PERJALANAN INI

18 August 2009

“perjalanan ini terasa lebih meletihkan, tanpa kau disisiku.”

Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia.

Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris.

Rasulullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasulullah juga mecoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Pentingnyanya proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah.

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.

Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan agama Islam saat ini? Atau dia disini bisa berwujud Che Guevara, Mahatma Gandhi, Sukarno, Chistoper Columbus, Snouk hurgronye, Thariq bin Ziyad atau siapapun dia.

Bagi penulis pribadi perjalanan ini mungkin banyak membawa hikmah antara lain mempertemukan kita dengan orang-orang yang terbaik yang mungkin tidak akan kita kenal atau bahkan kita temui kalau kita tetap di kampung halaman kita. Terkadang melihat hal-hal yang baru juga membuka cakrawala berpikir kita dan meningkatkan kualitas diri kita.

Lhokseumawe-Lhoksukon, renungan perjalanan tiga puluh kilometer, 17 Agustus 2009. Jalanan padat, dipenuhi sorak-sorai karnaval memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Milvan Murtadha

WASIAT HANG TUAH

29 May 2009

Inilah sahabat, jalan beta sampai disini. Iya hanya sampai disini. Firasat beta berkata sudah tak akan lama lagi, tuduhan berzinah sekedar alasan. Hukuman kan ditetapkan. Beta tlah diperdaya meringkuk dalam bui gelap menunggu ajal.

Manusia akan diuji, dibatas ini pula ketenangan dicoba menahan azab tak tertanggungkan. Saat ini pula beta merindukan berlari dipematang sawah, berpantun riang menanti azan Maghrib. Tanpa air mata sahabat, tuduhan keji tak akan membuat beta menangis. Tiada yang lebih indah daripada kematian demi sebuah keyakinan.

Istana Melaka, Sultan Muzafar Syah tlah bertitah. Beta bukan apa-apa hanya patik buduk tak berharga dimata mereka yang memerintah negeri. Tanah Melayu berasa sempit bagi penguasa apabila beta bernyawa, meski berjanji setia tiada akan guna sahabat. Beta terhukum sebagai orang hukuman.

Menjelang maut, beta mengenang betapa kita lima sekawan berjaya menghalau bandit-bandit. Masa-masa gemilang yang membawa jejak langkah kita memasuki istana. Masih terkenang jua, ketika kita terbabit perlancongan muhibah ke djawa dwipa bersama segenap hulubalang dan pembesar Melaka guna melamar sang putri kepada junjungan kita, Sultan Melaka. Masa-masa indah pabila tlah terlewat sungguh mengiris, bukan begitu sahabat?

Sahabat beta tercinta, Hang Jebat. Engkaulah yang paling beta percaya, melebihi sekawan lainya. Hang Kasturi, Hang Lekir, Hang Lekiu. Bersama surat ini hamba titipkan padamu keris Taming Sari, jagalah oleh engkau pusaka buah tangan dari Raja Majapahit, Paduka Brawijaya. Sebagai tanda mata persahabatan dua bangsa, Majapahit dan Melaka. Gunakanlah kepada kemasyuran Nusantara.

Bila waktu beta kan tiba, luruhkanlah segala benci. Dari semua sahabat engkau yang paling perasa, engkau pula yang paling setia. Biarlah fitnah ini kelak diadili pada yaumil masyar. Tak usah engkau lagi mencari muasal fitnah keji ini.

Salam rindu

Hang Tuah

Catatan sejarah :

Hang Tuah adalah seseorang pahlawan legendaris dari bangsa Melayu pada masa pemerintahan Sultan Melaka di abad ke-15 (Kerajaan Melaka bermula pada 1400-1511 M). dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sesebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendahara.

Mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja, mengakibatkan semua rakyat di situ menjadi kacau-balau. Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat. Secara tiba-tiba, Bendahara memanggil kembali Hang Tuah daripada tempat persembunyiannya dan dibebaskan secara penuh daripada hukumannya oleh raja. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah merebut kembali keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, dan membunuhnya di dalam pertarungannya. Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.

HANYALAH LELAKI BIASA

6 April 2009

Ibu sadarlah anakmu ini bukanlah seorang pangeran yang memiliki pasukan berkuda walau ayah dari ibumu masih merindukan taman-taman kota sevilla saat mendengar cerita nenek moyangnya sebelum disuruh memilih menanggalkan akidah atau pergi dari semenanjung iberia oleh gabungan Castilla dan Arragon saat benteng terakhir di Andalusia, Granada tertaklukkan.

Ibu ketahuilah anakmu ini bukanlah putra mahkota dengan segala kebesarannya walaupun ayah dari ibumu masih terkenang mengingat singgasana kakeknya di Kuta Reh, tanah Gayo sebelum Gotfriend Coenraad Ernst Van Daaleen dengan bala pasukan Marechaussee meratakan segalanya.

Ibu sadarlah anakmu bukanlah lelaki tegar, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ibunya hanyalah seorang pasukan pejalan kaki dibawah Panglima Polem kepala sagi XXII dalam perjalanan panjang melawan kumpeni sebelum akhirnya kalah dan menyerah pada Gubernur Militer Johannes Benedictus Van Heutsz.

Ibu ketahuilah anakmu bukan lelaki perkasa, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ayahnya hanyalah seorang pengikut Sultan ketika Istana Darud Donya dinajiskan oleh kaphe Belanda, ia yang menitikkan airmata saat kampungnya dibakar oleh Jenderal Jan Van Swieten dan harus mengungsi ke Keumala bersama Yang Mulia Tuanku Muhammad Daudsyah yang masih belia.

Ibu adalah orang yang paling anakmu ini cintai dimuka bumi ini, senyummu adalah tawa bagiku, Air matamu adalah isak tangisku. Namun ibu janganlah engkau menetapkan syarat yang berat akan jodoh diri ini, akan keturunan, akan kemasyuran, akan keelokan rupa, sedang kesederhanaan cukup bagi anakmu ini.

Ibu adalah tempat dimana segala bakti anakmu ini dicurahkan, dengarkanlah kata-kata ini, pertimbangkanlah wahai ibu. Apapun keputusanmu akan anakmu terima segala takzim karena kebahagianmu adalah kebahagian diri ini jua adanya.

XXXXXXX

BUKAN ROMAN PICISAN

24 March 2009

Pernahkah anda membaca roman? Kisah-kisah legendaris Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Layar Terkembang, Salah Asuhan, Katak Ingin Menjadi Lembu, Anak Perawan Di Sarang Penyamun, Jeumpa Aceh, Atheis, Hulubalang Raja, Di Bawah lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan masih banyak lagi yang lain.

 

Saat ini roman sudah hampir punah dari dunia sastra Indonesia, padahal Roman adalah salah satu bentuk sastra yang terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Dalam roman para penulisnya meniupkan ruh perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda, walaupun dengan bentuk yang samar-samar.

 

Dalam Roman, bahasa Melayu yang nantinya berkembang menjadi bahasa Indonesia pada saat itu menemukan jati dirinya sebagai pemersatu seluruh Hindia Belanda saat itu. Disadari atau tidak sastra pada saat itu telah membentuk sebuah persatuan antara banyak suku di Indonesia pada saat itu.

 

Roman juga menyatukan kebudayaan Melayu yang telah disekat oleh Belanda-Inggris dalam batas demakrasi kolonialisme yang bernama Traktat Sumatera. Tahukah anda jika Roman-roman Anggatan Pujangga Baru masih menjadi bacaan wajib bagi siswa Sekolah Dasar di negeri jiran, Malaysia sebelum mereka merdeka sampai sekarang.

 

Yang menjadi pertanyaan apakah yang menjadi perbedaan antara roman dengan novel dan cerpen. Cerpen secara garis besar adalah sebuah cerita yang menceritakan sebuah peristiwa dalam hidup seseorang, Novel secara garis besar adalah sebuah cerita yang menceritakan sebagian kecil kisah kisah hidup seseorang, sedangkan yang terakhir Roman adalah sebuah cerita yang menceritakan tentang sebagian besar kisah hidup seseorang dan bentuk yang terbaik adalah yang menceritakan kisah hidup seseorang dari ia kecil sampai meninggal.

 

Berdasarkan kategori ini sebenarnya banyak juga novel yang dapat masuk dalam klasifikasi Roman, akan tetapi orang kebanyakan seolah-olah terpaku bahwa roman adalah kisah yang ditulis oleh Anggatan Pujangga Baru dan Anggatan sebelumnya.

 

Seorang guru juga pernah berkata memabaca roman sangat baik dalam pembangunan karakter, oleh karena dalam roman kita dapat melihat kesuksesan ataupun kegagalan perjalanan hidup seseorang, belajar dari pengalaman hidup seseorang untuk menjadi lebih baik.

KEKUATAN SYAIR

3 March 2009

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al- Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Seorang Profesor bahasa Spanyol dan Portugis di Yale University bernama Maria Rosa Menocal dalam bukunya “Sepotong surga di Andalusia” yang menceritakan suatu masa lebih dari tujuh abad ketika Muslim, Yahudi dan Kristen hidup bersama dalam atmosfir toleransi. Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang) menjadi suatu tempat yang didalamnya literatur, sains, dan seni berkembang dengan pesat.

Ia menuliskan bahasa Arab melalui syair menjadi kekuatan yang menarik bagi komunitas lainnya di Andalusia. Mengutip suara hati Paul Alvarus, sorang tokoh vokal pada tahun 855 M di Kordoba tepatnya 144 tahun sesudah Thariq bin Ziyad mendarat di jazirah Iberia. “Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikirannya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah…..”

Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang matematikawan ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastarawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.”

Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat.

sebatang palem tegak berdiri di tengah perkebunan Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari tanah leluhurnya
ku berkata kepadanya : Betapa miripnya kau dan aku,
terpencil dan terbuang
terpisah jauh dari keluarga dan teman.
kau t’lah tumbuh di tanah terasing bagimu;
dan aku, sepertimu, jauh dari kampung halaman

Abdul Al-Rahman penerus dinasti Ummayyah di Andalusia di usianya yang lanjut menulis sebuah puisi yang indah dan singkat, tapi menyentuh hati, sebuah ode tentang pohon palem. Mengenang kehidupannya sebagai satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian kejam seluruh keluarganya ketika kekuasaan Ummyyah terganti oleh Daulah Abbasiyyah. Meski Abdul Al-Rahman bukan penulis ahli namun warisannya sama penting dengan sejarah Andalusia itu sendiri untuk menyimpan kenang-kenangan dari para leluhur.

Dulunya ia seorang pemuda pemberani yang melarikan diri dari kejaran pendukung Daulah Abbasiyah secara maraton dari Damaskus menembus Afrika hingga mendarat di Andalusia. Ia menghabiskan tiga dasawarsa untuk mengubah sebuah kota kecil menjadi ibukota dari dunia yang berperadaban dan makmur. Kota ini bernama Kordoba bahkan hingga saat ini ketika ia tak lagi menjadi bagian dari Darul Islam.

“Seorang pejuang yang hanya mengetahui satu sisi kekuatannya akan mudah dikalahkan, teguh dalam prinsip dan lembut dalam perasaan adalah sifat pejuang terbaik”

matanya menangis pilu
ia menoleh kebelakang, melihat lagi pada mereka
ia melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan
serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup
dan tanpa elang-elang, elang-elang tlah berganti bulu