RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH
10 February 2010
Bandar Aceh Darussalam, Pebruari 1873
Seorang pahlawan tidak langsung dilahirkan dimuka bumi. Seorang pahlawan dibentuk oleh alam, karena seseorang dapat dikatakan sebagai pahlawan jika ia melebihi dirinya. Memberikan manfaat yang secara alur pikiran awam tak dapat ia lakukan. Pada saat itulah seseorang membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pahlawan.
Terus terang aku mengagumi anak muda ini, sekaligus membencinya. Umar anak Meulaboh, sudah beberapa minggu belakangan ini ia ada di Bandar Aceh Darussalam. Pergerakannya sangat cepat, baru sesaat dipelabuhan sekejap berikutnya ia membuat keributan di Peukan Aceh. Satu hal yang luar biasa dari anak berumur sembilan belas tahun ini, ia selalu mampu mempengaruhi orang yang lebih tua tunduk pada pengaruhnya. Satu sisi jelek dari anak muda ini yang paling tidak kusukai adalah gayanya yang sangat feodal dan gemar berbelanja. Keonaran adalah cara untuk menunjukan siapa dirinya, cucu Raja Meulaboh. Belum lagi kegemarannya menghisap candu yang menyebabkan giginya kuning seperti aliran krueng Aceh.
“Tukang jahit, sekali-kali bergaullah sedikit!” Diikuti beberapa orang yang lebih tua, Umar berkacak pinggang didepan lapakku. Aku tidak berminat mengurusi keturunan Ulee balang manja ini, lebih baik meneruskan pekerjaanku. Tidak dipedulikan tidak membuat orang ini jenggah, malah ia mengambil tempat duduk disampingku. “Abu, aku tahu siapa kamu? Tidak semestinya kamu mengenakan topeng seperti ini. Tidakkah kamu tertarik untul berpolitik? Dan bila kamu memilih Umar sebagai tuan maka aku jamin pilihanmu itu tidak akan mengecewakan.” Tawarnya manis, manis semanis madu.
Aku tak tahu apakah dia, si Umar ini memiliki kualitas untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang pecundang. Karena batas antara dua hal ini sangat tipis, lebih tipis dari sutra Tiongkok terbaik. Umar mendekatkan wajahnya dan memainkan alisnya, dia mahir mempengaruhi orang lain. Tak heran diusia muda pengikutnya lumayan banyak disini, apalagi di Meulaboh sana kampungnya.
“Politik itu adalah cerita tentang menang dan kalah, dan aku tidak tertarik sama sekali.” Kutatap matanya. Ia menunduk, “Abu, aku mendengar cerita nabi Khaidir dan nabi Musa. Aku tahu bahwa di dunia ini lebih banyak orang yang lebih pintar dariku. Apalagi aku mendengar bahwa Abu pernah bertualang dinegara atas angin, meski belum ke Mekkah aku tahu Abu pernah ke negeri Rum. Jangan terkejut Abu, selain mangkubumi Habib Abdurrahman yang merasa paling pintar di dunia itu. Abu satu-satunya orang yang pernah kesana.”
Aku tersenyum, tersanjung sedikit. “Aku tidak tertarik berpolitik, kamu tahu itu.” Umar menarik nafas panjang, “Abu, negeri pesisir timur membajak kapal Kaphe lagi. Aku tidak tahu apa yang ada diotak mereka, apakah mereka memang terlahir sebagai bangsa perompak?”
Dengan satu kalimat ia menceritakan keadaan sosial budaya sekaligus menyindir masa laluku, Sang Durjana. Tanpa disadari ku membela, “jangan salahkan mereka, salahkan blockade Inggris dan Belanda di Selat Malaka!”
Umar tertawa terbahak, “Lalu apakah kaphe Belanda yang sangat pelit itu akan diam saja! Tidak, mereka bangsa dagang. Tak ada guna Tuan Tibang berunding ke Singapura, perang pasti akan terjadi. Mereka akan mencari pasal”
Umurnya baru sembilan belas tahun, tapi punya pandangan jauh kedepan. Sama dengan apa yang ku perkirakan selama ini, hanya saja terlihat ia belum terlalu yakin dengan apa yang ia renungkan. “Iya, bulan depan Belanda pasti akan menyerang.” Jawabku.
Umar tersentak. “Sudah kuduga, mereka di Timur tak pernah berperang di laut namun merompak dan membawa negeri ini dalam kehancuran, berbeda dengan kami yang dari Barat. Berjaya sedari dulu menaklukkan Samudera Hindia.” Dan kata-katanya berubah menjadi kegeraman yang amat sangat.
Aku menggeleng, “Saat ini Umar. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Tapi ini adalah saat yang tepat untuk bersatu.” Umar memandang antara gairah dan takut akan perang, bagaimanapun bocah ini baru berumur sembilan belas tahun.
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya.
“Umar, tak usah kau urusi konflik Timur-Barat. Sekarang kamu pulang ke Barat. Damaikan Meulaboh dengan Teunom, perang dua mukim bersisian itu sia-sia. Siapkan pasukan sebanyak mungkin untuk kembali ke Bandar Aceh ketika perang terjadi.” Anak ini harus diperjelas dimana posisinya dalam perang, jelas ia ingin menjadi orang yang berarti ketika pertempuran pecah.
“Apa mungkin Meulaboh dan Teunom berdamai?” Langsung kupotong, “pasti bisa! Meulaboh dan Teunom adalah negeri terkaya di Barat Selatan. Kali ini kita melawan raksasa, dan raksasa ini gemar mengadu domba.”
Umar mencabut rencongnya, kemudian memandangi ujungnya. “Apalagi yang kau tunggu, cepat pulang ke Meulaboh!” Tak pernah kubayangkan ia menurut, memberi tabik dan berbalik. Pengikutnya mengikuti dibelakang seperti anak bebek. Salah seorang pengikutnya sebelum berbalik menyalamiku, “Tuan sangat hebat, mampu membuat junjunganku kembali ke Barat, padahal kakeknya sudah beberapa kali mengirimkan utusan supaya dia pulang. Oh ya, perkenalkan aku Dokarem, pujangga wilayah Barat.” Ia pun pergi mengikuti pemimpinnya, syukurlah paling tidak untuk beberapa minggu ibu kota aman dari sang pembuat onar.
Sebagaimana kekagumanku pada orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua, sedemikian pula hormatku pada orang tua yang memiliki kualitas orang muda. Mereka yang mengikuti aturan ini bisa menjadi tua tubuhnya, tapi tidak pernah tua secara pikiran.”
XXXXX
SELAMAT ULANG TAHUN MAMA
1 February 2010
Segenap cinta yang pernah ada di dunia. Hanyalah untukmu bahagian yang paling terbesar mama. Di kehidupan yang ini, betapa aku bersyukur telah dilahirkan dari rahimmu. Mama, engkau telah mengajarkan banyak hal kepada anakmu ini.
Mama, seandainya ananda hidup seribu kali. Hanya dirimu satu-satunya tempat dimana anakmu berbakti. Anakmu yang manja dan keras kepala. Engkau mengetahui dengan jelas hal itu, engkau mengerti dan memperlakukan anakmu bagai raja, raja merajuk.
Mama, tiada kata yang dapat menjelaskan bagaimana rasa cintaku padamu. Bahkan anakmu yang terbiasa bermain dengan pena ini kehilangan kehebatannya. Dan menyerah untuk mecoba merangkai lebih banyak kata lagi.
Selamat ulang tahun mama, dimana setiap pertambahannya adalah kebahagian bagi anakmu ini. Selamat Ulang tahun dan tak ada lagi kata. Karena cinta kadang tanpa kata dan puja.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM
25 January 2010
Lampisang Aceh Besar, Januari 1873
Kelemahan adalah kekuatan, begitupun sebaliknya kekuatan menjelma menjadi kelemahan. Aku menyeret langkahku enggan pelan menuju rumah Aceh itu. Pihak yang mengundang, pemilik rumah. Tuanku Nanta Setia, putra Datuk Makdum Sati. Keturunan wali negeri Minangkabau ketika masih dalam perlindungan Kesultanan Aceh. Adalah cerita lama sebelum Plakat Panjang terjadi. Keturunan Front liner yang berdarah campur dan masih kerabat dekat kesultanan.
Entah mengapa, aku kehilangan semangat untuk menghadiri. Mungkin aku sudah tua, dan dihinggap penyakit orang tua yang benama kemalasan. Nyamuk Januari sangat mengesalkan berdengung ditelingaku sedari tadi. Aku tiba juga akhirnya. Terlambat, pertemuan sudah dimulai. Belasan kuda memamah biak terlantar disekeliling rumah.
“Tuan terlambat rupanya?” Dibawah rumah gelap terdengar suara. Aku mendekat dan melihat seorang duduk diatas alu penumbuk padi yang lazim ada dibawah kolong rumah panggung. “Sudah dimulai rupanya?” Tanyaku seraya basa-basi mengulurkan tangan.
“Sang Durjana.” Tunjuknyanya. Udara panas malam hari pertanda tak baik. Namun mataku segera membiasakan diri dengan kegelapan. Seorang anak muda, kira-kira berumur sembilan belas tahun. Namun suaranya keras, bariton. Berwajah tirus dan hitam. Memiliki alias yang tebal dan mata yang tajam, entah kenapa aku merasa bertemu dengan orang licik. Usiaku lebih tua, sehingga berkata. “Sebut saja Abu.”
“Umar.” Katanya datar. “Kamu terlambat juga?” tanyaku. Mata elang itu menatapku dengan remeh. “Aku tak akan terlambat jika diundang paman Nanta. Meski jauh-jauh datang. Diatas ada sainganku Imuem Muda Raja Teunom, negeriku masih bertikai dengan Teunom. Tak elok aku yang datang lebih akhir darinya bertemu dia hari ini.”
“Siapa saja diatas?”
“Selain paman dan si Raja Teunom, ada Pang Hasyim, ada Tuanku Keumala, ada Cut Banta, dan beberapa orang utusan Ampon chik Peusangan. Mereka semua diundang paman untuk membicarakan perang.” Matanya menyala-nyala ketika membicarakan perang seperti orang Neger mempersiapkan pesta.
Aku diundang ke acara seperti ini, semua adalah orang-orang penting. Terlebih Cut Banta yang bergelar Panglima Polim, Panglima Sagoe XXVI. Rasa enggan menebal dipunggungku, aku sudah lelah bertempur. Ingin hidup tenang, yah lagi pula aku bukanlah orang sepenting itu untuk dilibatkan dalam hal taktik menghadapi Kaphe Belanda.
“Belanda melobi Inggris, kita pula hendak meminta bantuan Rum. Perang besar tak mungkin terhindarkan lagi.” Aku hanya diam mengutuki pengetahuanku. Haruskah kukatakan pada anak muda ini bahwa Rum sekarang bukanlah yang dulu, ia sekarang bernama Turki dengan segala penyakitnya, sehingga mustahil membantu Aceh menghadapi Negara Eropa, apalagi jika Britania turut serta. Turki sekarang penakut, kalkun julukan mereka.
“Kenapa harus ada perang?” Aku bertanya pada diriku sendiri.
Umar menatapku tak percaya, seolah melihat makhluk asing yang tak pernah dilihat sebelumnya. “Kenapa Abu? Sudah menjadi penakut? Setelah menikah Durjana menjadi pecundang.” Kemudian ia tertawa keras. Aku menatap anak muda ini kesal, orang seperti inilah yang menyebabkan tanah ini bersimbah darah. Haus darah dan penuh semangat, orang seperti ini berkemungkinan menjadi pahlawan besar sekaligus pengkhianat terculas.
Sudahkah, aku pulang saja. “Sampaikan salamku pada pamanmu anak muda, ketika perang terjadi aku akan ikut serta. Namun saat ini aku ingin menghabiskan hari-hari tersisa dirumah dengan damai. Urusan taktik terserah kalian kaum bangsawan, aku hanyalah jelata.”
“Sang Durjana, kemasyuran namamu hanya sampai disini.” Umar mengejek kekerdilan hatiku. “Dan ingatlah, suatu hari ini dinegeri ini namaku akan berkibar melebihi namamu.” Ia mengeluarkan tembakau linting dari sakunya, membakarnya kemudian menghirup dalam-dalam untuk melepaskan dalam betuk gelang asap. Bau ganja merebak. Gila!
“Maka anak muda, sebutkan dengan jelas namamu dan jika suatu hari aku mendengar namamu niscaya aku tak akan terkejut karenanya.” Tantangku.
“Ingatlah baik-baik sang Durjana, Ahmad, atau Abu. Namaku adalah Umar. Umar anak Meulaboh!”
Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit ditentukan oleh orang besar
xxxxxx
CERITA SEBUAH GUDANG
14 January 2010
Hanya sebuah gudang
Dimana setiap sudutnya dihuni serangga
Dimana setiap sisinya dipenuhi kegelapan
Kumuh dan berdebu
Diantara bangku dan meja yang lapuk
Duduk termenung menghayati hidup
Merasakan dunia ini laksana sebuah gudang
Dan diri ini semakin kecil dan kerdil
Dulu, aku berusaha mengubahnya dengan teriakan-teriakan
Walau mereka ,menutup kedua daun telinga
Dan kini melupakan dan mencampakkan
Kesini disebuah gudang tua
Dalam sebuah gudang, terlewat dari hiruk pikuk dunia
Hanya ada keterasingan dan terlupakan
Merasakan nikmatnya sebuah keterasingan
Bersama-sama dengan tikus-tikusnya
Banda Aceh, Sabtu 5 Oktober 2002
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA
15 December 2009
Pantai Cermin, Bandar Aceh Darussalam. Desember 1872.
Akhirnya lima utusan Sultan telah berlayar menuju Melayu Sumatra, Belanda menamakan kawasan itu Riau. Sebagai pembeda dengan Melayu semenanjung yang dikuasai Inggris. Tibang Muhammad yang memimpin delegasi membawa syarat yang sulit dipenuhi oleh Belanda yang intinya Kesultanan Aceh Darussalam sepakat untuk berdagang dan bersahabat dengan Belanda asalkan wilayah yang pernah menjadi bagian Kerajaan Aceh dikembalikan. Di antaranya adalah Sibolga, Barus, Singkel, Pulau Nias dan beberapa kerajaan di pesisir Sumatera Timur.
Perang bukan menjadi kekhawatiran di Kesultanan disini. Para pencinta perang senang mengasah parang, kenangan mengusir Portugis di abad XVI seolah menyakinkan bahwa tanah ini akan selamanya merdeka dari tangan-tangan kaum putih. Berapa kalikah aku mengatakan bahwa ini adakah pandangan yang naïf. Suara sumbang yang kusuarakan menjadikanku orang asing di negeri sendiri. Segenap pengalaman dan ilmu yang kumiliki yang menjadi kekuatanku selama ini diperantauan malah menjadi kelemahan bagiku di negeriku sendiri, tempat yang kuinginkan selalu untuk berpulang.
Sudahlah, aku bosan menjadi orang asing. Apalagi jika itu di negeri sendiri. Aku ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda. Cukup rasanya aku memikirkan suatu hal yang bukan menjadi tanggung jawabku. Hanya satu hal, jika perang terjadi maka aku akan mencabut kelewang, rencongku sudah kutabur racun ular padang pasir, oleh-oleh dari pelabuhan Muscat. Senapanku sudah kuminyaki. Aku sudah siap dan saatnya untuk memikirkan kepentingan diri sendiri.
Aku merencanakan sebuah masa depan. Sebagai Onminus Present, akhirnya aku merasakan kelelahan untuk hadir dalam setiap hiruk pikuk dunia. Aku akan menikah, setidaknya ketika perang terjadi aku tak lagi sendiri. Hanum namanya, lembut artinya. Berasal dari bahasa Arab. Tak perlu kuceritakan bagaimana dia yang akan membuat jatuh cinta padanya. Yang pasti aku merasakan menemukan seseorang yang tepat disaat yang tepat, di kala aku memahami bahwa sudah waktunya aku mengakhiri segala petualangan ini.
Bang Baka tertawa terbahak ketika mendengar ceritaku, “Kamu yakin Durjana!” Aku otak kubermain-main dengan banyak kata hingga akhirnya menjawab pendek. “Yakin!” Bang Baka semakin terbahak dan memegangi perutnya. “Sudah kau katakan padanya kelak dia yang pertama?” Bang Baka adalah satu-satunya orang yang mengetahui riwayat sang durjana. Aku menggeleng sangat pelan, “Belum bang, tapi suatu hari pasti akan kuceritakan.”
Saudagar beras dari negeri Meuredu itu memegang pundakku, dan berbisik. “Katakan dengan jujur padanya, sepatutnya hal ini tidak engkau sembunyikan.” Kehidupan adalah hal yang penuh rahasia, dan kadang hal yang terlihat bukanlah kebenaran yang mutlak. Haruskah aku yang berjuluk sang Durjana, bajak laut yang telah mengarungi tujuh samudera mengatakan padanya bahwa diriku tak pernah menyentuh perempuan manapun dimuka bumi, tak terbiasa akan pesonanya dan tak pernah menyerahkan hatiku. Lalu bergumam pelan, “Aku takut ia tak percaya. Aku tak ingin ia menganggapku sebagai pembohong. Padahal ia sudah siap dengan seburuk apapun masa laluku.”
“Katakan padanya dengan jujur maka ia akan bangga pada dirimu, apapun yang terjadi nanti setidaknya engkau sudah berusaha untuk mengawali dengan kejujuran walaupun sedikit terlambat namun belum terlalu terlambat.” Aku memandangi mulut Bang Baka berkicau, kalimat yang ia katakan begitu kacau dan tidak tersusun rapi, tapi ada kebenaran didalamnya. “Durjana, sudah saatnya engkau berhenti merahasiakan dirimu dan membuka siapa dirimu. Tokh yang kamu sembunyikan itu bukanlah sebuah aib.” Tambah bang Baka.
Aku terdiam merasakan angin menampar wajahku, di lepau nasi di pantai cermin. Karakterku yang keras, penyendiri dan terlihat dingin ini ternyata bisa memiliki perasaan yang mendalam. Perilakuku yang menyembunyikan sehingga sering disalah artikan oleh orang lain. Matahari pun meninggi dan aku masih diam, berpikir. Untuk diriku sendiri, dan sudah lama aku tak pernah memikirkan diriku sendiri.
Apakah itu takdir sekutu atau seteru
Dan bila Tuhan mengizinkan
Ku hanya ingin sekali saja merasakan cinta
Cukuplah itu bagiku hingga akhir hidup
Hanya itu pintaku
Juga janjiku
THE LAST GENTLEMAN
4 December 2009
Angin pagi musim semi merayap pelan masuk dalam benteng Osaka. Pertahanan terakhir keluarga Toyotomi terlihat kusam diantara mekarnya bunga sakura. Wajah sang maut tersenyum menanti saat tepat menyapa membuat suasana gelap pada para penghuni.
Pasukan Tokugawa ada diluar sana, dipimpin seorang yang telaten bernama Ieyasu sang kepala klan. Segenap daimyo terbaik dibelakangnya. Matsume Date si mata satu mendukungnya. Hoichiro Honda berhelm bertanduk pun sudah bersiap diatas kuda siap mencabut nyawa setiap pendukung setia Hideyori.
Tokugawa mengkhianati perjanjian musim dingin. Perdamaian damai bersyarat dihancurkan benteng luar Osaka diingkari. Setiap orang didalam benteng mengutuki ketololan Hideyori sedang pasukan diluar benteng menertawakan kebodohan anak satu-satunya mendiang Hideyoshi sang Taiko yang membawa panji-panji labu emas dalam kebinasaan.
Yukimura dari keluarga Sanada, satu-satunya jenderal yang masih setia pada benteng Osaka memandang katana dengan mata keras. Namun penuh kepedihan. Hideyori bukan bapaknya Hideyoshi, padahal Osaka sudah hampir memenangkan pertempuran musim dingin ketika laskar Edo mengajukan damai. Lacur, Hideyori penakut menerima perjanjian penuh tipu daya. Seluruh negeri kehilangan kepercayaan pada Pasukan Barat.
Suara tatami bergeser pelan, Wakatabe Tenzo masuk membungkuk. Ninja ini sudah menua, alisnya sudah memutih. Ia sudah mengabdi sejak zaman Hideyoshi bahkan ketika mereka dipertuan Oda Nobunaga. “Tuan Sanada, pertempuran sudah pecah digerbang. Pasukan Edo datang dengan meriam Portugis untuk menghancurkan dinding dalam benteng.”
“Akhirnya Tenzo, tiba waktunya bagiku untuk bertempur.” Yukimura berdiri tegar. “Tuan Sanada, sebagai Jenderal baiknya tuan berada disisi Yang Mulia Hideyori.” Bantah Tenzo. Seorang ninja tak boleh membantah Jenderal, setiap prajurit mengetahui kode etik samurai.
Yukimura tersenyum, “Tenzo. Aku akan maju ke front terdepan. Langsung ke kemah Ieyasu, akan aku bawa pulang kepala keparat Mikawa itu sehingga kitalah yang memenangkan perang ini.” Mendengar perkataan tuannya, Tenzo membenturkan kepala ke lantai dan menangis. “Tuan jangan gegabah masih ada perang yang lain, saya mohon tuan pikirkanlah ini baik-baik. Tuan hanya akan menjemput maut, ada dua puluh ribu prajurit menjaga kemah Ieyasu.”
“Tenzo, aku adalah jenderal terakhir setelah semuanya pergi. Apakah mungkin kita menang melawan serbuan pasukan Timur yang datang bagai air bah. Bahkan bertahan saja sulit, perang ini sebenarnya sudah sudah berakhir lama. Bahkan sebelum Sekigahara terjadi. Siapkan kuda Tenzo!” Perintah Yukimura.
Matahari diubun-ubun ketika Yukimura menaiki kuda. Tenzo memegang kekang seraya menangis. “Tenzo, Yang Mulia Hideyori setuju dengan strategiku.” Yukimura meludah kesamping. “Berdoalah pada Hachiman. Akan aku bawa kepala Ieyasu Tokugawa pulang.” Tenzo semakin terisak dan ingusnya pun keluar, “Tuan bagaimana jika kita kalah?”
Yukimura melihat langit menantang matahari terik. “Jagalah kehormatanmu dan matilah dengan tersenyum.” Yukimura Sanada menarik tali kekang dan melaju dengan kekuatan penuh ke pertempuran.
Yukimura Sanada sendirian menembus kepungan pasukan Tokugawa, dengan tubuh penuh panah pasukan lawan. Hari menjelang senja ketika Yukimura Sanada mencapai kemah Tokugawa. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Ieyasu, maut menjemputnya. Tubuh itu pucat, setiap tetes darah sudah tidak menghuni tubuh itu lagi. Ia mati dengan senyuman.
Prinsip utama
Untuk menang dalam perang
Adalah membuat prajurit
Mati bahagia
MENEGAKKAN KEADILAN
3 November 2009
Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Takkala Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad , berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!
Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”
Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.
Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.
Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.
Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :
1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.
2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.
Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.
Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Hag Belanda.
Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.