SALAM RINDU SELALU

9 July 2009

Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.

Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.

Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.

Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.

Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.

Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.

Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.

“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”

RINDU YANG MALU-MALU

6 July 2009

“Bila engkau rindu dengan sebenar-benarnya rindu. Tataplah bintang di angkasa kelak engkau kan mengerti. Ada sebentuk keindahan yang hanya mampu dipandang tanpa kemampuan jemari menjangkaunya”

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan. Sebagai makhluk fana sepatutnya manusia juga harus menyadari bahwa kehilangan adalah persiapan dari kehilangan yang lebih besar. Tokh di dunia ini tak ada yang abadi, semua kelak pergi.

Hujan mengguyur kota Lhokseumawe jumat sore, baru saja reda. Abu baru saja ingin memulai membuat tugas Study Kelayakan Bisnis untuk kuliah besok pagi. Pintu diketuk, siapa lagi? Begitu Abu membuka pintu betapa terkejut bahwa yang datang adalah The Legendary Tengku Salek Pungo.

“Seperti rumah perampok!” Belum-belum sudah melancarkan kritik pada Abu yang tak siap pada kunjungan ini. “Kita boleh menjadi orang lajang, tapi rapilah sedikit!” Tengku Salek Pungo menunjuk tata ruang minimalis desain Abu, plus guling dan bantal yang asal-asalan tergolek di depan TV. Terus dengan kejam menertawakan Laptop Acer yang Abu pasang keyboard. “Abu, harus saya akui seleramu buruk!”

Setelah Abu menyapu bagian yang akan diduduki, akhirnya TSP duduk. “Ilmu itu dicari bukan mencari.” Sebuah petuah Abu Hanifah ketika kepada Khalifah Harun Al-Rasyid ketika meminta dirinya datang mengajar ke istana Abbasiyah untuk anaknya Al-Amin dan Al-Makmun. Mengisyaratkan bahwa seorang muridlah yang harus mendatangi guru bukan sebaliknya. Sekaligus menyindir Abu yang sudah lama tak berkunjung ke tempat beliau. Biasanya kami akan berdebat panjang, namun Abu sedang tidak berselera. “Entah mengapa Tengku, beberapa bulan ini Abu kehilangan antusias.”

TSP menatap Abu lama, kemudian bertanya. “Sudah berapa lama kita tak bertemu?” Abu menghitung, sejak pindah kontrakan. “Setidaknya empat bulan.” Aroma sinis hilang dari wajah beliau, sambil menonton Mulan 2 di Globaltv kami pun berbicara, tentang banyak hal. Tentang kehidupan, ilmu dan hal-hal pribadi antara seorang guru dan murid.

“Hal seperti rindu tidak seharusnya disimpan didalam hati, hal sama yang membuat saya datang kemari.” Closing statement dari TSP. Menanggapinya Abu hanya tersenyum, walaupun TSP adalah guru Abu, beliau tidak mengetahui konsep Abu untuk membunuh rindu. Yaitu jangan memikirkannya, biarkan ia berlalu ke ruang hampa.

“Sekarang saya pulang.” TSP bangkit.

“Abu antar Tengku?”

“Tidak usah.”

Abu mengantar TSP sampai ke pintu. Pelan dan pasti TSP berjalan, kemudian berbalik. “Abu tidakkah bisa kamu memaksa mengantar saya pulang? Apakah kamu selalu seperti ini? Hanya sekali menawarkan, payah kamu!” Sambil tertawa menyengir. Abu ikutan tertawa, dengan sigap mengeluarkan Shogun 125 dari kandangnya. Dalam perjalanan pulang, TSP nyelutuk. “Kamu memang harus selalu dipaksa ya?” Abu hanya diam.

Lhokseumawe. Sudah empat tahun tiga bulan. Tidak mungkin selamanya, cepat atau lambat Abu akan meninggalkan kota ini. Kelak jika waktunya tiba, TSP sang guru yang bagi Abu tidak hanya menjadi pemberi ilmu namun lebih dari itu. Beliau telah mentransfer nilai-nilai kehidupan dalam pengembangan karakter. Ada banyak kenangan disini, Abu akan sangat merindukannya.

“Ditempat ini, tiada pula cintaku tersisa. Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana pun jiwaku mengembara”

Mengapa harus malu ketika menanyakan masa laluku. Sejakku menginjakkan kaki untuk pertama kali bertahun lalu sampai hari ini tak ada yang berani bertanya tentang ini padaku, jujur kuterkejut. Aku kan bercerita padamu, pada perasaan hangat ini yang dinamakan persahabatan. Sebagaimana jika boleh memilih maka sekalipun ku tak ingin menjadi musuhmu.

Baiklah masa lalu, kenapa aku bisa lupa, aku yang selalu berlagak dan berpura-pura. Padahal sebenarnya kenapa aku selalu berusaha. Dan kenapa aku melakukan semua. Pada dasarnya karena aku ingin menjadi seseorang. Bingung? Hey, aku hanya bercanda.

Padahal banyak sekali cerita lama, padahal banyak sekali yang ingin kusampaikan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya, karena semua itu tak bisa kewujudkan dalam bentuk kata-kata. Baiklah, aku memang harus dipaksa ya?

Aku telah bertemu dengan banyak orang. Sampai sekarang dan waktu dulu juga, aku harus selalu ditolong orang lain. Banyak hal yang telah kulalui. Sampai bertemu kembali sejak pertama bertemu. Aku enggan bercerita mungkin, dan kalau pun aku ingin bercerita aku tak pandai bercerita, baiklah aku akan bercerita.

Hanya untukmu, dan hanya malam ini. Biarlah kita berbincang sampai pagi menjelang. Sudikah engkau mendengarkannya tanpa menyela. Beginilah ceritanya.

“Sejarah bisa berulang, tapi manusia tak bisa kembali ke masa lalu”

PLEDOI IBLIS

12 June 2009

Entah syaithan mana yang merasukimu hingga engkau mengancamku? Aku yang terlihat tolol ini bukan tak tahu. Aku hanya merasa tak perlu tahu akan tingkah polah dibelakangku. Ada hal lain yang lebih penting untuk disimpan bergiga kapasitas otakku. Bukan itu, yang menjadi perhatian bagiku.

Jika selama ini aku diam bukan berarti kutunduk, mungkin engkau memang terlahir sebagai ratu yang bebas bertindak dengan segenap dayang-dayangmu. Yang dengan mudah mengendalikan bidak para punggawa. Tapi aku bukan mereka.

Dengan bagaimana lagi caraku mengatakannya, jika lidahku enggan mengeluarkan kalimat kebencian. Dan hari ini ketika akhirnya aku bersuara, itu karena ketidaknyamanan sudah menyergap ragaku.

Bahkan disaat aku hancur, tidak semudah itu engkau menaklukkanku. Syukurlah engkau tidak tahu. Dan pun jikalau suatu hari engkau tahu maka bacalah pernyataanku ini. Siapa kamu? Berani sekali padaku. Kamu pikir kamu siapa? Aku bukan budak, aku adalah manusia merdeka.

Katakan pada iblis yang menguasaimu, ancaman itu tak menggetarkanku. Tangan-tanganmu tak akan pernah bisa menyentuhku. Tahu kenapa? Karena aku adalah orang yang tak memiliki harapan. Dan orang yang tak memiliki harapan juga tak memiliki ketakutan.

Jika engkau memang bernyali, coba tatap mataku. Dan ulangi kata-katamu.

ODE SEEKOR ELANG

8 June 2009

Matamu tajam, menembus angkasa. Sayapmu merapuh elang, dimana bulu-bulu itu?  Cakar-cakarmu menumpul bukan? Wahai elang, coba tatap mega-mega senja disana. Warna lembayungnya mengiriskan bagi sayapmu yang tak terkepak lagi.

Elang bagaimana perasaanmu, akan kakimu yang dirantai? Engkau bisu. Dada membusung itu tiada. Kini engkau hanyalah piasan para raja. Engkau telah lupa nikmatnya mengangkasa. Elang tahukah kamu? Di luar sana bangsamu terancam kepunahan.

Elang, raja para burung. Legendamu samar-samar sekarang. Harga dirimu telah dikoyak-koyak zaman. Membawamu pada sangkar ini. Paruhmu lupa darah segar mangsamu hidup-hidup. Kini, hanya belas kasih manusialah sumber penghidupanmu.

Duhai elang. Sudah berapa lama engkau disini. Dijauhkan dari habitat aslimu. Menikmati puncak rantai makanan dalam ekosistem pegunungan hijau. Elang, hidup ini adalah cerita tentang memangsa bukan?

Matamu itu tak mengenal air mata bukan? Tapi mengapa bagiku terlihat begitu pilu. Disetiap hari hanya mampu melihat ke atas tanpa bisa terbang. Sangat mengesalkan. Tentu menyedihkan menghabiskan waktu mengharapkan hari itu kembali.

Rindumu melayang bebas dibawah sinar matahari tak terungkapkan. Harapanmu tak lagi dimengerti oleh kebanyakan kami. Perasaan sedih yang kau miliki menanti ajal dalam kerangkeng. Izinkanku tuk menyampaikan kepada mereka semua. Dalam ode seekor elang.

LEGENDA KAKI DEWA

1 June 2009

Otak adalah satu perangkat yang dianugerahkah tuhan kepada manusia memiliki kemampuan khusus yaitu ingatan, kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Berhubung dalam minggu-minggu ini UNIMAL memasuki fase-fase Ujian Tengah semester, Abu banyak menghabiskan malam dengan membaca kembali catatan-catatan. Bertepatan dengan itu, tugas menyiapkan proposal skripsi membuat Abu harus tidur larut menelaah beberapa artikel dan jurnal ilmiah. Masih ada tiga semester lagi, tapi untuk persiapan dosen sudah mengintruksikan Abu untuk membuatnya. Tak apalah, lebih cepat lebih baik. Itulah tantangan kuliah sambil bekerja, sedikitpun tak ingin mengeluh, namun masalahnya ada pada mata Abu. Lingkaran hitam menebal muncul disana, banyak yang protes. Mengerikan katanya, dikritik terus-terusan Abu jengah. Saran seorang teman untuk menaruh timun disana, untuk mengurangi kadar hitam tersebut sebelum tidur, pukul lima sore sepulang kantor Jumat sore Shogun 125 meluncur ke pasar Lhokseumawe.

Pasar sayur dan buah buka pagi, jika sore sudah sepi yang tinggal adalah sisa. Tak apalah daripada tak ada. Masuk kedalam los-los pasar mencari buah timun. Disebuah los tiba-tiba ingatan Abu tersengat, sepertinya kenal dengan penjual ini. Kami pernah berjumpa di masa lalu, tapi kapan? Lalu siapa? Abu melihat ada buah timun disana, tak lagi segar. Abu bertanya dengan percakapan standar dipasar, ketika ia berdiri menimbang buah Abu memperhatikan dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki, sekejap Abu mengetahui siapa dia.

“Kaki Dewa?” Tunjuk Abu. Dia terdiam berpikir dan melahap wajah Abu dengan penasaran kemudian sumrigah dan bertanya, “Kamu? Saya sudah lupa siapa.” Ia menyerah, tak mengingat lagi. Tapi Abu tak akan pernah lupa, dia adalah Sang Legendaris Kaki Dewa. Pemain sepak bola tarkam termasyur dari Kampung Lamkawe yang pernah mengalahkan tim kami tiga kali. Menjelang akhir Sembilan puluhan, Banda Aceh dan Aceh Besar adalah surga permainan bola sepak antar kampung (tarkam) bagi anak-anak tanggung, Abu merasa bangga menjadi bagian dari itu.

Bersama dengan bang Regar, Abu mendirikan sebuah klub amatir bernama Menara United untuk mewakili kampung kami. Meski selalu bersemangat bermain bola namun Abu tak pernah berbakat dibidang ini, sampai hari ini tak kunjung mahir. Predikat sebagai salah satu The Founding father klub membuat Abu sulit untuk dicadangkan, seburuk apapun Abu. Tercatat tiga kali tim Desa Lamkawe menjegal langkah kami, Abu sangat berkeinginan menjajal kemampuan Kaki Dewa namun pendiri klub yang satunya lagi yaitu Bang Regar didukung mayoritas anggota tim selalu menahan Abu untuk melawan timnya Kaki Dewa, alasan mereka jika Abu bermain kesimbangan tim akan rusak. Bahasa halus dari, “kamu hanyalah pengganggu!” Saat itu Abu hanya diam, rasa takut para sejawat pada Kaki Dewa membuat mereka berkata seperti itu. Membuat Abu sampai hari ini membenci rasa takut dan sangat perasa dengan kata “menganggu”, padahal biasanya kalau Abu bermain Menara United hampir selalu menang. Apalagi yang lebih menyakitkan daripada melihat teman-teman seperjuangan kalah bertarung tanpa kehadiran kita.

Sebenarnya kemampuan Kaki Dewa tidaklah tergolong luar biasa dibandingkan dengan pemain professional namun tendangan kaki kirinya maut. Yang menjadikan hal tersebut lebih istimewa adalah karena kaki kirinya hanya hanya memiliki dua jari sejak dilahirkan. Hal yang membuat ia tak pernah menggunakan sepatu disisi kiri, hal yang sama juga yang membuat Abu memberikan julukan padanya Kaki Dewa. Dasar Abu, suka memberi julukan pada orang lain. Dan lucunya gelar tersebut melekat terus padanya. Sedari dulu Abu tak tahu siapa nama aslinya, kelak dikemudian hari Abu selalu mencantumkan nama lengkap seseorang di phone book HP bahkan nama adik sendiri didasari karena kekecewaan Abu tak mengetahui nama sang Rival.

“Nomor sepuluh Menara United, Turnamen Kampung Lamkawe Juli 1998 masih ingat?” Abu mengingatkan pertemuan tim kami terakhir, babak semifinal bertepatan dengan Piala Dunia 1998 juga libur kenaikan kelas tiga bagi Abu yang bersekolah di SMP 1 Banda Aceh. “Si kulit merah, Abu! Kamu banyak berubah.” Tunjuknya. Abu terkesima begitu cepat ia mengingat. Itulah hidup, kadang-kadang reputasi seseorang lebih termasyur dikalangan musuh, lebih spesial karena tak sekalipun Abu bertarung dengannya di lapangan. Mungkin karena Abu seorang pengatur strategi yang membuat tim dengan materi pas-pasan seperti Menara United membuat kejutan diberbagai ajang tarkam. “Masih ingat Kaki Dewa?” Abu tertawa senang.

“Saya tidak akan lupa.” Dia menggeleng. “Dengan satu-satunya orang yang berani mengancam kami tepat dikampung sendiri.” Iya, Abu ingat ketika tim kami kalah untuk ketiga kalinya di desa mereka melalui adu penalti. Abu berlari dari bangku cadangan dan berteriak, “Kaki Dewa, hari ini kami kalah! Tapi ingatlah suatu hari kami akan membalas rasa sakit akibat kekalahan ini tiga kali lipat!” Tunjuk Abu ketika itu. Membuat seluruh penonton terdiam, bahkan suporter mereka tak ada yang berani mencemooh dan membisu, suatu hal yang menjadi alasan pula para anggota Menara United pulang bersepeda sejauh lima kilometer dengan kepala tegak, dengan tekad suatu hari akan membalas kekalahan ini. Namun ancaman Abu tak pernah menjadi kenyataan, berikut aroma konflik menjalar di Aceh menghentikan segala tarkam. Sejak turnamen itu kami tak pernah bertemu lagi, hingga hari ini.

“Jadi marah?” Abu menggoda, dan ia menggeleng lagi. Itulah indahnya sepakbola hingga ia menjadi olah raga yang paling digemari di dunia. Nilai sportivitas di dalamnya, bercampur semangat kompetisi membuat Abu mengenang masa-masa remaja itu, sungguh menyenangkan. “Apa pula kejadian yang membawa kita dua putra Aceh Besar bertemu kembali di Negeri Pase?” Tanya Abu. “Saya menikah dengan orang sini, anak saya tiga sekarang.” Ada kebanggaan dalam nada suaranya. Abu mampir dan mendengarkan ia bercerita, tentang perjalanan hidupnya, tentang ketidakmauannya menyerah terhadap cacat di kakinya. Orang ini benar-benar menginspirasi, suatu hal yang membuat Abu datang lagi ke kampung Lamkawe menonton partai final. Lamkawe Vs Lampeunerut FC yang lebih metropolis, dan ketika hasilnya mereka kalah Abu turut bersedih. Meskipun ia seorang rival, meski rasa sakit akibat kekalahan itu belum hilang. Tak sekalipun Abu tak jujur pada diri sendiri bahwa menggangumi semangat sang legenda Kaki Dewa.

Menjelang Maghrib, Kaki Dewa berkemas dan Abu pun pamit. “Kaki Dewa jika kamu masih bernyali, setiap hari senin dan kamis sore kapanpun kamu punya waktu. Datanglah ke lapangan tenis KPP Pratama Lhokseumawe, Insya Allah Abu selalu ada untuk bermain Futsal. Kita lihat bagaimana penampilanmu sekarang!” Tantang Abu. Sekali dan terakhir kali Kaki Dewa menggeleng, ia telah merdeka dari masa lalu. Masa ketika ia menjadi legenda sepakbola yang tak tercatat sejarah. Hari ini ia hidup untuk masa depan, untuk menghidupi anak dan istrinya. The Best Man From The Great Aceh, Lelaki terbaik dari Aceh Besar itu membuat mengingatkan bahwa dalam hidup ada momen yang berlangsung singkat namun selamanya otak menahan memori itu. Kesan yang tak hilang, kenangan. Menstarter motor Shogun 125, Abu pulang. Aih, lagi-lagi Abu lupa bertanya siapa nama aslinya. Tapi biarlah, selamanya Abu akan mengingatnya sebagai “Sang Legenda Kaki Dewa”.

“Sesuatu yang dialami seseorang pada masa remaja akan tersirat dalam karakternya kelak, dalam berbagai bentuk, rupa dan warna.”

WASIAT HANG TUAH

29 May 2009

Inilah sahabat, jalan beta sampai disini. Iya hanya sampai disini. Firasat beta berkata sudah tak akan lama lagi, tuduhan berzinah sekedar alasan. Hukuman kan ditetapkan. Beta tlah diperdaya meringkuk dalam bui gelap menunggu ajal.

Manusia akan diuji, dibatas ini pula ketenangan dicoba menahan azab tak tertanggungkan. Saat ini pula beta merindukan berlari dipematang sawah, berpantun riang menanti azan Maghrib. Tanpa air mata sahabat, tuduhan keji tak akan membuat beta menangis. Tiada yang lebih indah daripada kematian demi sebuah keyakinan.

Istana Melaka, Sultan Muzafar Syah tlah bertitah. Beta bukan apa-apa hanya patik buduk tak berharga dimata mereka yang memerintah negeri. Tanah Melayu berasa sempit bagi penguasa apabila beta bernyawa, meski berjanji setia tiada akan guna sahabat. Beta terhukum sebagai orang hukuman.

Menjelang maut, beta mengenang betapa kita lima sekawan berjaya menghalau bandit-bandit. Masa-masa gemilang yang membawa jejak langkah kita memasuki istana. Masih terkenang jua, ketika kita terbabit perlancongan muhibah ke djawa dwipa bersama segenap hulubalang dan pembesar Melaka guna melamar sang putri kepada junjungan kita, Sultan Melaka. Masa-masa indah pabila tlah terlewat sungguh mengiris, bukan begitu sahabat?

Sahabat beta tercinta, Hang Jebat. Engkaulah yang paling beta percaya, melebihi sekawan lainya. Hang Kasturi, Hang Lekir, Hang Lekiu. Bersama surat ini hamba titipkan padamu keris Taming Sari, jagalah oleh engkau pusaka buah tangan dari Raja Majapahit, Paduka Brawijaya. Sebagai tanda mata persahabatan dua bangsa, Majapahit dan Melaka. Gunakanlah kepada kemasyuran Nusantara.

Bila waktu beta kan tiba, luruhkanlah segala benci. Dari semua sahabat engkau yang paling perasa, engkau pula yang paling setia. Biarlah fitnah ini kelak diadili pada yaumil masyar. Tak usah engkau lagi mencari muasal fitnah keji ini.

Salam rindu

Hang Tuah

Catatan sejarah :

Hang Tuah adalah seseorang pahlawan legendaris dari bangsa Melayu pada masa pemerintahan Sultan Melaka di abad ke-15 (Kerajaan Melaka bermula pada 1400-1511 M). dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sesebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendahara.

Mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja, mengakibatkan semua rakyat di situ menjadi kacau-balau. Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat. Secara tiba-tiba, Bendahara memanggil kembali Hang Tuah daripada tempat persembunyiannya dan dibebaskan secara penuh daripada hukumannya oleh raja. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah merebut kembali keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, dan membunuhnya di dalam pertarungannya. Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.

Ini kali ketika memandang wajah di cermin, aku bertanya kamu siapa? Apa yang kamu lakukan disini? Apakah ini jalan kembali kebelakang? Ah, tidak mungkin. Dulu kamu memiliki kekuatan dan sekarang tak ada. Waktu itu kamu dijuluki, manusia berkulit merah. Sekarang lihatlah aku, memutih bagai priyayi. Jauh sekali perbedaannya. Aku tersenyum dan mengingatnya, sudah lama kamu pergi dan kini kembali. Kamu yang sudah kuanggap bukan teman akhirnya pulang. Sisi diriku yang pernah kubuang, saat kemapanan itu datang.

Sahabat, kamu masih saja mengingat awal dasawarsa ini, ketika kita berdebat akan filsafat setiap malam pada Plato, pada Al-Ghazali, pada Rabiah, hingga pada Valmiki. Kita membicarakan banyak hal waktu itu, iya enam tahun sejak kepergianmu dan dari saat itu tidak ada lagi yang memahami jalan fikiranku. Iya, benar. Waktu itu sambil berjalan kita menghafalkan sajak Ikbal, di angkutan umum melamunkan reaksi oksidasi. Hahahahaha, iya masih ingat Newton atau deret fibonachi. Aku sudah lupa, tapi aku masih mengingat jelas teori reproduksi. Aha, kita paling benci Logaritma apalagi persamaan kuadrat.

Idola kita Hamka, syairnya pada Natsir di sidang Konstituante membuat kita tersedu pilu. Air mata kita tak pernah mahal untuk sebuah kisah persahabatan. Tafsir Al-Azhar kita babat habis tiga puluh juz. Tidak ada satu romanpun di perpustakaan sekolah yang selamat dari jamahan tangan kita. Namun waktu itu kita tak kunjung bijaksana jua. Iya darah muda, benar kamu mengingatku pada semangat yang tak pernah padam. Pada sepeda motor yang tak punya rem, kamu bilang rem hanya untuk pengecut. Persneling buat sang juara. Hal yang aneh mengingat sekarang aku begitu ahli menggunakan cakram.

Untunglah teman-teman sekarang tak ada yang mengenalimu, mereka tak tahu kepiwaianmu menggunakan parang, layaknya Chang Haung Nam dari grup Hung Sing. Mereka tak pernah tahu bagaimana engkau menghinakan setiap musuhmu dengan meludahi wajah mereka, lima luka berjahit ditubuhku itu semua andilmu. Andrenalin, emosi milik ini sudah lama tak meletup lagi. Hening seperti danau sudah, tapi masih tanpa rasa takut. Bukankah sesumbar kita bahwa rasa takut hanya untuk dikunyah, dan wajah terburuk seseorang muncul pada saat ia takut. Dan kita tak pernah mau tampil begitukan? Iya, sekalipun lutut kita tak pernah gemetar. Untunglah para sahabat lama sekarang jauh, kini tak ada yang mempercayai kisah ini hingga hanya menjadi mitos samar-samar.

Hey, kamu tidak terlalu buruk sahabat. Setidaknya kamu dan aku menguasai Bayati dan Suri, irama kesukaan kita. Yang membuat gadis-gadis Al-Munawwarah selalu merindukan penampilan kita. Dan jika sekarang aku lebih memilih mengaji tartil sendiri itu karena kepergianmu. Atau Quantum Reading, metode ciptaan kita. Membaca dengan cara cepat, membagi pikiran menjadi dua, kamu sebagai penerabas di depan sedang aku mencerna dibelakang. Aku masih bisa, hanya jarang sudah menggunakannya tanpamu sistematika itu terasa hambar.

Kenapa kamu pergi? Biar kuingat. Sebentar memori otakku sedang bekerja. Iya kecerebohan kita telah membuat seseorang menemui ajalnya. Lagu pupus yang ia nyanyikan tak membuat hati kita mencair waktu itu, dia merana karena penolakan. Waktu itu kita sepaham, perempuan hanyalah sumber masalah. Masa lalu adalah masa lalu, ia sudah berlalu. Sudahlah setiap manusia pernah berbuat salah, tidak ada kesalahan yang tak termaafkan kecuali kesalahan dengan cara yang buruk. Yang kita tidak menyangka adalah dia selemah itu, kesalahan kita hanyalah terlalu sering tersenyum padanya. Menjadi sedikit charming bukanlah kesalahan besar menurut diriku sekarang.

Selamat datang kembali sahabat, kedatanganmu kusambut dengan tangan terbuka serta tergesa. Alam bawah sadarku yang memanggilmu kembali, mengingatkan pertemuan kita pertama sepuluh tahun lalu.  Kamu tahu sendiri, kitakan selalu berahasia. Berkata hanya dengan simbol untuk membuat orang lain berpikir keras memahaminya. Dan kita tak akan pernah membiarkan orang lain terlalu mengerti. Pada kepulanganmu kali ini sedikit bertanggungjawablah pintaku. Kini, kita bukan lelaki berumur akhir belasan tahun bertubuh kerempeng dan berwajah tirus itu lagi.

Sahabat, sempat berpikir dalam hidup ini tidak akan pernah bertemu lagi denganmu lagi. Sempat berpikir kamu akan sebegitu membenciku yang mengusirmu saat itu, hingga lupa bahwa kamu adalah bagian dari diriku, kamu sudah bangun dan segel pengikat tlah terbuka, bersamamu aku tak akan ragu menatap dunia dengan mata terbuka. Hanya kamu satu-satunya yang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan diriku. Terima kasih, telah menjawab panggilanku.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang  adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua”

Yah, nona akhirnya engkau menemukanku disini. Dipersembunyian yang amat kurahasiakan darimu, sebagai liang pencurahan hati dan pikiran bebas lepas. Engkau yang berkata menitikkan air mata membacanya. Maka ketahuilah bahwa aku tak percaya pada kata-katamu lagi meski engkau mengatakan siang itu terang, dan malam itu gelap.

Wahai nona yang berkata tak berani mendengarkan suara dan menatap wajahku, ketahuilah bahwa aku tlah mengubur masa lalu bersamaan rambut yang kucukur habis. Engkau pasti tahu bagaimana aku mencintai mahkotaku, bagiku dia sudah tak ada sama denganmu. Segera sejak hari itu, aku berusaha melepaskan diri dari jerat harapan perempuan yang kuberi julukan wanita laba-laba.

Dan bila engkau ingin kembali ke masa lalu, itu bukan bagianku untuk memikirkannya. Seperti halnya gerak majuku ke masa depan bukanlah pertanggungan bagimu. Aku dan kamu adalah insan merdeka yang bebas berkehendak dan bertindak bagi kemaslahatan diri sendiri.

Nona, jangan berkata masih menyimpan cinta untukku apalagi berjanji akan menjaga selamanya. Karena bagianmu di hati telah kubuang ke laut lepas, bersama desiran ombak selat Malaka. Nona jangan bermain licik dengan memilih satu hati dan tetap memperhatikan hati yang satunya lagi. Engkau telah memilih dia dan menyingkirkanku, teguhlah pada keputusanmu. Sifat ambigumu hanya akan menyakiti kami berdua.

Mungkin aku pernah berlaku terlalu lembut, sehingga engkau menganggap diriku sebagai pecundang. Janganlah mengucapkan kata maaf berkali-kali, engkau merendahkan kemampuanku akan bahasa. Aku bukan orang dungu yang tak paham, hakku tiada menjawab. Mengapa engkau selalu memaksakan keinginanmu padaku? Denganku kamu terlalu percaya diri, selalu hanya denganku.

Padahal kemarin aku sudah melupakanmu, mengapa engkau datang dengan sebuah pesan? Cinta, harapan, janji jika ia pernah ada maka anggaplah ia sekarang tiada. Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku. Aku sudah membuang semua gambarmu, bahkan ingatanku sudah tak mengingat wajahmu lagi. Ketika menulis aku hanya membayangkan wajah seekor laba-laba betina. Pergilah atau jika tidak aku lebih akan sangat membencimu.

“Seumur hidup tiada pernah berada disebuah titik kebencian, jijik, muak dan marah seperti ketika membaca pesanmu lewat tengah malam itu. Sebegitu hebatnya sehingga merasa malu pada diri sendiri, mengapa memiliki amarah kepada seseorang dengan tingkat seperti itu. Tuhan, ampuni hamba”

Lhokseumawe, 21 Mei 2009

tanpa suara mata menangis pilu

menoleh kebelakang, melihat lagi tanpa gairah

melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan

serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup

mana para prajurit yang berjanji setia

para ksatria tlah bersalin rupa

bagaimana bisa memperjuangkan benteng terakhir

menjaga kisah keperkasaan leluhur

mempertahankan sendiri tanpa elang-elang

elang-elang tlah berganti bulu dan sang harimau moksa

takdir akan kuterima dengan mata terbuka

meski dera siksa menimpa

takkan menghiba

demi kehormatan para indatu

Menggambarkan perasaan Toyotomi Hideyori, menjelang kejatuhan benteng Osaka pada pasukan Ieyasu Tokugawa. Setelah mendengar samurai paling perwira, Yukimura Sanada bertempur matian-matian menjemput maut di front terdepan. Sendirian untuk menjaga kehormatan tuannya.

Lhokseumawe, 16 Mei 2009

mencumbui kematian, sebuah elegi