POKER FACE

Tidak semua pertanyaan menjadikan kita lebih pintar. Ketika semua seolah semakin menjauhi rencana. Pernahkan menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini adalah dari rangkaian kejadian yang pernah dialami.

 

Sering, apa yang direncanakan berbeda dengan kenyataan. Hal-hal seperti apa dan akan jadi apa. Samar sebelum hal itu terjadi namun akan jelas apabila berlalu. Jalan kebaikan yang panjang dan melelahkan akan dihancurkan oleh kegagalan sesaat. Dengan jatuh kita memahami makna makna bangkit, dan hanya mereka yang tangguh mampu menghadapinya.

 

Pernahkah kita menyadari betapa rapuhnya sebuah kehidupan? Satu hantaman akan mengakhirinya. Apabila dibayangkan betapa sulitnya menjaganya bertahun-tahun hingga hari ini. Mungkin takdir, bahwa manusia hari ini menguasai bumi. Sosok makhluk yang tak sekuat ciptaan lainnya mampu menyingkirkan segenap hewan terbuas.

 

Paradoks, bertentangan dengan apa yang ada. Betapa semakin berkuasa maka manusia menjadi makin lemah. Tahun berganti dengan tahun, ada banyak pertanyaan dalam hidup. Hanya keikhlasan yang mampu mengalahkan segalanya. Ikhlas menjalani setiap kekalahan dan kemenangan. Ikhlas mendapati ada banyak pertanyaan yang belum terjawab meski usia terus bertambah.

 

Dan ketika merasa tak berdaya ternyata sekali lagi kita harus menyerahkan segalanya pada waktu. Ya aktu akan menyembuhkan luka dan mendewasakan kita, namun sayangnya waktu tak akan pernah kembali. Ia terus melaju dan kadang mengilasmu.

 

Perlu waktu lama untuk menjadi muda, perlu jiwa yang besar untuk menikmati hidup. Dan mereka yang memiliki Poker Face-lah yang biasanya beruntung. Atau setidaknya kita anggap begitu.

 

XXXXXXXXXXXXX

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , | 5 Comments

MAKNA PUISI YANG HILANG

Puisi adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya sebagai tambahan, atau selain sisi semantiknya. Puisi tidak sebagai jenis literature tapi perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreatifitas. Puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang akan membawa orang lain ke dalam hatinya. Puisi juga terkadang disebut syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang bermakna perasaan.

Puisi hanya bertumpu akan kata tanpa alat bantu, disinilah kesulitan seorang penulis atau pembawa puisi untuk menyampaikan perasaan yang terdalam kepada penikmat. Berbeda dengan syair yang diringi oleh musik dan berkompilasi dalam bentuk lagu, menjadikan lagu sangat dinamis. Puisi cenderung statis tapi kita tak akan bisa melupakan bahwa dalam sejarah Indonesia terdapat seorang Chairil Anwar yang mampu mengharubirukan kita akan perasaannya ditahun 1945. Jejak rekam sang maestro tak lekang oleh waktu.

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu mengangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al-Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Setiap kebudayaan memiliki tradisi akan puisi, baik itu merupakan tradisi oral maupun tulisan. Dahulu kala semakin berkualitas sebuah kebudayaan semakin baik syair-syair yang dihasilkan. Begitu pula sejarah awal negeri ini memiliki Chairil Anwar, Hamka, H.B Jassin, Sitor Situmorang, Taufik Ismail hingga W.S Rendra. Bahkan seorang Soe Hok Gie berpuisi dieranya.

Berbicara dalam konteks kekinian, dapat dikatakan kita sangat kekurangan empu sastra yang menghasilkan puisi yang berkualitas tinggi. Apakah penyebabnya? Hidup adalah hukum sebab akibat, jika kita melihat dari awal pokok kejadian bisa jadi sistem yang ada menyebabkan seorang brilian muncul kepermukaan. Namun bisa jadi pula masyarakat kita tak mengapresiasi lagi dengan layak sebuah puisi. Di era modern mainset orang telah terkontaminasi dengan materialisme yang membuat jiwa semakin kering, seni menjadi hambar dan sebuah puisi menjadi kering.

Disiplin ilmu pasti telah membuai kita, tak salah memang. Namun apa indahnya Matematika bila sebuah puisi tak melengkapinya. Di zaman semua orang bisa berbicara sebebas-bebasnya bahkan seorang Iwan Fals menolak menciptakan kritik sosial melalui sebuah lagu, seperti dahulu. Terlalu banyak kritikan bising hanya akan membuat sebuah mahakarya menjadi suara sumbang. Kuat kemungkinan bahwa krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini dikarenakan kita atau sebagian besar dari kita kehilangan makna akan puisi. Siapa tahu?

Setiap zaman memiliki fenomena, setiap masa memiliki permasalahannya sendiri. Namun ada yang selalu sama layaknya asmara. Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.

Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang dari Bukittinggi tersebut mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat. Namun apalah artinya semua itu apabila kita tak mampu mengejawantahkan dalam sebuah kisah yang penuh perasaan dalam sebuah syair.

Dalam sebuah puisi terdapat kearifan hidup, filosofi tentang ketabahan dan memahami rasa sakit maupun gembira sekaligus. Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang astronom ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastrawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.” Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat. Jangan sampai kita kehilangan maknanya.

XXXXXXXXX

Posted in Pengembangan diri, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

YOUNG AND PURE

children playing ball in the rain
the joy of togetherness

the kids play ball without the burden of misery
without a shadow of fear

children playing ball in the vastness of the universe
without the veil of hypocrisy

reality if the world like this
how beautiful

Year after year passed
and during that time has passed

the children were playing and keep playing
let’s make this world peace as their hearts

Stay young and pure in our souls
although we have been getting older

 

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 1 Comment

CATATAN SANG PECUNDANG

Ini hari aku merasakan lebih baik kepalaku mengelinding di lantai, keadaan ini lebih buruk daripada merasakan hukuman pancung sekalipun. Saat ketika aku mendapati engkau menangis dan jemariku tak kuasa untuk menghapus air mata di pipimu. Aku adalah seorang pecundang yang tangannya tak mampu membelai rambutmu disaat engkau terisak.

Aku lebih mencintaimu lebih dari diriku, aku lebih merindukanmu dibanding apapun. Maafkan aku harus meninggalkanmu, maafkan bila hatimu terluka. Ku akan selalu mencintaimu sampai aku meninggalkan dunia ini, Ketulusanku tak akan berubah walaupun kita tak mungkin bersatu. Engkaulah yang terbaik bagiku.

Dan ketika seluruh dunia memusuhiku, dunia yang engkau tiada terlibat didalamnya. Engkau selalu menjadi pembelaku yang setia. Aku memilih mengkhianatimu. Aku yang memilih meninggalkanmu, menafikan segala janjiku. Maka jangankan dirimu, bahkan diriku kini sangat membenci diriku sendiri.

Seringkali ku bertanya adilkan hidup ini, sungguh tak mudah untuk mengucapkan selamat tinggal. Segala tentang sesal, membawa luka dijiwa. Kadang ingin aku jauh berlari berdua denganmu meninggalkan segala realita. Dan ternyata aku tak mampu.

Dan aku mengakui dirimu lebih tangguh dibandingkan diriku dalam menghadapi kehidupan, kepasrahanmu sungguh mengharukanku. Entah bagaimana aku mengarungi hidup tanpamu, Didalam setiap doaku namamu kusebut, semoga engkau kelak berbahagia dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Semoga setelah hari ini tiada kesedihan yang menyentuhmu. Hanya bahagia padamu.

XXXXXXXXXXX

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ADDIO LHOKSEUMAWE

Hidup adalah cerita tentang datang dan pergi, seperti halnya seorang bayi yang pertama dilahirkan dimuka bumi, kelak apabila takdir menuntunnya dia akan melewati fase kanak-kanak, remaja, tua dan akhirnya meninggalkan dunia. Apa yang dibawa itulah yang akan dipertanggung jawabkan nanti, di hari akhir.

Hampir tujuh tahun, bukanlah periode yang pendek bagi Abu untuk bertugas di kota ini. Ya, Abu datang sebagai pemuda yang baru menginjak dua puluh satu tahun. Dan sekarang sudah hampir dua puluh delapan tahun. Ada banyak kesan dan pengalaman sudah terlewati disini, suka maupun duka.

Sebagai orang yang telah terhitung lama bertugas di kota ini, Abu telah banyak menghadiri perpisahan dengan orang-orang. Semua dengan cepat datang silih berganti hingga tiba saat kepada Abu untuk pergi. Dan menghadiri perpisahan untuk diri sendiri. Kepindahan Abu ke tempat yang baru adalah sebuah fitrah manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergerak.

Lhokseumawe, sungguh Abu sudah merasa merupakan bagian dari kota ini. Disini Abu menemukan cinta, sahabat, dan segalanya. Sehingga sangat berat untuk meninggalkan kota ini. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan hanya dapat diungkapkan dari hati ke hati.

Hari ini adalah hari terakhir Abu bekerja di kantor ini. Sebuah Surat Keputusan menempatkan Abu kembali ke kampung halaman, Banda Aceh sekitar 260 km. Tak jauh memang, namun Abu teringat bahwa kota ini selalu meninggalkan kerinduan yang mendalam bahkan ketika Abu belum meninggalkannya.

Kota ini telah mempertemukan Abu dengan orang-orang terbaik, yang mungkin tidak akan pernah Abu kenal atau bahkan temui jikalau tetap berada dikampung halaman. Sebuah hal yang membuka cakrawala berpikir dan meningkatkan kualitas diri.

Di kota ini Abu belajar menulis sepatah dua patah kata, menuntut ilmu, bertemu sahabat-sahabat dan akhirnya menemukan cinta. Di kota ini jua Abu merasa tumbuh sebagai seorang laki-laki dewasa, melewati fase remaja. Tentunya Abu bukanlah seorang tanpa cela, untuk itu dengan penuh kerendahan hati Abu memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Ke depan ditempat yang baru, tentunya tantangan akan semakin berat. Setiap perubahan belum tentu akan membawa perbaikan, namun perlu diingat pula bahwa tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan. Apapun yang terjadi ke depannya Abu selalu merasa bahwa diri ini adalah bagian daripada kota ini.

Saat berpisah harus menyapa // Aku tak ingin meneteskan air mata // Aku tak ingin kau berduka // Karena hati kita tetap bersama // Salam hangat // Kita akan bertemu kembali dalam waktu yang lain dengan suasana keakraban yang sama //

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SETIAP ORANG HINGGA KEMATIANNYA

Setiap orang harus memilih antara kebaikan dan keburukan sepanjang hidupnya, namun kehidupan tidaklah berupa hitam dan putih yang terkadang memaksa kita memilih jalan yang tak selamanya putih ataupun hitam. Hidup adalah kondisi, dimana lingkungan terkadang menempatkan orang baik di sisi jahat dan orang jahat di posisi baik.

Kehidupan bukanlah berupa dongeng yang indah, dimana dalam sebuah pembebasan para tokoh Protagonis tak selamanya berhati murni dan memiliki akhlak mulia, terkadang kita harus melihat dengan mata kepala sosok-sosok oportunis dipuja sebagai pahlawan setelah revolusi selesai.

Abu selalu terpesona akan Idrus yang melalui romannya yang ternama, “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” menjadi tonggak karya pembaharuan prosa Indonesia. Idrus bersama Chairil Anwar menjadi pelopor sastrawan Angkatan ’45. Yang sayangnya terlupakan. Berbeda dengan Chairil Anwar yang berapi-api, Idrus lebih detil menyikapi revolusi Indonesia, ia melihat bahwa potensi bandit-bandit yang menyusup dalam perjuangan, dengan keberingasan khas yang kelak kita tuai akibatnya di era pembangunan. Dikarenakan karakter tulisan Idrus tersebut, mengundang tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air.

“Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” mengingatkan Abu pada sebuah kisah semasa duduk dibangku sekolah menengah pertama, SLTPN 1 Banda Aceh. Ketika itu Kepala Perpustakaan, Nilawati S.pd panik karena inventaris roman “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” berkurang satu buku dari total dua buku. Dan Abu tercatat sebagai peminjam terakhir dari buku tersebut, segera melalui anak beliau yang kebetulan sekelas dengan Abu yaitu kelas 3-8 ditahun 1999, Danil Erlanda. Abu pun dipanggil menghadap untuk beraudiensi tentang hilangnya buku tersebut.

Adalah salah jika para pembaca menganggap Abu berhati suci, sebagai manusia tentunya tersimpan kebusukan dihati, mungkin tidak terlihat oleh siapapun. Namun Abu mengetahui isi hati sendiri. Ketika membaca roman tersebut, Abu sebegitu terpesonanya sehingga berniat mencurinya dengan tidak mengembalikan ke perpustakaan. Dan Abu memang sudah benar-benar berniat untuk itu, namun entah mengapa ditengah malam Abu terjaga. Begitu bagusnya Roman tersebut sehingga Abu tak tega merampas hak-hak generasi selanjutnya untuk membaca mahakarya Idrus tersebut. Dan Abu menyesali niat jahat Abu tersebut.

Dan Abu masih memiliki kejahilan lainnya, sebelum mengembalikan buku tersebut. Di halaman belakang Abu menuliskan sesuatu, sebuah rekomendasi untuk membaca buku tersebut kepada siapapun yang sedang membolak-balikkan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” karena panjangnya rentang waktu kebelakang maka Abu kesulitan mengingat kata-kata apa yang tertulis dengan pulpen biru tersebut, yang jelas Abu menuliskan nama dan menandatanganinya.

Akhirnya keisengan tersebut menyelamatkan reputasi Abu, karena dengan jelas dan meyakinkan dapat membuktikan bahwa satu buku yang tersisa di inventaris adalah buku yang Abu pinjam. Tentunya ibu Nilawati S.pd berkerut kening membaca rekomendasi Abu, walau beliau memprotes keras kelakuan Abu yang menodai aset bersejarah tersebut.

Namun akhirnya tak ada yang tersisa, ketika gelombang Tsunami menghancurkan kota Banda Aceh, SLTPN 1 rata dengan tanah. Perpustakaan SLTPN 1 yang termasuk paling lengkap di Provinsi Aceh saat itu lenyap tak berbekas. Di tahun 2005, Abu sempat bertemu dengan Danil Erlanda di sebuah SPBU ketika hendak mengisi bensin motor dan menanyakan keadaan ibu beliau, dalam pertemuan singkat ia menceritakan bahwa ibu Nilawati S.pd adalah salah satu orang yang hilang ditelan ombak besar yang menyapu pesisir barat Sumatera di hari minggu 26 Desember 2004 tersebut. Abu mengingat beliau sebagai seorang Pustakawan yang gigih, cerewet dan detil. Namun beliau membebaskan murid-murid meminjam buku berapapun sekaligus dalam jangka waktu pengembalian seminggu. Tak selayaknya hasrat membaca dihalangi dengan jumlah buku, begitu filosofi beliau. Tak heran biasanya Abu meminjam 5 sampai 12 buku setiap harinya, kemudahan yang tidak pernah Abu jumpai dikemudian hari, di perpustakaan manapun.

Pertengahan Oktober 2011, dalam sebuah perjalanan dinas ke Jakarta. Garis takdir membuat Abu menemukan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” di Thamrin City yang diklaim sebagai pusat buku ex kwitang. Salah satu dari beberapa buku buruan Abu sepanjang masa berhasil dimiliki. Sebuah buku, sebuah cerita dan sebuah obsesi sejarah. Seperti hidup ia begitu rapuh.

Orang bijak berkata, kehidupan seseorang layaknya sebuah buku. Bila ingin mengetahui segalanya kita tidak akan mampu bila hanya membaca satu halaman saja. Dan sebuah buku memiliki akhir, dan manusia tidak seperti makhluk lain yang hidup di muka bumi. Manusia menyadari bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan sebuah fase yang dinamakan kematian. Abu juga seorang manusia, dan kelak akan menghadapi kematian sebagai makhluk fana. Dan sebuah kenangan akan menjaga manusia walau dia telah pergi, mungkin karena itu Abu gemar menulis, dulu di buku perpustakaan yang Abu anggap berkualitas, dibuku yang Abu miliki, sekarang dalam bentuk blog. Dan diam-diam dihati kecil Abu berharap suatu hari kelak dapat menghasilkan buku sendiri. Karena seorang manusia ingin diingat, bahkan setelah kematiannya.

“Saya ingin mencintai kematian selayaknya saya mencintai kehidupan”

XXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

FILOSOFI GOB

Gob bisa berarti orang lain. Gob adalah anarsir diluar lingkungan yang mendengarkan, tidak termasuk kepada organ-organ formal dan informal. Gob adalah anarsir bebas yang tak terduga. Gob adalah sekumpulan individu dengan ragam latar belakang yang membentuk pola penjagaan terhadap norma.

Dalam budaya, peran Gob diluar pihak orang tua, tengku Imuem, Geuchik, Camat, Guru, Bupati maupun sekaligus. Gob merupakan gerombolan orang yang bisa jadi tidak mengenal satu sama lain sekalipun. Menguasai moral yaitu hal-hal baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan susila. Gob mengambil tindakan ekstrim yang menghukum berbagai ragam cara, dan tidak selalu frontal tentunya.

Dalam budaya, setiap penjaga moral menjadikan Gob sebagai “hantu” untuk menakuti orang yang dianggap melenceng dari norma yang berlaku umum. Orang tua memperingatkan anaknya, guru menasehati muridnya, Tengku menegur muridnya. Gob dijadikan tameng pelindung untuk menjaga marwah dan wibawa mereka.

Ketika lembaga formal mulai bicara moral, merumuskan norma. Maka secara sistematik peran Gob terkikis. Ibarat senjata Gob menjadi ketinggalan zaman dan kurang terasa gaungnya. Akibatnya masyarakat menjadi permisif terhadap pelanggaran norma.

Gob lebih memahami norma dibandingkan lembaga formal. Pengejawantahan dari turutnya lembaga formal dalam mengatur norma adalah munculnya perangkat, baik itu berupa sumber daya manusia dan peraturan dan itu berlaku statis, disemua tempat dimana lembaga formal itu menaunginya. Dan itu tidak bisa, norma memiliki cakupan wilayah yang terbatas, dan corak yang beragam.

Pengkodifikasian norma malah menjadikannya sebagai hukum. Karena telah resmi dan dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa , pemerintah, atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. Dan itu menghilangkan esensi norma yang sejatinya selalu berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan masyarakat.

Lembaga formal tidak akan pernah bisa mengontrol moral, menjadikan penjaga moral berseragam bukanlah solusi. Aparat tidak bisa menetukan nilai yang dipegang masyarakat yang merupakan salah satu elemen dalam pembentukan moral. Etika sebagai teori dan moral dalam bentuk aplikasi begitu dinamis. Dia bukanlah hukum yang jelas hitam dan putihnya. Dan ketidakmampuan menjalankan wewenang ini akan mengundang bencana.

Masalah yang pertama adalah, ketidakmampuan mengatur norma secara menyeluruh. Lembaga Formal memiliki keterbatasan dalam hukum tata acara dan bersifat kaku. Dalam hal ini suatu yang bersifat kepantasan atau wajar sangat sulit mengukurnya. Dan lembaga formal tak akan memahami apa yang Gob pahami. Dan jelas ini menurunkan kewibawaan Lembaga Formal dihadapan para pendukung penjagaan moral dan membuat apatis bagi yang menentang sistem ini. Intinya Lembaga Formal dalam posisi tersudut.

Masalah yang kedua, munculnya oknum dalam lembaga Formal. Berbeda dengan Gob yang merupakan anarsir bebas, lembaga Formal memiliki seragam atau setidaknya memiliki registrasi. Dan penyimpangan oknum akan lebih mudah terdeteksi, dan nyata-nyata akan membuat menilai lembaga Formal tersebut menjadi bahan olok-olokan dan yang tak terampunkan adalah citra pemerintah sendiri menjadi terpuruk.

Masalah yang ketiga, untuk menjaga citra dan menghindari sanksi akan terjadi kemunafikan massal. Semua pihak akan saling mengerti, bahwa melanggar itu sebuah kelumrahan. Penegakkan akan tetap dilakukan untuk menjaga citra, namun hanya dilakukan kepada mereka kaum kelas bawah. Peraturan hanya ditegakkan kepada yang tak memiliki akses kepada kekuasaan. Yang dengan pasrah menerima penghukuman.

Dan yang paling berbahaya adalah masalah keempat, yaitu munculnya lembaga swadaya pengawasan moral, mengatasnamakan agama ataupun lembaga pendidikan tertentu. Muncul akibat ketidakmampuan lembaga formal mengatasi masalah moral dan didorong kemuakkan atas kemunafikan yang merajalela. Organisasi swadaya ini merupakan sisi gelap Gob yang paling kelam. Organisasi tanpa bentuk dan struktur yang jelas. Cenderung anarkis dan bergerak atas nama panji-panji moral memberangus siapa saja dengan brutal. Namun selalu saja yang biasa menjadi korban adalah golongan kebawah.

Filosofi merupakan pemikiran yang selalu berkembang dari masa ke masa. Dia tidak statis mampu berkembang sesuai perkembangan zaman. Namun ia juga bisa tergerus oleh perkembangan zaman. Bukan hendak melihat kebelakang, namun alangkah baiknya jika kita mampu mengkaji kebijakan leluhur yang dirumuskan oleh para indatu. Dan mampu bertahan sampai berabad-abad lamanya.

Sejarah itu bukan hanya untuk dibanggakan atau dikenang semata, ia memilki nilai pembelajaran. Dimana setiap anak manusia bisa memetik nilai-nilai kebenaran yang tersimpan. Ketidakmampuan melihat secara jernih akan membodohkan, namun secara jernih dapat terlihat kebijaksanaan dari kisah-kisah yang dapat dipetik dari generasi lampau.

Setiap bangunan yang hancur dapat dibangun kembali dalam waktu singkat, namun adat istiadat yang rusak akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membangunnya kembali.

“MATEE ANUEK MUPAT JIRAT, MATEE ADAT HANA MUPAT MITA”

Dimuat pada Harian Serambi Indonesia Edisi 9 Oktober 2011.

Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

SEJARAH SYAHDU SEBUAH NEGERI

Sejarah negeri ini diawali dalam ruamg pengap dan sempit, suatu hal yang memanggil adalah rasa kecintaan kepada negeri yang masih merupakan mimpi saat ini, yang dicita-citakan bernama Indonesia. Sejarah negeri ini dipenuhi dengan cerita romantik para heroik. Revolusi telah memanggil jiwa-jiwa anak bangsa menjadi syahdu dalam Indonesia Raya.

Itu dulu, alangkah celaka apabila masa lalu lebih baik dari pada sekarang. Para pendiri bangsa adalah orang-orang yang idealistis. Namun sekarang seolah tiada bekasnya. Penyakit di dunia ketiga yang paling kentara adalah ketika sebuah negeri yang mayoritas dihuni oleh orang-orang baik namun dipimpin oleh sekelompok orang yang berhati busuk.

Alangkah malang jika sebuah negeri diimpin oleh mereka yang suka berpura-pura, lain dimulut lain dihati. Namun kemalangan yang melebihi hal itu adalah kesediaan masyarakatnya menerima penipuan itu dengan ikhlas. Maka kemalangan apa yang mampu melebihi hal ini.

Negara kita pernah hanya menjadi cita-cita, dan akhirnya ketika terwujud ia selalu membawa harapan. Bahkan sampai hari ini. Yang kita rindukan adalah seorang pemimpin yang mampu membawa kita melalui ini semua. Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang membawa harapan dan mampu mengejawantahkan dalam semangat menggebu.

Agustus ini, kita akan memperingati lahirnya sebuah bangsa. Sebuah Negara yang di bangun secara bersama oleh berbagai suku bangsa. Yang pernah terkoyak oleh berbagai konflik bahkan sejak sebelum berdiri. Kita adalah bangsa yang mengenal betul arti kata tumpah darah. Mengingat kemerdekaan di raih dengan banyaknya darah yang tumpah.

Agustus ini, jangan bicara tentang nasionalisme terutama dengan lantang. Karena kita sudah terbiasa melihat orang-orang berkata tentang nasionalisme dengan gegap gempita secepat angin berbalik arah mengkhianatinya. Mungkin, sebaiknya nasionalisme lebih baik dalam diam. Namun tulus.

Dirgahayu negeriku, Republik Indonesia.

XXXXXXXXXXXXX

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

TO KILL A MOCKINGBIRD

Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya. Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

 

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka, Atticus membela seorang kulit hitam, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota.  Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun dari Maycomb, Alabama. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah Novel yang amat berkesan dan tak lekang zaman.

 

Hukum ditegakkan demi keadilan, bukan demi sebuah pembenaran. Ketika hukum dijadikan alat pembenaran maka terjadilah kebusukan tersaji indah. To Kill a Mockingbird menjadi kian menarik setiap kali dibaca lagi, setiap kali jalanan Kota Maycomb terasa semakin nyata, Scout menjadi semakin menyentuh, Atticus semakin heroik, dan Boo Radley semakin tragis.

 

Bahwa sekumpulan orang baik mampu beringas dalam berkelompok, bahwa segerombolan orang mampu mengendalikan lembaga hukum bagi kepentingannya. Sangat berkaitan erat dengan kondisi kebangsaan saat ini. Sebuah humor, keharuan dan keindahan luar biasa tentang realita yang sebenarnya ada di depan mata kita, hanya kadang kepentingan sesaat telah membutakan mata kita.

 

Dan selalu ada orang-orang yang mampu menjaga kehormatannya dalam berbagai keadaan, dimanapun dan oleh siapapun. Dan kelak waktulah yang akan memberikan penjelasan akan segalanya, kadang mereka terkalahkan namun nilai yang mereka bawa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

 

Seorang Pahlawan tidak berarti harus selalu seorang anak muda dengan semangat berapi-api. Ia bisa saja berwujud seorang paruh baya atau anak yang belum menginjak belasan tahun. Yang memiliki keberanian dan harga diri. Maka bersyukurlah bagi setiap orang yang memiliki jiwa kanak-kanak dalam raganya.

 

“Dan mereka memburunya, tetapi tak pernah menangkapnya, karena mereka tak tahu seperti apa rupanya, lalu ketika akhirnya melihatnya, ternyata dia tak pernah melakukan hal-hal tersebut. Begitulah sebagian besar manusia, ketika engkau mengerti mereka.”

 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

 

Posted in Cerita, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

AN INTERVIEW WITH BUNG HATTA

“Saya tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.” Adalah sumpahnya dan ditepati. Seorang Gentleman yang belum ada tanding dalam sejarah Indonesia. Dan akhirnya diusia 43 tahun pada tanggal 18 Nopember 1945 Mohammad Hatta menikah dengan Rahmi Rahim di Megamendung, Bandung. Dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi dengan nama Mohammad ‘Athar. Ayahnya bernama H.Mohammad Jamil, ibunya bernama Soleha. Adalah tokoh yang mengajarkan tentang kesederhanan dan kesetiaan dalam prinsip. Bahkan seorang Iwan Fals menciptakan sebuah lagu khusus untuk beliau.

Setiap malam kita disajikan berita betapa Negara kita berada dalam titik demoralisasi yang luar biasa, dimana semangat kita sebagai bangsa telah tergerus oleh masalah tak berujung pangkal. Yang berteriak tentang nasionalisme hari ini besoknya terbukti penjahat. Benar dan salah sebenarnya sudah jelas namun kelihaian memanipulasi adalah kegemaran pemimpin kita, dan rakyat pun seolah menikmati dan bergabung didalam bagian konspirasi besar.

Abu mencintai tidur, oleh karena itu lebih baik tidur dibanding melihat media menyajikan berita yang membuat kecewa. Mungkin Abu mengharapkan seorang panutan bagi masalah negeri dan malam ini Abu bermimpi bertemu dengan seorang Mohammad Hatta. Beliau mengunakan baju dan celana khaki putih, sepatu Bally suatu hal yang tak terbeli ketika beliau hidup karena kesederhanaannya. Mengenakan kaca mata model lama dan topi bulat layaknya seorang tuan meneer. Wajah beliau bulat berisi dan pipi kemerah-merahan. Di sebuah beranda menghadap laut kami duduk, Pulau Banda. Tempat dimana beliau dan Perdana Menteri pertama Indonesia Sutan Syahrir pernah dibuang oleh Belanda.

(Abu) Apa kabar pak? Siapa saja teman-teman bapak disini?

(Bung Hatta) Jangan terlalu formal, panggil saja Bung atau Bung Hatta. Saya disini bersama Natsir, Syarifuddin Prawiranegara, Soedirman dan Hamka. Kadang-kadang Syahrir dan Tan Malaka berkunjung.

(Abu) Apakah ini surga bung?

(Bung Hatta) Pulau Banda adalah salah satu surga dunia, alam yang indah. Saya bersyukur Belanda pernah membuang saya mungkin kemari. Surga atau bukan saya tidak tahu, yang pasti saya menemukan kedamaian disini.

(Abu) Bagaimana dengan sahabat anda Sukarno atau lawan politik anda seperti Aidit dan Ali Satroamidjoyo. Atau Amir Syafifuddin?

(Bung Hatta) Terdiam sejenak. Saya belum pernah bertemu dengan mereka sejak disini.

(Abu) Apakah mereka di neraka?

(Bung Hatta) Tersenyum. Secara logis saya tidak bisa menyimpulkan karena tidak ada bukti empiris yang membuktikan hal itu, mungkin mereka berada di tempat lain. Indonesia begitu luas, apalagi dunia bawah.

(Abu) Kembali kemasa lalu, apakah anda merasa bersalah telah menyebabkan Indonesia gagal menjadi Negara Islam, dimana usul anda pada sidang PPKI yang mungusulkan Negara kebangsaan?

(Bung Hatta) Saya menyakini apa yang saya usulkan adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia menurut pemikiran saya, jika kita sudah mengusahakan yang terbaik insya Allah tak akan ada penyesalan.

(Abu) Menurut Bung Hatta apa yang menyatukan beribu pulau, beratus kerajaan di Nusantara menjadi sebuah bangsa yang bernama Indonesia?

(Bung Hatta) Menarik nafas. Indonesia dibentuk atas dasar perasaan senasib, senasib karena merasakan kesengsaraan akibat dijajah Belanda.

(Abu) Itukan yang menyebabkan bung pada sidang PPKI tidak menyetujui Semenanjung Melayu, Kalimantan Utara dan Timor Portugis untuk digabung kedalam Indonesia sebagaimana usul Sukarno?

(Bung Hatta) Benar

(Abu) Apakah bung mengikuti sejarah Indonesia kontemporer?

(Bung Hatta) Saya tetap mengikuti, Indonesia adalah kecintaaan saya. Yang pernah kami perjuangkan dengan air mata dan darah.

(Abu) Menurut bung bagaimana Indonesia saat ini?

(Bung Hatta) Sukarno pernah mengutip Stalin, Revolusi bahkan akan memakan anak-anaknya sendiri. Tapi saya mempunyai pendapat berbeda, Revolusi akan memanggil jiwa-jiwa romantik namun setelahnya para oppurtunislah yang berkuasa.

(Abu) Apakah mungkin suatu hari akan muncul seseorang seperti anda?

(Bung Hatta) Dengan sistem politik, sosial dan tata Negara seperti sekarang akan sulit. Bung Hatta membuka topinya dan terlihat rambut belah tengah yang tersisir rapi. Dulu, saya dan Syahrir berteori bahwa bangsa Indonesia akan siap merdeka apabila sudah memiliki kecerdasan Intelektual oleh karena itu kami membentuk Pendidikan Nasional Indonesia guna membentuk pemimpin yang cerdas dan bermoral. Berlawanan dengan kami, Sukarno berteori bahwa Indonesia harus memiliki organisasi massa dan pemimpin kharismatik dan bergabung dengan Partindo. Dan sejarah memihak Sukarno bukan saya dan Syahrir.

(Abu) Apakah memang tidak ada lagi harapan?

(Bung Hatta) Harapan adalah doa, saya dari sini selalu berharap dan berdoa yang terbaik untuk Indonesia. Bung Hatta melipat kakinya, dan teringat sesuatu. Pernah, pemilu 2004 saya berharap pada seseorang yang menjanjikan harapan, namun sayang dia kalah. Dan itu membuktikan teori Sukarno.

(Abu) Megawati, Wiranto, Amien Rais atau Hamzah Haz?

(Bung Hatta) Tersenyum. Sejarah saya sudah selesai, tidak patut saya ikut campur lagi. Siapakah yang bung pilih saat itu?

(Abu) Amien Rais pada putaran pertama, sedang putaran kedua saya tidak ikut karena ayah saya meninggal dunia pada malam menjelang pemilu.

(Bung Hatta) Beliau menjabat tangan Abu. Saya turut berduka cita.

(Abu) Adakah pesan bung kepada kami bangsa Indonesia?

(Bung Hatta) Cintailah Negara ini, dan jangan berputus asa atas keadaan sulit yang mendera. Saya tetap berkeinginan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi dan cerdas. Pilihlah pemimpin yang beritikad baik membangun bangsa, jangan mudah terpedaya oleh teriakan utopia dan jangan pernah bisa dibeli. Jadilah bangsa yang memiliki harga diri.

(Abu) Kata-kata bung Hatta menyiratkan kesedihan, apa yang menyebabkan anda sebagai tokoh yang terkenal sangat rasional menjadi sangat melankolis?

(Bung Hatta) Saya memiliki jiwa romantik, namun saya kurang menunjukkannya didepan umum. Satu hal yang merisaukan saya, sebuah pertanda sistem yang kacau adalah semakin berkembangnya orang jahat dan semakin sulitnya orang baik untuk muncul. Sayangnya saya melihat hal ini di Republik yang kami perjuangkan ini. Bung Hatta membuka kaca mata dan membersihkan kacanya dengan sapu tangan.

(Abu) Terima kasih bung, sepertinya hari akan menjelang pagi. Sudah saatnya saya bangun.

(Bung Hatta) Tertawa dan menjabat tangan saya. Terima kasih dan tolong sampaikan pesan saya kepada seluruh rakyat Indonesia.

(Abu) Tersenyum miris. Apakah mungkin bung?

(Bung Hatta) Dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Abu pun terbangun. Pagi pun menjelang bersama azan shubuh datang. Sudah lama sekali rasanya.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , | 10 Comments