MENITI JALAN YANG LURUS

Di sepanjang jalan yang coba dititi ini mungkin ada isyarat-isyarat tertentu, untuk direnungkan, memperhatikan betul-betul setiap tanda dan simbol yang ditemukan.

Kamis, 8 Februari 2007. Sepuluh tahun lalu, ketika Abu masih bertugas di Lhokseumawe. Abu membeli sebuah kitab, “Kisah Para Nabi” yang ditulis Ibnu Katsir. Abu sudah melupakan detil bagaimana ketika membeli buku tersebut. Tanggal yang tertera adalah catatan Abu pada halaman pertama buku tersebut yang waktu itu Abu beli tercatat seharga Rp. 90.000,- entah sekarang berapa harga buku tersebut.

Dari sepuluh tahun lalu itu, Abu belum menamatkan buku tersebut, tanda baca Abu terhenti di halaman 359 dari 724, kisah Nabi Musa A.S. Ya, seorang Abu yang waktu itu berumur 23 tahun, memutuskan menunda membaca kitab tersebut lebih lanjut, mungkin karena pernah membaca buku tersebut secara utuh di sekitar tahun 2002, sebelum di drop out dari Universitas Syiah Kuala dengan meminjam di Perpustakaan Wilayah Kota Banda Aceh. Karena Abu tahu, kitab tersebut sangat bagus makanya Abu membelinya 5 tahun kemudian. Ibnu Katsir sendiri adalah seorang ahli tafsir, sejarawan sekaligus seorang faqih yang hidup di abad ke delapan Hijriah (700-774 H).

Waktu adalah perjalanan, ketika Abu kembali memegang kitab ini. Betapa perjalanan itu sudah panjang dari pertama kali membacanya. 18 tahun (2002), 23 tahun (2007) dan 33 tahun (2017). Pernahkah kita menghitung rentang waktu yang telah dijalani di tahun-tahun belakang?

Perjalanan yang bercita-cita dalam siradjtul mustaqim (jalan yang lurus) mungkin mudah, tapi juga mungkin  tak akan pernah berhasil, tanpa terlebih dahulu menghadapi berbagai macam rintangan. Menempuh lembah-lembah yang curam, meninggalkan atau ditinggalkan para sahabat dan keluarga, kemudian di sepanjang perjalanan bertemu dengan orang yang tak dikenal, dihantui ketakutan dan kekhawatiran.

Belajar dari Kisah Para Nabi, manusia menjadi lebih baik setelah menjalani perjuangan di antara hal-hal yang saling bertengangan. Setiap kejadian dalam hidup, menyebabkan perubahan. Tentu Abu bukan seorang Nabi, sebagai seorang manusia biasa Abu merupakan kombinasi dari sebuah lingkungan, yang berbeda-beda setiap manusianya. Masing-masing memiliki hubungan keterikatan. Maka luruskah jalan Abu? Di jalan yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad S.A.W. Tentu yang berhak menilai adalah Ia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di sepanjang jalan yang coba dititi ini mungkin ada isyarat-isyarat tertentu, untuk direnungkan, memperhatikan betul-betul setiap tanda dan simbol yang ditemukan. Manusia lemah seperti Abu kerap tergelincir, kerap berbuat salah dan mungkin salah arah. Semoga Allah S.W.T adalah pelindung kita, Dia-lah sebaik-baik wakil.

Malam semakin larut, dan Abu terus membaca. Ketika membaca kisah Nabi Zakaria A.S, Abu tertegun. Dan ingatlah kisah Zakaria, ketika ia berseru kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri. Dan Engkaulah waris yang paling baik.”

Doa tersebut semacam rasa ketidakberdayaan di hadapan masa depan, juga semacam kesunyian. Tak berdaya dan sunyi, di bumi yang fana, manusia membutuhkan batasnya sendiri. Sebuah keyakinan berapi-api kepada diri sendiri kerap membekukan hati, sebuah kebrutalan yang anggun, sebuah penampilan harga diri yang menakutkan.

Mungkin karena inilah kita dianjurkan membaca kisah para Nabi, agar bertambah rasa syukur dan tafakur.

Maka segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, selawat serta salam semoga dilimpahkan kepada penutup para nabi, Muhammad S.A.W, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Posted in Kisah-Kisah, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

33

Dunia itu wajib (dijalani), meninggalkannya haram, sedang meyakininya syirik. Duhai dunia…

Dunia itu wajib (dijalani), meninggalkannya haram, sedang meyakininya syirik. Duhai dunia…

“Berapa usia kalian sesungguhnya? Kurangi dengan tidur, jika kalian tidur sehari 8 jam. Maka sesungguhnya usia kalian hanyalah 2/3 (dua per tiga) dari yang tercatat. Jika sekarang usia kalian 18 tahun, maka sesungguhnya kalian masih berumur 12 tahun!”

Abu sedang makan indomie goreng basah di tepi pantai ketika mendengar orasi orientasi mahasiswa, Teknik Arsitektur kalau tidak salah, dari jauh terlihat senior bertopi kupluk, sedang berpidato di podium. Wajar, arsitek adalah kerja siang-malam, jadi tidur adalah penghalang produktivitas mereka. Para mahasiswa sedang mengikuti proses indoktrinasi, cangkang pikir anak sekolah menengah sedang dicoba pecahkan, untuk melahirkan pola pikir baru, mahasiswa. Di pondok tepi pantai itu, Abu tersenyum seraya menghirup air kelapa muda. Kejadian itu terjadi, lebih dari satu dekade lalu.

Apakah kebetulan, ketika hari ini Abu berumur 33 tahun teringat pada kejadian tersebut. 2/3 dari 33 tahun berarti 22 tahun! Lha, tidak semudah itu hitung-hitungannya. Manusia, lahir, hidup dan mati. Tiap kelahiran jika dipikirkan dengan seksama, hanyalah suatu kebetulan. Dengan ratusan juta sperma yang berenang dengan buta dalam kegelapan, sungguh amat kecil kemungkinan seseorang bisa menjadi apa adanya kini. Dari semua yang berjejalan di alam semesta, berapa banyak yang memang direncanakan? Bertanya-tanya, merasa melayang karena kecapekan mendapati dirinya merenungkan kebetulan-kebetulan yang telah menjadikan mereka ada.

Untuk seorang pria yang telah mengalami banyak misteri kehidupan, salah satu misteri terbesar yang masih belum Abu ketahui. Adalah mengapa beberapa orang datang ke dalam kehidupan kita. Mengapa beberapa orang pergi, dan lainnya menjadi bagian dari kehidupan. Beberapa persahabatan seolah akan bertahan selamanya. Dan yang lainya berakhir terlalu cepat. Tidak setiap persahabatan dimaksudkan untuk bertahan seumur hidup, yang bertahan selamanya adalah sakit ketika seseorang hilang. Persahabatan disini tidak hanya sebatas antar sesama teman. Ayah, ibu, nenek, kakek, nenek, makcik, pakcik dan lain-lain, memang semua terhubung melalui hubungan darah, namun persahabatan membuatnya menjadi lebih indah.

Setiap pertambahan umur, jika dikaji secara mendalam adalah pengurangan, kita semakin mendekati kematian. Akan ada banyak rintangan menghadang di tahun-tahun ke depan, akan ada banyak kehilangan, ditinggal pergi atau meninggalkan, dan karakter seseorang tidak ditentukan dari cara mereka menikmati kemenangan, tapi dari cara mereka menghadapi kekalahan, tidak ada yang dapat membantu kita melewati masa kelam selain iman kita.

Cahaya membuat manusia bisa melihat benda. Tapi, kita masih disesatkan ilusi meski berada dalam cahaya. Yang terpenting bukanlah cahaya. Tapi kegelapan, dari kegelapan kita mencari cahaya. Justru kita perlu bermimpi, karena mimpi itu yang menentukan perjalanan. Mimpi itu yang mengubah manusia. Tapi tanpa mimpi, tanpa cita-cita, orang tidak akan kemana-mana.

Di usia tiga puluh tiga ini, Abu teringat sebuah peribahasa. Dunia itu wajib (dijalani), meninggalkannya haram, sedang meyakininya syirik. Duhai dunia…

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BUAH TANGAN

Alangkah aneh dan hangatnya kamu, oleh-oleh!

Alangkah aneh dan hangatnya kamu, oleh-oleh!

Buah tangan atau oleh-oleh adalah sesuatu hal yang jamak di negeri ini, barangkali tidak ada terjemahan  buat oleh-oleh. Kata Inggris present biasanya dipakai untuk menerjemahkan oleh-oleh, terasa kurang pas. Ia memang sebangsa hadiah, tapi oleh-oleh bukan hadiah, jadi apa dong? Itulah repotnya oleh-oleh. Jika Oma pulang dari pasar membawa pulang donat, maka el-Bahri akan berseru kegirangan : “Hore, oma membawa pulang oleh-oleh!”

Seorang pengamat ekonomi, yang Abu lupa namanya, melihat hubungan yang jelas antara budaya oleh-oleh dengan korupsi di negeri kita. Katanya korupsi di negeri kita akan berhenti betul, tuntas ke akarnya, bila budaya oleh-oleh sudah lenyap dari muka bumi kita. Ya, bahkan sebelum oleh-oleh kepada seluruh jaringan keluarga sendiri dihentikan, tidak bakalan korupsi di negeri kita akan berhenti.

Dahsyat benar pengamatan itu. Pengamatan itu sudah tidak lagi melihat batas antara oleh-oleh dan upeti. Meskipun harus diakui juga bahwa semua yang datang membawa barang tersebut, barang bawaannya itu sebagai oleh-oleh. Itu berarti istilah oleh-oleh dianggap sebagai istilah netral dan tidak mengundang tusukan perasaan. Upeti jelas membawa pesan, sesuatu untuk sesuatu. Sang bupati taklukkan membawa upeti kepada sultan agar tidak diserang wilayahnya. Sang Bupati membawa oleh-oleh buat bapak gubernur? Ya, supaya lancar pembangunan wilayahnya.

Untunglah istri Abu bukan seorang ekonom, ia tidak mendengar ocehan dan tulisan intelektual yang sok cemerlang itu. Waktu Abu ketiban pulung mendapat dinas ke luar kota, tidak sesaat pun analisis sang pengamat ekonomi tentang hal tersebut terlintas dpikirannya. Lha, istri Abu tidak pernah tahu tentang analisis itu.

Hanya Abu yang cukup pucat sebentar-bentar mengecek dompet, yang sangat tipis di akhir bulan. Melalui pembicaraan ringan, Abu berusaha mereduksi yang namanya oleh-oleh. Ya, mau bagaimana lagi, sebagai pegawai kecil, anggaran sangat terbatas. Sangking terbatasnya anggaran, sebuah buku yang sangat Abu inginkan, terpaksa ditunda pembeliannya (Poor Me).

Malamnya Abu bermimpi, dua keponakan jenius, el-Bahri dan el-Moro bernyanyi koor, “oleh-oleh, oleh-oleh, oleh-oleh.” Akhirnya istri memutuskan membeli oleh-oleh buat mereka, alasannya dana boleh terbatas tapi oleh-oleh mesti dong. Namanya mereka handai tolan, belum seberuntung kita. Dan seterusnya, dan dan seterusnya.

Kami keluar masuk toko, dan mengecek oleh-oleh mana yang sesuai dengan dompet. Akhirnya kopor ditutup dan terkunci, Abu tercenung sebentar. Apakah nanti oleh-oleh yang dibawa pulang merupakan jembatan buat korupsi. Astafirullah!!!

“Wah, alangkah senangnya El Bahri dan El Moro dengan kacamata renang itu nanti, Bang Abu!” Abu membayangkan dua jenius Paya Bakong itu membanting-banting kacamata renang yang kami beli, menyelam dalam bak mandi. Abu membayangkan wajah-wajah gembira mereka, jaringan keluarga! Alangkah aneh dan hangatnya kamu, oleh-oleh! Alangkah manis, hangat dan berbahayanya kamu. Korupsi! Wah, alangkah…

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

MUHASABAH

After thousands of days here. There are views that can not be seen again, there are those who will never be found again, after a lot of things happen how can we remember all the mistakes I've ever done?

After thousands of days here. There are views that can not be seen again, there are those who will never be found again, after a lot of things happen how can we remember all the mistakes I’ve ever done?

Jika kau masih menyimpan buku tulis dari kelas-kelasmu dari tahun-tahun sebelum sekarang, atau catatan-catatan lama lainnya. Kalau membolak-balik halamannya, kita sering merasa heran bagaimana kita berubah dalam waktu yang singkat sejak tulisan itu dibuat. Mungkin heran melihat apa-apa yang keliru dalam tulisan itu, tapi juga mungkin heran oleh hal-hal bagus yang pernah kau tuliskan. Sejarah dunia telah berubah, begitupun aku, kamu dan kita.

Kita hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup, mungkin aku tak mau mempercayakan masa depan pada yang bukan ahlinya, tapi manusia mana yang ahli menghadapi masa depan.

Banyak yang berubah sejak kita telah melihat sisi-sisi dunia.

Setelah ribuan hari di sini. Ada pemandangan yang tak akan bisa terlihat lagi, ada orang-orang yang tak akan pernah ditemui lagi, setelah banyak hal yang terjadi bagaimana bisa kita mengingat semua kesalahan yang pernah diperbuat?

Malam ini, dalam muhasabah ini, bersama catatan-catatan yang pernah aku buat. Aku menyadari dengan ego yang begitu tinggi, aku membuat sayap buatan, dan ketika terjatuh, melukai orang lain. Aku bersedih terhadap kesalahan yang kuperbuat, dan kesalahan yang terjadi akibat aku tak berbuat.

Aku tak berharap layak engkau maafkan, bagaimana bisa aku menang melawan diriku sendiri?

Kuletakkan tali kendali hatiku ditangan-MU, meski aku (bisa) salah. Apapun yang Kau katakan untuk dimasak, ternyata aku nyatakan untuk dibakar. Pada akhirnya, aku hanya seorang manusia yang memiliki dua tangan dan kaki, dua telinga dan pemahaman, dua mata dan mulut.

Entahlah, mungkin alam memberikan jawaban, atau malah menambah pertanyaan.

Jika engkau melihat lautan sedari dekat, jutaan gelembung air kecil berkilauan putih, yang muncul dan menghilang seiring ombak. Selalu ada gelembung baru yang timbul dan dan menghilang dalam irama teratur gerak gelombang. Setelah terbawa oleh puncak gelombang selama sebentar saja. Kita adalah masing-masing tidak lebih dari sekedar kilauan, setetes renik di atas gelombang waktu yang bergerak di bawah sana menuju masa depan yang tak tentu dan berkabut. Kita muncul di dunia hanyalah sebentar untuk kemudian menghilang. Kita tak nampak dalam arus waktu yang besar itu. Selalu ada orang baru dan lebih baru lagi. Apa yang kita namakan nasib, tak lain adalah perjuangan kita dalam kerumunan tetes yang naik dan turun bersama ombak. Akan tetapi kemunculan sebentar tersebut patut kita manfaatkan. Agar kemunculan kita tak sia-sia, tak pernah

*) Muhasabah berasal dari akar kata bahasa Arab, hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminology, makna defenisi muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspek

Posted in Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RIWAYAT SARUNG

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Semua cerita dimulai dengan “alkisah” atau dengan “pada zaman dahulu kala”. Tapi kapan itu zaman dahulu kala? Saat kamu masih kecil, waktu kamu masih merangkak? Kamu tidak ingat begitu juga ayah dan ibumu dulu juga kecil. Kakek dan nenekmu juga. Kakek dan nenek juga memiliki kakek dan nenek. Mereka juga mengatakan “pada zaman dahulu kala”, selalu ada ungkapan yang sama lagi.

Maka kisah ini dimulai dengan kalimat, pada zaman dahulu kala. Seorang jenius tidak dikenal menemukan benda yang sangat berharga : sarung. Bentuknya, seratus sentimeter persegi kain, bermacam corak, dua tepinya ditautkan memanjang. Orang Inggris menyebutnya sarong dan tentu meniru kata melayu, meskipun mereka enggan menggunakannya.

Orang Inggris menganggapnya busana yang tidak praktis. Tak mengapa, ukuran “praktis” Inggris memang lain dari kita. Bagi kita, sarung justru sebuah teknologi tepat buat segala manfaat. Kita bisa mengenakannya buat shalat ke masjid atau perlehatan, buat ke kakus, buat selimut penahan dingin, melindungi dari panas terik, bisa menjadi topeng. Dalam keadaan tidak sebagai busana, sarung bisa menjadi pembungkus baju atau buku, misalnya ketika kita pindah rumah.

Mungkin seorang jenius agaknya yang menemukan benda semacam itu. Atau mungkin, melalui proses yang panjang.

Tapi sesuatu telah terjadi pada sarung. Barangkali karena juga pengalaman suatu kebudayaan selalu memiliki kaitan sosial yang berubah. Sarung, yang sebenarnya bisa elegan dan sekaligus casual seperti desain Calvin Klein, kini surut menjadi benda yang sangat privat, hanya untuk kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang. Satu-satunya kesempatan ketika sarung muncul ke ranah publik, ialah ketika pergi ke masjid, di hari Jumat dan hari raya. Selebihnya, ia hanya ornamen yang merepotkan.

Maka, tak mengherankan bila sarung pun bisa jadi lambang sesuatu yang pribumi yang menyusut, sesuatu “rakyat” tapi terdesak, sesuatu yang cocok dengan lingkungan tapi terancam oleh arus modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga menjadi lambang kebersahajaan yang mandiri dalam menghadapi kementerengan palsu berkaki plastik.

Agak aneh juga memang riwayat sarung. Ada masanya ketika ia menjadi identitas sebuah lapisan dicemooh. Pada awal orde baru, ada slogan yang memperingatkan agar waspada terhadap “kaum sarungan”. Tak spesifik siapa, tapi dengan segera ungkapan itu menjadi jelas.

Waktu itu, ketegangan terasa, namun jarang diucapkan, antara kaum ningrat dan priyayi yang abangan, dengan kaum pinggiran yang santri di satu pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itu untuk waktu lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah “udik”.

Waktu tentu mengubah sengketa. Mungkin hal-hal “udik” kini ditimbang kembali dan oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan dihargai. Namun, (selaku pembaca yang tekun), saya tak pernah lupa kisah si Doel di hari lebaran dalam buku Aman Dt Modjoindo, anak betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi. Tapi engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Doel kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Roman ini dikarang pada zaman penjajahan Belanda. Kita tahu dimana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai oleh Departeman O.K&W itu (dipaksa) berpihak. Terlihat jelas Pemerintah Kolonial Belanda “membenci” sarung.

Di dunia ketiga yang sebagian besar adalah bangsa terjajah, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk memodernisasi bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala banyak orang. Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia, sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan. Ia pun suatu titik konflik.

Kita bisa melihatnya, justru karena sifatnya yang serbaguna, sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan juga masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa menjadi snob yang mencemoohnya sebagai barang yang disakralkan. Tapi kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi, sekedar agar tak disamakan dengan para orang kaya yang glamor.

Karena itu kita mencintai sarung, perkakas yang selalu ada di rumah penguasa, atau rakyat jelata.

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KAKI GAJAH BAGIAN DUA

Sambungan dari KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Seperti umumnya nostalgia, yang dulu banal pun jadi bagus, yang bersahaja jadi seperti seakan dalam, dan yang terancam punah seakan-akan jadi azimat. Kita tak peduli lagi bila yang dianggap pernah ada. Jangan-jangan hanyalah fantasi.

X

Kabong, suatu hari di bulan November 2004

Sebulan sebelum laut mengambil mereka, baru selesai STAN dan sedang magang di KPP Pratama Banda Aceh. Abu dipaksa mama pulang ke Kabong, bukanlah hal yang menyenangkan. Liburan singkat di Banda Aceh harus diisi pulang kampung yang harus melalui tiga gunung legendaris, Kulu, Parau dan Geuruete sangat berat (waktu itu). Abu sebenarnya tak mau, tapi mama memaksa, “Tolonglah Abu, mama takut kau tak akan melihat lagi Nek Nyang beliau sudah sangat tua.”

Saat itu masih terjadi konflik bersenjata antara GAM dan RI, kami harus melapor kedatangan ke semua pihak yang bertikai baik Polisi, TNI dan GAM (Betapa tidak menyenangkannya). Segala saudara menyambut, mereka berbaris. Kabong, tidak banyak perubahan di sana. Tapi manusia telah berubah anak-anak telah dewasa sedang yang tua semakin tua. Dan bangunan rumah kayu  pun makin rapuh.

Nek Nyang hampir mencapai usia 100, beliau telah buta. Ia merasa sedih, karena merasa menjadi beban. Ia tak bisa lagi ke sawah, Nek Juz disamping banyak diam. Mereka para perempuan kemudian bertangis-tangis, ada keharuan disana. Sebelum kami pulang Nek Nyang berpesan, ia merasa usianya tak akan lama lagi. Mengingat Aceh masih dalam keadaan perang, ia meminta kami tidak usah repot-repot pulang menguburkan jenazah beliau karena masih keadaan tak menentu, cukup saudara-saudara disana menemani. Nek Juz mengamini, mereka pasrah sekali. Mama hanya diam, Abu tahu mama bertekad akan pulang meskipun disana kelak terjadi perang nuklir sekalipun.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pegunungan. Matahari masih bersinar di langit, bayang-bayang panjang yang menjulur sampai Kabong, puing-puing kelabu yang jatuh ke dalam kegelapan. Ketika kami meninggalkan Kabong menggunakan L-300, hari itu.

Ternyata beliau benar, tsunami datang, dari seratusan saudara yang kami temui di November, wajah-wajah yang tersenyum melampai ketika kami pulang ke Banda Aceh itu, hanya belasan yang selamat. Kami tak pernah menemukan jasad mereka, dan akhirnya keinginan Nek Nyang terpenuhi, biarlah saudara-saudara disana yang menemani.

X

Suatu malam, November 2016

Kita tinggalkan sejenak Abu and wonderland, kembali ke realita. Dalam percakapan melalui telepon dengan istri di Batam. Jadi ceritanya begini, Dek Hayati dan tetangga sekomplek mendapat pembagian empat pil untuk mencegah penyakit kaki gajah dari seorang tetangga di rumah Batam yang berkerja di Puskesmas sana, dan jika Dek Hayati telat membalas BBM karena mual-mual (katanya efek samping pil tersebut) di minta Abu harap maklum.

Abu terkejut, di tahun 2016 ternyata penyakit itu belum punah, meski Abu di atas tahun 2000-an tidak pernah melihat lagi ada penyakit tersebut. Setelah menutup telepon, Abu berselancar sejenak tentang penyakit tersebut.

Penyakit kaki gajah adalah suatu golongan penyakit yang menular, yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk, dan setelah digigit nyamuk, parasit ketika sampai pada jaringan system limpa maka akan berkembanglah menjadi penyakit tersebut. Dan penyakit ini sifatnya menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap, berupa pembesaran pada kaki, lengan dan alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi penyakit kaki gajah bukanlah penyakit mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan sangat memalukan dapat menganggu aktifitas sehari-hari penyakit tersebut. (lebih lengkap di http://penyakitkakigajah.com/)

Kita tidak pernah tahu bagaimana masa kini menautkan diri dengan masa lalu, sebagaimana Dek Hayati bisa terkait dengan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya itu. Nek Nyang, Nek Juz dan sebagian besar keluarga mama di pesisir Barat telah tiada, diambil oleh pelukan cinta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam bentuk tsunami. Pohon-pohon besar ribuan tahun, sawah-sawah menguning itu tidak ada lagi. Kenangan dan cintalah yang menautkannya kembali dengan masa kini.

Abu teringat, Banda Aceh telah berubah menjadi besar. Telah diberbagai landmark baru, sesuatu yang baru terkadang harus dibangun atas yang lama. Perluasan Masjid Raya tentu memakan korban pohon-pohon kurma tempat Abu waktu SMP berteduh sepulang les di phibeta. Perluasan jalan di dekat Stadion Harapan Bangsa memakan korban pohon-pohon asam yang membutuhkan waktu ratusan tahun tumbuh. Tugu simpang lima baru tentu harus didirikan diatas yang lama, dimana Milanisti merayakan scudeto terakhir 2011. Atau pembagunan fly over di Simpang Surabaya wajib dengan jalan menghancurkan kedai-kedai kayu tempat Abu dan (alm) ayah pernah berkunjung.

Abu rindu suasana-suasana lalu, yang mungkin tak akan pernah terulang lagi. Ketika pulang kantor seraya bermotor Abu jadi berpikir, jangan-jangan dua puluh tahun ke depan ketika Banda Aceh semakin “membesar” Abu malah rindu suasana hari ini. Sejarah adalah jurus kaki gajah yang akan menimpa siapa saja, tak terelak, dan yang dapat kita lakukan mungkin hanya pasrah. Seraya menikmati hari ini, pada burung-burung berkicau di pagi hari, pada embun yang selalu hadir. Dengan syukur dan tafakur.

Tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi

Sebagai individu yang menghuni dunia ini, Abu bertanya dalam hati. Apakah masa depan akan lebih baik? Perusakan alam berlangsung terus, kemiskinan masih di alami dan intoleransi masih sering berjalan. Perang dan kebencian masih berlanjut. Namun dengan penyebaran informasi yang baik, hati nurani kita semua sering tersentuh. Setiap kali ada perang, gempa bumi, tsunami, banjir atau kekeringan yang menimpa banyak korban di tempat yang jaraknya sangat jauh. Ribuan orang menyisihkan uang, sarana, dan tenaga untuk memberikan bantuan. Kita gunakan itu sebagai bukti bahwa kita berhak mengharapkan masa depan yang lebih baik.

(SELESAI)

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

A MAN OF FUTURE

You are a man of future

You are a man of future

Life like an incarnation in its struggle with uncomprehending, prosaic ordinaries, the eternal conflict between the ideal and the real.

You have a soul of your own, and the privilege of freewill, whoever you be, as well the proudest he hat struts in a gaudy outside : You are a king by your own fireside, as much as any monarch in his throne. You have liberty of property, which set you above favour or affection, and may therefore freely like or dislike his history, according to your humour.

You are a man of future

House of Wisdom, 6 January 2017

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment