KEKUASAAN PLUIT

12 November 2009

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, wasit dilengkapi dengan sebuah instrumen bernama Peluit. Peluit adalah sebuah alat berukuran kecil terbuat dari berbagai bahan seperti kayu atau plastik yang mengeluarkan suara nyaring ketika ditiup. Peluit umumnya berbentuk lonjong dengan lubang kecil di bagian atas untuk perputaran udara.

Menjadi wasit berarti menjadi hakim dalam sebuah pertandingan, ia adalah pejabat yang memimpin, memutuskan hukuman bagi para pihak. Seringkali wasit menjadi pihak yang paling dipersalahkan oleh keputusan-keputusannya yang dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan satu pihak.

Sebagai seseorang yang pernah bermain sepak bola dalam pertandingan antar kampung. Abu adalah termasuk pemain yang bengal, dalam arti kata kerap melawan wasit. Wasit adalah pihak pertama yang Abu salahkan jika tim kami kalah dalam pertandingan, segala kesalahan serta caci maki sumpah serapah ditujukan hanya pada wasit. Satu hal yang jamak dalam kehidupan dunia olah raga kita. Abu pun termasuk didalamnya, menjadi salah satu bagian integral dari masyarakat kita. Sama hingga suatu hari mata Abu terbuka lebar.

Adalah turnamen Futsal yang diadakan oleh teman-teman sekantor. Pada suatu ketika, tidak ada yang ingin menjadi wasit karena akan menjadi pihak yang menerima teror dari penonton dan pemain-pemain dilapangan. Dasar Abu, bangsa mau. Sifat optimis Abu bergejolak dan mengajukan diri sebagai wasit. Hanya bermodal keberanian Abu mencoba.

Ternyata menjadi wasit yang adil itu sulit, meskipun berusaha untuk adil. Pasti ada yang terlewatkan. Sekejap saja hilang kosentrasi maka bisa berakibat fatal terhadap pertandingan. Apalagi jika pertandingan tersebut memiliki tensi emosi tingkat tinggi. Sebagai wasit, sikap fokus dan tegas harus mati-matian dipertahankan ditengah atmosfer keras. Untungkah, wasih dibekali sebuah instrumen kekuasaan bernama peluit yang menjadi pertanda kekuasaannya dilapangan. Dasar Abu, mendapat mainan baru malah keasikan meniup peluit yang malah diprotes oleh para pemain.

Abu baru pertama kalinya menjadi wasit, selalu ada kenikmatan tersendiri terhadap apapun yang kita lakukan pertama kali, itu pasti. Alangkah baiknya jika mengambil hikmah dari segala pengalaman yang kita alami. Ternyata sangat mudah untuk menilai seseorang jika kita dipinggir lapangan, sangat mudah menduga seseorang buruk dari kaca mata kita. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak pernah mengkomunikasikan hal itu dengan santun. Dengan emosi dan berbalas emosi, atau yang paling buruk adalah dengan cara bergunjing, membicarakan dibelakang.

Setiap pengalaman menambah ilmu kita, maka Abu sangat senang menjadi wasit. Namun untuk pertandingan berikutnya Abu harus memberikan kesempatan kepada orang lain, bukan karena takut melainkan ternyata Abu telah memaksakan fisik untuk mencapai batasnya, dan sudah saatnya untuk istirahat.

” The optimist sees opportunity in every danger, the pessimist sees danger in every opportunity.”

Milvan Murtadha, 12 Nopember 2009…

 

INGIN KUKATAKAN

21 October 2009

Sungguh ingin kukatakan, “Jangan menangis.” Lalu kumenyadari bahwa air mata adalah anugerah yang diberikan tuhan kepadamu. Sungguh ingin aku membasuh butiran air yang menetes dipipimu, meskipun ruang dan waktu tak memberi kesempatan padaku jua.

Ini waktu adalah dimana hatiku gundah dan gulana dan hanya menarik nafas panjang dan tak tahu berkata apa-apa lagi. Aku tak pernah menyangka, diriku yang menyebut dirinya dengan sebutan pejuang, harus tergugu dan membisu. Aku yang tak pernah mengaku kalah tak sigap terhadap air matamu.

Aku meyakini diriku adalah pembelajar, mencoba untuk tetap tangguh menghadapi segala rintangan. Maka dengarlah kata-kataku duhai cintaku yang sederhana, “Bila tiba waktunya tak akan kubiarkan air matamu menetes lagi!” Bila engkau memiliki ketakutan dan kesedihan, berikan padaku. Karena aku akan melindungimu.

“Mengapa orang tak bisa bahagia seperti harapan, mengapa orang lemah dan terpojok, dan itu adalah orang yang paling kucintai. Aku ingin mencari pelangi, aku ingin melihat pelangi. Aku tahu malam ini tak bisa kutemukan, tidak sekarang pun tak apa-apa.”

Lhokseumawe, Rabu dini hari. 21 Oktober 2009

Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872. Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan.

Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih. “Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya.

Cinta kadang dalam bentuk kata, kadang pula tanpa kata. Tapi bagi setiap anak manusia, cinta ibu adalah yang paling berarti. Mata beliau kosong ketika menjambak keras rambutku, menampar-nampar pipiku keras dan semakin pelan. “Anak durhaka! Kemana saja kau selama ini?” Kemudian beliau mendekapku mesra, seperti bayi. Bayi yang baru dilahirkan dan dibuai dalam kasih sayangnya. Begitu tulus sehingga kutaktahu harus berkata apa lagi.

Bagi kami yang dilahirkan di tanah ini, ketika berhadapan dengan musuh diajarkan untuk menyingkirkan nurani. Kami adalah kaum yang tega meludahi, mencincang, bahkan mengencingi lawan sambil tertawa. Belanda menyebut kami sebagai bangsa perompak tua yang harus diberantas. Tapi dihadapan ibu kami tak lebih dari seorang kanak-kanak, berapapun usia kami. Putroe Phang1) menyadari hal ini, dua ratus tahun lalu mendesak suaminya Sultan Iskandar Muda2) menerbitkan Qanun3) yang berisi bahwa setiap anak laki-laki Aceh yang menikah diharuskan tinggal dirumah pihak perempuan, atau membuat rumah sendiri. Sebagai Permaisuri beliau pun risih jika harus tinggal serumah dengan mertua, dengan suami yang manja, sangat manja dengan ibu mereka.

Aku tidur dipangkuan ibu, kapten perompak yang pernah menahkodai bintang hitam. Disegani Navy Inggris, ditakuti skuadron Portugis, diburu armada Perancis dan mimpi buruk Flying Duchman4) takluk tanpa syarat. Dan ketika beliau bercerita aku pun hanya bisa terdiam, atas usahanya bertahan hidup untuk menjaga warisan untukku, agar tak dibagi oleh Karong5). Padahal hanya sepetak tanah ditepi krueng Aceh6). Apalah artinya dibanding pundi emas jarahan yang kubawa. Sifatku ingin membantah, tapi mulutku terkunci diam tanpa kata.

Ibu semakin menua, lebih tua dariku yang sudah tua. Beliau tak pernah kemana-mana. Beliau yang percaya bahwa Aceh Darussalam masih perkasa. Membenci kaphe7) sangat disatu sisi, namun disisi lain meyakini tanah Gayo8) adalah khayangan. Lucu penuh pertentangan. Tapi beliau adalah ibuku, seseorang yang paling kucintai dalam hidupku. Tiba-tibaku sadar kepulanganku ini bukanlah semuluk yang kusangka, bukan menyelamatkan Aceh Darussalam yang mewakili kedaulatan Nusantara terakhir dari masa-masa gelap sejarah. Bukan melindungi ibu pertiwi dari penjajahan. Hanya pulang dan mendapati ibuku masih hidup, ya sesederhana itu. Tak lebih, dan hari ini kenyataan melebihi anggapanku. Ternyata dunia tak seburuk dugaanku.

“Sudah akan azan jumat, pergilah ke Masjid Baiturrahman9)!” Perintah ibu seraya membelai kepalaku. Keningku berkerut, sudah berapa lama aku tidak shalat dan aku sudah ragu bagaimana caranya. “Ayo cepat!” Perintah ibu lagi. “Jumat depan.” Jawabku ragu. Kembali memukul kepalaku, “Berapa lama kamu pergi? Kamu sudah menjadi.” Suara beliau hilang sesaat dan menyambungnya dengan, “Durjana!” Aku tersenyum, ya itulah julukanku. Sang Durjana, tapi biarlah ibu tak pernah tahu apa yang kulakukan sampai dengan kemarin. Aku memejamkan mata, tertidur dan tak tahu apa-apa lagi. Rasa damai ini sungguh menyejukkan.

1. Tengku Kamaliah, seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Istri Sultan Iskandar Muda. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cinta. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
2. Sultan Iskandar Muda (Aceh, 1593 atau 1590 – 27 Desember 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.
3. Qanun = Perangkat Undang-undang.
4. Flying Duchman = Julukan pelaut Belanda.
5. Karong = Sistem perwalian secara adat di Aceh.
6. Krueng Aceh = Sungai Aceh yang membelah ibu kota Bandar Aceh Darussalam.
7. Kaphe = Julukan kaum putih, penjajah yang umumnya beragama Nasrani. Berasal dari kata Arab kafir.
8. Tanah Gayo = Tanah dataran tinggi pegunungan ditengah Aceh, didalam sistem administrasi Republik Indonesia sekarang pada Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
9. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Bandar Aceh Darussalam. Sewaktu Belanda menyerang pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas.

SAMBUNGAN DARI : http://tengkuputeh.wordpress.com/2009/10/12/risalah-sang-durjana-bagian-dua/

TAK ADA APA APA

7 October 2009

Ini kali kita bertemu, tak sengaja. Tidak ada apa-apa. Benci tiada, segalanya telah menguap. Biasa saja. Kata-kata tiada. Dan jika akhirnya bibirku tersenyum karena aku berbahagia. Sangat senang menjadi seorang yang tak lagi kau kenali. Sangat senang karena aku telah berhasil menjadi seseorang yang aku inginkan.

Dulu, kau katakan bersama waktu aku akan melupakanmu. Dan hari ini aku terkejut betapa kata-katamu itu tak lain dan tak bukan melainkan kebenaran. Kata-kata harimau yang engkau keluarkan ternyata hari ini menerkammu. Sungguh tak ingin kutertawa pada merana yang kau rasakan, maka menjauhlah.

Engkau tahu aku selalu menepati janji, maka janganlah kecewa jika hari ini aku menunaikan janjiku. Meski engkau merana, aku tak akan melihatmu lagi dengan perasaan yang sama. Aku yang tak pernah memiliki rasa takut sedari dulu, jadi mengapa hari ini aku harus ketakutan jika berhadapan langsung denganmu lagi.

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu. Kini ku memiliki masa depan yang harus kurengkuh. Satu kalimatku untukmu, janganlah terjerat masa lalu.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”

SEJARAH KEHIDUPAN

14 September 2009

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

Waktu berjalan seperti singa, ia melumat segalanya. Dua belas tahun sudah meunasah Al-Munawarah berdiri. Ini adalah Ramadhan kali keduabelas. Sejak Meunasah ini didirikan Abu sudah menjadi bagian dari sejarahnya namun sudah tiga tahun Abu absen tadarusan disini, sudah lama juga sehingga kerinduan itu merasuk dan akhirnya membezuk.

Zaman sekolah sudah berlalu, dan ketika manusia semakin tua. Ia disibukkan dengan hal yang bersifat dunia dan menuntut untuk meninggalkan kampung halaman. Tidak ada yang berubah dari dekorasi meunasah ini, kecuali arah kiblat yang sudah dimiringkan disesuaikan dengan ketentuan baru yang ditemukan dikemudian hari. Abu datang pada kepulangan sesaat dikampung halaman.

Seperti ada yang hilang, dimana kaum muda. Tinggallah para orang tua, padahal dulu ramadhan disini selalu semarak oleh para pemuda. Dulu ada acara bakar jagung, ada acara memasak ayam ditengah malam menyelingi tadarusan. Sekarang sepi, dan Abu merasa asing.

“Abu kapan pulang?” Suara yang familiar menyapa ketika berwudhu. Bang Regar rupanya, diantara sejawat hanya dia yang masih bertahan. “Abu sudah tiga hari di Banda bang, mana teman yang lain?” Abu balas bertanya. Bang Regar tersenyum lalu mengangkat bahu.

Selesai wudhu, kami duduk di balai samping meunasah. “Orang-orang bertambah banyak, bagai bermunculan dari perut bumi. Tapi mengapa meunasah kita semakin sepi?” Bang Regar menatap wajah Abu datar. Sebuah pertanyaan yang Abu rasakan tidak untuk dijawab, hanya didengarkan. Membesarkan hati bang Regar, Abu berkata. “Tapi abang masih ada disinikan?”

“Tahun depan aku berencana menikah, mungkin aku nantinya tidak tinggal dikampung ini lagi.” Abu hanya tersenyum mendengar pernyataan bang Regar. Sesaat kemudian kami berbicara tentang masa lalu, tentang hari-hari yang telah kami lalui setelah beberapa lama tak bertemu. Ada banyak cerita yang kami bagi dalam waktu singkat. Dalam tawa dan senda persahabatan.

“Ayo bang kita tadarus sekarang, besok malam Abu harus kembali ke Lhokseumawe. Tugas Abu disini sudah berakhir.” Ajak Abu. “Tapi kamu akan kembalikan? Menjelang hari raya nanti.” Tanya bang Regar. “Pasti bang, ini kan kampung Abu. Kita nikmati malam ini dulu dengan bertadarus, besok adalah urusan nanti.” Ajak Abu sekali lagi. Bang Regar masih belum puas, “Besokkan hari Sabtu mengapa kamu terlalu cepat kembali ke Lhokseumawe, masih ada satu hari lagi? Abu hanya tersenyum. Kening bang Regar berkerut lalu tertawa, “Sudah lama waktu berlalu, tapi kamu masih saja begitu. Menjawab pertanyaan yang tidak mau dijawab dengan senyuman.”

“Ini karena bentuk bibir Abu yang selalu terlihat tersenyum bang. Ayo kita masuk.” Abu menarik bang Regar masuk ke meunasah dengan mengandeng. “Norak kamu Abu! Masih juga suka mengandeng.” Bang Regar menepis tangan Abu, kemudian tertawa. Kami pun masuk ke dalam meunasah, merajut malam dengan menggajikan kitab suci dengan nyanyian yang sama, sama seperti dulu.

Meunasah (bahasa Aceh) = Surau, Langgar, Mushalla.

Sunyinya malam bukti kehidupan
Nyanyian alam sendu menyayat
Mengeja kitab suci
Kala insan lelap dalam buaian
Masa muda lenyap sudah
Seiring waktu tak terhiraukan
Tawa riang dan canda tak ada lagi
Terkubur penyesalan yang dalam
Dengarlah insan yang terlelap
Bangun dan sadarlah dari tidurmu yang panjang
Sebelum layar kehidupan diturunkan
Renungkanlah wahai

PERJALANAN INI

18 August 2009

“perjalanan ini terasa lebih meletihkan, tanpa kau disisiku.”

Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia.

Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris.

Rasulullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasulullah juga mecoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Pentingnyanya proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah.

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.

Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan agama Islam saat ini? Atau dia disini bisa berwujud Che Guevara, Mahatma Gandhi, Sukarno, Chistoper Columbus, Snouk hurgronye, Thariq bin Ziyad atau siapapun dia.

Bagi penulis pribadi perjalanan ini mungkin banyak membawa hikmah antara lain mempertemukan kita dengan orang-orang yang terbaik yang mungkin tidak akan kita kenal atau bahkan kita temui kalau kita tetap di kampung halaman kita. Terkadang melihat hal-hal yang baru juga membuka cakrawala berpikir kita dan meningkatkan kualitas diri kita.

Lhokseumawe-Lhoksukon, renungan perjalanan tiga puluh kilometer, 17 Agustus 2009. Jalanan padat, dipenuhi sorak-sorai karnaval memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Milvan Murtadha

MENCANDU ILMU

21 July 2009

Salah satu keunggulan semangat membaca adalah ia memberikan kita pengetahuan. Menjadi sumber kreasi yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Kecerdasan lebih utama dibanding kepintaran, mengapa? Karena orang cerdas selalu dapat mengalahkan orang yang pintar dalam mencari kemungkinan menyelesaikan masalah. Itu karena orang yang “merasa” pintar hanya terpaku pada satu jalan keluar, sehingga mudah ditaklukkan apabila polanya ditemukan.

Senin libur Isra’ Mi’raj, ditambah sabtu dan minggu berarti libur tiga hari. Ingin rasanya pulang ke Banda Aceh tapi sabtu-minggu ini empat mata kuliah ujian final di Unimal. Jadi, lebih baik Abu di Lhokseumawe. Mengejar sesuatu, kehilangan sesuatu. Diantara dua pilihan, maka salah satu harus dikorbankan. Malam Senin, ujian telah terlewati. Tinggal dua mata kuliah lagi di semester empat ini, untuk minggu depan. Teman sekontrakan Samba ke Medan, Jojo pulang ke Lhoksukon. Tinggallah Abu sendiri dirumah menonton TV yang penuh dengan acara pengeboman Hotel Marriot dan Rizt Carlton. Telepon juga tidak berbunyi, mungkin karena selama dua malam sebelum ujian Abu mematikan HP secara total, bosan juga begini.

Aha!!! Lebih baik ke rumah Tengku Salek Pungo, membalas kunjungan dua minggu sebelumnya. Abu kan tidak tahan udara malam? Tenang, bulan lalu ketika liburan ke Jakarta Abu sempat membeli dua sweater di Tanah Abang. Tidak selamanya kita lemah terhadap sesuatu bukan? Manusia sebagai makhluk yang berpikir harus berinovasi untuk mengembangkan diri, hal yang menyebabkan hari ini makhluk yang bernama manusia mendominasi dunia, mendesak ke pinggir hewan-hewan terkuat, terganas dan paling mematikan sekalipun. Nanti, pelan-pelan Abu akan menantang udara malam tanpa jaket maupun sweater, lihat saja nanti Abu berjanji. Pukul setengah Sembilan malam, sudah selesai Isya. C’mon My Lovely Blue Shogun 125 The next destination, Tengku Salek Pungo House’s!!!

Sesampainya disana, didepan rumah TSP ada truknya bang Sawan. Ternyata diteras TSP dan Bang Sawan sedang berbicara serius. Mereka membahas masalah tingkat tinggi,pengaruh pengeboman di Jakarta terhadap perekomomian di Indonesia. Bang Sawan berbicara dengan analisis yang luar biasa mengalahkan para dosen Abu di Unimal bahkan pengamat ekonomi tercanggih di TV, sedang TSP memberikan pandangan secara Fiqh, saling tukar pendapat para pakar. Tanpa menyela Abu mengambil tempat disudut, dan berusaha menyerap itu semua dengan otak sederhana ini. Luar biasa, Abu benar-benar beruntung bisa hadir disini.

Dengan takzim Abu menyimak, sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Abu. “Eh, Abu sudah lama?” Tanya TSP, ternyata perbicangan mereka sebegitu seriusnya sehingga baru sadar akan “adanya” Abu disitu. “Lumayan tengku.” Jawab Abu sambil tersenyum. “Eh, ada abang wajah semi artis.” Sapa bang Sawan seraya tertawa, Abu pun tersenyum kepada beliau.

Namun suasana dialog sudah mencair, feelnya sudah hilang dengan kehadiran Abu. Adu jurus para Maha Guru terganggu akan kehadiran seorang Casis. Tidak enak juga, “Bang Sawan ternyata jago juga ya tentang ekonomi?” Beliau tersenyum. “Bukan abang sombong, tapi untuk masalah ini pengetahuan abang imbang-imbang dengan menteri sekarang.” TSP tertawa, sedang Abu menganguk bloon.

“Begini bang Sawan, Abu punya tugas analisis ekonomi. Sepertinya susah sekali, apa abang bersedia membantu?” Tanya Abu malu-malu. “Silahkan bang Pasya, jangan sungkan-sungkan!” Jawab Bang Sawan, Abu kena batunya!!! Sering memberikan julukan kepada orang lain, dan hari ini Bang Sawan tanpa pikir panjang memberikan julukan pada Abu. Senjata makan tuan.

Abu memejam mata mengingat, soalnya tidak membawa catatan. “Begini bang, seandainya di kota New York sebuah grup Kartel memproduksi 500 kilo obat bius setiap bulan, dengan harga $500 per-ons. Bulan ini DEA melakukan operasi besar-besaran dan menangkap 50 persen kapasitas kartel tersebut. Bagaimanakah pengaruh penangkapan tersebut terhadap permintaan dan penawaran obat bius di kota New York?” Susah payah Abu mengatakannya.

Bang Sawan terdiam, menarik nafas lalu berkata. “Karena Allah dalam Quran menggunakan banyak perumpamaan. Maka Abang akan pakai perumpamaan untuk kamu, Afgan.” Abu menepuk jidat, bang Sawan lebih parah tingkat memberi julukannya kepada orang lain. “Untuk memahani persoalan ini kamu harus menjadi seorang pengedar ganja.” Tunjuk Bang Sawan. “Nah loh masak Abu harus menjadi pengedar ganja?” Protes Abu, keras.

“Maksud Abang, kamu harus berpikir seolah-olah kamu adalah pengedar ganja. Begitu maksudnya abang wajah semi artis. Coba bayangkan jika setengah pengiriman ganja ke Sumatera Utara ditangkap polisi diperbatasan. Apa akibatnya?” Tunjuk bang Sawan. Abu menggeleng tidak tahu. “Yang jelas harga ganja di Medan pasti naik! Dan yang beli ganja disana pasti turun, tapi tidak banyak. Tahu kenapa? Karena mereka sudah kecanduan.”

“Analisis angkanya bang?” Tanya Abu lagi. “Kamu pikirkan sendiri, kamu kan sudah diajarkan rumusnya. Masalah tekhnis itu urusanmulah bang Pasya.” Abu memejamkan mata lagi, mengingat kurva hukum permintaan dan penawaran. Mengingat rumus elastisitas. Kena!!! Ya benar kata Bang Sawan, luar biasa orang ini.

“Abu masih ada tugas lainnya bang, bagaimana pengaruh pembatasan mobil Toyota masuk ke Amerika terhadap penjualan mobil Ford disana?” Asyik, masih banyak tugas Abu. Mumpung sedang ada masternya, kesempatan ini tidak akan Abu lewatkan. “Abang malam ini jatah mengunjungi isteri kedua jadi tidak bisa berlama-lama. Bayangkan saja bang Afgan, pembatasan masuknya tomat Medan yang besar dan segar ke Aceh terhadap tomat Aceh yang kurus dan sayu!” Bang Sawan bangkit, menyalami TSP dan berbalik pergi. “Apa hubungannya bang?” Teriak Abu. Bang Sawan sudah naik ke dalam truk ia menutup pintu. Abu kecewa, tapi kemudian ia menurunkan kaca jendela. “Tomat kita laku lebih banyak!” Bang Sawan tertawa, kemudian menjalankan truknya dengan sangat-sangat elegant.

Abu terpekur, sekali lagi superb. Indonesia ini ternyata banyak melahirkan jenius. Bang Sawan yang notabene seorang supir truk ternyata mampu menyelesaikan masalah yang Abu sebagai mahasiswa merasakan sulit menghadapinya. Ada berapa banyak orang seperti ini di dunia? Memiliki potensi tersembunyi dibalik profesinya. Ngomong-ngomong bicara mengenai profesi, mengapa supir truk selalu memiliki istri lebih dari satu ya? Di setiap pemberhentian punya satu, seperti bang Sawan. Abu tertawa ngakak. Bagaimanapun terima kasih bang Sawan.

“Abu!” Bisik TSP pelan. Abu terkejut, oh iya TSP masih disini. “Iya tengku.” Jawab Abu pelan. “Mengapa mulut kamu itu kalau sedang mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hanya mempunyai dua pose. Pertama, tersenyum. Keren tapi yang kedua itu.” TSP tersenyum. “Kenapa dengan yang kedua tengku?” Tanya Abu. “Membuka dengan lebar, seperti gua.” TSP cekikikan senang seperti anak SMA diterima cinta. Abu menggaruk-garuk kepala, “bukannya tengku yang mengajarkan bahwa menerima ilmu itu harus dengan keikhlasan, dan mungkin itulah ekpresi tulus yang dapat Abu tampilkan.” Abu mengangkat bahu. TSP tersenyum lebar, “gurumu yang pertama pasti orang yang hebat.” Sambil menepuk bahu Abu.

Abu terdiam, selain orang tua. Orang yang pertama mengajar Abu sebelum masuk sekolah adalah almarhum Tengku Syams. Kata-kata beliau yang masih sampai sekarang Abu ingat adalah. “Ucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikanmu pelajaran. Meski ia adalah seorang musuh yang mengalahkanmu dengan teruk. Jangan hanya diam, tapi pelajarilah! Kemudian pada pertemuan selanjutnya kejutkan ia bagaimana kamu belajar dengan cepat.” Waktu itu Abu membantah, “Tengku, kami tidak ingin mencari musuh.” Tengku Syams mendekati lalu mengusap rambut Abu. “Anakku, tidak seorang pun diantara kalian semua yang aku ajarkan untuk mencari musuh. Namun ketika mereka datang, hadapilah dengan tenang meski kekalahan menantimu disana. Tapi jangan lupa belajar.” Abu masih membantah, kali ini dengan suara yang lembut. “Tapi saya tidak ingin mempunyai musuh.” Tengku Syams memegangi dagunya, lalu berkata pelan namun tegas. “Jalani hidup anakku, kelak engkau akan mengerti.”

Abu tersentak, kembali kemasa kini. Saatnya pamit pulang, entah mengapa ketika menyalami TSP Abu menaruh tangannya dikening, sebuah tanda penghormatan. Padahal biasanya Abu paling benci adegan feodal seperti ini. TSP terdiam, mungkin terkejut karena ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tapi ia akhirnya mendiamkan saja. Pasrah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sejenak berpikir betapa sebenarnya hidup Abu ini penuh dengan keberuntungan. Bahwa Allah telah sangat memudahkan jalan takdir Abu. Orang tua penuh kasih sayang, adik-adik mencerahkan, guru luar biasa seperti; Tengku Syams, TSP dan banyak lagi termasuk bang Sawan, sahabat-sahabat yang hangat termasuk Mr.Popo bermulut pedas namun selalu jujur, kerjaan menantang. Sampai beberapa musuh yang tak dapat Abu hindari, tapi memberikan pelajaran dan pengalaman berarti. Abu menjadi malu sendiri jika sudah begini, wahai diriku nikmat tuhanmu manakah lagi yang engkau dustakan.

Sebelum tidur Abu membuka buku ACEH PUNGO tulisan Taufik Al Mubarak yang tadi sore sepulang kuliah dibeli di Arun Post. Senin libur, jadi saatnya memperkuat referensi diluar kuliah, diluar pekerjaan. Hanya membaca seharian penuh. Yummy.

“Siapapun kau, ketahuilah kau tidak sendirian. Kau cuma menutup dirimu dengan kulit kerang. Begitu kau pecahkan kulit kerang itu. Kau akan melihat dirimu ada ditengah teman-teman yang baik.”

SALAM RINDU SELALU

9 July 2009

Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.

Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.

Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.

Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.

Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.

Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.

Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.

“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”

RINDU YANG MALU-MALU

6 July 2009

“Bila engkau rindu dengan sebenar-benarnya rindu. Tataplah bintang di angkasa kelak engkau kan mengerti. Ada sebentuk keindahan yang hanya mampu dipandang tanpa kemampuan jemari menjangkaunya”

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan. Sebagai makhluk fana sepatutnya manusia juga harus menyadari bahwa kehilangan adalah persiapan dari kehilangan yang lebih besar. Tokh di dunia ini tak ada yang abadi, semua kelak pergi.

Hujan mengguyur kota Lhokseumawe jumat sore, baru saja reda. Abu baru saja ingin memulai membuat tugas Study Kelayakan Bisnis untuk kuliah besok pagi. Pintu diketuk, siapa lagi? Begitu Abu membuka pintu betapa terkejut bahwa yang datang adalah The Legendary Tengku Salek Pungo.

“Seperti rumah perampok!” Belum-belum sudah melancarkan kritik pada Abu yang tak siap pada kunjungan ini. “Kita boleh menjadi orang lajang, tapi rapilah sedikit!” Tengku Salek Pungo menunjuk tata ruang minimalis desain Abu, plus guling dan bantal yang asal-asalan tergolek di depan TV. Terus dengan kejam menertawakan Laptop Acer yang Abu pasang keyboard. “Abu, harus saya akui seleramu buruk!”

Setelah Abu menyapu bagian yang akan diduduki, akhirnya TSP duduk. “Ilmu itu dicari bukan mencari.” Sebuah petuah Abu Hanifah ketika kepada Khalifah Harun Al-Rasyid ketika meminta dirinya datang mengajar ke istana Abbasiyah untuk anaknya Al-Amin dan Al-Makmun. Mengisyaratkan bahwa seorang muridlah yang harus mendatangi guru bukan sebaliknya. Sekaligus menyindir Abu yang sudah lama tak berkunjung ke tempat beliau. Biasanya kami akan berdebat panjang, namun Abu sedang tidak berselera. “Entah mengapa Tengku, beberapa bulan ini Abu kehilangan antusias.”

TSP menatap Abu lama, kemudian bertanya. “Sudah berapa lama kita tak bertemu?” Abu menghitung, sejak pindah kontrakan. “Setidaknya empat bulan.” Aroma sinis hilang dari wajah beliau, sambil menonton Mulan 2 di Globaltv kami pun berbicara, tentang banyak hal. Tentang kehidupan, ilmu dan hal-hal pribadi antara seorang guru dan murid.

“Hal seperti rindu tidak seharusnya disimpan didalam hati, hal sama yang membuat saya datang kemari.” Closing statement dari TSP. Menanggapinya Abu hanya tersenyum, walaupun TSP adalah guru Abu, beliau tidak mengetahui konsep Abu untuk membunuh rindu. Yaitu jangan memikirkannya, biarkan ia berlalu ke ruang hampa.

“Sekarang saya pulang.” TSP bangkit.

“Abu antar Tengku?”

“Tidak usah.”

Abu mengantar TSP sampai ke pintu. Pelan dan pasti TSP berjalan, kemudian berbalik. “Abu tidakkah bisa kamu memaksa mengantar saya pulang? Apakah kamu selalu seperti ini? Hanya sekali menawarkan, payah kamu!” Sambil tertawa menyengir. Abu ikutan tertawa, dengan sigap mengeluarkan Shogun 125 dari kandangnya. Dalam perjalanan pulang, TSP nyelutuk. “Kamu memang harus selalu dipaksa ya?” Abu hanya diam.

Lhokseumawe. Sudah empat tahun tiga bulan. Tidak mungkin selamanya, cepat atau lambat Abu akan meninggalkan kota ini. Kelak jika waktunya tiba, TSP sang guru yang bagi Abu tidak hanya menjadi pemberi ilmu namun lebih dari itu. Beliau telah mentransfer nilai-nilai kehidupan dalam pengembangan karakter. Ada banyak kenangan disini, Abu akan sangat merindukannya.

“Ditempat ini, tiada pula cintaku tersisa. Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana pun jiwaku mengembara”

ODE SEEKOR ELANG

8 June 2009

Matamu tajam, menembus angkasa. Sayapmu merapuh elang, dimana bulu-bulu itu?  Cakar-cakarmu menumpul bukan? Wahai elang, coba tatap mega-mega senja disana. Warna lembayungnya mengiriskan bagi sayapmu yang tak terkepak lagi.

Elang bagaimana perasaanmu, akan kakimu yang dirantai? Engkau bisu. Dada membusung itu tiada. Kini engkau hanyalah piasan para raja. Engkau telah lupa nikmatnya mengangkasa. Elang tahukah kamu? Di luar sana bangsamu terancam kepunahan.

Elang, raja para burung. Legendamu samar-samar sekarang. Harga dirimu telah dikoyak-koyak zaman. Membawamu pada sangkar ini. Paruhmu lupa darah segar mangsamu hidup-hidup. Kini, hanya belas kasih manusialah sumber penghidupanmu.

Duhai elang. Sudah berapa lama engkau disini. Dijauhkan dari habitat aslimu. Menikmati puncak rantai makanan dalam ekosistem pegunungan hijau. Elang, hidup ini adalah cerita tentang memangsa bukan?

Matamu itu tak mengenal air mata bukan? Tapi mengapa bagiku terlihat begitu pilu. Disetiap hari hanya mampu melihat ke atas tanpa bisa terbang. Sangat mengesalkan. Tentu menyedihkan menghabiskan waktu mengharapkan hari itu kembali.

Rindumu melayang bebas dibawah sinar matahari tak terungkapkan. Harapanmu tak lagi dimengerti oleh kebanyakan kami. Perasaan sedih yang kau miliki menanti ajal dalam kerangkeng. Izinkanku tuk menyampaikan kepada mereka semua. Dalam ode seekor elang.