BAB VENUS ; INIKAH CINTA

15 February 2008

Dia adalah perwujudan sifat indiffrent, acuh. Wajahnya setenang telaga yang tak terduga kedalamannya bagi siapapun jua. Dia adalah pembuktian mengapa patung dewi Venus selalu dipuja dalam keheningannya, mungkin dia bukanlah ciptaan tuhan yang paling indah tapi ia adalah yang paling misterius setidaknya bagiku.

Dibalik bibirnya yang merah merekah bak apel Australia tersimpan lidah setajam sangkur tentara yang siap mengiris telinga yang mengangga. Kata-kata hanyalah permainan untuk mengeluarkan suara indahnya. Tidak kasar, tidak lembut, tidak keras, tidak renyah hanya ketus dan pahit. Pertahanan sekokoh setangguh benteng Konstantinopel justru menambah daya tarik dirinya.

Apabila ia tersenyum maka akan terlihat barisan indah berlian yang kilauannya mempesona melebihi merek de beers. Namun karena sebegitu berharganya sehingga amat jarang ia melakukannya, bagiku periodenya bahkan lebih lama dari siklus melintas komet Halley melewati bumi. Tak ingin diri ini melewatkan satu kesempatan saja untuk melihatnya.

Awalnya biasa saja, lelaki mana yang menyukai perempuan dengan mata menikam? Ada mungkin, tapi laki-laki aneh tentunya. Jadi mengapa bisa? Ini semua gara-gara sebuah mimpi. Entah mengapa diri ini bisa mengimpikan dirinya dalam sebuah nyenyak dikeheningan malam.

Terasa menyentak, karena menurut Fritz Paris “Mimpi …. Adalah suatu pesan dari dan untuk dirimu sendiri.” Duhai perwujudan Venus kembalilah ke ranah Yunani, mengapa engkau mengusik putra hujan tropis ini, sungguh tak sanggup aku menanggungnya.

Akibatnya sekujur tubuh terasa berbeda, jantung terasa rock on roll dengan hanya mengingat namanya. Serasa badan menjadi aneh, memori di kepala selalu mengingat wajahnya, serasa ada yang tertinggal apabila belum bertemu dengannya. Dibalik topeng besi dan baju zirah yang kukenakan terasa dada ini bergetar hebat.

Apakah ini yang namanya Cinta? Aku tidak tahu, karena sungguh seumur hidup baru sekarang mengalami ini. Mana mental baja yang selama ini kubanggakan? Mengapa harus mencair bila bertemu dengannya. Kacau! Rasanya fikir dan perasaan tumbang tindih. Aku mau tapi juga malu, aku berani tapi juga takut.

Kemana harus ku cari jawaban? Semua buku yang telah terbaca tak pernah menjelaskannya. Pengalaman nihil, bertanya juga malu. Maka pada andalah aku bercerita.

PROLOG OLEH HOMERUS

15 February 2008

Perkenalkan namaku Homerus, kalian tidak mengenalku? Wajar karena aku bukanlah tokoh terkenal seperti yang tercantum dalam mitologi maupun epik Yunani Purba. Namun kalian pasti mengetahui cerita Perang Troya, Illiad, Odyseus karanganku bukan? Legenda yang bertahan selama berabad bahkan sampai dipilemkan oleh Hollywood.
Aku adalah penulis cerita ini, jujur kukatakan bukan aku yang mengarang ini semua. Ini adalah kisah nyata yang diceritakan oleh Hermes kepadaku, mungkin aku akan menambahkan bumbu agar cerita lebih sedap.
Aku menulis cerita ini karena pertimbangan bahwa sejarah tak sepatutnya disembunyikan. Terserah kalian apakah mau membacanya, dan adalah hak kalian untuk tidak berkomentar. Aku hanya menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabku.
Kisah ini adalah Mitologi Yunani yang disamarkan dalam bentuk cerita bersambung di blog ini. Akan ada pertentangan waktu dan tokoh yang akan membingungkan anda, namun saya yakin anda semua dapat memecahkannya karena kalian adalah orang-orang cerdas yang terpilih untuk membacanya.
Terimakasih kepada Tengku Puteh yang telah bersedia menampung cerita bersambung ini dalam blognya dan memasukkan dalam subbagian cerita. Dan penghargaan yang tak terhingga kepada anda yang membacanya.
Lebih kurang, saya Homerus mohon maaf. Kepada anda semua selamat bertualang dalam dunia mitologi Yunani ini