MIMPI BERTEMU NABI
20 January 2009
Menghadapi kehidupan yang terkadang keras dan lembut. Abu adalah seseorang yang berusaha untuk Spartan. Dalam arti ingin mengejar berbagai hal sekaligus. Tekanan mengejar banyak hal ini membuat Abu harus mengakui bahwa diri ini terlalu keras bahkan untuk diri sendiri. Fisik seorang Abu tidak terbuat dari baja, sehingga otak Abu pun bisa melepuh dan itu berakibat kepada kegelisahan tak tentu. Waktu tidur yang minimalis menyebabkan kantung hitam menebal dibawah mata Abu. Hanya dalam tidurlah Abu dapat mengistirahatkan sel-sel otak yang berpacu memburu waktu. Disaat kegundahan menyergap disaat itu pula datang sebuah hiburan yang tak terduga berupa mimpi yang menyejukkan.
Dalam mimpi tersebut Abu bermimpi,
Disebuah tempat terdapat rel kereta api yang tidak digunakan lagi, Abu menyelusuri jalan rel tersebut dengan pelan namun tiba-tiba Abu melihat segerombolan orang menganggu seorang perempuan (jangan tanyakan siapa dia, Abu tidak mampu mengingatnya). Bahkan dalam mimpi sekalipun Abu tidak dapat melihat seseorang menginjak-injak perasaan orang lain. Entah bagaimana prosesnya Abu berkelahi dengan mereka, kadang Abu memukul kadang mereka memukul. Karena situasi tidak seimbang, dalam hal ini Abu hanya seseorang diri (perempuan itu tiba-tiba menghilang) maka Abu memutuskan untuk melarikan diri.
Abu pun berlari menyelusuri rel kereta api, sehingga akhirnya tiba disuatu tempat yang disekeliling jalan tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon besar, di depan Abu melihat seseorang berjalan. Abu yang masih waspada terhadap orang yang mengejar dibelakang memutuskan untuk bergabung dengan orang tersebut. Berdua lebih baik daripada sendiri begitu logika Abu.
Dengan terengah-engah Abu menyusul orang tersebut, melihat Abu yang masih ngos-ngosan, orang tersebut menanyakan penyebab berlari seperti orang kesurupan dan Abu menjelaskan duduk perkaranya.
Orang tersebut lalu menasehati Abu tentang banyak hal. Abupun hanya mendengarnya dengan takzim, setelah beliau selesai menasehati. Didorong rasa penasaran Abu bertanya siapakah beliau yang begitu bijaksana. Jawaban beliau masih membekas di otak Abu, ketika beliau mengatakan. “Nama saya Muhammad bin Abdullah.” Seketika Abu yang sedari tadi tertunduk menatap wajah beliau yang dipenuhi cahaya. Alam bawah sadar Abu langsung menyadari bahwa saat itu sedang bermimpi, disisa-sisa mimpi tersebut Abu mencoba tetap berkomunikasi dengan beliau.
“Ya Nabi, hamba ini memiliki banyak dosa” kata Abu. “Doakan supaya umatmu ini yang telah banyak berbuat dosa bisa meninggal dalam keadaan syahid” Sambung Abu.
Yang Abu ingat, beliau hanya tersenyum dan mengangguk pelan seketika Abupun terjaga dari tidur.
Kemana lagi Abu hendak bertanya, selain kepada guru Abu di Lhokseumawe selain Tengku Salek Pungo. Menurut penuturan beliau, Nabi Muhammad Saw adalah sosok agung dalam sejarah peradaban manusia. Bermimpi bertemu dengan Rasullullah S.A.W adalah suatu anugerah karena wujud beliau begitu sempurna karena tiada suatu makhlukpun yang bisa menirunya.
Mengomentari mimpi Abu, Tengku Salek Pungo tersenyum. Tafsir mimpi ini menurut beliau, kalau kita mimpi bertemu Nabi dalam sebuah jalan itu menandakan bahwa jiwa Abu masih gamang dan perlu ditingkatkan lagi. Mendengar tafsiran Tengku Salek Pungo, yang beberapa kali pertemuan sebelumnya menyindir Abu telah dilalaikan oleh dunia dan tidak pernah lagi terlihat dipengajian di masjid membuat sosok Abu hanya terpekur terdiam merenunginya hingga saat ini.
Detik waktu telah banyak berlalu, berbagai kitab telah terkaji, banyak pengalaman yang telah kuhadapi diberbagai negeri. Semakin banyak kuresapi. Namun saat ini masih mendapati diriku masihlah seorang pandir yang terjerat keangkuhan yang sama, sama seperti dulu. Tak kunjung berilmu.
SEPUCUK SURAT UNTUK LISA
1 January 2009
Tiba-tiba aku merasa malu pada ambisiku, pada cita-citaku, pada harapanku untuk diriku sendiri. Terlalu tinggi expetasiku untukku sendiri. Kutarik nafas panjang. Menahan tubuhku yang terbakar habis. Mencoba menahan beban berat melebihi puncak gunung tertinggi sekalipun. Demi menjaga sebuah tahta yang ingin kuhindari sejak aku bisa berdiri.
Nenekku mengajarkan geografi. Tentang batas-batas demakrasi. Dibatasi oleh gunung, sungai, laut ataupun kebudayaan. Tentang Sejarah Kepangeranan kami sudah tak bergigi. Ia sudah dibabat habis oleh sistem feodal baru ciptaan si Putih, bangsamu. Namun ia masih hidup, bernafas. Walau hanya sebatas tradisi.
Aku tak minta dilahirkan sebagai Putra Mahkota. Ini adalah takdir yang harus kuterima dengan takzim. Sebagaimana aku tak pernah menyesal telah jatuh cinta. Termasuk denganmu. Dan lucunya aku tak pernah mengucapkan itu.
Ada sekumpulan kebiasaan yang mengurat mengakar kemudian ia menjadi tradisi. Sebuah konvensi menurut hukum tata negara memaksaku memilih, kamu atau mahkota. Sungguh, tahta ini tak pernah berarti bagiku dibanding senyumanmu. Aku ingin berlari. Tapi aku hanyalah satu-satunya pewaris, tanggungjawab pada para leluhur telah membelenggu kakiku.
Kamu tak bisa menjadi ratuku. Ada dua belas pasal qanun yang menjegal. Mengejarmu berarti menjadikan Kepangeranan kami bubar. Aku tak bisa. Aku tak tahu perasaanmu, mungkin lebih tepatnya aku tak pernah mau tahu. Yang pasti aku kecewa pada diriku. Kejam katamu. Ludahi aku karena itu memang layak. Benci aku. Itu lebih baik. Masa depanku telah ditentukan dan itu tidak bersamamu.
Sungguh menyesakkan untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak bisa mengatakan walau ingin. Sebab, “Selamat tinggal” adalah kata-kata yang menyedihkan yang akan menusuk perasaan bersama. Tapi lebih sedih lagi kalau pergi tanpa mengucapkan apapun! Aku pergi!
Aku tak ingin melihatmu lagi. Itu akan melemahkanku. Sebagai putra mahkota aku harus tangguh seperti singa. Aku adalah lelaki bertopeng besi. Yang tak tertaklukkan. Untukmu jadilah orang hebat dimasa depan. Tidak ada manusia berdarah biru. Semua merah kehitaman. Semua merah darah. Jika engkau masih mendapati kertas ini basah, ini karena air minumku terpercik. Bukan karena air mataku, karena seorang calon raja tak pernah menangis. Kami dibentuk seperti baja, kuulangi seperti baja. Seperti dua belas silsilah ke atas.
Aku ingin meraihmu, mengengammu seperti rantai aku hanya ingin mencintaimu.
Tapi begitu melihatmu rantai lain di kakiku membelenggu.
Kara1). 1 Januari 1909
Tertanda
Yang Dipertuan Agung Muda Kepangeranan Dayastan2), Ahmad III
Kepada Lisa, Voldigrad3)
Kara1) = ibukota Dayastan
Kepangeranan Dayastan2) = Terletak diperbatasan Vazal Azerbaizan dan Kekaisaran Rusia
Voldigrad3) = Sebuah kota di Rusia era Tzar
Cerita ini fiksi, nama tokoh, tempat, waktu adalah seratus persen rekaan*)