PENGLIHATAN FATAMORGANA
27 March 2009
Penampilan ternyata bisa membohongi, karena mata terkadang tak mampu mengungkapkan sesuatu yang tersirat. Bagai manusia di padang pasir yang kerap melihat fatamorgana begitulah yang penglihatan kerap terperdaya.
Karena manusia sebagai makhluk yang amat jauh dari kesempurnaan dan mudah terlena dengan apa yang telah dicapainya, hingga kehilangan kemampuan untuk melihat yang tersirat. ini berlaku kepada siapa saja tidak memandang pangkat, kekayaan maupun kemuliaan.
Sebuah kisah yang menyentak Abu, ketika pada suatu malam selepas pulang kerja, lembur. Tak terasa perut lapar dan Abu pun mampir disebuah warung untuk membeli makan malam.
Mencium aroma mie yang dimasak dengan bumbu-bumbu tradisional, perut Abu tambah tergelitik sehingga memesan sebungkus untuk dibawa pulang. Sembari menunggu Abu pun duduk dibangku yang disediakan.
Secara tak sadar Abu melihat, seseorang memandangi Abu. Orang tersebut memakai pakaian yang kotor bin compang-camping. Kakinya hanya memakai sandal jepit hanya disebelah kanan saja.
Karena miris akan kondisinya, Abu pun menuju kearahnya dan menyodorkan uang seribu rupiah. Namun ia berkata “ Saya bukan pengemis.” Entah karena tersinggung karena penolakannya Abu pun duduk kembali.
Dikala menanti menunggu mie tersebut dimasak, Abu pun merenung, dan tersentak! Bahwa Iblis terusir dari surga karena kesombongannya, ia yang merasa secara materi terbuat dari api merasa lebih hebat sehingga menolak tunduk kepada manusia yang terbuat dari tanah.
Apakah selama ini tanpa terasa benih-benih keangkuhan telah menjalar didiri sehingga membuat Abu melukai harga diri orang tersebut dengan menyodorkan uang kepadanya.
Tersadar dari lamunan, mata Abu pun mencari orang tersebut untuk meminta maaf kepadanya. Namun sayang orang tersebut tidak berada diwarung tersebut lagi dan pergi entah kemana.
Kejadian ini mengingatkan sebuah buku yang pernah Abu baca bertahun yang lalu yang sudah lupa judulnya, yang berkata “inti dari kemanusiaan itu adalah bagaimana memanusiakan manusia itu sendiri seutuhnya.” Dan hari itu Abu mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga.
Hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya
xxxxx
HIKAYAT SANG PEGEMBARA BAGIAN DUA
16 March 2009
Tiga belas tahun sudah, perjalanan hidup tidak semudah dugaan sehingga baru hari ini bisa menjejakkan kaki disini. Sudah cukup lama untuk mengubah halaman rumah ini menjadi bersemen total, tak ada lagi pohon jambu didepan. Jl. Seulawah, got tersumpal masih dengan aroma khas pemukiman padat setengah kumuh sebuah ironi sebagai salah satu sentra kota Banda Aceh berada dipinggir Sungai Kr. Aceh yang membelah kota oleh penjajah Belanda diberi nama Koeta Radja bermuara ke Samudera Hindia.
Hari ini aku datang, membezuk seseorang yang seharusnya bertahun lalu kutemui. Atau seseorang yang semestinya sudah kulupakan. Phuh! Setiap individu memiliki rahasia, selalu ada hal-hal yang tak pernah terbagi. Khusus aku berjalan kaki menikmati setiap lekuk gang pemukiman ini seperti melewati rumah bu Halimah yang memiliki pohon belimbing. Secara keseluruhan hampir semua rumah berubah.
Pukul Sebelas pagi menjelang siang. Jl. Seulawah Lr. Berlian Nomor 7B tujuanku, pintunya sudah bercat hitam namun kusen-kusen itu masih berwarna oranye, ada hal yang tak diberangus waktu. Santun kumengetuk, “Assalamualaikum.” Tak perlu menunggu lama, “Kom Salam.” Seorang bocah beringus dengan mulut penuh berisi nasi membuka pintu, matanya penuh selidik. “Siapa nak? Tamu ya?” Suara perempuan bergema dari dalam diikuti kemunculannya. Sosok perempuan itu keluar dengan piring ditangan, sekilas cepat mataku bekerja. Mungkinkah dia orangnya? Bentuk wajahnya mirip, namun payudara menguncup tanda bukan perawan lagi dan oh tidakI Perut buncit ciri wanita hamil. Pasti orang lain, harapanku.
“Teman ayah ya? Dia sedang bekerja!” Anak sekecil itu mampu mengeluarkan kata-kata tak bersahabat. “Saya kurir, mengantar surat buat saudari Nona. Apa dia tinggal disini?” Anak itu masih menatap tak bersahabat, kualihkan pandangan pada sang ibu, keningnya berkerut. “Surat itu buat saya, zaman sekarang masih ada surat-suratan ya.” Tersenyum tapi datar sekaligus membunuh segala asaku. Sekejap kukehilangan kontrol diri, sudah sejauh ini. Dalam hitungan detik kutarik nafas pelan. Dia? Mataku kaku membisu. Ia terlihat cantik, cantik sekali melebihi perempuan mana pun yang pernah kukenal. Mengenakan daster hijau. Mengapa harus hijau? Suatu hal yang sangat kurahasiakan kelemahanku, tapi bukankah dulu ia yang membuatku jatuh cinta dengan warna hijau. Seperdetik kenangan itu hinggap di otakku. Lebih dari tiga belas tahun lalu.
“nONA MENGAPA SETIAP PAGI KAMU MENYAPU HALAMAN? bESOK PASTI DAUN DI POHON JAMBU ITU AKAN RONTOK JUGA.” pAGI-PAGI SEBAGAI TETANGGA REWEL AKU BERKOMENTAR. “aHMAD, HARI INI DAUN-DAUN JAMBU INI MASIH BERWARNA HIJAU.” jAWABNYA DENGAN SAPU LIDI DITANGAN. “mEMANG KENAPA KALAU BERWARNA HIJAU?” sAMBUNGKU. “hIJAU ITU CANTIK.” bALASNYA MEMBUATKU KEHILANGAN KATA-KATA.
“Maaf bu ini suratnya.” Aku mengeluarkan sebuah surat dari balik saku selalu punya rencana B, iklan sebuah produk entah berantah. “Aku tidak suka ada tamu sewaktu ayah sedang bekerja!” Maklumat sang anak sebagai pengawal ibunya. Tapi hey hari ini kan minggu? Kuelus rambutnya memberi afeksi meredam konflik, “pasti ayahmu sangat sibuk bahkan hari libur pun bekerja.” Anak tersebut tersenyum memamerkan gigi seri susu yang tanggal seraya berkata, “Ya iyalah ayahku adalah pengemudi nomor satu di Banda Aceh.”
“kELAK AKU AKAN MENJADI GADIS CANTIK, MENIKAH DENGAN ORANG KAYA YANG AKAN MEMBAWAKU KELUAR DARI SINI.” mATA nONA BERBINAR KETIKA MEMBICARAKAN AMBISINYA. “iMPIAN YANG BAGUS UNTUK SEORANG ANAK-ANAK.” aKU TERSENYUM, DULU. “yEE, KAMU SENDIRI JUGA MASIH ANAK-ANAK TAPI SOK DEWASA. kALAU aHMAD PASTI JADI ORANG KAYA NANTINYA.” vONISNYA. aKU MENGGELENG, “TIDAK nONA, aKU TIDAK BERMINAT JADI ORANG KAYA. cOBA LIHAT pAK dAHLAN YANG KAYA SELALU BERTENGKAR DENGAN ISTRINYA.” bANTAHKU. “tAPI KAMU BUKAN pAK dAHLAN, KAMU aHMAD!” pAKSA nONA. “aKU TETAP TIDAK BERMINAT MENJADI ORANG KAYA, BAHKAN DALAM DOA AKU MEMOHON SUPAYA JANGAN MENJADI ORANG KAYA KELAK.” nONA MENATAPKU MARAH, IA MELEMPAR JAMBU YANG SEDANG IA PEGANGI. “dASAR ANAK KERAS KEPALA!” iA PERGI, TAPI KEMUDIAN BERBALIK. “TAK PUNYA AMBISI! dAN PICIK!” sUNGGUH nONA MENAKUTKAN KETIKA ITU.
Terlalu lama melamun, aku menjadi perhatian ibu beranak tersebut seradi tadi mereka memandang padaku. “Kamu Ahmad ya?” Ia menduga. Hampirku salah tingkah, senyum selalu dapat menutupi kegugupan anak manusia. “Nama saya Abu, Nyonya.” Keningnya berkerut. “Tidak, kamu pasti Ahmad?” Tudingnya. Sang anak menarik-narik tangan ibunya tak mengerti. Aku menarik topi pet menutupi wajah dan berbalik. “Nama saya Abu, lengkapnya Abu Bakar!” Tubuhku menjadi abu yang terbakar ketika mengucapkan kata-kata tanpa berbalik ke belakang.
“Ayo Ahmad masuk,” hampir saja aku berbalik karena merasa penyamaranku terbongkar. “Makan didalam, ibu suapi lagi.” Terdengar suara pintu tertutup. Jadi anak tadi diberi nama dengan namaku. Mataku terpejam sesaat, berkaca-kaca setidaknya ia mempunyai kenangan khusus padaku, sang pecundang. Aku berjalan pelan melewati rumah nomor delapan, rumah nenekku dulu tempat kami menumpang. Kini ia sudah menjadi milik orang lain, ikhlaslah Ahmad. Besok aku harus kembali ke perantauan. Satu hal yang kupelajari hari ini, sejarah memang penting, tapi perubahan zaman selalu menjanjikan kejutan.
“Jadi kamu setuju? Ada apa? Padahal selama empat tahun ini menolak keras.” Mata ibu berbinar senang. Mau apa lagi? Benteng terakhir tlah jatuh, hingga tiba saat ku tanpa pertahanan. Diusia dua puluh lima tahun, sudah merasakan kematian sekali maka yang kedua tak akan se-mengeri-kan yang pertama.
Aku yang telah mengembara sepanjang pesisir barat dan timur
Di tepi pantai yang sunyi ini, aku menyendiri dan bersaksi.
Aku cinta hidup ini, ketika menangisi separuh negeri menjadi lautan.
Dan sampai suatu hari yang cerah, kudapati yang kukasihi tiada lagi.
Aku hanya insan pengembara dan tlah lelah berkelana.
“Takdir bahkan telah mengejutkan seorang lelaki, betapa dalam bilangan tahun yang singkat. Betapa kampung halaman terlihat begitu asing jika memandang dalam waktu berbeda, apalagi orang-orangnya.”
WAJAH IBLIS SANG MALAIKAT
12 March 2009
Sahabat tahukan kamu apa yang kuyakini, sampai dengan hari itu aku tak pernah meragukanmu. Sampai kutemukan semua kata-katamu adalah kebohongan. Sahabat tahukah engkau rasanya ditikam dari belakang? Sakitnya melebihi ditusuk seribu pedang. Lukanya menyengat melebihi panah beracun.
Dan ketika hari ini engkau berkata, “Jika ini masalah harga diri maka lupakan!” Bagaimana bisa? Jika api yang membakar mukaku masih terasa panas. Cerita bisa berakhir namun kenangan tak bisa hilang dan kesedihan itu milik siapa saja.
Engkau tahu, pada persahabatan kita dulu dalam obrolan lalu bahwa aku bukanlah seorang pendendam. Tapi bukankan engkau mengetahui jua bahwa aku bukanlah seorang pemaaf. Maka aku tak akan meminta maaf karena telah menolak menemuimu lagi bertahun sejak kejadian itu.
Hatiku telah terkoyak bersama persahabatan kita berakhir dimana engkau telah membuatku menjadi pejuang bermakam tanpa pedang. Aku tak akan bisa melihatmu seperti dahulu sebagaimana engkau mengetahui jua prinsipku, seseorang sudah dianggap kalah kalau tidak bisa menjaga harga dirinya. Karena itu tidak akan membiarkan orang licik menunggu kelengahanku, apalagi sampai kedua kali.
Ketika itu engkau berkata, “ambisi iblis lebih realistis, karena realita berwajah buruk.” Aku masih mengingat jelas alasanmu. Menunjukkan jelas bahwa kepercayaan dihancurkan oleh ketamakan. Sisi tergelap kita, manusia.
Dan mungkin aku menghadapi hidup penuh penderitaan sebagai seorang pecundang namun sekarang berbeda. Saat ini aku tak akan menengok kebelakang lagi. Aku akan menatap lurus kedepan, hanya kedepan.
Aku tahu engkau menyesal, karena didalam hidupmu tak akan lagi menemui teman sepertiku. Sebaliknya kehidupan telah mengantarkanku mengenal banyak orang yang lebih baik darimu. Jalani hidupmu jangan berkubang penyesalan. Aku terlalu angkuh untuk menghukummu. Jangan pernah rindukan aku, karena tak pernah sekalipunku mengingatmu. Sekian penolakanku dan inilah wajah iblisku yang tak pernah engkau saksikan sebelumnya.
“Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh”
KEKUATAN SYAIR
3 March 2009
Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.
Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al- Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.
Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.
Seorang Profesor bahasa Spanyol dan Portugis di Yale University bernama Maria Rosa Menocal dalam bukunya “Sepotong surga di Andalusia” yang menceritakan suatu masa lebih dari tujuh abad ketika Muslim, Yahudi dan Kristen hidup bersama dalam atmosfir toleransi. Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang) menjadi suatu tempat yang didalamnya literatur, sains, dan seni berkembang dengan pesat.
Ia menuliskan bahasa Arab melalui syair menjadi kekuatan yang menarik bagi komunitas lainnya di Andalusia. Mengutip suara hati Paul Alvarus, sorang tokoh vokal pada tahun 855 M di Kordoba tepatnya 144 tahun sesudah Thariq bin Ziyad mendarat di jazirah Iberia. “Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikirannya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah…..”
Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang matematikawan ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastarawan karena jejak yang ia tinggalkan.
“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.”
Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat.
sebatang palem tegak berdiri di tengah perkebunan Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari tanah leluhurnya
ku berkata kepadanya : Betapa miripnya kau dan aku,
terpencil dan terbuang
terpisah jauh dari keluarga dan teman.
kau t’lah tumbuh di tanah terasing bagimu;
dan aku, sepertimu, jauh dari kampung halaman
Abdul Al-Rahman penerus dinasti Ummayyah di Andalusia di usianya yang lanjut menulis sebuah puisi yang indah dan singkat, tapi menyentuh hati, sebuah ode tentang pohon palem. Mengenang kehidupannya sebagai satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian kejam seluruh keluarganya ketika kekuasaan Ummyyah terganti oleh Daulah Abbasiyyah. Meski Abdul Al-Rahman bukan penulis ahli namun warisannya sama penting dengan sejarah Andalusia itu sendiri untuk menyimpan kenang-kenangan dari para leluhur.
Dulunya ia seorang pemuda pemberani yang melarikan diri dari kejaran pendukung Daulah Abbasiyah secara maraton dari Damaskus menembus Afrika hingga mendarat di Andalusia. Ia menghabiskan tiga dasawarsa untuk mengubah sebuah kota kecil menjadi ibukota dari dunia yang berperadaban dan makmur. Kota ini bernama Kordoba bahkan hingga saat ini ketika ia tak lagi menjadi bagian dari Darul Islam.
“Seorang pejuang yang hanya mengetahui satu sisi kekuatannya akan mudah dikalahkan, teguh dalam prinsip dan lembut dalam perasaan adalah sifat pejuang terbaik”
matanya menangis pilu
ia menoleh kebelakang, melihat lagi pada mereka
ia melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan
serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup
dan tanpa elang-elang, elang-elang tlah berganti bulu
DUA PULUH LIMA TAHUN, SEPEREMPAT ABAD SUDAH
2 March 2009
Dua puluh lima tahun, mengutip perrkataan sahabat lama seperempat abad sudah. Tanpa ada penggulangan tanggal ditahun ini. Tersenyum mendapati diri sudah sejauh ini. Dua puluh lima tahun, menurut agama Islam adalah usia setiap manusia dibangkitkan kelak, seberapapun umur hidupnya.
Hidup di bawah langit
Seperempat abad
Kepada dunia
Apa yang telah diberi
Impian dan cita
Akan berakhir
Wahai tanah leluhur
Sudikah engkau menanti
Lelaki yang tak tahu
Kapan malam terakhir
Untuk kembali
Kepada-NYA
Krueng Sabee, 29 Pebruari 1984 pukul 14.00 WIB. Milvan Murtadha
Untuk sebuah tanggal yang menghilang dari kalender tahun 2009, Selamat Ulang Tahun.