RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA
15 December 2009
Pantai Cermin, Bandar Aceh Darussalam. Desember 1872.
Akhirnya lima utusan Sultan telah berlayar menuju Melayu Sumatra, Belanda menamakan kawasan itu Riau. Sebagai pembeda dengan Melayu semenanjung yang dikuasai Inggris. Tibang Muhammad yang memimpin delegasi membawa syarat yang sulit dipenuhi oleh Belanda yang intinya Kesultanan Aceh Darussalam sepakat untuk berdagang dan bersahabat dengan Belanda asalkan wilayah yang pernah menjadi bagian Kerajaan Aceh dikembalikan. Di antaranya adalah Sibolga, Barus, Singkel, Pulau Nias dan beberapa kerajaan di pesisir Sumatera Timur.
Perang bukan menjadi kekhawatiran di Kesultanan disini. Para pencinta perang senang mengasah parang, kenangan mengusir Portugis di abad XVI seolah menyakinkan bahwa tanah ini akan selamanya merdeka dari tangan-tangan kaum putih. Berapa kalikah aku mengatakan bahwa ini adakah pandangan yang naïf. Suara sumbang yang kusuarakan menjadikanku orang asing di negeri sendiri. Segenap pengalaman dan ilmu yang kumiliki yang menjadi kekuatanku selama ini diperantauan malah menjadi kelemahan bagiku di negeriku sendiri, tempat yang kuinginkan selalu untuk berpulang.
Sudahlah, aku bosan menjadi orang asing. Apalagi jika itu di negeri sendiri. Aku ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda. Cukup rasanya aku memikirkan suatu hal yang bukan menjadi tanggung jawabku. Hanya satu hal, jika perang terjadi maka aku akan mencabut kelewang, rencongku sudah kutabur racun ular padang pasir, oleh-oleh dari pelabuhan Muscat. Senapanku sudah kuminyaki. Aku sudah siap dan saatnya untuk memikirkan kepentingan diri sendiri.
Aku merencanakan sebuah masa depan. Sebagai Onminus Present, akhirnya aku merasakan kelelahan untuk hadir dalam setiap hiruk pikuk dunia. Aku akan menikah, setidaknya ketika perang terjadi aku tak lagi sendiri. Hanum namanya, lembut artinya. Berasal dari bahasa Arab. Tak perlu kuceritakan bagaimana dia yang akan membuat jatuh cinta padanya. Yang pasti aku merasakan menemukan seseorang yang tepat disaat yang tepat, di kala aku memahami bahwa sudah waktunya aku mengakhiri segala petualangan ini.
Bang Baka tertawa terbahak ketika mendengar ceritaku, “Kamu yakin Durjana!” Aku otak kubermain-main dengan banyak kata hingga akhirnya menjawab pendek. “Yakin!” Bang Baka semakin terbahak dan memegangi perutnya. “Sudah kau katakan padanya kelak dia yang pertama?” Bang Baka adalah satu-satunya orang yang mengetahui riwayat sang durjana. Aku menggeleng sangat pelan, “Belum bang, tapi suatu hari pasti akan kuceritakan.”
Saudagar beras dari negeri Meuredu itu memegang pundakku, dan berbisik. “Katakan dengan jujur padanya, sepatutnya hal ini tidak engkau sembunyikan.” Kehidupan adalah hal yang penuh rahasia, dan kadang hal yang terlihat bukanlah kebenaran yang mutlak. Haruskah aku yang berjuluk sang Durjana, bajak laut yang telah mengarungi tujuh samudera mengatakan padanya bahwa diriku tak pernah menyentuh perempuan manapun dimuka bumi, tak terbiasa akan pesonanya dan tak pernah menyerahkan hatiku. Lalu bergumam pelan, “Aku takut ia tak percaya. Aku tak ingin ia menganggapku sebagai pembohong. Padahal ia sudah siap dengan seburuk apapun masa laluku.”
“Katakan padanya dengan jujur maka ia akan bangga pada dirimu, apapun yang terjadi nanti setidaknya engkau sudah berusaha untuk mengawali dengan kejujuran walaupun sedikit terlambat namun belum terlalu terlambat.” Aku memandangi mulut Bang Baka berkicau, kalimat yang ia katakan begitu kacau dan tidak tersusun rapi, tapi ada kebenaran didalamnya. “Durjana, sudah saatnya engkau berhenti merahasiakan dirimu dan membuka siapa dirimu. Tokh yang kamu sembunyikan itu bukanlah sebuah aib.” Tambah bang Baka.
Aku terdiam merasakan angin menampar wajahku, di lepau nasi di pantai cermin. Karakterku yang keras, penyendiri dan terlihat dingin ini ternyata bisa memiliki perasaan yang mendalam. Perilakuku yang menyembunyikan sehingga sering disalah artikan oleh orang lain. Matahari pun meninggi dan aku masih diam, berpikir. Untuk diriku sendiri, dan sudah lama aku tak pernah memikirkan diriku sendiri.
Apakah itu takdir sekutu atau seteru
Dan bila Tuhan mengizinkan
Ku hanya ingin sekali saja merasakan cinta
Cukuplah itu bagiku hingga akhir hidup
Hanya itu pintaku
Juga janjiku
THE LAST GENTLEMAN
4 December 2009
Angin pagi musim semi merayap pelan masuk dalam benteng Osaka. Pertahanan terakhir keluarga Toyotomi terlihat kusam diantara mekarnya bunga sakura. Wajah sang maut tersenyum menanti saat tepat menyapa membuat suasana gelap pada para penghuni.
Pasukan Tokugawa ada diluar sana, dipimpin seorang yang telaten bernama Ieyasu sang kepala klan. Segenap daimyo terbaik dibelakangnya. Matsume Date si mata satu mendukungnya. Hoichiro Honda berhelm bertanduk pun sudah bersiap diatas kuda siap mencabut nyawa setiap pendukung setia Hideyori.
Tokugawa mengkhianati perjanjian musim dingin. Perdamaian damai bersyarat dihancurkan benteng luar Osaka diingkari. Setiap orang didalam benteng mengutuki ketololan Hideyori sedang pasukan diluar benteng menertawakan kebodohan anak satu-satunya mendiang Hideyoshi sang Taiko yang membawa panji-panji labu emas dalam kebinasaan.
Yukimura dari keluarga Sanada, satu-satunya jenderal yang masih setia pada benteng Osaka memandang katana dengan mata keras. Namun penuh kepedihan. Hideyori bukan bapaknya Hideyoshi, padahal Osaka sudah hampir memenangkan pertempuran musim dingin ketika laskar Edo mengajukan damai. Lacur, Hideyori penakut menerima perjanjian penuh tipu daya. Seluruh negeri kehilangan kepercayaan pada Pasukan Barat.
Suara tatami bergeser pelan, Wakatabe Tenzo masuk membungkuk. Ninja ini sudah menua, alisnya sudah memutih. Ia sudah mengabdi sejak zaman Hideyoshi bahkan ketika mereka dipertuan Oda Nobunaga. “Tuan Sanada, pertempuran sudah pecah digerbang. Pasukan Edo datang dengan meriam Portugis untuk menghancurkan dinding dalam benteng.”
“Akhirnya Tenzo, tiba waktunya bagiku untuk bertempur.” Yukimura berdiri tegar. “Tuan Sanada, sebagai Jenderal baiknya tuan berada disisi Yang Mulia Hideyori.” Bantah Tenzo. Seorang ninja tak boleh membantah Jenderal, setiap prajurit mengetahui kode etik samurai.
Yukimura tersenyum, “Tenzo. Aku akan maju ke front terdepan. Langsung ke kemah Ieyasu, akan aku bawa pulang kepala keparat Mikawa itu sehingga kitalah yang memenangkan perang ini.” Mendengar perkataan tuannya, Tenzo membenturkan kepala ke lantai dan menangis. “Tuan jangan gegabah masih ada perang yang lain, saya mohon tuan pikirkanlah ini baik-baik. Tuan hanya akan menjemput maut, ada dua puluh ribu prajurit menjaga kemah Ieyasu.”
“Tenzo, aku adalah jenderal terakhir setelah semuanya pergi. Apakah mungkin kita menang melawan serbuan pasukan Timur yang datang bagai air bah. Bahkan bertahan saja sulit, perang ini sebenarnya sudah sudah berakhir lama. Bahkan sebelum Sekigahara terjadi. Siapkan kuda Tenzo!” Perintah Yukimura.
Matahari diubun-ubun ketika Yukimura menaiki kuda. Tenzo memegang kekang seraya menangis. “Tenzo, Yang Mulia Hideyori setuju dengan strategiku.” Yukimura meludah kesamping. “Berdoalah pada Hachiman. Akan aku bawa kepala Ieyasu Tokugawa pulang.” Tenzo semakin terisak dan ingusnya pun keluar, “Tuan bagaimana jika kita kalah?”
Yukimura melihat langit menantang matahari terik. “Jagalah kehormatanmu dan matilah dengan tersenyum.” Yukimura Sanada menarik tali kekang dan melaju dengan kekuatan penuh ke pertempuran.
Yukimura Sanada sendirian menembus kepungan pasukan Tokugawa, dengan tubuh penuh panah pasukan lawan. Hari menjelang senja ketika Yukimura Sanada mencapai kemah Tokugawa. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Ieyasu, maut menjemputnya. Tubuh itu pucat, setiap tetes darah sudah tidak menghuni tubuh itu lagi. Ia mati dengan senyuman.
Prinsip utama
Untuk menang dalam perang
Adalah membuat prajurit
Mati bahagia
MENEGAKKAN KEADILAN
3 November 2009
Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Takkala Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad , berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!
Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”
Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.
Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.
Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.
Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :
1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.
2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.
Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.
Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Hag Belanda.
Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA
19 October 2009
Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872. Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan.
Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih. “Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya.
Cinta kadang dalam bentuk kata, kadang pula tanpa kata. Tapi bagi setiap anak manusia, cinta ibu adalah yang paling berarti. Mata beliau kosong ketika menjambak keras rambutku, menampar-nampar pipiku keras dan semakin pelan. “Anak durhaka! Kemana saja kau selama ini?” Kemudian beliau mendekapku mesra, seperti bayi. Bayi yang baru dilahirkan dan dibuai dalam kasih sayangnya. Begitu tulus sehingga kutaktahu harus berkata apa lagi.
Bagi kami yang dilahirkan di tanah ini, ketika berhadapan dengan musuh diajarkan untuk menyingkirkan nurani. Kami adalah kaum yang tega meludahi, mencincang, bahkan mengencingi lawan sambil tertawa. Belanda menyebut kami sebagai bangsa perompak tua yang harus diberantas. Tapi dihadapan ibu kami tak lebih dari seorang kanak-kanak, berapapun usia kami. Putroe Phang1) menyadari hal ini, dua ratus tahun lalu mendesak suaminya Sultan Iskandar Muda2) menerbitkan Qanun3) yang berisi bahwa setiap anak laki-laki Aceh yang menikah diharuskan tinggal dirumah pihak perempuan, atau membuat rumah sendiri. Sebagai Permaisuri beliau pun risih jika harus tinggal serumah dengan mertua, dengan suami yang manja, sangat manja dengan ibu mereka.
Aku tidur dipangkuan ibu, kapten perompak yang pernah menahkodai bintang hitam. Disegani Navy Inggris, ditakuti skuadron Portugis, diburu armada Perancis dan mimpi buruk Flying Duchman4) takluk tanpa syarat. Dan ketika beliau bercerita aku pun hanya bisa terdiam, atas usahanya bertahan hidup untuk menjaga warisan untukku, agar tak dibagi oleh Karong5). Padahal hanya sepetak tanah ditepi krueng Aceh6). Apalah artinya dibanding pundi emas jarahan yang kubawa. Sifatku ingin membantah, tapi mulutku terkunci diam tanpa kata.
Ibu semakin menua, lebih tua dariku yang sudah tua. Beliau tak pernah kemana-mana. Beliau yang percaya bahwa Aceh Darussalam masih perkasa. Membenci kaphe7) sangat disatu sisi, namun disisi lain meyakini tanah Gayo8) adalah khayangan. Lucu penuh pertentangan. Tapi beliau adalah ibuku, seseorang yang paling kucintai dalam hidupku. Tiba-tibaku sadar kepulanganku ini bukanlah semuluk yang kusangka, bukan menyelamatkan Aceh Darussalam yang mewakili kedaulatan Nusantara terakhir dari masa-masa gelap sejarah. Bukan melindungi ibu pertiwi dari penjajahan. Hanya pulang dan mendapati ibuku masih hidup, ya sesederhana itu. Tak lebih, dan hari ini kenyataan melebihi anggapanku. Ternyata dunia tak seburuk dugaanku.
“Sudah akan azan jumat, pergilah ke Masjid Baiturrahman9)!” Perintah ibu seraya membelai kepalaku. Keningku berkerut, sudah berapa lama aku tidak shalat dan aku sudah ragu bagaimana caranya. “Ayo cepat!” Perintah ibu lagi. “Jumat depan.” Jawabku ragu. Kembali memukul kepalaku, “Berapa lama kamu pergi? Kamu sudah menjadi.” Suara beliau hilang sesaat dan menyambungnya dengan, “Durjana!” Aku tersenyum, ya itulah julukanku. Sang Durjana, tapi biarlah ibu tak pernah tahu apa yang kulakukan sampai dengan kemarin. Aku memejamkan mata, tertidur dan tak tahu apa-apa lagi. Rasa damai ini sungguh menyejukkan.
1. Tengku Kamaliah, seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Istri Sultan Iskandar Muda. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cinta. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
2. Sultan Iskandar Muda (Aceh, 1593 atau 1590 – 27 Desember 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.
3. Qanun = Perangkat Undang-undang.
4. Flying Duchman = Julukan pelaut Belanda.
5. Karong = Sistem perwalian secara adat di Aceh.
6. Krueng Aceh = Sungai Aceh yang membelah ibu kota Bandar Aceh Darussalam.
7. Kaphe = Julukan kaum putih, penjajah yang umumnya beragama Nasrani. Berasal dari kata Arab kafir.
8. Tanah Gayo = Tanah dataran tinggi pegunungan ditengah Aceh, didalam sistem administrasi Republik Indonesia sekarang pada Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
9. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Bandar Aceh Darussalam. Sewaktu Belanda menyerang pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas.
SAMBUNGAN DARI : http://tengkuputeh.wordpress.com/2009/10/12/risalah-sang-durjana-bagian-dua/
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA
12 October 2009
Ulee Lheu. Oktober 1872, Pantai ini sudah terkena pendangkalan parah. Bintang hitam tak bisa merapat, sebuah sekoci merangkak pelan ke Pantai Cermin. Sang Durjana pulang dari petualangan. Jantungku berdetak kencang, rasa rindu semakin berarti jika sudah di dekat rumah. Akhirnya kumenjejakkan kaki didaratan.
Dua puluh tahun, tidak ada perubahan. Beginikah nasib Aceh Darussalam, jalan setapaknya masih sama. Orang-orang lama semakin tua, dan orang-orang baru tak lebih baik. Untuk apa kepulanganku ini? Kadang-kadang kebertanya pada diriku sendiri sehingga benar-benar meyakini bahwa kepulanganku adalah untuk membela bangsaku sendiri.
Melayu Sumatera telah takluk baru-baru ini ditangan Belanda, dan diberi nama Keresidenan Riau. Deli sudah lama jatuh. Tiku, Barus dan Pariaman sudah lama hilang dipeta Aceh Darussalam. Diakhir abad XIX diseantero Nusantara hanya Aceh Darussalam dan Tanah Batak yang masih merdeka. Dan kedaulatan keduanya terancam oleh Traktat Sumatera sebuah persesengkolan tingkat tinggi antara Inggris dan Belanda, tapi apa yang mereka lakukan? Hanya bersantai saja di kedai seolah pasrah akan takdir yang akan menuntun pada kemenangan.
“Durjana!” Dari lepau nasi suara tak asing memanggil. “Bang Baka?” Terdengar tawa yang khas. “Begini rupanya wajah lanun yang diburu oleh seluruh Negara. Waktu seolah berhenti untukmu wajahmu masih sama ketika kita bertemu terakhir kali” Tembaknya. Aku tersenyum dan datang padanya. “Sekarang aku bukan lagi kepala lanun. Kapal Bintang Hitam sudah kulepaskan, didepan abang sekarang hanyalah Ahmad. Abang sendiri bagaimana kabarnya sekarang?” Ya, kini aku sendiri dan para kelasi sudah kubebas tugaskan ditengah lautan. Hari ini aku memulai hidup sebagai orang baru, bukan lagi sebagai kepala perompak hanya seorang anak manusia biasa.
“Aku sekarang saudagar, memasukkan beras dari Jawa.” Ia berkata. “Bukankah kampung Bang Baka di Meuredu sana penghasil beras untuk kesultanan?” tanyaku heran. “Durjana, sudah terlalu lama kamu pergi dan tak tahu kabar negeri lagi. Kaum bangsawan meringkuk ketakutan di istana Darul Kamal, sedang para Ulee Balang sibuk bertikai, negeri kita tak terurus.” Bang Baka menggerutu pelan.
“Ceritakan padaku bang.” Pintaku, mengambil kursi dan duduk. Dari mulut bang Baka kuketahui bahwa banyak raja-raja lokal kecil yang gelari Ulee Balang tak mengindahkan lagi kewibawaan sultan yang berketurunan Bugis. Daerah Peurelak menjadi sarang penyamun membajak kapal-kapal niaga Inggris dan Belanda, harta jarahan dari para kafir. Sultan Mahmud Syah tak mampu mencegahnya, padahal ini disuatu hari akan dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Raja Meulaboh dan Raja Teunom berselisih, mengakibatkan darah terbuang sia-sia. Nasib negeri ini diujung tanduk namun tak seorang pun yang berupaya untuk mencegahnya, tragis. Mereka terlalu percaya akan kehebatan masa lalu, pada kemampuan mengusir Portugis padahal sudah lebih dua ratus tahun berlalu. Pada kemampuan armada laut menguasai Selat Malaka dan pantai Barat Sumatera dulu. Nafasku sesak.
“Jadi apa yang akan kau kerjakan pada kepulanganmu ini Durjana?” Bang Baka memiliki karakter khas saudagar yang berasal dari Tanah Pidie, penuh harapan. “Tak tahulah bang, mungkin aku akan pulang ke rumah.” Mataku menerawang jauh menatap lautan biru bersama mega-mega di langit. Dulu kami menguasai laut, sekarang bahkan kami tak berdaya didaratan. “Hanya begitu, reputasimu sebagai lanun bahkan menjadi legenda. Aku bahkan mengetahui kehebatanmu ketika berlabuh di Semarang, Orang-orang Belanda menakuti anak-anak mereka yang nakal dengan namamu.” Cerita lisan cepat berkembang, dari mulut ke mulut. Setiap mulut menambah bumbu sehingga sampai ditelinga terakhir menjadi sangat menakutkan. “Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?” Bang Baka mengulangi pertanyaan yang sama seraya memainkan matanya, berharap mendapat jawaban dariku. Jelas sekali ia hendak menularkan semangatnya padaku. Tapi aku, dalam pengembaraan selama ini terlalu banyak melihat kejatuhan berbagai negeri pada kekuasaan orang-orang putih, sehingga padaku tak ada harapan yang sama.
Untuk pertama kalinya, aku tak tahu harus berkata apa. Mulutku kelu. “Aku sudah tua, empat puluh tahun. Mungkin aku akan pulang dan mengasah kelewang dan menanti kapan perang kita dengan Belanda atau Inggris terjadi.” Aku berjalan dan tak melihat kebelakang lagi, saat ini aku hanya ingin menemukan rumah untuk tidur. Dalam buaian ibu pertiwi setelah dua puluh tahun pergi.
SAMBUNGAN DARI RISALAH SANG DURJANA ; http://tengkuputeh.wordpress.com/2009/01/08/risalah-sang-durjana/
Milvan Murtadha, Lhokseumawe 11 Oktober 2009.
TAK ADA APA APA
7 October 2009
Ini kali kita bertemu, tak sengaja. Tidak ada apa-apa. Benci tiada, segalanya telah menguap. Biasa saja. Kata-kata tiada. Dan jika akhirnya bibirku tersenyum karena aku berbahagia. Sangat senang menjadi seorang yang tak lagi kau kenali. Sangat senang karena aku telah berhasil menjadi seseorang yang aku inginkan.
Dulu, kau katakan bersama waktu aku akan melupakanmu. Dan hari ini aku terkejut betapa kata-katamu itu tak lain dan tak bukan melainkan kebenaran. Kata-kata harimau yang engkau keluarkan ternyata hari ini menerkammu. Sungguh tak ingin kutertawa pada merana yang kau rasakan, maka menjauhlah.
Engkau tahu aku selalu menepati janji, maka janganlah kecewa jika hari ini aku menunaikan janjiku. Meski engkau merana, aku tak akan melihatmu lagi dengan perasaan yang sama. Aku yang tak pernah memiliki rasa takut sedari dulu, jadi mengapa hari ini aku harus ketakutan jika berhadapan langsung denganmu lagi.
Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu. Kini ku memiliki masa depan yang harus kurengkuh. Satu kalimatku untukmu, janganlah terjerat masa lalu.
“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”
AKU MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA
28 September 2009
Aku mencintaimu dengan sederhana, layaknya kasih sayang yang dibawa oleh titik-titik hujan. Yang akan ku bawa kemanapun jua kakiku melangkah. mengingatkan ada hal-hal sederhana yang luar biasa. Indah kehidupan adalah ketika ketika memperjumpakan kita dengan berbagai peristiwa. Lakon itu membuat kita tertawa, bersedih atau berpikir. Hitam dan putih bercampur aduk dalam emosi. Sungguh banyak pengetahuan, sebagai manusia sering kali keangkuhan merasuk ke jantung hingga membutakan diri dari sebuah kebenaran.
Hari ini, jam ini, detik ini. Kusingkirkan segala angkuh meraja dihati. Untuk mengakui, Disaat hujan turun, Aku rindu padamu. Aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Cintaku yang sederhana, sangat sederhana dan tanpa kata-kata lagi.
Untuk cintaku yang sederhana.
Lhokseumawe, Dini hari 28 September 2009.