PADAMU PEREMPUANKU

25 September 2008

Senyum merekah bibir merah

Bagai mawar ditengah sepi

Menanti cinta musafir lalu

Luruh dan lusuh terenggut paksa

Lirikan mata yang sayu

Biru seperti pelangi

Menebar pesona merenda dosa

Menikam hasrat yang kasmaran

Dibawah cahaya bulan dan bayang-bayang

Seribu angan  pun melayang

Bersama pikiran nakal bersemi

Mengundang senyum penuh arti

 

Banda Aceh, Jumat 27 Juli 2001

TEMUKAN MENTOR RAHASIAMU

23 September 2008

Jikalau anda membaca banyak tulisan dari berbagai penulis, kamu mungkin bisa menemukan seseorang yang paling cocok dengan dirimu. Mungkin penulis ini mengembangkan karakter yang mengingatkan akan dirimu, mengungkapkan hal yang ingin kamu ungkapkan, atau menjalin alur imajinatif yang menghanyutkanmu. Maka kamu dapat menjadikan penulis ini sebagai mentor rahasiamu. Tempat berpaling untuk menciptakan gagasan dan inspirasi.

Jika boleh jujur hampir semua guru terbaik saya tidak pernah bertemu dengan saya. Sejak kecil saya membaca roman Sutan Takdir Alisyahbana, mendapati diri saya belajar lebih banyak tentang apa yang ingin saya katakan dan bagaimana caranya. Saya belajar dari mentor-mentor yang lain seperti Umar Kayam, Ali Hasymi, Gunawan Muhammad dan banyak lagi. Kata-kata mereka membuat saya termotivasi, tertantang, terilhami, dan bergairah.

Mereka adalah ideal model bagi saya dalam menulis, mungkin secara pribadi akan ada banyak ide-ide mereka yang tidak terlalu sama dengan saya. Namun itu wajar karena tidak ada satu manusiapun yang diciptakan sama.

Bagaimana dengan dirimu? Sudahkah memiliki mentor rahasia?  Saran saya “Jangan pernah ragu meniru penulis lain, seorang penulis yang tengah mengasah ketrampilannya membutuhkan seorang model. Pada akhirnya kamu akan menemukan dirimu sendiri yang lebih baik, yang lebih berkarakter.

Akhir kata, walaupun sebagai penulis saya belum mencapai karakter paripurna dan masih menggali potensi diri untuk berkembang, begitulah pengalaman saya semoga bermanfaat.

 

NB : Kepada para mentor, teruslah berkarya dan saya akan selalu membayangi.

Pahamilah apakah hidup dalam diri manusia, sebagaimana aku memahami bahwa cinta yang tumbuh dalam hati manusia.

 

Pahamilah apakah yang tidak diberikan pada manusia, sebagaimana aku memahami apa yang tidak kuketahui, yang tak pernah diberitahu padaku. Apa yang sesungguhnya kubutuhkan dalam hidupku.

 

Pahamilah apakah yang menjadi bekal setiap manusia untuk hidup, sebagaimana aku memahaminya sebagai kemuliaan-Nya, kasih sayang-Nya, pengampunan-Nya. Dan itulah membuat hidup ini penuh makna.

INDAH BUNGA

20 September 2008

Yang terindah dari sekuntum bunga
Bukanlah tatkala mekar di musim semi
Jumlah tak terhitung
Mewarnai sisi-sisi dunia

Yang kutahu akan gugur
Dan tak satupun bertahan
Semuanya layu, tiada bersisa
Seiring musim semi berakhir

Yang terindah dari sekuntum bunga
Disaat jatuh tertiup angin
menyebar kesuburan di dalam tanah
Indah bunga pada kematiannya

Banda Aceh, 8 Maret 2005

MEREKA YANG BANGKIT

19 September 2008

 

Pernahkan anda merasa gagal? Pernahkah anda mempunyai perasaan tidak bisa bangkit kembali? Hal itu dikarenakan anda berada dititik nadir kehidupan anda, maka optimislah dan teruslah berusaha untuk bangkit dan memperbaiki diri. Karena kemenangan/kesuksesan yang sejati bukanlah keberhasilan yang terus-menerus tanpa pernah mengalami kegagalan. Dimana rasa percaya diri yang berlebihan membuat keberhasilan itu menjadi rapuh dan mudah goyah.

 

Lihatlah kemenangan bangsa Mongol/Tartar yang menaklukkan negeri China, Khawarizmi, Khalifah Baghdad dan menguasai imperium membentang dari Korea hingga Persia dan sebagian Arab (tidak termasuk Mesir dan negeri dibelakangnya tentunya). Dan dari Samudera Hindia hingga Siberia. Akan tetapi dengan hanya satu kekalahan di Ain Jalut, Palestina menghadapi Pasukan Mesir dibawah pimpinan Al-Muzhafar Saifuddun Qathaz membuat bangsa mongol/Tartar hancur dan tak pernah bisa bangkit kembali selama-lamanya.

 

Pemenang sejati adalah orang-orang yang mampu bangkit dari segala kesulitan terburuk yang dialaminya untuk kemudian menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih berhati-hati dan lebih berpengalaman.

 

Walaupun kadang-kadang yang bangkit itu bisa terlena kembali, seperti Adolf Hitler. Seburuk-buruknya Adolf Hitler sebagai seorang pribadi, sebagai seorang pemimpin negara. Ia adalah orang yang mampu mambawa Jerman dari kepapaan setelah Perang Dunia I, dan perjanjian Versailes yang melecehkan bangsa Jerman. Menjadi bangsa yang besar dalam jangka waktu hanya 12 tahun! Walaupun diakhir priode ambisinya yang megalomania mengakibatkan berjuta-juta orang sengsara.

 

Atau lihatlah bapak proklamator kita bung Karno, yang keluar masuk tahanan dipindahkan dari satu daerah ke daerah lainnya, malah menghasilkan wawasan kebangsaan yang utuh serta menghasilkan karya monumental “Indonesia Menggugat” dalam tahanan penjara. Keyakinannya akan kemerdekaan Indonesia tak pernah padam, walaupun sekali lagi diakhir periode kepemimpinannya ia dianggap berbuat kesalahan sehingga harus meletakkan jabatan dan disingkirkan.

 

Belajar, belajar dan belajar, baru kita bisa bangkit. Sebagai contoh di Jepang, Ieyasu Tokugawa penguasa provinsi Mikawa menghabiskan masa kecil dan remajanya sebagai sandera dari Yoshimoto Imagawa penguasa provinsi Suruga demi kelangsungan pronvinsi Mikawa. Dalam masa tahanan “sangkar emas” yang penuh dengan tekanan tersebut Ieyasu menyusun grand stategy sehingga siapa sangka kelak di kemudian hari ia mendirikan Keshogunan Tokugawa yang menguasai Jepang dari tahun 1600-an hingga dijatuhkan oleh retorasi Meiji diakhir 1800-an.

 

I Shall return” adalah ungkapan legendaris Jenderal MacArthur dari Amerika menghadapi situasi porak-porandanya pasukan Amerika Serikat di Pasific di tangan armada Jepang diawali oleh serangan kilat ke Pearl Harbor pada 9 Desember 1941. Dan benar saja, di tahun 1944 pertempuran di Iwo Jima Kepulauan Pasifik menjadi titik balik kebangkitan Sekutu dalam front Pasifik hingga akhirnya memenangkan Perang Dunia II.

 

 

Contoh lain, konon pendiri dinasti Ming terkalahkan dalam sembilan puluh sembilan pertempuran melawan pasukan dinasti Chin dan hanya memenangkan satu pertempuran terakhir yang ia manfaatkan sebaik mungkin sehingga berdirilah dinasti Ming saat itu di negeri China saat itu.

 

Atau lihatlah bagaimana Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Khalifah Ustmaniyah yang menaklukkan konstantinopel dalam satu serangan pamungkas, setelah sebelumnya berkali-kali gagal. Bahkan usaha penaklukan Konstantinopel sudah dimulai oleh Muawiyah jauh sebelumnya. Atas usaha Muhammad Al-Fatih yang saat itu masih berusia 23 tahun hingga saat ini Konstantinopel (sekarang Istanbul) hingga saat ini menjadi bagian dari Daulah Islamiyah.

 

Pengalaman adalah guru yang terbaik, maka belajarlah dari pengalaman. Meski itu pahit ataupun manis. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mau belajar.

 

MANAJEMEN KRITIK

18 September 2008

 

Seseorang yang berhenti mendengarkan kritik dan belajar walau sehebat apapun dia tak akan menjadi lebih baik”

 

 

Dalam berbagai kasus, kritik telah menghancurkan mental banyak orang. Sehingga mereka terpuruk dan tak dapat kembali lagi.

 

 

Tidak sedikit pula, orang-orang yang membalikkan keadaan. Justru kritik membuat mereka menjadi lebih baik, kritik justru menempa batin dan jiwa mereka.

 

 

Namun terlalu mendengar kritik juga tidak terlalu baik, sering maju mundur karena terlalu mendengar kritik, sehingga segala perencanaan dan keinginan justru hancur sebelum dimulai.

 

 

Tak sedikit pula yang menulikan telinga mereka menghadapi kritik, menurut pengamatan penulis orang-orang yang tidak mau mendengar kritik justru memiliki karakter yang mapan, artinya sikap dan mental sudah mencapai final sehingga tidak mungkin mengubahnya kembali.

 

 

Secara umum ada 3 reaksi dalam menerima kritik :Menerima, menolak dan terakhir bernegoisasi.

 

 

Bagaimana dengan pilihan anda sendiri dalam menerima kritik? Segalanya terserah kepada anda. Tetap keukeuh dengan pendirian walau dibilang sebagai kepala batu namun kelebihannya memiliki dasar karakter yang kuat. Atau menuruti kritik tersebut dengan resiko dianggap terombang-ambing namun kelebihan dari pilihan ini kita selalu masih ingin belajar.

 

 

Apapun pilihan anda, saran penulis jangan berlebihan.

HANYALAH LELAKI BIASA

13 September 2008

 

Ibu sadarlah anakmu ini bukanlah seorang pangeran yang memiliki pasukan berkuda walau ayah dari ibumu masih merindukan taman-taman kota sevilla saat mendengar cerita nenek moyangnya sebelum disuruh memilih menanggalkan akidah atau pergi dari semenanjung iberia oleh gabungan Castilla dan Arragon saat benteng terakhir di Andalusia, Granada tertaklukkan.

 

 

Ibu ketahuilah anakmu ini bukanlah putra mahkota dengan segala kebesarannya walaupun ayah dari ibumu masih terkenang mengingat singgasana kakeknya ditanah Gayo sebelum Van Daalen dengan bala Marsose meratakan segalanya. Karena menolak membantu Kaphe Belanda menangkap seorang wanita tua bernama Tjoet Nyak Dhien.

 

 

Ibu sadarlah anakmu bukanlah lelaki tegar, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ibunya hanyalah seorang pasukan pejalan kaki dibawah Panglima Polem kepala sagi XXII dalam perjalanan panjang melawan kumpeni sebelum akhirnya kalah dan menyerah.

 

 

Ibu ketahuilah anakmu bukan lelaki perkasa, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ayahnya hanyalah seorang pengikut Sultan ketika kraton dinajiskan oleh kaphe Belanda, ia yang menitikkan airmata saat kampungnya dibakar dan harus mengungsi ke Keumala bersama Yang Mulia Muhammad Daudsyah yang masih belia.

 

 

Ibu adalah orang yang paling anakmu ini cintai dimuka bumi ini, senyummu adalah tawa bagiku, Air matamu adalah isak tangisku. Namun ibu janganlah engkau menetapkan syarat yang berat akan jodoh diri ini, akan keturunan, akan kemasyuran, akan keelokan rupa, sedang kesederhanaan cukup bagi anakmu ini.

 

 

Ibu adalah tempat dimana segala bakti anakmu ini dicurahkan, dengarkanlah kata-kata ini, pertimbangkanlah wahai ibu. Apapun keputusanmu akan anakmu terima segala takzim karena kebahagianmu adalah kebahagian diri ini jua adanya.

 

 

Ditempat ini, tiada pula cintaku bersisa. Oh tidak, karena cintaku akan selalu ada, kemana pun jiwaku mengembara.

 

 

Apakah yang membedakan inspirasi dan imajinasi? Dalam mengarang inspirasi bersumber dari pengalaman atau kejadian yang kita lihat. Sedang imajinasi adalah sesuatu yang berasal dari pemikiran. Seorang penulis yang baik adalah seseorang yang mampu mengkombinasikan keduanya, dan jika harus memilih salah satu adalah lebih baik jika bersandar pada imajinasi, karena ia tak berbatas berbeda dengan inspirasi tidak selalu datang setiap saat.

 

 

Aku telah bersepakat dengan diriku sendiri bahwa akan mengubur apa yang dinamakan cinta. Aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai diriku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri yang membimbingku untuk menghindarinya. Cinta telah menodai keyakinanku pada cinta itu sendiri. Apakah salah jika aku menolak cinta? Munafikkah jika aku menafikan adanya cinta dalam hatiku? Cinta hanya menjadikan manusia sebagai budak belaka. Cinta telah membuatku dewasa untuk mengerti, sekaligus memaafkan kelakuanku. Butuh waktu untuk memahami bahwa cinta adalah keindahan memerlukan penafsiran yang utuh dan menyeluruh, saat ini cinta bagiku hanyalah luka yang membawa pada sebuah pilihan, membentengi diri dari pesonanya sekuat mungkin, sekukuh yang kubisa. Cinta, jasad, jiwa dan segala sesuatu di diri ini maafkan aku yang belum siap menerimamu kembali

 

 

Adakah hal diatas adalah fakta (inspirasi) atau fiksi (imajinasi)? Sebenarnya sebagai penulis sangat tidak baik membuka rahasia. Namun banyak kritik membuat penulis harus berbicara.

 

 

Penulis dalam menulis puisi, sesuai text book lebih bergantung pada imajinasi. Tanpa bermaksud mengharu biru, tanpa bermaksud menolak datangnya cinta hanya menulis apa yang ada didalam isi kepala. Salahkah ia? Akan menjadi salah jika ia seolah menjadi menipu kepada banyak orang, namun dari segi kesusastraan ia benar, bebas. Segenap kritik dari banyak teman membuat penulis membuka jati diri sumber penulisan ini. Bahwa perempuan yang penulis sering ceritakan adalah sosok unreal, ia hanya bayangan yang penulis susun berdasarkan sebuah puisi bertahun lalu.

 

 

Angin laut bernyanyi sepi

Burung di awang terbang rendah

Saksikan riwayat hidup bergulir

Alam selalu menyimpan misteri

 

Kembalilah kesini wahai sertakan selendang indahmu

Hadirkan mimpi abadi sepanjang masa

Tak terlukiskan, tak terbayangkan

 

Kala siang takluk akan malam

Aku masih bermohon padamu

Menembus awan ‘tuk turun kebumi

Dalam sempurnanya ciptaan Tuhan

 

Banda Aceh, 20 Agustus 2001

 

 

Bagi sebagian orang sosok bidadari tersebut terlihat sangat nyata. Apakah itu karena penulis mampu mengaduk perasaan banyak orang melalui imajinasi tanpa batas ataukah memang berbakat menjadi seorang penipu ulung. Untuk berbagai kesalahpahaman penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

 

Sesungguh pun ketika jiwa ragaku terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri nun jauh. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para Emir, menunggangi kuda terbaik dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, memandangi selat Bophorus, atau hanya bercengkrama ditaman-taman kota Sevilla.

 

 

 

Dinda bahagiakah engkau disana

Sekian lama tiada berjumpa

Tlah lama tak mendengar kabarmu

Hilang dalam ruang dan waktu

Pernah kita merasa bahagia

Membaui hujan menjejak tanah

Luruhnya debu membersihkan kalbu

Memandang bias-bias pelangi

Pernah juga kita menangis bersama

Tiada pernah kuingkari

Tegar menghadang tempaan

Memandang senyummu itu

Dinda, kita yang takkan bertemu kembali

Ku ingin tiada lagi air matamu untukku

Dinda dimanapun engkau berada

Kuharap engkau bahagia disana

Lhokseumawe, 26 Maret 2006

 

Apakah menurutmu bulan itu indah? Tolong beritahu aku keindahan bulan hingga kau memandanginya sambil berbaring.” Tanya Artemis pada Apollo.

 

Bulan dalam kesendiriannya, menahan gempuran segala meteroid menghantam hanya untuk memantulkan cahaya matahari ke bumi. Membuatku merasa tak sendiri disaat paling sepi sekalipun.” Mata Apollo masih memandangi cahaya bulan redup diangkasa.

 

Aku yang tak paham tentang makna kesepian, kesedihan dan ingin jadi milik siapa diriku ini. Terlebih aku hanya ingin hidup demi diriku sendiri didunia ini.” Kegamangan adalah penyulusup yang menusuk siapapun ia, termasuk Apollo.

 

Haruskah aku bersumpah atas nama bulan untuk meyakinkanmu saudaraku, bahwa aku tidak pernah akan meninggalkanmu.” Tanya Artemis pada kembarannya tersebut.

 

Jangan pernah bersumpah atas nama bulan adikku. Karena bulan bergantung pada matahari, ia kerap hilang ditelan cuaca. Walau ia mampu menguasai arus pasang dilautan namun itu hanya sementara dan tak pernah selamanya.” Apollo mengelengkan kepala.

 

Artemis tersenyum, sungguh ia tak menyangka kembarannya yang perkasa. Terlalu menyilaukan dari jauh, merupakan perwujudan kesempurnaan baginya sebegitu lunak, bagaikan sebuah kerang yang melindungi diri dengan cangkangnya. “Aku harus berbuat apa?”

 

Bersyukurlah engkau dianugerahkan nikmat air mata dimana dirimu tenggelam didalamnya namun ia mampu menahan beban seberat gunung tertinggi didunia, ia mampu membendung derita melebihi samudera.” Apollo menarik nafas panjang, hidungnya berair.

 

Artemis diam. Kecerdasan mengalahkan keinginan sang putri bulan untuk banyak berbicara.

 

Saudariku, bulan dan matahari sudah ditakdirkan jauh jaraknya. Seperti kepergianmu kelak dari sisi kami, namun yakinlah sejauh apapun matahari dari bulan ia akan tetap mengirimkan sebentuk sinaran yang akan membuat bulan tetap bercahaya. Dan apabila aku merasa sepi dengan kepergianmu nanti maka abangmu ini akan menatap bulan dan bercakap-cakap dengannya.” Apollo mengakhiri percakapan, bangun dan beranjak pergi.

 

Adakah sesuatu yang lebih kental dari darah? Berikan aku jawabannya.