Malam ini biarkan kusendiri, mengecup sepi. Menikmati kehidmatan menyelami tulisan tertera dari langit. Sungguhpun disaatku merasa gundah gulana. Saat air mata tumpah ketika mengeja kitab suci bukan berarti hidup ini penuh kesedihan. Aku hanya menikmati air mata membasahi pipi merasakan kekhusyukan nyata menghindari hiruk pikuk dunia. Melepaskan segala topeng.

Sungguh disaat-saat seperti ini aku mengenali diri sendiri dalam kenyamanan amat sangat. Mohon biarkanku tenggelam dalam hening. Desirmu angin tak bisa menyentuh kalbu. Walau tiada kesempatan menelaah segala kekurangan. Ketidaksempurnaan kita maka tuhan mengajarkan mengerti cinta, mensucikan jiwa.

Kala insan lelap dalam buaian ditengah sunyinya malam. Betapa kumerindu kitab suci dengan nyanyian sendu menyayat. Menghiraukan jalannya waktu menjelang, tawa riang dan canda tak ingin lagi. Merenungi hidup sebelum layar diturunkan. Tanpa sepengetahuan dengan penuh rahasia. Dan tak ingin terduga oleh siapapun jua.

Duhai, terlalu sering sudah kumenafikan uluran tangan sampai tiba saat dimana merasa tak nyaman untuk menolak lebih banyak lagi. Pada keramaian, pada sebentuk senyuman. Sampai merasa sudah melebihi keangkuhan iblis. Bukan, bukan itu maksudku. Ku hanyalah seorang penyendiri yang berazzam menikmati sunyi, mohon biarkan. Jangan kau ambil semua itu, malam ini.

Ketika ragaku merapuh, kuingin ketenangan dalam tidurku. Tak ingin seorang pun menganggu. Jasadku tlah mendinginkan semua penat, jangan percikkan api lagi. Cukup, cukup sudah biarkanku beristirahat dalam damai yang hanya ku mengerti, sendiri.

Masih dengan pakaian sama dengan tahun lalu ketika ia masih gadis, namun hari ini pakaian itu sudah lusuh dimana setiap jalinan benang terlihat rapuh. Kerudung sama pula ia kenakan mambangkitkan kenangan tentang gairah lama ketika kami masih dimabuk asmara. Saat ini, sungguhpun ketika debu sebegitu mudah hinggap ia masih terlihat sangat cantik. Tapi mau apa dia kemari? Bukankah sudah kukatakan bahwa tak sudi melihat wajahnya lagi, berani sekali dia! Belum pernah ada orang yang sudah kumaklumatkan sebagai musuh punya keberanian untuk menemuiku lagi, dan sekali lagi sebuah teori runtuh olehnya. Disini ditempat aku tak bisa menghindari, di kantor dimana aku harus melayani secara professional. Tidak bisa tidak, betapa ia begitu cermat memperhitungkan sisi terlemah dari benteng yang kubangun dari puing-puing penaklukan. “Aku butuh bantuan.” Lurus memandang aku menatap tajam ke wajah yang semakin tirus itu. “Tulislah permintaanmu dikertas ini.” Aku menyodorkan selembar HVS kosong. Ia tersenyum senang, “nanti malam aku serahkan, temui aku pukul delapan ditempat biasa dulu kita bertemu.” Disaat terdesak ia masih bisa mendikte, benar-benar mengerikan. Kepercayaan diri yang luar biasa, patut diberi tabik, meski sebenarnya aku sudah belajar untuk sangat membencinya.

Tapi sosokku sudah berubah, sudah menjadi insan pembelajar. Dulu Selicik apapun kamu, sejahat apapun kamu. Sampai kapanpun aku akan setia. “Sekarang, jika tidak maka tak akan lagi selamanya!” Wajah itu memerah, “Baiklah” ia mengalah dan menuliskan sesuatu. “Ini nomorku.” Sambungnya seraya menyerahkannya ke tanganku. Aku menggeleng membaca tulisan itu. Memberi Tipe-Ex, “Hapuslah itu, tulislah sebuah alamat. Permintaanmu akan kukirim via pos.” Aku menarik nafas panjang. “Aku mengalah hari ini karena membutuhkan bantuanmu.” Ia menggerutu. Siapa dia? Bahkan disaat seperti inipun mampu mengancamku. Dia bangkit, “Terima kasih, disaat semua orang menutup mata akan masalahku, aku tahu kamu akan membantuku.” Dia mengetahui kelemahan terdalam dari diriku, dibalut amarah tertahan. “Kamu pikir bantuan ini gratis!” Wajahnya terkejut tapi tersirat aura bahagia disitu, dia ingin kisah ini berlanjut. Tidak, tidak akan kuberikan kesempatan. “Kali lain jika membutuhkan bantuan, jangan pernah datang lagi memohon bantuanku. Cukup ini yang terakhir, sungguh tak sudi aku melihatmu lagi.” Mendung seketika diwajahnya, satu-satunya kemenangan seumur hidup yang pernah kuraih darinya. “Maaf, aku tidak tahu. Sungguh tidak tahu telah sangat menyakiti hatimu.” Ia akhirnya pergi, timbul sedikit rasa iba dihatiku namun sekejap pula pada kenanganku terlintas memori dimana aku terkejut akan kelicikannya, terdiam bagaimana dengan licinnya akal seorang perempuan mampu mengalahkan logika lelaki terpintar sekalipun, dengan sebuah sandiwara hebat melebihi racikan sutradara manapun.

Bagaimanapun aku harus menolongnya karena aku tidak pernah membencinya, hidup ini telah pernah mengantarkanku pada banyak penolakan dan penolakan. Hanya dia yang menerimaku bahkan hingga saat ini, meski hanya seminggu, meski akhirnya ia berkhianat. Hanya dialah satu-satunya yang pernah menjadi kekasihku. Aku masih mengingat Hari itu takdir mempertemukan kami, ia memungutku yang tak punya cinta, seperti keajaiban ia memilihku. Dialah yang membentuk karakterku sekarang yang menjadi manusia waspada akan segala senyum wanita, yang membuatku curiga akan tangis perempuan. Seperti pandai besi ialah yang menempa hatiku menjadi baja. Maka untuk itulah aku harus menolongnya, sebagai bakti murid pada guru. Untuk sebuah cinta yang berumur seminggu, dimana pada masa lalu aku berhutang pada waktu. Tapi untuk itu aku harus mengenakan topeng, untuk melindungi wajahku dari debu. Untuk menyembunyikan air mataku karena tak sepantasnya seorang laki-laki menunjukkan kelemahannya, apalagi jika sampai dua kali sehingga tak mampu menjaga harga dirinya.

Malam ini ketika aku memenuhi permintaannya, membungkus keinginannya untuk diposkan besok. Kutempelkan kertas tadi tanpa membaca lagi. Biarlah tulisan itu tak pernah hinggap di memori otakku. Kehadirannya mengembalikan kenangan masa lalu, menyadarkan kalau sendirian sangat sepi. Dan dulu aku ingin memiliki keluarga bersamanya. Sudahlah masa lalu adalah masa lalu, ia sudah berlalu. Orang yang berkewajiban mengembalikan senyum diwajahnya bukan aku. Ia telah memilih dan seharusnya bertanggungjawab akan keputusannya itu dulu. Aku pasti akan menjadi lebih kuat, lalu menemukan orang yang dicintai, untuk kelak hidup bahagia.

Berjuang demi cinta untuk kemudian dikhianati adalah lebih baik, daripada kelak menyesal karena tidak berusaha dengan sepenuh hati, daripada tidak melakukan apa-apa. Bahkan kematian lebih baik daripada sebuah penyesalan.

XXXXX

HANYALAH LELAKI BIASA

6 April 2009

Ibu sadarlah anakmu ini bukanlah seorang pangeran yang memiliki pasukan berkuda walau ayah dari ibumu masih merindukan taman-taman kota sevilla saat mendengar cerita nenek moyangnya sebelum disuruh memilih menanggalkan akidah atau pergi dari semenanjung iberia oleh gabungan Castilla dan Arragon saat benteng terakhir di Andalusia, Granada tertaklukkan.

Ibu ketahuilah anakmu ini bukanlah putra mahkota dengan segala kebesarannya walaupun ayah dari ibumu masih terkenang mengingat singgasana kakeknya di Kuta Reh, tanah Gayo sebelum Gotfriend Coenraad Ernst Van Daaleen dengan bala pasukan Marechaussee meratakan segalanya.

Ibu sadarlah anakmu bukanlah lelaki tegar, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ibunya hanyalah seorang pasukan pejalan kaki dibawah Panglima Polem kepala sagi XXII dalam perjalanan panjang melawan kumpeni sebelum akhirnya kalah dan menyerah pada Gubernur Militer Johannes Benedictus Van Heutsz.

Ibu ketahuilah anakmu bukan lelaki perkasa, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ayahnya hanyalah seorang pengikut Sultan ketika Istana Darud Donya dinajiskan oleh kaphe Belanda, ia yang menitikkan airmata saat kampungnya dibakar oleh Jenderal Jan Van Swieten dan harus mengungsi ke Keumala bersama Yang Mulia Tuanku Muhammad Daudsyah yang masih belia.

Ibu adalah orang yang paling anakmu ini cintai dimuka bumi ini, senyummu adalah tawa bagiku, Air matamu adalah isak tangisku. Namun ibu janganlah engkau menetapkan syarat yang berat akan jodoh diri ini, akan keturunan, akan kemasyuran, akan keelokan rupa, sedang kesederhanaan cukup bagi anakmu ini.

Ibu adalah tempat dimana segala bakti anakmu ini dicurahkan, dengarkanlah kata-kata ini, pertimbangkanlah wahai ibu. Apapun keputusanmu akan anakmu terima segala takzim karena kebahagianmu adalah kebahagian diri ini jua adanya.

XXXXXXX