak untuk dibunuh, saya meyakini tak ada satu buku pun yang layak dibakar (dimusnahkan).

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Buku adalah tempat kita merawat ingatan. Dimana ada kitab-kitab yang dibakar, disana ada manusia yang dibungkam, gema dari yang tertindas dan tak diizinkan bersuara. Tak ada percakapan yang berlanjut dan tak harus mufakat. Menyisakan negeri berbau wangi, dan penuh suara fanatik.

Maka alangkah lucunya, ketika di negeri dengan minat baca yang sebegitu rendah, ada buku-buku yang dinyatakan terlarang. Harusnya kita menyadari bahwa kemampuan membaca itu sebuah rahmat, kegemaran membaca jika dimiliki anak-anak negeri adalah sebuah kebahagiaan. Membaca buku membawa dimensi lain, kita mengenal trauma dari mereka yang dicakar sejarah, dan tahu benar bagaimana menerima kedasyatan dan keterbatasan yang bernama manusia. Barangkali?

Oleh karena itu, saya selaku manusia menentang dengan sangat pemusnahan buku-buku apapun itu, entah kiri, kanan, depan atau belakang.

Saya tak pernah antipati terhadap buku kiri. Entahlah, mungkin karena saya sudah membaca buku-buku kiri sedari remaja. Seperti Das Capital dan tak mengerti isinya. Marx dan Engels terlalu kolektif, bahkan yang telah disederhanakan dalam bentuk komik sekalipun bagi saya seperti lelucon yang tragis. Ketidakpahaman saya sejalan dengan kebingungan saya bagaimana gerombolan komunis sebegitu tega terhadap seorang Tengku Amir hamzah dalam revolusi sosial Sumatera Timur tahun 1946. Sang Penyair yang sebegitu lembut itu tak pernah terbukti menyakiti orang lain itu disiksa kemudian dibunuh di kawasan Kuala Begumit oleh  mandor Lyang Wijaya yang tak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Kita kehilangan seorang penyair yang belum memiliki banding sampai sekarang, Ia dengan berani menghadapi ajal dengan mata terbuka setelah meminta waktu untuk shalat sebelum hukuman tembak dijatuhkan. Pahlawan itu direnggut paksa dari negeri ini, ketika Republik ini masih balita. Tapi, meskipun begitu saya juga tak menyetujui ketika kaum komunis dilenyapkan bagai cacing tanah di tahun enam puluhan.

Orang boleh bilang betapa hebatnya, Pramoedya Ananta Toer, tapi saya merasa bosan dengan bukunya Manusia Bumi. Saya mengakhiri membaca di bab dua. Bingung dengan kemarahan tak tentu arah pak tua tersebut.

Ia dan Lekra ketika diatas angin mempromosikan kemajuan sosial dan mencerminkan realitas sosial, bukan mengeksplorasi jiwa manusia dan emosi. Mereka menyerang Hamka, H.B Jassin, anggota Manifes Kebudayaan yang tidak sejalan dengan Manipol. Sikap vokal Lekra terhadap penulis berhaluan non-kiri, mirip dengan mencemarkan nama baik orang lain yang menyebabkan permusuhan abadi antara penulis kiri dan kanan.

Tapi saya juga merasa, tak layak buku-buku Pramodya Ananta Toer dilarang, ada dimensi dalam tulisannya yang tak saya pahami, tapi saya tak benci. Karena kebencian terhadap sesuatu hal yang ganjil, berbeda adalah gejala awal tirani.

Akan tetapi, saya mengakui ada satu buku kiri yang “menganggu” pikiran. Adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) buah karya Tan Malaka. Saya harus mengakui ini adalah buah kejeniusan seorang anak manusia, yang terlunta-lunta dan penuh penderitaan demi negeri yang ia cintai, Indonesia. Ia yang tak berpustaka, bukunya cerai berai dalam pelarian di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia, Singapura dan Indonesia mampu menyusun sebuah buku dalam bentuk dari paham yang bertahun-tahun dalam pikirannya, dalam sebuah kehidupan yang bergelora. Ditafsirkan dengan mekanis dan empiris.

Ia memiliki prakarsa menggabungkan kekuatan Komunisme Internasional dengan Pan Islamisme, dan keluar dari garis partai. Meski pun begitu saya meyakini dia adalah seorang komunis tulen ketika menulis buku itu, Ia mengakui mengagumi Nabi Muhammad S.A.W tapi di satu sisi ia menggugat tuhan dan api neraka. Dalam bab VI Logika, halaman 245 Tan Malaka menulis, “Kalau satu detik saja, satu manusia DIA biarkan dimakan api neraka yang Maha Panas itu, Tuhan tidak lagi Maha Kasih. Jangankan lagi kalau sekiranya Dia membiarkan juta-jutaan manusia dibakar yang berabad-abad!”

Saya tak merasa buku Tan Malaka tersebut itu layak dilarang, setiap anak-anak muslim yang membaca kutipan tersebut memiliki hak menantang Tan Malaka, berdasarkan apa yang di dapat dari kehidupan, orang tua, para Tengku dan guru-guru agama. Saya berempati pada penderitaan Tan, mengagumi semangat, kejeniusannya tapi tak ragu melawannya dalam pertempuran pemikiran satu lawan satu. Begitupun yang saya harapkan dari anak-anak negeri ini.

Menurut saya Tan Malaka terlalu materill, wajar ia dalam perjalanan hidup yang penuh kesusahan itu belum memiliki kesempatan mempelajari hakikat. Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, bahwa sebenarnya Surga dan Neraka bukanlah tujuan, Allah S.W.T adalah gagasan tertinggi dari semua pemikiran, semua dibingkai dalam pemaknaan pada Tuhan, tujuan utama. Tujuan akhir dari semua pengembaraan jiwa. Puncak kedamaian dan akhir semua cerita, saat manusia telah sampai pada tujuan sempurna.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita, umat Islam, untuk memulai seluruh aktivitas dengan membaca bismillahirahmanirrahim, yang mengisyaratkan agar umat Islam tidak memiliki niat dan amalan selain menyebarkan kasih sayang di muka bumi.

Kasih sayang yang menyebabkan kita, memaafkan orang sebengis Hulagu Khan sekalipun. Saya merasa kasihan kepada Tan Malaka, dan berharap ia mencapai Khusnul Khatimah diakhir hidupnya, sebelum dieksekusi mati yang menurut penelitian Harry A Poeze dilakukan oleh Brigade Sikatan atas perintah letkol Soerachmad, di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada tanggal 21 Februari 1949.

Jangankan buku kiri, saya berpendapat bahwa buku-buku roman picisan ditulis oleh Freddy S, yang meyakini bahwa mesum adalah bagian alami manusia, dimana secara alami orang suka hal-hal yang eksotik dan sedikit buka-bukaan. Menurut saya, semua yang ia karang itu aneh. Akan tetapi tetap ia merupakan sebuah karya yang tak boleh dihancurkan. Karena diakui atau tidak, setiap buku adalah penanda zamannya.

Maka selaku manusia, saya menantang pembunuhan buku. Karena didalam ini belum melupakan sepenuhnya perasaan seorang anak kecil itu, yang belasan tahun lalu menganggap buku adalah pesawat ajaib. Kantong cekak, dan hanya televisi hitam putih yang hanya menayangkan TVRI. Dengan buku-buku yang saya peroleh di perpustakaan, saya memperoleh penghiburan, memasuki dunia yang sebenarnya tak tertembus. Tiap kali, tiap buku, dunia itu berubah, berbeda, berkembang dan terasa akrab.

Di tiap pembakaran buku, di situ pemakaman intelektual terjadi.

X

Tuhan, apapun karuniaMU

Untukku di dunia, hibahkan pada musuh-musuhMU

Dan apapun karuniaMU untukku di akhirat

Persembahkan pada sahabat-sahabatMU

Oh, bagiku cukuplah engkau

Bila sujudku padaMU karena takut neraka, bakar aku dengan apinya

Bila sujudku padaMU karena damba surga, tutup untukku surga itu

Namun bila sujudku, demi ENGKAU semata

Jangan palingkan wajahMU

Aku rindu menatap keindahanMU

(Diyakini oleh masyarakat sebagai syair yang digubah Hamzah Fansuri, sepeninggalnya ia buku-bukunya diperintahkan bakar atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry. Atas usaha Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala dikemudian hari beberapa kitabnya dapat diselamatkan, dan tercapai konsensus).

XX

 

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

GLUTTONOUS

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

Pelan pelan, tahun demi tahun berjalan. Bulan silih berganti datang, manusia digerus waktu. Di setiap hari, pada jalan-jalan sama, perasaan yang tak pernah berubah. Adakah yang salah?

Orang bijak berkata, bertahun-tahun dalam perang yang panjang, kita kehilangan sebegitu banyak orang pintar, berprinsip, dan setia. Menyisakan mereka yang bermuka dua. Namun dalam sebenarnya dalam kedamaian, kita kehilangan sikap, kedisplinan serta kemarahan yang membuat hidup lebih bergairah.

Dalam renungan, aku mencoba mengingat masa-masa lalu yang penuh tak kepastian, semangat berjuang yang membuatmu tak mudah menyerah. Ada waktu kau tak merasa raksasa, bukan siapa-siapa. Terbuka untuk menjadi apa saja, dan menyerap segalanya.

Sebelum kau menjadi terlalu pemarah, sebelum kau serakah, sebelum kau “merasa” perkasa. Dalam ketakutan dan sengsara, kau belajar memahami perasaan mereka yang kalah. Yang tersingkir, dan menangis untuk mereka yang teraninaya. Bahwa bersenang bersama memang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan, ketika dalam keadaan sulit tetap mempedulikan. Sadarkah kau ketika merasa unggul dan lebih hebat dari orang lain, disitulah awal sebuah kekalahan.

Aku berbicara tentang kau! Bukan para pemimpin negeri, bukan para koruptor di televisi. Aku berbicara tentang kau, yang terlihat jelas di depan cermin. Seseorang yang di waktu kecil mempunyai impian besar, dan ketika besar hanya punya kenyataan kecil.

Aku merindukan masa-masa di mana masalah terbesar dalam hidup, hanyalah sebatas nilai ulangan jelek, dan takut dimarahi mama karena ketahuan merokok. Sekarang, aku melihat gambar babi, dan aku (kau) di cermin dengan pandangan berulang, sampai titik dimana aku tak mampu membedakan satu sama lain.

Dan ketika Ramadhan datang, kuharap engkau suci (fitrah) kembali.

Posted in Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

ODA SEBATANG POHON

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi)

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi Pribadi)

Sebatang kurma berdiri di tengah Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari negeri kurma.
Kataku: Sungguh kau sepertiku, jauh di pengasingan,
terpisah lama dari kawan dan keluarga. 
Kau tumbuh dari tanah yang asing bagimu;
Dan aku, sepertimu, jauh pula dari rumah.

Abdul Rahman I dari Kordoba

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BAJAK LAUT : PEMBERONTAK ATAU PEROMPAK

Tidak ada film berlatar bajak laut sesukses Pirates of Caribbean. Dibuat sejak tahun 2003, The Curse of The Black Pearl, sudah tiga sekuel dibuat : Dead Man’s Chest (2006), At World’s End (2007), dan On Strager Tides (2011). Bahkan kelanjutannya Dead Men Tell No Tides direncanakan beredar tahun 2016 ini. Para pendukung film ini, seperti Johnny Deep, Geoffrey Rush, dan Orlando Bloom, nyaris tak ada perubahan, yang ada hanyalah penambahan peran pendukung. Sutradara yang menangani film ini pun selalu berubah-ubah. Lebih menarik lagi, semua film ini menjadi Box Office yang menghasilkan laba sekitar 915.000.000 dollar AS. Tak sedikit pula penghargaan yang diterima film ini.


Para pendukung film ini, seperti Johnny Deep, Geoffrey Rush, dan Orlando Bloom, nyaris tak ada perubahan, yang ada hanyalah penambahan peran pendukung. Sutradara yang menangani film ini pun selalu berubah-ubah. Lebih menarik lagi, semua film ini menjadi Box Office yang menghasilkan laba sekitar 915.000.000 dollar AS. Tak sedikit pula penghargaan yang diterima film ini.

Filem yang menceritakan bajak laut selalu menarik untuk disimak, identik dengan keberanian dan kegagahan. Pirates of Caribbean adalah filem bajak laut tersukses. Dibuat sejak tahun 2003, The Curse of The Black Pearl, sudah tiga sekuel dibuat : Dead Man’s Chest (2006), At World’s End (2007), dan On Strager Tides (2011). Bahkan kelanjutannya Dead Men Tell No Tides direncanakan beredar tahun 2016 ini.

Sejarah Bajak Laut Dunia

Sejarahnya, bajak laut ada ketika ada pelayaran yang bersifat perdagangan. Bajak laut yang lazim disebut pirate itu, pada dasarnya merupakan aksi perompakan yang dilakukan satu kapal terhadap kapal lainnya. Barang dipindahkan ke kapal perompak dengan ancaman senjata.

Setiap kapal bajak laut dipimpin oleh seorang Kapten, ia memiliki sejumlah kemampuan, seperti memahami navigasi laut, cerdas, ahli memilih sasaran, mahir menggunakan senjata. Banyak di antara mereka merupakan militer disersi. Memilih menjadi bajak laut demi kebebasan dan kekayaan, mereka menggunakan kabin utama kapal, yang juga ruang komando. Biasanya didampingi sejumlah pelaut senior yang mahir bertempur.

Ancaman bajak laut terus terjadi hingga abad ke-3 S.M dan sangat merugikan Kekaisaran Romawi. Perlu waktu ratusan tahun bagi Kekaisaran Romawi untuk memerangi bajak laut.

Ancaman bajak laut terus terjadi hingga abad ke-3 S.M dan sangat merugikan Kekaisaran Romawi. Perlu waktu ratusan tahun bagi Kekaisaran Romawi untuk memerangi bajak laut.

Tercatat, pada zaman Kekaisaran Romawi dan masa Yunani kuno (14 S.M), kapal-kapal dagang yang melintasi laut Mediterania dan Aegean dibajak, barang-barang di kapal, seperti minyak zaitun, dirampas, penumpangnya ditawan dan dijual sebagai budak. Kekaisaran Romawi berupaya memerangi bajak laut dan perang terus berlanjut sampai abad I Masehi.

Bajak laut Viking gemar menggunakan perahu layar berukuran ramping dan panjang dikenal mahir bertempur, buas, dan ditakuti di berbagai negara

Bajak laut Viking gemar menggunakan perahu layar berukuran ramping dan panjang dikenal mahir bertempur, buas, dan ditakuti di berbagai negara

Setelah Kekaisaran Romawi jatuh, serangan bajak laut kembali marak. Komplotan yang paling popular adalah bajak laut Viking. Sebagai bajak laut bangsa Viking tidak hanya memiliki kawanan bajak laut yang ditakuti, tetapi juga memiliki penjelajah samudera yang menemukan Amerika Utara 500 tahun sebelum Columbus menemukan benua Amerika di tahun 1492.

Memasuki abad IX, bajak laut yang beroperasi di Laut Mediterania dipengaruhi perang salib. Bajak laut Kristen yang berasal dari Catalonia menjadi ancaman serius bagi kapal-kapal dagang di Laut Mediterania, pada era itu juga diwarnai kelompok bajak laut Tunisia (muslim) yang dikenal sebagai corsair, pelaut atau perompak dalam bahasa Perancis. Dalam skala besar mereka bisa mendirikan Negara perompak (Barbary State).

Menurut pakar sejarah Islam, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah”, Dampak dari pengusiran massal kaum muslimin dari Andalusia ke Afrika Utara adalah munculnya masalah sosial. Karena sebagian besar dari orang-orang yang meninggalkan Andalusia berasal dari pelaut, beberapa faktor yang menyebabkan mereka melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan Eropa Barat di Laut Tengah. Faktor utama adalah disebabkan konflik agama setelah diusirnya kaum muslimin dari Andalusia, ditambah faktor pengejaran yang dilakukan oleh armada Portugis dan Spanyol terhadap kaum muslimin di Afrika Utara.

Awalnya ia adalah seorang pelaut biasa yang biasa berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki. Suatu hari kapalnya diserang kapal militer St. John of Jerusalem atau biasa disebut sebagai Knight of Rhodes, kejadian ini membuat adik bungsunya terbunuh. Khairuddin dan ‘Aruj melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer Kristen. Aksi ini sangat menggemparkan dan sangat ditakuti militer Kristen, dikenal sebagai bajak laut Barbarossa Brothers karena keduanya berjanggut merah.

Awalnya ia adalah seorang pelaut biasa yang biasa berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki. Suatu hari kapalnya diserang kapal militer St. John of Jerusalem atau biasa disebut sebagai Knight of Rhodes, kejadian ini membuat adik bungsunya terbunuh. Khairuddin dan ‘Aruj melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer Kristen. Aksi ini sangat menggemparkan dan sangat ditakuti militer Kristen, dikenal sebagai bajak laut Barbarossa Brothers karena keduanya berjanggut merah.

Sebelumnya perlawanan dilakukan secara sporadis, hingga munculnya dua orang bersaudara Khairuddin Barbarossa dan ‘Aruj Barbarossa, keduanya berhasil menghimpun kekuatan di Aljazair, sekaligus menggalang tindakan bersama mencegah kekuatan Eropa Barat melakukan ekspansi dipelabuhan-pelabuhan dan kota-kota yang berada di Afrika Utara.

Mereka menggunakan taktik perang hit and run dalam pertempuran di laut, taktik ini dilakukan karena minimnya kekuatan mereka melawan kekuatan multinasional, Spanyol, Portugis dan Kardinal Johannes. Sejarawan Eropa berusaha menanamkan keraguan tentang mereka dan menyifati ini dengan sebutan perompak. Mereka juga berusaha menanamkan keraguan tentang asal muasal dua bersaudara Khairuddin Barbarossa dan ‘Aruj Barbarossa.

Selama Khairuddin Barbarossa hidup, ‘Aruj meninggal 1518 M. Aljazair mampu memenangkan setiap pertempuran yang saat itu dibawah kekuasaan pemerintah Turki Ustmani. Sayang, ditahun 1552 M pemerintah Turki Utsmani mencopot Hasan bin Khairuddin Barbarossa dan mengangkat Saleh Rayis. Ia seorang yang baik namun tak secakap Hasan (Anak Khairuddin) sehingga dominasi Ustmaniyah di Laut Tengah lambat laun kian pudar.

Dan sejarah terus bergulir, dan kejayaan bajak laut mencapai puncaknya pada akhir abad XVII dan memasuki abad XIX, dikenal sebagai Golden Age of Piracy, di Karibia. Sepak terjang bajak laut Karibia merajalela hingga lautan Atlantik dan Pasifik, memiliki kekuatan 2500 orang. Menguasai wilayah yang amat luas mulai dari Teluk Meksiko sampai Panama. Mereka sulit ditaklukkan sebab amat susah dikejar. Mereka bersembunyi di begitu banyak celah pulau-pulau terpencil yang membentang dari Granada, Costa Rica, sampai Puerto Riko. Kekuasaan mereka meliputi perairan puluhan Negara, termasuk Jamaica, Haiti, Dominika, sampai ke Kepulauan Bahamas. Bahkan mereka sering dilaporkan beroperasi di pantai-pantai Miami. Mereka tak hanya menjarah kapal dagang, tetapi melawan angkatan laut Spanyol dan Inggris yang terkenal.  Raja Spanyol Charles II mencanangkan operasi besar-besaran, dan Negara-negara Eropa lain berdamai usai konflik dan mengerahkan tentara ke Karibia.

Kekuatan laut yang paling berperan membasmi bajak laut Karibia adalah AL Inggris, yang bisa mengerahkan kapal perang lebih dari 200 unit. Bajak laut Karibia secara tak sengaja telah membangkitkan operasi gabungan kekuatan laut dari berbagai Negara dan langsung menunjukkan hasilnya. Memasuki tahun 1830, bajak laut Karibia sudah lumpuh akibat serangan Negara-negara Eropa Barat dan Negara-negara koloni di Amerika. Apalagi di era itu kapal-kapal dagang tidak lagi berlayar dengan layar, tapi baling-baling yang digerakkan mesin uap. Berkat penemuan teknologi mesin kapal laut, ancaman dari para perompak, khususnya di perairan Karibia pun semakin memudar.

Lanun di Nusantara

Bajak laut memiliki padanan kata “Lanun” dalam bahasa Indonesia. Berasal dari bahasa Mangindanao, “I-lanao-en”, yang mempunya arti orang dari danau. Awalnya, lanun berada di pedalaman, tapi kemudian mereka menyebar ke pantai. Terutama karena letusan gunung api tahun 1765. Mangindanao sendiri merupakan suku di pulau Mangindanao (Negara Filipina sekarang).

Belanda melabelkan bajak laut terhadap pelaut Sulawesi, masyarakat asli pribumi mengenalnya sebagai lanun. Mereka muncul berkelompok sejak zaman Belanda. Awalnya timbul dari pemberontakan-pemberontakan pelaut lokal, yang akhirnya membentuk kelompok perompak di wilayah Laut Sulawesi, misinya adalah merampok, membunuh, dan meneror pelaut yang melintasi wilayahnya, semata-mata harta benda sebagai tujuan.

Kapal-kapal VOC, tak lain merupakan bajak laut putih yang memproklamirkan misi membawa peradaban kepada bangsa-bangsa di Nusantara. Padahal di belakangnya jelas tujuan mereka datang ke Nusantara adakah untuk "menjajah" kaum pribumi.

Kapal-kapal VOC, tak lain merupakan bajak laut putih yang memproklamirkan misi membawa peradaban kepada bangsa-bangsa di Nusantara. Padahal di belakangnya jelas tujuan mereka datang ke Nusantara adakah untuk “menjajah” kaum pribumi.

Di sisi lain, berperang melawan penguasa asing (Belanda) yang telah menduduki wilayah laut Sulawesi secara sewenang-wenang berimbas dendam yang panjang. Bajak laut berkelompok ini tidak memiliki wilayah kekuasaan yang tetap. Posisi kekuasaannya bisa tergeser oleh kelompok bajak laut lain.

Penyebaran bajak laut di Indonesia waktu itu hampir merata, namun yang paling banyak terdapat di Laut Sulawesi dan Lingga Riau. Bajak laut yang terkenal antara lain, bajak laut Balangingi, Lanun, Mangindanau, dan di Papua bajak laut Tobelo.

Dalam catatan Virginia Matheson yang bersumber dari Tuhfat al Nafish dikatakan bahwa Kesultanan Melayu Johor bisa mempertahankan eksistensi mereka karena bantuan bajak laut dari suku Bugis dan Makassar. Dalam hikayat ini diceritakan adanya penguasa Bugis menjadi sultan di Johor.

Hang Tuah. Pahlawan Legendaris Melayu.

Hang Tuah. Pahlawan Legendaris Melayu.

Berdasarkan dari beberapa kajian ilmiah (versi Belanda), bahwa selama Sembilan abad (V-XIV) diketahui bahwa bajak laut yang wilayah aksinya berpusat di Selat Malaka bertemperamen keras dan jahat. Sebaliknya dalam catatan disertasi Adrian B. Lapian, kisah bajak laut justru berbeda. Aksinya turut melakukan peperangan gerilya bahari dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

Menurut Lapian, sejak abad XV, bajak laut adalah orang Eropa. Kelicikan bajak laut kulit putih (Belanda) adalah memproklamasikan ekspansinya sebagai misi untuk membawa peradaban kepada bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Di Asia Tenggara. Inggris, Belanda dan Spanyol berusaha keras menjadikan laut sebagai daerah yang aman bagi perdagangan maritim Barat. Kehadiran kekuatan asing dengan kelengkapan persenjataan dan fasilitas kapal berteknologi tinggi (mesin uap) sejak pertengahan abad XIX melumpuhkan perlawanan pribumi, baik bajak laut yang berbentuk Kerajaan (Sulu) maupun berkelompok (Laut Sulawesi, Selat Malaka). Abad ini menjadi abad kemenangan pemerintah Kolonial.

Dalam khazanah Melayu. Salah satunya berjudul “Moestika Semenandjoeng”. Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan dan terbuang. Kami sering main sandiwara pertempuran sengit lanun melawan kumpeni, di sekolah, di masjid bahkan di sungai. Lanun adalah kekuatan penganggu kekuatan kolonial, setelah satu persatu Kesultanan di Nusantara takluk. Sebuah dunia dimana kanak-kanak yang tertarik akan misteri, mara bahaya sekaligus pesona tak berujung.

Terlihat ada perbedaan antara lanun zaman dahulu dan sekarang. Dulu mereka bahu membahu dengan pribumi dan kerajaan-kerajaan di Nusantara mengusir kekuatan asing. Para lanun klasik bukanlah pembunuh, mereka merompak sebagai pajak melintasi Selat Malaka yang dianggap sebagai milik leluhur, ulayat. Para nelayan bahkan bersahabat dengan mereka karena melindungi wilayah tangkap ikan dari serbuan nelayan-nelayan jiran. Jangan lupa tokoh legendaris Melayu, Hang Tuah diriwayatkan juga menentang penjajahan Belanda dan Inggris melalui kapal-kapal lanun.

Tabiat lanun kuno amat berbeda dengan lanun selat Malaka sekarang. Mereka adalah jagal laut. Jika merompak kapal, tak ada yang tersisa, bahkan nyawa bisa melayang.

Andrea Hirata, dalam “Maryamah Karpov”. Keluarga lanun kuno terakhir ditangkapi tahun 1959, dijebloskan ke penjara Karimun, dua belas anak beranak. Sekarang tak tahu rimbanya. Dan setelah tahun 1959 sering ditemukan mayat-mayat tanpa kepala terdampar di pesisir Anambas, Lingga, dan Singkep. Sejak itu Selat Malaka menjadi neraka.

Kian hari lanun kian ganas. Tak hanya merompak, tapi juga menyeludupkan timah dan manusia ke negeri-negeri jiran. Mereka memungut pajak sekehendak hati dari orang-orang pulau yang hendak melintas batas ke Singapura dan Malaysia. Jika tak ada mufakat, nyawa melayang. Jika ada mayat-mayat dihanyutkan sampai ke pesisir, pastilah korban lanun Selat Malaka.

Bajak Laut Dunia Saat Ini

Kapal laut, atau tanker dan sejenisnya adalah sarana transportasi termurah. Maka aksi pembajakan atau perompakan kapal tidak akan hilang selama faktor keamanan lalu lintas lautan tidak terjamin.

Somalia adalah salah satu wilayah laut paling berbahaya di dunia. Perompakan telah mendarah daging dalam masyarakat dengan garis pantai 1.880 mil ini. Perang saudara berkepanjangan telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Negara itu. Puncaknya ketika pemerintah Somalia membubarkan angkatan bersenjata, termasuk Angkatan Laut. Akibatnya pantai Somalia praktis tanpa penjaga, disinyalir kapal-kapal asing bebas melakukan pencurian ikan dan aktivitas pencemaran dengan membuang limbah di laut, limbah beracun yang membuat para nelayan kehilangan pendapatan.

Kemudian nelayan Somalia memberontak. Mereka melakukan perlawanan dengan melakukan perompakan, sebuah tindakan balas dendam serta berdalih melakukan pengamanan perairan laut Negara. Tercermin dari nama kelompok yang mereka pilih, seperti National Volunteer Coast Guard.

Kapal KMV Sinar kudus yang bermuatan 8.300 ton nikel milik PT. Aneka Tambang senilai 1,535 Trilyun Rupiah dibajak pada medio 2011, komplotan pembajak mengancam akan membunuh satu per satu ABK asal Indonesia jika pemilik kapal PT Samudera Indonesia tidak memenuhi tebusan 77 Milyar Rupiah.

Kisah One Piece karya Eiichiro Oda ini merupakan manga terlaris sepanjang sejarah Jepang. Tokoh sentralnya adalah Monkey D. Luffy, seorang remaja yang digambarkan memakan buah Gomu-Gomu (Buah Iblis), yang membuat tubuhnya bisa menjadi seperti karet.

Kisah One Piece karya Eichiro Oda ini merupakan manga terlaris sepanjang sejarah Jepang. Tokoh sentralnya adalah Monkey D. Luffy, seorang remaja yang digambarkan memakan buah Gomu-Gomu (Buah Iblis), yang membuat tubuhnya bisa menjadi seperti karet.

Kisah bajak laut dalam kehidupan ternyata sangat rumit, kebanyakan mereka adalah manusia yang tersingkirkan, kalah dan marah. Akhirnya memberontak dengan cara merompak. Kisah bajak laut tak semanis mangga One Piece karya Eichiro Oda, tak seindah kisah hidup Monkey D. Luffy.

Pernah di suatu masa, pada satu tempat bajak laut adalah tindakan heroik yang memberontak kepada kekuatan-kekuatan Kolonialis Eropa Barat yang menjajah Negara-negara di Asia dan Afrika. Namun pelan-pelan itu bergeser, yang pada akhirnya kembali kepada motif ekonomi.

Manusia lewat, pergi dan tiba, tak peduli tapal batas, Negara dan keimanan. Mereka lebih sadar akan kebutuhan akan perkapalan dan niaga, susah payahnya peperangan, dan pembajakan, dan kesempatan untuk bersekutu dan berkhianat dibukakan oleh keadaan.

*Teruntuk putera-puteri Nusantara pencinta kisah-kisah “Bajak Laut”

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MISI MENCARI ABU NAWAS

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

DICARI !!! Abu Nuwas atau kerap dipanggil Abu Nawas, Lahir 747 M di wilayah Daulah Abbasiyah. Pekerjaan Penyair. Terakhir terlihat Baghdad abad IX. Peradaban rindu dengan sosok sederhana, membuat kita meyakini bahwa tidak ada yang lebih indah dari pada jalan-jalan di hari yang cerah.

Siapakah Abu Nawas? Pada masa-masa kita kecil, kita mengenalnya sebagai tokoh lucu, atau orang pintar yang melepaskan diri dari teka-teki sukar. Kita memandangnya dengan tak serius, badut yang dibutuhkan untuk ditertawakan, atau menertawakan di zaman Harun Al-Rasyid.

Entah bagaimana, kemasyuran Abu Nawas, sang penyair dari Baghdad itu, melintasi ruang dan waktu yang amat panjang. Ia yang lahir di Ahaz, Iran, di abad VIII dan meninggal di Baghdad, abad IX. Waktu itu, bahkan Kesultanan Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia bahkan belum berdiri. Nenek moyang kita masih menganut animisme, dan atau dinamisme.

Mungkin kita rindu dengan pengalaman-pengalaman yang mengesankan, kisah-kisah hikmah berbungkus humor segar, lekat dengan masyarakat. Karena hidup yang ceria tanpa humor akan terasa sangat melelahkan, dan semanis-manisnya lelucon adalah yang datang dari bawah, dari mereka yang tertindas dan tak terpedulikan. Sedang humor yang paling tak lucu adalah menertawakan mereka yang lemah, cacat dan tak berdaya.

Kocak? Pandir? Jenaka? Bisa jadi. Dalam susunan masyarakat kita disini, seorang penyair seperti Abu Nawas jika diseriusi mungkin menggelikan. Abu Nawas bisa menampilkan kesan seperti itu, bagi yang menganggap hidup hanyalah ketertiban, kepatuhan, keselarasan. Abu Nawas membuka jalan baru, dengan sajak-sajak yang mabuk anggur dengan kebebasan bahasanya, ironi dan humornya, dengan pandangannya yang mencemooh.

Memang ada kekurangajaran di situ. Mungkin sekali ia ingin menguncang apa yang tampak rapi dan tertib. Mengatakan hal yang dienggani oleh mereka yang terlihat sopan dan saleh. Mungkin bukan kebetulan, bila orang menyebut bahwa Abu Nawas adalah penyair sufi. Mereka yang melagukan nikmatnya “anggur” dalam “mabuk cinta” dengan Tuhan.

Kemabukan, baik harfiah maupun sebagai kiasan, adalah menentang hukum. Abu Nawas menyimpang disana, mungkin sebab itulah Abu Nawas di negeri kita yang jauh sering dihubungan dengan tokoh lucu, sesuatu yang “aneh”.

Abu Nawas membawa ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya sebuah agenda besar. Dengan pakaian kepandiran ia menyusup ke dalam masyarakat, hidup, menangkis dan bernyanyi dengan cara mereka. Itulah sebabnya Abu Nawas lekat dengan kita, setiap orang yang merasa dirinya bukan siapa-siapa.

Fantasi, cerita memang berubah seiring zaman. Namun terlepas dari itu semua, masyarakat lebih menyukai orang pintar yang merendahkan diri, pandir serta mencari bersama mereka. Itulah mungkin sebabnya kaset ceramah dai kondang Alm. Zainuddin MZ masih terasa asyik didengar, bahkan ketika berjongging di sore hari, sekarang.

Yang layak dipikirkan, jika memang Abu Nawas benar-benar menyimpang, mengapa ia tidak dibungkam? Padahal ia hidup di Baghdad abad IX, masa kekhalifahan Abbasiyah. Bisa jadi, Baghdad zaman itu adalah kota dengan penuh kepercayaan diri, terbuka untuk hampir setiap pikiran dan eksperimen, untuk pertanyaan dan pencarian baru.  Abu Nawas mungkin mencerminkan penguasa saat itu Harun Al-Rasyid, berani untuk terbuka. Mengejek dan menertawakan diri sendiri.

Abu Nawas dan Harun Al Rasyid adalah anomali. Kursi kekuasaan itu biasanya, akan mengubah seseorang. Bisa jadi pelawak akan berubah 180 derajat menjadi mumpuni ketika memegang kekuasaan, atau bisa jadi alim ulama menjadi rakus setelah duduk, bisa jadi orang pintar menjadi dungu.

Mereka yang tebiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi dan humor benda ajaib yang lahir dengan tak terduga dari hati. Abu Nawas mungkin dicerminkan oleh khalifah Harun Al Rasyid sendiri yang berani. Berani untuk terbuka, tertawa dan bergumul dengan jelata.

Dan hari ini kita tahu betapa beruntungnya dapat menemukan keindahan sebuah karya dan kearifan masa lalu, yang tak berulang pada masa kini, setelah masa-masa kejayaan itu berlalu.

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

TANDA PEDANG YANG (AKAN) PATAH

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

Setiap tahun adalah cermin, ini kali di depannya ada 29 Februari, tiba sebuah pengulangan yang hanya muncul 4 tahun sekali. Dan di cemin itu saya melihat guratan umur makin keras. Keriput makin banyak. Pori-pori kulit membesar, rambut rontok dan menipis.

Waktu kembali menjadi angka. Hari ini, tahun ini, saya memperingati ulang tahun ke-32, merasakan hanya dalam sehari melompati jarak 4 tahun.  Saya tahu jangka waktu hidup yang sama tak akan tercapai lagi. Ujung jalan itu sudah tampak.

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Saya teringat Cristian Vieri, seorang pemain sepakbola asal Italia. Vieri  dilahirkan di Italia, ia dibesarkan di Sidney Australia cukup sukses secara prestasi, ia memperkuat Italia pada Piala Dunia 1998, 2002 dan Piala Eropa 2004. Ia berposisi sebagai penyerang. Di tahun 2005 pada umur 32 ia bergabung dengan klub sepakbola A.C Milan. Setelah sebelumnya ia bergabung dengan beberapa klub sepakbola, di antaranya Juventus (1996-1997), Atletico Madrid (1997-1998), Lazio (1998-1999), Internazionale (1999-2005).

Ternyata ia telah melewati masa-masa tersuksesnya sebagai penyerang. Hanya bermain 8 pertandingan dengan 1 gol pada Serie A musim kompetisi 2005-2006, ia kemudian hijrah ke AS Monaco karena ketatnya persaingan di A.C Milan, selanjutnya karirnya meredup seiring usia. Pedang itu telah patah. Dan hari ini, saya seusia dengan Cristian Vieri waktu itu.

Bilangan usia atau tahun tak hanya ibarat cermin tempat kita berkaca melihat proses keuzuran. Meski tahun adalah juga tanda waktu yang tak sempurna. Setiap bilangan tahun yang berlalu, arti masa depan jadi lebih tertentu, bahwa hidup ini kelak akan berakhir.

Saya tidak akan menyaksikan pohon asam yang ditanam tahun lalu menjadi pohon yang tumbuh tinggi, seperti deretan pohon asam di tepi jalan yang saya punggut buahnya setiap pulang sekolah dulu. Saya tidak akan melihat pendaratan manusia pertama kali di Mars, penjelajahan antar galaksi. Ya, banyak sekali pasti yang tak akan saya alami.

Tapi siapa yang dapat mengatakan, hal-hal indah itulah yang terjadi. Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika kelak perang nuklir terjadi, negara-negara hancur. Bagaimana jika bentrokan berdarah yang tak henti-hentinya, karena masyarakat menjadi timpang dan sumber daya alam telah terkikis habis.

Saya seperti anda, tak tahu jawabannya. Orang mampu membuat statistik, membuat prediksi, memperkirakan probabilitas. Tapi kita tahu hidup tak dapat distatistikkan, karena itu tak lazim terjadi

Waktu yang “copot” memang terasa mencemaskan, namun saya mencoba optimis bahwa rasa cemas itu tidak akan melumpuhkan manusia. Dalam waktu sebagai perantara, manusia seakan-akan terlontar. Ia mengalami kebebasan hukum sebab akibat, tapi dengan itu ia masuk dalam momen “kejadian”. Seperti nada B minor masuk ke dalam harmoni, peristiwa tak terduga yang membawa pemahaman bahwa hidup ini tak bisa selamanya dalam harmoni.

Bermacam nada, termasuk sumbang pun bisa masuk. Ada kejadian-kejadian dalam hidup berjalan tidak sebagaimana yang direncanakan, ketika rencana tidak sesuai harapan maka tak sepatutnya kita terlalu bersedih. Karena mungkin “kejadian” itu justru membuka ruang yang lain.

Ini terjadi karena rahmat Allah S.W.T tak akan pernah putus kepada kita, suatu hal yang saya sadari sekarang. “Fa bi ayyi rabbikuma tukazziban” Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Mendengar lantunan surat Ar-Rahman ini, mata saya berkaca-kaca.

Hidup ini adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multidimensi, lipatan yang tak henti-henti. Kematian hanyalah salah satu momen di dalamnya. Haruskah kita sesali jika itu terjadi? Kita harusnya sadar bahwa yang terbaik dari dunia ini bukanlah keabadian, melainkan kefanaan. Yang abadi tak akan ada disini.

Di depan cermin tetap akan tampak rambut rontok yang kian tipis serta kulit kian keriput, juga fisik telah menurun. Seperti halnya Vieri selaku penyerang (pernah) tajam, pelan-pelan ia menumpul seiring usia. Tanda-tanda keretakan pedang itu telah terlihat, ia menuju patah. Itu pasti.

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment