WASIAT HANG TUAH
29 May 2009
Inilah sahabat, jalan beta sampai disini. Iya hanya sampai disini. Firasat beta berkata sudah tak akan lama lagi, tuduhan berzinah sekedar alasan. Hukuman kan ditetapkan. Beta tlah diperdaya meringkuk dalam bui gelap menunggu ajal.
Manusia akan diuji, dibatas ini pula ketenangan dicoba menahan azab tak tertanggungkan. Saat ini pula beta merindukan berlari dipematang sawah, berpantun riang menanti azan Maghrib. Tanpa air mata sahabat, tuduhan keji tak akan membuat beta menangis. Tiada yang lebih indah daripada kematian demi sebuah keyakinan.
Istana Melaka, Sultan Muzafar Syah tlah bertitah. Beta bukan apa-apa hanya patik buduk tak berharga dimata mereka yang memerintah negeri. Tanah Melayu berasa sempit bagi penguasa apabila beta bernyawa, meski berjanji setia tiada akan guna sahabat. Beta terhukum sebagai orang hukuman.
Menjelang maut, beta mengenang betapa kita lima sekawan berjaya menghalau bandit-bandit. Masa-masa gemilang yang membawa jejak langkah kita memasuki istana. Masih terkenang jua, ketika kita terbabit perlancongan muhibah ke djawa dwipa bersama segenap hulubalang dan pembesar Melaka guna melamar sang putri kepada junjungan kita, Sultan Melaka. Masa-masa indah pabila tlah terlewat sungguh mengiris, bukan begitu sahabat?
Sahabat beta tercinta, Hang Jebat. Engkaulah yang paling beta percaya, melebihi sekawan lainya. Hang Kasturi, Hang Lekir, Hang Lekiu. Bersama surat ini hamba titipkan padamu keris Taming Sari, jagalah oleh engkau pusaka buah tangan dari Raja Majapahit, Paduka Brawijaya. Sebagai tanda mata persahabatan dua bangsa, Majapahit dan Melaka. Gunakanlah kepada kemasyuran Nusantara.
Bila waktu beta kan tiba, luruhkanlah segala benci. Dari semua sahabat engkau yang paling perasa, engkau pula yang paling setia. Biarlah fitnah ini kelak diadili pada yaumil masyar. Tak usah engkau lagi mencari muasal fitnah keji ini.
Salam rindu
Hang Tuah
Catatan sejarah :
Hang Tuah adalah seseorang pahlawan legendaris dari bangsa Melayu pada masa pemerintahan Sultan Melaka di abad ke-15 (Kerajaan Melaka bermula pada 1400-1511 M). dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sesebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendahara.
Mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja, mengakibatkan semua rakyat di situ menjadi kacau-balau. Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat. Secara tiba-tiba, Bendahara memanggil kembali Hang Tuah daripada tempat persembunyiannya dan dibebaskan secara penuh daripada hukumannya oleh raja. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah merebut kembali keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, dan membunuhnya di dalam pertarungannya. Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.
SELAMAT KEMBALI PULANG SAHABAT
25 May 2009
Ini kali ketika memandang wajah di cermin, aku bertanya kamu siapa? Apa yang kamu lakukan disini? Apakah ini jalan kembali kebelakang? Ah, tidak mungkin. Dulu kamu memiliki kekuatan dan sekarang tak ada. Waktu itu kamu dijuluki, manusia berkulit merah. Sekarang lihatlah aku, memutih bagai priyayi. Jauh sekali perbedaannya. Aku tersenyum dan mengingatnya, sudah lama kamu pergi dan kini kembali. Kamu yang sudah kuanggap bukan teman akhirnya pulang. Sisi diriku yang pernah kubuang, saat kemapanan itu datang.
Sahabat, kamu masih saja mengingat awal dasawarsa ini, ketika kita berdebat akan filsafat setiap malam pada Plato, pada Al-Ghazali, pada Rabiah, hingga pada Valmiki. Kita membicarakan banyak hal waktu itu, iya enam tahun sejak kepergianmu dan dari saat itu tidak ada lagi yang memahami jalan fikiranku. Iya, benar. Waktu itu sambil berjalan kita menghafalkan sajak Ikbal, di angkutan umum melamunkan reaksi oksidasi. Hahahahaha, iya masih ingat Newton atau deret fibonachi. Aku sudah lupa, tapi aku masih mengingat jelas teori reproduksi. Aha, kita paling benci Logaritma apalagi persamaan kuadrat.
Idola kita Hamka, syairnya pada Natsir di sidang Konstituante membuat kita tersedu pilu. Air mata kita tak pernah mahal untuk sebuah kisah persahabatan. Tafsir Al-Azhar kita babat habis tiga puluh juz. Tidak ada satu romanpun di perpustakaan sekolah yang selamat dari jamahan tangan kita. Namun waktu itu kita tak kunjung bijaksana jua. Iya darah muda, benar kamu mengingatku pada semangat yang tak pernah padam. Pada sepeda motor yang tak punya rem, kamu bilang rem hanya untuk pengecut. Persneling buat sang juara. Hal yang aneh mengingat sekarang aku begitu ahli menggunakan cakram.
Untunglah teman-teman sekarang tak ada yang mengenalimu, mereka tak tahu kepiwaianmu menggunakan parang, layaknya Chang Haung Nam dari grup Hung Sing. Mereka tak pernah tahu bagaimana engkau menghinakan setiap musuhmu dengan meludahi wajah mereka, lima luka berjahit ditubuhku itu semua andilmu. Andrenalin, emosi milik ini sudah lama tak meletup lagi. Hening seperti danau sudah, tapi masih tanpa rasa takut. Bukankah sesumbar kita bahwa rasa takut hanya untuk dikunyah, dan wajah terburuk seseorang muncul pada saat ia takut. Dan kita tak pernah mau tampil begitukan? Iya, sekalipun lutut kita tak pernah gemetar. Untunglah para sahabat lama sekarang jauh, kini tak ada yang mempercayai kisah ini hingga hanya menjadi mitos samar-samar.
Hey, kamu tidak terlalu buruk sahabat. Setidaknya kamu dan aku menguasai Bayati dan Suri, irama kesukaan kita. Yang membuat gadis-gadis Al-Munawwarah selalu merindukan penampilan kita. Dan jika sekarang aku lebih memilih mengaji tartil sendiri itu karena kepergianmu. Atau Quantum Reading, metode ciptaan kita. Membaca dengan cara cepat, membagi pikiran menjadi dua, kamu sebagai penerabas di depan sedang aku mencerna dibelakang. Aku masih bisa, hanya jarang sudah menggunakannya tanpamu sistematika itu terasa hambar.
Kenapa kamu pergi? Biar kuingat. Sebentar memori otakku sedang bekerja. Iya kecerebohan kita telah membuat seseorang menemui ajalnya. Lagu pupus yang ia nyanyikan tak membuat hati kita mencair waktu itu, dia merana karena penolakan. Waktu itu kita sepaham, perempuan hanyalah sumber masalah. Masa lalu adalah masa lalu, ia sudah berlalu. Sudahlah setiap manusia pernah berbuat salah, tidak ada kesalahan yang tak termaafkan kecuali kesalahan dengan cara yang buruk. Yang kita tidak menyangka adalah dia selemah itu, kesalahan kita hanyalah terlalu sering tersenyum padanya. Menjadi sedikit charming bukanlah kesalahan besar menurut diriku sekarang.
Selamat datang kembali sahabat, kedatanganmu kusambut dengan tangan terbuka serta tergesa. Alam bawah sadarku yang memanggilmu kembali, mengingatkan pertemuan kita pertama sepuluh tahun lalu. Kamu tahu sendiri, kitakan selalu berahasia. Berkata hanya dengan simbol untuk membuat orang lain berpikir keras memahaminya. Dan kita tak akan pernah membiarkan orang lain terlalu mengerti. Pada kepulanganmu kali ini sedikit bertanggungjawablah pintaku. Kini, kita bukan lelaki berumur akhir belasan tahun bertubuh kerempeng dan berwajah tirus itu lagi.
Sahabat, sempat berpikir dalam hidup ini tidak akan pernah bertemu lagi denganmu lagi. Sempat berpikir kamu akan sebegitu membenciku yang mengusirmu saat itu, hingga lupa bahwa kamu adalah bagian dari diriku, kamu sudah bangun dan segel pengikat tlah terbuka, bersamamu aku tak akan ragu menatap dunia dengan mata terbuka. Hanya kamu satu-satunya yang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan diriku. Terima kasih, telah menjawab panggilanku.
“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”
MENCUMBUI KEMATIAN, SEBUAH ELEGI
16 May 2009
tanpa suara mata menangis pilu
menoleh kebelakang, melihat lagi tanpa gairah
melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan
serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup
mana para prajurit yang berjanji setia
para ksatria tlah bersalin rupa
bagaimana bisa memperjuangkan benteng terakhir
menjaga kisah keperkasaan leluhur
mempertahankan sendiri tanpa elang-elang
elang-elang tlah berganti bulu dan sang harimau moksa
takdir akan kuterima dengan mata terbuka
meski dera siksa menimpa
takkan menghiba
demi kehormatan para indatu
Menggambarkan perasaan Toyotomi Hideyori, menjelang kejatuhan benteng Osaka pada pasukan Ieyasu Tokugawa. Setelah mendengar samurai paling perwira, Yukimura Sanada bertempur matian-matian menjemput maut di front terdepan. Sendirian untuk menjaga kehormatan tuannya.
Lhokseumawe, 16 Mei 2009
mencumbui kematian, sebuah elegi
KEBAHAGIAAN YANG SEDERHANA
1 May 2009
Boleh jadi ketika memandang wajah dicermin mendapati diri masih sama dengan bertahun lalu, kemudian tersenyum mendapati kerut-kerut diwajah ini tahun lalu tak ada. Boleh jadi merasa pintar berdasarkan pengalaman dan latar belakang akademisi sehingga tak menyadari diri bahwa sedang dipintari. Ada hal-hal yang tak diketahui, banyak misteri. Jangankan orang lain, kadang-kadang juga merasa asing dengan diri sendiri.
Banda Aceh, pukul lima pagi lewat. Geografi berkata kota ini terletak paling barat Indonesia. Menelurkan konsekuensi bahwa ia adalah kota dengan waktu shalat terakhir diantara semua ibukota provinsi. Abu turun dari bus Kurnia menatap mega-mega dilangit, bertepatan dengan adzan Shubuh sang pengembara menginjakkan kaki lagi disini. Suasananya berbeda, selalu jika berada disini. Seolah-olah mengaduk ikatan emosional dengan yang disebut kampung halaman. Kecuali sang legendaris Mr.Popo, tidak ada teman lain yang Abu beritahu. Waktu Abu terlalu singkat disini, tak mungkin untuk menjumpai semua konco. Adahal penting yang harus dilakukan.
Di rumah pukul sepuluh pagi, tiba-tiba Abu rindu dengan sesuatu, bakso Mas Nok. Ketika masih berseragam putih-putih khas Madrasah Ibtidaiyah beliau berjualan disamping sekolah. Tahun 1990, harga semangkuk masih lima puluh rupiah. Satu hal yang tak mungkin berulang mengingat betapa tajam laju inflasi merajam Rupiah tercinta. Rasanya sangat khas dilidah Abu, bahkan ketika sudah duduk dibangku sekolah menengah pertama dan atas, ada waktu-waktu dimana Abu merasa rindu dan mampir kemari. Menjelang EBTANAS SMP Bahkan lidah Abu pernah berucap, “asalkan bisa mencicipi bakso Mas Nok, Abu tak peduli kesedihan apapun yang melanda.” Ya, itulah pemikiran Abu sebagai anak tanggung.
Abu selalu datang sendiri, sudah delapan tahun sejak kunjungan terakhir tapi Abu masih dengan pola pikir lama. Pergi sendiri tanpa sepengetahuan orang lain. Untuk hal ini Abu sangat berahasia, tidak ada seorangpun yang pernah mengetahui kegemaran ini, muncul semenjak meninggalkan bangku MIN. Gerobak bakso Mas Nok masih sama sejak Sembilan belas tahun lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Dia sudah tidak mengenali Abu, waktu telah melunturkan ingatan sang maestro. Menarik bangku tempel, Abu memesan satu porsi. Ketika bakso itu datang Abu menciumi aromanya sebagaimana kebiasaan, kenangan Abu datang.
Namun ketika mulai mengunyah, Abu terdiam. Tidak enak!!! Bila diperhatikan seksama bakso ini terlalu banyak diberi kanji sehingga rasa bawaan dagingnya hampir tidak terasa, Kaldunya tak berasa, saosnya terlalu encer, cabai hijaunya tak lagi segar dan yang paling parah bihunnya keras. Apakah Mas Nok telah menurunkan standar? Abu mengedarkan pandangan, mangkuknya masih sama. Dan anak-anak sekolahpun makan dengan lahap. Tidak mungkin! Jadi apa yang salah? Mungkinkah Abu sudah kehilangan cita rasa. Abu berpikir lama dan bermuara kecewa, ternyata Abu bukanlah Pak Kayam yang telah berkeliling dunia namun tak pernah kehilangan cita rasa pada penggeng ayam Pak Joyo (trilogi Mangan ora mangan kumpul). Lidah Abu kehilangan kesederhanaanya!!!
Abu menghibur diri sendiri, tak perlu terlalu kecewa tokh kepulangan Abu sebenarnya bukan untuk ini. Pastinya sekilas intermezzo tadi membawa sebuah perenungan. Sebaiknya memang Abu tidak terlalu menyalahkan sebuah perubahan, sebuah ketidakkonsistenan. Semuanya dapat berubah, bahkan tanpa disadari sesuatu hal yang paling Abu jaga juga berubah. Sungguh berbahagia orang-orang yang mampu berbahagia akan hal-hal sederhana, seperti anak-anak ini dan seperti Abu dahulu.
“Bahagia itu, sederhana dan bukan kepura-puraan”
xxxxx