ELAN

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kalau kami bicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Jakarta 18 Februari 1950, Surat Kepercayaan Gelanggang.

X

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

Kekuatan apakah yang menginjeksi gerakan dinamis ke dalam sebuah kosmos yang beku. Kesatuan yang tak terpisahkan dari makhluk yang murni harus dibagi ke dalam beragam kategori berbeda sebelum menjadi kehidupan, dimulai dari pembedaan antara prinsip kehidupan (species) wanita yang pasif dan elemen energi aktif jantan.

Gagasan bahwa terdapat interaksi diakletis dari hal-hal yang bertentangan yang menghasilkan gerak progresif dalam banyak zaman dan masyarakat merupakan sebuah kunci untuk memahami penciptaan dan proses pertumbuhan segala makhluk hidup, terjadi perbenturan/percampuran sebelum menghasilkan sesuatu yang baru. Di Yunani kuno kekuatan-kekuatan tersebut diidentifikasikan sebagai cinta dan benci, Di Cina sebagai Yin dan Yang, dalam peradaban Barat modern disebut Tesis dan Antithesis.

Arnold Toynbe dalam A Study of History menyebutkan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu contoh peradaban satelit yang awalnya dipengaruhi oleh India, kemudian Indonesia dan Malaya (Malaysia) mengikuti peradaban Islam sampai di zaman penjajahan di pengaruhi peradaban Barat.

Dalam hal ini Indonesia setiap dipengaruhi oleh peradaban lain, ia tetap membawa nilai-nilai dari peradaban yang sebelumnya, bahkan peradaban awal yaitu dinamisme dan animisme. Dari segala kawin silang antar kebudayaan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang unik di dunia.

Jika hari ini kita melihat negeri ini dengan segala perbenturan yang memanas antar kebudayaan yang masih berakar di Indonesia, ada baiknya kita melihat ke belakang. Bahwa sesungguhnya di tahun 1930-an pernah terjadi polemik di kalangan cendekiawan Indonesia. Polemik ini bermula dari tulisan Sutan Takdir Alisjahbana “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru : Indonesia-Pra-Indonesia” (Majalah Pujangga Baru, 2 Agustus 1935). Ia membedakan “zaman pra-Indonesia” yang berlangsung sampai akhir abad ke-19 dan “zaman Indonesia” yang mulai pada awal abad ke-20. Ia menegaskan bahwa tentang lahirnya zaman Indonesia baru, yang bukan sekali-kali sambungan dari genarasi Mataram, Minangkabau atau Melayu. Karenanya tibalah waktunya mengarahkan mata kearah Barat.

Tulisan ini mendapat tanggapan dari Sanusi Pane dan Poerbatjaraka dalam tulisannya yang berjudul Persatuan Indonesia (Suara Umum, 4 September 1935), Sanusi Pane menulis. “Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dan Arjuna, memesrakan materialism, intelektualisme, individualisme dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme.” Dalam tulisannya yang berjudul “Sambungan Zaman”, Poerbatjaraka mengatakan, “Pada perasaan saya, yang menfaat buat tanah dan bangsa kita ini, ialah mengetahui jalan sejarah dari dulu-dulu sampai sekarang ini. Dengan pengetahuan ini kita seboleh-bolehnya berusahakan mengatur hari yang akan datang. Dengan pendek kata, janganlah mabuk kebudayaan kuno tetapi jangan mabuk kebaratan juga, ketahuilah dua-duanya itu supaya kelak bisa memakainya dengan selamat di dalam hari yang akan datang kelak”

Selanjutnya, terjadi polemik mengenai dunia pendidikan yang melibatkan sejumlah besar tokoh lain seperti Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amin dan Ki Hajar Dewantara. Tulisan mereka inilah yang kemudian dihimpun Achdiat K. Mihardja dalam buku Polemik Kebudayaan yang terbit tahun 1948.

Sayangnya, di Indonesia setelah polemik kebudayaan tersebut sangat jarang terjadi perdebatan yang bermutu. Bahkan jika diukur sudah lebih delapan puluh tahun sejak saat itu, Indonesia telah berpolemik dalam kesusastraan, bahasa dan politik dengan cara tidak seelok di tahun 1930, dimana roda kekuasaan silih berganti berpihak pada mahzab kanan dan kiri dan muncul berbagai kelompok, dan altenatif yang menjadi kebisingan dalam ranah relasi hegemoni kekuasaan.

Sebuah peradaban yang berhasil adalah peradaban yang mampu mengatasi hambatan terberatnya, namun akankah kita bisa berubah menjadi sebuah kekuatan? Belum tentu, karena ada cukup banyak peradaban yang punah dari muka bumi ini. Mesopotamia, Assyria, Mesir Kuno, Aztec, Maya antara lain adalah contoh yang nyata.

Kita berharap, bahwa sebagai manusia, bangsa maupun peradaban kita memiliki elan pertumbuhan. Apakah itu? sebagaimana kita tahu kelahiran adalah sebuah aksi tunggal. Pergerakan dan respon menjadi rangkaian upaya mandiri berkelanjutan. Jika setiap respon bisa membangkitkan ketidakseimbangan menuntut penyesuain kreatif yang baru. Semangat dan gairah (elan) mengajak manusia berkembang terus-menerus.

X

Semangat itu pernah ditulis oleh Chairil Anwar di tahun 1945. Hoppla!! Dunia-terlebih-kita-yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan. Hopplaa! Melompatlah! Nyalakan api murni! Marilah kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna.

Pada April 1949, sang “Binatang Jalang” menyerah. Ia pergi meninggalkan banyak kesan. Orang ingat tubuhnya kurus, matanya merah, tapi senantiasa riang dan gelisah. Ia urakan, liar, petualang kumuh, tapi seorang intelektual yang memiliki passion bagi kemerdekaan bangsanya, bangsa yang hidup dalam menantang dan merespon setiap perubahan zaman.

X

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

DI MANA ADA CINTA, DI SANA TUHAN ADA

Kehidupan ini terdapat unsur kebetulan yang mungkin dilewatkan orang biasa, maka kebijaksanaan harus memperhitungkan hal yang tak terduga.

Hidup terlalu singkat untuk tidak hidup.

Hidup terlalu singkat untuk tidak hidup.

Hal mengasyikkan dari memiliki ingatan adalah kita bisa memutar-mutar kejadian masa lampau, seperti menjelang tidur. Kala kantuk datang, dan mata tak hendak pula terpejam. Seperti semua orang di muka bumi ini, pada satu titik dari hidup mereka memiliki hal-hal besar berhubungan dengan perasaan mereka. Hari-hari dimana hati terasa kecil untuk menangani besarnya perasaanmu. Mungkin seperti ini salah satunya. Memikirkan emosi bagaikan sebuah fenomena yang unik dan bersifat pribadi, dimana orang lain tak merasakan apa yang kita rasakan.

Aku selalu tertawa, jika mengingat ini. Ingatan terdalam yang masih ada. Waktu itu, aku perkirakan umurku masih dua tahun. Ayah kedatangan seorang tamu, teman kantor mungkin. Biasanya setelah mandi dan berbedak, ayah selalu menciumku. Tapi, kali ini tidak. Ayah asyik dengan temannya, aku berpikir dan mencari cara menarik perhatian ayah. Tebak bagaimana? Aku sengaja pipis di celana. Sesegera mungkin perhatian ayah teralih kepadaku. Aku merasa juara, menurutku itu adalah piala pertamaku di dunia.

Aku adalah orang kebanyakan. Sewaktu masa sekolah, seorang anak yang selalu bertengkar dengan tukang parkir, meributkan uang seratus. Orang seperti ini sering duduk di pasar menjajakan sayur. Dagangannya penuh dengan lalat. Dan jika pernah menonton TVRI, kalian biasa melihat orang sepertiku meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak kamera.

Aku tak pernah kelihatan lebih muda sekaligus lebih tua dari rekan-rekan seumur. Segera setelah bekerja, tali pinggang lemak mengelilingi perutku. Aku adalah pegawai biasa-biasa saja, yang biasa kalian temui disetiap perkantoran. Dimana dalam setiap rapat-rapat penting selalu hadir, namun bukan peserta, tapi yang menjalankan power point.

Boleh jadi aku memiliki kebanggaan sedikit. Bila mana ada pertemuan-pertemuan berskala nasional dapat hadir, rata-rata orang merasa pernah merasa akrab, nyaman atau setidaknya pernah melihat. Biasanya aku menjawab, mungkin kalian pernah melihat aku di televisi.

Tentunya, aku tak akan dicap sombong bila bercerita bagaimana duduk perkaranya. Sekitar dua belas tahun yang lalu, tsunami menghantam Aceh. Hampir semua orang mengungsi, tapi aku tidak. Lha, mau mengungsi kemana?

Lalu apakah aku menjadi seorang reporter sebuah televisi? Atau setidaknya seorang tokoh lokal? Jika itu harapanmu teman-teman maka turunkan sedikit. Aku hanya duduk di depan televisi, memantau liputan khusus tsunami dari semua saluran siaran. Jika ada siaran live di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya, maka aku akan mengengkol Astria Grand 93 menuju lokasi sesegera mungkin.

Maka jika kalian mengenal Desy Anwar, Tommy Tjokro, Chantal Dela Contessa, Meutya Hafidz, Prita Laura dkk. Perhatikan dengan seksama jika kalian masih mendapatkan rekamannya. Ada orang bermotor berbolak-balik dibelakangnya olah pelintas jalan seraya memberikan senyuman termanis kepada kamera, ketahuilah orang itu aku.

Di lapangan terbuka beda cerita, kalau ada orang yang memungut sampah di belakang reporter. Segera zoom gambar itu saudara-saudara! Itu aku yang berupaya sekuat tenaga memberikan senyum pepsodent kepada seluruh pemirsa se-Indonesia Raya.

Yang paling konyol, dan membuat terkekeh kalau diingat sekarang, adalah ketika aku dengan gaya theatrical tersandung kabel mic yang dipakai Max Sapucua. Sampai dengan hari ini, aku masih bisa mengingat jelas kata-katanya, “hati-hati dik” dengan pelan. Jika kalian penikmat siaran langsung Sea Games, pasti mengetahui betapa legendarisnya orang tersebut.

Bukannya sombong, tapi aku memang pernah tampil sebagai cameo di beberapa event nasional di Aceh. Muktamar Muhammadiyah 1995 (sebagai pembawa tikar), serta Hari Olah Raga Nasional 1997 (sebagai pengangkat karton koreo) adalah yang masih bisa aku ingat.

X

Sebagaimana kawan-kawan telah tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar berbuat kebaikan. Jika hidup merupakan banyak pilihan, aku akan berupaya memilih yang terbaik, walau kadang-kadang tidak mengenakkan. Misalnya ketika menemukan uang, atau Handphone di jalan, aku akan berupaya mengembalikan, sampai dapat. Aku juga patuh pada petuah orang tua, menempatkan setiap kata ayah-bunda di atas nampan, membungkusnya dengan kain serta menciuminya dengan khidmat.

Dan ternyata, Tuhan menerapkan dalil tetap untukku dan orang sepertiku, yakni orang-orang seperti kami pada umumnya jarang diganjar ujian yang oleh orang-orang sering disebut cobaan nan tak tertanggungkan.

Oleh karena itu, seumpama di koran tersiar tentang berita seseorang sedang bersepeda di hari yang cerah di depan pegunungan, sekonyong-konyong jatuh ke dalam jurang, tak tahu kemana tertungging ke dalam lembah angker dan gelap gulita. Ia meminta tolong tiga hari tiga malam sampai habis suaranya. Akhirnya ia meminta tolong dengan kliningan sepedanya. Kring, kring, lemah menyedihkan. Naudzubillah, tragedi semacam itu biasanya menimpa orang lain, bukan lelaki sepertiku. Paling-paling Tuhan hanya memberiku cobaan terkunci di kamar mandi kantor, kamar mandi bus, kamar mandi pesawat atau yang terakhir di lift. Itupun tak pernah lebih dari lima belas menit. Jika mengingat itu, aku merasa betapa aku adalah orang yang beruntung.

Atau, seandainya hujan lebat. Seseorang sedang minum kopi dan pisang goreng dengan asoy. Tiba-tiba masuk perampok dengan golok terhunus mengambil televisi hitam putih, sampai sendok dan garpu pun disikat. Orang tersebut diikat di pohon depan rumah sampai diketemukan warga besok hari. Rambut, kumis, alis dan kulit mengkerut sepanjang malam dalam hujan. Dapat dipastikan, lelaki sial itu bukan aku. Aku paling kececeran dompet berisi KTP, STNK, SIM dan beberapa lembar uang.

Atau lagi, misalnya merebak berita soal seorang lelaki montok dilarikan ke rumah sakit, ambulans meraung-raung, tergopoh-gopoh menuju ruang tanggap darurat, sebab pria itu ketika sedang bermotor terlalu melihat kiri dan kanan sehingga tidak sadar di depannya ada tembok pagar yang celakanya berkawat pula. Sehingga ia tersengal-sengal sampai nyaris lunas nyawanya. Lelaki itu bisa saja absurd dan montok, tapi dia bukan aku. Aku paling hanya akan bermotor sambil melamun dan jatuh ke dalam sawah yang penuh air. Tersenyum kepada orang-orang kampung untuk memastikan aku baik-baik saja.

Dalam hidup aku telah merasakan banyak ke-Rahmanan dan ke-Rahiman. Ketika umur Sembilan berenang ke sungai dan terbawa arus, aku sudah mengucapkan syahadat tapi ada yang menolong dan selamat. Ketika hanyut di laut karena berenang dengan ban, aku diselamatkan oleh seorang perenang dan selamat. Ketika tsunami, aku rencana lari pagi ke arah daerah yang parah tsunami, dan syukurnya aku tak terbangun pagi. Berbagai hal di dunia ini, membuat aku percaya bahwa Tuhan menyukai orang-orang baik, atau setidaknya berusaha untuk menjadi baik.

XX

Di dunia ini, siklus alam sangat kuat, hari-hari berganti. Sebentar-bentar sudah senin lagi. Siang di telan malam, malam di telan siang. Dalam segala keterbatasan, kita belajar untuk mencari-cari kebahagiaan sendiri. Sebab, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak riskan. Sudah cukup banyak hal-hal yang diurus oleh pemerintah.

Terhadap hal-hal yang kita sangat inginkan, namun Tuhan belum memberikan. Maka janganlah berputus asa kepada Rahman dan Rahim-Nya. Manusia memang terbatas daya tangkap otaknya akan terhadap segala sesuatu, tapi tuhan mencatat dan Tuhan akan membalas. Seperti kata Leo Tolstoy : Tuhan tahu, tapi Tuhan menunggu.

Nyatanya, Dia maha mengetahui. Baik itu rezeki bagi seluruh makhluk di muka bumi, lembaran daun mana yang jatuh berguguran, segala perbuatan baik yang dilakukan terang-terangan maupun tersembunyi, ataupun tiap angan dan isi hati, baik yang diungkapkan maupun dipendam dalam. Namun, Dia juga Maha Menghitung. Kita manusia sama sekali tidak punya pengetahuan tentang bagaimana Dia bekerja, akan tetapi berdasarkan nama julukanNya, mungkin Dia menunggu saat semua variable telah berada pada kondisi yang tepat.

Sebaliknya, hidup beriak-riak kecil, berombak karena karma-karma adalah lumrah. Sesekali gagal dan lupa, atau bahkan terkena sial tak mengapa. Tapi bayangkanlah, jika semua perbuatan dosa / salah mendapatkan balasan seketika, kira-kira berapa banyak penduduk bumi yang masih hidup tanpa rasa hina, dan kita patut bersyukur apabila sebelum mati telah bertaubat kepada-Nya.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mencintai, karena Tuhan sendiri adalah pribadi yang penuh akan cinta. Dimana ada cinta, di sana Tuhan ada. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)

Rasullullah saw bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam AL-Kabir li Ath-Thabrani juz 11 halaman 84)

Hidup (jika) untuk memberi (kebaikan), mempesona layaknya cinta, seperti mengubah kata menjadi puisi.

XXX

 

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ISMAIL

Domba Kurban

Domba Kurban

Kita mencintai Ismail, ia berkata kepada sang ayah, Ibrahim. “Bila ayah baringkan aku untuk menjadi kurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan miring ke samping, sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas kasihan akan merasuki ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah.”

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar (QS Ash Shaaffaat 106-107)

Kita mengingat Ismail, di saat itulah ketika wajah seseorang yang nyaris menjadi kurban, kembali menjadi wajah seorang bocah, seorang manusia. Seorang Ismail adalah jawaban doa dari Ibrahim.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (QS Ash Shaaffaat 100)

Doa adalah bentuk dari syair, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa sekaligus bersyukur. Bahwa di gurun pasir yang tak sepenuhnya dikalahkan, tabir hidup selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan iman selalu hidup, ketika tuhan memberikan hidup tak terang benderang.

Tiap doa mengandung harapan juga rasa takut, di situ ada ketegangan. Doa bergerak antara ekspresi berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin dimengerti dan juga rasa takjub yang takzim, di hadapan ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, sujud atau tidak lidah tak bisa bertingkah.

Di jalan hidup yang rancu, dari sana kita bisa mengakui kekalahan tapi tanpa patah harap.

Iman lebih kaya daripada kemurnian, merupakan pemandangan lanskap sesak. Manusia bukan cetakan tunggal murni dari sang Adam, yang lahir tanpa sejarah serta langsung di anugerahi oleh Allah ilmu pengetahuan.

Manusia dalam pencarian harus bergulat dalam syukur atau cemas, di bawah sinar terang pagi hari atau kelamnya malam. Meskipun ia sering tak berani.

Maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (QS Ash Shaaffaat 101)

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , | 3 Comments

HOKI

Barang siapa yang meragukan adanya keajaiban, boleh belajar dari Portugal.

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Tidak pernah menang di babak penyisihan grup, Portugal diuntungkan dengan penambahan peserta di Euro 2016 sehingga lolos ke babak perdelapan final. Jalan Portugal menuju final bagai tertatih, hebatnya setiap kali mereka hendak terjatuh mereka selalu dapat bangkit.

Menjelang Final Euro 2016, Perancis lebih diunggulkan untuk menjadi juara terutama setelah menyingkirkan Juara Piala Dunia 2014, Jerman secara meyakinkan di babak semifinal. Terlebih mereka berlaga di negera sendiri, di bawah tatapan langsung rakyat Perancis. Di atas kertas Portugal lebih lemah, tapi sepakbola itu ditentukan di lapangan hijau.

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Skuad Portugal sendiri tak semewah tahun 2004, dimana mereka menjadi tuan rumah dan masuk final. Luis Figo, Rui Costa, Deco dkk sudah pensiun.

Lisbon, 4 Juli 2004. Tuan rumah Portugal secara mengejutkan kalah (lagi) dari Yunani. Cristiano Ronaldo yang saat itu berumur 19 tahun tampil selama 90 menit penuh, di akhir pertandingan ia menangis, lebih dari sekedar terisak-isak. Waktu itu generasi emas Portugal gagal.

Paris, 10 Juli 2016. Ronaldo kembali ke final, ia telah menjadi laki-laki dewasa, dengan ban kapten. Ia adalah protagonis Portugal, bukan lagi sekedar pemain muda berbakat. Stade de France, menit 25. Ronaldo termangu, tatapan matanya kosong. Syahdu, orang ini tahu dirinya takkan bisa melanjutkan pertandingan. Ketika ia ditandu keluar, sepertinya nasib Portugal sudah habis.

Memento, Final Piala 1998  vs Brazil (Luiz Nazario “Ronaldo” De Lima tergeletak dihajar Fabian Barthez dan Laurent Blanc) dan Final Piala Eropa 2000 vs Italia (hidung Fransesco Toldo berdarah diterjang David Trezeguet) seolah bakal terulang. Jalan Perancis menjadi juara seolah sudah terbuka lebar. Tapi, rencana boleh menjadi konstanta, namun dalam realisasi ada faktor hoki. Dan itu tak terduga.

Gempuran demi gempuran terus dilancarkan Perancis, Pelatih Fernano Santos sampai terkulai di bangku cadangan. Waktu terus berjalan, 45 menit pertama Portugal masih bisa bertahan, 45 menit kedua Portugal masih bernyawa. 15 menit pertama, Portugal mulai melakukan serangan-serangan sporadis, dan menit ke 109 pemain penganti Eder membobol gawang Perancis yang dikawal Hugo Lloris melalui tendangan dari luar kotak penalti. Sampai Mark Clattenburg meniup pluit berakhirnya pertandingan tidak ada gol yang tercipta. Sahlah, Portugal menjadi juara Eropa 2016.

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Jika anda menyaksikan Euro 2016 sedari awal, pasti tahu betapa tebalnya hoki Portugal.

Kembali ke tahun 2004. Hari itu minggu pagi, 26 Desember. Martunis (7 tahun) berencana bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan sepakbola kampung. Ia bahkan sudah memakai kostum tim nasional Portugal bajakan (Nomor 10 Rui Costa) yang dibeli di pasar kota Banda Aceh. Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Ia bersama ibu, kakak laki-laki Nurul A’la (12 tahun), dan adiknya Annisa (2 tahun) berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pick up tetangganya.

Saat digulung tsunami, pick up pun tenggelam. Martunis, ibu dan dua saudaranya tenggelam. Ibu, kakak dan adiknya pun hilang terseret arus tsunami, berpisah selamanya. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung. Kemudian ia berpindah ke Kasur yang melintas, yang naas tenggelam. Lalu ia memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Ia terseret kembali arus ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Syiah Kuala. Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia ke awak televisi Inggris yang kebetulan sedang meliput di wilayah itu. Dalam sekejap wajah Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal, beredar di stasiun televisi Eropa.

Martunis dan Ronaldo

Martunis dan Ronaldo

Ia menarik simpati bintang top sepakbola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes,  Cristiano Ronaldo. Akhirnya Federasi Sepakbola Portugal mengundang secara resmi Martunis ke negaranya. Cristiano Ronaldo sendiri secara khusus datang ke Aceh, ia mengajak Martunis menyaksikan langsung laga pra-kualifikasi Piala Dunia 2006 Portugal vs Slowakia (2-0) 4 Juni 2005 di Estadio da Luz, Lisbon.

Tak berhenti sampai di situ, Cristiano Ronaldo pun menjadikan Martunis sebagai anak angkat. Kini Martunis bocah telah menjelma sebagi remaja, ia berada di akademi Sporting Lisbon, klub yang sempat dibela Ronaldo. Ketika Final Euro 2016 berlangsung, Martunis sendiri telah berada di Banda Aceh, dalam rangka liburan. Bertepatan dengan suasana Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah.

Ada kekuatan dalam memberi. Semakin banyak memberi maka semakin berlimpah rezeki yang dibalaskan Allah S.W.T. Kita bisa melihat pelukan Cristiano Ronaldo ke Martunis sebegitu tulus, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki. Cristiano Ronaldo memiliki kecenderungan simpati kepada mereka yang “teraniaya”, seperti yang ia tunjukkan kepada Martunis, kepada Palestina. Itu semua menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang lembut. Hati mereka yang pernah diabaikan, direnggut dan dikalahkan oleh dunia.

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Kembali ke final Euro 2016. Kisah malam itu, layaknya perjuangan Martunis untuk selamat dari tsunami. Bahwa hidup dan harapan layak dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ketika ditinggal Ronaldo, jagoan nomor 1 mereka, justru Portugal bermain sebagai sebuah kesatuan. Pragmatis dan tidak menghibur. Tertekan sepanjang pertandingan, bahkan harus menunggu hingga menit ke-80 untuk dapat melakukan shoot on target ke gawang Perancis. Ajaibnya, efektif berhasil menghadirkan trofi Internasional pertama bagi Portugal.

Hoki Portugal malam itu, mungkin karena doa Martunis.

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MEMBAKAR BUKU MEMBUNUH INTELEKTUAL

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Hari itu, 10 Februari 1258. Hulagu Khan cucu Jenghis Khan, pimpinan sayap militer Kekaisaran Mongol, Ilkhanate dibantu oleh Kerajaan Georgia, dan Kepangeranan Antioch (Crusaders) merangsek masuk dalam ke kota Baghdad. Pasukan Kekhalifahan Abbasiyah yang hanya dibantu oleh Dinasti Ayubbiah telah hancur total. Kota itu sendiri dijarah dan dibakar, mayoritas penduduknya, termasuk keluarga Khalifah al-Musta’sim, dibantai habis. Bau busuk yang dari mayat-mayat yang tidak dikubur dan bergeletakkan di jalanan.

Perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, termasuk Bait al-Hikmah, tak luput dari serangan pasukan ilkhanate, yang menghancurkan perpustakaan, membakar dan membuang buku-bukunya yang berharga ke sungai Tigris. Sungai yang melintasi kota Baghdad itu berwarna merah darah bercampur hitam.

Invasi Mongol membuat pusat-pusat kebudayaan Islam Timur hampir disapu bersih. Yang tersisa adalah gurun-gurun telanjang atau puing-puing berantakan bekas istana kenegaraan dan perpustakaan. Masjid-masjid yang termasyur sebagai pusat ibadah dan pengetahuan, dijadikan kandang kuda oleh pasukan Mongol.

Ibn al-Atsir, yang menyaksikan, merasa ngeri dan berharap seandainya ibunya tak pernah melahirkannya untuk menyaksikan horor Mongol. Akibat dari penghancuran ini, Baghdad menjadi reruntuhan, penduduknya tersisa sedikit selama beberapa abad, seluruh buku-buku hasil intelektual berabad-abad lamanya, tak bersisa. Dan peristiwa ini oleh banyak peneliti disebut sebagai akhir zaman keemasan Islam.

Sejarah, adalah sekumpulan tulisan. Dalam hal ini saya meskipun berlinang air mata mengenang penghancuran Baghdad, saya mencoba tidak mendendam pada Mongol dan sekutunya. Akan tetapi sebagaimana buku-buku yang telah menjadi abu. Sebuah bangsa telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Oleh karena itu, sebagaimana saya meyakini tidak ada satu orang manusia layak untuk dibunuh, saya meyakini tak ada satu buku pun yang layak dibakar (dimusnahkan).

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Buku adalah tempat kita merawat ingatan. Dimana ada kitab-kitab yang dibakar, disana ada manusia yang dibungkam, gema dari yang tertindas dan tak diizinkan bersuara. Tak ada percakapan yang berlanjut dan tak harus mufakat. Menyisakan negeri berbau wangi, dan penuh suara fanatik.

Maka alangkah lucunya, ketika di negeri dengan minat baca yang sebegitu rendah, ada buku-buku yang dinyatakan terlarang. Harusnya kita menyadari bahwa kemampuan membaca itu sebuah rahmat, kegemaran membaca jika dimiliki anak-anak negeri adalah sebuah kebahagiaan. Membaca buku membawa dimensi lain, kita mengenal trauma dari mereka yang dicakar sejarah, dan tahu benar bagaimana menerima kedasyatan dan keterbatasan yang bernama manusia. Barangkali?

Oleh karena itu, saya selaku manusia menentang dengan sangat pemusnahan buku-buku apapun itu, entah kiri, kanan, depan atau belakang.

Saya tak pernah antipati terhadap buku kiri. Entahlah, mungkin karena saya sudah membaca buku-buku kiri sedari remaja. Seperti Das Capital dan tak mengerti isinya. Marx dan Engels terlalu kolektif, bahkan yang telah disederhanakan dalam bentuk komik sekalipun bagi saya seperti lelucon yang tragis. Ketidakpahaman saya sejalan dengan kebingungan saya bagaimana gerombolan komunis sebegitu tega terhadap seorang Tengku Amir hamzah dalam revolusi sosial Sumatera Timur tahun 1946. Sang Penyair yang sebegitu lembut itu tak pernah terbukti menyakiti orang lain itu disiksa kemudian dibunuh di kawasan Kuala Begumit oleh  mandor Lyang Wijaya yang tak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Kita kehilangan seorang penyair yang belum memiliki banding sampai sekarang, Ia dengan berani menghadapi ajal dengan mata terbuka setelah meminta waktu untuk shalat sebelum hukuman tembak dijatuhkan. Pahlawan itu direnggut paksa dari negeri ini, ketika Republik ini masih balita. Tapi, meskipun begitu saya juga tak menyetujui ketika kaum komunis dilenyapkan bagai cacing tanah di tahun enam puluhan.

Orang boleh bilang betapa hebatnya, Pramoedya Ananta Toer, tapi saya merasa bosan dengan bukunya Manusia Bumi. Saya mengakhiri membaca di bab dua. Bingung dengan kemarahan tak tentu arah pak tua tersebut.

Ia dan Lekra ketika diatas angin mempromosikan kemajuan sosial dan mencerminkan realitas sosial, bukan mengeksplorasi jiwa manusia dan emosi. Mereka menyerang Hamka, H.B Jassin, anggota Manifes Kebudayaan yang tidak sejalan dengan Manipol. Sikap vokal Lekra terhadap penulis berhaluan non-kiri, mirip dengan mencemarkan nama baik orang lain yang menyebabkan permusuhan abadi antara penulis kiri dan kanan.

Tapi saya juga merasa, tak layak buku-buku Pramodya Ananta Toer dilarang, ada dimensi dalam tulisannya yang tak saya pahami, tapi saya tak benci. Karena kebencian terhadap sesuatu hal yang ganjil, berbeda adalah gejala awal tirani.

Akan tetapi, saya mengakui ada satu buku kiri yang “menganggu” pikiran. Adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) buah karya Tan Malaka. Saya harus mengakui ini adalah buah kejeniusan seorang anak manusia, yang terlunta-lunta dan penuh penderitaan demi negeri yang ia cintai, Indonesia. Ia yang tak berpustaka, bukunya cerai berai dalam pelarian di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia, Singapura dan Indonesia mampu menyusun sebuah buku dalam bentuk dari paham yang bertahun-tahun dalam pikirannya, dalam sebuah kehidupan yang bergelora. Ditafsirkan dengan mekanis dan empiris.

Ia memiliki prakarsa menggabungkan kekuatan Komunisme Internasional dengan Pan Islamisme, dan keluar dari garis partai. Meski pun begitu saya meyakini dia adalah seorang komunis tulen ketika menulis buku itu, Ia mengakui mengagumi Nabi Muhammad S.A.W tapi di satu sisi ia menggugat tuhan dan api neraka. Dalam bab VI Logika, halaman 245 Tan Malaka menulis, “Kalau satu detik saja, satu manusia DIA biarkan dimakan api neraka yang Maha Panas itu, Tuhan tidak lagi Maha Kasih. Jangankan lagi kalau sekiranya Dia membiarkan juta-jutaan manusia dibakar yang berabad-abad!”

Saya tak merasa buku Tan Malaka tersebut itu layak dilarang, setiap anak-anak muslim yang membaca kutipan tersebut memiliki hak menantang Tan Malaka, berdasarkan apa yang di dapat dari kehidupan, orang tua, para Tengku dan guru-guru agama. Saya berempati pada penderitaan Tan, mengagumi semangat, kejeniusannya tapi tak ragu melawannya dalam pertempuran pemikiran satu lawan satu. Begitupun yang saya harapkan dari anak-anak negeri ini.

Menurut saya Tan Malaka terlalu materill, wajar ia dalam perjalanan hidup yang penuh kesusahan itu belum memiliki kesempatan mempelajari hakikat. Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, bahwa sebenarnya Surga dan Neraka bukanlah tujuan, Allah S.W.T adalah gagasan tertinggi dari semua pemikiran, semua dibingkai dalam pemaknaan pada Tuhan, tujuan utama. Tujuan akhir dari semua pengembaraan jiwa. Puncak kedamaian dan akhir semua cerita, saat manusia telah sampai pada tujuan sempurna.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita, umat Islam, untuk memulai seluruh aktivitas dengan membaca bismillahirahmanirrahim, yang mengisyaratkan agar umat Islam tidak memiliki niat dan amalan selain menyebarkan kasih sayang di muka bumi.

Kasih sayang yang menyebabkan kita, memaafkan orang sebengis Hulagu Khan sekalipun. Saya merasa kasihan kepada Tan Malaka, dan berharap ia mencapai Khusnul Khatimah diakhir hidupnya, sebelum dieksekusi mati yang menurut penelitian Harry A Poeze dilakukan oleh Brigade Sikatan atas perintah letkol Soerachmad, di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada tanggal 21 Februari 1949.

Jangankan buku kiri, saya berpendapat bahwa buku-buku roman picisan ditulis oleh Freddy S, yang meyakini bahwa mesum adalah bagian alami manusia, dimana secara alami orang suka hal-hal yang eksotik dan sedikit buka-bukaan. Menurut saya, semua yang ia karang itu aneh. Akan tetapi tetap ia merupakan sebuah karya yang tak boleh dihancurkan. Karena diakui atau tidak, setiap buku adalah penanda zamannya.

Maka selaku manusia, saya menantang pembunuhan buku. Karena didalam ini belum melupakan sepenuhnya perasaan seorang anak kecil itu, yang belasan tahun lalu menganggap buku adalah pesawat ajaib. Kantong cekak, dan hanya televisi hitam putih yang hanya menayangkan TVRI. Dengan buku-buku yang saya peroleh di perpustakaan, saya memperoleh penghiburan, memasuki dunia yang sebenarnya tak tertembus. Tiap kali, tiap buku, dunia itu berubah, berbeda, berkembang dan terasa akrab.

Di tiap pembakaran buku, di situ pemakaman intelektual terjadi.

X

Tuhan, apapun karuniaMU

Untukku di dunia, hibahkan pada musuh-musuhMU

Dan apapun karuniaMU untukku di akhirat

Persembahkan pada sahabat-sahabatMU

Oh, bagiku cukuplah engkau

Bila sujudku padaMU karena takut neraka, bakar aku dengan apinya

Bila sujudku padaMU karena damba surga, tutup untukku surga itu

Namun bila sujudku, demi ENGKAU semata

Jangan palingkan wajahMU

Aku rindu menatap keindahanMU

(Diyakini oleh masyarakat sebagai syair yang digubah Hamzah Fansuri, sepeninggalnya ia buku-bukunya diperintahkan bakar atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry. Atas usaha Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala dikemudian hari beberapa kitabnya dapat diselamatkan, dan tercapai konsensus).

XX

 

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

GLUTTONOUS

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

Pelan pelan, tahun demi tahun berjalan. Bulan silih berganti datang, manusia digerus waktu. Di setiap hari, pada jalan-jalan sama, perasaan yang tak pernah berubah. Adakah yang salah?

Orang bijak berkata, bertahun-tahun dalam perang yang panjang, kita kehilangan sebegitu banyak orang pintar, berprinsip, dan setia. Menyisakan mereka yang bermuka dua. Namun dalam sebenarnya dalam kedamaian, kita kehilangan sikap, kedisplinan serta kemarahan yang membuat hidup lebih bergairah.

Dalam renungan, aku mencoba mengingat masa-masa lalu yang penuh tak kepastian, semangat berjuang yang membuatmu tak mudah menyerah. Ada waktu kau tak merasa raksasa, bukan siapa-siapa. Terbuka untuk menjadi apa saja, dan menyerap segalanya.

Sebelum kau menjadi terlalu pemarah, sebelum kau serakah, sebelum kau “merasa” perkasa. Dalam ketakutan dan sengsara, kau belajar memahami perasaan mereka yang kalah. Yang tersingkir, dan menangis untuk mereka yang teraninaya. Bahwa bersenang bersama memang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan, ketika dalam keadaan sulit tetap mempedulikan. Sadarkah kau ketika merasa unggul dan lebih hebat dari orang lain, disitulah awal sebuah kekalahan.

Aku berbicara tentang kau! Bukan para pemimpin negeri, bukan para koruptor di televisi. Aku berbicara tentang kau, yang terlihat jelas di depan cermin. Seseorang yang di waktu kecil mempunyai impian besar, dan ketika besar hanya punya kenyataan kecil.

Aku merindukan masa-masa di mana masalah terbesar dalam hidup, hanyalah sebatas nilai ulangan jelek, dan takut dimarahi mama karena ketahuan merokok. Sekarang, aku melihat gambar babi, dan aku (kau) di cermin dengan pandangan berulang, sampai titik dimana aku tak mampu membedakan satu sama lain.

Dan ketika Ramadhan datang, kuharap engkau suci (fitrah) kembali.

Posted in Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

ODA SEBATANG POHON

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi)

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi Pribadi)

Sebatang kurma berdiri di tengah Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari negeri kurma.
Kataku: Sungguh kau sepertiku, jauh di pengasingan,
terpisah lama dari kawan dan keluarga. 
Kau tumbuh dari tanah yang asing bagimu;
Dan aku, sepertimu, jauh pula dari rumah.

Abdul Rahman I dari Kordoba

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment