Kehidupan terkadang paradoks, penuh dengan pertentangan. Sebagai contoh, Radovan Karadzid semula adalah seorang penyair, seharusnya berperasaan lembut malah ketika berpolitik dan berkuasa menebarkan kebencian rasial yang membuat puluhan ribu muslim Bosnia tewas dalam sebuah tindakan terkutuk bukti kebiadaban manusia bernama genocida. Ia menjadi idola bagi nasionalis Serbia tapi dibenci diseluh dunia.

 

Penampilan luar sungguh menipu, kehalusan budi bisa saja sebuah topeng. Sebaliknya penampilan kumal bukan berarti tak berilmu, bersikap keras juga bukan berarti kasar. Manusia berubah begitupun zaman, kebaikan hari ini bukan berarti besok berarti sama.

 

Masa depan tak pernah pasti, musuh dan teman sulit dibedakan, pendapat manusia sekarang bisa berubah 180 derajat besok. Seperti batas tipis antara cinta dan benci.Ketika kejujuran hanya menjadi bahan tertawaan, ketika kepolosan dianggap kebodohan, ketika kesopanan dianggap tindakan hipokrasi sungguh hidup seperti jalan penuh duri penuh liku dan sarat cemooh.

 

Keras dalam prinsip, lembut dalam perkataan, sopan dalam perbuatan adalah sesuatu yang ingin diusung dalam menghadapi hidup. Menyadari bahwa setiap musuh akan mencatat ini untuk dijadikan bahan untuk menjatuhkan dimasa depan, juga sadar bahwa semua teman akan mengingat untuk menertawakan apabila tidak seperti itu. Untuk itu bantulah untuk bisa manusia yang seperti itu, dengan dukungan atau cacian sekalipun.

 

Seperti nikmat tawa tak akan bermakna tanpa adanya tangis didunia. Ketulusan hati tak akan berarti tanpa pahitnya pengkhianatan. Ingatkan seandainya jika melupakan hal itu, karena saat ini adalah orang yang percaya, setiap kekuatan bisa menjadi kelemahan dan setiap kelemahan dapat menjadi kekuatan.Kenapa? Karena kehidupan terkadang paradoks.

 

Catatan ini dibuat untuk diri sendiri, sebagai pengingat sebuah tujuan, sebagai tulisan untuk kelak dibaca kembali. Tindakan berdasarkan sebuah kesimpulan bahwa otak manusia memiliki kemampuan mengingat terbatas dan membutuhkan arsip sebagai memory kolektif perenungan seorang anak manusia dimasa lalu, sekarang dan nanti dimasa depan.

 

“Tak ada jalan memutar bagi seorang lelaki, maju atau mundur. Ketika telah menetapkan langkah maka jangan menoleh kebelakang. Singkirkan ruang untuk sebuah penyesalan, meski kegagalan membayang ingatlah saat itu tak ada peluang mengulang.”

MENJADI SESEORANG

27 January 2009

Disaat engkau mencintai dan siap untuk tidak dicintai, memberi tanpa menghapapkan imbalan atas perbuatanmu maka sesungguhnya engkau telah menjadi manusia dewasa.

 

Disaat engkau telah memaafkan orang lain walaupun dia masih dan terus menyakitimu maka sesungguhnya dirimu telah menjadi seorang laki-laki sejati.

 

Disaat orang lain mengidolakan seseorang dari ketenarannya sedang engkau mengidolakan seseorang dari kepribadiannya maka engkau telah menjadi seseorang yang berkarakter.

 

Jika engkau tidak melupakan dan tetap menghormati mereka-mereka yang membentuk karakter serta menambah pengetahuanmu maka sesungguhnya engkau telah menjadi orang yang berbudi.

 

Disaat engkau ingin berbeda dengan orang lain dam menjadi yang terbaik maka sesungguhnya engkau telah memiliki cita-citamu sendiri.

 

Disaat orang lain hanya bisa menangisi kekalahannya sedang engkau menerimanya dan menjadikanmu semakin kuat maka engkau adalah pemenang yang sesungguhnya.

 

Disaat orang lain menggerutu menghadapi masalah, sedang engkau tabah dalam menjalaninya maka sesungguhnya dirimu telah mengalahkan masalahmu itu sendiri.

 

Disaat orang berdusta untuk menyelamatkan dirinya sendiri sadangkan engkau tetap dijalan kejujuran walaupun orang lain mencemooh dan menertawakan dirimu maka sesungguhnya engkau telah menanamkan rasa hormat di hati mereka untuk dirimu.

 

Disaat orang lain mencaci dan menghinakan lawan mereka sedangkan engkau tetap menghormati mereka maka yakinlah bahwa kekalahan tak akan menyentuh dirimu sedikitpun.

 

Disaat orang lain bersembunyi dari kenyataan sedangkan engkau tetap tegar menghadapinya meski itu menyakitimu maka sesungguhnya engkau telah menaklukkan musuh terbesarmu.

 

Disaat tak seorangpun yang menyuarakan kebenaran, engkau mengatakan walaupun kau diacuhkan maka engkau telah menyelamatkan mereka semua.

 

Disaat engkau tetap bangga dengan keterbatasanmu walaupun orang lain merasa malu jika diposisimu padahal sesungguhnya itulah keadaanmu yang sebenarnya tanpa menutupinya malah engkau mensyukurinya maka engkau telah membuat kebanggan dimata orang tuamu.

 

Disaat engkau tetap memberikan yang terbaik darimu yang bisa engkau berikan walaupun tidak cukup untuk memuaskan orang lain maka sesungguhnya engkaulah manusia terbaik.

 

Ketika engkau memiliki segala kebahagiaan di dunia dan itu semua menambah kecintaan dan rasa syukurmu kepada sang pencipta maka sesungguhnya engkaulah mutiara ilmu dari guru-guru, orang tua dan siapapun yang mendidikmu.

 

Ketika nanti tiba suatu hari dimana engkau meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bersedih untukmu dan merasa sangat kehilangan atas dirimu maka sesungguhnya engkau telah berhasil sebagai manusia di dunia dan selesailah tugas-tugasmu di dunia ini.

 

Medan, 31 Juli 2004

Mengenang Ayahanda dan segala nasehatnya

LAUTAN YANG TERSIA-SIAKAN

23 January 2009

Indonesia adalah negara maritim, dengan jumlah pulau lebih dari pada 17.000. Indonesia tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Terlepas dari 5 pulau utama seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian, hampir seluruh wilayah Indonesia dikelilingi oleh laut.

 

Sayangnya hanya sedikit dari anak bangsa ini mau memanfaatkan potensi laut yang tersedia di bumi Indonesia, setelah Gajah Mada dari Majapahit, Iskandar Muda dari Aceh, Hasanuddin dari Goa-Tallo dan terakhir mantan Perdana Menteri Indonesia Djuanda praktis tak ada anak bangsa yang menaruh perhatian lebih pada potensi laut.

 

Keacuhan kita terhadap laut, sudah dimulai sejak lama. Kapal-kapal VOC yang dijuluki “Flying Duchman” dengan leluasa masuk, berdagang di perairan Nusantara hingga akhirnya menjajah Indonesia. Hingga hari ini betapa kita tak berdaya menghadapi nelayan asing yang mencuri ikan diperairan kita.

 

Lihatlah Kerajaan Inggris, dengan semboyan “Britania Rules The Waves” pada masa jayanya dimana Angkatan Laut menguasai Tujuh Samudera, sebegitu luasnya wilayah jajahan Inggris meliputi Negara-negara yang sekarang bernama Mesir, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Kanada, India, Pakistan, Afganistan, Banglades, Irak, Yordania, Palestina, Malaysia, Singgapura, Brunai Darussalam, Hongkong, Australia, Selandia Baru. Tak heran jika Kerajaan Inggris pernah mengklaim bahwa “Matahari tidak pernah tenggelam di wilayahnya” Angkatan laut Inggris begitu disegani di lautan, ketika Perancis dengan Nopeleon menguasai hampir seluruh daratan Eropa mereka tak mampu melawan hegemoni navy Inggris yang dipimpin Laksamana Nelson di lautan.

 

Dalam sejarah Islam tercatat Muawiyah bin Abi Sufyan (kelak pendiri dinasti Umayyah) gubernur Suriah pada masa Khalifah Ustman Bin Affan memimpin armada Islam menyerbu Konstantinopel, Romawi Timur. Kemudian Kisah Kepahlawanan Thariq Bin Ziyad menaklukkan Andalusia tahun 711 M.

 

Kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kejayaannya menguasai perairan utara Afrika dan Selatan Eropa di bawah pimpinan Laksamana Khairuddin Barbarossa, seiring dengan memudarnya kekuatan Sultan di laut, terutama setelah Perang Lepanto maka melemah pula kejayaan Turki Ustmani.

 

Laut sendiri menyimpan misteri, ia memberikan sumber daya yang tiada habis seperti ikan yang sejak zaman dahulu menjadi konsumsi kita, ia juga menyimpan amarah yang tak segan melumat anak manusia. Tak heran laut terkadang melambangkan harapan dan juga melambang keputus asaan. Namun sayangnya kita lebih sering menepikan harapan dan memilih menyerah.

 

Melihat debur ombak menyapu bibir pantai, riak-riak gelombang ditengah lautan yang selalu berulang sejak ribuan tahun yang lalu menyadarkan kita, betapa kita kecilnya diri kita dalam alam semesta yang luas ini.

 

Terkadang, berbicara itu memang lebih mudah dari pada berbuat.

MIMPI BERTEMU NABI

20 January 2009

Menghadapi kehidupan yang terkadang keras dan lembut. Abu adalah seseorang yang berusaha untuk Spartan. Dalam arti ingin mengejar berbagai hal sekaligus. Tekanan mengejar banyak hal ini membuat Abu harus mengakui bahwa diri ini terlalu keras bahkan untuk diri sendiri. Fisik seorang Abu tidak terbuat dari baja, sehingga otak Abu pun bisa melepuh dan itu berakibat kepada kegelisahan tak tentu. Waktu tidur yang minimalis menyebabkan kantung hitam menebal dibawah mata Abu. Hanya dalam tidurlah Abu dapat mengistirahatkan sel-sel otak yang berpacu memburu waktu. Disaat kegundahan menyergap disaat itu pula datang sebuah hiburan yang tak terduga berupa mimpi yang menyejukkan.

 

Dalam mimpi tersebut Abu bermimpi,

 

Disebuah tempat terdapat rel kereta api yang tidak digunakan lagi, Abu menyelusuri jalan rel tersebut dengan pelan namun tiba-tiba Abu melihat segerombolan orang menganggu seorang perempuan (jangan tanyakan siapa dia, Abu tidak mampu mengingatnya). Bahkan dalam mimpi sekalipun Abu tidak dapat melihat seseorang menginjak-injak perasaan orang lain. Entah bagaimana prosesnya Abu berkelahi dengan mereka, kadang Abu memukul kadang mereka memukul. Karena situasi tidak seimbang, dalam hal ini Abu hanya seseorang diri (perempuan itu tiba-tiba menghilang) maka Abu memutuskan untuk melarikan diri.

 

Abu pun berlari menyelusuri rel kereta api, sehingga akhirnya tiba disuatu tempat yang disekeliling jalan tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon besar, di depan Abu melihat seseorang berjalan. Abu yang masih waspada terhadap orang yang mengejar dibelakang memutuskan untuk bergabung dengan orang tersebut. Berdua lebih baik daripada sendiri begitu logika Abu.

 

Dengan terengah-engah Abu menyusul orang tersebut, melihat Abu yang masih ngos-ngosan, orang tersebut menanyakan penyebab berlari seperti orang kesurupan dan  Abu menjelaskan duduk perkaranya.

 

Orang tersebut lalu menasehati Abu tentang banyak hal. Abupun hanya mendengarnya dengan takzim, setelah beliau selesai menasehati. Didorong rasa penasaran Abu bertanya siapakah beliau yang begitu bijaksana. Jawaban beliau masih membekas di otak Abu, ketika beliau mengatakan. “Nama saya Muhammad bin Abdullah.” Seketika Abu yang sedari tadi tertunduk menatap wajah beliau yang dipenuhi cahaya. Alam bawah sadar Abu langsung menyadari bahwa saat itu sedang bermimpi, disisa-sisa mimpi tersebut Abu mencoba tetap berkomunikasi dengan beliau.

 

“Ya Nabi, hamba ini memiliki banyak dosa” kata Abu. “Doakan supaya umatmu ini yang telah banyak berbuat dosa bisa meninggal dalam keadaan syahid” Sambung Abu.

 

Yang Abu ingat, beliau hanya tersenyum dan mengangguk pelan seketika Abupun terjaga dari tidur.

 

Kemana lagi Abu hendak bertanya, selain kepada guru Abu di Lhokseumawe selain Tengku Salek Pungo. Menurut penuturan beliau, Nabi Muhammad Saw adalah sosok agung dalam sejarah peradaban manusia. Bermimpi bertemu dengan Rasullullah S.A.W adalah suatu anugerah karena wujud beliau begitu sempurna karena tiada suatu makhlukpun yang bisa menirunya.

 

Mengomentari mimpi Abu, Tengku Salek Pungo tersenyum. Tafsir mimpi ini menurut beliau, kalau kita mimpi bertemu Nabi dalam sebuah jalan itu menandakan bahwa jiwa Abu masih gamang dan perlu ditingkatkan lagi. Mendengar tafsiran Tengku Salek Pungo, yang beberapa kali pertemuan sebelumnya menyindir Abu telah dilalaikan oleh dunia dan tidak pernah lagi terlihat dipengajian di masjid membuat sosok Abu hanya terpekur terdiam merenunginya hingga saat ini.

 

Detik waktu telah banyak berlalu, berbagai kitab telah terkaji, banyak pengalaman yang telah kuhadapi diberbagai negeri. Semakin banyak kuresapi. Namun saat ini masih mendapati diriku masihlah seorang pandir yang terjerat keangkuhan yang sama, sama seperti dulu. Tak kunjung berilmu.

Tuhan, seandainya Engkau memberikan izin kepada hamba-Mu ini. Perkenankan hamba tidak merasakan jatuh cinta. Hamba melihat para pencinta besar dizamannya adalah orang yang merana hati dan jiwanya, namun cinta adalah salah satu ciptaan-Mu paling indah yang menjalankan dunia dan tak kuasa satupun makhluk-Mu mampu menolaknya.

Wahai diri ini yang mengaku sederhana, bagaimana bisa engkau terpana pada pupur bedak setebal salju dipengunungan Alpen serta bibir semerah apel Australia dibalut gintu dari negeri sang naga.

Wahai hamba bertekad teguh akan janji, mengapa engkau mengingkari perkataanmu sendiri untuk menjaga pandangan hingga harinya tiba.

Padahal kemarin diri ini masih berkata, “untuk saat ini mereka adalah penghalang cita-cita dan penjegal mimpi.”

Padahal kemarin diri ini dengan bangga berucap dan bersepakat, “hati maka jadilah batu hingga mimpi kita terlaksana”

Tapi hari ini mengapa otak dan hati tidak sejalan, mengapa salju antartika berbaur dengan uap sahara. sungguh tak mampu raga ini menopang pertempuran dua raksasa jiwa.

Tapi hari ini mengapa andrenalin serasa menggelegak membakar fikir yang menjadi benteng yang tak pernah tertaklukkan selama ini.

Berubah alam karena perilaku manusia, berubah tubuh karena hati.

Ya Allah, pada-Mu segala harapku, jagalah hati hamba-Mu yang tertawan ini. Dalam sujud kuluruhkan segala gundah ini.

RISALAH SANG DURJANA

8 January 2009

Sepuluh tahun sudah kaki ini tak menjejak daratan. Buih-buih lautan telah menawanku sejauh ini bukan karena keterpaksaan namun lebih pada rasa enggan. Racun yang menyelusup ditubuhku mengelanjut manja membunuh segala hasrat untuk berlabuh. Bukannya aku tak rindu dengan lembutnya dataran menghampar, tapi mereka pernah menolakku dengan sengaja. Dalam pelayaranku dua pelabuhan telah menarikku berlabuh.

 

 

Negeri pertama, tak jauh-jauh dari kampungku. Sebuah pelabuhan digugusan tropis tepat di pusat administrasi Hindia Belanda yang mereka namakan Batavia1). Namun syahbandar congkak mengusirku, ia berkata dermaga itu bukan untukku. Kapal dagang Maskapai Belanda telah memborong tempat tersisa dan memaksaku berlayar ke Timur.

 

 

Sekian tahun berlalu, lima tahun kemudian tepatnya hingga aku tergoda oleh lampu-lampu kota di negeri bersalju. Setelah menembus terusan Panama dan tiba di negeri yang berjuluk Skandinavia. Syahbandar yang telah mengundang Bahtera Bintang Kejora yang kunahkodai berbalik dengan senyum licik dari Galleonnya. Pelabuhan ini bukan untuk pedagang sepertiku. Hanya kapal-kapal perompak Vikinglah yang berhak! Mengangkat sauh hatiku hancur, kutahan amarahku. Satu hal yang pasti bahwa pengalaman ini telah mengubahku menjadi Lanun.

 

 

Menjadi Kapten Perompak bukan pilihanku. Sejatinya aku adalah keturunan petani. Sejak kecil almarhum ayah mengajarkan menanam. Kita memberi kehidupan anakku kata beliau, walau hasil dari tangannya yang kapalan akibat mencangkul itu menjadi santapan empuk para tengkulak. Beliau yang berulangkali dikhianati telah membuat hatiku meringgis. Para Ulee Balang2) tak lebih dari sekumpulan penjilat yang korup, kharaj3) yang mereka kenakan sangat tinggi bahkan jika Sultan mengetahui akan terkejut akan kezaliman mereka. Tapi tak pernah ada yang melaporkan hal ini pada Po Teumeuruhom4) karena mulut kami terkunci. Aku menahan air mata ketika tubuh rapuhnya menyerah pada kematian. Aku tak mau menjadi petani sumpahku ketika itu, aku ingin menjadi pedagang besar dengan Kapal lintas benua. Aku meninggalkan negeri itu, tempat aku dan nenek moyangku dilahirkan. Pelayaran setelah menelan kekecewaan tak terampunkan di negeri sendiri. Bertahun aku bertahan dalam mimpi yang sama hingga pengalamanku di Skandinavia telah merenggut cita-citaku. Bahkan kembali aku telah dikhianati seperti halnya ayahku dulu. Dunia membuka mataku sekali lagi bahwa tak ada tempat bagi orang jujur dan naif. Aku benci negeriku dan aku pergi tidak untuk kembali.

 

 

Kapten lanun haruslah kejam, Durjana itulah julukanku. Paling tidak harus menampakkan kebengisan. Senyum diwajahku ketika memancung kepala Kapten pelaut Belanda. Menghancurkan skuadron bermeriam berbendera Portugis. Bahkan Kapal perang kerajaan Inggris sekalipun tak membuatku gentar. Pelaut Viking kuperlakukan dengan sangat kejam yang tak pernah terbayangkan oleh mereka bahkan dalam mimpinya yang paling buruk. Kuhindari merompak kapal-kapal kaum muslimin. Bahkan aku yang sudah bejat ini tak mampu mengangkat pedang kepada sesama muslim. Kuhindari bentrokan dengan para Pasya Utsmaniyah dan tabikku untuk Phinisi para pendekar Bugis.

 

 

Kelewangku penuh darah, Bintang Kejora telah berubah menjadi Bintang Hitam yang berarti kematian. Perjalanan damai melintasi selat malaka, laut jawa, Laut Arafuru dan Samudera Pasific berubah menjadi pelayaran hitam di Samudera Atlantik, Laut Hitam, Laut Merah dan sekarang di Samudera Hindia. Ketika para awak kapal dengan sekoci menuju Gujarat menuju rumah bordir terbaik. Aku masih setia dengan Bintang Hitam dialah kekasihku dalam sunyi bersama bintang-bintang dilangit yang menjadi penghiburan hatiku selama ini. Aku masih tetap orang naif yang merasa dirinya suci walau bergelimang darah. Tubuhku terlalu agung untuk disentuh pelacur-pelacur dari belahan dunia manapun, termasuk tubuh molek Bengali yang termasyur diantara para Pelaut. Aku hanya boleh dimiliki oleh seseorang dan pastinya ia bukanlah perempuan biasa, karena ia adalah istriku kelak tempat sosok tanpa cinta sepertiku menyerahkan segenap cinta manusia hanya kepadanya.

 

 

Dari mulut kelasi yang kembali, aku tahu. Inggris keparat dan Belanda Penjilat telah membatalkan Traktat London berangka 1824. Negeriku dalam bahaya! Aku harus pulang kepertautan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Aceh Darussalam terancam oleh invasi Kumpeni Belanda. Traktat Sumatera telah memberi celah Belanda menguasai Sumatera paling Utara. Apakabar Meureuhom Daya? Apakabar Pedir? Apakabar Tanah Gayo? Apakabar Pasai? Apakabar Tamiang? Apakabar Meurebo Jaya? Apakabar Teunom? Apakabar Meureudu? Apakabar Peureulak? Apakabar Manggeng? Apakabar Peusangan? Apakabar Singkel? Apakabar Samalanga? Apakah masih menjadi bagian Federasi Aceh Darussalam? Sudah lama aku pergi. Masihkan Sultan Mansur Syah5) berkuasa? Masihkan Tuanku Nanta Setia6) hidup? Hampir seluruh dunia kuarungi ternyata masih ada cintaku untuk Nusantara.

 

 

Tahun ini 1872, usiaku empat puluh tahun. Puncak seorang laki-laki, tanpa cinta. Bintang Hitam harus segera berlayar kembali menuju Bandar Aceh Darussalam. Cepat atau lambat, Belanda bangsa tak tahu balas budi! Yang kemerdekaannya dari Spanyol pertama kali diakui oleh Kesultanan kami itu akan menyerang, air susu dibalas dengan tuba. Bahkan William Van Orange akan malu akan polah anak cucunya. Pusara Duta Besar pertama Nusantara untuk Belanda, Tuanku Abdul Hamid di Holland sana akan mengutuki polah bejat bangsa pedagang pelit ini.

 

 

Saat ini Aceh Darussalam tak setangguh dulu seperti masih memegang monopoli lada. Ia keropos dan tinggal nama besar saja. Sekarat menunggu kematian. Para Ulee Balang telah melarung kuasa Sultan sejak era Sultanah Safiatuddin7) Segenap negeri yang kukunjungi telah terinjak-injak oleh kulit putih dan aku tahu hampir tak ada kemungkinan bagi Aceh bersegi tiga untuk menang melawan Barat yang lebih modern. Lebih rapi, lebih licik dan lebih terpelajar. Kami akan kalah dan itu akurasinya sembilan puluh sembilan persen kemungkinannya. Hanya Allah S.W.T yang mampu menolong, dan sudah sekian lama aku tak berdoa. Tanganku menengadah ke langit air mataku menitik untuk pertama kali sejak almarhum ayah meninggal.

 

 

 

Aku memimpikan pelabuhan Ulee Lheu 8) , karang-karangnya yang menggoda, hamparan pasir putih bersih. Tepat disana nanti para kelasi akan kubebastugaskan. Tak bisa sekarang kukatakan karena mereka pasti akan desersi. Aku merindukan menyemai bibit cabe ditepi Krueng Aceh9). Tanganku sudah terlalu lembut untuk mencangkul kembali. Rindu telah memaksa mengingkari sumpahku untuk tidak menjadi petani lagi.

 

 

 

James Loudon10) pasti akan menyatakan maklumat perang, cepat atau lambat. Darul Kamal11) terancam menggelegakkan  darahku yang telah kotor dengan harta jarahan. Bahkan perompak, lanun, bajak laut yang dicari-cari oleh Navy inggris, tentara Spanyol, armada Belanda, pelaut-pelaut Viking dan begundal-begundal tenggik Portugis ini mendamba syahid. Aku yang telah meninggalkan syariat sekian lama merindukan tanah leluhur. Aku yang tak pernah lagi menyentuh daratan selama sepuluh tahun masih berkeinginan menjejak bumi. Mengharapkan cinta dari Sang Pengasih dan Sang Pengampun untuk menebus segala dosa-dosaku yang telah menggunung ini. Sang durjana kan pulang. Wahai negeriku sambutlah putramu yang durhaka untuk membelamu sampai titik darah penghabisan, ibu pertiwi.

 

 

 

Ditempat ini, dikapal ini  tiada pula cintaku tersisa.

Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana saja jiwaku berlayar

 

 

 

 

 

 

Batavia1) = Jakarta sekarang

 

Para Ulee Balang2) = Raja-raja kecil dilingkungan Kesultanan Aceh Darussalam, kelak ketika Belanda berkuasa kebanyakan dari mereka dan keturunannya diberi gelar Teuku dan Cut.

 

kharaj3) = Pajak Tanah

 

Po Teumeuruhom4) = Sebutan adat kepada Sultan Aceh Darussalam.

 

Sultan Mansur Syah5) = Sultan Aceh Darussalam (1857-1870), Ketika Belanda menyerbu Sultan yang berkuasa adalah Sultan Mahmud Syah yang kemudian wafat 19 Januari 1874, tiga belas hari setelah Masjid Raya Baiturrahman jatuh kedalam kekuasaan pasukan Belanda.

 

Tuanku Nanta Setia6) = Uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Kelak tewas dalam pertempuran menahan pendaratan pasukan Belanda di Kuala Alue pada pertempuran Kuala Gigieng tahun 9 Desember 1873. Ayah dari Cut Nyak Dien.

 

Sultanah Safiatuddin7) = Ratu Perempuan pertama dari tiga Sultanah Aceh memerintah (1641-1675).

 

Ulee Lheu 8) = Pelabuhan Kesultanan Aceh Darussalam.

 

Krueng Aceh9) = Sungai Aceh yang membelah Bandar Aceh Darussalam, ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam.

 

James Loudon10) = Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-54, memerintah 1872-1875. Loudon adalah putra seorang Inggris yang datang ke Hindia-Belanda semasa diperintah oleh Raffles.

 

Darul Kamal11) = Istana Kesultanan Aceh Darussalam, menjadi Rumah Residen Aceh, sekarang pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam

 

 

Ditulis mengenang Tanggal 6 Januari 1874, 135 Tahun lalu

Ketika Masjid Raya Baiturrahman direbut Belanda dari Pejuang Aceh.

SEPUCUK SURAT UNTUK LISA

1 January 2009

Tiba-tiba aku merasa malu pada ambisiku, pada cita-citaku, pada harapanku untuk diriku sendiri. Terlalu tinggi expetasiku untukku sendiri. Kutarik nafas panjang. Menahan tubuhku yang terbakar habis. Mencoba menahan beban berat melebihi puncak gunung tertinggi sekalipun. Demi menjaga sebuah tahta yang ingin kuhindari sejak aku bisa berdiri.

Nenekku mengajarkan geografi. Tentang batas-batas demakrasi. Dibatasi oleh gunung, sungai, laut ataupun kebudayaan. Tentang Sejarah Kepangeranan kami sudah tak bergigi. Ia sudah dibabat habis oleh sistem feodal baru ciptaan si Putih, bangsamu. Namun ia masih hidup, bernafas. Walau hanya sebatas tradisi.

Aku tak minta dilahirkan sebagai Putra Mahkota. Ini adalah takdir yang harus kuterima dengan takzim. Sebagaimana aku tak pernah menyesal telah jatuh cinta. Termasuk denganmu. Dan lucunya aku tak pernah mengucapkan itu.

Ada sekumpulan kebiasaan yang mengurat mengakar kemudian ia menjadi tradisi. Sebuah konvensi menurut hukum tata negara memaksaku memilih, kamu atau mahkota. Sungguh, tahta ini tak pernah berarti bagiku dibanding senyumanmu. Aku ingin berlari. Tapi aku hanyalah satu-satunya pewaris, tanggungjawab pada para leluhur telah membelenggu kakiku.

Kamu tak bisa menjadi ratuku. Ada dua belas pasal qanun yang menjegal. Mengejarmu berarti menjadikan Kepangeranan kami bubar. Aku tak bisa. Aku tak tahu perasaanmu, mungkin lebih tepatnya aku tak pernah mau tahu. Yang pasti aku kecewa pada diriku. Kejam katamu. Ludahi aku karena itu memang layak. Benci aku. Itu lebih baik. Masa depanku telah ditentukan dan itu tidak bersamamu.

Sungguh menyesakkan untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak bisa mengatakan walau ingin. Sebab, “Selamat tinggal” adalah kata-kata yang menyedihkan yang akan menusuk perasaan bersama. Tapi lebih sedih lagi kalau pergi tanpa mengucapkan apapun! Aku pergi!

Aku tak ingin melihatmu lagi. Itu akan melemahkanku. Sebagai putra mahkota aku harus tangguh seperti singa. Aku adalah lelaki bertopeng besi. Yang tak tertaklukkan. Untukmu jadilah orang hebat dimasa depan. Tidak ada manusia berdarah biru. Semua merah kehitaman. Semua merah darah. Jika engkau masih mendapati kertas ini basah, ini karena air minumku terpercik. Bukan karena air mataku, karena seorang calon raja tak pernah menangis. Kami dibentuk seperti baja, kuulangi seperti baja. Seperti dua belas silsilah ke atas.

Aku ingin meraihmu, mengengammu seperti rantai aku hanya ingin mencintaimu.
Tapi begitu melihatmu rantai lain di kakiku membelenggu.

Kara1). 1 Januari 1909
Tertanda
Yang Dipertuan Agung Muda Kepangeranan Dayastan2), Ahmad III
Kepada Lisa, Voldigrad3)

Kara1) = ibukota Dayastan
Kepangeranan Dayastan2) = Terletak diperbatasan Vazal Azerbaizan dan Kekaisaran Rusia
Voldigrad3) = Sebuah kota di Rusia era Tzar

Cerita ini fiksi, nama tokoh, tempat, waktu adalah seratus persen rekaan*)