YOUNG AND OPTIMISTIC

28 October 2008

Sebagai akademisi Abu lebih mempercayai sektor riil sebagaimana diusung oleh Bapak Teori Ekonomi Dunia, Adam Smith. Meskipun kurikulum di setiap kampus di Indonesia lebih berkiblat kepada Jhon Maynard Keynes, lewat kebijakan Fiskal dan Moneter yang berarti campur tangan pemerintah. Tak heran hujjah-hujjah ekonomi yang Abu kemukakan kerap berseberangan dengan pihak pengajar yang menepikan “the insvible hands” yang pernah membuat Eropa Barat berjaya. Dan lebih berkiblat ke Amerika Serikat.

 

Beruntunglah Abu bertemu praktisi yang sepaham, Jojo. Mantan seorang ketua OSIS SMU 1 Seruway, Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam drama nasib mengantarkannya menjadi seorang Cleaning Service di KPPBB Lhokseumawe yang telah berganti nama menjadi KPP Pratama Bireuen.

 

Saat ini kami masih muda. Abu (24 tahun) dan Jojo (22 tahun). Bersama gejolak idealisme bercampur aduk dengan optimisme kami bermaksud membangun sebuah Firma yang harapan kami akan mendunia kelak. Tekad kami saat ini adalah membangun sektor riil dengan modal pas-pasan.

 

Berikut, kumpulan pemikiran kami sebagai dua orang anak muda yang masih mentah. Abu, sebagai PNS bagian Pengolahan Data dan Informasi di KPP Pratama Lhokseumawe sekaligus mahasiswa semester tiga Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Malikussaleh dengan Jojo, seorang praktisi pemilik Joker Cell. Terinspirasi oleh filem Young and Dangerous inilah hasrat kami untuk menjadi manusia yang muda yang berguna.

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

J.M. CELL

 

AKTA PENDIRIAN

 

Aset awal Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah)

 

Komisaris Utama                                                                 Direktur Utama

 

 

 

Milvan Murtadha                                                                  Joko Priono

 

KONTRAK HUKUM DAGANG

 

  • Penyertaan saham awal oleh Tuan Milvan Murtadha selaku Komisaris Utama, Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah) diserahkan kepada Tuan Joko Priono selaku Direktur Utama.
  • Dengan ini aset dibagi kepada tiga bahagian, dikonversikan kepada saham sebanyak 10 (sepuluh) lembar ;

1.    40 % Perusahaan

2.    30 % Komisaris

3.    30 % Direktur

  • Terhitung perusahaan mulai berjalan tanggal 1 Nopember 2008 dan harus dilaporkan pada setiap akhir bulan.
  • Seandainya terjadi pailit maka direktur utama harus mengembalikan penyertaan modal sebesar 30% serta seluruh aset disita oleh Komisaris Utama.
  • Penambahan saham harus disetujui minimal 2/3 dari pengambil keputusan setingkat top manajerial.
  • Komisaris Utama memberikan wewenang penuh kepada Direktur Utama untuk merekrut karyawan.
  • Strategi penjualan, pengembangan usaha merupakan hak preogratif Direktur Utama sebagai penanggungjawab Eksekutif. Disampaikan secara lisan atau tulisan kepada Komisaris Utama sebagai representasi kekuasaan Legislatif.
  • Hal yang bersifat tekhnis dimusyawarahkan lebih lanjut.
  • Dokumen ini merupakan salinan dari catatan asli pendirian J.M Cell yang ditulis tangan oleh Tuan Milvan Murtadha yang merupakan manuskrip historis. Diadministrasikan oleh Komisaris Utama.

 

 

Memoranding of Understanding

 

Dengan dihadiri oleh pendiri, Tuan Milvan Murtadha selaku penyerah mandat dan Tuan Joko Priono selaku penerima mandat. Disaksikan oleh Allah S.W.T beserta seluruh malaikat-Nya.

 

Banda Masen, Banda Sakti, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam

26 Oktober 2008, Pukul 23.33  WIB

 

Penyerah Mandat                                                                Penerima Mandat

 

 

 

Milvan Murtadha                                                                  Joko Priono

 

Masa depan tak pernah pasti, kita tak akan pernah tahu. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali dan tak ada salahnya jika bermimpi. Postingan ini sebagai pelecut untuk tetap bersemangat apapun yang tejadi kelak.

 

 

Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya.

Mimpi berputar-putar.

Hidup ini  adalah mimpi berkelanjutan.

Sampai mentari mengecupmu.

DINGIN SEPERTI ES KRIM

27 October 2008

“Hari ini aku ulang tahun, tolong belikan aku es krim.” Seorang perempuan mendekati Abu yang asyik nongkrong disamping gerobak es krim di depan kampus UNIMAL. Kuliah sabtu-minggu, pukul sebelas hari sabtu, matahari menyengat. Abu kenal perempuan ini, kami satu SMU angkatan 2002. Bahkan ketika Abu berkuliah di Unsyiah Banda Aceh kami satu angkatan pula. Namun beda nasib, Abu diDO dari Strata satu Akuntansi sedang ia menyelesaikan Diploma III dijurusan Akuntasi. Sekarang Malikussaleh mempertemukan kami, sama-sama melanjutkan kuliah. Kuliah Non-Reguler Sabtu-Minggu khusus bagi yang sudah berkerja, dikota Lhokseumawe. Abu di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lhokseumawe sedang ia disebuah bank dikota ini juga. 270 km dari kota asal kami Banda Aceh.

 

“Oh ya, aku traktir deh. Bang buatkan satu untuk gadis manis ini!” Sebenarnya ketika SMU kami tak pernah berbicara, beda habitat. Ketika kuliah di Unsyiah kami sama-sama tahu bahwa satu almamater SMUNTIG Banda Aceh, dan sekarang ketika sama-sama lagi kuliah diUNIMAL pun kalau berjumpa kami hanya say hai saja, tak lebih.

 

“Terima kasih.” Ia tersenyum lalu duduk ditepi trotoar dekat Abu mengunyah es krim sambil berdiri dekat pohon asam. Jauh dari kampung dan sendiri dihari ulang tahun membuat teman tadi, sebutlah namanya Rini menyapa Abu yang secara hubungan emosional terikat dengannya sejak SMU walau tak pernah dekat. Abu ingin menyapa lebih lanjut, tapi tidak tahu berbicara apa soal sebelumnya kami tak pernah saling mengenal secara personal. Sebatas I know Her dan begitupula sebaliknya.

 

“Semalam mama menelpon. Biasanya beliau bilang menikahlah, menikahlah tapi semalam mama tak akan mengatakan apa-apa lagi katanya.” Malah ia yang membuka pembicaraan.

 
Kalau dilihat Rini memiliki wajah yang cantik, pekerjaan oke. Menurut logika Abu sangatlah mudah baginya menemukan pendamping hidup. Dengan sok tahu Abu nyeplos. “Mungkin Rini terlalu keras bekerja?”

 

 

Sambil memainkan sendok es krim Rini berbicara, “Pekerjaan? Memang waktuku begitu sempit. Senin-Jumat bekerja, Sabtu-Minggu kuliah. Masalah juga banyak. Itu bukan masalah karena aku menikmatinya.”

 

Abu tidak terlalu paham masalah ini. Sungguh jadi hanya diam saja.

 
“Teman-temanku sudah menikah, punya anak dan jadi orang tua. Berbeda sekali rasanya dengan waktu yang kujalani sambil bekerja. Sudahkan begitu ketinggalan aku?” Ia melihat ke Abu. “Hari ini aku dua puluh empat tahun.” Tambahnya.

 

“Sama, malah tuaan Abu delapan bulan lagi.” Abu bermaksud menghibur. “Plus dengan status yang sama, jomblo.” Supaya suasana cair Abu tertawa.

 

“Yang menyiksaku dan membuatku gelisah adalah terpencil, sendiri.” Rini mengabaikan pendapat Abu. Ia terlihat begitu rapuh, dan saat itu Abu yang sedari kecil lemah terhadap air mata berpaling ketika ia membersihkan wajahnya dengan tisu.

 

“Kamu sendiri bagaimana? Adakah sama?” Tanya Rini ke Abu.

 

Jika itu palu godam, maka Abu sudah terjejer dua meter. Ingin rasanya berbohong untuk menyenangkan hati Rini. Tapi Abu harus jujur, “Terus terang aku belum terpikir untuk itu.”

 
“Apa jadinya jika semua laki-laki berpikiran sama denganmu.” Ia bangkit dan membersihkan roknya yang kotor akibat debu trotar tadi. “Jangan menunda hak seseorang perempuan yang telah ditakdirkan menjadi istrimu.” Setelah berkata tepat didepan muka Abu, Rini pergi ia menyeberangi jalan masuk ke kampus.

 

Abu hanya diam saja, seolah tak peduli namun sungguh kata-katanya menjadi perenungan. Selama ini Abu terlalu dingin, terfokus pada rencana sendiri, tak peduli orang lain apalagi kerlingan, menyendiri dan sangat merasa nyaman karenanya. Haruskah itu berubah? Aduh, untuk sementara Abu tidak mau memikirkan itu. Masih banyak koleksi buku yang belum terbaca, setidaknya selesaikan itu dulu.

BARA

24 October 2008

Sebenarnya dia tak lebih dari seorang lelaki busuk dengan impian muluk. Seseorang dengan keangkuhan dan berpusat pada dirinya, berpikir bahwa dunia tercipta hanya untuknya. Padahal dirinya tak lebih dari seorang pemalas dan kalah dalam pertarungan hidup. Terpaku pada mimpi, aspirasi dan rencana sendiri kemudian terhempas dan menciptakan dunia yang hanya dimengerti olehnya. Begitu sulit hidup dengannya. Lelaki itu selalu tahu kapan waktu yang tepat baginya untuk membuatku menangis lalu menertawakannya dengan kejam.

           

 

Tapi kata-katanya begitu manis. Meski terkadang menghina dan tak selalu memuja. Sungguh begitu mudah ia membuatku melupakan bahwa belum semenit lalu ia membuatku menangis. Senyumnya bagai tanpa dosa. Dan yang paling luar biasa puisi yang ia ciptakan mempunyai perasaan yang kuat dan mendalam mengakar ke bumi. Entah bagaimana seorang lelaki yang penuh kontradiksi, individualistis dan dingin mampu menjadikan kata sebagai budaknya.

           

 

Sungguh aku tak pernah bisa memahami apalagi mengerti mengapa aku terjerat olehnya. Satu kata darinya bisa mengaduk perasaanku, rasanya sudah ratusan tahun aku mengenal bajingan tengik itu. Ia yang telah mengajari aku bagaimana membenci, membara pada dirinya. “Itulah perempuan, jika keinginannya tak terpenuhi pasti mengancam atau menangis.” Adalah perkataan seorang lelaki yang percaya bahwa perempuan adalah makhluk lemah. Ia tak akan pernah tahu dendam seorang perempuan akan menggerakkan seluruh dunia bersamanya, mengkerdilkan seorang lelaki kemudian menghancurkannya tanpa ampun.

           

 

Saat ini kebencianku padanya membara. Mengapa? Tanyakan saja pada lelaki lemah dengan cengkraman baja yang telah merenggut kemudaanku itu. Bibirku tersenyum padanya namun sungguh inginku menginjak-injak kepala bangsat itu. Sudah cukup penghinaannya kini tiada lagi cinta untuknya. Dari seorang gadis yang dulu pernah jatuh cinta, cinta yang paling membara dari segala cinta yang pernah ada, cinta yang paling pantas dari segala cinta. Cinta yang baranya sampai ke jiwa dan raga. Dan kini tiada bersisa. Perasaan anak manusia tak dapat dimengerti.

           

 

Oh man, I completely don’t know you.

 

YANG MUDA YANG BERGUNA

22 October 2008

Menjelang 80 Tahun Sumpah Pemuda, Dalam sejarah negeri ini kaum pemuda selalu menjadi pendobrak zaman, kita bisa melihat kebelakang, Sumpah pemuda 1928 yang merupakan tonggak awal bersatu padunya seluruh kepulauan dengan nama Hindia Belanda (saat itu) bertransisi menjadi sebuah identitas bernama Indonesia justru dipelopori oleh kaum muda.

 

Masih ingat dengan peristiwa Renggas dengklok, sebuah momen dimana kaum pemuda menculik Sukarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan segera setelah terjadinya kevakuman kekuasaan paska Jepang menyerah kalah oleh sekutu.

 

Masih banyak peristiwa yang diilhami oleh di negeri kemudian hari, seperti aksi-aksi di tahun 1966, Malari 1974 dan reformasi 1998.  Yang membedakan hanyalah setting waktu dan problematika yang dihadapi.

 

Kaum pemuda (tentunya pemudi termasuk didalamnya) merupakan pendobrak ketika generasi yang lebih tua mengalami pengapuran, untuk memberi energi baru kepada bangsa ini kerap kali menyelamatkan bengsa untuk direfresh kembali. Sifat bertindak tanpa berpikir terkadang diperlukan dalam situasi tertentu.

 

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah apa yang terjadi bila kaum muda sendiri mengalami pengapuran dan membisu. Saat ini hedonis seolah telah merasuk kedalam sumsum kita. Hedonisme adalah sebuah faham yang amat berbahaya, sekarang memperoleh banyak pengikut yang ironisnya adalah kaum muda, Narkotika, free sex dan ritual-ritual “memberhalakan dunia” lainnya seolah adalah hal yang biasa dan amat disayangkan seolah “Tersosialisasikan” dengan cepat melalui Media (Televisi khususnya) dan pergaulan.

 

Suatu hari tubuh kita akan menjadi tua dan itu adalah sunnatullah segala daya upaya kita lakukan takkan mampu mencegahnya, namun jiwa dan semangat kita pertahankan kemudaannya, untuk itu selamatkan generasi muda selamatkan bangsa! Menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya. Paling tidak dimulai dari diri kita sendiri dulu.

PADA PANDANGAN PERTAMA

18 October 2008

            “Dalam cinta terdapat setengah kebijaksanaan dan setengah kegilaan,” Bukankah dalam bahasa Arab gila dan cinta ada dalam kosakata yang sama yaitu majnun.

 

 

Telah banyak kutuliskan kata Cinta. Cinta…Cinta…Cinta…Hingga melebihi seribu jumlahnya. Namun kuyakinkan tak pernah kata itu kupersembahkan untuk perempuan mana pun dimuka bumi, namun ketika melihat dirinya lidah ini yang biasa fasih terasa kelu. Mana harimau jiwaku? Mengapa mendekam bersembunyi dalam goa.

 

 

Dia adalah perwujudan sifat indiffrent, acuh. Wajahnya setenang telaga yang tak terduga kedalamannya bagi siapapun jua. Dia adalah pembuktian mengapa patung dewi Venus selalu dipuja dalam keheningannya, mungkin dia bukanlah ciptaan tuhan yang paling indah tapi ia adalah yang paling misterius setidaknya bagiku.

 

 

Dibalik bibirnya yang merah merekah bak apel Australia tersimpan lidah setajam sangkur tentara yang siap mengiris telinga yang mengangga. Kata-kata hanyalah permainan untuk mengeluarkan suara indahnya. Tidak kasar, tidak lembut, tidak keras, tidak renyah hanya ketus dan pahit. Pertahanan sekokoh setangguh benteng Konstantinopel justru menambah daya tarik dirinya.

 

 

Tak pernah ku duga sebelumnya bahwa diriku jatuh terkapar seperti ini, tepat pada pandangan pertama!!!

 

 

Akibatnya sekujur tubuh ini terasa berbeda, jantung terasa rock on roll dengan hanya mengingat namanya. Serasa badan menjadi aneh, memori di kepala selalu mengingat wajahnya, serasa ada yang tertinggal apabila belum bertemu dengannya. Dibalik topeng besi dan baju zirah yang kukenakan terasa dada ini bergetar hebat.

 

 

Apakah ini yang namanya Cinta? Aku tidak tahu, karena sungguh seumur hidup baru sekarang mengalami ini. Mana mental baja yang selama ini kubanggakan? Mengapa harus mencair bila bertemu dengannya. Kacau! Rasanya fikir dan perasaan tumbang tindih. Aku mau tapi juga malu, aku berani tapi juga takut.

 

 

Kemana harusku cari jawaban? Semua buku yang telah kubaca tak pernah menjelaskannya. Pengalaman nihil, bertanya juga malu. Maka pada andalah aku bercerita.

 

 

“Ketika cinta datang menyapa maka datanglah,

meski engkau tahu dibalik sayapnya tersimpan,

sebuah pedang yang siap menebasmu.”

 

 

SANG TIRAN

15 October 2008

Sang Tiran berkuasa menggunakan ketakutan, seorang tiran mengekploitasikan segala potensi dari ketakutan ketakutan. Teror adalah sebuah instrumen penting yang digunakan untuk menekan pihak lain sebelum yang ditekan itu punya keinginan untuk melawan.

 

Sang Tiran menyukai diperlakukan dengan diistimewa, dengan kelakuannya tersebut ia membenarkan ketidakadilan. Padahal tak seorang nabi dari agama manapun ingin diistimewakan diantara, dan setiap nabi pasti mencintai keadilan.

 

Sang Tiran memuja dirinya berlebihan dan memandang orang lain dengan rasa jijik, ia menganggap bahwa dirinya yang berhak atas segalanya. Seorang Tiran berpikir segala kebaikan hanyalah miliknya, sedang yang lain buruk semua. Dia dengan logika sempitnya.

 

Sang Tiran paling menikmati jika seorang sahabat “mengkhianati satu sama lain” demi dirinya. Karena itu berarti ia berhasil, ia telah menjadikan dirinya sebagai berhala di dunia yang dipuja-puja oleh orang lain.

 

TEMPAT TIADA KEMBALI

13 October 2008

Wajah itu memandangiku tersenyum, muka itu masih basah belum sepenuhnya bersih dari butiran air sehabis mandi tadi. Selendang yang ia kenakan masih belum rapi, sepertinya ia terburu-buru mempersiapkan diri sekarang. Padahal sudah empat puluh menit yang lalu aku menelpon dan berjanji akan datang ke rumah orang tuanya. Dasar perempuan! Selalu ingin tampil perfeksionis dan mengenakan topeng. Tak bisakah kau tampil apa adanya, rutukku dalam hati.

 

 

Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku. Memang senyumnya masih sama, tapi garis waktu telah menenggelamkan kemudaan darinya. Wajahnya sudah tertarik seperti lapangan bola, tubuh itu seolah tak kuasa menopang gumpalan lemak yang menggunung, kucuri pandang menembus selendang dan baju gamisnya dan maaf payudaranya telah jauh melebar. Dalam hati aku berkata, mampuslah kau! Hari ini aku menertawakan keangkuhanmu dulu. Waktu masih bersamaku namun tidak untukmu perempuan. Dendam sekaligus rindu menyelimutiku.

 

 

“Silahkan duduk bang, mau minum apa?” Tawarnya kepadaku dan sahabatku.  Keadaan kalut tidak membuat ia menghilangkan keramahan merupakan sisa kebangsawanan kuno yang masih melekat didirinya. Sekuat mungkin aku membantah tapi hanya dalam hati akan pesonanya, ia perempuan yang mengaku tak pernah memahami apalagi mengerti keinginanku. Aku benci dia! Aku datang kemari hanya untuk meminta maaf bukan memaafkan, tak akan pernah! Dia tak harus tahu bagaimana kelicikan seorang lelaki.

 

 

Kami berbicara santai, seolah semuanya telah berlalu. Sejujurnya ia lebih banyak berbicara dengan sahabatku sedang aku masih tenggelam dalam lamunan, sesekali ikut berbicara namun selebihnya kuhabiskan waktu singkat ini dengan memandangi wajahnya. Aku yang berusaha menata hati ternyata kerap menunduk jika ia melihatku. Bagaimana ini? Mengapa aku masih lemah dihadapannya seolah seorang bocah yang takluk oleh guru. Karena kesal kutertawakan ia sewaktu salah bicara, wajahnya malu tapi kepuasan amat sangat menjalari tubuhku. Seorang lelaki dilahirkan sebagai penakluk hiburku bukan pencundang apalagi pesakitan.

 

 

Dialah yang harus bertanggungjawab atas hidupku yang penuh kontradiksi. Menjalani kesedihan walau selalu sukses dalam keduniawian. Mengapa aku harus harus mempunyai perasaan yang sebegitu kuat dan mendalam pada seorang yang telah menjadi nenek-nenek sebelum waktunya padahal seluruh dunia mengenalku sebagai laki-laki yang berkemauan keras, individulis dan selalu tampak dingin.

 

 

Lagi-lagi ia tersenyum padaku, hampir saja gletser dihatiku meleleh. Tolonglah jangan tersenyum lagi rintihku. Ini dia kelemahanku, senyumnya yang telah sekuat tenaga kuhapuskan dari seluruh memori diotakku. Sekali lagi waktu bersamaku, sejam sudah berlalu waktu. Walau sebagian kecil, oh tidak! Tapi bagian yang amat sangat kecil hatiku tak ingin beranjak pergi dari rumah orang tuanya yang selalu angker dimataku ini. Aku harus pergi, sehancur apapun hati seorang lelaki sangatlah tidak pantas ia menampakkannya apalagi didepan seorang perempuan yang dibenci walau sekaligus dicintainya.

 

 

Aku pergi tanpa kata rujuk, bersama sahabatku. Ketika ia mengantarkan ke gerbang, dalam sejam ini untuk pertama kali aku jujur dengan berkata bahwa kehadiranku hari ini hanya untuk melihat ia tersenyum. Ketika pipinya bersemu dadu, secepat itu aku sadar harus segera pergi. Mengambang, dan aku tak tahu perasaannya namun hatiku sakit teramat sangat ketika harus meninggalkannya saat itu tanpa kepastian akan masa depan. Aku harus kuat dan berjanji ini adalah kali terakhir aku menemuinya, cukuplah ini tak akan pernah lagi walau nanti ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Pergi bagai angin dan menghilang dari muka bumi khusus untuknya, itulah tugasku yang terakhir untuknya sebagai seorang laki-laki yang pernah ditaklukkan olehnya. Dia yang pertama dan terakhir, selanjutnya tak akan pernah ada.

 

 

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh

BUMI ITU BULAT ATAU HAMPA?

11 October 2008

“Anak-anak ada yang tahu bentuk bumi?” Seorang guru melemparkan pertanyaan di kelas.

 

           Seorang murid mengacungkan tangan “Bentuk bumi ini hampa bu.” Sambungnya percaya diri.

 

           Guru IPA tersebut hanya bisa menggaruk-garuk kepala, “Menurut penelitian bumi itu bulat, dan telah dibuktikan secara ilmiah memangnya dari mana kamu dapat pelajaran bumi itu hampa?”

 

            “Jeh, Ibu ni! Ini perkataan ulama tidak mungkin salah! Karena ulama itu pewaris nabi bu.” Anak tersebut mantap.

 

            “Siapa nama ulama yang mengatakan kepada kamu Hanafiah?” Tanya guru tersebut penasaran.

 

            “Ibu boleh tidak percaya perkataan saya, tapi ini Tengku Salek Pungo yang bilang bu.” Hanafiah dengan penuh keyakinan

 

 

XXXX

 

 

            “Saya tidak pernah berkata seperti itu!” Pernahkah teman-teman melihat wajah TSP gusar? Kalau belum bayangkanlah, ini saatnya karena wajah beliau sangat…….

 

            “Saya cuma bilang bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara menuju akhirat, kenapa si Hanafiah malah menafsirkan bahwa dunia ini hampa.” TSP mengusap-usap janggut putihnya.

 

            “Jadi saya harus bagaimana? Hanafiah itu baru kelas 3 SD umurnya saja baru 8 Tahun dan pasti dia tidak akan menerima penjelasan dari saya Tengku.” Ibu guru tersebut berkeluh kesah kepada TSP.

 

            “Salah tafsir seperti ini tidak bisa dibiarkan.” TSP menggeleng-gelengkan kepala.

 

            Raut muka TSP seperti layaknya Hamzah Fansuri Ar-Raniry yang merasa kecewa ketika perkataannya disalahartikan oleh murid-murid beliau di Abad 17 dulu, sehingga sempat memunculkan ajaran Wihdatul Wujud di Aceh Darussalam sebelum akhirnya ditumpas habis oleh Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala selaku Kadli Malikul Adil.

 

            Melihat hal itu Abu yang kebetulan berada disitu, meski sudah berusaha menahan tapi tidak bisa tidak keluar juga tertawa cekikikan. Namun segera menahan kembali demi melihat mata TSP.

 

            “Ilmu alam itu bukan bagian Tengku, makanya kalau kurang ilmu jangan asal bicara.” Celutuk Abu asbun.

 

            “Ana tidak asal bicara bu, cuma si Hanafiah saja yang salah mengartikan atau ……” Suara TSP terputus.

 

            “Atau kamu Abu cukup ilmu untuk meluruskan ini semua” Mulut TSP tersenyum manis namun matanya memvonis Abu.

 

           

 

XXXX

 

 

            “Mulut itu harus dijaga, inilah akibatnya, benar kata pepatah mulutmu harimaumu. Sekarang malah saya yang harus menyelesaikan masalah Tengku Salek Pungo, bagaimana pula caranya ini ya?” Abu ngomel dalam hati sambil berjalan kearah anak-anak SD yang sedang bermain bola sepak.

 

            “Muhammad Hanafiah, kemari sebantar!” Jurus pertama, panggil dia dengan nama lengkap. Biasanya anak-anak suka dipanggil seperti itu, hehehe tawa Abu dalam hati.

 

            Hanafiah segera menghentikan permainannya dan menuju ke arah Abu.

 

            “Salam lekom om Abu.” Hanafiah mengangkat tangan.

 

            2-0! Pertama dia mengingatkan Abu untuk memberi salam, kedua Abu paling benci dipanggil oom.

 

            “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Kali ini Abu tidak ingin salah langkah lagi, makanya menjawab dengan lengkap biar tidak kentara malunya.

 

            “Ada apa om Abu? Hanafi sekarang sibuk.”

 

“Ini anak berkarakter, masih kelas 3 SD sudah bisa mengucapkan kata sibuk untuk permainan bolanya, ada kemungkinan dimasa depan bisa menjadi anggota Tim Nasional neh. Halah, bukan itu tujuan kamu kesini Abu!” Pikiran Abu kok malah jadi ngawur.

 

“Muhammad Hanafiah, saya dengar kamu ada problem ya disekolah.” Jurus kedua, pakai bahasa Inggris biar kelihatan intelek. Plus Abu menggunakan kata saya untuk menghindari pengucapan om.

 

“Yang mana? Oh yang itu mah bukan blem om Abu, Cuma perbedaan pendapat saja.”

 

“Perbedaan pendapat yang bagaimana?” Abu pura-pura tidak tahu.

 

“Ini guru Hanafi bilang bumi ini bentuknya bulat, sedang menurut yang Hanafi tahu dari Tengku Dalek dunia ini hampa. Biasalah orang tua tidak mau mendengar kebenaran dari orang muda.”

 

“Analisa dari mana ini? Anak seumur ini, bisa berpikir seperti itu. Jangan-jangan ini ulahnya TSP neh.” Gerutuk Abu dalam hati.

 

“Kapan Tengku Salek Pungo berkata seperti itu?” Tanya Abu.

 

“Pas pengajian abis isya malam selasa lalu, om Abu sih sok sibuk jadinya sering absen makanya tidak tahu perkembangan terbaru.”

 

3-0! Lagi-lagi sindirannya maut coy……

 

            “Setahu saya, Tengku Salek punggo Cuma bilang bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan bukannya hampa.” Langkah ketiga, segera luruskan masalah, lelah juga berdebat dengan anak berumur 8 tahun.

 

            “Itukan hanya permainan kata-kata, masakan om Abu tidak tahu.”

 

            Lha, ini dia masalahnya penafsiran kata-kata sendiri oleh si Muhammad Hanafiah.

 

            Ngomong-ngomong, si Muhammad Hanafiah jago juga ngeles, darimana lagi kalau bukan dari TSP anak ini mendapatkan ilmu bersilat lidah.

 

            “Jelas beda dong, salah satu kata bisa besar akibatnya.” Abu mencoba meyakinkan salah satu kader TSP ini.

 

            “Begitu ya? Tapi Bulat dan tempat persinggahan juga bedakan? Berarti saya benar dong.” Katanya.

 

Justifikasi dari mana ini? Abu hanya bisa menggaruk-garuk kepala.

 

            “Begini Hanafiah.” Kali ini Abu harus merendahkan ego, berjongkok untuk melihat sosok Hanafiah bukannya hanya dari atas.

 

            “Lihatlah diri Hanafiah, secara fisik seorang Muhammad Hanafiah memiliki wajah yang tampan seperti Hitrik Rosan, namun secara sifat Muhammad Hanafiah orangnya baik, sabar dan tekun.” Jurus keempat, sisipi kebenaran dengan pujian.

 

            “Begitu juga Bumi yang kita tinggali ini, secara fisik ia bulat walaupun tidak sepenuhnya bulat. Secara sifat dia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju tujuan akhir kita.” Mudah-mudahan ijtihad dadakan Abu ini benar, kalau salah bisa panjang ceritanya ini kebelakang.

 

            “Yang benar om Abu.” Tanyanya, syukurlah esensi maksud Abu sudah mulai tertangkap dari matanya yang bercahaya.

 

            “Untuk apa saya berbohong” Abu terpaksa bersilat lidah, karena merasa tidak terlalu yakin dengan perkataan sendiri.

 

            “Yang benar saya mirip Hitrik Rosan?” Tanyanya tersenyum sambil memegang dagunya bergaya.

 

            “Ya kira-kira begitulah Hanafiah, cuma bukan itu maksud saya yang utama melainkan bumi yang kita bicarakan tadi.” Abu kesal sekesalnya tapi mencoba untuk tetap sabar, lha logikanya anak-anak.

 

            “Hahaha, apa yang om Abu katakan tadi masuk ke kepala saya kok tapi…” Suara Muhammad Hanafiah terputus karena ia menoleh kearah teman-teman sepermainannya yang memanggil untuk melanjutkan permainan.

 

            “Tapi apa?” Abu tidak mau kehilangan momen jadi harus sedikit memaksa.

 

            “Tapi om Abu bukan ulama, bukan pewaris nabi jadi Hanafi harus menanyakan lagi kepada Tengku Salek.” 4-0! Ini namanya pembantaian habis-habisan, Abu membayangkan Headline sebuah tabloid olah raga AbuNawas FC di cukur 0-4 oleh Hanafiah FC.

 

            Namun Abu harus memunculkan wajah tenang

 

            “Bagus, itulah yang saya harapkan dan kamu Muhammad Hanafiah harus melakukan itu, supaya tidak salah persepsi.” Ketika terdesak gunakan Jurus kelima bahasa tinggi.

 

            “Kalau begitu, sekarang Hanafi mau sambung main bolanya om. Okey.” Ia pun berlari menghampiri teman-temannya kembali bermain bola sepak.

 

            Huh, Abu menarik nafas lega. Jurus Terakhir, biar TSP yang menyelesaikannya. Penjelasan beliau nantinya akan lebih mudah diterima otak si Hanafiah daripada uraian Abu, TSP yang berbuat maka seharusnya beliau juga yang harus bertanggung jawab. Mudah-mudahan sedikit penerangan dari Abu kepada Hanafiah bisa membantu beliau dan bukannya malah membuat TSP tambah susah.

 

            Ngomong-ngomong Abu penasaran bagaimana penjelasan TSP nantinya kepada Muhammad Hanafiah. Apa sebaiknya Abu tanya saja ya? Tapi nggak ah, Abu kapok dengan yang satu ini. Lebih baik diam saja ah….

 

 

XXX

 

KETIDAKAGUNGAN CINTA

10 October 2008

Lelaki: (Diam membisu, kaku seolah melihat ketakukan terbesar datang menghampiri).

 

Perempuan: (Menjatuhkan diri, memeluk kaki lelaki itu).

 

Lelaki: Layakkah dirimu, yang telah menolakku mendapatkan cintaku. Meski sebuah kerajaan engkau tawarkan padaku, sama saja. Ikatan itu telah pudar. Arang telah mencoreng keningku, hari ini menyambut uluran tanganmu dan membiarkan kelak aku akan menagihmu dengan piutang sakit hati. Aku tidak mau hal itu terjadi.

 

Perempuan: Aku datang bukan dengan impian menjadi ratu dihatimu lagi, memenangkan cintamu. Aku kemari untuk memulihkan kehormatan kembali padamu. Aku siap walau untuk itu harus hidup dalam murka siksamu.

 

Lelaki: Adakah aku menjumpai cintaku dulu. Tidak saat ini.

 

Perempuan: Tentu kekasihku. Dulu dan sekarang sama.

 

Lelaki: Tidak! Tidakkkah dahulu engkau memikirkan itu! Rasa malu yang dikarenakan olehmu membentang sepanjang hidupku dan membakar amarah seluruh keluargaku. Hari ini engkau menemuiku kembali pada kisah yang ingin kuhapus. Tahukah kamu sejak hari itu hingga hari ini, wajahmu telah menghilang dari ingatanku. Mengapa?

 

Perempuan: Aku dikejar-kejar rasa bersalah lebih mengerikan daripada perasaanmu. Sejak aku mengingkarimu hari itu, engkau tak berkata sepatah kata pun. Dan hari ini aku yang berkhianat memohon kata-katamu. Biarlah maafmu membakar dosa-dosaku atau setidaknya hukum aku dengan sebuah talak.

 

Lelaki: Engkau yang berlari dariku bukan sebaliknya. Betapa hatimu sebegitu mudah berbolak-balik. Datang dengan rujuk dan sekarang menuntut cerai. Wahai perempuan laknat mengapa engkau begitu?

 

Perempuan: Karena hukumanmu sungguh kejam. Mengapa diam seorang lelaki mampu mengacaukan segala kebalauan kehidupan perempuan, terkatung dan ditakdirkan untuk hancur.

 

Lelaki: Aku pernah mencintaimu tanpa bertanya, tanpa kebimbangan, jiwaku seolah menemukan sisi lain didirimu. Namun itu semua tak berarti padamu. Maka jangan salahkan aku jika tak mengetahui diamku menyiksamu. Mulutku membisu untukmu hingga hari ini hanyalah untuk menjaga kerapuhan hatiku.

 

Perempuan: Jadi keputusanmu?

 

Lelaki: Aku tidak pernah mengerti dirimu perempuan, apalagi keinginanmu. Jika engkau tanyakan keputusanku maka pergilah. Tinggalkan aku sekali lagi dengan tiada rasa kasihan dalam kepastian harapan untuk menunggu mati. Hanya kali ini talakku jatuh atasmu. Pergilah bagai burung dengan kepak sayap baru.

 

Perempuan: Engkau terlalu agung! Untuk mendapatkan cinta yang penuh hasrat menikam, baik olehku maupun perempuan lainnya. Jangan terlalu bijak, karena ia akan menenggelamkan dirimu.

 

Lelaki: Jangan takut! Aku tahu dengan pasti apa yang kubutuhkan. Meski hatiku semakin hancur dengan permintaan terakhirmu tadi, jiwaku penuh diliputi rasa damai tanpa pernah berputus apa dari rahmat Allah S.W.T.

 

Perempuan: Engkau terlalu baik, itulah alasan mengapa aku menafikanmu dulu.

 

Lelaki: (Tersenyum, sesuatu hal yang telah lama hilang diwajahnya. Semburat kepuasaan terpatri jelas dalam gurat keyakinannya. Tubuh perempuan yang pernah ia cintai sekaligus benci berubah menjadi sesosok bangkai menjijikkan).

 

Perempuan: (Terkejut. Lelaki yang dulu dengan mudah ia lucuti keperkasaannya itu sekejap berubah menjadi monster. Tiba-tiba ia disergap ketakutan yang amat sangat dan ia pun bergegas pergi).

TOPENG

9 October 2008

Topeng! Bagaimana kita memaknai kata tersebut. Dalam banyak tulisan Topeng dimaknai buruk. Sebuah pertanda kemunafikan dimana seseorang tidak menjadi dirinya sendiri. Topeng darimana asal kata tersebut secara etimologi? Mungkinkah ia merupakan singkatan dari Tutup Bopeng? Tapi yang pasti Topeng adalah alat untuk menutup wajah.

 

 

Topeng? Samakah secara fungsi dengan cadar atau make-up atau juga bedak? Tak usah itu dipolemikkan karenakan akan menghasilkan sesuatu yang absurd. Topeng dalam arti ini juga digunakan dalam opera, kabuki, atau wayang orang.

 

 

Pernahkan kita bertanya mengapa para Super-Hero kecuali Fantastic Four mengenakan topeng. Batman, Spiderman, Gundala, Pahlawan Bertopeng, Ultraman, Power Rangers bahkan secara harfiah Superman mengunakan topeng? Apakah para pahlawan memiliki krisis kepercayaan diri harus menggunakan penyamar identitas. Dua kepribadian yang bertolak belakang menjadi senjata untuk mengaburkan siapa dirinya. Akankah ini dapat digolongkan tindakan hipokrit? Atau secara lebih lugas sebagai pengecut?

 

 

Apakah ini merupakan gejala universal bahwa manusia memiliki sisi lain yang disembunyikan, entah itu baik atau buruk. Apakah ini menambah kepalsuan dunia.