MENEGAKKAN KEADILAN

3 November 2009

Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Takkala Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad , berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!

Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”

Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.

Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.

Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.

Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :

1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.

2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.

Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.

Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Hag Belanda.

Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.

Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872. Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan.

Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih. “Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya.

Cinta kadang dalam bentuk kata, kadang pula tanpa kata. Tapi bagi setiap anak manusia, cinta ibu adalah yang paling berarti. Mata beliau kosong ketika menjambak keras rambutku, menampar-nampar pipiku keras dan semakin pelan. “Anak durhaka! Kemana saja kau selama ini?” Kemudian beliau mendekapku mesra, seperti bayi. Bayi yang baru dilahirkan dan dibuai dalam kasih sayangnya. Begitu tulus sehingga kutaktahu harus berkata apa lagi.

Bagi kami yang dilahirkan di tanah ini, ketika berhadapan dengan musuh diajarkan untuk menyingkirkan nurani. Kami adalah kaum yang tega meludahi, mencincang, bahkan mengencingi lawan sambil tertawa. Belanda menyebut kami sebagai bangsa perompak tua yang harus diberantas. Tapi dihadapan ibu kami tak lebih dari seorang kanak-kanak, berapapun usia kami. Putroe Phang1) menyadari hal ini, dua ratus tahun lalu mendesak suaminya Sultan Iskandar Muda2) menerbitkan Qanun3) yang berisi bahwa setiap anak laki-laki Aceh yang menikah diharuskan tinggal dirumah pihak perempuan, atau membuat rumah sendiri. Sebagai Permaisuri beliau pun risih jika harus tinggal serumah dengan mertua, dengan suami yang manja, sangat manja dengan ibu mereka.

Aku tidur dipangkuan ibu, kapten perompak yang pernah menahkodai bintang hitam. Disegani Navy Inggris, ditakuti skuadron Portugis, diburu armada Perancis dan mimpi buruk Flying Duchman4) takluk tanpa syarat. Dan ketika beliau bercerita aku pun hanya bisa terdiam, atas usahanya bertahan hidup untuk menjaga warisan untukku, agar tak dibagi oleh Karong5). Padahal hanya sepetak tanah ditepi krueng Aceh6). Apalah artinya dibanding pundi emas jarahan yang kubawa. Sifatku ingin membantah, tapi mulutku terkunci diam tanpa kata.

Ibu semakin menua, lebih tua dariku yang sudah tua. Beliau tak pernah kemana-mana. Beliau yang percaya bahwa Aceh Darussalam masih perkasa. Membenci kaphe7) sangat disatu sisi, namun disisi lain meyakini tanah Gayo8) adalah khayangan. Lucu penuh pertentangan. Tapi beliau adalah ibuku, seseorang yang paling kucintai dalam hidupku. Tiba-tibaku sadar kepulanganku ini bukanlah semuluk yang kusangka, bukan menyelamatkan Aceh Darussalam yang mewakili kedaulatan Nusantara terakhir dari masa-masa gelap sejarah. Bukan melindungi ibu pertiwi dari penjajahan. Hanya pulang dan mendapati ibuku masih hidup, ya sesederhana itu. Tak lebih, dan hari ini kenyataan melebihi anggapanku. Ternyata dunia tak seburuk dugaanku.

“Sudah akan azan jumat, pergilah ke Masjid Baiturrahman9)!” Perintah ibu seraya membelai kepalaku. Keningku berkerut, sudah berapa lama aku tidak shalat dan aku sudah ragu bagaimana caranya. “Ayo cepat!” Perintah ibu lagi. “Jumat depan.” Jawabku ragu. Kembali memukul kepalaku, “Berapa lama kamu pergi? Kamu sudah menjadi.” Suara beliau hilang sesaat dan menyambungnya dengan, “Durjana!” Aku tersenyum, ya itulah julukanku. Sang Durjana, tapi biarlah ibu tak pernah tahu apa yang kulakukan sampai dengan kemarin. Aku memejamkan mata, tertidur dan tak tahu apa-apa lagi. Rasa damai ini sungguh menyejukkan.

1. Tengku Kamaliah, seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Istri Sultan Iskandar Muda. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cinta. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
2. Sultan Iskandar Muda (Aceh, 1593 atau 1590 – 27 Desember 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.
3. Qanun = Perangkat Undang-undang.
4. Flying Duchman = Julukan pelaut Belanda.
5. Karong = Sistem perwalian secara adat di Aceh.
6. Krueng Aceh = Sungai Aceh yang membelah ibu kota Bandar Aceh Darussalam.
7. Kaphe = Julukan kaum putih, penjajah yang umumnya beragama Nasrani. Berasal dari kata Arab kafir.
8. Tanah Gayo = Tanah dataran tinggi pegunungan ditengah Aceh, didalam sistem administrasi Republik Indonesia sekarang pada Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
9. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Bandar Aceh Darussalam. Sewaktu Belanda menyerang pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas.

SAMBUNGAN DARI : http://tengkuputeh.wordpress.com/2009/10/12/risalah-sang-durjana-bagian-dua/

Ulee Lheu. Oktober 1872, Pantai ini sudah terkena pendangkalan parah. Bintang hitam tak bisa merapat, sebuah sekoci merangkak pelan ke Pantai Cermin. Sang Durjana pulang dari petualangan. Jantungku berdetak kencang, rasa rindu semakin berarti jika sudah di dekat rumah. Akhirnya kumenjejakkan kaki didaratan.

Dua puluh tahun, tidak ada perubahan. Beginikah nasib Aceh Darussalam, jalan setapaknya masih sama. Orang-orang lama semakin tua, dan orang-orang baru tak lebih baik. Untuk apa kepulanganku ini? Kadang-kadang kebertanya pada diriku sendiri sehingga benar-benar meyakini bahwa kepulanganku adalah untuk membela bangsaku sendiri.

Melayu Sumatera telah takluk baru-baru ini ditangan Belanda, dan diberi nama Keresidenan Riau. Deli sudah lama jatuh. Tiku, Barus dan Pariaman sudah lama hilang dipeta Aceh Darussalam. Diakhir abad XIX diseantero Nusantara hanya Aceh Darussalam dan Tanah Batak yang masih merdeka. Dan kedaulatan keduanya terancam oleh Traktat Sumatera sebuah persesengkolan tingkat tinggi antara Inggris dan Belanda, tapi apa yang mereka lakukan? Hanya bersantai saja di kedai seolah pasrah akan takdir yang akan menuntun pada kemenangan.

“Durjana!” Dari lepau nasi suara tak asing memanggil. “Bang Baka?” Terdengar tawa yang khas. “Begini rupanya wajah lanun yang diburu oleh seluruh Negara. Waktu seolah berhenti untukmu wajahmu masih sama ketika kita bertemu terakhir kali” Tembaknya. Aku tersenyum dan datang padanya. “Sekarang aku bukan lagi kepala lanun. Kapal Bintang Hitam sudah kulepaskan, didepan abang sekarang hanyalah Ahmad. Abang sendiri bagaimana kabarnya sekarang?” Ya, kini aku sendiri dan para kelasi sudah kubebas tugaskan ditengah lautan. Hari ini aku memulai hidup sebagai orang baru, bukan lagi sebagai kepala perompak hanya seorang anak manusia biasa.

“Aku sekarang saudagar, memasukkan beras dari Jawa.” Ia berkata. “Bukankah kampung Bang Baka di Meuredu sana penghasil beras untuk kesultanan?” tanyaku heran. “Durjana, sudah terlalu lama kamu pergi dan tak tahu kabar negeri lagi. Kaum bangsawan meringkuk ketakutan di istana Darul Kamal, sedang para Ulee Balang sibuk bertikai, negeri kita tak terurus.” Bang Baka menggerutu pelan.

“Ceritakan padaku bang.” Pintaku, mengambil kursi dan duduk. Dari mulut bang Baka kuketahui bahwa banyak raja-raja lokal kecil yang gelari Ulee Balang tak mengindahkan lagi kewibawaan sultan yang berketurunan Bugis. Daerah Peurelak menjadi sarang penyamun membajak kapal-kapal niaga Inggris dan Belanda, harta jarahan dari para kafir. Sultan Mahmud Syah tak mampu mencegahnya, padahal ini disuatu hari akan dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Raja Meulaboh dan Raja Teunom berselisih, mengakibatkan darah terbuang sia-sia. Nasib negeri ini diujung tanduk namun tak seorang pun yang berupaya untuk mencegahnya, tragis. Mereka terlalu percaya akan kehebatan masa lalu, pada kemampuan mengusir Portugis padahal sudah lebih dua ratus tahun berlalu. Pada kemampuan armada laut menguasai Selat Malaka dan pantai Barat Sumatera dulu. Nafasku sesak.

“Jadi apa yang akan kau kerjakan pada kepulanganmu ini Durjana?” Bang Baka memiliki karakter khas saudagar yang berasal dari Tanah Pidie, penuh harapan. “Tak tahulah bang, mungkin aku akan pulang ke rumah.” Mataku menerawang jauh menatap lautan biru bersama mega-mega di langit. Dulu kami menguasai laut, sekarang bahkan kami tak berdaya didaratan. “Hanya begitu, reputasimu sebagai lanun bahkan menjadi legenda. Aku bahkan mengetahui kehebatanmu ketika berlabuh di Semarang, Orang-orang Belanda menakuti anak-anak mereka yang nakal dengan namamu.” Cerita lisan cepat berkembang, dari mulut ke mulut. Setiap mulut menambah bumbu sehingga sampai ditelinga terakhir menjadi sangat menakutkan. “Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?” Bang Baka mengulangi pertanyaan yang sama seraya memainkan matanya, berharap mendapat jawaban dariku. Jelas sekali ia hendak menularkan semangatnya padaku. Tapi aku, dalam pengembaraan selama ini terlalu banyak melihat kejatuhan berbagai negeri pada kekuasaan orang-orang putih, sehingga padaku tak ada harapan yang sama.

Untuk pertama kalinya, aku tak tahu harus berkata apa. Mulutku kelu. “Aku sudah tua, empat puluh tahun. Mungkin aku akan pulang dan mengasah kelewang dan menanti kapan perang kita dengan Belanda atau Inggris terjadi.” Aku berjalan dan tak melihat kebelakang lagi, saat ini aku hanya ingin menemukan rumah untuk tidur. Dalam buaian ibu pertiwi setelah dua puluh tahun pergi.

SAMBUNGAN DARI RISALAH SANG DURJANA ; http://tengkuputeh.wordpress.com/2009/01/08/risalah-sang-durjana/

Milvan Murtadha, Lhokseumawe 11 Oktober 2009.

TAK ADA APA APA

7 October 2009

Ini kali kita bertemu, tak sengaja. Tidak ada apa-apa. Benci tiada, segalanya telah menguap. Biasa saja. Kata-kata tiada. Dan jika akhirnya bibirku tersenyum karena aku berbahagia. Sangat senang menjadi seorang yang tak lagi kau kenali. Sangat senang karena aku telah berhasil menjadi seseorang yang aku inginkan.

Dulu, kau katakan bersama waktu aku akan melupakanmu. Dan hari ini aku terkejut betapa kata-katamu itu tak lain dan tak bukan melainkan kebenaran. Kata-kata harimau yang engkau keluarkan ternyata hari ini menerkammu. Sungguh tak ingin kutertawa pada merana yang kau rasakan, maka menjauhlah.

Engkau tahu aku selalu menepati janji, maka janganlah kecewa jika hari ini aku menunaikan janjiku. Meski engkau merana, aku tak akan melihatmu lagi dengan perasaan yang sama. Aku yang tak pernah memiliki rasa takut sedari dulu, jadi mengapa hari ini aku harus ketakutan jika berhadapan langsung denganmu lagi.

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu. Kini ku memiliki masa depan yang harus kurengkuh. Satu kalimatku untukmu, janganlah terjerat masa lalu.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”

BERAKHIR DISINI

16 July 2009

Seharusnya ini berakhir disini. Diangka tiga lima. Tiga ditambah lima sama dengan delapan. Angka kesukaanku menandakan paradoks seperti hidupku yang penuh pertentangan. Delapan angka yang sukar dan janggal, merupakan kelipatan empat. Berkaitan dengan kesedihan namun juga berarti keberhasilan.

Bayangkan tiga puluh lima kali, diusiaku dua puluh lima, seperempat abad. Apa yang salah? Sekuat diri ini memperlihatkan sisi dingin ternyata aku tak mampu menyembunyikan pada diriku perasaan kuat dan mendalam ini, perasaan bersalah jika harus menolak lagi untuk ke tiga puluh lima.

Padahal tak ada yang istimewa disini, bahkan keras kepala, individualis dan tak pernah mau peduli. Entah bagaimana selalu saja pemikiranku selalu disalahartikan. Padahal sudah kukatakan bahwa hanya bertindak berdasarkan keyakinan bukan atas dorongan naluri, sehingga tak pernah ku cerdik maupun bijak. Hanya mencoba bertindak layak dalam bergaul, tindakanku berdasarkan normatif tak lebih.

Ketiga puluh lima, haruskah aku menerimanya. Sedang diriku tak memiliki gairah padanya. Sedang diriku tidak terpengaruh padanya. Sedang keinginanku yang dengan gigih kupertahankan belum tercapai. Harus kuakui bahwa perasaanku pernah hangat, namun itu hanya jika keyakinan bersamaku.

Aku pun pernah merasakan sakit menahan gelora didalam jiwa, dan bekasnya masih tersimpan di dada. Meski memperlihatkan keteduhan pegunungan diwajahku, meski wajahku seolah sehangat matahari pagi. Jasadku saat ini menanggung kemarahan amat sangat. Biarlah tubuhku hangus dan terbakar sendiri, ku tak ingin engkau menjadi pengalihan dendam nantinya. Tidak dirimu dan tidak siapapun. Karena ku meyakini hidupku untuk melindungi bukan untuk menyakiti. Dan aku tak akan keluar dari gua sufiku sampai mampu mengendalikan diriku lagi.

Maka aku tak akan tega berkata keras lagi padamu yang ketiga puluh lima, sekejam pada tiga puluh empat sebelumnya yang terluka oleh kata-kataku, setajam belati beracun. Yang pernah dengan dingin berkata, “Berani sekali anda jatuh cinta padaku!” Mohon biarkanku sendiri, mencari keteduhan dalam perenunganku, dipersembunyianku yang sejati yang bernama hening.

Ya, aku sudah berubah. Berusaha menyingkirkan keangkuhan iblis dihatiku. Namun maafkan aku yang tak dapat menempatkan dirimu pada puncak dahaga rinduku. Engkau tak mengenalku terlalu, engkau belum mengetahui kelemahanku. Sosok sempurna tanpa cela yang kau puja itu tak ada. Mungkin ada, tapi ia bukanlah diriku. Pasti ada lelaki lebih baik disana yang akan menyambut cintamu dengan tangan terbuka.

Tiga puluh lima, kuharap bilangan angka berakhir disini. Tak ingin ada yang ke tiga puluh enam lagi. Saatnya ku merevitalisasi diri, mengenakan jubah sufi ini dengan lebih erat lagi. Dan tetap melindungi ragaku agar tak tersentuh lebih rapat lagi. Lebih tertutup dan tanpa celah. Sakit rasanya harus mengatakan tidak berulang kali, meskiku berusaha untuk terlihat tak terpengaruh namun itu menyisakan lubang dihati, tidak hanya padamu tapi padaku jua.

Bukan, bukannya aku membenci dirimu. Kebencian tak pernah kupelajari. Jika ada yang kubenci hanyalah kebohongan. Dimana setiap kebohongan kecil akan semakin membesar diikuti kebohongan lainnya. Akhirnya menjadi bola salju. Kebohongan juga mengakibatkan hilangnya sesuatu paling berharga didunia, kepercayaan. Terkutuklah para pembohong! Aku tidak bisa membohongi kamu dan diriku sendiri. Maafkan hidupku yang kaku, terbagi hanya antara dua pilihan. Ya atau tidak.

Aku akan jujur padamu, karena hanya itulah yang kupunyai. Bahwaku pernah merindukan rumah, dan kecewa mendapati diriku belum saatnya untuk pulang. Aku bersedih mendapati harapan itu hancur. Maka aku juga tak akan berpura-pura bisa memahami perasaanmu. Saat ini biarkanku mengembara dan bahagia dalam pencarian ilmu, itulah hasratku kini. Mohon ikhlaskan.

SALAM RINDU SELALU

9 July 2009

Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.

Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.

Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.

Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.

Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.

Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.

Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.

“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”

Mengapa harus malu ketika menanyakan masa laluku. Sejakku menginjakkan kaki untuk pertama kali bertahun lalu sampai hari ini tak ada yang berani bertanya tentang ini padaku, jujur kuterkejut. Aku kan bercerita padamu, pada perasaan hangat ini yang dinamakan persahabatan. Sebagaimana jika boleh memilih maka sekalipun ku tak ingin menjadi musuhmu.

Baiklah masa lalu, kenapa aku bisa lupa, aku yang selalu berlagak dan berpura-pura. Padahal sebenarnya kenapa aku selalu berusaha. Dan kenapa aku melakukan semua. Pada dasarnya karena aku ingin menjadi seseorang. Bingung? Hey, aku hanya bercanda.

Padahal banyak sekali cerita lama, padahal banyak sekali yang ingin kusampaikan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya, karena semua itu tak bisa kewujudkan dalam bentuk kata-kata. Baiklah, aku memang harus dipaksa ya?

Aku telah bertemu dengan banyak orang. Sampai sekarang dan waktu dulu juga, aku harus selalu ditolong orang lain. Banyak hal yang telah kulalui. Sampai bertemu kembali sejak pertama bertemu. Aku enggan bercerita mungkin, dan kalau pun aku ingin bercerita aku tak pandai bercerita, baiklah aku akan bercerita.

Hanya untukmu, dan hanya malam ini. Biarlah kita berbincang sampai pagi menjelang. Sudikah engkau mendengarkannya tanpa menyela. Beginilah ceritanya.

“Sejarah bisa berulang, tapi manusia tak bisa kembali ke masa lalu”

WASIAT HANG TUAH

29 May 2009

Inilah sahabat, jalan beta sampai disini. Iya hanya sampai disini. Firasat beta berkata sudah tak akan lama lagi, tuduhan berzinah sekedar alasan. Hukuman kan ditetapkan. Beta tlah diperdaya meringkuk dalam bui gelap menunggu ajal.

Manusia akan diuji, dibatas ini pula ketenangan dicoba menahan azab tak tertanggungkan. Saat ini pula beta merindukan berlari dipematang sawah, berpantun riang menanti azan Maghrib. Tanpa air mata sahabat, tuduhan keji tak akan membuat beta menangis. Tiada yang lebih indah daripada kematian demi sebuah keyakinan.

Istana Melaka, Sultan Muzafar Syah tlah bertitah. Beta bukan apa-apa hanya patik buduk tak berharga dimata mereka yang memerintah negeri. Tanah Melayu berasa sempit bagi penguasa apabila beta bernyawa, meski berjanji setia tiada akan guna sahabat. Beta terhukum sebagai orang hukuman.

Menjelang maut, beta mengenang betapa kita lima sekawan berjaya menghalau bandit-bandit. Masa-masa gemilang yang membawa jejak langkah kita memasuki istana. Masih terkenang jua, ketika kita terbabit perlancongan muhibah ke djawa dwipa bersama segenap hulubalang dan pembesar Melaka guna melamar sang putri kepada junjungan kita, Sultan Melaka. Masa-masa indah pabila tlah terlewat sungguh mengiris, bukan begitu sahabat?

Sahabat beta tercinta, Hang Jebat. Engkaulah yang paling beta percaya, melebihi sekawan lainya. Hang Kasturi, Hang Lekir, Hang Lekiu. Bersama surat ini hamba titipkan padamu keris Taming Sari, jagalah oleh engkau pusaka buah tangan dari Raja Majapahit, Paduka Brawijaya. Sebagai tanda mata persahabatan dua bangsa, Majapahit dan Melaka. Gunakanlah kepada kemasyuran Nusantara.

Bila waktu beta kan tiba, luruhkanlah segala benci. Dari semua sahabat engkau yang paling perasa, engkau pula yang paling setia. Biarlah fitnah ini kelak diadili pada yaumil masyar. Tak usah engkau lagi mencari muasal fitnah keji ini.

Salam rindu

Hang Tuah

Catatan sejarah :

Hang Tuah adalah seseorang pahlawan legendaris dari bangsa Melayu pada masa pemerintahan Sultan Melaka di abad ke-15 (Kerajaan Melaka bermula pada 1400-1511 M). dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sesebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendahara.

Mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja, mengakibatkan semua rakyat di situ menjadi kacau-balau. Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat. Secara tiba-tiba, Bendahara memanggil kembali Hang Tuah daripada tempat persembunyiannya dan dibebaskan secara penuh daripada hukumannya oleh raja. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah merebut kembali keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, dan membunuhnya di dalam pertarungannya. Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.

Ini kali ketika memandang wajah di cermin, aku bertanya kamu siapa? Apa yang kamu lakukan disini? Apakah ini jalan kembali kebelakang? Ah, tidak mungkin. Dulu kamu memiliki kekuatan dan sekarang tak ada. Waktu itu kamu dijuluki, manusia berkulit merah. Sekarang lihatlah aku, memutih bagai priyayi. Jauh sekali perbedaannya. Aku tersenyum dan mengingatnya, sudah lama kamu pergi dan kini kembali. Kamu yang sudah kuanggap bukan teman akhirnya pulang. Sisi diriku yang pernah kubuang, saat kemapanan itu datang.

Sahabat, kamu masih saja mengingat awal dasawarsa ini, ketika kita berdebat akan filsafat setiap malam pada Plato, pada Al-Ghazali, pada Rabiah, hingga pada Valmiki. Kita membicarakan banyak hal waktu itu, iya enam tahun sejak kepergianmu dan dari saat itu tidak ada lagi yang memahami jalan fikiranku. Iya, benar. Waktu itu sambil berjalan kita menghafalkan sajak Ikbal, di angkutan umum melamunkan reaksi oksidasi. Hahahahaha, iya masih ingat Newton atau deret fibonachi. Aku sudah lupa, tapi aku masih mengingat jelas teori reproduksi. Aha, kita paling benci Logaritma apalagi persamaan kuadrat.

Idola kita Hamka, syairnya pada Natsir di sidang Konstituante membuat kita tersedu pilu. Air mata kita tak pernah mahal untuk sebuah kisah persahabatan. Tafsir Al-Azhar kita babat habis tiga puluh juz. Tidak ada satu romanpun di perpustakaan sekolah yang selamat dari jamahan tangan kita. Namun waktu itu kita tak kunjung bijaksana jua. Iya darah muda, benar kamu mengingatku pada semangat yang tak pernah padam. Pada sepeda motor yang tak punya rem, kamu bilang rem hanya untuk pengecut. Persneling buat sang juara. Hal yang aneh mengingat sekarang aku begitu ahli menggunakan cakram.

Untunglah teman-teman sekarang tak ada yang mengenalimu, mereka tak tahu kepiwaianmu menggunakan parang, layaknya Chang Haung Nam dari grup Hung Sing. Mereka tak pernah tahu bagaimana engkau menghinakan setiap musuhmu dengan meludahi wajah mereka, lima luka berjahit ditubuhku itu semua andilmu. Andrenalin, emosi milik ini sudah lama tak meletup lagi. Hening seperti danau sudah, tapi masih tanpa rasa takut. Bukankah sesumbar kita bahwa rasa takut hanya untuk dikunyah, dan wajah terburuk seseorang muncul pada saat ia takut. Dan kita tak pernah mau tampil begitukan? Iya, sekalipun lutut kita tak pernah gemetar. Untunglah para sahabat lama sekarang jauh, kini tak ada yang mempercayai kisah ini hingga hanya menjadi mitos samar-samar.

Hey, kamu tidak terlalu buruk sahabat. Setidaknya kamu dan aku menguasai Bayati dan Suri, irama kesukaan kita. Yang membuat gadis-gadis Al-Munawwarah selalu merindukan penampilan kita. Dan jika sekarang aku lebih memilih mengaji tartil sendiri itu karena kepergianmu. Atau Quantum Reading, metode ciptaan kita. Membaca dengan cara cepat, membagi pikiran menjadi dua, kamu sebagai penerabas di depan sedang aku mencerna dibelakang. Aku masih bisa, hanya jarang sudah menggunakannya tanpamu sistematika itu terasa hambar.

Kenapa kamu pergi? Biar kuingat. Sebentar memori otakku sedang bekerja. Iya kecerebohan kita telah membuat seseorang menemui ajalnya. Lagu pupus yang ia nyanyikan tak membuat hati kita mencair waktu itu, dia merana karena penolakan. Waktu itu kita sepaham, perempuan hanyalah sumber masalah. Masa lalu adalah masa lalu, ia sudah berlalu. Sudahlah setiap manusia pernah berbuat salah, tidak ada kesalahan yang tak termaafkan kecuali kesalahan dengan cara yang buruk. Yang kita tidak menyangka adalah dia selemah itu, kesalahan kita hanyalah terlalu sering tersenyum padanya. Menjadi sedikit charming bukanlah kesalahan besar menurut diriku sekarang.

Selamat datang kembali sahabat, kedatanganmu kusambut dengan tangan terbuka serta tergesa. Alam bawah sadarku yang memanggilmu kembali, mengingatkan pertemuan kita pertama sepuluh tahun lalu.  Kamu tahu sendiri, kitakan selalu berahasia. Berkata hanya dengan simbol untuk membuat orang lain berpikir keras memahaminya. Dan kita tak akan pernah membiarkan orang lain terlalu mengerti. Pada kepulanganmu kali ini sedikit bertanggungjawablah pintaku. Kini, kita bukan lelaki berumur akhir belasan tahun bertubuh kerempeng dan berwajah tirus itu lagi.

Sahabat, sempat berpikir dalam hidup ini tidak akan pernah bertemu lagi denganmu lagi. Sempat berpikir kamu akan sebegitu membenciku yang mengusirmu saat itu, hingga lupa bahwa kamu adalah bagian dari diriku, kamu sudah bangun dan segel pengikat tlah terbuka, bersamamu aku tak akan ragu menatap dunia dengan mata terbuka. Hanya kamu satu-satunya yang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan diriku. Terima kasih, telah menjawab panggilanku.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang  adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”

Yah, nona akhirnya engkau menemukanku disini. Dipersembunyian yang amat kurahasiakan darimu, sebagai liang pencurahan hati dan pikiran bebas lepas. Engkau yang berkata menitikkan air mata membacanya. Maka ketahuilah bahwa aku tak percaya pada kata-katamu lagi meski engkau mengatakan siang itu terang, dan malam itu gelap.

Wahai nona yang berkata tak berani mendengarkan suara dan menatap wajahku, ketahuilah bahwa aku tlah mengubur masa lalu bersamaan rambut yang kucukur habis. Engkau pasti tahu bagaimana aku mencintai mahkotaku, bagiku dia sudah tak ada sama denganmu. Segera sejak hari itu, aku berusaha melepaskan diri dari jerat harapan perempuan yang kuberi julukan wanita laba-laba.

Dan bila engkau ingin kembali ke masa lalu, itu bukan bagianku untuk memikirkannya. Seperti halnya gerak majuku ke masa depan bukanlah pertanggungan bagimu. Aku dan kamu adalah insan merdeka yang bebas berkehendak dan bertindak bagi kemaslahatan diri sendiri.

Nona, jangan berkata masih menyimpan cinta untukku apalagi berjanji akan menjaga selamanya. Karena bagianmu di hati telah kubuang ke laut lepas, bersama desiran ombak selat Malaka. Nona jangan bermain licik dengan memilih satu hati dan tetap memperhatikan hati yang satunya lagi. Engkau telah memilih dia dan menyingkirkanku, teguhlah pada keputusanmu. Sifat ambigumu hanya akan menyakiti kami berdua.

Mungkin aku pernah berlaku terlalu lembut, sehingga engkau menganggap diriku sebagai pecundang. Janganlah mengucapkan kata maaf berkali-kali, engkau merendahkan kemampuanku akan bahasa. Aku bukan orang dungu yang tak paham, hakku tiada menjawab. Mengapa engkau selalu memaksakan keinginanmu padaku? Denganku kamu terlalu percaya diri, selalu hanya denganku.

Padahal kemarin aku sudah melupakanmu, mengapa engkau datang dengan sebuah pesan? Cinta, harapan, janji jika ia pernah ada maka anggaplah ia sekarang tiada. Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku. Aku sudah membuang semua gambarmu, bahkan ingatanku sudah tak mengingat wajahmu lagi. Ketika menulis aku hanya membayangkan wajah seekor laba-laba betina. Pergilah atau jika tidak aku lebih akan sangat membencimu.

“Seumur hidup tiada pernah berada disebuah titik kebencian, jijik, muak dan marah seperti ketika membaca pesanmu lewat tengah malam itu. Sebegitu hebatnya sehingga merasa malu pada diri sendiri, mengapa memiliki amarah kepada seseorang dengan tingkat seperti itu. Tuhan, ampuni hamba”

Lhokseumawe, 21 Mei 2009