Sejak ekspedisi gemilang Thariq bin Ziyad tahun 711 M hingga jatuhnya pijakan terakhir umat Islam di Andalusia (sekarang Spanyol) Kesultanan Granada tahun 1492 M oleh tentara gabungan dua kerajaan Castila dan Aragon pimpinan Ratu Isabela dan Raja Ferdinand, Andalusia merupakan mutiara dunia yang merupakan pusat peradaban dimana ikmu pengetahuan serta peradaban berkembang dengan pesat.

 

 

Sebegitu cemerlangnya ilmu pengetahuan di Andalusia saat itu sehingga diperkirakan seandainya saja ia tidak ditaklukkan maka umat Islam pada abad ke-18 diperkirakan sudah mampu mendarat di bulan. Tanah Andalusia pernah memunculkan seorang Ibn Rushd dengan bukunya Tahafut Al-Tahafut (Ruwetnya keruwetan) menyerang Tahafut Al-Falasifah (Keruwetan para filosof) karangan Al-Ghazali, sebuah hantaman terhadap pemikiran Ibnu Sina dan Al-Farabi seabad sebelumnya. Menurut Ibn Rushd, filsafat dan agama ibarat dua anak yang disatukan oleh seorang ibu penyusu, dan mana mereka akan tumbuh sehat.

 

 

Pada masa kejayaannya Cordoba, sebua kota di Andalusia didatangi oleh berbondong-bondong pelajar Eropa Kristen yang haus akan ilmu pengetahuan dan tidak puas dengan apa yang mereka raih di Eropa sendiri, termasuk diantaranya Thomas Aquinas kelak penulis Summa Teologia yang merupakan doktrin dasar agama Katolik dan Gebert yang nantinya menjadi Paus. Gaung pemikiran Ibn Rusyd (di dunia barat dikenal dengan nama Averroes) bahkan menjadi dasar Reneisance di Eropa, sebuah era baru yang menandakan kelahiran kembali Eropa meninggalkan masa-masa kelam (The Dark Ages) hingga dikemudian hari menjadi kiblat peradaban dunia baru.

 

 

Yang menjadi pertanyaannya adalah? Mengapa Andalusia bisa jatuh? Pada contoh yang sama dalam sejarah bukankah Bagdad juga jatuh diserang oleh Mongol pimpinan Hulagu. Bagaimanapun masa-masa itu merupakan bagian kelam dari sejarah Islam dimana kehancuran itu benar-benar dasyat dan umat Islam setelah masa-masa itu tidak pernah bisa benar-benar pulih dan bangkit hingga saat ini.

 

 

Mengapa? Secara Sosiologis tidak pernah ada penyatuan antara orang Arab Muslim dengan Eropa Muslim di Andalusia serta telah terjadi pemaksaan hukum yang kaku terhadap penduduk sedangkan penguasa malah mengenakan topeng, disatu sisi menerapkan hukum yang ketat kepada penduduk sedang disisi lain malah melanggarnya, sehingga pada saat pasukan Kristen datang maka mereka disambut seolah-olah teman lama yang datang kembali, walaupun akhirnya mereka menyesalinya tapi nasi sudah menjadi bubur, patut diingat bahwa pengadilan iman (Inquista) baru dilakukan oleh Gereja disaat tidak ada lagi Kesultanan yang berdiri lagi di bumi Andalusia. Kasus perbedaan suku (Ashabiyah) ini juga terjadi pada akhir Daulah Abbasiyah menjelang kejatuhannya antara orang Arab dan orang Persia, antara Sunni dan Syiah.

 

 

Sangatlah tidak mungkin Andalusia, ataupun Abbasiyah ataupun Turki Ustmani atau siapapun dapat terpuruk jatuh dengan sedemikian mudah kecuali dia sudah bobrok dari dalam. Pada contoh kasus di Andalusia, serangan dari pasukan Castila dan Aragon hanyalah mempercepat kematiannya yang sudah sekarat.

 

 

Penulis pernah bertanya kepada seorang teman, mengapa jika seseorang membawa nama Islam jika ia gagal maka yang disalahkan adalah sistem Islam, sedangkan jika orang lain membawa panji yang lain dan gagal maka yang disalahkan adalah orangnya bukan sistemnya. Teman saya menjawab bahwa agama Islam adalah sempurna, sudah sejalan dan sebanding dalam otak dan hati orang tersebut dan jika gagal orang akan melihat bahwa sistemnya yang gagal. Berbeda jika seseorang Kristen Ortodoks misalnya membawa paham Komunis dimana otak dan hati orang tersebut tidak sejalan, maka jika gagal yang disalahkan adalah orangnya bukan sistemnya.

 

 

Maka siapapun yang membawa nama Islam, sudah sepatutnya dia berhati-hati karena seribu mata memandang, tidak peduli bahwa anda tidak bernama Islam. Sedikit saja berbuat kesalahan maka yang buruk citranya secara pribadi melainkan Islam secara keseluruhan. Maka waspadalah!

 

Sebuah Perenungan untuk 2009.

PUISI TENTANG GERIMIS

22 December 2008

Kala gerimis membasahi bumi
Dengarlah suara kematian yang semakin dekat di setiap detiknya
Titik-titik hujan itu pelan
Aku berpulang dengan perasaan enggan

Tahun ini apa yang telah aku lakukan
Tetesan hujan dipunggungku semua tertelan gemuruh dilangit
Sebenarnya aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang
Hanya satu malam saja akan berakhir

Pernah merasa jalannya waktu terlalu pelan
Pernah merasa jalannya waktu terlalu cepat
Pernah rasanya ingin mengulang ke belakang
Rasanya tak ingin kembali

Pesisir Timur Pulau Sumatera, Desember 2008

MEMBANGUN TRADISI BARU

18 December 2008

Benarkah orang Indonesia tidak memiliki tradisi menulis? Kalau dipikir ada benarnya juga. Sewaktu duduk dibangku sekolah adakah pelajaran untuk menulis? Saya tidak tahu didaerah lainnya akan tetapi didaerah saya sewaktu sekolah hampir-hampir tidak ada pelajaran menulis dan kalaupun ada hanya segelintir guru yang memberi tugas tersebut dan efeknya guru tersebut otomatis dibenci oleh murid-muridnya dan akibatnya pelajaran menjadi tidak efektif.

Akibatnya didalam perjalanan hidup saya ini saya banyak menjumpai orang-orang yang bisa dikatakan memiliki otak yang cemerlang dan brilyan akan tetapi tidak mampu menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, akibatnya pikiran dan pengetahuan mereka tidak mampu ditranfer kepada orang lain dengan optimal sehingga hanya dapat dimiliki oleh mereka sendiri atau paling baik hanya dapat diketahui dari perkataan mereka semata.

Mengapa membangun sebuah tradisi menulis itu penting? Jelas penting karena tulisan lebih bisa bertahan lama daripada orang-orang itu sendiri, kita dapat melihat orang-orang seperti Aristoteles, Sun Tzu, Al-Ghazaly, Ibn Khaldun, Snouk Hugronyoe, bahkan Karl Marx tetap abadi walaupun mereka telah meninggal puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Dan apa pula kendala untuk bisa menulis itu sendiri? Di level pemula menulis itu merupakan hal yang menakutkan. Kenapa menulis bisa menjadi suatu yang menakutkan? Belajar dari pengalaman pribadi ada banyak hal yang bisa membuat hal itu terjadi, mulai dari ketiadaan fasilitas seperti komputer atau bahkan ketidak mampuan untuk mengoperasikannya, mahalnya biaya rental dan printernya sekalian, malu dan takut salah dalam menulis serta keterbatasan lainnya. Hal-hal tersebut mau tak mau memberatkan walaupun kalau dipandang sekilas terlihat sangat sepele.

Para guru dan dosen sudah sangat mengerti hal-hal tersebut dan itu pula sebabnya mereka tidak terlalu banyak memberikan tugas untuk menulis atau semacamnya ditambah lagi keterbatasan pengetahuan, referensi serta para murid belum lagi keterbatasan waktu dan kemampuan mereka sendiri untuk menilai tulisan itu sendiri membuat semuanya menjadi klop.

Menulis juga memiliki resiko bagi kita seperti dari kurangnya apresiasi masyarakat kepada tulisan, coba kita lihat berapa banyak orang pergi ke perpustakaan dan toko buku dan coba bandingkan dengan pengunjung bioskop, jauh. Ditambah lagi kita tidak mempunyai tradisi menulis yang kuat, coba lihat legenda atau cerita daerah di Indonesia hampir semuanya merupakan tradisi lisan dari mulut ke mulut. Bandingkan dengan sesama negara Asia, China misalnya mereka sudah memiliki tradisi menulis yang sudah lama, legenda-legenda mereka banyak yang sudah dibukukan dalam waktu berabad-abad yang lampau seperti Kisah Tiga Kerajaan, Batas Air dan sebagainya.

Jadi apa solusinya? Ya, terpulang kepada diri kita apakah punya semangat untuk menulis dan mengaktualisasikan diri kita. Berani mengungkapkan pikiran melalui tulisan, tak usah yang terlalu rumit cukup mulai dari hal yang sepele dan kecil saja seperti catatan kecil yang ringan. Cuma, masalahnya adakah kemauan kita untuk mencoba??

ODE SEORANG BUJANG

17 December 2008

Dahulu tak pernah terpikir akan sendiri dimana teman-teman selalu mengelilingi, semendung apapun dunia persahabatan selalu tertawa. Dahulu tak pernah terbayang akan merasa sepi karena keluarga selalu dekat dimata walau tanpa suara seolah memenuhi isi dunia. Ruang dan waktu ada dan tiada menyadarkan disetiap paginya bahwa diri merasa sepi. Bahwa hidup akan dijalani sendiri bahkan nanti di alam berzakh.

Menjadi bujang baru terasa ketika para sahabat telah pergi menempuh hidupnya sendiri. Menjadi abang baru terasa sepi ketika adik telah dilamar orang. Menjadi manusia terasa sendiri ketika hujan lebat namun tak ada teman bicara atau sekedar tertawa. Menjadi makhluk baru merasa rendah apabila sedang bersimpuh di atas sajadah.

Malam ini ketika hujan membasahi bumi, luntur sudah semua angkuh dihati. Bahwa hidup akan ditempuh sendiri saja, bahwa perjuangan ini adalah perjuangan hanya seorang anak manusia. Hidup terkadang lembut terkadang keras ini terasa terasa hambar apabila tiada teman tuk berbagi. Sekedar berbagi gembira dan kesal untuk dinikmati berdua.

Esok hari kuyakin ada matahari yang cerah menyambut. Namun apa guna cinta yang memenuhi seluruh dunia apabila hanya terpendam dihati seorang sahaja. Tiada wadah untuk mencurahkan segala kasih sayang hingga meredup ditiup angin dan menghilang. Bersama batang usia yang terus meninggi menjulang.

Tak ada bahasa yang mampu mengungkapkan ode seorang bujang. Rindu remuk mengharap menjadi raja sekaligus hamba. Oh, Tuhan hanya engkaulah yang mampu mengetahui gejolak jiwa segenap makhluk-Mu, termasuk hamba yang berada dipenghujung masa muda ini. Sekarat tanpa cinta manusia dan hanya kasih dan sayang-Mu yang menghidupi diriku.

UDIK INVATION

15 December 2008

Dasar orang udik! Dasar anak kampung! Pernah mendengarkan kalimat tersebut? Atau pernah mengucapkan? Tidak salah memang. Saat ini zaman kota , segala yang bernama udik, kampung identik dengan keterbelakangan.

Disekolah kita diajarkan bahwa orang kota lebih berpendidikan, berkecukupan namun kecendrungan induvidualistis sedangkan orang yang tinggal di desa memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, hidup sederhana namun memiliki rasa social yang tinggi. Mungkin benar, namun tidak mutlak.

Walau begitu saat ini semakin banyak orang dari desa yang mencari penghidupan di kota , persepsinya adalah kota menjanjikan peluang. Cerita-cerita kegagalan para perantau tertutup oleh keberhasilan segelintir orang.

Adakah kota lebih baik dari desa? Kota menjanjikan kenyamanan dalam hidup, semuanya tersedia asal punya uang. Mottonya “ Ada uang ada barang”. Namun kota juga memiliki penyakit, yaitu kekotaannya itu sendiri.

Belajar dari masa lalu, lihatlah bagaimana bangsa Indo German menghancurkan Romawi Barat, bangsa Arab menghapuskan Kerajaan Persia yang berusia ribuan tahun, Mongol/Tatar membumihanguskan Baghdad ibukota kekhalifahan Abbassiyah, bangsa Turki mengalahkan Kekaisaran Byantium dan memduduki ibukotanya Konstantinopel dan menganti namanya menjadi Istanbul.

Keberhasilan orang-orang dengan tingkat kebudayaan yang “dibawah rata-rata” itu sendiri disebabkan kedinamisan kebudayaan tersebut menyerap segala kebaikan yang ada pada kebudayaan yang lebih tinggi. Sebaliknya kebudayaan yang sudah merasa tinggi akan mengalami kemandegan dalam kemajuan hingga akhirnya mengalami pembusukan dari dalam.

Lihatlah bagaimana dengan cepat Kesultanan Turki Usmani meniru dengan cepat segala keburukan Kekaisaran Byzantium, hingga akhirnya memggerogotinya hingga lumpuh sedikit demi sedikit. Ataupun Khalifah Abbasiyah meniru gaya Metropolis dengan segala penyakitnya kisra Persia hingga akhirnya mereka diluluhlantakkan oleh Pasukan Tatar (Mongol).

Kota dan Desa adalah dua sisi mata uang, keduanya memiliki sisi baik dan sisi buruk, keduanya melengkapi satu sama lain. Namun mengapa kita sering kali hanya mengikuti segala sesuatunya berdasarkan sisi buruknya saja?

Itulah pertanyaannya, mampukah kita menjawabnya.

SELAMANYA

14 December 2008

Selamanya.” Telunjukmu tepat dihidungku. Waktu telah banyak meninggalkan kita namun kamu belum sedikitpun berubah masih dalam keangkuhan yang sama, seperti dulu.

“Selamanya.” Aku tahu arti kata-kata itu. Masih sama dengan dulu. Tak usah kau ulang berkali-kali. Sekali berarti hingga akhir waktu. Aku sudah tahu ketika pertama kali engkau menyebutkan maka itulah keputusanmu. Final.

“Selamanya.” Masih juga kamu ucapkan itu. Datar. Dunia berubah begitupun aku namun kamu tetap bertahan di kenangan zaman lama. Ketika engkau masih menjadi seorang dewi yang penuh akan mantra dan puja. Sadarlah nona.

“Selamanya.” Dengarkan dulu, aku datang dengan senyum untuk mendengarkan bagaimana kabarmu sekarang, bukan untuk cinta. Bukan pula untuk menertawakan keadaanmu.

“Selamanya.” Tak kuduga kamu telah terjebak curigaisme berlebih terhadap apapun. Juga masih keras melebihi karang, namun itu semua sudah tak menarik lagi bagiku. Rasa sakitmu yang mengundangku untuk membezuk.

“Selamanya.” Bahkan caramu mengusirku pun masih sama. Pahamilah jika kamu masih seperti ini maka selamanya engkau akan menjadi pesakitan seperti saat ini.

“Selamanya.” Baiklah aku pergi. Mengingatkan aku untuk tidak peduli padamu selamanya. Biarlah kau membusuk disana tanpa pertolongan. Apa urusanku.

Lhokseumawe, Pukul 01.30 Dini Hari

MALAM YANG TERTAKLUKKAN

10 December 2008

Hitam, gelap dan malam bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sama. Sebelum lampu ditemukan malam menjadi penjara bagi sebagian orang, banyak orang pada saat itu berada di tempat tidurnya masing-masing tapi masih melek.

Malam juga menjadi sarang dari kejahatan, dimana perampokan dan pencurian kerap terjadi. Banyak dogma-dogma lain tentang malam yang jelas membuatnya semakin angker. Maka hitam, gelap, malam merupakan asumsi dari “evil” yang bahkan masih berlaku hingga saat ini.

Namun ketika malam tertaklukkan, lampu-lampu jalan dipasang di sudut-sudut kota, kejahatan menurun akan tetapi muncul problematika baru yaitu berkembangnya prostitusi, hiburan malam menjamur. Malam menjadi gemerlap.

Binatang dihalau, jin diusir, manusia menjadi penguasa mutlak dari malam.

Percayakah anda bahwa malam merupakan suku kata yang khusus dalam bahasa indonesia dimana dia walaupun dibalik tetap menjadi malam.

TAMAT

DARA PORTUGIS

6 December 2008

Menurut catatan sejarah ketika armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso Alberqueque hendak menaklukkan kota Malaka tahun 1511 M, Raja Portugis mengirimkan pasukan untuk membantu namun sayang pasukan tersebut tidak pernah sampai karena terdampar dipesisir Barat Sumatera tepatnya kota Lamno, Aceh dan kehilangan kontak dengan pasukan induknya di Goa/ India (pusat koloni Portugis saat itu) maupun dengan pasukan Portugis di Malaka. Dengan segera pasukan Portugis tersebut ditawan oleh Sultan Aceh saat itu, dan pasukan Portugis itu segera dimanfaatkan oleh Sultan Aceh saat itu yaitu Sultan Ali Mogayatsyah untuk mengembangkan armada perang Aceh meliputi pembuatan meriam, kapal perang, mesiu sehingga nantinya Kesultanan Aceh dapat memerdekakan diri dari Kerajaan Pedir Hindu (didaerah Aceh Pidie sekarang). Fakta sejarah tidak tercatat secara resmi, sehingga lebih meyerupai sebuah legenda.

Tak pelak keturunan bangsa Portugis tersebut ada yang tetap tinggal di Aceh dan berbaur dengan penduduk lokal, sehingga di Aceh terkenal sebuah idiom yaitu Bule Lamno, yaitu orang hasil perkawinan campur antara bekas keturunan Portugis dengan penduduk lokal (kebanyakan bermata coklat) namun bercakap-cakap dengan bahasa lokal.

Daerah tersebut juga terdapat sebuah suku ekslusif (Sebagian keturunan Eropa tersebut menutup diri yang tidak berkawin campur dengan penduduk lokal) bernama “suku mata biru” namun jumlahnya relativif sangat sedikit. Bahkan banyak pemuda dari dalam dan luar Aceh terkadang sengaja mencari jodoh kepesisir Barat, siapa tahu mendapatkan “Dara Portugis” tersebut.

Sedangkan menurut cerita penduduk lokal, kaum keturunan Eropa tersebut adalah rombongan keturunan dari umat Muslim yang melarikan diri dari Renquista dari Ratu Isabella dan Ferdinand dari Castilla/Arragorn (Spanyol sekarang) hingga keujung dunia ketika Andalusia ditaklukkan oleh pasukan Salib.

Ketika mudik kemarin ke pesisir Barat setelah sekian lama Abu tidak menjejakkan kaki dipesisir Barat, Abu secara iseng ingin melihat apa yang dinamakan “Dara Portugis.” Ketika melewati kota Lamno (Sekitar 80 Km dari kota Banda Aceh), maka Abu menanyakan kepada penduduk lokal mengenai ilwal keberadaan Dara Portugis tersebut (Siapa tahu………?).

Menurut SBR (32 tahun) penduduk kota Lamno “Setelah Tsunami menghantam pesisir Barat Aceh Desember 2004 suku mata biru tidak pernah terlihat lagi, sedangkan yang yang bermata coklat masih ada namun sudah banyak yang meninggalkan kota tersebut kebanyakan menikah dengan pendatang dan meninggalkan kampung halaman.

Cerita penduduk itu mengingatkan kepada nenek Abu, beliau pernah bercerita kalau ibu beliau yaitu nenek buyut Abu memiliki mata biru, dan satu kaitan lagi ketika Abu masih kecil ada satu lagu yang popular yaitu lagu ISABELLA yang dinyanyikan oleh Grup Band SEACH asal Malaysia, waktu itu lagu tersebut sangat popular sehingga Abu yang masih kecil sangat menyukai lagu tersebut. Tapi ketika Abu menyanyikan lagu tersebut didepan nenek, beliau sangat marah dan menyuruh Abu untuk tidak pernah lagi menyanyikan lagu tersebut.

Ketika Abu menanyakan korelasi antara kedua hal tersebut kepada ibu Abu, beliau hanya angkat bahu. Dan ketika Abu menanyakan apakah ada kemungkinan bahwa Abu memiliki keturunan muslim Eropa yang diusir oleh Ratu Isabella, beliau hanya tersenyum. Dan ketika Abu menanyakan mengapa Abu ini tidak memiliki kemiripin dengan keturunan Portugis tersebut, ibu Abu menjawab dengan santainya “Mungkin kamu terlalu banyak kandungan lokalnya!”

Terlalu banyak kandungan lokal? Memangnya Abu produk Assembling githu? Memangnya orang bisa dirakit apa?

MELEBIHI KEANGKUHAN IBLIS

5 December 2008

“Iblis yang karena keangkuhannya menolak keampunan dari Tuhan-Nya, sehingga harus menelan kesombongannya menjadi penghuni neraka pada akhir zaman pun memerlukan teman. Untuk itu ia merayu manusia untuk menjadi sahabatnya didasar neraka.” Katamu menusuk jantungku.
“Mengapakah kamu manusia yang mengaku beriman masih keras membatu sendiri?” Tudingmu
Mukaku memerah, amarahku meledak. “Kurang ajar! Engkau menyamakan aku dengan Iblis.”

MENGEJAR BAYANG-BAYANG

4 December 2008

Aku adalah bayangan terbang melayang

Janganlah engkau mengejarku

Detak waktu akan menghentikanmu

Dalam sebuah kepastian kenihilan

 

 

 

Aku adalah bayang-bayang

Sudah selayaknya tak tersentuh

Dan tak akan pernah terjamah

Sekuat apapun engkau berusaha

 

 

 

Bersama gelapku berpadu

Cahaya adalah sahabatku

Setengah-setengah sifatku

Dan inilah sesungguhnya aku

 

 

 

Air matamu tak akan mengibakanku

Aku tak punya jasad apalagi hati

Itu semua sudah mati karena aku

Adalah bayangan untukmu

 

 

 

 

Bayangan tak bisa menyimpan kemarahan tapi,

 Bayangan juga tak punya kemampuan memaafkan.

 

 

Lhokseumawe 21 Nopember 2008