Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.
Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang ini dari Bukittinggi mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat.
Jika pertanyaan yang sama diajukan pada diri saya, maka jawabannya adalah MENULIS. Sensasi yang dihasilkan olehnya sungguh luar biasa, membuat ketagihan serta menjerat kuat. Tidak percaya? Tanyakan saja pada Homerus, Zaid bin Tsabit, Imam Bukhari, Empu Prapanca atau siapa saja yang namanya abadi karena sesuatu yang ia tinggalkan dalam bentuk tulisan. Awalnya malu-malu selanjutnya tak peduli yang penting MENULIS dan terus pada setiap kesempatan.
Untunglah ada media untuk berbagi disini, untuk mengungkapkan sesuatu hal yang mungkin sepele bagi orang lain. Atau sekedar melepaskan kelelahan setelah berkutat dalam angka-angka, sebagaimana hidup masa kini yang penuh dengan perhitungan dimana logika selalu menenggelamkan bahagian otak kanan. Akhir kalam, seperti Chairil Anwar ingin berteriak, “Aku ingin menulis seribu tahun lagi dan ketika tiba waktuku tak ingin seorangpun menganggu.”

“SELAMANYA”

22 August 2008

“Selamanya.” Telunjukmu tepat dihidungku. Waktu telah banyak meninggalkan kita namun kamu belum sedikitpun berubah masih dalam keangkuhan yang sama, seperti dulu.

“Selamanya.” Aku tahu arti kata-kata itu. Masih sama dengan dulu. Tak usah kau ulang berkali-kali. Sekali berarti hingga akhir waktu. Aku sudah tahu ketika pertama kali engkau menyebutkan maka itulah keputusanmu. Final.

“Selamanya.” Masih juga kamu ucapkan itu. Datar. Dunia berubah begitupun aku, namun kamu tetap bertahan di kenangan zaman lama. Ketika engkau masih menjadi seorang dewi yang penuh akan mantra dan puja. Sadarlah nona.

“Selamanya.” Dengarkan dulu, aku datang dengan senyum untuk mendengarkan bagaimana kabarmu sekarang, bukan untuk cinta. Bukan pula untuk menertawakan keadaanmu.

“Selamanya.” Tak kuduga kamu telah terjebak curigaisme berlebih terhadap apapun. Juga masih keras bagai karang, namun itu semua sudah tak menarik lagi bagiku. Rasa sakitmu yang mengundangku untuk membezuk.

“Selamanya.” Bahkan caramu mengusirku pun masih sama. Pahamilah jika kamu masih seperti ini maka selamanya engkau akan menjadi pesakitan seperti saat ini.

“Selamanya.” Baiklah aku pergi. Mengingatkan aku untuk tidak peduli padamu selamanya. Biarlah kau membusuk disana tanpa pertolongan. Apa urusanku.

Lhokseumawe, 22 Agustus 2008
Pukul 01.30 Dini Hari

Kira-kira sebulan yang lalu Abu mengirimkan kepada Mr.Popo sebuah email tentang tes kepribadian, email tersebut juga Abu tembuskan pula ke sesama blogger lainnya yang dekat dengan Abu.

Mr.Popo pernah berjanji ketika terakhir kami bertemu selepas Lebaran kemarin, apabila Abu mengirimkan email yang berkualitas maka ia akan membalas dengan email yang berkualitas pula. Dan kemarin ia memenuhi janjinya, email yang menarik hingga Abu merasa perlu memostingnya disini.  

Judulnya MALAYSIA SEBUAH PROTOTYPE NEGARA IDEAL. (Sebuah judul yang Abu rasa provokatif mengingat hubungan negara kita dengan negara tetangga tersebut akhir-akhir ini kurang baik). Berikut butir-butirnya :  

1.      Sistem ketatanegaraan Malaysia yang berdasarkan Kesultanan yang ditopang oleh-oleh adat Melayu yang bersendikan Islam yang pekat membuat negara tersebut stabil didalam negeri dan jauh dari kegoncangan.  

2.      Malaysia adalah negara yang tahu menempatkan dirinya dalam pergaulan Internasional, hal ini dibuktikan dengan perjanjian pertahanan bersama dengan negara-negara Commonwealth bersama Inggris, Kanada, Australia, Selandia baru, sehingga seuatu negara yang hendak menyerang negara tersebut akan berpikir berkali-kali karena akan berhadapan dengan negara-negara yang memiliki kekuatan militer yang jelas sudah diakui kehebatannya.  

3.      Tentara di Raja Malaysia, merupakan unit efisien dan tidaak terlalu besar. Hal ini sesuai dengan taktik perang modern yang tidak menekankan akan banyaknya jumlah pasukan akan tetapi kecanggihan alat perang.  

4.      Dari segi bahasa, Malaysia sadar bahwa dalam pergaulan Internasional adalah sangat penting untuk bisa bercakap dalam bahasa Global dalam hal ini bahasa inggris, sehingga Pemerintah Malaysia sangat mengenjot masyarakatnya untuk berbahasa Inggris. Target mereka di tahun 2015 bahasa Inggris sudah tidak diajarkan di sekolah menegah pertama karena siswa-siswa sekolah dasar sudah harus menguasai bahasa tersebut sebelum lulus.  

5.      Belajar dari Jepun, Malaysia menyadari arti pentingnya seorang guru. Disana menjadi cek gu lebih elit dari pada seorang dokter, dari sisi prestise dan gaji. Pemerintah malaysia menargetkan di tahun 2010 setiap guru minimal lulusan starata dua atau setingkat master.  

6.      Malaysia adalah negara yang mengetahui potensi dirinya, walaupun negaranya kecil mampu membuat dirinya maju. Sebagai contoh produksi kelapa sawit Malaysia merupakan nomor satu didunia.  

7.      Malaysia mampu menciptakan iklim kondisi yang kondusif yang stabil untuk investasi dan perlancongan, hal ini ditunjuknya semakin bertambahnya investasi dan perlancongan di negeri tersebut dari tahun ke tahun.  

8.      Malaysia mampu memberdayakan etnis-etnis yang bermukim dinegaranya, selain tidak terjadi pertentangan antar etnis di negara tersebut. Etnis melayu lebih diarahkan sebagai pegawai sipil, Etnis Keling ( India) lebih diarahkan ke militer dan Etnis Cina diarahkan ke bisnis. Masing-masing etnis menikmati perannya masing-masing, hal ini dibuktikan sebagai contoh dengan tidak adanya sebuah etnis melarikan uang negara ke luar negeri.  

9.      Di negara Malaysia, nasionalisme tidak disebutkan dengan kata-kata dan sekedar retorika akan tetapi dengan perbuatan. Sebagai contoh lagi, apabila sebuah telepon umum dibuat didepan sebuah kedai maka pemilik kedai tersebut akan membersihkan telepon umum tersebut setiap hari sebagai bentuk pengabdian terkecil kepada negaranya.  

10.  Malaysia mengajarkan kepada penduduknya supaya pintar, arti katanya dinegara tersebut pemerintah dan masyarakat sadar bahwa di era globalisasi ini yang terpenting bukan hanya kekayaan alam dan sekedar daya kreatifitas. Hal ini dibuktikan kesadaran mereka terhadap Hukum Kekayaan Intelektual yang jelas memiliki inti bahwa yang terpenting itu bukanlah siapa yang menciptakan akan tetapi siapa yang pertama mendaftarkannya.  

Membaca email dari Mr.Popo. Abu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, disini Abu menampilkannya untuk menambah wawasan dan membuka cakrawala berpikir kita, silahkan membantah karena Abu sendiri tidak membenarkan atau menyalahkan pendapat siapapun selaku pribadi yang ingin berlaku objektif dan rasional, seperti halnya pendapat Mr.Popo diatas.

Entah bau apa ini, sejenis apak menyengat. Suasana Pasar Pagi membawa keharuman tindih menindih antara pesing ikan, anyir darah serta bau alami sayuran dan buah. Lapak pedagang campur baur dengan lalu lalang pembeli, kepalaku berputar-putar bertambah pusing dengan sengatan matahari yang lansung menerpa ubun-ubun.

            Aduh mengapa aku bisa berada disini? Ini karena Sekolah Tercinta tempatku bersekolah meliburkan diri selama bulan puasa ditambah hari raya Idul Fitri. Masalahnya liburan ini bersamaan dengan panen kacang dikebun kami.

            “Saleh, lebih baik mengisi liburan kali ini kamu menjual hasil panen kita di pasar! Sementara Bapak menyiapkan lahan kebun untuk ditanami cabe.” Aku tidak pernah tahu secara ilmu pertanian benar atau tidaknya, keluarga kami yang sejatinya adalah petani kebun punya tradisi menyelingi menanam cabe dengan kacang panjang, supaya tanah lebih subur. Karena tanaman cabe merusak tanah sedang kacang panjang menggemburkannya begitu tradisi berkata. Perintah ibu bagiku bagaikan sebuah dekrit, walaupun dengan setengah hati mau tak mau aku dengan takzim menurut.

            Maka terdamparlah aku disini, di sebuah lapak pasar pagi. Bukan tempat yang wow karena hanya menjadikan koran sebagai alas dan goni kering sebagai tempat kacang panjang yang telah diikat oleh ibuku di rumah selepas Shubuh. Lapakku berada dipintu masuk pasar pagi lebih layak disebut tempat dadakan, berbeda dengan los permanen yang ada didalam lagi setelah melewati jalan batu yang agak becek di depan.

Maka itulah kegiatanku selama beberapa hari ini menjual sayur di pasar, sungguh memalukan seorang calon intelektual harus duduk diapit tukang jahit sepatu dan pedagang tomat disaat matahari mulai meninggi disertai sinar yang mulai menyengat di saat bulan puasa dimana serasa seluruh badan mengharapkan keteduhan.

Mataku selalu siaga. Siapa tahu ada teman sekolah yang kebetulan mengantar ibunya berbelanja, aku tak mau harga diri jatuh karena dianggap sebagai penjual sayur walaupun hanya paruh waktu. Apalagi kalau hal ini sampai ke telinga idaman hatiku Khumaira, aku tidak mampu membayangkan jika hal itu terjadi gengsiku bisa hancur berkeping-keping. Untunglah dalam beberapa hari ini belum ada bahaya berarti. Dua hari lalu, Sri Rezeki pergi bersama ibunya berbelanja dan terlihat oleh ekor mataku. Maka dengan segera aku menunduk dan pura-pura membetulkan letak dagangan, untunglah ia tidak melihatku namun cukup membuat jantungku berdetak kencang. Sampai akhirnya mereka pulang baru aku bisa menarik nafas lega. Mudah-mudahan di hari selanjutnya hal seperti itu tidak terulang lagi.

Ramah ke pembeli, mata siaga terhadap kemungkinan sejawat dan terakhir yang paling mengesalkanku adalah tukang jahit sepatu disebelah kiriku. Selama beberapa hari ini aku harus mengurut dada, mencoba sabar dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana tidak emosi? Dari hari pertama dengan wajah tanpa ekspresi ia mencolak-colek diriku, Aku masih bersabar. Tapi barusan dengan kurang ajar ia memegang pahaku, geli dan jijik rasanya. Sebelum tangan biadab tersebut mengarah lebih dalam dengan segera kutepis.

Selama ini aku mencoba berbaik sangka bahwa keisengannya hanyalah kegemasan. Namun yang tadi benar-benar keterlaluan dan tak termaafkan. Seketika aku berdiri, saat ini aku memandangnya dengan amarah menggunung. Biarpun sekarang bulan Ramadhan dimana setiap muslim dituntut menahan hawa nafsu termasuk emosi. Aku tidak peduli! Harga diriku sebagai seorang laki-laki yang beroentasi Heteroseksual terlecehkan dan untuk membelanya aku siap untuk mati.

“Hey binatang jaga kelakuanmu!” Aku menunjuknya dengan tangan kiri yang secara adat menunjukkan pelecehan. Dengan seketika pandangan semua orang terarah ke kami. Dasar munafik dengan tenangnya ia berkata, “tenang saudara-saudara. Adik ini masih muda emosinya belum stabil.” Licik, si binatang ini mengalihkan kesalahan kepadaku. Laki-laki kurus dengan tangan berotot itu tersenyum culas padaku. Aku tidak tahan lagi, persetan kulayangkan tinjuku ke muka busuk itu.

“Heit.” Dengan sigap ia menghindar. Tapi aku belum menyerah, kuterjang selangkangnya dengan kaki kanan. “Ough!” Jeritnya, sebelum sempat memberi uppercut ke dagunya badanku ditarik oleh pedagang tomat biasa duduk disebelah kananku. Dan dengan segera dipisahkan oleh orang-orang.

“Istigfar nak,” kata si penjual tomat. Namun api di dadaku belum padam, aku mengerang untuk melepaskan diri. Laki-laki laknat itu memang kesakitan tapi pembalasanku masih kurang. Dia pikir dirinya berhadapan dengan siapa.

“Saudara-saudara, lihat sendiri anak muda ini yang mencari masalah. Bukan aku maka jangan salahkan jika di kemudian hari terjadi sesuatu pada dirinya.” Rupanya ini tujuannya tidak melawan, untuk memperoleh justifikasi tindakannya dikemudian hari. Celaka, kali ini aku berhadapan dengan seorang profesional yang tahu memprovokasi masa. Mendengar kata-kata si binatang, kerumunan tersebut seolah-olah terhipnotis terdiam.

“Plok..Plok..Plok..” Terdengar suara tepukan dibalik kerumunan orang. Mereka menoleh dan secara spontan seolah memberi jalan kepada asal suara untuk maju bagaikan menyambut seorang Maharaja. Dibalik banyak orang keluarlah seorang anak muda dengan menarik dua ekor kambing. “Siapa yang berani mengganggu Saleh akan berhadapan dengan anak-anak kampung Bawah.” Suaranya memecah kesunyian.

Ahmad! Aku tersedak. Dia memang berasal dari kampung Bawah, sebuah kampung yang diapit gunung dan lautan Hindia. Bukan sejenis kampung preman seperti yang kalian kira. Melainkan kampung pejuang, pada masa penjajahan Belanda kampung tersebut berkali-kali dibakar karena dianggap sarang kaum muslimin, sebutan Belanda untuk para gerilyawan. Entah bagaimana caranya mereka selalu kembali dan membangun kembali kampung bawah meskipun diatas puing-puing. Mereka tidak pernah menyerah meski kampung lainnya telah lama meletakkan senjata dalam perang melawan kumpeni. Keharuman nama mereka selalu membekas disetiap sanubari kami bahkan hingga hati ini. Nama Kampung Bawah di daerah kami bahkan diidentikkan dengan keberanian dan kehormatan.

Terang si binatang mengkeret, “maaf bang, saya tidak tahu bahwa ia anak Kampung Bawah.” Ia menyangka diriku juga sama dengan Ahmad, warga Kampung Bawah. Serta merta ia menjulurkan tangan mencoba menyalami si anak gembala, namun Ahmad lebih memilih mengelus bulu kambingnya dan membuang muka.

“Salman aku tahu siapa kamu, dimana rumahmu jadi jangan coba berbuat macam-macam.” Dengan elegan ia menggoyang-goyangkan telunjuknya. Rupanya si binatang bernama Salman, sudah sifatnya yang hipokrit sehingga ia menunduk seolah ingin menunjukkan penyesalan yang dalam, eh ia malah membantah. “Tapi dia yang mencari masalah,” dengan suara pelan ia mencoba mengalihkan kesalahan kembali kepadaku.

“Jangan berkilah Salman. Aku tahu siapa kamu, kalau melanggar konsekuensinya cuma satu yaitu mati!” Belum pernah aku melihat roman muka Ahmad sesanggar ini. Seketika si binatang itu menguncup bentuk badannya. Dengan Flamboyan Ahmad mengibaskan tangannya, si binatang pun mengerti. Segera ia berbalik dan membereskan perkakas jahit sepatunya untuk kemudian pergi tergesa-gesa. Dan kerumunan orang pun bubar.

Akhirnya aku tersenyum, “Terima Kasih Ahmad.”

Seolah tidak mendengar Ahmad malah menunjuk kambingnya. “Ini Wimpy dan ini Bemby. Kemarin mereka sudah dibeli oleh Pak Haji Nurdin dan hari ini aku mengantar mereka ke tempat penyembelihan.” Hanya perempuan yang memberi nama peliharaan mereka, lelaki tidak itu pendapatku. Jenis laki-laki macam apa si Ahmad ini. “Nanti kita bertemu lagi.” Ia pun berjalan menuju los dalam pasar meninggalkan diriku.

Aku pun kembali duduk, lega rasanya mulai hari ini si binatang tidak ada lagi sebelah kiriku. Setidak aku sudah mulai merasa sedikit nyaman disini. Setelah dipikir-pikir menjadi pedagang meskipun kecil-kecilan, ternyata membawa banyak hikmah. Aku menjadi mengerti akan sifat-sifat manusia. Pernah seorang ibu turun dari mobil dan menanyakan daganganku. “Ini berapa seikatnya dik.” Katanya manis. “Lima ratus bu,” jawabku lugas. “Dua ratus lima puluh boleh.” Tawarnya, kupandangi wajah sang ibu yang menor dengan make-up yang tebal tersebut. Alisnya dicukur serta dilukis dengan celak bergerak-gerak menggoda. Sungguh kejam ia menawar seikat kacang panjang menjadi setengah harga, dan memang mungkin aku tak pernah ditakdirkan sebagai pedagang besar sehingga lemah dan mengikuti keinginan ibu yang naik sedan Accord tersebut.

Pernah juga, seorang ibu penjual timun lapak depanku. Seorang pembeli di hari sebelumnya kembali, dan memaki-maki ibu tersebut yang mengatakan timun yang ia beli kemarin berkualitas jelek serta meminta kembali uangnya. Padahal sehari sebelumnya aku melihat sendiri dengan mata kepala, sang pembeli memilih timun yang paling bagus dan menawar dengan harga yang amat rendah, gaya yang congkak bahkan sempat membuat darahku mendidih ketika itu. Tak dapat kujelaskan dengan kata-kata betapa pedihnya wajah ibu penjual timun tersebut ketika mengembalikan uang si pembeli. Di hari itu pula ia berniat membeli kacang panjang yang kujual, “berapa harganya dik?”. Keriput diwajahnya menisyaratkan beban berat sehingga suara lembutnya menjadi sangat memiriskan ditelingaku. “Lima ratus bu,” jawabku. Silahkan tawar hingga seratus rupiah karena akan Saleh berikan buat ibu, itulah suara hatiku. Namun ia hanya berkata, “ibu beli dua ya nak.” Ia menyerahkan uang seribuan lusuh hasil penjualan timun, sekeras apapun aku tidak tega. Maka kulebihkan seikat kacang panjang untuk ibu tersebut, namun ia menolak. “Kita ini sama-sama orang susah nak, jangan saling memberatkan.” Mataku berkaca-kaca, sebutlah aku ini cengeng akan kuterima dengan ikhlas, fragmen seperti ini adalah hal yang langka dikeadaan sekarang. Dan aku luluh.

Diam-diam ternyata tanpa sadar aku mulai menyukai profesi ini. Apalagi setelah si binatang angkat kaki. Aku pun senyum-senyum sendiri.

“Hey.” sebuah suara menyentak dan menyadarkan lamunanku. Ahmad sudah berdiri dihadapanku, aku baru ingat dia teman sekelasku. Bagaimana kalau dia mengatakan kepada teman-teman kalau aku tak lebih dari penjual sayur. Kacau dunia skenarioku untuk mendapatkan hati Khumaira bisa hancur berantakan.

“Wimpy dan Bemby sudah ke surga.” Wajah Ahmad tanpa ekspresi dingin. Tanpa disuruh ia duduk disampingku bau kambing melekat ditubuhnya membuat hidungku tak nyaman sebenarnya. Namun pertolongan tadi terlalu berarti untuk dibalas sebuah pengusiran.

“Ahmad. Tolong kejadian tadi jangan diceritakan pada siapapun.” Kataku setengah berbisik. “Tidak akan.” Ia menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Dan juga jangan bilang pada teman-teman kalau selama liburan aku berjualan disini.” Itulah tujuanku yang utama, menjaga nama baik. Ia memandang wajahku, “mereka sudah tahu kok.” Ia mengangkat bahu. Waduh mengapa mereka bisa tahu, jangan-jangan selama pergi mengantar kambingnya ia bertemu dengan teman yang lain dan keceplosan bicara. Bodoh! Mengapa dari tadi aku tidak bilang hal ini padanya.

“Sri yang bilang. Dua hari lalu ia melihat kamu tapi ia tak berani menyapa karena ada Salman.” Seolah dapat membaca pikiranku ia langsung menjawab. “Ia juga yang mengatakan padaku kamu dalam bahaya, Salman itu memiliki reputasi buruk dan semua orang tahu itu.” Ia menarik nafas. “Rencananya hari ini aku akan mengingatkan kamu, eh tahunya sudah kejadian. Makanya tadi aku sedikit mengancam si Salman.” Jadi semua orang sudah mengetahui kelakuan si binatang kecuali aku dan kerumunan orang di pasar yang sama sekali tidak membelaku.

“Hancur sudah reputasiku terutama di depan Khumaira.” Mulutku kelepasan. “Karena ditaksir Salman? Hahaha itu tidak mengurangi kelaki-lakianmu Saleh.” Ia menepuk punggungku, namun kutepis. Kejadian tadi menimbulkan trauma sehingga aku tidak pernah lagi mau disentuh oleh laki-laki manapun bahkan walaupun ia teman sekelasku sendiri.

“Bukan itu Ahmad, tapi aku takut Khumaira memandang rendah diriku yang hanya seorang penjual sayur.” Aku sudah keceplosan bicara tadi, kepalang basah mengaku saja. Ahmad diam, otaknya memerlukan waktu untuk mencerna kata-kataku.

“Tidak seperti itu Saleh. Aku berteman dengan Khumaira dari kecil, malah ia akan salut dengan apa yang kamu lakukan sekarang.” Aku tertunduk malu sehingga tidak dapat melihat ekspresi wajah Ahmad.

“Tidak semua orang memiliki kerendahan hati untuk bekerja sepertimu sekarang, apalagi tindakanmu tadi terhadap Salman menunjukkan bahwa kamu adalah seorang lelaki sejati.” Ia membesarkan hatiku. “Benar itu Ahmad?” Wajahku kembali cerah.

“Benar, percayalah padaku.” Ia tersenyum, sejak saat itu Ahmad aku daulat sebagai sahabat. Masuk dalam inner circle dalam lingkungan hatiku.

“Nak, kacang panjangnya berapa seikat?” Spontan seorang Bapak berpeci haji berada dihadapan kami. Aku masih gamang dengan pembicaraan tadi sehingga belum siap mendapat pertanyaan tiba-tiba. Ahmad yang bereaksi, “Lima ratus, bapak mau berapa ikat?” Aku terkejut dengan tangkas ia menyodorkan kacang panjang dan mulutnya terus berbicara. Matahari pun semakin meninggi, lapak dadakan di Pasar Pagi menjadi saksi percakapan kami berlangsung akrab, baru tahun ini kami sekelas. Kemarin masih teman biasa, namun sekarang seakan telah saling mengenal lebih dari seribu tahun.

CERPEN INI DITOLAK KOMPAS 26 JULI 2008

Jomblo merupakan fenomena menarik untuk dibicarakan, dituliskan, atau hanya sekedar untuk diperdengarkan. Jomblo seolah-olah telah menjadi sebuah fenomena kontemporer yang berlaku saat ini. Dan wacana yang berkembang di dunia anak muda saat ini bahwa seolah-olah aib ketika seseorang pada kenyataannya men-jomblo. 

Ada sebuah peristiwa baru-baru ini menggugah perhatian saya mengenai hal ini. Ceritanya begini, ketika berjalan kaki menuju kantor saya melihat dua orang anak SMU di atas sepeda motor melaju membuang sesuatu di jalan sambil tertawa cekikikan, dan oleh karena rasa keingintahuan yang besar saya pun memungutnya, ternyata yang dibuang adalah sebuah pin/bros dengan ukuran 5×5 cm. Tapi yang menarik adalah tulisan yang tertera diatas pin tersebut yaitu “JOMBLO BUKAN BERARTI HOMO”, saya tidak tahu mengapa dia membuang pin tersebut, mungkin saja pada hari tersebut ia telah memiliki seorang pacar sehingga ia tidak mau mengenakan atau bahkan hanya menyimpannya, entahlah tapi yang pasti pin tersebut saya simpan untuk kemudian saya bawa pulang. 

JOMBLO BUKAN BERARTI HOMO, memakai psikologi terbalik berarti wacana yang berkembang saat ini di masyarakat  bahwa seorang jomblo kemungkinan besar adalah seorang homo! Sebuah gejala yang sakit, fenomena yang memiriskan atau lebih tepat menyedihkan malah.

Saya pribadi banyak mengenal orang-orang yang memilih menjadi jomblo karena yakin itulah yang terbaik bagi diri mereka, mereka adalah orang-orang yang berani mengatakan JOMBLO ADALAH PILIHAN, meskipun jumlah mereka tidak banyak akan tetapi saya menghormati pilihan mereka dan pandangan picik yang beredar saat ini terasa sangat menyakitkan.

Menyikapi hal ini saya teringat perkataan seorang sahabat, ketika itu ia mengatakan “Seseorang yang menjaga kehormatannya niscaya Allah SWT akan lebih menjaga kehormatan orang tersebut”

Malam ini, disaat saya menulis tulisan ini entah mengapa pin tersebut membuat perasaan saya menjadi tidak enak sehingga saya merasa perlu menyimpannya. Didalam lemari.

“Think Globally Dress Locally” Sebuah palmflet tertera pada resepsionis Losmen Singgahan yang terletak di pasar kota Lamno di pesisir Barat Aceh. Kota yang terkenal dengan keturunan Portugisnya dulu.

Lamno yang pada masa kuno disebut dengan Meureuhom Daya (Kabupaten Aceh Jaya, sekarang) adalah tempat berasal Po Teumeureuhom (Kelak Ali Mogayatsyah) merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam (Islam) untuk melepaskan diri dari Kerajaan Pedir Hindu (Kabupaten Pidie sekarang).

Logika Abu masa kecil tergelitik ketika membaca tulisan tersebut belasan tahun yang lalu, sehingga yang sama sekali tidak mengetahui artinya namun menyadari bahwa palmflet itu memiliki arti yang kuat. Walau pemilik losmen yang notabene lulusan sebuah universitas di Jerman hanya mengatakan bahwa kelak suatu hari Abu akan memahami makna slogan tersebut.

Tak pelak beliau langsung Abu daulat menjadi salah satu idola masa kecil, disamping tokoh proklamator kita bung Hatta. Seorang tokoh yang memilih berbakti kepada negara dalam konteks lokal daripada menggunakan ijazahnya di luar negeri. Itulah Nasionalisme sejati benak Abu kecil.

Lamno sendiri merupakan satu-satunya kota kecil yang masih bertahan setelah bencana Tsunami menghantam pesisir Barat Aceh, dari total 40 desa yang bernaung didalamnya tercatat 10 desa tak tersentuh oleh bencana tersebut. Sedang losmen Singgahan yang berada di pasar Lamno tetap berdiri tegak dengan segala kerentaannya ketika terakhir kali Abu berkunjung kesana Juni 2008.

Betapa kita tak menyadari bahwa dunia ini terlalu kecil, ketika Abu menanyakan nasib pemilik losmen tersebut kepada Mr.Popo yang dari pihak ibu berasal dari pihak ibu berasal dari Kota Lamno, ternyata pemilik losmen tersebut adalah paman dari Mr.Popo. Dan beliau pada saat kejadian berada dipasar sehingga selamat dari bencana Tsunami yang meluluhlantakkan kampungnya.

“Berpikir global berpakaian lokal” memiliki makna yang dalam, dan akan tetap menjadi sebuah pemikiran yang segar walaupun waktu terus berjalan. Setelah bencana Tsunami menerjang Aceh dan dinobatkan sebagai bencana terdasyat sepanjang masa maka berbondong-bondonglah orang-orang asing datang kebumi Serambi Mekkah yang setelah era penjajahan Belanda hampir tak pernah orang Aceh menemui orang-orang Asing!

Tak dapat dihindari orang-orang asing tersebut membawa kebudayaan mereka. Tak peduli dia hanya sukarelawan, misionaris, agen CIA, Mossad atau seorang dermawan semua datang dengan maksud dan tujuan sendiri.

Mungkin pada awalnya terjadi Cultural Shock bagi tanah rencong yang menganut hukum syariat Islam dengan kebudayaan Barat, namun pelan-pelan proses Akulturasi itu terjadi. Penetrasi Kebudayaan yang kuat mendesak kebudayaan yang lemah adalah jamak. Maka jangan heran jika anda melihat Banda Aceh hari ini sangat berbeda dengan Banda Aceh lima tahun yang lalu baik bentuk maupun isi.

Abu tidak anti dengan kebudayaan Barat, karena kebudayaan tersebut memiliki prinsip berpikir secara sistematis, organisasi yang lebih rapi, dorongan untuk menuntut ilmu dan yang paling utama adalah kekuatan ekonominya.

Namun itu semua itu tidak kita tiru, kenapa? Karena itu semua membutuhkan waktu dan proses, semua itu tidak dapat diperoleh sekali jadi. Namun apa yang dapat kita tiru dari kebudayaan Barat secara Instan? Ya segala keburukannya yaitu budaya minum, budaya free sex. Itu sangat gampang ditiru dan itulah yang terjadi hari ini, dan Abu tidak hanya mengatakan untuk Aceh saja tapi untuk seluruh dunia.

Dunia ini selalu berubah dan perubahan itu hari ini bernama globalisasi namun sangat penting bagi kita untuk memaknai perubahan tersebut dengan kearifan lokal. “Think Globally Dress Locally” kata-kata ini bahkan masih relevan hari ini.

            Angin laut berhembus pelan menyapa raga seorang anak manusia yang mengais pasir, kerasnya hidup seolah tak berarti diketenangan jiwa. Anak itu tersenyum melihat kepiting berlari riang menyambut hidup yang singkat.

            “Nenek moyangku bangsa pelaut,” suara seraknya menghiasi fajar yang baru hadir ketika setengah umat manusia masih terlelap di peraduan.

            Ia adalah Poseidon yang mencintai laut dan dilimpahi kasih sayang olehnya untuk dapat terus hidup melawan deras hidup yang semakin keras dan bergelombang.

            Ketika zaman semakin dikuasai materi ia menikmati mengumpulkan kerang-kerang yang dianggap sebagai hiasan dari peradaban kuno dan dinafikan oleh perubahan perputaran dunia.

            Mencungkil-cungkil pasir pantai yang mulus mencari jenis kerang adalah kenikmatan tersendiri baginya, betapapun hancur garis pantai oleh ulah manusia akan diratakan kembali oleh arus gelombang yang akan selalu datang. Saksi betapa tuhan Maha pemurah terhadap ulah makhluk yang dinamakan manusia.

            Sebuah benda keras tersembunyi dibalik kerasnya cangkang, sebuah jam Tag Heuer mereknya. Tanpa tali lagi namun masih berdetak, sebuah keajaiban bagi seorang anak manusia yang telah terbiasa dengan barang-barang murah. Walau mungkin seorang turis dari Jerman tidak akan menganggap jam tersebut berharga lagi tapi ini didunia ketiga dimana barang-barang ajaib tak akan terbeli oleh seorang anak nelayan.

            Didekap harta karun yang ditemukan olehnya, sejak itu jam tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perahu bercadik milik Tauke kampung ini yang ia kayuh. Ketika mangarungi Samudera Hindia yang ganas jam tersebut menjadi pemberitahu waktu shalat sebagai kewajiban makhluk kepada Allah S.W.T.

            Sejak saat itu anak tersebut menjadi lebih menyegerakan waktu shalat bahkan ketika melaut, jadwal shalat ia catat sedetil mungkin dalam otak sederhananya. Mungkin Ka’bah terlalu sukar untuk untuk ditentukan arahnya ditengah lautan namun paling tidak untuk menentukan waktunya sekarang ia tak hanya mengandalkan sinar matahari.

            Hari-hari menjadi lebih cerah sejak saat itu baginya, masa depan entah mengapa terasa sangat mengairahkan baginya. Melaut sebagai mata pencaharian untuk hidup sekarang diimbangi dengan ketepatan waktu mejalankan ibadah kepada sang pencipta.

            “Mana jam kita?”

            “Coba lihat jammu yang legendaris?”

            “Wow, benar-benar keren!”

            “Ini adalah keajaiban dunia!”

            Tiba-tiba anak nelayan yang sederhana tersebut menjadi populer diantara teman-temannya. Ia yang biasanya pendiam dengan penuh semangat menceritakakan proses penemuan benda ajaib tersebut. Semangatnya sebanding sama seperti ketika Christoper Columbus menceritakan penemuan dunia baru yang kelak diberi nama Amerika.

            Keajaiban jam tersebut yang tak dimakan karat walau diterjang air laut yang asin, teksturnya yang keras melindungi detak-detaknya yang terus berputar diantara waktu yang terus melenggang.

            Bahkan tauke perahu, menawar jam tersebut seratus ribu rupiah. Jumlah yang luar biasa bagi anak tersebut, namun matanya berkata harta ini tak akan kujual berapapun harganya. Kagumilah namun Ia adalah bagian hidupku, ia adalah milikku seorang. Sang Tauke menghormati kecintaan anak tersebut sebagaimana ia menyanjung kejujurannya.

            Terkadang jam tersebut ia tinggalkan diperahu nelayan yang biasa menemaninya melaut, ia akan selalu tetap disitu dan tiada yang berniat mengambilnya. Kampung ini adalah bukan sarang pencuri dan sepanjang sejarah hal itu tak pernah ada. Kehormatan kampung ini masih sama seperti berpuluh, beratus, berabad tahun yang lalu dan belum terkotori penjajahan ekonomi dan belum tersentuh penyakit post-modern yang bernama Kleptomania.

            Ketika sang perahu mulai keropos oleh perkembangan terkini, sang tauke mulai megap-megap. Perawatan mulai membebani dan sudah saatnya mengurangi biaya operasional iapun berniat menjualnya. Laut terkadang “tidak ramah” bahkan terhadap anak kesayangannya. Efisiensi adalah prinsip ekonomi dan penjualan adalah jalan keluar bagi masa-masa sulit seperti ini.

            Sang Tauke lupa bahwa perahu tersebut adalah sarang bagi jam anak nelayan tersebut, ia menjualnya tanpa melihat ada yang tertinggal disana. Bukan kesengajaan karena tak ada niat sedikitpun untuk menyakiti pegawai terpercayanya. Dan bersama perahu, jam itu terbawa oleh Tauke kampung lain.

            Anak nelayan itu bersedih. Sang tauke merasa bersalah, Ia berjanji akan menebus jam tersebut  kepada Tauke kampung lain. Mereka adalah teman sejak lama dan ia yakin Tauke kampung lain akan mengembalikan jam tersebut kepada anak nelayan itu.

            Namun anak nelayan tersebut terlalu mulia, ia menolak untuk dimintakan kembali hartanya. Ia menjaga kehormatan tuannya, barang yang sudah terjual pantang diminta kembali. Namun ia berduka untuk hartanya paling berharga lebih dari pekerjaan yang juga hilang bersamanya. Hukum kapitalis dan sosialis tidak berlaku dikampung ini, yang ada adalah nilai kuno yang belum luntur.

            Jangan salahkan ia bersedih, kini ia bersembahyang tanpa jam tersebut. Suara Azan kini dipastikan dengan posisi matahari, tanpa penunjuk waktu yang terpercaya. Hidupnya terasa sangat mendung, sesuatu yang ia cintai bukan lagi miliknya. Berita menyebar keseluruh kampung dan semua orang bersimpati padanya, namun belum ada yang berani menghibur hati anak nelayan karena takut membuka kenangan terhadap harta yang dicintainya.

            Ketika ia sedang merenung memandangi lautan luas, temannya anak gembala kampung itu menghibur. Anak gembala yang tidak nyaman dengan uap yang menyapa dari laut datang untuk seorang yang mencintai samudera. Mungkin anak gembala tersebut adalah Zeus datang menghibur hati Poseidon “putera samudera” yang membiru.

            “Segala cinta akan pergi ibnu Ali,” katanya.

            “Kecuali cinta kepada sang pencipta ia akan abadi sampai kehidupan yang akan datang,” betapa filosofi bijak dapat keluar dari bibir seorang bocah sederhana.

            Teringat akan harta berharga miliknya anak nelayan tersebut kembali meneteskan air mata, tak lama kemudian ia terisak, “Aku tahu teorinya Ahmad, namun mengapa hatiku terasa berat melepaskannya,” ia mengosok-gosokan hidungnya yang mulai beringus.

            “Lepaskan semua bebanmu sahabat,” Anak gembala iba memandang air mata anak nelayan yang dengan tegar membelah lautan.

            “Sebagai laki-laki aku malu menangis!” Erang anak yang dipanggil Ibnu Ali.

            “Kita laki-laki adalah manusia juga tak mengapa menangis,” Hibur Ahmad.

            “Aku juga malu terikat dengan sebuah benda,” sang Poseidon masih seunggukan. Sebuah hadist dari Nabi Besar Muhammad S.A.W, “Malu adalah sebagian dari iman.”

            “Hukum kehilangan tidak membedakan antara lelaki dan perempuan, dan ia tidak membedakan antara beriman dan kafir. Semua makhluk akan merasakan sakit yang sama.” Anak gembala melihat horison ketika berberbicara.

            “Dunia ini adalah fana kita harus sadari itu!” Seolah anak gembala juga berkata untuk dirinya sendiri.

            “Paling tidak kamu pernah diberi kepercayaan oleh Allah S.W.T untuk memiliki benda tersebut walau hanya sekejap, ia memberi arti dalam hidup yang singkat ini,” Sang Zeus segan memandang mata sahabatnya dan tetap memandangi lautan.

            Mendapat penghiburan dari seorang sahabat membuat air muka anak nelayan tersebut berangsur berubah. Ia menyeka ingus dan air matanya dengan lengan bajunya, kekuatan persahabatan lebih kuat daripada hukum kepemilikan suatu hal yang sudah dilupakan oleh banyak dari kita.

            “Paling tidak kita masih memiliki kampung yang nyaman,” Anak nelayan itu tersenyum untuk pertama kali dalam minggu ini. Matahari mulai tenggelam, azan Maghrib pun memanggil segenap anak manusia untuk menghadap sang Khalik tempat segala cinta akan sambut dengan tangan terbuka.   

           

XXXXX

 

Waktu akan menghilang dalam sekejap mata dan sesuatu yang bisa menghentikannya bukanlah benda kenangan yang disimpan dalam bentuk harta melainkan kenangan yang ada didalam hati.

CERPEN INI DITOLAK KOMPAS 4 APRIL 2008

TERJERAT KESOMBONGAN

9 August 2008

Sombong, adakah sifat itu didiri ini? Sekuat apapun seseorang mengatakan tidak namun orang lainlah yang menilai. Dan itulah penilaian banyak teman tentang diri ini, hiks…hiks…hiks… Milvan masih bisa menyangkal jika hanya seorang mengatakannya, tapi hampir semua teman di masa lalu memvonis diri ini seperti itu. Dan yang paling sedih ketika mendengar seorang teman karib sewaktu SMU mengatakan seperti itu. Ia berkata, “aku rindu dengan Milvan, tapi sekarang ia begitu sombong sehingga tak pernah lagi pulang ke Banda Aceh untuk menjumpaiku.” Kepada seorang teman lainnya. Huh, ketika yang mengatakan seperti itu adalah seorang sahabat dekat yang juga sudah dianggap sebagian dari jiwa ini ternyata sangat ….

 

Masih teringat juga kata-kata seorang teman perempuan, kebetulan kami waktu itu sedang mengambil mata kuliah yang sama di Univ. Malikussaleh dan ia mengatakan, “setelah berbicara panjang lebar dengan bang Milvan ternyata tidak seperti dikatakan oleh banyak orang. Bahwa bang Milvan orangnya sombong dan tidak mau berteman dengan perempuan. Sehingga mereka semua disini memboikot tidak mau berbicara dengan abang.” Sebuah boikot yang tanpa Milvan sadari sudah berjalan hampir setahun! Bagaimana mau sadar jika Milvan sendiri diwaktu istrirahat jam kuliah memilih membaca, dan kurang peduli dengan sekeliling.

 

Atau kata teman sekontrakan di Lhokseumawe tadi, “meski kamu tidak bermaksud untuk sombong tapi gaya dan cara berbicaramu menunjukkan keangkuhan yang nyata.” Dan sebenarnya masih banyak lagi komentar senada yang diungkapkan oleh orang-orang sekitar namun selama ini Milvan bersikap acuh sampai ia mengatakan, jika kita telah tinggal dalam atap yang sama dengan seseorang maka yakinlah krtitiknya sangat-sangat touche, kata orang Perancis eh apa Inggris ya? hehehe.

 

Selama ini, Milvan mengambil pendapat Konghuchu yang berkata, “orang pintar yang tidak menunjukkan kepintarannya adalah sama dengan orang bodoh.” Sesuatu hal yang menyebabkan ketika ditanyai berapa IPK maka dengan lugas diri ini mengatakan empat! Jawaban itu meski jujur ternyata banyak menyakiti hati orang lain, sungguh Milvan tidak pernah tahu akan hal itu hingga tadi selepas Maghrib ketika teman sekontrakan dengan lugas mengkritik setelah mengaku telah lama memendamnya.

 

Mungkin benar kata seorang teman lain bahwa Milvan adalah orang yang berpaku pada literatur, kerjanya membaca melulu. Sehingga kurang memperhatikan orang-orang disekeliling. Berbagai keluhan tentang diri ini kini terasa menyentak, ingin sih rasanya membela diri namun apakah itu tidak justru menambah citra kesombongan yang sudah melekat pada diri Milvan sendiri.

 

Belum terlambat untuk merevisi diri sendiri, untuk menguatkan azzam Milvan mencoba mengingat kembali hadist yang pernah disuruh hafal oleh ibu guru Budi Pekerti dulu ketika duduk dibangku kelas III SLTP, tidak terlalu detil sehingga mungkin bisa salah namun kira-kira intinya seperti ini. “Tidak akan masuk surga seorang anak manusia apabila di dadanya tersimpan kesombongan walau hanya sebesar zarrah.” Mudah-mudahan ke depan Milvan mampu berubah menjadi seorang manusia yang lebih baik.

 

Kalau saja dalam tulisan ini tersirat sebuah kesombongan Milvan selaku pribadi yang telah menyakiti memohon maaf yang sebesar-besarnya, kepada para teman yang membaca maupun tidak. Sungguh seorang Milvan ini tidak sempurna dan banyak memiliki kekurangan sebagai manusia, terima kasih kepada kalian yang telah mengingatkan dan terima kasih bagi kalian yang telah memaafkan dan memilih tidak mengatakan langsung, terakhir terima kasih pula karena kalian masih menganggap diri ini sebagai teman kalian.

 

Terimakasih telah menolakku kemarin, untung aku tak pernah mencaci apalagi membencimu. Karena itu hari ini aku tak pernah menyesal walau harus menanggung malu yang sekarang berubah menjadi sebuah kebanggaan di dadaku. Kukukuhkan hati mencegah rasa cinta menjadi benci. Lingkaran dendam tak seharusnya terjadi antara kita.

Tak mungkin aku memaksa bila tak ada rasa cinta untukku. Dengan menafikan uluran tangan ini engkau telah membuat diriku menjadi manusia yang tak diperbudak cinta manusia, yang kutahu akan padam bagaikan cahaya lilin.

Tidak darimu telah melunturkan semua angkuh dihati, yang selama ini bertahta dan tak tahu harus kuenyahkan dengan cara apa selama ini. Usai sudah masa-masa otakku kering akan hikmah.

Aku menyadari penolakanmu tak menjadikanku manusia perkasa apalagi kuasa, diri ini tetaplah serapuh jaring kamalanga rentan terhadap hembusan angin selembut apapun. Kehidupan maupun waktu terkadang lucu, rasa sakit yang telah berlalu terkadang membawa nostagia. Seperti explorasi hidup tak pernah berakhir hingga ke liang lahat, layaknya waktu terus berjalan hingga kiamat.

Mungkin kata-kataku seolah untuk menipumu namun yakinkan itu keluar dari lubuk hatiku, bukan sebuah kalimat penghibur untuk membuatmu tersenyum. Apalagi sekedar membuat dirimu merasa bersalah.

Terimakasih telah menolakku kemarin, membuatku sadar bahwa kemenangan bukanlah segalanya. Itu mendewasakan walau kini aku tetaplah merupakan seorang hamba dan bukanlah siapa-siapa.

Usai sudah cerita cinta. Harapan, mimpi dan cita kini bukanlah untukmu lagi. Mengingatkanku bahwa adahal lain yang harus dilakukan. Perilaku baja yang engkau tampakkan membuatku sadar, kini segenap upaya yang pernah kuusahakan mundur teratur. Mungkin lebih baik aku menjauh.

Salam hangat, sampai kesempatan lain mempertemukan, teman. Bahkan aku tak mampu memanggil cinta untukmu kepada dirimu yang tak pernah menjadi kekasihku. Beribu terima kasihku untukmu.

“Tak ada jalan memutar bagi seorang lelaki, maju atau mundur. Ketika telah menetapkan langkah maka jangan menoleh kebelakang. Singkirkan ruang untuk sebuah penyesalan, meski kegagalan membayang ingatlah saat itu tak ada peluang mengulang.”

LHOKSEUMAWE, SAAT MALAM SUNYI DAN PARA INSAN LELAP DALAM BUAIAN. 28 JULI 2008

Kehidupan adalah paradoks, penuh dengan pertentangan. Sebagai contoh, Radovan Karadzid semula adalah seorang penyair, seharusnya berperasaan lembut malah ketika berpolitik dan berkuasa menebarkan kebencian rasial yang membuat puluhan ribu muslim Bosnia tewas dalam sebuah tindakan terkutuk bukti kebiadaban manusia bernama genocida. Ia menjadi idola bagi nasionalis Serbia tapi dibenci diseluh dunia.

 

Penampilan luar sungguh menipu, kehalusan budi bisa saja sebuah topeng. Sebaliknya penampilan kumal bukan berarti tak berilmu, bersikap keras juga bukan berarti kasar. Manusia berubah begitupun zaman, kebaikan hari ini bukan berarti besok berarti sama.

 

Masa depan tak pernah pasti, musuh dan teman sulit dibedakan, pendapat manusia sekarang bisa berubah 180 derajat besok. Seperti batas tipis antara cinta dan benci. Ketika kejujuran hanya menjadi bahan tertawaan, ketika kepolosan dianggap kebodohan, ketika kesopanan dianggap tindakan hipokrasi sungguh hidup seperti jalan penuh duri penuh liku dan sarat cemooh.

 

Keras dalam prinsip, lembut dalam perkataan, sopan dalam perbuatan adalah sesuatu yang ingin kuusung dalam menghadapi hidup. Aku sadar bahwa setiap musuh akan mencatat ini untuk dijadikan bahan untuk menjatuhkan dimasa depan, juga sadar bahwa semua teman akan mengingat untuk menertawakan apabila tidak seperti itu. Untuk itu bantu aku untuk bisa manusia yang seperti itu, dengan dukungan atau cacian sekalipun.

 

Seperti nikmat tawa tak akan bermakna tanpa adanya tangis didunia. Ketulusan hati tak akan berarti tanpa pahitnya pengkhianatan. Ingatkan aku seandainya jika melupakan hal itu, karena aku saat ini adalah orang yang percaya, setiap kekuatan bisa menjadi kelemahan dan setiap kelemahan dapat menjadi kekuatan. Kenapa? Karena kehidupan adalah paradoks.

 

Catatan ini dibuat untuk diri sendiri, sebagai pengingat sebuah tujuan, sebagai tulisan untuk kelak dibaca kembali. Tindakan berdasarkan sebuah kesimpulan bahwa otak manusia memiliki kemampuan mengingat terbatas dan membutuhkan arsip sebagai memory kolektif perenungan seorang anak manusia dimasa lalu, sekarang dan nanti dimasa depan.

 

“Tak ada jalan memutar bagi seorang lelaki, maju atau mundur. Ketika telah menetapkan langkah maka jangan menoleh kebelakang. Singkirkan ruang untuk sebuah penyesalan, meski kegagalan membayang ingatlah saat itu tak ada peluang mengulang.”