LUGHAT

28 November 2008

Pendengaran adalah ayah adalah dari segala ilmu linguistik, begitulah pendapat Ibnu Khaldun berabad yang lalu yang membandingkan kecenderungan berbahasa bangsa Arab di Andalusia (Spanyol, Portugal dan Andorra sekarang) berbeda dengan bangsa Arab di Timur (Wilayah kekhalifahan Abbassiyah yang berpusat di Baghdad saat itu). Artinya seseorang memiliki kecenderungan untuk mengucapkan logat yang sering ia dengar tanpa disadari.

 

 

 

Bahasa Arab yang menjadi bahasa pengantar wilayah dimulai dari semanjung Iberia hingga sungai Indus memiliki kecenderungan memiliki logat yang khas tergantung dari cakupan Geografis yang dijangkaunya.

 

 

 

Dalam ruang lingkup kekinian, begitu pula bahasa Indonesia yang memiliki cakupan dari Sabang sampai Marauke (yang jaraknya kurang lebih sama antara London ke Moskow yang mencakup lebih dari 50 negara Eropah) memiliki keberagaman logat yang khas dan berbeda satu daerah dengan wilayahnya.

 

 

 

            Semua itu menambah keberagaman negara yang memiliki potensi satu benua ini. Terkadang menambah keasyikan tersendiri dalam seni mendengar karena setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam bertutur kata.

 

 

 

            “Bahasa menunjukkan budaya” artinya bahasa menunjukkan sebuah kebudayaan, mengajarkan cara berpikir, menghargai kesopanan. Kerana kemempuan berbahasa didapatkan dari interaksi sosial yang kita jalani dimulai dari kita dilahirkan.

 

 

 

Oleh karena itu wahai teman, dimanapun engkau berasal, apapun logatmu, marilah kita perkaya bahasa Indonesia. Karena bahasa kita ini adalah bahasa yang besar.

Terimakasih telah menolakku kemarin, untung aku tak pernah mencaci apalagi membencimu. Karena itu hari ini aku tak pernah menyesal walau harus menanggung malu yang sekarang berubah menjadi sebuah kebanggaan di dadaku. Kukukuhkan hati mencegah rasa cinta menjadi benci. Lingkaran dendam tak seharusnya terjadi antara kita.

 

 

 

Tak mungkin aku memaksa bila tak ada rasa cinta untukku. Dengan menafikan uluran tangan ini engkau telah membuat diriku menjadi manusia yang tak diperbudak cinta manusia, yang kutahu akan padam bagaikan cahaya lilin.

 

 

 

Tidak darimu telah melunturkan semua angkuh dihati, yang selama ini bertahta dan tak tahu harus kuenyahkan dengan cara apa selama ini. Usai sudah masa-masa otakku kering akan hikmah.

 

 

 

Aku menyadari penolakanmu tak menjadikanku manusia perkasa apalagi kuasa, diri ini tetaplah serapuh jaring kamalanga rentan terhadap hembusan angin selembut apapun. Kehidupan maupun waktu terkadang lucu, rasa sakit yang telah berlalu terkadang membawa nostagia. Seperti explorasi hidup tak pernah berakhir hingga ke liang lahat, layaknya waktu terus berjalan hingga kiamat.

 

 

 

Mungkin kata-kataku seolah untuk menipumu namun yakinkan itu keluar dari lubuk hatiku, bukan sebuah kalimat penghibur untuk membuatmu tersenyum. Apalagi sekedar membuat dirimu merasa bersalah.

 

 

 

Terimakasih telah menolakku kemarin, membuatku sadar bahwa kemenangan bukanlah segalanya. Itu mendewasakan walau kini aku tetaplah merupakan seorang hamba dan bukanlah siapa-siapa.

 

 

 

Usai sudah cerita cinta. Harapan, mimpi dan cita milikku kini bukanlah untukmu lagi. Mengingatkanku bahwa adahal lain yang harus dilakukan. Perilaku baja yang engkau tampakkan membuatku sadar, kini segenap upaya yang pernah kuusahakan mundur teratur. Mungkin lebih baik aku menjauh.

 

 

 

Salam hangat, sampai kesempatan lain mempertemukan, teman. Bahkan aku tak mampu memanggil cinta untukmu, kepada dirimu yang tak pernah menjadi kekasihku. Beribu terima kasihku untukmu.

 

 

 

“Tak ada jalan memutar bagi seorang lelaki, maju atau mundur. Ketika telah menetapkan langkah maka jangan pernah menoleh lagi kebelakang. Singkirkan segala ruang untuk sebuah penyesalan, meski kegagalan membayang ingatlah saat itu tak ada peluang mengulang.”

 

 

 

LHOKSEUMAWE, MALAM SUNYI KETIKA PARA INSAN LELAP DALAM BUAIAN.

SELAMAT JALAN GURU

21 November 2008

Selamat jalan guru, Beliau dilahirkan dengan nama Syamsuddin, disaat beranjak dewasa beliau biasa dipanggil dengan julukan Tengku Syams, entah karena merupakan singkatan dari nama beliau atau berdasarkan negeri leluhur beliau. 

 

 

Konon leluhur beliau berasal dari negeri Syams tepatnya kota Damaskus yang mempesona, keluarga beliau mengabdi kepada Daulah Ummayyah. Ketika Bani Abbas mengambil alih tampuk kekhalifahan, dan memburu sisa-sisa rezim lama, mereka pun melarikan diri, 

 

 

Berbeda dengan Abdurrahman sang penerus Daulah Umayyah yang terakhir yang nantinya mendirikan kembali dinasti ini Andalusia dan para pendukung setianya yang melarikan diri ke arah Barat tepatnya menuju negeri Maghribi, leluhur Tengku Syam memutuskan berlayar kearah Timur. 

 

 

Hingga akhirnya leluhur beliau menginjakkan kaki di Nusantara, di pesisir utara Pulau Sumatera. Sebagai keturunan Arab, tak pelak mereka meninggalkan tradisi keluarga yang sebelumnya merupakan bangsawan menjadi ulama. 

 

 

Masih teringat, ketika pertama kali Abu di antar untuk belajar mengaji kepada beliau belasan tahun yang lalu. Bersama ketan kuning dan seikat sapu lidi, yang melambangkan bahwa orang tua telah melepaskan tanggung jawab kepada beliau untuk dididik dan kalau membangkang diberi hak untuk dicambuk dengan sapu lidi tersebut.

 

 

Masih teringat, ketika Tengku tetap mempertahankan metode klasikal walau desakan menggunakan Iqra sudah dihembuskan oleh para orang tua santri. Kata beliau “sejak zaman dahulu kita menggunakan ini (Al- Qur’an kecil) dan akan berganti sampai kapanpun!” Kekeraskepalaan yang menurun ke Abu.

 

 

Masih teringat, ketika Abu “gagu” membaca Kitab Masahillah dan Hidayah yang bertuliskan Arab-Melayu (bahkan sampai sekarang!). Beliau hanya tertawa dan mengatakan bahwa cara membaca Abu seperti “Cina Muallaf” dan terkadang beliau berkata bacaan Abu seperti “Kambing berjalan diatas batu”

 

 

Saat mendengar kepergian beliau menghadap sang Khalik, Abu hanya mampu mengucapkan Innalillahi wa Innaillaihi Rajiun. Menyadarkan Abu bahwa tak ada yang abadi, dan waktu Abu juga akan tiba nantinya.

 

 

Tengku Syams, beliau tidak dijemput oleh peluru ketika butir-butir itu tidak memiliki mata yang siap menerjang siapa saja disaat awan gelap mengelanyut diatas negeri kita.

 

 

Tengku Syams, beliau tidak dijemput oleh gelombang besar yang meratakan hampir segenap negeri kita dan menjemput banyak teman dan saudara kita.

 

 

Tengku Syams, beliau dijemput oleh sesuatu yang membuat VOC merasa bosan terhadap cengkeh di Maluku dan memalingkan mata serakahnya ke Mataram dan membangun kultur Industri Kolonialisme baru. Benar beliau ditaklukkan oleh Gula! Yang selalu menemani kegemarannya minum kopi.

 

 

Satu hal yang Abu ingat dari beliau adalah “Apapun jalan yang engkau ambil, jangan pernah menyesalinya karena waktu tak berulang.” Sebuah ironi yang mengingatkan akan kisah leluhur beliau yang bersedih meninggalkan Damaskus menuju ke Timur.

 

 

Guru maafkan muridmu yang tak berkunjung ke rumahmu lebaran kemarin. Padahal biasanya sepulang Shalat Ied biasanya Abu pasti bersilaturrahmi ke rumahmu dulu. Maafkan muridmu yang telah kau limpahi segala hikmah dan pengetahuan namun menganggap engkau tak terkalahkan oleh waktu. Padahal engkaulah yang dahulu mengajarkan bahwa setiap makhluk fana akan takluk atas sesuatu yang dimana Allah S.W.T bersumpah atasnya.

 

 

izinkan muridmu mengutip sebait puisi yang dulunya pernah Abu tulis untuk mengenang kepergian seseorang.

 

 

Ketika nanti tiba suatu hari dimana engkau meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bersedih untukmu dan merasa sangat kehilangan atas dirimu maka sesungguhnya engkau telah berhasil sebagai manusia di dunia dan selesailah tugas-tugasmu di dunia ini.

Ya Allah, ampunilah segala dosanya, tutupi segala aibnya, terimalah segala amalannya dan lipatgandakan pahala untuknya. Amin.

Dan sungguh walaupun saat ini Abu merasa kehilangan, merasa sedih namun muridmu ini ikhlas. Semoga Allah S.W.T menerima engkau ditempat yang layak.

HANYALAH SEORANG HAMBA

20 November 2008

Tuhan engkau adalah penguasa apa-apa yang dilangit dan dibumi. Engkau Maha Tahu siapa hamba-MU ini yang telah Engkau limpahi kasih dan sayang-Mu sepanjang hidupnya. Engkau bentuk ia dengan tangan-MU sehingga jadilah ia.

 

 

Tuhan dihadapan-MU bahkan lidah hamba kelu. Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang ada didalam dada hambamu. Yang mencoba tak berpaling dari jalan-MU, yang merasa takut, yang merasa kerdil, yang lemah, yang tak berdaya upaya, yang manja dan hanya mengharap pada rahmat-MU.

 

 

Tuhan, hamba-Mu ini angkuh. Dengan polah dan tingkah yang mengotori bumi-MU. Hamba memohon keampunan dari-MU sebelum dan sesudahnya. Hamba hanyalah seorang licik yang memanfaatkan Kepengasihan dan Kepenyayangan-MU. Hamba malu dengan sebenar-benarnya rasa malu.

 

 

Tuhan, sebegitu banyak karunia-Mu kepada hamba. Mohon jangan masukkan hamba dalam golongan orang-orang yang tiada mensyukuri nikmat-MU.

 

 

Tuhan, Engkaulah tempat hamba mengadu. Menyambut hamba dengan tangan terbuka. Belaian dan kasih sayang-MU menyejukkan hamba-MU yang keras kepala. Yang tiada berusaha keras untuk meraih-MU namun takut sangat akan murka-MU.

 

 

Hamba hanyalah seorang hamba yang remuk dan rindu akan ridha-MU.

 

Hidup terkadang memberi kejutan yang tak terduga. Ibarat permen terkadang ia berasa manis, asam, asin bahkan kadang-kadang pahit. Tak terduga apa yang terjadi selanjutnya. Mengutip perkataan sahabat Abu, Mr.Popo “rasa pahit itulah yang mendewasakan kita”. Membuat kita tersadar dari lena gemerlap dunia.

 

 

Malam minggu, mengingat sudah seminggu tidak keramas karena shampoo telah habis. Abu memutuskan belanja. Supermarket Suzuya, Harun square Lhokseumawe menjadi tujuan. Kebetulan Shogun 125 R biru baru selesai diservis abis-abisan paska dilanggar ABG hari sabtu dua-minggu sebelumnya. Cuaca malam tak pernah bersahabat dengan tubuh Abu, tapi dengan mengenakan jaket Abu pun segera meluncur.

 

 

Sungguh canggih sistem perbelanjaan disupermarket. Ia menggoda kita dengan pajangan-pajangan cantik dan menarik. Awalnya Abu hanya berniat hanya membeli shampoo Pentene saja malah mencomot lima kantong plastik permen, Deodorant Rexona, tiga sabun Harmoni, dua botol Pocari Sweat, dua bungkus Chitato besar untuk snack dirumah. Huhu, target belanja Abu Overload.

 

 

Sekeluar dari pintu kaca Supermarket. Abu membuka plastik permen untuk kemudian mengulum sebutir Relaxa. Dibalik bilik kaca ATM Mandiri disebelah kiri Pintu keluar Abu melihat seseorang baju kumal dan memegang kertas plastik permen Kiss duduk bersandar pada Anjungan Tunai Bank Nomor satu di Indonesia itu sambil mengipas-ngipas tubuhnya. Abu pun menghampiri dan tanpa banyak bicara memberikan uang seribu. Orang tersebut melihat ke Abu yang sedang mengulum permen ia berkata, “Rokok apa bang?” kemudian ia mengeluarkan sebuah keranjang dagangan asongan yang tersembunyi disebelah kirinya.

 

 

Abu terkesiap, orang ini bukan pengemis. Lagi-lagi Abu salah menilai orang. Menutupi rasa malu Abu berkata, “Sampoerna Mild bang.” Ia menyerahkan sebatang kepada Abu beserta uang kembalian empat ratus rupiah. “Sekalian saya bakarkan bang.” Ia menyalakan Maches Tokkai-nya. Terkejut dengan perkembangan situasai Abu hanya ho-oh dan mengiyakan perintahnya.

 

 

Menuju ke parkir, Abu menstarter Shogun 125 R biru yang telah menemani selama tiga tahun belakangan. Udara malam menusuk menerpa wajah Abu dalam perjalanan pulang ke kontrakan  seolah tak berasa seperti biasa. Kali ini kehangatan menjalar memenuhi seluruh rongga tubuh dan Abu tersenyum. Kesalahan kali ini membuat Abu menyadari bahwa selama ini telah berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan dan seenaknya menjustifikasi orang lain.

 

 

Membaca buku memang baik, kepercayaan diri itu penting. Tapi apabila berlebihan itu semua akan membusuk dijiwa. Kalau dingat-ingat mungkin banyak teman yang tersakiti dengan performa Abu selama ini yang terlalu “text book” dan cenderung kaku. Ini membuat orang-orang disekitar menjadi jengah hingga akhirnya menjauh. Pulang ke rumah, memandangi Perpustakaan pribadi yang amat sangat  Abu sayangi. Pijakan Abu tersebut telah usang, bahkan dunia telah bergerak ketika buku-buku tersebut diterbitkan. Abu adalah orang yang terpikat dengan teori dan sampai sekarang masih. Mungkin kejadian kali ini ditambah beberapa kejadian belakangan membuat Abu sadar untuk segera merevitalisasi diri. Dunia ini berubah dan lihatlah! Bukan hanya dibalik buku namun juga harus membuka mata lebar-lebar dan memperhatikan sekeliling. Malam itu, Abu lama berpikir sebelum tertidur. Sebelum benar-benar terlelap Abu berharap, semoga besok benar-benar menjadi hari yang baru. Terima kasih Abang penjual asongan yang telah membuka mata untuk memandang dunia.

 

 

“Hikmah muncul kapan saja, dimanapun  dan dari siapapun”

KALAH PERANG

5 November 2008

Hari ini keselamati kegagalanku

Panji-panji  kerkoyak berbau anyir darah

Dua puluh lima ribu pasukan telah hancur

Menjadi  benulang dilantak musuh

 

Aku tak boleh menangis

Walau badan penuh nanah

Pedangku belum bersarung

Masih ada pertempuran lain

 

Sorak-sorai kini tak ada

Buat seorang Jenderal yang kalah

Aku harus bangkit

Dan membangun kavaleri baru

 

Walau dalam hidup, tak semua keinginanmu tercapai

“Nikmat tuhanmu yang manakah lagi yang engkau dustakan”

Hari kekalahanku, 5 Nopember 2008

            Hari itu, ketika kami pertama kalinya kami bertemu setelah sekitar tujuh tahun sudah aku mengenakan jubah sufi dengan menolak dunia meski terkadang ia datang menghiba. Sebagaimana orang bijak menemukan kebijaksanaan dalam kebersihan batin, seperti itu pula seorang pertapa menemukan perenungan dalam kesunyian. Sepi adalah teman yang paling sejati, ia datang ketika yang lain pergi. Menemani dan selalu menemani.

            Disaat itulah mata kami berjumpa, aku dengan segala kenaifan adalah orang yang percaya bahwa cinta itu datang pada pandangan pertama, tanpa mau bertanya, tanpa mau peduli. Kulipat baik-baik shuf*) dan  kutinggalkan goa tempatku berkhalwat untuk menyambut dunia, menikmati cahaya mentari, mengecup suara burung-burung memandangi hijaunya dedaunan. Untuk pertama kali setelah sekian tahun, aku berusaha membuat wajah seorang perempuan bersemu merah. Tak pernah kupercaya sedemikian mudahnya. Entah perasaan apa yang mengendap ketika kami tertawa, kupikir itu bahagia. Kuceritakan segala legenda, segala kisah-kisah. Ia begitu bergelora dan menganggap diriku mengetahui segalanya.

Namun tiba-tiba ia menjauh, sebegitu cepatnya perubahan dunia sehingga aku terpana. Aku tahu, meski ekor mata mengikuti namun mukanya berpaling tak kenal. Ada sesuatu yang berubah pada dirinya, sesuatu yang berbeda. Aku tak tahu itu apa. Ingin kutepikan perasaan ini. Bukankah seorang laki-laki harus lebih berpijak pada logika.

Aku bertanya, ia menghindar sampai disuatu ketika ia tak bisa berlari. “Aku tidak sebaik yang engkau pikirkan, aku adalah seorang pengkhianat.” Katanya. Aku tidak mengerti, sebuah pengkhianatan seperti apa? Bahkan tidak terjadi apa-apa diantara kami, mengapa bisa hadir sebuah kisah pengkhianatan?

“Semakin lama bertemu denganmu, semakin aku merasa bersalah pada cintaku.” Ia menunjukkan sebentuk cincin dijari manisnya. Bodohnya aku selama ini tak pernah memperhatikan. Aku hanya tersenyum, menertawakan kebodohanku sendiri. Egoku berkata, “Aku tidak tahu, tapi lebih tepatnya tidak mau tahu.” Tidak terjadi apapun diantara kami yang harus disesali, mohon jangan mendramatisir keadaan.

“Tamparlah aku, pukullah aku tapi kumohon jangan dekati aku lagi dengan pesonamu.” Pintanya. Namun bagaimana bisa, tanganku ini tak pernah menyentuhnya jadi bagaimana mungkin memiliki kemampuan untuk menampar. Dan tinju ini untuk melindungi bukanlah untuk menyakiti. Meski telah meninggalkan goaku, menanggalkan shufku namun aku tetaplah seorang sufi.

 “Aku pergi, tapi tidak sepertimu aku tidak akan menyesali pertemuan kita.” Aku kembali ke goa, mengenakan kembali shufku. Kali ini dengan pemahaman baru, kembali pada sahabatku yang paling setia diantara segenap makhluk-Nya, yaitu sepi.

 

Shuf*) = Jubah yang terbuat dari wol. Selanjutnya dipercaya sebagai asal muasal dari kata sufi dimasa kekhalifahan Abbasiyah Abad 11-12 M.

 

The Cave, 2 Nopember 2008