MENULIS HARUSKAH PINTAR

26 October 2009

Menjadi penulis haruskah pintar? Tentu tidak! Dari fungsi otak yang digunakan. Menulis lebih menekankan penggunaan otak kanan, kemampuan berbahasa. Membedakannya dengan otak kiri yang berguna sebagai kemampuan berlogika.

Apakah yang diperlukan? Jika ditanyakan kepada penulis maka jawabannya adalah keberanian. Keberanian yaitu kemauan untuk memaksimalkan setiap kata, memberinya makna sehingga dapat dinikmati oleh pembaca.

Sangat baik memiliki pengetahuan, itu menjadikan tulisan menjadi lebih kaya. Tidak teralihkan oleh ilusi karena menguasai kronologi waktu. Namun jangan terlalu angkuh sehingga membuat yang membaca terintimidasi dan kehilangan kenyamanan. Kepintaran sebagai kekuatan bisa menjadi kelemahan apabila disalah artikan apalagi jika tidak dipahami oleh pembaca. Jangan lupakan tanda baca! Titik dan koma itu penting! Jangan menyiksa orang lain dengan kalimat panjang.

Terakhir, duduk dan lakukan! Jangan terlalu banyak berpikir! Kenapa? Jika terlalu banyak menimbang baik dan buruknya akan membuat segala ide hilang. Tak perlu mengadakan riset mendalam, tak harus memiliki resensi bermutu, hanya duduk dan lakukan!

Menulis itu tak perlu pintar. Jadi kenapa segan untuk mencoba? Ayo kita melakukannya, seraya belajar. Penulis sendiri bukan orang pintar, bahkan banyak penulis ternama bukan orang pintar. Disini yang dibutuhkan hanya keberanian, sedikit saja. Selanjutnya kematangan akan membimbing anda dengan sendirinya.

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”.

Milvan Murtadha. Lhokseumawe, 25 Oktober 2009.

MENCANDU ILMU

21 July 2009

Salah satu keunggulan semangat membaca adalah ia memberikan kita pengetahuan. Menjadi sumber kreasi yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Kecerdasan lebih utama dibanding kepintaran, mengapa? Karena orang cerdas selalu dapat mengalahkan orang yang pintar dalam mencari kemungkinan menyelesaikan masalah. Itu karena orang yang “merasa” pintar hanya terpaku pada satu jalan keluar, sehingga mudah ditaklukkan apabila polanya ditemukan.

Senin libur Isra’ Mi’raj, ditambah sabtu dan minggu berarti libur tiga hari. Ingin rasanya pulang ke Banda Aceh tapi sabtu-minggu ini empat mata kuliah ujian final di Unimal. Jadi, lebih baik Abu di Lhokseumawe. Mengejar sesuatu, kehilangan sesuatu. Diantara dua pilihan, maka salah satu harus dikorbankan. Malam Senin, ujian telah terlewati. Tinggal dua mata kuliah lagi di semester empat ini, untuk minggu depan. Teman sekontrakan Samba ke Medan, Jojo pulang ke Lhoksukon. Tinggallah Abu sendiri dirumah menonton TV yang penuh dengan acara pengeboman Hotel Marriot dan Rizt Carlton. Telepon juga tidak berbunyi, mungkin karena selama dua malam sebelum ujian Abu mematikan HP secara total, bosan juga begini.

Aha!!! Lebih baik ke rumah Tengku Salek Pungo, membalas kunjungan dua minggu sebelumnya. Abu kan tidak tahan udara malam? Tenang, bulan lalu ketika liburan ke Jakarta Abu sempat membeli dua sweater di Tanah Abang. Tidak selamanya kita lemah terhadap sesuatu bukan? Manusia sebagai makhluk yang berpikir harus berinovasi untuk mengembangkan diri, hal yang menyebabkan hari ini makhluk yang bernama manusia mendominasi dunia, mendesak ke pinggir hewan-hewan terkuat, terganas dan paling mematikan sekalipun. Nanti, pelan-pelan Abu akan menantang udara malam tanpa jaket maupun sweater, lihat saja nanti Abu berjanji. Pukul setengah Sembilan malam, sudah selesai Isya. C’mon My Lovely Blue Shogun 125 The next destination, Tengku Salek Pungo House’s!!!

Sesampainya disana, didepan rumah TSP ada truknya bang Sawan. Ternyata diteras TSP dan Bang Sawan sedang berbicara serius. Mereka membahas masalah tingkat tinggi,pengaruh pengeboman di Jakarta terhadap perekomomian di Indonesia. Bang Sawan berbicara dengan analisis yang luar biasa mengalahkan para dosen Abu di Unimal bahkan pengamat ekonomi tercanggih di TV, sedang TSP memberikan pandangan secara Fiqh, saling tukar pendapat para pakar. Tanpa menyela Abu mengambil tempat disudut, dan berusaha menyerap itu semua dengan otak sederhana ini. Luar biasa, Abu benar-benar beruntung bisa hadir disini.

Dengan takzim Abu menyimak, sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Abu. “Eh, Abu sudah lama?” Tanya TSP, ternyata perbicangan mereka sebegitu seriusnya sehingga baru sadar akan “adanya” Abu disitu. “Lumayan tengku.” Jawab Abu sambil tersenyum. “Eh, ada abang wajah semi artis.” Sapa bang Sawan seraya tertawa, Abu pun tersenyum kepada beliau.

Namun suasana dialog sudah mencair, feelnya sudah hilang dengan kehadiran Abu. Adu jurus para Maha Guru terganggu akan kehadiran seorang Casis. Tidak enak juga, “Bang Sawan ternyata jago juga ya tentang ekonomi?” Beliau tersenyum. “Bukan abang sombong, tapi untuk masalah ini pengetahuan abang imbang-imbang dengan menteri sekarang.” TSP tertawa, sedang Abu menganguk bloon.

“Begini bang Sawan, Abu punya tugas analisis ekonomi. Sepertinya susah sekali, apa abang bersedia membantu?” Tanya Abu malu-malu. “Silahkan bang Pasya, jangan sungkan-sungkan!” Jawab Bang Sawan, Abu kena batunya!!! Sering memberikan julukan kepada orang lain, dan hari ini Bang Sawan tanpa pikir panjang memberikan julukan pada Abu. Senjata makan tuan.

Abu memejam mata mengingat, soalnya tidak membawa catatan. “Begini bang, seandainya di kota New York sebuah grup Kartel memproduksi 500 kilo obat bius setiap bulan, dengan harga $500 per-ons. Bulan ini DEA melakukan operasi besar-besaran dan menangkap 50 persen kapasitas kartel tersebut. Bagaimanakah pengaruh penangkapan tersebut terhadap permintaan dan penawaran obat bius di kota New York?” Susah payah Abu mengatakannya.

Bang Sawan terdiam, menarik nafas lalu berkata. “Karena Allah dalam Quran menggunakan banyak perumpamaan. Maka Abang akan pakai perumpamaan untuk kamu, Afgan.” Abu menepuk jidat, bang Sawan lebih parah tingkat memberi julukannya kepada orang lain. “Untuk memahani persoalan ini kamu harus menjadi seorang pengedar ganja.” Tunjuk Bang Sawan. “Nah loh masak Abu harus menjadi pengedar ganja?” Protes Abu, keras.

“Maksud Abang, kamu harus berpikir seolah-olah kamu adalah pengedar ganja. Begitu maksudnya abang wajah semi artis. Coba bayangkan jika setengah pengiriman ganja ke Sumatera Utara ditangkap polisi diperbatasan. Apa akibatnya?” Tunjuk bang Sawan. Abu menggeleng tidak tahu. “Yang jelas harga ganja di Medan pasti naik! Dan yang beli ganja disana pasti turun, tapi tidak banyak. Tahu kenapa? Karena mereka sudah kecanduan.”

“Analisis angkanya bang?” Tanya Abu lagi. “Kamu pikirkan sendiri, kamu kan sudah diajarkan rumusnya. Masalah tekhnis itu urusanmulah bang Pasya.” Abu memejamkan mata lagi, mengingat kurva hukum permintaan dan penawaran. Mengingat rumus elastisitas. Kena!!! Ya benar kata Bang Sawan, luar biasa orang ini.

“Abu masih ada tugas lainnya bang, bagaimana pengaruh pembatasan mobil Toyota masuk ke Amerika terhadap penjualan mobil Ford disana?” Asyik, masih banyak tugas Abu. Mumpung sedang ada masternya, kesempatan ini tidak akan Abu lewatkan. “Abang malam ini jatah mengunjungi isteri kedua jadi tidak bisa berlama-lama. Bayangkan saja bang Afgan, pembatasan masuknya tomat Medan yang besar dan segar ke Aceh terhadap tomat Aceh yang kurus dan sayu!” Bang Sawan bangkit, menyalami TSP dan berbalik pergi. “Apa hubungannya bang?” Teriak Abu. Bang Sawan sudah naik ke dalam truk ia menutup pintu. Abu kecewa, tapi kemudian ia menurunkan kaca jendela. “Tomat kita laku lebih banyak!” Bang Sawan tertawa, kemudian menjalankan truknya dengan sangat-sangat elegant.

Abu terpekur, sekali lagi superb. Indonesia ini ternyata banyak melahirkan jenius. Bang Sawan yang notabene seorang supir truk ternyata mampu menyelesaikan masalah yang Abu sebagai mahasiswa merasakan sulit menghadapinya. Ada berapa banyak orang seperti ini di dunia? Memiliki potensi tersembunyi dibalik profesinya. Ngomong-ngomong bicara mengenai profesi, mengapa supir truk selalu memiliki istri lebih dari satu ya? Di setiap pemberhentian punya satu, seperti bang Sawan. Abu tertawa ngakak. Bagaimanapun terima kasih bang Sawan.

“Abu!” Bisik TSP pelan. Abu terkejut, oh iya TSP masih disini. “Iya tengku.” Jawab Abu pelan. “Mengapa mulut kamu itu kalau sedang mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hanya mempunyai dua pose. Pertama, tersenyum. Keren tapi yang kedua itu.” TSP tersenyum. “Kenapa dengan yang kedua tengku?” Tanya Abu. “Membuka dengan lebar, seperti gua.” TSP cekikikan senang seperti anak SMA diterima cinta. Abu menggaruk-garuk kepala, “bukannya tengku yang mengajarkan bahwa menerima ilmu itu harus dengan keikhlasan, dan mungkin itulah ekpresi tulus yang dapat Abu tampilkan.” Abu mengangkat bahu. TSP tersenyum lebar, “gurumu yang pertama pasti orang yang hebat.” Sambil menepuk bahu Abu.

Abu terdiam, selain orang tua. Orang yang pertama mengajar Abu sebelum masuk sekolah adalah almarhum Tengku Syams. Kata-kata beliau yang masih sampai sekarang Abu ingat adalah. “Ucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikanmu pelajaran. Meski ia adalah seorang musuh yang mengalahkanmu dengan teruk. Jangan hanya diam, tapi pelajarilah! Kemudian pada pertemuan selanjutnya kejutkan ia bagaimana kamu belajar dengan cepat.” Waktu itu Abu membantah, “Tengku, kami tidak ingin mencari musuh.” Tengku Syams mendekati lalu mengusap rambut Abu. “Anakku, tidak seorang pun diantara kalian semua yang aku ajarkan untuk mencari musuh. Namun ketika mereka datang, hadapilah dengan tenang meski kekalahan menantimu disana. Tapi jangan lupa belajar.” Abu masih membantah, kali ini dengan suara yang lembut. “Tapi saya tidak ingin mempunyai musuh.” Tengku Syams memegangi dagunya, lalu berkata pelan namun tegas. “Jalani hidup anakku, kelak engkau akan mengerti.”

Abu tersentak, kembali kemasa kini. Saatnya pamit pulang, entah mengapa ketika menyalami TSP Abu menaruh tangannya dikening, sebuah tanda penghormatan. Padahal biasanya Abu paling benci adegan feodal seperti ini. TSP terdiam, mungkin terkejut karena ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tapi ia akhirnya mendiamkan saja. Pasrah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sejenak berpikir betapa sebenarnya hidup Abu ini penuh dengan keberuntungan. Bahwa Allah telah sangat memudahkan jalan takdir Abu. Orang tua penuh kasih sayang, adik-adik mencerahkan, guru luar biasa seperti; Tengku Syams, TSP dan banyak lagi termasuk bang Sawan, sahabat-sahabat yang hangat termasuk Mr.Popo bermulut pedas namun selalu jujur, kerjaan menantang. Sampai beberapa musuh yang tak dapat Abu hindari, tapi memberikan pelajaran dan pengalaman berarti. Abu menjadi malu sendiri jika sudah begini, wahai diriku nikmat tuhanmu manakah lagi yang engkau dustakan.

Sebelum tidur Abu membuka buku ACEH PUNGO tulisan Taufik Al Mubarak yang tadi sore sepulang kuliah dibeli di Arun Post. Senin libur, jadi saatnya memperkuat referensi diluar kuliah, diluar pekerjaan. Hanya membaca seharian penuh. Yummy.

“Siapapun kau, ketahuilah kau tidak sendirian. Kau cuma menutup dirimu dengan kulit kerang. Begitu kau pecahkan kulit kerang itu. Kau akan melihat dirimu ada ditengah teman-teman yang baik.”

Mengapa harus malu ketika menanyakan masa laluku. Sejakku menginjakkan kaki untuk pertama kali bertahun lalu sampai hari ini tak ada yang berani bertanya tentang ini padaku, jujur kuterkejut. Aku kan bercerita padamu, pada perasaan hangat ini yang dinamakan persahabatan. Sebagaimana jika boleh memilih maka sekalipun ku tak ingin menjadi musuhmu.

Baiklah masa lalu, kenapa aku bisa lupa, aku yang selalu berlagak dan berpura-pura. Padahal sebenarnya kenapa aku selalu berusaha. Dan kenapa aku melakukan semua. Pada dasarnya karena aku ingin menjadi seseorang. Bingung? Hey, aku hanya bercanda.

Padahal banyak sekali cerita lama, padahal banyak sekali yang ingin kusampaikan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya, karena semua itu tak bisa kewujudkan dalam bentuk kata-kata. Baiklah, aku memang harus dipaksa ya?

Aku telah bertemu dengan banyak orang. Sampai sekarang dan waktu dulu juga, aku harus selalu ditolong orang lain. Banyak hal yang telah kulalui. Sampai bertemu kembali sejak pertama bertemu. Aku enggan bercerita mungkin, dan kalau pun aku ingin bercerita aku tak pandai bercerita, baiklah aku akan bercerita.

Hanya untukmu, dan hanya malam ini. Biarlah kita berbincang sampai pagi menjelang. Sudikah engkau mendengarkannya tanpa menyela. Beginilah ceritanya.

“Sejarah bisa berulang, tapi manusia tak bisa kembali ke masa lalu”

PLEDOI IBLIS

12 June 2009

Entah syaithan mana yang merasukimu hingga engkau mengancamku? Aku yang terlihat tolol ini bukan tak tahu. Aku hanya merasa tak perlu tahu akan tingkah polah dibelakangku. Ada hal lain yang lebih penting untuk disimpan bergiga kapasitas otakku. Bukan itu, yang menjadi perhatian bagiku.

Jika selama ini aku diam bukan berarti kutunduk, mungkin engkau memang terlahir sebagai ratu yang bebas bertindak dengan segenap dayang-dayangmu. Yang dengan mudah mengendalikan bidak para punggawa. Tapi aku bukan mereka.

Dengan bagaimana lagi caraku mengatakannya, jika lidahku enggan mengeluarkan kalimat kebencian. Dan hari ini ketika akhirnya aku bersuara, itu karena ketidaknyamanan sudah menyergap ragaku.

Bahkan disaat aku hancur, tidak semudah itu engkau menaklukkanku. Syukurlah engkau tidak tahu. Dan pun jikalau suatu hari engkau tahu maka bacalah pernyataanku ini. Siapa kamu? Berani sekali padaku. Kamu pikir kamu siapa? Aku bukan budak, aku adalah manusia merdeka.

Katakan pada iblis yang menguasaimu, ancaman itu tak menggetarkanku. Tangan-tanganmu tak akan pernah bisa menyentuhku. Tahu kenapa? Karena aku adalah orang yang tak memiliki harapan. Dan orang yang tak memiliki harapan juga tak memiliki ketakutan.

Jika engkau memang bernyali, coba tatap mataku. Dan ulangi kata-katamu.

Malam ini biarkan kusendiri, mengecup sepi. Menikmati kehidmatan menyelami tulisan tertera dari langit. Sungguhpun disaatku merasa gundah gulana. Saat air mata tumpah ketika mengeja kitab suci bukan berarti hidup ini penuh kesedihan. Aku hanya menikmati air mata membasahi pipi merasakan kekhusyukan nyata menghindari hiruk pikuk dunia. Melepaskan segala topeng.

Sungguh disaat-saat seperti ini aku mengenali diri sendiri dalam kenyamanan amat sangat. Mohon biarkanku tenggelam dalam hening. Desirmu angin tak bisa menyentuh kalbu. Walau tiada kesempatan menelaah segala kekurangan. Ketidaksempurnaan kita maka tuhan mengajarkan mengerti cinta, mensucikan jiwa.

Kala insan lelap dalam buaian ditengah sunyinya malam. Betapa kumerindu kitab suci dengan nyanyian sendu menyayat. Menghiraukan jalannya waktu menjelang, tawa riang dan canda tak ingin lagi. Merenungi hidup sebelum layar diturunkan. Tanpa sepengetahuan dengan penuh rahasia. Dan tak ingin terduga oleh siapapun jua.

Duhai, terlalu sering sudah kumenafikan uluran tangan sampai tiba saat dimana merasa tak nyaman untuk menolak lebih banyak lagi. Pada keramaian, pada sebentuk senyuman. Sampai merasa sudah melebihi keangkuhan iblis. Bukan, bukan itu maksudku. Ku hanyalah seorang penyendiri yang berazzam menikmati sunyi, mohon biarkan. Jangan kau ambil semua itu, malam ini.

Ketika ragaku merapuh, kuingin ketenangan dalam tidurku. Tak ingin seorang pun menganggu. Jasadku tlah mendinginkan semua penat, jangan percikkan api lagi. Cukup, cukup sudah biarkanku beristirahat dalam damai yang hanya ku mengerti, sendiri.

Dua puluh lima tahun, mengutip perrkataan sahabat lama seperempat abad sudah. Tanpa ada penggulangan tanggal ditahun ini. Tersenyum mendapati diri sudah sejauh ini. Dua puluh lima tahun, menurut agama Islam adalah usia setiap manusia dibangkitkan kelak, seberapapun umur hidupnya.

 

Hidup di bawah langit

Seperempat abad

Kepada dunia

Apa yang telah diberi

Impian dan cita

Akan berakhir

 

Wahai tanah leluhur

Sudikah engkau menanti

Lelaki yang tak tahu

Kapan malam terakhir

Untuk kembali

Kepada-NYA

 

Krueng Sabee, 29 Pebruari 1984 pukul 14.00 WIB. Milvan Murtadha

Untuk sebuah tanggal yang menghilang dari kalender tahun 2009, Selamat Ulang Tahun.

ANAK ANAK BERMAIN BOLA

26 February 2009

anak-anak bermain bola dalam rintik hujan

dalam nikmatnya kebersamaan

 

anak-anak bermain bola tanpa beban kesengsaraan

tanpa dibayangi ketakutan

 

anak-anak bermain bola dalam luasnya jagad raya

tanpa tabir kemunafikan

 

andai dunia seperti realita ini

alangkah indahnya

anak-anak pun bermain dan terus bermain

 

Krueng Sabee, 16 Agustus 2000

HANTU

20 February 2009

Hantu, menurut pengertian umum yang beredar dimasyarakat adalah arwah orang yang sudah meninggal, mungkin tradisi ini berasal dari warisan Hindu-Budha di Indonesia kuno merupakan pertanda bahwa orang yang meninggal tersebut belum mencapai tingkat sempurna untuk mencapai nirwana sehingga gentayangan di dunia.

 

 

 

Hantu, versi Indonesia tentunya jelas berbeda dengan monster versi Amerika yang bisa dibilang tidak memiliki pijakan kultural di negaranya. Hantu, ditakuti dimana-mana dikampung orang tua menakuti anak-anaknya dengan hantu begitupun dikota.

 

 

 

Hantu sejenis Kuntilanak, Genderowo, Tuyul, dan sejenisnya adalah lebih mengerikan dibanding versi Hantu Amerika seperti Candyman maupun hantu versi-versi negara lainnya, hal ini juga menunjukkan bahwa negara kita ini kaya akan hantu.

 

 

 

Hantu, ironisnya justru tidak memiliki pijakan dalam agama Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk negara ini. Walaupun Islam mengakui keberadaan makhluk gaib seperti Jin, Setan dan Iblis namun literatur tentang orang yang sudah mati bangkit kembali adalah hal yang mustahil dalam doktrin agama. Adalah menjadi pertanyaan yang cukup besar mengapa penduduk yang mayoritas muslim justru mempercayai sesuatu yang tidak diakui oleh agamanya?

 

 

 

Hantu mungkin saja merupakan makhluk halus berupa jin, yang menyerupakan diri dengan orang yang telah meninggal untuk mengelabui orang yang masih hidup, seolah orang tersebut bangkit kembali dari kubur.

 

 

 

Hantu, hari ini menjanjikan keuntungan yang berganda. Tidak percaya? Lihatlah perfileman kita penuh dengan hantu. Jelangkung, Bangku Kosong, Lentera Merah, Terowongan Casablanca, dan banyak lagi. Hantu hari ini juga mengicar generasi muda untuk berteriak-teriak dibioskop setelah membayar karcis tentunya.

 

 

 

Biaya pembuatan yang murah serta pengembalian keuntungan yang berlipat membuat para produser berlomba untuk membuat filem bergenre Horor, tak peduli itu dilakukan tanpa riset mendalam, tak peduli kritikan yang terus menekan artinya sifat mereka sama seperti hantu, tidak mempedulikan apa-apa. Prinsipnya adalah “Tidak ada filem hantu yang rugi.”

 

 

 

Hantu pada dasarnya adalah mereka yang tidak layak ada didunia, membicarakannya adalah hal yang sia-sia apalagi menontonnya.

 

AROMA PEREMPUAN HIJAU

9 February 2009

Bau apa ini? Hidung Abu merasa asing, campuran wangi bunga yang tak dikenal. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung Abu sesaat. Bau khas perempuan! Sudah terlalu lama Abu tidak membaui keharuman ini sehingga sudah terlupa bagaimana rupa bentuknya. Sel Abu-Abu dalam otak Abu pun berputar cepat membuat jantung semakin berdegup kencang.

 

Perempuan itu berbaju hijau dengan rok hijau pula. Aha seandainya dia tak mengenakan warna hijau akan Abu sikut dia ketika dengan tenang menyalin ujian final milik Abu. Terlambat datang, sedikit senyum dengan dosen pengawas. Lalu duduk disamping Abu, terus seenaknya menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menyontek dengan terbuka didepan sekian banyak orang. Dimana otaknya??? Tapi Abu adalah pribadi yang punya masalah dengan warna hijau sebab walaupun mengaku sebagai fans AC MILAN yang identik dengan warna MERAH-HITAM, Abu memiliki kesan khusus dengan warna hijau terutama dengan perempuan yang mengenakan warna tersebut. Sebuah alasan emosional dimana kilasan kisah tentang masa lalu menahan Abu untuk marah terhadap aksi-aksi polisionil sang perempuan hijau.

 

Waktu ujian sudah berlalu sejam dari seratus dua puluh menit ditetapkan, teori dan analisis ekonomi tak pernah menyulitkan Abu. Lima belas menit lalu sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Namun Abu tak pernah berkeinginan segera untuk mengumpulkan jawaban, bukan karena si perempuan hijau tapi itulah kebiasaan Abu dalam ujian apapun. Mengusahakan mengumpul terakhir, sebab dalam waktu ada keniscayaan dan mengamati ekspresi orang yang tekun mengerjakan soal adalah hobi lain Abu yang tak pernah diketahui oleh orang.

 

“Tulisan Abu lebih rapi dibanding perempuan.” Sang perempuan hijau buka suara. Abu hanya tersenyum tak bicara tapi dalam hati berkata, “Nona tahukah kamu bahwa  Abu ini anak seorang guru yang memiliki standar tinggi tentang kerapian tulisan! Dididik bisa membaca diumur empat tahun dan belajar menulis indah sejak kelas satu Madrasah Ibtidaiyah dengan sapu lidi sebagai barometer dan lebih keras lagi sewaktu masih duduk dibangku sekolah catatan Abu diperiksa setiap minggunya!”

 

“Sepertinya dibagian ini Abu ada yang ketinggalan, atau aku yang salah ya?” Venus selalu tak percaya diri dan hampir selalu tanpa solusi begitupun sang perempuan hijau. Tapi tuhan memberikan mereka ketelitian yang luar biasa mengalahkan Mars terhebat sekalipun! Aha memang benar dinomor dua Abu sedikit kurang penjelasan. Setelah menambahkan bagian yang kurang Abu menatap sang perempuan hijau, bibirnya yang  tebal menurut teori ahli Kriminologi abad ke-18 asal Austria, Lamrusso merupakan ciri pasangan setia berkicau pelan membaca tulisan didepannya. Sadar Abu menatapnya, wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat grogi dan meremas pulpen PILOT ditangan. Ia tidak tahu jalan pikiran Abu dan terang tak dapat menebak sedikitpun apa didalamnya. Akhirnya selesai menyalin jawaban Abu, waktu masih tersisa lima belas menit. Ia minta izin lebih dulu mengumpulkan jawaban, Abu mengangguk. Sebelum keluar ia menoleh kepada Abu untuk tersenyum dengan wajah termanis yang bisa ia berikan lalu keluar.

 

Disisa waktu Abu menambah sedikit analisis Ekonomi untuk melengkapi jawaban Abu tadi, hasil inspirasi waktu lowong ketika sang perempuan hijau mengcopy-paste jawaban tadi. Bukannya bermaksud mencurangi sang perempuan hijau, prediksi Abu salinan tadi sudah cukup membuatnya mendapat nilai A. Tapi berbeda dengan Venus yang komunal dan tak nyaman berkompetisi. Kami makhluk Mars adalah pencinta alam kompetisi, termasuk Abu. Haruslah menjadi yang nomor satu, bahkan jika harus berbagi tempat yang sama kami harus menjadi yang berbeda dengan yang lain. Walaupun jika sama-sama mendapat nilai A harus dengan kualitas yang berbeda. Tak sedikitpun ingin disamai.

 

Musim ujian Final di Unimal terus berlanjut, keesokan harinya sang perempuan hijau dengan bau yang sama berpapasan ditangga kampus, kali ini dengan pakaian Pink Abu hanya tersenyum membuat wajahnya memerah melebihi pakaian yang ia kenakan. Tapi hati adalah sesuatu yang mudah berbolak-balik. Ketika minggu berikut ia mengenakan pakaian kuning kemudian terakhir biru, Abu tak lagi peduli. Aroma hijau seolah hilang tak berbekas dibenak Abu. Sombong? Entahlah? Yang pasti Abu tak terlalu mudah akrab dengan orang, walau sudah tiga semester berkuliah bersama tak membuat jarak antara Abu dan teman-teman kuliah terutama pihak perempuan mencair. Sejak semester satu beberapa kali mereka tertangkap tangan menggosipkan kesombongan Abu, yang parahnya Abu bahkan tak peduli.

 

Kadang-kadang Abu bingung tentang sendiri. Entah hati ini terbuat dari apa? Mengapa ia sebegitu keras? Yang  pasti bukan terbuat dari baja. Ia lumer sekejab ketika perempuan hijau dengan aroma khasnya menghampiri. Sungguh benar petuah lama, bahwa perempuan sebaiknya tak memakai wewangian mencolok, karena hidung merupakan bagian terlemah melebihi mata bagi seseorang laki-laki. Bau khas perempuan, sungguh lama sudah Abu tidak membauinya. Suatu keadaan yang menyebabkan resistensi Abu juga semakin melemah terhadapnya. Entah sampai kapan Abu bisa bertahan dijalan yang telah dipilih guna meraih cita-cita, untuk tidak melirik hingga waktunya tiba, entahlah. Bahkan Abu sendiri tak tahu.

 

semakin bertambah usia, semakin dewasa, waktu semakin rumit

“Abu”

ORANG ASING TERASING

3 February 2009

Ketika terjaga, tak tahu diriku ini siapa? Bau badan ini milik siapa? Muka acak-acakan dicermin itu akukah? Mungkin hatiku telah dipenuhi belatung. Mungkin otakku sudah membusuk hingga tak mengenali sosok sendiri. Begitu menakutkan sehingga diriku pun gemetar ketakutan pada bayangan hitam dibelakang. Dimana ini, diruang pengap tiga kali enam meter, mendapati diri dibawah lampu teplok kuning. Kasus tipis dan bantal penuh liur. Hidungku mencium bau apak menyengat. Deru debu bercampur tahi cicak. Sungguh persemayaman yang menyeramkan. Kupandangi cat dinding mengelupas, seperti wajahku yang telah bopeng oleh sayatan kuku tajam. Luka ditubuhku belum sepenuhnya sembuh. Tertembus baja satu hasta. Berbalut perban kuning tidak putih. Aku marah, mengerang lalu menjerit, hingga mendapati aku hanya bersama diriku. Aku merasa asing, pada semuanya. Bahkan pada diriku sendiri. Siapakah aku?