JANGAN MELUPAKAN SEJARAH
26 July 2009
“Now, The borders have moved in over the centuries, but this nostalgia, so in contradiction to reality, is all because of the history.”
Segala sesuatu memiliki asal mula, perjalanannya dinamakan sejarah dalam bahasa awam disebut masa lalu. Manusia sebagai individu pelaku sepatutnya belajar dari segala hal yang telah terjadi, karena sejarah dapat berulang, dengan berbagai pola. Namun kita, manusia tidak bisa kembali kemasa lalu.
Dulu sewaktu duduk di bangku SMU. Seorang teman pernah berkata kepada penulis, “bahwa Tidak ada yang lebih banyak di dalamnya kebohongan melebihi Sejarah”. Teman tadi yang duduk sebangku dengan penulis memang tak terlalu menyukai pelajaran Sejarah.
Sikap apatis seperti itu terhadap sejarah khususnya kepada pelajarannya tak pelak sudah penulis alami semenjak SMP, pernah suatu ketika dalam satu kelas hanya sekitar dua orang murid laki-laki yang mengikuti pelajaran sedang yang lain pada tertidur, dan bagaimana dengan murid yang perempuan? Mungkin sudah menjadi fitrah bahwa murid-murid perempuan tidak “se-Texas” murid-murid laki-laki, walaupun ogah-ogahan tapi paling tidak mereka mencoba memperlihatkan wajah ingin tahu walaupun saat itu penulis harus mengatakan bahwa akting mereka sangat sangat buruk.
Berbeda lagi disaat penulis duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), saat itu penulis dan teman-teman didasari rasa ingin tahu yang besar? Benar-benar bersemangat mengikuti pelajaran ini. Setiap kali belajar merupakan plesir ke masa lalu di mana kami menemui hal-hal baru tentang geografi, kebudayaan, agama yang membuka mata kami semua terhadap dunia.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ketika sudah mengetahui sedikit, orang-orang tersebut berbalik tidak menyukai sejarah? Orhan Parmuk seorang novelis Turki dalam novelnya Kar (dalam versi bahasa Inggrisnya Snow) sambil melihat potret kota Istanbul ia menulis, “Terpukau keindahan kota ini dan selat Bosphorus, orang akan diingatkan akan perbedaan hidupnya sendiri yang papa di hari ini dengan kejayaan yang membahagiakan di masa lampau,” dan masa itu tak bisa di ulangi.
Bingo! Itulah jawaban yang penulis temukan, kenapa banyak orang menjadi apatis mengikuti sejarah adalah takut tersilaukan oleh kejayaan masa lalu dan menjadi seorang pesakitan memandang dirinya sekarang. Disamping banyak faktor lain yang juga mempengaruhi, penulis menghipotesiskan analisa ini mendekati kebenaran.
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau Jasmerah!!! Begitu tutur bung Karno untuk meningkatkan semangat bangsa Indonesia yang telah sekian lama terjajah oleh Kolonialis di mana rasa percaya diri bangsa kita telah ditekan dengan dasyatnya sehingga pada masa itu ada pepatah yang dipopulerkan Belanda kepada rakyat Indonesia. “Bahwa gunung-gunung bisa yang tinggi bisa tercabut dari akarnya akan tetapi bangsa ini tidak akan bisa mengalahkan Belanda”. Begitulah dangan sangat culasnya Kolonialis memanipulasi bangsa kita. Dengan mencoba mengingatkan kembali kejayaan masa lampau bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan saat itu mendongkrak rasa kepercayaan bangsa ini yang tengah berada pada titik nadir.
Penulis percaya bahwa siapa diri kita hari ini adalah hasil dari masa lalu kita, dan jika ingin mengubah masa depan kita harus memulainya dari sekarang. Mungkin sangat pedih untuk membuka lembaran hidup kita ke belakang di mana kita terlalu banyak melakukan kesalahan tapi tanpa usaha untuk memperbaikinya maka diri kita tidak akan menjadi lebih baik. Pendeknya, jika kita masih saja sesuatu hal yang sama maka janganlah mengharapkan hasilnya akan berbeda.
Kembali kepada teman penulis tadi, mungkin benar apa yang dia katakan bahwa mungkin dalam sejarah terdapat banyak kebohongan, bahwa sejarah mungkin ditulis menurut selera dari penulisnya. Akan tetapi disitulah kita dapat memetik hikmah dari kesalahan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu untuk mencoba memperbaiki diri kita untuk menjadi lebih baik.
Penulis sangat mengena akan tulisan yang ditulis oleh Ibn Khaldun berabad-abad lampau dalam kitab Mukaddimah, “Bahwa kebenaran itu akan terlihat jelas apabila peristiwa telah berlalu dan kita sudah tidak memiliki kepentinggan yang bersinggungan langsung dengan peristiwa tersebut.”
Terakhir mengutip Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi dalam bukunya Bangkitnya dan Runtuhnya Khalifah Ustmaniyah yang penulis sangat tersentuh membacanya, sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Pelajari Sejarah! Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya seperti anak pungut yang tidak mengetahui nasabnya. Atau seperti orang yang hilang ingatan sehingga ia tidak ingat masa lalunya.”
Apapun yang terjadi, jangan melupakan sejarah!!!
“Kita memerlukan pijakan kukuh dari masa lalu untuk dapat melompat maju ke depan.”
Lhokseumawe; pagi dini hari, Milvan Murtadha.
MENCANDU ILMU
21 July 2009
Salah satu keunggulan semangat membaca adalah ia memberikan kita pengetahuan. Menjadi sumber kreasi yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Kecerdasan lebih utama dibanding kepintaran, mengapa? Karena orang cerdas selalu dapat mengalahkan orang yang pintar dalam mencari kemungkinan menyelesaikan masalah. Itu karena orang yang “merasa” pintar hanya terpaku pada satu jalan keluar, sehingga mudah ditaklukkan apabila polanya ditemukan.
Senin libur Isra’ Mi’raj, ditambah sabtu dan minggu berarti libur tiga hari. Ingin rasanya pulang ke Banda Aceh tapi sabtu-minggu ini empat mata kuliah ujian final di Unimal. Jadi, lebih baik Abu di Lhokseumawe. Mengejar sesuatu, kehilangan sesuatu. Diantara dua pilihan, maka salah satu harus dikorbankan. Malam Senin, ujian telah terlewati. Tinggal dua mata kuliah lagi di semester empat ini, untuk minggu depan. Teman sekontrakan Samba ke Medan, Jojo pulang ke Lhoksukon. Tinggallah Abu sendiri dirumah menonton TV yang penuh dengan acara pengeboman Hotel Marriot dan Rizt Carlton. Telepon juga tidak berbunyi, mungkin karena selama dua malam sebelum ujian Abu mematikan HP secara total, bosan juga begini.
Aha!!! Lebih baik ke rumah Tengku Salek Pungo, membalas kunjungan dua minggu sebelumnya. Abu kan tidak tahan udara malam? Tenang, bulan lalu ketika liburan ke Jakarta Abu sempat membeli dua sweater di Tanah Abang. Tidak selamanya kita lemah terhadap sesuatu bukan? Manusia sebagai makhluk yang berpikir harus berinovasi untuk mengembangkan diri, hal yang menyebabkan hari ini makhluk yang bernama manusia mendominasi dunia, mendesak ke pinggir hewan-hewan terkuat, terganas dan paling mematikan sekalipun. Nanti, pelan-pelan Abu akan menantang udara malam tanpa jaket maupun sweater, lihat saja nanti Abu berjanji. Pukul setengah Sembilan malam, sudah selesai Isya. C’mon My Lovely Blue Shogun 125 The next destination, Tengku Salek Pungo House’s!!!
Sesampainya disana, didepan rumah TSP ada truknya bang Sawan. Ternyata diteras TSP dan Bang Sawan sedang berbicara serius. Mereka membahas masalah tingkat tinggi,pengaruh pengeboman di Jakarta terhadap perekomomian di Indonesia. Bang Sawan berbicara dengan analisis yang luar biasa mengalahkan para dosen Abu di Unimal bahkan pengamat ekonomi tercanggih di TV, sedang TSP memberikan pandangan secara Fiqh, saling tukar pendapat para pakar. Tanpa menyela Abu mengambil tempat disudut, dan berusaha menyerap itu semua dengan otak sederhana ini. Luar biasa, Abu benar-benar beruntung bisa hadir disini.
Dengan takzim Abu menyimak, sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Abu. “Eh, Abu sudah lama?” Tanya TSP, ternyata perbicangan mereka sebegitu seriusnya sehingga baru sadar akan “adanya” Abu disitu. “Lumayan tengku.” Jawab Abu sambil tersenyum. “Eh, ada abang wajah semi artis.” Sapa bang Sawan seraya tertawa, Abu pun tersenyum kepada beliau.
Namun suasana dialog sudah mencair, feelnya sudah hilang dengan kehadiran Abu. Adu jurus para Maha Guru terganggu akan kehadiran seorang Casis. Tidak enak juga, “Bang Sawan ternyata jago juga ya tentang ekonomi?” Beliau tersenyum. “Bukan abang sombong, tapi untuk masalah ini pengetahuan abang imbang-imbang dengan menteri sekarang.” TSP tertawa, sedang Abu menganguk bloon.
“Begini bang Sawan, Abu punya tugas analisis ekonomi. Sepertinya susah sekali, apa abang bersedia membantu?” Tanya Abu malu-malu. “Silahkan bang Pasya, jangan sungkan-sungkan!” Jawab Bang Sawan, Abu kena batunya!!! Sering memberikan julukan kepada orang lain, dan hari ini Bang Sawan tanpa pikir panjang memberikan julukan pada Abu. Senjata makan tuan.
Abu memejam mata mengingat, soalnya tidak membawa catatan. “Begini bang, seandainya di kota New York sebuah grup Kartel memproduksi 500 kilo obat bius setiap bulan, dengan harga $500 per-ons. Bulan ini DEA melakukan operasi besar-besaran dan menangkap 50 persen kapasitas kartel tersebut. Bagaimanakah pengaruh penangkapan tersebut terhadap permintaan dan penawaran obat bius di kota New York?” Susah payah Abu mengatakannya.
Bang Sawan terdiam, menarik nafas lalu berkata. “Karena Allah dalam Quran menggunakan banyak perumpamaan. Maka Abang akan pakai perumpamaan untuk kamu, Afgan.” Abu menepuk jidat, bang Sawan lebih parah tingkat memberi julukannya kepada orang lain. “Untuk memahani persoalan ini kamu harus menjadi seorang pengedar ganja.” Tunjuk Bang Sawan. “Nah loh masak Abu harus menjadi pengedar ganja?” Protes Abu, keras.
“Maksud Abang, kamu harus berpikir seolah-olah kamu adalah pengedar ganja. Begitu maksudnya abang wajah semi artis. Coba bayangkan jika setengah pengiriman ganja ke Sumatera Utara ditangkap polisi diperbatasan. Apa akibatnya?” Tunjuk bang Sawan. Abu menggeleng tidak tahu. “Yang jelas harga ganja di Medan pasti naik! Dan yang beli ganja disana pasti turun, tapi tidak banyak. Tahu kenapa? Karena mereka sudah kecanduan.”
“Analisis angkanya bang?” Tanya Abu lagi. “Kamu pikirkan sendiri, kamu kan sudah diajarkan rumusnya. Masalah tekhnis itu urusanmulah bang Pasya.” Abu memejamkan mata lagi, mengingat kurva hukum permintaan dan penawaran. Mengingat rumus elastisitas. Kena!!! Ya benar kata Bang Sawan, luar biasa orang ini.
“Abu masih ada tugas lainnya bang, bagaimana pengaruh pembatasan mobil Toyota masuk ke Amerika terhadap penjualan mobil Ford disana?” Asyik, masih banyak tugas Abu. Mumpung sedang ada masternya, kesempatan ini tidak akan Abu lewatkan. “Abang malam ini jatah mengunjungi isteri kedua jadi tidak bisa berlama-lama. Bayangkan saja bang Afgan, pembatasan masuknya tomat Medan yang besar dan segar ke Aceh terhadap tomat Aceh yang kurus dan sayu!” Bang Sawan bangkit, menyalami TSP dan berbalik pergi. “Apa hubungannya bang?” Teriak Abu. Bang Sawan sudah naik ke dalam truk ia menutup pintu. Abu kecewa, tapi kemudian ia menurunkan kaca jendela. “Tomat kita laku lebih banyak!” Bang Sawan tertawa, kemudian menjalankan truknya dengan sangat-sangat elegant.
Abu terpekur, sekali lagi superb. Indonesia ini ternyata banyak melahirkan jenius. Bang Sawan yang notabene seorang supir truk ternyata mampu menyelesaikan masalah yang Abu sebagai mahasiswa merasakan sulit menghadapinya. Ada berapa banyak orang seperti ini di dunia? Memiliki potensi tersembunyi dibalik profesinya. Ngomong-ngomong bicara mengenai profesi, mengapa supir truk selalu memiliki istri lebih dari satu ya? Di setiap pemberhentian punya satu, seperti bang Sawan. Abu tertawa ngakak. Bagaimanapun terima kasih bang Sawan.
“Abu!” Bisik TSP pelan. Abu terkejut, oh iya TSP masih disini. “Iya tengku.” Jawab Abu pelan. “Mengapa mulut kamu itu kalau sedang mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hanya mempunyai dua pose. Pertama, tersenyum. Keren tapi yang kedua itu.” TSP tersenyum. “Kenapa dengan yang kedua tengku?” Tanya Abu. “Membuka dengan lebar, seperti gua.” TSP cekikikan senang seperti anak SMA diterima cinta. Abu menggaruk-garuk kepala, “bukannya tengku yang mengajarkan bahwa menerima ilmu itu harus dengan keikhlasan, dan mungkin itulah ekpresi tulus yang dapat Abu tampilkan.” Abu mengangkat bahu. TSP tersenyum lebar, “gurumu yang pertama pasti orang yang hebat.” Sambil menepuk bahu Abu.
Abu terdiam, selain orang tua. Orang yang pertama mengajar Abu sebelum masuk sekolah adalah almarhum Tengku Syams. Kata-kata beliau yang masih sampai sekarang Abu ingat adalah. “Ucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikanmu pelajaran. Meski ia adalah seorang musuh yang mengalahkanmu dengan teruk. Jangan hanya diam, tapi pelajarilah! Kemudian pada pertemuan selanjutnya kejutkan ia bagaimana kamu belajar dengan cepat.” Waktu itu Abu membantah, “Tengku, kami tidak ingin mencari musuh.” Tengku Syams mendekati lalu mengusap rambut Abu. “Anakku, tidak seorang pun diantara kalian semua yang aku ajarkan untuk mencari musuh. Namun ketika mereka datang, hadapilah dengan tenang meski kekalahan menantimu disana. Tapi jangan lupa belajar.” Abu masih membantah, kali ini dengan suara yang lembut. “Tapi saya tidak ingin mempunyai musuh.” Tengku Syams memegangi dagunya, lalu berkata pelan namun tegas. “Jalani hidup anakku, kelak engkau akan mengerti.”
Abu tersentak, kembali kemasa kini. Saatnya pamit pulang, entah mengapa ketika menyalami TSP Abu menaruh tangannya dikening, sebuah tanda penghormatan. Padahal biasanya Abu paling benci adegan feodal seperti ini. TSP terdiam, mungkin terkejut karena ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tapi ia akhirnya mendiamkan saja. Pasrah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, sejenak berpikir betapa sebenarnya hidup Abu ini penuh dengan keberuntungan. Bahwa Allah telah sangat memudahkan jalan takdir Abu. Orang tua penuh kasih sayang, adik-adik mencerahkan, guru luar biasa seperti; Tengku Syams, TSP dan banyak lagi termasuk bang Sawan, sahabat-sahabat yang hangat termasuk Mr.Popo bermulut pedas namun selalu jujur, kerjaan menantang. Sampai beberapa musuh yang tak dapat Abu hindari, tapi memberikan pelajaran dan pengalaman berarti. Abu menjadi malu sendiri jika sudah begini, wahai diriku nikmat tuhanmu manakah lagi yang engkau dustakan.
Sebelum tidur Abu membuka buku ACEH PUNGO tulisan Taufik Al Mubarak yang tadi sore sepulang kuliah dibeli di Arun Post. Senin libur, jadi saatnya memperkuat referensi diluar kuliah, diluar pekerjaan. Hanya membaca seharian penuh. Yummy.
“Siapapun kau, ketahuilah kau tidak sendirian. Kau cuma menutup dirimu dengan kulit kerang. Begitu kau pecahkan kulit kerang itu. Kau akan melihat dirimu ada ditengah teman-teman yang baik.”
BERAKHIR DISINI
16 July 2009
Seharusnya ini berakhir disini. Diangka tiga lima. Tiga ditambah lima sama dengan delapan. Angka kesukaanku menandakan paradoks seperti hidupku yang penuh pertentangan. Delapan angka yang sukar dan janggal, merupakan kelipatan empat. Berkaitan dengan kesedihan namun juga berarti keberhasilan.
Bayangkan tiga puluh lima kali, diusiaku dua puluh lima, seperempat abad. Apa yang salah? Sekuat diri ini memperlihatkan sisi dingin ternyata aku tak mampu menyembunyikan pada diriku perasaan kuat dan mendalam ini, perasaan bersalah jika harus menolak lagi untuk ke tiga puluh lima.
Padahal tak ada yang istimewa disini, bahkan keras kepala, individualis dan tak pernah mau peduli. Entah bagaimana selalu saja pemikiranku selalu disalahartikan. Padahal sudah kukatakan bahwa hanya bertindak berdasarkan keyakinan bukan atas dorongan naluri, sehingga tak pernah ku cerdik maupun bijak. Hanya mencoba bertindak layak dalam bergaul, tindakanku berdasarkan normatif tak lebih.
Ketiga puluh lima, haruskah aku menerimanya. Sedang diriku tak memiliki gairah padanya. Sedang diriku tidak terpengaruh padanya. Sedang keinginanku yang dengan gigih kupertahankan belum tercapai. Harus kuakui bahwa perasaanku pernah hangat, namun itu hanya jika keyakinan bersamaku.
Aku pun pernah merasakan sakit menahan gelora didalam jiwa, dan bekasnya masih tersimpan di dada. Meski memperlihatkan keteduhan pegunungan diwajahku, meski wajahku seolah sehangat matahari pagi. Jasadku saat ini menanggung kemarahan amat sangat. Biarlah tubuhku hangus dan terbakar sendiri, ku tak ingin engkau menjadi pengalihan dendam nantinya. Tidak dirimu dan tidak siapapun. Karena ku meyakini hidupku untuk melindungi bukan untuk menyakiti. Dan aku tak akan keluar dari gua sufiku sampai mampu mengendalikan diriku lagi.
Maka aku tak akan tega berkata keras lagi padamu yang ketiga puluh lima, sekejam pada tiga puluh empat sebelumnya yang terluka oleh kata-kataku, setajam belati beracun. Yang pernah dengan dingin berkata, “Berani sekali anda jatuh cinta padaku!” Mohon biarkanku sendiri, mencari keteduhan dalam perenunganku, dipersembunyianku yang sejati yang bernama hening.
Ya, aku sudah berubah. Berusaha menyingkirkan keangkuhan iblis dihatiku. Namun maafkan aku yang tak dapat menempatkan dirimu pada puncak dahaga rinduku. Engkau tak mengenalku terlalu, engkau belum mengetahui kelemahanku. Sosok sempurna tanpa cela yang kau puja itu tak ada. Mungkin ada, tapi ia bukanlah diriku. Pasti ada lelaki lebih baik disana yang akan menyambut cintamu dengan tangan terbuka.
Tiga puluh lima, kuharap bilangan angka berakhir disini. Tak ingin ada yang ke tiga puluh enam lagi. Saatnya ku merevitalisasi diri, mengenakan jubah sufi ini dengan lebih erat lagi. Dan tetap melindungi ragaku agar tak tersentuh lebih rapat lagi. Lebih tertutup dan tanpa celah. Sakit rasanya harus mengatakan tidak berulang kali, meskiku berusaha untuk terlihat tak terpengaruh namun itu menyisakan lubang dihati, tidak hanya padamu tapi padaku jua.
Bukan, bukannya aku membenci dirimu. Kebencian tak pernah kupelajari. Jika ada yang kubenci hanyalah kebohongan. Dimana setiap kebohongan kecil akan semakin membesar diikuti kebohongan lainnya. Akhirnya menjadi bola salju. Kebohongan juga mengakibatkan hilangnya sesuatu paling berharga didunia, kepercayaan. Terkutuklah para pembohong! Aku tidak bisa membohongi kamu dan diriku sendiri. Maafkan hidupku yang kaku, terbagi hanya antara dua pilihan. Ya atau tidak.
Aku akan jujur padamu, karena hanya itulah yang kupunyai. Bahwaku pernah merindukan rumah, dan kecewa mendapati diriku belum saatnya untuk pulang. Aku bersedih mendapati harapan itu hancur. Maka aku juga tak akan berpura-pura bisa memahami perasaanmu. Saat ini biarkanku mengembara dan bahagia dalam pencarian ilmu, itulah hasratku kini. Mohon ikhlaskan.
SALAM RINDU SELALU
9 July 2009
Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.
Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.
Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.
Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.
Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.
Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.
Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.
Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.
“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”
CERITA TENTANG MASA LALU
1 July 2009
Mengapa harus malu ketika menanyakan masa laluku. Sejakku menginjakkan kaki untuk pertama kali bertahun lalu sampai hari ini tak ada yang berani bertanya tentang ini padaku, jujur kuterkejut. Aku kan bercerita padamu, pada perasaan hangat ini yang dinamakan persahabatan. Sebagaimana jika boleh memilih maka sekalipun ku tak ingin menjadi musuhmu.
Baiklah masa lalu, kenapa aku bisa lupa, aku yang selalu berlagak dan berpura-pura. Padahal sebenarnya kenapa aku selalu berusaha. Dan kenapa aku melakukan semua. Pada dasarnya karena aku ingin menjadi seseorang. Bingung? Hey, aku hanya bercanda.
Padahal banyak sekali cerita lama, padahal banyak sekali yang ingin kusampaikan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya, karena semua itu tak bisa kewujudkan dalam bentuk kata-kata. Baiklah, aku memang harus dipaksa ya?
Aku telah bertemu dengan banyak orang. Sampai sekarang dan waktu dulu juga, aku harus selalu ditolong orang lain. Banyak hal yang telah kulalui. Sampai bertemu kembali sejak pertama bertemu. Aku enggan bercerita mungkin, dan kalau pun aku ingin bercerita aku tak pandai bercerita, baiklah aku akan bercerita.
Hanya untukmu, dan hanya malam ini. Biarlah kita berbincang sampai pagi menjelang. Sudikah engkau mendengarkannya tanpa menyela. Beginilah ceritanya.
“Sejarah bisa berulang, tapi manusia tak bisa kembali ke masa lalu”