KEKUASAAN PLUIT

12 November 2009

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, wasit dilengkapi dengan sebuah instrumen bernama Peluit. Peluit adalah sebuah alat berukuran kecil terbuat dari berbagai bahan seperti kayu atau plastik yang mengeluarkan suara nyaring ketika ditiup. Peluit umumnya berbentuk lonjong dengan lubang kecil di bagian atas untuk perputaran udara.

Menjadi wasit berarti menjadi hakim dalam sebuah pertandingan, ia adalah pejabat yang memimpin, memutuskan hukuman bagi para pihak. Seringkali wasit menjadi pihak yang paling dipersalahkan oleh keputusan-keputusannya yang dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan satu pihak.

Sebagai seseorang yang pernah bermain sepak bola dalam pertandingan antar kampung. Abu adalah termasuk pemain yang bengal, dalam arti kata kerap melawan wasit. Wasit adalah pihak pertama yang Abu salahkan jika tim kami kalah dalam pertandingan, segala kesalahan serta caci maki sumpah serapah ditujukan hanya pada wasit. Satu hal yang jamak dalam kehidupan dunia olah raga kita. Abu pun termasuk didalamnya, menjadi salah satu bagian integral dari masyarakat kita. Sama hingga suatu hari mata Abu terbuka lebar.

Adalah turnamen Futsal yang diadakan oleh teman-teman sekantor. Pada suatu ketika, tidak ada yang ingin menjadi wasit karena akan menjadi pihak yang menerima teror dari penonton dan pemain-pemain dilapangan. Dasar Abu, bangsa mau. Sifat optimis Abu bergejolak dan mengajukan diri sebagai wasit. Hanya bermodal keberanian Abu mencoba.

Ternyata menjadi wasit yang adil itu sulit, meskipun berusaha untuk adil. Pasti ada yang terlewatkan. Sekejap saja hilang kosentrasi maka bisa berakibat fatal terhadap pertandingan. Apalagi jika pertandingan tersebut memiliki tensi emosi tingkat tinggi. Sebagai wasit, sikap fokus dan tegas harus mati-matian dipertahankan ditengah atmosfer keras. Untungkah, wasih dibekali sebuah instrumen kekuasaan bernama peluit yang menjadi pertanda kekuasaannya dilapangan. Dasar Abu, mendapat mainan baru malah keasikan meniup peluit yang malah diprotes oleh para pemain.

Abu baru pertama kalinya menjadi wasit, selalu ada kenikmatan tersendiri terhadap apapun yang kita lakukan pertama kali, itu pasti. Alangkah baiknya jika mengambil hikmah dari segala pengalaman yang kita alami. Ternyata sangat mudah untuk menilai seseorang jika kita dipinggir lapangan, sangat mudah menduga seseorang buruk dari kaca mata kita. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak pernah mengkomunikasikan hal itu dengan santun. Dengan emosi dan berbalas emosi, atau yang paling buruk adalah dengan cara bergunjing, membicarakan dibelakang.

Setiap pengalaman menambah ilmu kita, maka Abu sangat senang menjadi wasit. Namun untuk pertandingan berikutnya Abu harus memberikan kesempatan kepada orang lain, bukan karena takut melainkan ternyata Abu telah memaksakan fisik untuk mencapai batasnya, dan sudah saatnya untuk istirahat.

” The optimist sees opportunity in every danger, the pessimist sees danger in every opportunity.”

Milvan Murtadha, 12 Nopember 2009…

 

MENEGAKKAN KEADILAN

3 November 2009

Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Takkala Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad , berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!

Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”

Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.

Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.

Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.

Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :

1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.

2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.

Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.

Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Hag Belanda.

Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.